Sunday, February 2, 2014

The Jose Movie Review
12 Menit: Kemenangan untuk Selamanya



Overview

Tak banyak film yang mengangkat dunia marching band, bahkan Hollywood sekalipun. Hanya ada satu judul yang mampu saya ingat dengan baik, yaitu Drumline, yang dengan pendekatan cerita yang mirip Bring It On dan penampilan lagu-lagu populer dengan aransemen ala marching band, sangat berhasil menghibur saya. Sebenaranya tipikal film seperti ini memiliki cerita yang standard; sebuah tim (apapun itu, baik musik, tari, atau olahraga) sedang mempersiapkan diri untuk kompetisi besar, halangan silih berganti di antara para personelnya hingga mengancam perpecahan di dalam tim. Standard, namun jika dibidik dengan pendekatan yang beda, digali dalam, dan dieksekusi dengan baik, tetap saja bisa mengambil hati penonton dengan mudah. Ditambah penampilan final yang keren dan membuat penonton turut bersorak, film tipikal seperti ini sudah bisa dikatakan berhasil.

Tema dan formula serupa turut dianut oleh 12 Menit (12M) yang digarap oleh sutradara yang cukup punya nama di jagad perfilman nasional terutama berkat Heart, Virgin: Ketika Keperawanan Dipertanyakan dan Mirror, Hanny R. Saputra. Mendengar nama ini di bangku sutradara, tentu sedikit memancing ketertarikan saya untuk menyaksikannya. Betul saja, 12M adalah sajian tipikal yang luckily digarap dengan sangat baik dan pendekatan cerita yang unik dan terfokus. Ada satu benang merah yang mendasari keseluruhan konflik besar yang dialami oleh tiap karakter utamanya: Rene, Tara, Elaine, dan Lahang. Ketiganya bergulat sendiri-sendiri hingga dipersatukan dalam satu tujuan yang sama. Secara keseluruhan, skrip yang ditulis oleh Oka Aurora tertata dengan rapi, runtut, dan enak diikuti. Meski memilih menggunakan pendekatan drama ketimbang komedi ceria sebagai genre, 12M masih berhasil menjadi sajian yang menarik dan menghibur.

Namun bukan berarti tanpa kelemahan sama sekali. Ada satu kekurangan kecil yang cukup mengganggu alur cerita, terutama di bagian awal. Ia masuk dengan kurang smooth, sehingga penonton tiba-tiba disodorkan berbagai problematika para karakter utamanya. Namun seiring dengan durasi, alur semakin enak dan mudah diikuti hingga akhir film. Karakter Rene yang terasa kurang digali sedalam Tara, Elaine, dan Lahang, sebenarnya masih bisa dimaklumi. Namun cerita akan terasa lebih utuh dan menarik jika karakter ini juga digali lebih daripada yang tampak di layar.

Dengan dukungan teknis yang serba mumpuni (lebih lengkap, baca di segmen Technical), 12M adalah sajian yang sangat menghibur sekaligus menggugah penontonnya melalui pergulatan karakter-karakter utamanya.

The Casts

12M didukung oleh aktor-aktris yang secara umum berhasil menghidupkan cerita, baik yang berasal dari kubu papan atas dengan pengalaman mumpuni maupun pendatang baru. Mengisi peran utama, Titi Rajobintang sekali lagi mengeluarkan segala kemampuannya dalam menghidupkan karakter Rene. Sedikit tipikal karakter yang pernah diperankan Titi sebelumnya, seperti di Rayya: Cahaya di Atas Cahaya, namun dengan pembawaan yang jauh lebih natural dan jauh dari kesan meledak-ledak. Sementara di deretan pendatang baru namun diberi peran yang cukup banyak, Amanda Sutanto sebagai Elaine, Hudri sebagai Lahang, dan Arum Sekarwangi sebagai Tara, bisa dikatakan cukup berhasil menghidupkan peran masing-masing. Mungkin Hudri yang terkadang di beberapa adegan masih terkesan berlebihan dan dibuat-buat, tetapi di kebanyakan adegan berhasil mencuri hati.

Di deretan pemeran pendukung yang diisi nama-nama terkenal, terutama Olga Lidya, Nobuyuki Suzuki, Niniek L. Karim, dan spesialis pendukung, Verdi Solaiman semuanya memberikan performa maksimal yang tetap berkesan di layar meski masing-masing memiliki porsi peran yang tak banyak.

Technical

Sebuah tim marching band melibatkan banyak sekali pemain. Konon menurut yang disebutkan dalam cerita, ada 120 lebih pemain. Itulah sebabnya tata kamera memegang peranan penting dalam merekam semangat keseluruhan tim, baik secara close up maupun wide secara keseluruhan. Beruntung 12M punya sinematografer terbaik negeri ini, Yadi Sugandi, untuk mengabadikan tiap momen dengan shot dan emosi yang pas, hidup, dan mampu merangkum kebutuhan cerita secara sinematik.

12M juga diedit dengan stepat momen dan dinamis sehingga mampu membawakan emosi cerita dan karakter dengan pas.

Film yang mengangkat tema musik harus menjadikan penataan suara dan musik sebagai salah satu elemen yang krusial dan mendapat perhatian lebih. Tata musik dari Wong Aksan yang mengaransemen ulang berbagai lagu termasuk hits-hits milik Dewa menjadi satu kesatuan aransemen marching band yang super keren, ditambah tata suara yang seimbang antara musik, dialog, dan sound effect, menjadikan penampilan marching band yang ada di layar terasa hidup. Layer masing-masing suara instrumen musik terdengar jelas dengan renyah sekaligus berpadu dengan indah.

The Essence

Ada banyak hal yang bisa menghalangi kita untuk melakukan apa yang bisa membuat kita bahagia dan penting bagi kita. Terutama ketika masa-masa sekolah dimana orang tua (terutama di budaya Timur) merasa lebih berhak dan lebih tahu apa yang terbaik bagi anaknya. Faktor psikologis dan keadaan yang tidak mendukung juga bisa menjadi penghalang. Yang terpenting adalah bagaimana dengan adanya halangan-halangan tersebut, kita akhirnya tahu persis apa yang dicintai dan penting bagi demi masa depan, serta menjalankannya 100 persen.

They who will enjoy this the most


  • General audience who needs a spirit booster
  • General audiences who seeks for light entertainment
  • Music enthusiast, especially in marching band
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates