It

The Pennywise devilish clown is back to spread terror after 23 years.
Read more.

Petak Umpet Minako

Are you brave enough to play the deadly Hikori Kakurenbo, a life betting Hide-and-Seek game?
Read more.

Kingsman: The Golden Circle

Manners to maketh more men.
Opens Sept 20.

Gerbang Neraka

Reza Rahadian and Julie Estelle to investigate the scary myth about the Pyramid of Gunung Padang.
Opens Sept 20.

Pengabdi Setan

The 1980's classic horror is ready to come back to life by Joko Anwar.
Opens Sept 28.

Sunday, February 23, 2014

The Jose Movie Review
Dallas Buyers Club


Overview

Tema HIV/AIDS terbukti beberapa kali menjadi tema favorit yang dilirik juri Oscar. Terutama melakoni penderita HIV memang bukan hal yang mudah. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, semakin banyak aktor yang mengincar peran tersebut dan mampu memerankan dengan baik, menjadikan keistimewaannya berkurang. Aktor yang paling diingat penonton mungkin hanya Tom Hanks di Philadelphia. Kini di tahun 2014 duo aktor utama dan pendukung Matthew McConaughey dan Jared Leto berhasil mencuri perhatian dunia lagi berkat peran mereka sebagai penderita ODHA.

Tak hanya penampilan luar biasa kedua aktor tersebut yang memotori kekuatan Dallas Buyers Club (DBC). Hampir semua aspek di dalamnya menarik untuk disimak. Terutama sekali adalah skenarionya yang berdasarkan sudut pandang karakter utama, Ron Woodroof. Meski kalau dianalisa lagi sebenarnya cukup subjektif dari sudut pandang Ron saja, namun ia menyampaikan banyak sekali isu seputar penyakit pelemah daya tahan tubuh tersebut secara relevan, seimbang, dan tak mengaburkan fokus utama tentang upaya survival yang dilakukan Ron. Mulai isu sistem pengawasan dan perijinan obat-obatan oleh FDA yang mengarah ke ranah hukum dan kemanusiaan, obat AZT dan berbagai mitos obat-obatan yang yang menjadi kontroversi dan membuat penontonnya penasaran untuk mencari tahu lebih banyak tentang faktanya (which means that it’s good!), hingga acceptance kaum homosexual yang pada setting cerita masih menjadi kaum tertuduh penyebar HIV.

Ke-semua isu ini disampaikan dengan sudut pandang Ron yang memang berasal dari kaum awam. Penonton seperti diajak untuk menelusuri berbagai mitos yang ada seputar pengobatan HIV dari berbagai penjuru dunia dan pada akhirnya penonton dibuat bersimpati penuh kepada karakternya. Salut atas perjuangan yang dilakukannya hingga mampu bertahan hidup lama dari yang sudah diprediksi dokter. Angle cerita yang jarang diangkat untuk topik sejenis di film. Tentu saja penampilan Rayon, seorang waria yang akhirnya menjalin rekanan dengan Ron menjadi penyegar di tengah-tengah isu serius. Well, tingkah laku Ron sendiri saja kebanyakan sudah cukup membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Very entertaining.

The Casts

Matthew McConaughey dan Jared Leto tidak hanya mengandalkan transformasi fisik dan make up untuk meyakinkan dan bahkan memukau penonton manapun. Gesture, mimik, dan aksen Southern yang dilakukan Matthew benar-benar sempurna. Rollercoaster emosi yang ditunjukkan sepanjang durasi juga terasa mengena tanpa terkesan berlebihan. Sedangkan Jared tentu saja tampil mencengangkan sebagai waria yang juga tak kalah peliknya. Keseimbangan antara sisi kemayu dan emosionalnya membuatnya terlihat cemerlang. Oscar yang diganjar untuk keduanya memang sangat layak.

Di lini pemeran pendukung, kesemuanya memberikan performa terbaik meski tetap saja harus mengalah pada pesona duo Ron-Rayon. Terutama sekali Jennifer Garner yang tetap mempesona seperti penampilannya di film-film sebelumnya. Karakter yang menjadi persimpangan antara kubu Ron dan medis membuatnya menarik dan dibawakan dengan heart-warming pula oleh istri Ben Affleck ini. Tak ketinggalan penampilan Steve Zahn yang cukup mengobati kerinduan setelah sekian lama tak kelihatan di layar.

Technical

Tata rambut dan make-up punya kekuatan yang berhasil membuat karakter-karakternya meyakinkan, terutama sekali Ron dan Rayon. Bahkan tim dari American Hustle yang jauh lebih stylish pun harus mengakui itu.

Sinematografi dan editing menghadirkan cerita DBC menjadi terasa lebih dinamis meski mengangkat isu-isu serius dan berat.

The Essence

Belajar dari sosok Ron, HIV yang membuatnya divonis hanya mampu bertahan 3 bulan justru membuatnya mencari tahu dan mempelajari banyak hal tentang virus yang menggerogoti tubuhnya. Bukannya menyerah pada keadaan dan menyesali masa lalu (angle cerita yang sering diangkat di film-film bertemakan HIV, terutama di ranah film Indonesia), ia justru terus berjuang mempertahankan hidup, bahkan jika harus melanggar hukum sekalipun. Toh, he got nothing to lose, he’s going to die anytime soon anyway. Di saat-saat terendah pun, siapapun bisa jadi orang yang berguna bagi kaum tertentu.

They who will enjoy this the most

  • Penikmat film-film drama bertemakan life survival
  • Penonton yang berkecimpung di bidang medis maupun farmasi
  • Penonton awam penyuka film yang bisa memancing untuk mencari tahu lebih banyak tentang subjek yang diangkat
86th Academy Awards nominee for


  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Writing, Original Screenplay - Craig Borten & Melisa Wallack
  • Best Performance by an Actor in a Leading Role - Matthew McConaughey
  • Best Performance by an Actor in a Supporting Role - Jared Leto
  • Best Achievement in Makeup and Hairstyling - Adruitha Lee & Robin Mathews
  • Best Achievement in Film Editing - Jean-Marc VallĂ©e & Martin Pensa
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, February 16, 2014

The Jose Movie Review
Her

Overview

Nama Spike Jonze selain sebagai sutradara music video, juga dikenal sebagai sutradara film panjang dengan ide-ide yang liar. Sebut saja Being John Malkovich yang dengan liar memanfaatkan “otak” aktor John Malkovich menjadi objek mainan. Atau Adaptation. yang menipu penonton dengan alurnya serta pencampur-aduk-an dengan fakta kehidupan nyata sang penulis. Real genius in his own way. Kini, dengan ide yang tidak kalah liar-nya, Jonze mencoba untuk menyindir dan menakut-nakuti umat manusia.

Ide manusia yang menjalin hubungan dengan program komputer sebenarnya sudah beberapa kali diangkat, meski dengan kemasan yang terkesan main-main. Namun Her dengan berbagai elemennya yang seimbang menjadikannya karya yang memorable untuk jangka waktu yang lama. Tak hanya dibuat senyum-senyum dengan kemanisan hubungan antara karakter utamanya, Theodore, dengan sebuah OS yang menamakan diri Samantha, di saat yang sama penonton seperti ditampar dan dibuat berkaca akan dirinya sendiri. Bagaimana tidak ngeri membayangkan suatu saat kita sudah tidak lagi mampu menjalin hubungan dengan sesama manusia, dan melampiaskannya dengan operating system? Ngeri dan menyedihkan.

Cerita berkembang dengan perlahan namun enjoyable, mengikuti karakter Theodore dan hubungan-hubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Pun cerita juga dengan jahil memberikan gambaran “what if” di beberapa bagian yang membuatnya menjadi lebih berwarna tanpa terasa melenceng dari fokus esensi cerita.

Dengan penggambaran teknologi-teknologi yang terkesan fun namun realistis untuk terwujud dalam waktu dekat, universe yang dibangun Jonze tampak penuh warna. Apalagi penggunaan warna-warna menyala seperti merah terang dan pencampuran nuansa vintage psycadelic dengan futuristik, mampu menghiasi cerita yang sebenarnya kelam dan depresif. Hasilnya, Her menjadi film berbobot dengan kemasan yang bisa diterima serta dinikmati oleh penonton umum sekalipun. Tidak senyentrik karya-karya Jonze sebelumnya.

The Casts

Joaquin Phoenix lagi-lagi berhasil menghidupkan karakter yang tidak mudah. Sosok Theodore yang depresif, socially awkward, namun diam-diam memiliki kharisma untuk melumerkan lawan jenis dan bisa menjadi sosok yang fun, dapat dengan meyakinkan diperankan oleh Phoenix. Mudah dipahami meski sebenarnya complicated. Chemistry yang dibangunnya bersama (suara) Scarlett Johannson juga sangat luwes dan berkembang dengan natural, meski penonton hanya bisa mendengarkan suara Samantha saja.

Notable performance lainnya adalah Amy Adams yang di ajang Oscar 2014 ini dinominasikan untuk perannya di American Hustle. Karakter pendukung yang ternyata punya peran yang penting di dalam cerita dan bisa dibilang versi wanita dari Theodore. Elegan namun terkesan fragile sehingga dengan mudah mencuri hati penonton. Jangan lupakan juga penampilan Rooney Mara, Olivia Wilde dan Soko yang meski hanya sedikit namun cukup memorable.

Technical

Daya tarik teknis yang utama adalah desain produksi dan art yang dengan cantiknya membangun nuansa futuristik imajinatif namun tetap believable, dan mengawinkannya dengan nuansa vintage psycadelic.

Tak ketinggalan score music dari Arcade Fire yang tak hanya perfectly blended dengan film, namun juga menghanyutkan penonton dalam universe-nya. Dan juga lagu The Moon Song oleh Karen O (di dalam film diceritakan ditulis oleh Samantha) yang manis dan romantis.

The Essence

Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang seharusnya memiliki kemampuan alamiah untuk menjalin hubungan dengan manusia yang lain. Sayang, teknologi yang semakin maju membuat manusia menjadi semakin inkompeten untuk berkoneksi secara nyata dengan manusia lainnya dan lebih memilih untuk berhubungan dengan program komputer. Tentu saja mudah karena program komputer memang diciptakan untuk memenuhi segala keingingan dan kebutuhan manusia. But then what’s the point of a relationship? Apalagi ternyata sebuah OS seperti Samantha justru belajar untuk menjadi “lebih manusia” daripada manusia itu sendiri. Manusia pun sekali lagi gagal untuk menjalin hubungan, bahkan dengan OS. Bukankah lebih baik jika manusia mulai dan terus-menerus belajar untuk menjalin relationship dengan sesama manusia, seperti sebagaimana kodratnya sejak lahir?

They who will enjoy this the most

  • Penggemar komedi romantis yang menyajikan tontonan manis
  • Penonton techno freak yang mulai menikmati kehidupan maya ketimbang kehidupan nyata
  • Penonton single
  • Penonton berpasangan

86th Annual Academy Awards nominee for

  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Writing, Original Screenplay – Spike Jonze
  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score – Will Butler dan Owen Pallett
  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Song – “The Moon Song” by Karen O & Spike Jonze
  • Best Achievement in Production Design – K. K. Barrett (production design) & Gene Serdena (set decoration)
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, February 15, 2014

The Jose Movie Review
12 Years a Slave

Overview

Steve McQueen selama ini dikenal sebagai sineas yang sering mengangkat tema-tema penderitaan. Karya film panjangnya baru tiga, Hunger, Shame, dan yang terbaru 12 Years a Slave (12YaS). Namun jangan meremehkan prestasinya karena ketiganya diganjar penghargaan internasional bergengsi di mana-mana. Yang terakhir malah diganjar 3 Oscar termasuk penghargaan tertinggi, Best Motion Picture of the Year. Jadi jangan pernah remehkan kepiawaian seorang Steve McQueen dalam bertutur melalui visual.

Dibandingkan kedua karya sebelumnya, menurut saya 12YaS adalah yang paling biasa saja. Bukan berarti buruk. It’s good, but nevertheless nothing’s special either. Berbeda dengan pendekatan personal yang mendalam di Hunger maupun Shame, semua unsur yang dimasukkan sudah formulaic di genre dan tema serupa. Formula andalan untuk menciptakan film yang dicintai juri-juri berbagai ajang penghargaan, termasuk Oscar. Bukan salah McQueen juga sebenarnya, karena adaptasi dari sebuah memoir milik seorang mantan budak bernama Solomon Northup sudah seperti demikian adanya. Mungkin malah jika tidak digarap oleh seorang McQueen, 12YaS akan jatuh menjadi super biasa lagi.

Rangkaian adegan penyiksaan yang seperti biasa, melibatkan pecut, diletakkan di sana-sini untuk “menggugah” hati penonton. Semua jadi tergantung dari bagaimana akting si “korban” yang kali ini bertumpu pada Lupita Nyong’o, pemeran karakter Patsey.

Tapi tunggu dulu, daya tarik utama sebenarnya bukan di situ. Kharisma karakter utama, Solomon, lah yang menggerakkan 12YaS menjadi lebih menarik. Meski memang tidak begitu banyak perkembangan yang signifikan, tetapi semangat dan taktik yang ia gunakan untuk survive adalah hal yang membedakan dengan film-film bertemakan perbudakan sejenis. Endingnya pun seolah hanya mempedulikan karakter Solomon dan mengabaikan nasib karakter-karakter lainnya, terutama Patsey. Begitu pula dengan karakter antagonis, terutama Edwin Epps dan istrinya. Menarik, meski tidak banyak perkembangan berarti.

Sebenarnya saya percaya seandainya 12YaS lebih bebas dalam membumbui cerita, tidak perlu terlalu setia pada sumber aslinya, ia pasti menjelma menjadi sebuah film yang jauh lebih menarik. Apalagi dengan tangan dingin Steve McQueen yang dilihat dari portfolio sebelum-sebelumnya, mampu membuatnya menjadi karya yang remarkable. Tapi apa mau dikata, produser sudah menarget Oscar sehingga mengikuti segala formula generik-nya. Tak apalah, kali ini kita biarkan McQueen meraih Oscar setelah Hunger dan Shame.

The Casts

Performance para aktor adalah kekuatan utama yang menghidupkan 12YaS. Baik Chiwetel Ejiofor maupun Lupita Nyong’o yang diganjar penghargaan di mana-mana, sama-sama layak berkat penampilan mereka yang begitu emosional. Begitu pula sosok-sosok antagonis yang meski tak begitu banyak porsinya seperti Ford (Benedict Cumberbatch), Tibeats (Paul Dano), dan Mistress Epps (Sarah Paulson), namun tetap memberikan kesan yang cukup lama membekas di benak saya. Apalagi muse McQueen, Michael Fassbender yang lagi-lagi memanfaatkan wajah dan emosi bengisnya. Top notch performances!

Technical

Sinematografi cantik yang merekam berbagai kejadian naas dengan art directing yang tak kalah cantik nan otentik jelas menjadi salah satu resep keberhasilan di berbagai penghargaan. Jadi Sean Bobbitt sebagai DoP, David Stein di art direction, dan Patricia Norris di costume design, jelas pilihan-pilihan terbaik.

Begitu juga Hans Zimmer yang menggubah score sepanjang film jelas formula wajib untuk kelas Oscar.

The Essence

Perjuangan tidak harus berupa pemberontakan frontal. Terkadang memilih mengikuti arus sekedar untuk bertahan sambil menunggu kesempatan datang adalah pilihan yang bijak. Tentu saja memanfaatkan kesempatan dengan berhati-hati dan cara yang cerdas, just to make sure everything will be just fine.

They who will enjoy this the most

  • Penonton yang menyukai drama menyentuh
  • Penyuka film bertema perjuangan bertahan hidup

86th Annual Academy Awards nominee for

  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Performance by an Actress in a Supporting Role – Lupita Nyong’o
  • Best Writing, Adapted Screenplay – John Ridley
  • Best Performance by an Actor in a Leading Role – Chiwetel Ejiofor
  • Best Performance by an Actor in a Supporting Role – Michael Fassbender
  • Best Achievement in Costume Design – Patricia Norris
  • Best Achievement in Directing – Steve McQueen
  • Best Achievement in Film Editing – Joe Walker
  • Best Achievement in Production Design – Adam Stockhausen (production design) & Alice Baker (set decoration)
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, February 2, 2014

The Jose Movie Review
12 Menit: Kemenangan untuk Selamanya



Overview

Tak banyak film yang mengangkat dunia marching band, bahkan Hollywood sekalipun. Hanya ada satu judul yang mampu saya ingat dengan baik, yaitu Drumline, yang dengan pendekatan cerita yang mirip Bring It On dan penampilan lagu-lagu populer dengan aransemen ala marching band, sangat berhasil menghibur saya. Sebenaranya tipikal film seperti ini memiliki cerita yang standard; sebuah tim (apapun itu, baik musik, tari, atau olahraga) sedang mempersiapkan diri untuk kompetisi besar, halangan silih berganti di antara para personelnya hingga mengancam perpecahan di dalam tim. Standard, namun jika dibidik dengan pendekatan yang beda, digali dalam, dan dieksekusi dengan baik, tetap saja bisa mengambil hati penonton dengan mudah. Ditambah penampilan final yang keren dan membuat penonton turut bersorak, film tipikal seperti ini sudah bisa dikatakan berhasil.

Tema dan formula serupa turut dianut oleh 12 Menit (12M) yang digarap oleh sutradara yang cukup punya nama di jagad perfilman nasional terutama berkat Heart, Virgin: Ketika Keperawanan Dipertanyakan dan Mirror, Hanny R. Saputra. Mendengar nama ini di bangku sutradara, tentu sedikit memancing ketertarikan saya untuk menyaksikannya. Betul saja, 12M adalah sajian tipikal yang luckily digarap dengan sangat baik dan pendekatan cerita yang unik dan terfokus. Ada satu benang merah yang mendasari keseluruhan konflik besar yang dialami oleh tiap karakter utamanya: Rene, Tara, Elaine, dan Lahang. Ketiganya bergulat sendiri-sendiri hingga dipersatukan dalam satu tujuan yang sama. Secara keseluruhan, skrip yang ditulis oleh Oka Aurora tertata dengan rapi, runtut, dan enak diikuti. Meski memilih menggunakan pendekatan drama ketimbang komedi ceria sebagai genre, 12M masih berhasil menjadi sajian yang menarik dan menghibur.

Namun bukan berarti tanpa kelemahan sama sekali. Ada satu kekurangan kecil yang cukup mengganggu alur cerita, terutama di bagian awal. Ia masuk dengan kurang smooth, sehingga penonton tiba-tiba disodorkan berbagai problematika para karakter utamanya. Namun seiring dengan durasi, alur semakin enak dan mudah diikuti hingga akhir film. Karakter Rene yang terasa kurang digali sedalam Tara, Elaine, dan Lahang, sebenarnya masih bisa dimaklumi. Namun cerita akan terasa lebih utuh dan menarik jika karakter ini juga digali lebih daripada yang tampak di layar.

Dengan dukungan teknis yang serba mumpuni (lebih lengkap, baca di segmen Technical), 12M adalah sajian yang sangat menghibur sekaligus menggugah penontonnya melalui pergulatan karakter-karakter utamanya.

The Casts

12M didukung oleh aktor-aktris yang secara umum berhasil menghidupkan cerita, baik yang berasal dari kubu papan atas dengan pengalaman mumpuni maupun pendatang baru. Mengisi peran utama, Titi Rajobintang sekali lagi mengeluarkan segala kemampuannya dalam menghidupkan karakter Rene. Sedikit tipikal karakter yang pernah diperankan Titi sebelumnya, seperti di Rayya: Cahaya di Atas Cahaya, namun dengan pembawaan yang jauh lebih natural dan jauh dari kesan meledak-ledak. Sementara di deretan pendatang baru namun diberi peran yang cukup banyak, Amanda Sutanto sebagai Elaine, Hudri sebagai Lahang, dan Arum Sekarwangi sebagai Tara, bisa dikatakan cukup berhasil menghidupkan peran masing-masing. Mungkin Hudri yang terkadang di beberapa adegan masih terkesan berlebihan dan dibuat-buat, tetapi di kebanyakan adegan berhasil mencuri hati.

Di deretan pemeran pendukung yang diisi nama-nama terkenal, terutama Olga Lidya, Nobuyuki Suzuki, Niniek L. Karim, dan spesialis pendukung, Verdi Solaiman semuanya memberikan performa maksimal yang tetap berkesan di layar meski masing-masing memiliki porsi peran yang tak banyak.

Technical

Sebuah tim marching band melibatkan banyak sekali pemain. Konon menurut yang disebutkan dalam cerita, ada 120 lebih pemain. Itulah sebabnya tata kamera memegang peranan penting dalam merekam semangat keseluruhan tim, baik secara close up maupun wide secara keseluruhan. Beruntung 12M punya sinematografer terbaik negeri ini, Yadi Sugandi, untuk mengabadikan tiap momen dengan shot dan emosi yang pas, hidup, dan mampu merangkum kebutuhan cerita secara sinematik.

12M juga diedit dengan stepat momen dan dinamis sehingga mampu membawakan emosi cerita dan karakter dengan pas.

Film yang mengangkat tema musik harus menjadikan penataan suara dan musik sebagai salah satu elemen yang krusial dan mendapat perhatian lebih. Tata musik dari Wong Aksan yang mengaransemen ulang berbagai lagu termasuk hits-hits milik Dewa menjadi satu kesatuan aransemen marching band yang super keren, ditambah tata suara yang seimbang antara musik, dialog, dan sound effect, menjadikan penampilan marching band yang ada di layar terasa hidup. Layer masing-masing suara instrumen musik terdengar jelas dengan renyah sekaligus berpadu dengan indah.

The Essence

Ada banyak hal yang bisa menghalangi kita untuk melakukan apa yang bisa membuat kita bahagia dan penting bagi kita. Terutama ketika masa-masa sekolah dimana orang tua (terutama di budaya Timur) merasa lebih berhak dan lebih tahu apa yang terbaik bagi anaknya. Faktor psikologis dan keadaan yang tidak mendukung juga bisa menjadi penghalang. Yang terpenting adalah bagaimana dengan adanya halangan-halangan tersebut, kita akhirnya tahu persis apa yang dicintai dan penting bagi demi masa depan, serta menjalankannya 100 persen.

They who will enjoy this the most


  • General audience who needs a spirit booster
  • General audiences who seeks for light entertainment
  • Music enthusiast, especially in marching band
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates