Sunday, January 19, 2014

The Jose Movie Review
The Secret Life of Walter Mitty


Overview

Di Amerika Serikat, ada beberapa nama komedian yang menguasai Hollywood. Jika Jim Carrey menurut Anda sudah terlalu overrated, maka masih ada nama Will Ferrell, Adam Sandler, Ben Stiller, sampai yang generasi baru seperti Jonah Hill dan Seth Rogen. Tak hanya pandai berakting lucu, tetapi komedian-komedian ini juga dituntut piawai menulis naskah dan juga menyutradarai. Di antara jajaran nama-nama komedian papan atas tersebut, nama Ben Stiller bisa dikatakan yang paling menonjol, setelah Adam Sandler tentu saja. Karya Sandler sebagai penulis naskah dan sutradara sudah cukup banyak, meski hasilnya juga sering hit and miss. Sementara Ben Stiller mungkin tidak semuanya menjadi hits, tetapi kualitasnya sudah di atas rekan-rekan komedian lainnya. Baru 5 film yang dia sutradarai. Mulai Reality Bites yang menurut banyak penonton adalah yang paling berkesan, The Cable Guy, Zoolander (favorit saya), Tropic Thunder, dan yang terbaru ini, The Secret Life of Walter Mitty (SLWM)
Diangkat dari cerita pendek dan pernah difilmkan tahun 50-an, SLWM merombak cukup banyak elemen. Yang paling jelas terasa adalah setting cerita yang dibuat semodern mungkin, yaitu peralihan sebuah media cetak menjadi media online. Keputusan yang sangat baik dan pas, menurut saya. Selain menjadi lebih relevan dengan masa kini, kekuatan cerita turut menjadi bertambah.
SLWM adalah tipikal feel good movie yang tak hanya membuat penontonnya terpana oleh keindahan sinematografi dengan panorama Greenland, Iceland, dan Himalaya, namun juga pengalaman-pengalaman karakter utama kita, Walter Mitty, yang seru dan kocak khas Ben Stiller. Ia menggabungkan antara realita dan khayalan. Sejak awal, ia dengan jelas-jelas menunjukkan mana yang real mana yang khayalan. Beruntung khayalan-khayalan yang ditampilkan memang menarik dan kalau mau jujur, adalah fantasi kita selama ini ketika menghadapi situasi yang sama. The best part of SLWM adalah ketika ia mulai mengaburkan antara realita dan khayalan. Berkat khayalan yang bertubi-tubi di depan, penonton menjadi terbiasa dengan anggapan “ah paling juga hanya khayalan”. Sehingga ketika cerita mulai ‘breakout’, penonton dibuat menebak-nebak apakah adegan tersebut realita atau khayalan. Dan semakin lama penonton semakin dibuat terhanyut dalam petualangan Walter Mitty, sambil tersenyum diajak menikmati hidup. Itulah inti dari SLWM. Sederhana, namun make you feel so good. Tentu saja tidak ketinggalan humor-humor bereferensi dan gesture Stiller yang khas dan segar, meski tidak se-slapstick Tropic Thunder atau Zoolander.
Harus diakui, jika kita mau mengurai lagi alur ceritanya, sebenarnya SLWM kurang konsisten dalam menyampaikan tujuan. Apa yang ingin dicapai oleh karakter utama kerap berubah-ubah, apakah sesederhana mengenai hubungan asmara atau kehidupannya secara keseluruhan. Untungnya petualangan Mitty dan keberhasilannya mengikat emosi penonton mengaburkan kelemahan kecil tersebut. Ketika menjelang akhir barulah jelas tujuan utamanya. Sederhana, lebih sederhana dari yang kita bayangkan selama ini. Namun seperti itulah sebenarnya hidup dan kebahagiaan, bukan? Very simple.

The Casts

Tak ada yang lebih cocok memerankan Walter Mitty selain Ben Stiller sendiri. Karakter wajah dan gesture khasnya yang awkward dan sok serius berhasil menghidupkan karakter Walter Mitty menjadi mengesankan. Kristen Wiig pun mampu mengimbangi akting Stiller dengan baik meski porsinya tidak begitu banyak dan tidak begitu mencolok. Nilai plus tentu saja penampilannya menyanyikan Space Oddity milik David Bowie.
Sementara Sean Penn meski porsinya juga sedikit, namun kharismanya begitu kuat. Apalagi kemunculannya adalah adegan puncak yang dinanti-nanti.
Di antara peran pendukung rata-rata memiliki porsi yang pas namun berkat keunikan masing-masing sehingga menjadi menarik, seperti Adam Scott (Ted), Kathryn Hahn (Odessa), Shirley MacLaine (Edna), dan Adrian Martinez (Hernando).

Technical

Siapa saja setidaknya pasti terpana oleh sinematografi Stuart Dryburgh yang berhasil merekam panoramic keindahan alam Greenland, Iceland, dan Himalaya. Tak hanya itu, adegan-adegan berlatar interior kantor Life juga tak kalah cantiknya, baik yang realistis maupun khayalan. Apalagi title dan berbagai teks-teks penting yang dihamburkan di berbagai adegan dan menyatu dengan gambar. Keren!
Unsur lain yang patut di-highlight dari teknis SLWM adalah pilihan soundtrack “berkelas” dan sangat sesuai dengan nuansa film yang dreamy serta sedikit hipster. Mulai dari Space Oddity milik David Bowie dengan part yang dibawakan langsung oleh Kristen Wiig, sampai band Iceland yang sedang naik daun untuk mengisi soundtrack, Of Monsters and Men dengan Dirty Paws.

The Essence

Dalam hidup, selalu ada kesempatan untuk melakukan tindakan dan keputusan yang nantinya bakal kita sesali tidak dilakukan. Kuncinya sebenarnya hanyalah sedikit keberanian untuk mengambil keputusan dan keluar dari zona nyaman kita. Nothing will be lost anyway. Push yourself and you will be very relieved for having done that.

They who will enjoy this the most

  • Penonton yang mencintai film dengan panorama-panorama cantik
  • Ben Stiller’s fans atau setidaknya menyukai humor-humor khasnya
  • Siapapun yang sering takut melakukan sesuatu yang diinginkan
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates