Saturday, February 15, 2014

The Jose Movie Review
12 Years a Slave

Overview

Steve McQueen selama ini dikenal sebagai sineas yang sering mengangkat tema-tema penderitaan. Karya film panjangnya baru tiga, Hunger, Shame, dan yang terbaru 12 Years a Slave (12YaS). Namun jangan meremehkan prestasinya karena ketiganya diganjar penghargaan internasional bergengsi di mana-mana. Yang terakhir malah diganjar 3 Oscar termasuk penghargaan tertinggi, Best Motion Picture of the Year. Jadi jangan pernah remehkan kepiawaian seorang Steve McQueen dalam bertutur melalui visual.

Dibandingkan kedua karya sebelumnya, menurut saya 12YaS adalah yang paling biasa saja. Bukan berarti buruk. It’s good, but nevertheless nothing’s special either. Berbeda dengan pendekatan personal yang mendalam di Hunger maupun Shame, semua unsur yang dimasukkan sudah formulaic di genre dan tema serupa. Formula andalan untuk menciptakan film yang dicintai juri-juri berbagai ajang penghargaan, termasuk Oscar. Bukan salah McQueen juga sebenarnya, karena adaptasi dari sebuah memoir milik seorang mantan budak bernama Solomon Northup sudah seperti demikian adanya. Mungkin malah jika tidak digarap oleh seorang McQueen, 12YaS akan jatuh menjadi super biasa lagi.

Rangkaian adegan penyiksaan yang seperti biasa, melibatkan pecut, diletakkan di sana-sini untuk “menggugah” hati penonton. Semua jadi tergantung dari bagaimana akting si “korban” yang kali ini bertumpu pada Lupita Nyong’o, pemeran karakter Patsey.

Tapi tunggu dulu, daya tarik utama sebenarnya bukan di situ. Kharisma karakter utama, Solomon, lah yang menggerakkan 12YaS menjadi lebih menarik. Meski memang tidak begitu banyak perkembangan yang signifikan, tetapi semangat dan taktik yang ia gunakan untuk survive adalah hal yang membedakan dengan film-film bertemakan perbudakan sejenis. Endingnya pun seolah hanya mempedulikan karakter Solomon dan mengabaikan nasib karakter-karakter lainnya, terutama Patsey. Begitu pula dengan karakter antagonis, terutama Edwin Epps dan istrinya. Menarik, meski tidak banyak perkembangan berarti.

Sebenarnya saya percaya seandainya 12YaS lebih bebas dalam membumbui cerita, tidak perlu terlalu setia pada sumber aslinya, ia pasti menjelma menjadi sebuah film yang jauh lebih menarik. Apalagi dengan tangan dingin Steve McQueen yang dilihat dari portfolio sebelum-sebelumnya, mampu membuatnya menjadi karya yang remarkable. Tapi apa mau dikata, produser sudah menarget Oscar sehingga mengikuti segala formula generik-nya. Tak apalah, kali ini kita biarkan McQueen meraih Oscar setelah Hunger dan Shame.

The Casts

Performance para aktor adalah kekuatan utama yang menghidupkan 12YaS. Baik Chiwetel Ejiofor maupun Lupita Nyong’o yang diganjar penghargaan di mana-mana, sama-sama layak berkat penampilan mereka yang begitu emosional. Begitu pula sosok-sosok antagonis yang meski tak begitu banyak porsinya seperti Ford (Benedict Cumberbatch), Tibeats (Paul Dano), dan Mistress Epps (Sarah Paulson), namun tetap memberikan kesan yang cukup lama membekas di benak saya. Apalagi muse McQueen, Michael Fassbender yang lagi-lagi memanfaatkan wajah dan emosi bengisnya. Top notch performances!

Technical

Sinematografi cantik yang merekam berbagai kejadian naas dengan art directing yang tak kalah cantik nan otentik jelas menjadi salah satu resep keberhasilan di berbagai penghargaan. Jadi Sean Bobbitt sebagai DoP, David Stein di art direction, dan Patricia Norris di costume design, jelas pilihan-pilihan terbaik.

Begitu juga Hans Zimmer yang menggubah score sepanjang film jelas formula wajib untuk kelas Oscar.

The Essence

Perjuangan tidak harus berupa pemberontakan frontal. Terkadang memilih mengikuti arus sekedar untuk bertahan sambil menunggu kesempatan datang adalah pilihan yang bijak. Tentu saja memanfaatkan kesempatan dengan berhati-hati dan cara yang cerdas, just to make sure everything will be just fine.

They who will enjoy this the most

  • Penonton yang menyukai drama menyentuh
  • Penyuka film bertema perjuangan bertahan hidup

86th Annual Academy Awards nominee for

  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Performance by an Actress in a Supporting Role – Lupita Nyong’o
  • Best Writing, Adapted Screenplay – John Ridley
  • Best Performance by an Actor in a Leading Role – Chiwetel Ejiofor
  • Best Performance by an Actor in a Supporting Role – Michael Fassbender
  • Best Achievement in Costume Design – Patricia Norris
  • Best Achievement in Directing – Steve McQueen
  • Best Achievement in Film Editing – Joe Walker
  • Best Achievement in Production Design – Adam Stockhausen (production design) & Alice Baker (set decoration)
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates