Sunday, January 19, 2014

The Jose Movie Review
Princess, Bajak Laut, dan Alien


Overview

Selama beberapa tahun belakangan, trend yang cukup menarik di film Indonesia adalah omnibus. Sebuah perkembangan yang bagus karena tak hanya melibatkan orang-orang yang sudah memiliki jam terbang yang tinggi di perfilman, tetapi juga bakat-bakat baru yang nantinya menjadi generasi penerus perfilman kita. Sempat mengalami penurunan jumlah film omnibus, awal tahun 2014 digebrak oleh omnibus untuk audience yang masih sangat jarang dilirik: anak-anak. Selain sulit untuk membuat racikan yang pas dan sesuai untuk audience anak-anak, terutama karena sudah terlanjur dicekoki materi-materi yang lebih dewasa, orang tua jaman sekarang juga semakin malas untuk mengajak anak-anaknya menonton film yang sesuai dengan mereka. Sebuah fenomena menyedihkan, sebenarnya. Namun keberanian empat sutradara; Eko Kristianto, Alfani Wiryawan, Rizal Mantovani, dan Upi ini patut mendapatkan apresiasi lebih. Apalagi ternyata secara keseluruhan hasilnya sangat layak untuk disaksikan oleh penonton anak-anak, pun juga penonton dewasa yang bakal dibawa bernostalgia dengan pengalaman-pengalaman masa kecil dulu.

Dari 4 cerita yang disodorkan, memang tidak semua memiliki kualitas yang sama. Namun effort untuk menampilkan tontonan anak yang berbeda, membuat saya memberikan kredit lebih untuk film ini. Jika rata-rata film anak Indonesia dibuat se-aman mungkin, dengan pesan moral yang secara gamblang ditunjukkan, klise, dan cenderung hanya menampilkan kesempurnaan keadaan atas nama “mendidik”, Princess, Bajak Laut, dan Alien (PBA) berani mendobrak kebiasaan tersebut. Jika diamati, ketiga cerita pertama PBA menampilkan background keluarga anak-anak yang tidak sempurna menurut tatanan masyarakat kita (baca: single parent). Pada cerita keempat, justru keadaannya yang dibalik. Seorang anak dengan background keluarga yang sempurna menurut tatanan masyarakat, namun dirinya sendirilah yang dianggap “aneh: oleh teman-teman sebayanya (“berbeda” oleh para orang tua). Sebuah konsep yang entah disengaja atau tidak, memberikan pemahaman yang lebih baik kepada anak-anak dalam menerima keadaan sehari-hari yang realistis dan tidak selalu sempurna. That’s one good point itself.

Mari melihat tiap segmen lebih detail. PBA dimulai dengan Misteri Rumah Nenek (MRN) yang bergenre horor. Dibandingkan 3 cerita lainnya, jelas MRN terasa menjadi segmen yang paling lemah kedua. Namun sebagai pembuka, apalagi bergenre horor, MRN sama sekali tidak buruk. Sutradara Eko Kristianto cukup piawai dalam merangkai serta menjaga ketegangan cerita, bahkan jika dibandingkan dengan film-film horor Indonesia umum belakangan ini. Memang beberapa logika cerita membuat saya mengernyitkan dahi, terutama tentang tindakan karakter-karakter anaknya. Namun menjelang ending, ia menyajikan side story yang memang dibuat tidak begitu jelas tetapi memberikan nilai plus tersendiri. Sengaja dibuat tidak begitu jelas, sesuai dengan sudut pandang anak-anak yang tidak mengerti urusan orang dewasa. Namun bagi kita penonton dewasa, jelas bahwa ada suatu konflik antara kedua orang tua mereka dan sang nenek. Anak-anak tidak dibuat kepo untuk mengetahui permasalahan orang dewasa, namun resolusi sang ibu dan sang nenek yang dicapai di ending sudah cukup di mata mereka. Sekali lagi, tidak sempurna namun sebagai pembuka sama sekali tidak buruk.

Lanjut ke segmen kedua, Babeh Oh Babeh (BOB) oleh sutradara Alfani Wiryawan. Ini dia segmen favorit saya. Tidak hanya memiliki konsep cerita yang menurut saya simple tetapi bagus sekali, BOB dihiasi akting comedic spontanitas yang sangat menghibur dan segar. Terutama datang dari Tora Sudiro dan Aming. Kisahnya yang hearty dibidik dengan sinematografi yang cantik dalam menampilkan suasana perkampungan. Tak hanya dari sudut pandang anak-anak, karakter sang ayah pun juga dibuat belajar dari kesalahannya. Realita ketidak sempurnaan ini yang menjadikannya aktual dan juga dialami oleh banyak anak-anak yang malu dengan profesi sang ayah.

Kamu Bully, Aku B-Boy (KBAB) yang digarap oleh sutradara dengan jam terbang cukup tinggi, Rizal Mantovani, menjadi segmen ketiga. Di mata saya, segmen ini adalah yang paling lemah di antara empat segmen yang ada. Terutama sekali adalah logika korelasi antara menjadi korban bully dengan mulai mempelajari breakdance. Agak nggak nyambung aja kenapa sesaat setelah menjadi korban bully dan diperkenalkan dengan break dance dengan sang ibu, kemuduian seketika memutuskan mempelajarinya. Alangkah jauh lebih baik jika ada sedikit bridging penjelasan, misalnya sang ibu mengetahui kalau anaknya menjadi korban bully sehingga ia mencoba mengalihkan perhatiannya dengan memperkenalkan dengan koleksi breakdance milik ayahnya. Semacam ada lompatan korelasi cerita di situ. Untung menjelang akhir, ada sedikit korelasi cerita yang diperbaiki antara bully dan battle meski tidak bisa memperbaiki gap yang ada sebelumnya. Anyway, kelucuan serta aksi breakdance dari Mika menjadi kredit tersendiri.

Terakhir menampilkan segmen dengan judul yang dipakai sebagai judul film secara keseluruhan, Princess, Bajak Lau, dan Alien (PBA) oleh Upi. Dengan mengusung nama besar Upi, jelas PBA memiliki ekspektasi lebih. Tak heran secara konsep cerita, konsep visual, dan style artistik yang ‘Upi banget’, PBA adalah segmen yang paling kuat dan matang. Dengan gaya penceritaan dan gaya gambar yang sangat sinematis, didukung akting para pemerannya, baik anak-anak maupun dewasa, serta jelas artistik yang cantik dan seperti karya Upi lainnya, seperti berada di universe-nya sendiri, PBA adalah penutup yang manis. Battle of wits antara anak-anak dan orang dewasa mungkin menjadi sedikit lebih cocok untuk remaja atau dewasa, namun secara keseluruhan memiliki esensi yang bisa dipahami kedua pihak dengan mudah dan pastinya, jauh dari kesan menggurui.

The Casts

Secara keseluruhan, cast anak-anak bermain sangat baik. Meski rata-rata adalah pendatang baru dan banyak penonton yang kurang familiar sebelumnya, kesemuanya tampil natural dan berkat penampilan fisik mereka yang menggemaskan.

Kehadiran aktor-aktor papan atas untuk meramaikan jelas menjadi kesegeran dan gem tersendiri. Terutama Tora Sudiro, Luna Maya, Ade Irawan, Sophia Latjuba, Masayu Anastasia, Aming, Lukman Sardi, Aida Nurmala, dan bahkan sutradara film pendek, Ismail Basbeth.

Technical

Sinematografi menjadi keunggulan utama dari PBA, terutama sekali Yunus Pasolang di BOB dan Ical Tanjung di PBA. Artistik juga memegang peranan penting di tiap segmen yang kualitasnya bisa dibilang cukup merata. Terutama sekali tata artistik PBA yang ala vintage 70-an. Begitu detail dan cantik.

Score pun turut menjadi perhatian utama yang cukup membangun suasana setiap segmen dengan baik. Terakhir, editing Cesa David dan dibantu Ryan Purwoko yang dengan rapi menjalin empat cerita menjadi kesatuan karya yang halus dan berkelas.

The Essence

Tidak ada yang sempurna di dunia. Setiap segmen di PBA mengajak anak-anak untuk menerima apapun yang terjadi dalam hidup mereka dan yang terpenting, mencari solusi untuk menjadikan segalanya terasa lebih baik. A good point yang membuat saya jatuh cinta dengan PBA.

They who will enjoy this the most

  • Semua anak-anak, terutama usia SD-SMP
  • Penonton dewasa secara umum yang ingin bernostalgia dengan masa kecil
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id
Lihat situs resmi film ini. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates