Guardians of the Galaxy Vol. 2

Star-Lord, Gamora, Rocket, Drax, and Baby Groot were on an adventure to the planet they've never seen before.
Read more.

Critical Eleven

Ika Natassa's best-seller novel about marriage's critical moment is ready to hit the screen!
Read more.

Stip dan Pensil

Ernest Prakasa to go back to the high school and learn to teach people around.
Read more.

Kartini

Hanung Bramantyo pick Dian Sastrowardoyo to portray Kartini in her new version of biopic.
Read more.

Alien Covenant

Another expedition ship to confronted with the Alien's colony .
Opens May 10.

Tuesday, December 30, 2014

The Jose Flash Review
Paddington

Entah disengaja atau tidak, liburan Natal dan tahun baru 2014-2015 kali ini kita di Indonesia disuguhi 2 pilihan film keluarga yang sangat layak ditonton bersama seluruh anggota keluarga. Meski setiap tahun selalu ada pilihan film yang sengaja dirilis saat liburan Natal, tapi tidak setiap tahun ada pilihan yang benar-benar menarik dan bagus. Beruntung tahun ini ada 2 film sekaligus; Night at the Museum: Secret of the Tomb dan Paddington. Uniknya lagi, kedua film ini punya adegan yang settingnya di British Museum of National History. Keduanya punya juga share produser dengan franchise Harry Potter (Chris Columbus, produser NatM3 adalah produser 3 seri pertama HP, sementara David Heyman, produser Paddington adalah produser kesemua seri HP).

Paddington adalah sebuah film petualangan keluarga dengan menggabungkan karakter CGI dengan live action seperti halnya Alvin and the Chipmunk, Garfield, dan Smurfs. Diangkat dari buku dongeng anak-anak yang akhirnya mendunia berkat bonekanya, premise Paddington sebenarnya cukup familiar dengan genre sejenis: seekor beruang langka yang bisa bicara harus mengungsi ke London setelah habitat aslinya di pedalaman Peru terancam rusak. Maka Paddington, nama beruang itu, bertualang mencari keluarga di tengah masyarakat London yang individualis. Ditambah lagi ia harus berhadapan dengan kolektor hewan langka untuk diawetkan. Sederhana, cenderung cliché, tapi digarap dengan berbagai aspek yang luar biasa.

Sebagai film keluarga, Paddington masih tergolong cocok dan aman untuk disaksikan seluruh anggota keluarga, termasuk balita. Lebih dari itu, ia termasuk film keluarga yang sangat hangat dan menyenangkan. Sebagai film petualangan, ia juga menyajikan berbagai adegan petualangan yang seru dan dinamis, tanpa terkesan terlalu chaos seperti yang terjadi pada genre sejenis (terutama buatan Hollywood). Dijamin, Anda akan dibuat jatuh cinta dengan karakter Paddington sejak pertama kali kemunculannya hingga ending. Anda juga akan dibuat tersenyum sepanjang film, menikmati tiap ups and downs adegan, terutama adegan-adegan kekeluargaan yang mengalami pasang-surut dengan flow yang pas dan enak diikuti.

Paddington jelas jadi highlight utama, tentu saja juga tak lepas dari peran Ben Whisaw yang menjadi voice talent-nya. Nicole Kidman pun terasa begitu pas mengisi perannya, villain komikal yang membuat penonton sebal sekaligus tertawa. Sementara Sally Hawkins tampil charming dan easily lovable. Terakhir, Hugh Bonneville yang memerankan karakter Mr. Brown dan punya perkembangan karakter paling terasa, mampu mengisi perannya dengan sangat hidup dan menarik.

Art directing patut mendapatkan kredit tersendiri dalam membangun universe Paddington yang penuh warna, cantik, dan tetap terasa London banget. Elemen-elemen fantasi yang dihadirkan, seperti gedung kantor Geographer’s Guild, pun ditampilkan dengan remarkable. Ditambah lagi dengan camera work yang sangat mendukung panorama-panorama dan kebutuhan cerita serta menghadirkan pengalaman sinematis yang sangat memuaskan. So, sayang jika tidak menyaksikannya di layar lebar.
Elemen lain yang menjadi keunggulan Paddington adalah scoring dari Nick Urata yang mengiringi adegan-adegan dengan sangat pas. Belum lagi live music yang dibawakan oleh D Lime featuring Tabago Crusoe sepanjang adegan yang berhasil semakin mewarnai tiap adegan. Sedikit mengingatkan saya dengan elemen yang sama di There’s Something About Mary.

Dengan berbagai keunggulan yang dimilikinya, saya berani menobatkan Paddington sebagai film petualangan keluarga terbaik dalam beberapa tahun terakhir ini, dan bahkan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Hiburan ringan yang sangat menyenangkan bagi penonton anak-anak, sekaligus menyentuh penonton dewasa dengan childhood joy dan family warmth themed-nya. 

Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, December 28, 2014

The Jose Flash Review
Night at the Museum: Secret of the Tomb

Sejak lama Chris Columbus dikenal sebagai produser sekaligus sesekali sutradara film-film bertemakan keluarga. Franchise fenomenal Home Alone, Percy Jackson, bahkan tiga seri pertama Harry Potter lahir dari tangan dinginnya. Salah satu yang paling berpengaruh adalah franchise Night at the Museum (NatM) yang dimulai liburan Natal 2006. Tak hanya berhasil mengumpulkan dollar hingga mencetak box office di mana-mana, pengunjung museum di lokasi aslinya, Museum of Natural History meningkat cukup signifikan pasca perilisannya. Impact yang masih jarang terjadi di ranah perfilman sampai sekarang sekalipun. Maka sekuelnya yang punya sub-title Battle of the Smithsonian di tahun 2009 pun juga mendulang sukses meski tak sebesar seri pertamanya. Di tahun 2014, tim yang sama mencoba untuk membuat seri ketiganya, dan digadang-gadang sebagai penutup franchise (setidaknya seri dengan karakter Larry sebagai  karakter utamanya).

NatM sebenarnya masih menggunakan formula yang sama hingga seri ini. Pola pengembangannya pun juga sama; pemindahan lokasi setting cerita dan penambahan karakter-karakter penghuni museum yang dihidupkan. Namun seri ini rupanya secara kebetulan dan juga secara konseptual yang disengaja, menawarkan lebih banyak ketimbang dua seri sebelumnya.

Jika di seri kedua menampilkan Smithsonian Institution sebagai lokasi tambahan, maka kali ini British Museum of Natural History dipilih untuk memperkaya adegan. Makin banyak lokasi, maka makin banyak karakter baru yang dihidupkan secara magis. Tidak tanggung-tanggung, di seri ini dipilih lebih banyak aktor-aktris populer untuk meramaikan. Mulai Sir Ben Kingsley, Dan Stevens, hingga Rebel Wilson yang penampilannya selalu menarik perhatian penonton. Bahkan sebagai cameo dipilih aktor yang pasti mengejutkan penonton yang belum mengetahui keterlibatannya di sini (clue: inisial HJ). In short: Secret of the Tomb (SotT) otomatis menjadi lebih menarik dan meriah berkat pemilihan cast tambahan yang tepat.

Faktor lain yang turut membuat SotT terasa berbeda dengan seri-seri sebelumnya adalah keterikatan emosi yang lebih kuat dengan penonton. Penampilan terakhir Robin Williams dan Mickey Rooney jelas membawa keuntungan tersendiri bagi film. Tidak sedikit penonton yang rela menyaksikan seri ini hanya untuk menyaksikan keduanya di layar untuk terakhir kalinya. Tapi bukan berarti tidak ada usaha lain yang membuat SotT terasa lebih kuat secara emosi. Tim penulis naskah dan sutradara Shawn Levy berhasil menampilkan adegan-adegan perpisahan di menjelang akhir film yang sangat menyentuh, tanpa harus habis-habisan menguras air mata, malahan tetap membubuhkan senyum di dalamnya. Franchise (utama) NatM pun berhasil ditutup dengan manis, masih dengan daya magis yang sama, dan tingkat keseruan petualangan yang setara.

Ada beberapa bagian yang awalnya terasa tidak begitu penting, seperti misalnya saat Jedediah dan Octavius terpisah dan bertualang sendiri. Namun skrip berhasil menyatukan sub-plot ini ke plot utama dengan mulus dan menarik. Special effect yang digunakan sepanjang film pun terasa cukup banyak berkembang. Yang paling membuat saya tercengang adalah tampilan constellation di awal film yang sangat indah.


SotT memang disebut-sebut sebagai pamungkas franchise NatM. Tapi melihat endingnya, bukan tidak mungkin ke depan muncul spin-off-nya. Mengingat di sini jelas-jelas Rebel Wilson bisa meneruskan tongkat estafet cerita dari Ben Stiller. Jika benar, jelas franchise NatM masih potensial untuk dikembangkan dan justru menjadi semakin menarik. Meski harus saya akui, agak mengganggu juga jika harus mendengarkan aksen British Rebel Wilson seperti di sini untuk porsi yang jauh lebih banyak.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, December 24, 2014

The Jose Movie Review
Pendekar Tongkat Emas



Overview

Bersamaan dengan sejarah filmnya, Indonesia sebenarnya juga punya sejarah film bergenre silat yang cukup panjang, bahkan sempat mencapai masa kejayaannya. Siapa yang tidak mengenal kisah seperti Saur Sepuh, Tutur Tinular, Misteri Gunung Merapi, Si Buta dari Gua Hantu, Si Pitung, dan Si Jampang? Well, mungkin generasi-generasi muda yang baru lahir 90-an ke atas dan hanya mengenal silat Indonesia melalui sinetron dan FTV silat seadanya yang ditayangkan di TV-TV lokal kita. Dengan eksistensi yang sudah berpuluh-puluh tahun vacuum dan image yang sudah terlanjur ternodai (begitu lama juga), effort Mirles untuk menghadirkannya lagi perlu dihargai. Padahal tantangan dan resikonya besar sekali. Budget yang sudah pasti besar (konon mencapai 25 milyar rupiah), tapi dengan pasar yang bisa dibilang masih sangat belum akrab dengan genre ini. Well, anyway Mirles sejak dulu memang dikenal selalu berani mencoba genre baru serta pasar yang berbeda dengan yang sudah ada sebelumnya, dan sukses.  Terbukti Petualangan Sherina dan Ada Apa dengan Cinta menjadi pertaruhan yang berbuah manis bagi Mirles. Toh Mirles selalu menjaga kualitas, setidaknya secara teknis, sehingga selalu menjadi pioneer di ranah perfilman Indonesia.

Pendekar Tongkat Emas (PTE) nyatanya tidak se-epic bayangan saya ketika pertama kali mendengar dan melihat materi-materi promosinya yang begitu menjanjikan. Alih-alih berlabel film silat, PTE lebih tepat disebut sebagai film drama tentang silat. Premise-nya sendiri tergolong biasa dan klise, apalagi bagi yang sudah cukup familiar dengan genre serupa, baik produksi lokal maupun import. Meski begitu, berkat flow cerita yang mengalir cukup lancar dan performance aktor-aktris-nya yang serba prima, menjadikan PTE film yang masih enjoyable, di balik alurnya yang tergolong lambat.

Secara keseluruhan, PTE memang menyajikan sebuah karya yang menghibur dan dipresentasikan dengan cukup baik. Meski harus diakui bukanlah karya terbaik produksi Mirles selama ini. Menarik, namun tidak sampai menjadi sesuatu yang terlampau istimewa. Kendati demikian, effort-nya dalam menawarkan genre yang sudah lama usang dan memperbaiki image film bertemakan silat di ranah film Indonesia patut mendapatkan kredit tersendiri. Kebangkitan genre silat yang sangat layak dan digarap dengan tidak main-main. Itulah mengapa, terutama bagi yang jarang menyaksikan film Indonesia, PTE terasa begitu fresh dan menampilkan sesuatu yang begitu istimewa bagi film Indonesia. Kisah silat yang kental rasa dan nuansa Indonesia-nya, dengan treatment kelas dunia.

The Casts

Setelah menganalisa lebih jauh dan lebih dalam pasca menonton, PTE barulah terbaca beberapa kekurangannya. Yang terasa jelas adalah karakteristik para tokoh yang (entah disengaja atau tidak) tidak digali lebih dalam. Alhasil, cerita hanya fokus pada pengenalan karakter-karakter dengan latar belakang secukupnya, lantas cerita dibiarkan mengalir begitu saja hingga akhir. Tidak salah jika konsepnya memang demikian, namun hasilnya juga tidak bisa membuat para karakternya menempel kuat di benak penonton pasca menyaksikannya. Untung pemilihan aktor-aktrisnya cukup membantu membuat setiap karakter masih cukup membekas. Apalagi performa beladiri yang ditampilkan masing-masing karakter cukup meyakinkan. Tidak terlalu mampu terlihat luar biasa, namun effort-nya patut dihargai lebih.

Dari jajaran cast all-star, yang patut paling saya puji adalah penampilan Eva Celia yang ternyata sangat baik. Meningkat cukup drastis dari penampilannya terakhir di Adriana. Beban karakter utama yang cukup berat dan punya porsi yang paling banyak, tidak menjadi sebuah masalah baginya, justru memperkuat image-nya di mata penonton. Lewat penampilannya di sini, Eva Celia berhasil membuktikan diri sebagai aktris muda yang sangat menjanjikan, di tengah membanjirnya aktor-aktris muda masa kini yang lebih banyak jual tampang daripada kualitas akting.

Nicholas Saputra yang punya pengalaman jauh lebih banyak pun turut mengimbangi Eva Celia dengan sangat baik. Tidak sampai menggusur kharisma Eva Celia, namun mampu menarik perhatian penonton dengan caranya sendiri.

Reza Rahadian tetap memberikan performa yang begitu pas dengan karakternya. Namun karena ini adalah seorang Reza Rahadian yang kelasnya sudah jauh di atas aktor rata-rata, maka penampilannya di sini sudah termasuk golongan biasa saja. Cukup pas mengisi perannya meski tidak begitu istimewa pula. Sementara Tara Basro cukup berhasil membangun image antagonisnya dengan baik lewat garis wajah yang terlukis di wajahnya yang eksotis dan berkarakter kuat.

Penampilan Christine Hakim yang tak begitu banyak, seperti biasa, mampu memberikan kesan tersendiri dengan ekspresi wajahnya yang entah bagaimana, dari sananya sudah cocok memerankan karakter serius apapun. Ditambah kemampuan bela diri yang “wah”.

Di jajaran pemeran pendukung lainnya, penampilan Prisia Nasution dan Darius Sinathrya cukup memberikan kesan tersendiri.

Terakhir, tentu saja pendatang baru Aria Kusumah yang menurut saya diberikan pengembangan karakter paling menarik dan banyak meski bukan di porsi utama, mampu menghidupkannya dengan cukup mengesankan.

Technical

Kekuatan utama dari teknis PTE jelas adalah sinematografi dari Gunnar Nimpuno, terutama dalam menangkap gambar-gambar lanskap Sumba dengan sangat cantik, sekelas National Geographic. Namun pergerakan kameranya masih belum secara maksimal merekam adegan-adegan pertarungan. Alhasil tidak banyak adegan pertarungan yang terasa luar biasa seru, most of them karena tidak dibingkai dengan close-up dan editing yang juga kurang mampu memberikan kesan dinamis di tengah-tengah pace film yang memang bergerak lambat. Untung di adegan pertarungan akhir yang cukup penting dan nyatanya mampu membekas di benak penonton, kendala-kendala ini cukup diperbaiki. Tata kamera sebenarnya juga masih kurang menutupi pergantian stunt di adegan pertarungan, yang otomatis juga mungkin akan membuat editor susah untuk menutupinya. Namun bagi mata awam, mungkin minus ini tidak akan begitu terasa.

Above all, ada beberapa shot yang luar biasa cantiknya, bahkan in term of cinematography, namun ada juga beberapa yang cukup mengganggu. Saya mencatat setidaknya ada 2 shot yang saya pertanyakan. Pertama shot wide Christine Hakim di tengah ilalang-ilalang yang entah kenapa fokusnya tanggung. Tetap terasa aneh jika sengaja dikonsep blur. Kedua, pergerakan kamera lambat setelah Eva Celia dan Aria jatuh ke jurang, yang terasa kurang smooth (terasa patah-patah).

Tata suara dari Satrio Budiono dan Yusuf Patawari, serta scoring dari Erwin Gutawa turut membangun adegan-adegan dengan baik. Meski gaya film yang sejak awal digunakan, terasa mendadak berubah drastis di adegan terakhir, terutama dari aspek scoring-nya. Jika di awal hingga pertengahan menggunakan orkestra dengan nuansa etnik Indonesia dan lebih terkesan arthouse, di adegan pertarungan final berubah menjadi pop. Sedikit mengingatkan akan film-film silat Mandarin era kejayaan Shaw Brothers yang kasar. Bagi penonton awam, perubahan ini mungkin tidak akan begitu menjadi masalah. Toh tetap mendukung adegan dengan sangat baik. Tapi bagi yang terbiasa menganalisa setiap aspek detail film, ini bisa jadi sebuah inkonsistensi.

Untuk artistik, saya menyukai tata kostum yang sederhana namun cantik dan cukup ikonik dari karakter-karakter utamanya. Fusion antara kostum silat umum dan nuansa etnik Sumba berpadu dengan sangat indah. Anyway, PTE adalah sebuah karya fantasi yang tidak perlu menggunakan fakta sejarah apa-apa. Sehingga sah-sah saja dalam menampilkan artistik yang fusion dan tidak terlalu otentik. Tidak ada yang salah dengan itu. Yang patut dicatat dari tata artistik (terutama dalam ranah fiksi dan fantasi), kekuatan artistik sebagai aspek yang ikonik dan mampu terus diingat jauh lebih penting daripada otentisitas-nya. Jadi saya jelas-jelas menentang kritikus yang menganggap PTE terlalu Cina dalam artistiknya (terutama dari tata kostum). Once again, tidak ada yang salah dengan itu!

The Essence

Dalam hidup, tidak hanya di dunia persilatan, membuat kesalahan terhadap seseorang tidak bisa dihindari. Sometimes, memang diperlukan. Namun yang terpenting adalah bagaimana menebusnya dengan cara yang lebih berguna di kemudian hari.

They who will enjoy this the most


  • Penggemar film silat klasik, terutama produksi Indonesia
  • Penonton umum yang mencari tontonan ringan namun menghibur dan seru
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id dan IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, December 21, 2014

The Jose Flash Review
The Hobbit: The Battle of the Five Armies

Sekali lagi Peter Jackson harus mengakhiri tambang emasnya. The Hobbit akhirnya sudah mencapai bagian terakhirnya yang sudah ditunggu-tunggu penggemar beratnya. Tapi jangan salah, fans berat seri The Lord of the Rings (TLOTR) bukan berarti otomatis menjadi fans The Hobbit versi Peter Jackson. Kali ini Peter memang punya ambisi yang sama besarnya saat menggarap trilogy TLOTR, meski source aslinya (novel The Hobbit) punya materi cerita yang tidak se-epic TLOTR. Maka 1 seri novel pun menjadi 3 film dengan durasi masing-masing sekitar dua setengah jam. Jika cerita seri pertamanya (The Hobbit: An Unexpected Journey – AUJ) dibangun dengan baik, seri keduanya (The Hobbit: The Desolation of Smaug – TdoS) baru mulai terasa dragging. Untung Peter piawai menjejalkan adegan-adegan petualangan dan pertarungan seru yang mampu membuatnya terasa enjoyable meski alur ceritanya tidak berjalan terlalu banyak. Kini tinggal satu seri terakhir untuk mengakhiri semuanya.

Selayaknya Return of the King (RotK), seri pemungkas trilogi TLOTR, The Hobbit: The Battle of the Five Armies (BFA) juga punya formula yang sama. Hampir keseluruhan durasi dijejali dengan adegan-adegan pertarungan non-stop dan dengan tensi yang semakin meningkat. Saya sempat melihat jam, dari durasi total 144 menit, sepanjang 2 jam diisi adegan pertarungan yang melibatkan 5 bangsa seperti sub-judulnya, sisanya setengah jam terakhir diisi epilog yang sekaligus menghubungkan dengan trilogy TLOTR. Feel The Hobbit selama ini yang skala ceritanya tak sebesar TLOTR otomatis terasa ter-upgrade menjadi setara. Konsekuensinya, tak banyak perkembangan karakter yang ditampilkan. Apalagi dari karakter (yang seharusnya jadi yang) utama, Bilbo Baggins yang sejak awal menjadi fokus cerita.  Di seri ini Bilbo seolah-olah kalah porsi ketimbang karakter-karakter yang sebelumnya hanya jadi pendukung, seperti Bard, Tauriel, dan Thorin. Bahkan karakter Alfrid yang sebenarnya ditampilkan sebagai penyegar adegan semata, punya porsi yang lebih banyak dan bahkan mungkin lebih diingat penonton ketimbang Bilbo. Bandingkan dengan RotK yang tetap konsisten memberikan porsi cukup untuk Frodo Baggins dan Samwise Gamgee.

Bukan berarti BFA tidak menampilkan perkembangan karakter sama sekali. Yang paling terasa adalah dilematis Thorin sebagai raja; antara ambisi pribadi dan kebijaksanaan. Namun perkembangannya terasa memang ditujukan untuk anak-anak. Begitu cliché dan dikembangkan dengan sederhana. Lebih sederhana ketimbang pergulatan batin Aragorn di RotK. So, dengan subplot-subplot yang terkesan asal ada, nikmati saja seri terakhir ini sebagai sebuah tontonan aksi seru tanpa henti yang mengasyikkan. Mungkin sedikit melelahkan di satu jam pertama, namun saya berhasil sangat menikmati satu jam berikutnya, yang sangat stylish.

Howard Shore masih konsiten memberikan score yang sama megah dan mampu menghidupkan setiap adegan dengan maksimal. Billy Boyd yang memerankan karakter Peregrin Took di trilogy TLOTR, di sini menyumbangkan lagu berjudul The Last Goodbye yang menjadi theme song. Meski tidak se-memorable I See Fire dari Ed Sheeran maupun Misty Mountains, nyatanya cukup berhasil menutup film dengan sangat memuaskan. 


The Hobbit mungkin memang disiapkan Peter Jackson sebagai trilogy prekuel yang bersambung langsung dengan trilogy TLOTR, seperti halnya Star Wars Saga. Tidak ada salahnya dengan konsep seperti itu selama mampu menghadirkan cerita yang memang menarik, tidak sekedar mengulang formula. Kita lihat saja bagaimana lagi Peter Jackson akan memanfaatkan franchise TLOTR ini untuk dikembangkan, terutama karena memang tidak ada materi universe TLOTR lagi sebagai dasar cerita. Merangkai cerita sendiri? Kenapa tidak? Let’s just wait and see.

Lihat data film ini di IMDb.

The 87th Annual Academy Awards nominee(s) for

  • Best Achievement in Sound Editing
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, December 14, 2014

The Jose Flash Review
Stand by Me Doraemon

Siapapun yang pernah melewati era 90-an pasti mengenal tokoh-tokoh kartun Doraemon yang selalu menyambangi tiap Minggu pagi di salah satu TV swasta. Sebagai salah satu serial kartun yang paling lama tayang di TV, Doraemon jelas adalah ikon lintas generasi. Maka ketika muncul Stand by Me (SbM) yang disebut-sebut sebagai film layar lebar terakhir dari Doraemon, siapapun yang merasa punya kenangan atau sekedar tumbuh bersama Doraemon mau tidak tergelitik untuk menonton. Thanks to Jive! (group Blitz Megaplex) yang mau mengimpor SbM ke Indonesia, di tengah hampir mustahilnya importer film utama di Indonesia memasukkan film anime dan film-film yang berasal dari Jepang lainnya.

Angka 1 juta penonton di minggu ketiga jelas menorehkan sejarah baru di perbioskopan Indonesia. Apalagi dengan jumlah layar yang konon hanya sekitar 20-an layar. Sepanjang 2014 saja, perlu film dengan hype sebesar Transformers 4 dan Annabelle untuk bisa meraih 1 juta penonton. Itupun keduanya masing-masing ditayangkan di ratusan layar dan dalam waktu sebulan lebih.

Sebenarnya apa yang menjadikan SbM begitu istimewa? Harus diakui, tidak ada yang benar-benar baru di SbM selain format 3D dari yang biasanya hanya anime 2D tradisional. Ceritanya pun sebenarnya meringkas beberapa episode pertama dari serialnya. Tapi justru di situlah letak kekuatan SbM. Episode-episode yang dipilih untuk ditampilkan benar-benar yang terpenting dari keseluruhan episode yang ada. Perkenalan karakter-karakter utama, universe Doraemon, hubungan antar karakter, semuanya terangkum lengkap dan esensial di SbM.

Bagi yang tumbuh bersama Doraemon, SbM jelas menjadi mesin waktu yang mengingatkan kembali masa-masa indah bersama Doraemon sekaligus memahami lebih dalam konsep cerita Doraemon yang begitu penuh makna namun dengan kemasan pop yang begitu menarik. Tentu saja juga dengan tampilan 3D yang begitu memanjakan mata. Saya begitu menikmati perjalanan meruntut memori-memori indah bersama Doraemon dengan visualisasi modern. It was like a fantasy comes true. Universe Doraemon yang kita kenal selama ini benar-benar dihidupkan dengan sempurna lewat visualisasinya yang dimanfaatkan secara maksimal di beberapa adegan sinematis, seperti terbang menyusuri kota dengan baling-baling bambu. Sayang untuk melewatkannya di bioskop, apalagi dengan format 3D.


Bagi yang belum pernah mengenal Doraemon, SbM adalah ekstraksi yang esensial untuk memahami kisah Doraemon secara keseluruhan, yang mungkin akan membuat Anda tertarik mengikuti serialnya yang merupakan ekstensi dan perkembangan dari kisah utama ini. Selamat jatuh cinta (sekali lagi) dengan Doraemon, Nobita, Shizuka, Suneo, dan semua karakter lainnya!

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, November 21, 2014

The Jose Flash Review
Third Person

Di antara jajaran penulis naskah handal yang juga sering merangkap sutradara, nama Paul Haggis adalah salah satu yang paling atas di Hollywood. 2 Oscar untuk naskah sekaligus mengantarkan Crash menjadi Best Motion Picture of the Year, sudah menjadi buktinya. Sekali lagi Paul Haggis membuktikan diri sebagai maestro penulis naskah sekaligus sutradara handal lewat Third Person (TP) yang tergolong proyek indie.
Keunggulan utama dari TP adalah naskahnya yang tidak hanya punya story telling unik, tapi juga dialog yang cerdas dan memberikan banyak hint menuju konklusi cerita, dan mampu memanipulasi plot utama. Mengusung konsep interwoven omnibus, TP pun sebenarnya punya konsep cerita yang tidak bisa dibilang baru, meski memang masih sangat jarang digunakan. Dengan memasang seorang penulis novel sebagai karakter utama, sebenarnya bisa ditebak arah cerita yang interwoven ini akan dibawa ke mana. Namun Haggis mampu memoles konsep penceritaan dengan lebih menarik hingga terasa beda dan unik, terutama dalam menyampaikan poinnya. Anda hanya perlu menganalisa benang merah dari ketiga karakter utama di tiap segmen; Julia (Mila Kunis), Scott (Adrien Brody), dan Anna (Olivia Wilde). Itu pun tetap akan menimbulkan rasa penasaran dari penonton (yang peduli) jauh setelah film berakhir, hingga mengundang diskusi untuk menyatukan kepingan-kepingan puzzle yang ditebar sepanjang film menjadi satu konsep cerita yang utuh dan kuat. Multiple viewing mungkin diperlukan bagi beberapa penonton yang penasaran. Di situlah letak menariknya TP yang ditulis dengan detail sangat rapi, meski punya banyak metafora yang bertebaran untuk mengidentifikasi mana yang real, mana yang fiktif. Tak heran jika penonton pasif yang tidak mau repot-repot memahami ceritanya, akan dengan mudah menganggap TP film tidak jelas dan super pretensius. But that’s a warning, terserah Anda merasa termasuk penonton yang mana.
Didukung aktor-aktris papan atas, turut menambah value TP. Saya sangat menyukai akting Mila Kunis sebagai Julia di sini. Menurut saya dia yang paling terasa kuat sepanjang film, sekaligus peran yang paling kuat sepanjang karirnya selama ini. Olivia Wilde pun tampak lebih mempesona dari biasa berkat peran yang sedikit ‘nakal’ namun tetap emotionally gripping dan elegan. Moran Atias juga mencuri layar berkat permainannya yang tak kalah mengundang simpati sekaligus memanipulasi penonton. Sementara di lini aktor, baik Liam Neeson, Adrien Brody, maupun James Franco cukup memberi warna film meski secara emosional tidak sekuat para aktrisnya.
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, November 12, 2014

The Jose Movie Review
Big Hero 6

Overview

Langkah Walt Disney mengakuisisi Marvel tentu punya tujuan dan rencana yang besar. Secara finansial, jelas Marvel mampu mendatangkan keuntungan yang luar biasa besar berkat portfolio lusinan superhero yang bisa dieksploitasi semaksimal mungkin. Tapi siapa sangka ternyata Disney juga berniat “mengawinkan” karakter-karakter Marvel dengan portfolio karakteristik animasinya yang sangat khas. Maka sebagai permulaan, Disney meluncurkan Big Hero 6 (BH6).
Dilihat dari desain karakter-karakternya, BH6 jelas sekali terasa memadukan versi komiknya yang bergaya manga dengan khas Disney. Hasilnya ternyata menarik. Tanpa menghilangkan kekhasan dari keduanya, karakter-karakter BH6 berhasil menjadi satu gaya unik tersendiri, yang lantas menjadi kekuatan utama filmnya.
Dilihat dari premise-nya, sebenarnya tergolong klise: seorang anak jenius menemukan dirinya melalui robot ciptaan almarhum kakaknya, lantas menyempurnakannya dan menghentikan penjahat yang diduga juga menjadi tersangka pembunuh sang kakak. But hey, it’s primarily targeted for kids anyway. Selama punya adegan-adegan menggelitik, momen-momen menyentuh, dan yang pasti punya pesan moral yang positif, BH6 sudah bisa dianggap berhasil.
Tapi sayang, hanya sampai sejauh itu saja pencapaian BH6. Adegan-adegan yang dirangkai dengan sangat rapi hanya mampu menghantarkan BH6 menjadi tontonan dengan emosi yang standard. Ya, ia memang punya momen emosional, namun hanya sekedar ada, tidak sampai digali semaksimal mungkin. Even more, sisi yang paling menonjol adalah humornya yang lebih mengandalkan tingkah lugu karakter-karakternya, terutama karakter robot gemuk Baymax. Beberapa dari Anda mungkin masih akan tertawa terbahak-bahak. Tapi jika hanya mampu membuat Anda tersenyum atau malah tanpa ekspresi sama sekali, kesalahan bukan pada diri Anda juga. Karena memang hanya seperti demikianlah BH6 didesain.
Sebagai film aksi petualangan, BH6 tentu menawarkan porsi yang cukup mendominasi (selain sisi humornya). Namun sekali lagi, karena ditata dengan sangat rapi, adegan-adegan aksi BH6 pun hanya menjadi cinematic eye candy yang memanjakan mata, tanpa menimbulkan thrill sama sekali.
In short, BH6 adalah tontonan yang sangat menghibur dan cocok untuk disaksikan oleh semua umur. Tidak banyak yang akan membekas lama dalam ingatan Anda selain sosok dan tingkah laku Baymax.
Opening short animation Feast pun terasa biasa saja. Tampak manis, tapi sama sekali tidak terasa sampai benak saya. Tidak seperti animasi-animasi pendek pembuka Disney sebelumnya. Untung saja after-credit-nya tidak terduga dan sangat menyenangkan untuk diketahui, terutama bagi fans superhero-superhero Marvel.

The Casts

Semua pengisi suara terdengar mengisi perannya dengan sangat pas, pun juga tak ada yang lebih menonjol ketimbang yang lain. Terkecuali tentu saja suara Baymax yang diisi oleh Scott Addist akan menjadi ikonik selama beberapa tahun ke depan. Nama-nama populer yang didapuk menjadi pengisi suara, seperti Daniel Henney, T. J. Miller, Jamie Chung, Damon Wayans Jr., dan James Cromwell, cukup memberikan warna tersendiri di setiap karakternya.

Technical

Selain desain karakter yang sangat menggemaskan dan mengesankan, desain produksi BH6 secara keseluruhan pun tampak sangat indah. Mulai desain kota San Fransokyo yang unik, perpaduan San Francisco dan Tokyo yang megah sekaligus indah. Dan yang paling membuat saya terkesan adalah tampilan microbot yang berubah-ubah bentuk. Untuk efek 3D-nya, hanya efek depth yang paling terasa, sedangkan gimmick pop-outnya tidak begitu banyak dan tidak begitu terasa.
Visual yang mumpuni didukung pula tata suara yang tak kalah dahsyatnya. Suara bass yang dalam dan efek surround yang dimanfaatkan secara maksimal berhasil menciptakan dimensi ruang yang nyata. Henry Jackman semakin memberikan nafas megah dan keseruan ke dalam adegan-adegan melalui scoring-nya.

The Essence

Kelebihan yang dimiliki tidak akan berarti jika tidak digunakan untuk sesuatu yang positif. Toh dendam tidak akan menghilangkan perasaan kosong.

They who will enjoy this the most

  • All ages, especially kids under 10
  • General audiences who seek for an exciting instant entertainment
  • Audiences who is easily love adorable characters
Lihat data film ini di IMDb.

The 87th Annual Academy Awards nominee(s) for

  • Best Animated Feature Film of the Year
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, November 9, 2014

The Jose Movie Review
Interstellar

Overview

In Nolan we trust. Bukan tanpa sebab istilah itu muncul. Karirnya di Hollywood selalu ditandai dengan karya-karya yang unik secara storytelling maupun subject-subject yang diangkat. Mulai short term memory loss (Memento), mind-trick di balik pertunjukan sulap (The Prestige), sampai manipulasi mimpi bertingkat (Inception). Bahkan Nolan juga yang membawa Batman ke level yang sama sekali berbeda dengan superhero lainnya. Jenius? Bisa jadi. Tapi yang pasti karya-karyanya jelas punya ciri  plot yang rumit tapi tetap terjalin dengan rapih, dengan referensi dan detail yang luar biasa, serta twist yang selalu ditunggu-tunggu para fansnya. Tidak heran jika ending film-filmnya kerap menjadi bahan pembicaraan tanpa akhir karena menimbulkan multi interpretasi. Tak terkecuali karya termutakhirnya, Interstellar.
Kali ini Nolan bermain-main dengan genre sci-fi yang melibatkan luar angkasa. Seperti biasa, ada banyak teori-teori yang dilibatkan untuk membangun plotnya dengan sangat detail dan blended so well. Mulai (terutama sekali) teori relativitas, gravitasi, blackhole, sampai dimensi kelima. Tidak ketinggalan plot pendukung seperti mengapa dipilih jagung sebagai bahan pangan terakhir yang bertahan di bumi. Tapi tidak perlu khawatir, karena Nolan menyampaikan teori-teori yang dilibatkan ini dengan sangat sederhana dan mudah dicerna melalui dialog. Setidaknya bagi penonton yang pernah mengenyam pendidikan Fisika tingkat SMA. Dengan catatan, tentu saja jika Anda tidak doyan bolos atau tidur saat pelajaran Fisika ya. Tidak semuanya adalah fakta, lebih banyak yang masih berupa spekulasi. Selama masih logis, sebenarnya tidak menjadi masalah. Toh begitulah sci-fi seharusnya, bukan?
Secara struktur cerita, sebeanrnya tidak jauh berbeda dengan karya-karya sebelumnya. Terbaca dengan sangat mudah, tapi tetap membuat saya penasaran ke mana Nolan akan membawa arah cerita selanjutnya. Meski in the end, saya hanya akan berujar dalam benak, “oh”, tidak akan sampai membuat saya katarsis atau orgasme.
Kali ini yang membedakan adalah dimasukkannya unsur humanity dan fatherhood sebagai tema utama yang mendasari keseluruhan cerita. Inilah yang membuat karya Nolan kali ini terasa melibatkan lebih banyak “hati” dan menyentuh, dibandingkan sebelum-sebelumnya yang lebih mengajak penontonnya memutar otak untuk mencerna. Meski tidak disajikan dengan dramatisir yang mampu menguras air mata saya, tapi setidaknya masih mampu membuat saya tersentuh dan berintrospeksi.
Namun bukan berarti saya lantas bisa puas dan menobatkan Interstellar sebagai masterpiece cinema. Ada satu aspek yang dimaksudkan menjadi titik balik cerita, namun gagal membuat saya terkesan. Di antara jajaran paparan-paparan ilmiah yang logis, satu aspek ini langsung terasa terperosok ke dalam ranah fantasi. Memang sih masih nyambung dengan keseluruahan plot sejak awal, sehingga terkesan sudah dipersiapkan sejak awal. Tapi di mata saya jatuhnya justru menjadi multiinterpretasi yang serba tidak memuaskan.


Above all, aspek yang membuat saya menjadikan Interstellar bukan sebagai karya terbaik Nolan ini mungkin karena saya tidak percaya hal tersebut adalah hal yang logis. Tapi jika Anda tidak terlalu mementingkan mana aspek yang logis, mana yang fantasi, mungkin Interstellar bisa dengan mudah menjadi pilihan teratas film terbaik tahun ini. Kepiawaian Nolan dalam menuturkan cerita dengan menarik dan penuh detail meski dalam durasi yang termasuk super panjang (169 menit), masih tetap tak terbantahkan. Bagaimana pun Interstellar adalah salah satu cinematic event terbesar tahun ini yang haram untuk dilewatkan begitu saja.

The Casts

Matthew McConaughey memberikan performance yang luar biasa, melebihi perannya di Dallas Buyers Club. Meski masih membawakan tipikal southern American guy, Matthew memberikan emosi yang maksimal namun tidak berlebihan ke dalam peran Cooper. Saya sulit untuk melupakan adegan dirinya menangis namun tetap memancarkan kharismatik seorang gentleman. Begitu juga chemistry yang luar biasa kuat dengan karakter putrinya, Murph, yang dibawakan juga dengan sangat luar biasa, terutama oleh Mackenzie Foy (masih ingat Renesmee di Twilight Saga?). Jessica Chastain yang memerankan Murph dewasa pun turut memberikan performa terbaik dalam melanjutkan peran Foy.
Sementara Anne Hathaway mungkin tampil tidak sekuat dan semenonjol Sandra Bullock di Gravity, namun penampilannya patut mendapatkan kredit tersendiri. Malah mungkin bisa dimasukkan sebagai salah satu penampilan terbaiknya setelah di Les Miserables.

Technical

Bukan karya Nolan jika tidak menampilkan teknis-teknis yang serba megah dan penuh detail. Mulai visual effect yang belum pernah ditampilkan di layar sebelumnya, seperti visualisasi blackhole, perbedaan gravitasi yang menyebabkan pelambatan gerakan dan daratan yang melengkung (seperti yang pernah ditunjukkan di Inception), hingga lanskap-lanskap ruang angkasa dan tiap planet yang berhasil direkam dengan sangat indah dan megah oleh sinematografi Hoyte Van Hoytema (Her dan Tinker Tailor Soldier Spy).
Tata suara juga patut diapresiasi dalam menghadirkan kedahsyatan sound effect di banyak kesempatan, serta juga hadirnya beberapa silent moment, mengikuti hukum perambatan suara di ruang kedap udara yang sering dilanggar di kebanyakan sci-fi. Meski sempat ada kabar ketidaknyamanan audio yang berasal dari kesalahan tata suara di mana-mana, saya sendiri tidak merasakannya.
Scoring Hans Zimmer yang tak kalah grande turut menambah nuansa megah film, seperti karya-karya Nolan sebelumnya. I can call it one of the best movie score ever.

The Essence

Ada banyak aspek yang dibahas Nolan di sini. Tapi yang menjadi lineup utamanya adalah pertanyaan atas dilematis moral manusia ketika harus memilih antara mementingkan kepentingan pribadi (dalam konteks ini, anak kandung) atau kelangsungan spesies manusia secara keseluruhan dalam jangka panjang.

They who will enjoy this the most

  • Nolan’s big fans
  • Sci-fi enthusiast with high details and logic accuracies
  • The fathers
Lihat data film ini di IMDb.

The 87th Annual Academy Awards nominee(s) for

  • Best Achievement in Production Design
  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score
  • Best Achievement in Sound Mixing
  • Best Achievement in Sound Editing
  • Best Achievement in Visual Effects
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, November 4, 2014

The Jose Flash Review
Ouija (2014)

Perayaan Halloween biasanya diramaikan oleh film-film horor high profile. Tahun ini sudah ada Annabelle yang ternyata mengecewakan banyak pihak tapi tetap mencetak hits. Mendekati hari H Halloween, Universal Pictures menawarkan sebuah horor yang didasarkan dari papan permainanan bernama Ouija. Mirip Jaelangkung di Indonesia, Ouija adalah papan permainan yang dipercaya bisa digunakan untuk memanggil dan berkomunikasi dengan arwah di sekitar. Sebenarnya sudah beberapa kali papan Ouija menjadi dasar film horor, tapi hanya merupakan proyek indie. Baru kali ini Ouija menyambangi layar lebar dengan status film Ouija pertama yang mendapatkan license resmi dari Hasbro selaku produsen papan permainan ini.
Ouija versi 2014 ini ternyata masih menawarkan horror generic yang lebih mengandalkan jump scare sebagai menu utamanya. Storyline-nya masih menyimpan rahasia yang cukup umum di film horror sejenis. Semua itu sebenarnya tidak menjadi masalah selama perannya sebagai horror yang mengerikan (atau setidaknya, mendebarkan) berhasil dijalankan. Nyatanya Ouija ternyata masih belum berhasil menciptakan thrill yang cukup untuk memacu adrenalin penontonnya, meski sebenarnya punya potensi di sana-sini. Eksekusi tiap korban yang terlalu cepat, menurut saya, menjadi penyebabnya. In the end, adegan-adegan yang tergelar sepanjang durasi terasa terlalu rapi dan generik. Twist yang coba diselipkan di menjelang akhir pun belum berhasil membuat penonton merasakan “katarsis” yang lebih.
Penggunaan aktor-aktris yang belum begitu dikenal sudah wajar dilakukan film horror sejenis. Di Ouija mungkin hanya nama Olivia Cooke (The Quiet Ones) yang populer. Sisanya, benar-benar nama baru dan wajah-wajah all-American-teenage yang cukup pas memerankan karakter masing-masing.
Overall, Ouija memang sebuah horror standard yang cukup menghibur secara instant. Sama sekali tidak buruk, meski juga tidak akan begitu berkesan untuk jangka waktu yang lama.
Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, November 3, 2014

The Jose Movie Review
John Wick

Overview

Di dunia film, ada semacam “kutukan” buat aktor-aktor yang menjadi bagian di sebuah franchise besar: karirnya pasca franchise besar bakal semakin meredup. Memang tidak mutlak terjadi, tapi ada cukup banyak yang naas harus mengalami hal ini. Contoh yang paling mudah adalah Hayden Christensen yang memerankan karakter penting di franchise Star Wars Episode 1-3, atau Daniel Radcliffe dan Robert Pattinson yang lebih sering bermain di film-film indie pasca Harry Potter dan Twilight Saga. Keanu Reeves bisa dibilang sebagai salah satu “korban kutukan” ini yang mencoba terus bangkit pasca The Matrix Trilogy. Untung nasibnya masih lebih baik dibandingkan yang lain. Setidaknya dia masih membintangi proyek studio besar macam Constantine, The Lake House, dan A Scanner Darkly. Namun karirnya semakin lama semakin menurun pasca The Day the Earth Stood Still yang gagal total. Effort terakhirnya, Man of Tai Chi dan 47 Ronin ternyata belum mampu menaikkan lagi pamornya. Maka masih dengan proyek yang termasuk indie, Keanu mencoba sekali lagi peran yang sudah menjadi signature image-nya yang dingin di John Wick (JW).
Melihat dari profil proyeknya, JW tampak seperti film indie kelas B karena dukungan nama-nama di belakangnya. Disutradarai duo David Leitch dan Chad Stahelski yang punya background stuntman film-film Hollywood high profile, serta naskahnya ditulis oleh Derek Kolstad yang filmografi sebelumnya baru diisi 2 film indie. Tapi bukan berarti kualitas JW termasuk kelas B. In matter of fact, JW menjadi tontonan action yang unik dan sangat stylish.
JW memang punya premise yang tergolong cliche dan tiring: balas dendam pribadi seorang heroine misterius terhadap sebuah kelompok gangster. Bahkan belum lama ini sudah ada The Equalizer yang tergolong sangat mirip. But the best of JW adalah konsepnya yang seolah-olah bersetting di universe tersendiri, bukan di dunia nyata kita. Lihat saja mulai penggunaan koin sebagai mata uang sampai orang-orang yang mengenal karakter utamanya dengan ciri-ciri yang khas. Belum lagi koreografi aksi yang sangat stylish. Tidak hanya saat barehand fighting, tapi juga semua gunfight, terutama yang dilakukan dengan jarak dekat. Hasilnya tentu saja adegan-adegan aksi yang tergeber secara intens dari awal hingga akhir, tanpa terasa melelahkan. JW pun seolah menjadi non-stop pure action entertainment yang tanpa basa-basi. Sekonsep dengan The Raid atau The Raid: Berandal, dengan derajat keseruan dan keasyikan yang lebih tinggi. I have to say, JW has it all to be the most stylish action thriller of the year so far. And I think it will not be that easy to beat ‘em.

The Casts

Sejak awal karirnya, Keanu Reeves memang bukan tergolong aktor yang versatile. Mustahil membayangkan karakter emosional dibawakan oleh Keanu yang kalem dan dingin. Memahami fakta ini, Keanu adalah pilihan yang paling pas dan mungkin juga tak tergantikan untuk memerankan karakter John Wick. Alhasil sedikit adegan emosional di awal pun masih bisa ditampilkan Keanu dengan cukup meyakinkan.
Di lini aktor pendukung meski porsinya kalah jauh dibandingkan Keanu, tetap saja berhasil cukup menancap di benak penonton. Sebut saja Alfie Allen sebagai Iosef, Michael Nyqvist sebagai Viggo, Adrianne Palicki, dan tentu saja Willem Dafoe. Tidak ketinggalan penampilan singkat John Leguizamo dan Bridget Moynahan yang juga berhasil mencuri perhatian.

Technical

Koreografi yang menjadi kekuatan utama JW diiringi oleh soundtrack-soundtrack sinting dan scoring gokil sehingga menambah nilai stylish adegan-adegan yang disajikan di layar. Siapa yang tidak kangen Marilyn Manson mengisi soundtrack film action dan tentu saja penempatan lagu Think dari Kaleida yang susah dilupakan. Tata suara pun terjaga dengan prima dan crisp sepanjang film, termasuk pemanfaatan efek surround yang maksimal.
Sinematografi Jonathan Sela juga berhasil membingkai desain produksi yang serba indah dan adegan-adegan aksi stylish menjadi sebuah cinematic experience yang unik dan menyenangkan.

The Essence

Something we’re really good at will always be inside us, no matter how hard we try to get away. At some point, it will blow out anyway.

They who will enjoy this the most

-          Pure action movie’s fans
-          Stylish thriller action movie’s enthusiast
-          General audiences who seek for exciting entertainment
 Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, October 27, 2014

The Jose Flash Review
Happy New Year

Bollywood semakin lama semakin layak menyandang status high demand. Rilisan demi rilisan saling mengejar angka box office worldwide, terlepas dari review-review negatif yang jelas-jelas menilai film-film blockbuster Bollywood dengan kacamata yang salah. No, of course this kind of movies were not Oscar or any other awards material. Mereka ada murni untuk menghibur dengan segala ke-khas-annya. Jadi permasalahannya terletak pada apakah tipe hiburan seperti ini sesuai dengan yang Anda suka atau tidak, bukan perkara bagus atau tidak.

Happy New Year (HNY) jelas tipikal film blockbuster Bollywood yang punya hampir semua formula sukses ala Bollywood. Jajaran bintang kelas A, check! Lagu-lagu dan tarian spektakuler, check! Komedi slapstick, check! Setting artistik megah, check! Plot balas dendam, check! So, it’s all about how it was executed. But hey, it’s Farah Khan yang sudah berpengalaman sebagai koreografer di puluhan film Bollywood high profile, mulai Kuch Kuch Hota Hai, Kabhi Khushi Kabhie Gham, Student of the Year, Chennai Express, sampai film Hollywood Vanity Fair. Dari portfolionya, setidaknya HNY tetap menjadi tontonan yang semarak dan sangat menghibur. Mengambil plot yang seperti perpaduan Now You See Me dan Step Up (terlalu snob jika menyebut ini rip-off dari film-film Hollywood, since those are not really original anyway), ia punya banyak kesempatan untuk menghibur penonton dengan gelaran kekonyolan dan performance-performance spektakuler.

Benar saja, di tengah trend film Bollywood yang “semakin Hollywood” dengan durasi yang “hanya dua setengah jam” dan minim lagu/tarian, HNY (seperti halnya film-film rilisan Yash Raj lainnya) berani tetap dengan pakem asli Bollywood: durasi 3 jam dan dipenuhi kemeriahan lagu-lagu serta tarian spektakuler. Namun yang mungkin menjadi permasalahan utama bagi kebanyakan penonton adalah konsepnya yang memang sebagai komedi slapstick. Kekonyolan demi kekonyolan (atau malah terkadang menjual stupidity di mana-mana) tersebar di hampir ¾ durasi awal. Tapi saya pribadi masih bisa menerima dan tertawa terbahak-bahak di beberapa jokes tanpa merasakan eneg. Once again, ini perkara selera, apakah Anda termasuk yang bisa accept guyonan slapstick dan stupid jokes atau tidak.
Namun di beberapa adegan penting (baca: klimaks), HNY masih mampu menciptakan suasana tegang dan menyentuh, meski hanya pada kadar yang pas, tidak sampai maksimal.

Dengan karakter utama yang berjumlah 6 orang, HNY mampu membagi porsi dengan pas untuk tiap karakter dikenal dan diingat penonton. SRK tampil sebagai perpaduan pria kharismatik, garang, badass (terutama di awal-awal film), dan tak ketinggalan sisi komedik yang pas. Jujur, saya lebih suka SRK dengan peran seperti ini ketimbang pria melankoli. Deepika Padukone seperti biasa, mempesona. Abhisek Bachchan dan Boman Irani mampu menampilkan sisi komedik mereka dengan pas dan natural. Sementara pendatang baru Vivaan Shah cukup menarik perhatian.


Anyway, HNY membuktikan bahwa orang India (terutama industri perfilmannya) tahu betul bagaimana bersenang-senang dan menghibur penontonnya. Lihat saja credit title-nya yang melibatkan seluruh kru di balik layar untuk adu dance. Yes, this is silly and maybe stupid, but it’s definitely spectacular, and the most important thing of all, very entertaining without leaving its big heart.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, October 26, 2014

The Jose Flash Review
Chef (2014)

Nama Jon Favreau melambung begitu menyutradarai 2 film Iron Man. Judul seperti Cowboys and Aliens serta Zathura turut memberikan predikat film action petualangan sarat CGI. Maka ketika ia membuat (menulis dan menyutradarai) sendiri film drama komedi bertemakan keluarga (bertemakan keluarga, bukan berarti cocok ditonton sekeluarga, apalagi keluarga dengan anak-anak di bawah umur) berjudul Chef, tentu ini menjadi hal yang menarik.

Di Chef, Jon mencoba menggabungkan berbagai isu kekinian menjadi satu adonan yang bisa jadi cukup real dan relevan, serta ter-blend dengan sangat menarik. Ia mengangkat isu dealing with critics, berani ber-entrepreneur, father-and-son, sampai the power of social media. Belum membahas tentang foodtruck yang beberapa bulan terakhir sempat trending di khazanah kuliner, tak terkecuali Indonesia. Hasilnya memang menjadi tontonan yang sangat menarik untuk diikuti, meski ceritanya sangat terasa personal sekali. Sayangnya, sebagai hasil dari cerita serba realistis, alurnya menjadi biasa saja, tanpa lonjakan emosi yang signifikan. Ya, mungkin memang konsepnya yang dibuat feel-good. I can feel it. Tapi tetap saja terasa ada yang kurang kuat secara keseluruhan.

Dari segi cast, Jon Favreau sendiri ternyata mampu menjadi aktor yang cukup menarik, apalagi dengan peran serius tapi sebenarnya sangat comedic di mata penonton. Menarik juga menyaksikan Sofia Vergara tidak se-medhok biasanya. Hasilnya peran Inez menjadi sedikit lebih serius (in a good way) ketimbang peran-peran Vergara sebelumnya, tapi tetap mampu menampilkan kelucuan tersendiri. Bintang cilik Emjay Anthony pun cukup mampu mencuri simpati penonton bekat kecerdasan dan “nasib” yang harus dialaminya.

Tapi jajaran cast yang paling menarik tentu saja penampilan sekejap dari Robert Downey, Jr dan mungkin juga ada yang menyukai performa Scarlett Johansson yang juga tampil sedikit berbeda ketimbang biasanya.

Hal menarik lain yang membuat Chef jadi hidangan yang sangat nikmat, menutupi kekurangannya, adalah sinematografi yang berhasil merekam adegan-adegan foodporn menjadi begitu menggugah selera. Ditambah musik-musik beraliran Cuban yang menambah eksotisme film.


So jika Anda termasuk foodish atau menyukai tema-tema sosial, Chef adalah tontonan yang pantang untuk dilewatkan.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates