Wednesday, January 22, 2014

The Jose Movie Review
The Wolf of Wall Street



Overview

Who the hell is Jordan Belfort? Pertanyaan itu sangat mungkin keluar dari masyarakat kita. Mungkin hanya praktisi bursa saham yang pernah mendengar namanya. Dunia bursa saham memang tidak begitu familiar bagi masyarakat luas, terutama di Indonesia. Maka tak heran jika film-film yang berkaitan, seperti Wall Street karya Oliver Stone, tidak begitu diminati oleh penonton kita. Namun sutradara kaliber Oscar lainnya, Martin Scorsese mencoba mengangkat dunia bursa saham dengan pendekatan yang lebih populer: biografi.
Film biografi sendiri biasanya dibuat dengan pendekatan yang semirip mungkin dengan aslinya, sehingga seringkali jatuhnya adalah film yang super serius. Hanya sedikit yang berani membuat biografi dengan pendekatan yang berbeda. Saya hanya bisa mengingat Walk Hard: The Dewey Cox Story-nya Judd Apatow yang berani menyajikan biografi dengan begitu gokilnya. Maka The Wolf of Wall Street (WoWS) saya nobatkan sebagai salah satu film biografi yang menyenangkan dan sangat enjoyable, tanpa kehilangan esensinya.
Sepanjang film diisi narasi dari suara karakter Jordan Belfort sendiri yang sengaja dibuat tidak lurus-lurus saja, terkadang diselingi komentar atas adegan yang sedang ada di layar, dan jelas menimbulkan tawa tersendiri. Durasinya yang sekitar 3 jam (konon di bioskop Indonesia dipangkas hingga hanya tersisa 165 menit) sama sekali tidak terasa membosankan. Meski saya sudah tahu bagaimana film ini akan berakhir, saya sangat menikmati tiap menit adegannya yang penuh dengan pesta seks, kokain, dan inspirasi-inspirasi yang disampaikan dengan gokil oleh Leonardo DiCaprio.
Pesta seks dan kokain? Yup, it’s so full of them. Tapi jangan salah, meski demikian WoWS sama sekali tidak pernah jatuh terlampau vulgar atau norak. Hanya sekedar ilustrasi kehidupan Jordan, namun ditampilkan dengan elegan dan tidak berlebihan. Anda mungkin akan dibuat geleng-geleng kepala menyaksikan kegilaan-kegilannya, tetapi di saat yang sama Anda juga akan tersenyum. Menghibur, tanpa membuat Anda ingin mencobanya ataupun terangsang.
Meski dengan pendekatan-pendekatan komedik dan nuansa yang serba fun, ia tetap mampu menyampaikan ceritanya sebagai misi utama dengan baik. Bagi penonton yang awam akan dunia bursa saham, seperti saya sendiri, tidak akan dibuat pusing atau bingung sedikit pun. Narator akan dengan senang hati menjelaskan istilah-istilah saham. Bahkan melihat metode dan semangat yang ditunjukkan Leo, bukan tidak mungkin Anda akan menganggap bursa saham terlihat serta terdengar menarik.
Penonton akan mengenal dan bahkan kagum pada sosok Jordan Belfort di balik segala kegilaan gaya hidupnya. Di bagian ending pun ia tidak memberikan konklusi yang begitu berarti. In short, WoWS hanya akan membuat Anda mengenal sosok Belfort, namun tidak akan melibatkan emosi Anda secara berlebihan. Anda tidak akan serta merta dibuat membenci atau mencintai sosoknya. Anda juga tidak akan dibuat kelewat sedih, sebal, atau senang atas segala yang terjadi pada Belfort. You will just enjoy the ride of his rollercoaster rise and fall dengan senyum dan perasaan kagum atas sepak terjangnya menaklukkan rimba Wall Street.

The Casts

Seperti biasa, Leonardo DiCaprio tidak pernah mengecewakan. Tak heran Scorsese rajin memakai jasanya untuk mengisi peran-peran utama di film-film high profile-nya. Meski sebenarnya penonton sulit untuk tidak merasakan image peran-peran sebelumnya pada sosok Belfort, namun Leo berhasil menghidupkan karakter tersebut dengan meyakinkan dan kharismatik.Begitu pula Jonah Hill yang kali ini pun tak berbeda jauh dengan karakter-karakter yang penah ia perankan sebelumnya, namun kehadirannya terasa sangat pas di layar dengan konsep seperti ini.
Kecantikan dan keseksian Margot Robbie sebagai Naomi tentu menjadi pemanis yang mempesona dan mengalihkan perhatian sepanjang penampilannya. Sementara yang paling sukses mencari perhatian penonton meski porsinya sangat sedikit adalah Matthew McConaughey sebagai Mark Hanna, mentor Belfort ketika masih memulai karir di Wall Street.

Technical

Editing memainkan peran yang cukup penting untuk tipe film seperti ini, sehingga ritmenya yang dinamis terjaga tanpa mengurangi esensi yang ingin disampaikan oleh gambar. Penggunaan slow motion yang tepat guna juga menjadi penentu, di samping fungsi dramatisasi yang gokil.
Tak ada yang begitu istimewa sebenarnya untuk tata artistik dan properti, sementara costume design terlihat lebih menonjol.
Pemilihan soundtrack pengiring adegan juga patut diacungi jempol dengan memilih lagu-lagu yang populer di telinga penonton sekaligus blend-in dengan adegan.

The Essence

Tidak ada yang benar-benar sempurna di dunia. Kesuksesan yang besar membutuhkan pengorbanan yang juga besar untuk bisa survive dengan ganasnya dunia kerja (dalam hal ini: rimba bursa saham). Jatuh-bangun itu biasa, punya sisi negatif pun juga biasa, yang penting tidak pernah kehilangan semangat untuk bangkit lagi di saat jatuh.

They who will enjoy this the most

  • Mature audience who enjoy high lifestyle
  • They who work in stock market

86th Annual Academy Awards nominee for

  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Performance by an Actor in a Leading Role - Leonardo DiCaprio
  • Best Performance by an Actor in a Supporting Role - Jonah Hill
  • Best Achievement in Directing - Martin Scorsese
  • Best Writing, Adapted Screenplay - Terence Winter
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates