Galih dan Ratna

The Indonesia's very own romantic couple has been reborn to the millenial era.
Opens March 9. Read more.

Moammar Emka's Jakarta Undercover

The Jakarta's famous night life is going to be a hype one more time!
Read more.

Kong: Skull Island

The giant King Kong roars again!
Opens March 8. Read more.

Logan

Hugh Jackman to portray Wolverine for one last time.
Read more.

Beauty and the Beast

Disney to bring the classic magical animation to live action with Emma Watson!
Opens March 17.

Tuesday, December 31, 2013

The Jose Movie Review
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck


Overview

Keluarga Soraya dengan Soraya Intercine Films-nya boleh berbangga karena pernah sukses di masa lalu, baik secara komersil maupun kualitas. Namun beberapa karya lebarnya di era 2000-an kurang begitu berhasil mengimpresi saya. Mungkin secara komersial selalu berhasil, seperti Eiffel I’m in Love dan Apa Artinya Cinta. Bahkan yang terbaru, 5cm. sama sekali bukan karya yang saya anggap bagus. Memang secara production value, film-film produksi Soraya tidak perlu diragukan lagi totalitasnya. Namun seringkali mengabaikan sisi kenyamanan untuk ditonton karena sifat sok-grande-nya. Maka meski digembar-gemborkan secara epic, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (TKVDW) tidak berhasil membuat saya tertarik untuk menyaksikannya. Apalagi trailernya yang dengan terang-terangan “terinspirasi” nafas The Great Gatsby versi Baz Luhrmann. Bahkan kata seorang teman yang mengerti gaya hidup era setting waktu dan tempatnya, jelas-jelas salah. Tapi akhirnya saya memberi kesempatan juga untuk menyaksikan TKVDW.
Di luar dugaan, ternyata TKVDW jauh lebih nyaman disaksikan dan diikuti kisahnya dari yang saya duga. Berbeda dengan produksi-produksi Soraya sebelumnya, alur TKVDW berjalan dengan sangat mulus, tidak terasa draggy maupun sok-grande, meski durasinya nyaris mencapai 3 jam. Let’s not talk about how it interpreted the real source. Secara saya sendiri belum pernah membaca versi novel karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan nama Hamka ini. Dari teman-teman yang membaca novelnya sih terbagi dalam dua kubu. Ada yang menilai filmnya berhasil menyampaikan apa yang dicapai novelnya, tetapi ada juga yang menganggap versi filmnya terlalu modern dan pop. Well untuk alasan terakhir, saya tidak akan keberatan mengingat jika digunakan pendekatan yang sesuai aslinya mungkin penontonnya tidak akan sebanyak ini.
Jika Anda tidak mengenal sama sekali kisah aslinya dan berpendapat bahwa kisahnya “terlalu sinetron”, Anda juga tidak salah karena materi aslinya sudah seperti itu. Itulah mungkin gambaran keadaan masyarakat kita jaman dulu, hingga sampai mempengaruhi ranah sinetron kita sampai saat ini. Tetapi tentu saja dengan production value, termasuk tata kamera dan alur yang jauh lebih sinematik.
Jangan tertipu pula oleh judul TKVDW dengan menganggap akan seperti Titanic. Tidak, adegan di kapal hanya menjadi satu bagian kecil cerita namun memiliki impact bagi keseluruhan cerita. Itulah sebabnya Kapal Van der Wijck dijadikan sebagai judul.

The Casts

Anda ingin tahu apa yang paling mengganggu saya di tengah-tengah berbagai kelebihan TKVDW? Jawabannya adalah akting Herjunot Ali. Paruh awal film, aktingnya masih sangat alami, termasuk dalam membawakan aksen Makassar. Namun mendadak menjadi berlebihan dan sangat terasa dibuat-buat di pertengahan hingga akhir. Alih-alih menyentuh penonton, dia lah yang membuyarkan suasana haru yang sudah dibangun secara baik, termasuk oleh akting Pevita Pearce, dan mengubahnya menjadi bahan tertawaan. He’s just trying too hard to be as tough as Reza Rahadian, and he failed.
Untung saja the rest of the casts have given their best performances. Pevita Pearce menunjukkan progress akting yang luar biasa setelah di 5cm. Meski terkadang aksen Minang-nya bercampur dengan aksen Jakarta, tetapi secara keseluruhan patut diacungi jempol. Sementara Reza Rahadian, seperti biasa memberikan performa akting yang sangat prima. Penampilannya di TKVDW berhasil mengobati kerinduan saya akan peran antagonis yang dilakoninya seperti di Perempuan Berkalung Sorban.
Kejutan lain datang dari Randy Nidji yang ternyata berakting baik untuk seorang pemula. Meski karakternya hanya sekedar pelengkap dan bertugas menjadi sumber kelucuan, namun ia membawakannya dengan tetap elegan, tanpa terkesan terlalu slapstick.

Technical

Yang paling saya kagumi dari TKVDW adalah tata kamera Yudi Datau yang tak hanya menjadikannya indah secara sinematik, namun berhasil menangkap gambar sesuai dengan kepentingan adegan. Editing Sastha Sunu juga berhasil merangkai gambar secara efektif dan elegan. Editing favorit saya adalah adegan housekeeper berjalan. Sangat elegan dan pace-nya sangat terjaga.
Soal production value, terutama kostum, make up, dan property memang harus diakui sebagai keunggulannya dan patut diapresiasi. Meski mau tidak mau memang sangat terasa sekali aura The Great Gatsby­­-nya, terutama untuk adegan di Padangpanjang dan Surabaya. Tak hanya kostum dan property, bahkan sampai aransemen musik seperti saat pesta di rumah Zainuddin di Surabaya yang mirip A Little Party Never Killed Nobody dan tune jazz yang sangat Crazy in Love. Sekali lagi menurut teman saya yang mengerti trend busana era itu, yang ditampilkan di layar adalah kostum era 30-an di New York, bukan di Indonesia. Di beberapa adegan, seperti misalnya saat di Batavia dan Surabaya, latarnya terlihat kosong, kurang hidup. Seolah-olah hanya karakter-karakter yang ada di layar saja yang ada di situ.
Tampilan special effect untuk adegan di Kapal Van Der Wijk juga tidak buruk. Memang belum sempurna, namun setidaknya tidak terlihat kasar. Visual effectnya masih terlihat agak blur untuk menyamarkan. Special effect untuk adegan kapal tenggelam pun cukup baik dalam menyiasati angle kamera.
Hal yang paling mengganggu dari TKVDW adalah penempatan lagu tema Sumpah dan Cinta Matiku milik Nidji pada beberapa adegan. Kenapa harus diulang-ulang dan di adegan yang tidak sesuai? Untungnya masih ada score-score lain yang masih blended dengan adegan, dan versi instrumental dari lagu tema tersebut yang jauh lebih sesuai dengan konteks adegan.

The Essence

Novel Hamka jelas-jelas mengkritik keadaan sosial keadatan jaman dulu yang menilai seseorang dengan parameter yang dangkal. Cinta adalah dasar manusia yang paling berharga, di atas perkawinan uang dan kecantikan.

They who will enjoy this the most

  • Penyuka drama romantis yang menguras air mata
  • Penonton yang menyukai film berdurasi di atas rata-rata
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id


Sunday, December 29, 2013

The Jose Movie Review
Dhoom: 3

Overview

Semenjak kemunculan Dhoom (2004) dan dilanjutkan Dhoom 2 (2006), saya cukup dikejutkan dengan kemampuan Bollywood dalam menghadirkan film aksi laga spektakuler ala Hollywood (khususnya Mission: Impossible) dengan balutan kisah yang terkesan klise dan cheesy. Namun jika kita mengikuti lebih lanjut dan melihat lebih dalam, memiliki kedalaman cerita dan emosi tersendiri. Yang mana, masih jarang dimiliki oleh Hollywood sekalipun. Karakter Jai Dixit dan Ali yang diperkenalkan sejak seri pertama menjadi action hero khas Hindi. Maka kemunculan Dhoom: 3 (D3) setelah berselang cukup lama, yaitu 7 tahun sejak installment terakhir, membuat saya berpikir. Apakah masih bisa mempertahankan kekuatan yang dimiliki kedua installment sebelumnya atau menjadi melempem sebagaimana kebanyakan franchise polisi serupa.

Secara keseluruhan saya mengakui memang D3 mengikuti pola pengadeganan yang tak beda jauh dari seri-seri sebelumnya. Jika Anda berharap kisah penyelidikan yang membuka kedok pelaku kejahatan di akhir, Anda juga akan kecewa. D3 tidak berfokus pada pertanyaan “siapa”, namun “bagaimana selanjutnya”. Quentin Tarantino pernah menyampaikan dalam sebuah interview bahwa yang terpenting dari membuat film adalah memiliki karakter yang menarik terlebih dahulu, baru membangun cerita dari karakter tersebut. Nasehat itulah yang diusung oleh D3 (dan juga seri-seri sebelumnya). Bukan karakter jagoan, Jai Dixit dan Ali yang di-highlight, namun sosok villain-nya, yang kali ini adalah seorang pemilik sirkus bernama Sahir. Tidak, in the end Anda tidak akan dibuat membenci setengah mati oleh karakter ini. Justru ia berhasil dengan gemilang menjaring simpati saya dengan mempertimbangkan aspek psikologis yang logis. That’s the most I love from D3.

Jika ada yang berpendapat D3 comot dari film sana-sini seperti The Prestige dan Now You See Me, menurut saya terlalu dibuat-buat. It’s not a crime.  Name one movie that’s really really original other than Nolan’s. Nothing. Even James Cameron’s Avatar adalah hasil comot dari film The Matrix dan Pocahontas jika mau diteliti lagi. Dengan pendapat objektif dan secara keseluruhan, D3 berhasil merangkainya menjadi sesuatu yang mungkin bukan hal yang baru, tetapi hasilnya sangat bagus.
Jika pada Dhoom 2 karakter Jai dan Ali masih diberi porsi yang cukup banyak dengan menampilkan adegan kehidupan sehari-hari di luar tugas, maka di D3 ini tidak ada sedikitpun kehidupan pribadi maupun aspek psikologis mereka yang ditampilkan. Porsi mereka berdua seperti sosok polisi yang sekedar harus ada untuk memecahkan kasus dan replaceable.

Untuk adegan-adegan aksi yang ditampilkan, tenang saja. D3 punya seabreg adegan aksi, terutama kejar-kejaran motor yang makin mustahil (namun terlihat nyata di layar) dan harus saya akui lebih spektakuler dari seri Fast & Furious manapun.

Bagi yang kurang menyukai film Bollywood karena alasan nyanyian dan tarian yang tidak pada tempatnya, juga tidak perlu khawatir karena D3 meletakkannya pada tempat yang sesuai dan wajar, seperti audisi dan pertunjukan panggung (yang tak kalah spektakulernya). Semuanya dalam kemasan nyanyian dan tarian yang bergaya sangat pop.

So it is. D3 adalah seri yang paling memuaskan saya, baik dari segi aksi maupun kedalaman karakter dan kekuatan emosi di balik ceritanya yang terkesan klise dari permukaan. Sangat menghibur sekaligus menyentuh, namun tidak mendayu-dayu. Sangat sayang jika Anda melewatkannya di layar bioskop.

The Casts

Seperti yang sudah saya sampaikan, karakter Jai Dixit (Abhishek Bachchan) dan Ali (Uday Chopra) sama sekali tidak menonjol. Keduanya hanya dijadikan icon sejak seri pertamanya untuk tetap ada sebagai franchise Dhoom. Sebaliknya yang paling menonjol tentu saja karakter villain yang diperankan dengan sangat gemilang oleh Aamir Khan. Saya tidak akan menjelaskan sangat detail karakternya di sini karena akan menimbulkan spoiler. Lebih baik Anda saksikan dan buktikan sendiri kegemilangan aktingnya di sini.

Aktor Hindi legendaris, Jackie Shroff sebagai Iqbal Khan meski porsinya tidak banyak tetapi berhasil mengesankan.

Kekuatan porsi karakter yang diperankan oleh Aamir berdampak pula pada karakter babe yang kali ini diisi oleh si seksi Katrina Kaif. Perannya seolah hanya pemanis belaka. Bandingkan dengan peran yang diisi oleh Aishwarya Rai Bachchan di Dhoom: 2 yang cukup penting dalam cerita keseluruhan.  But it’s okay, her dance performance are magnificent and have made my eyes ain’t blink even for a second!

Technical

Bollywood boleh berbangga dengan pencapaian teknis yang dilakukan D3, terutama dari segi special effect yang sudah setara Hollywood.

Teknis lain yang mencolok tentu saja tata suara dan music. Tanpa meninggalkan tune original Dhoom yang sudah menjadi icon, remix-remix baru terdengar fresh. Terutama sekali versi tap dance yang menjadi opening title. Jangan lupakan juga soundtrack favorit saya, Bande Hain Hum Uske yang selalu berhasil membuat saya merinding, teringat adegan klimaks itu.

The Essence

Nobody wants to be the shadow of somebody else.

They who will enjoy this the most

  • Penikmat film-film Bollywood
  • Non-stop adrenaline pumper action movies fan
  • Those who enjoy movies with emotional depth

 Lihat data film ini di IMDb.

The Jose Movie Review
47 Ronin

Overview

Hollywood sudah sejak lama tertarik memasukkan unsur samurai dan budaya-budaya Jepang kuno lain ke dalam film-filmnya. Ada yang berhasil, tak jarang pula gagal. Bahkan terasa seperti film kelas B. Seingat saya, proyek paling ambisius yang hasilnya cukup sukses di pasaran worldwide mungkin The Last Samurai-nya Edward Zwick yang menampilkan Tom Cruise. Jangan lupakan juga Kill Bill volume 1-nya Quentin Tarantino yang cukup memorable. Terakhir, bahkan kita juga disuguhi aksi salah satu mutant, di The Wolverine dengan nuansa Jepang. Kini di penghujung tahun 2013, sekali lagi kita disuguhi film Hollywood berasa Jepang (atau sebaliknya?) dengan trailer yang cukup menjanjikan: 47 Ronin.

Sebagai debut film panjang sutradara Carl Rinsch, 47 Ronin (47R) sebenarnya sama sekali tidak buruk. Well, at least kesalahan bukan sepenuhnya berada di tangan dia. Premise yang diusung sebenarnya menarik. Mengambil legenda 47 pendekar Ronin yang lebih memilih dihukum bunuh diri dalam sebuah ritual yang disebut seppuku demi kehormatan dan loyalitas. Ada value keluhuran yang ingin disampaikan. Sayangnya kesemuanya dihancurkan oleh konsep proyek dan script yang digarap untuk membangun premise tersebut.

First of all, it’s a big big mistake to use English for such setting. Oke, Memoirs of Geisha pernah melakukannya. Namun masih bisa dimaafkan mengingat novel aslinya memang berbahasa Inggris dan konsep cerita cukup kuat serta menarik. Lanjut ke kesalahan kedua. Let me ask you this question: what do you expect the most from a movie about samurai? YES. BLOOD AND PURE VIOLENCE! Keputusan untuk menjadikan 47R sebagai film dengan rating “aman” PG-13 adalah keputusan yang salah. Menyebabkan ia kebingungan ingin memposisikan diri sebagai film serius atau film fun. Terlalu ringan untuk menjadi film serius, namun juga terlalu membosankan sebagai film fun. Semuanya serba tanggung dan secara keseluruhan jatuhnya malah menjadi plain dan easily forgettable. Yes, audience will might still remember the story essence, but not the movie itself.

Script yang memasukkan karakter half-blood juga terkesan dipaksakan ada agar ada nilai jualnya. Jika disimak, masuknya karakter Kai sebagai darah campuran Jepang-Inggris sama sekali tidak punya signifikasi terhadap keseluruhan cerita. Romance-nya dengan Mika bisa tetap berjalan meski Kai adalah seorang pure-blood. So yes, the whole concept is just very weak from the start. Penanganan Carl Rinsch yang biasa-biasa saja sama sekali tidak menolong 47R untuk menjadi tontonan yang lebih menarik. Sayang sekali.

The Casts

Semenjak berakhirnya franchise The Matrix, kita jarang sekali mendengar nama Keanu Reeves dalam proyek besar. Mungkin hanya The Constantine yang paling besar, itupun dibandingkan film-film lain tidak begitu bersinar. The Day the Earth Stood Still gagal total. Setelah tampil di FTV dan serial TV beberapa tahun terakhir, tahun ini kita melihatnya sebentar di Man of Tai-Chi yang juga hancur lebur dan akhirnya di film yang sedang kita bahas ini. It seems that 47 Ronin won’t be a big hit either. Too bad, saya harus mengakui kualitas akting Keanu memang payah. Sepanjang durasi dimana karakternya muncul, sama sekali tidak ada nyawa yang saya rasakan. Very flat. Puncaknya line romantis dengan Mika yang harusnya menjadi menyentuh dan poetic, jadinya seperti membaca naskah. Producers and directors need to think many times if they decide to use him as their actor.

Untung saja penampilan aktor-aktor Jepang jauh lebih baik. Mulai Hiroyuki Sanada (Oishi), Min Tanaka (Lord Asano), Tadanobu Asano (Lord Kira), Kô Shibasaki (Mika), dan tentu saja the seductive witch, Rinko Kikuchi.

Technical

Kekuatan utama yang sangat menyelamatkan 47 Ronin dari predikat film B dan kenorakan adalah desain produksinya. Mulai setting, art, kostum, hingga tata rias yang sangat cantik dan otentik.

Special effect terutama monster-monster yang ditampilkan juga didesain dengan keren dan halus, meski jumlahnya tidak begitu banyak.

Sayang efek 3D yang ditawarkan tidak memberikan banyak perbedaan. Tidak ada pop out dan depth pun terbatas. Semua terasa seperti kartu ucapan pop-up. Save your eyes comfort and (probably also) money.

Tata suara surround dan score gubahan Ilan Eshkeri bekerja pas sesuai perannya meskipun juga tidak begitu menonjol.

The Essence

Mungkin kita tidak perlu 100% meniru kode etik ronin, tetapi menjaga kehormatan dan loyalitas di atas nyawa adalah sesuatu yang mulia.

They who will enjoy this the most

  • General audiences who seek for instant action entertainment
Lihat data film ini di IMDb.

The Jose Movie Review
The Hobbit: The Desolation of Smaug 3D

Overview

Sampailah kita di bagian kedua trilogy The Hobbit versi film yang digagas oleh Peter Jackson. Sejak awal mendengar kabar akan memecah satu buah novel menjadi tiga bagian film sudah membuat saya mengernyitkan dahi. Bagaimana Peter Jackson mampu mengulur novel yang tidak begitu tebal seperti itu menjadi tiga film yang masing-masing berdurasi kurang lebih dua setengah jam? Well, he’s Peter Jackson. He knows exactly how to expand stories with cool scenes tanpa membuat penonton merasakan cerita yang semakin dragging. The Desolation of Smaug (TDoS) semakin mempertegas kepiawaiannya itu.
Sepanjang durasi yang dua setengah jam lebih, saya sama sekali tidak merasakan kebosanan sama sekali mengikuti petualangan para dwarves. Ya, saya memang masih merasakan kisah yang tidak begitu berjalan lancar, seperti ada yang di-hold namun ditutupi dengan adegan-adegan petualangan serta pertarungan yang terasa seru berkat kerapian koreografinya. Fun and exciting.
Penambahan karakter Tauriel yang tidak ada di versi novel terbukti berhasil membuat kisah menjadi semakin menarik. Klise, namun harus diakui karakter yang ditampilkan memang menarik. Thank God to the actress behind it. Kehadiran kembali Legolas yang sempat menjadi heartbreakers di seri Lord of the Rings pun menambah histeria fans beratnya. Sekali lagi kepiawaian Peter Jackson dalam menambah unsur-unsur menarik dalam kisahnya yang “dipanjang-panjangkan” patut diakui.
Pendeknya, TDoS memang bukan part yang paling bagus ataupun penting dari seri The Hobbit. Perannya sebagai bridge dari seri pertama dan terakhir pun tidak begitu banyak. Namun sebagai tontonan yang menghibur dan seru dengan karakter-karakter yang sudah kita kenal sebelumnya, it’s worth watching so much.

The Casts

Pretty much the same dengan seri pertamanya. Namun Evangeline Lilly sebagai Tauriel jelas berhasil mencuri perhatian dan menjadi salah satu karakter wanita yang loveable di antara gank para pria ini.

Technical

Secara teknis juga kurang lebih sama dengan seri pertamanya mengingat memang dikerjakan secara simultan. Namun saya merasakan HFR 3D yang lebih halus daripada The Hobbit: An Unexpected Journey. Tidak ada lagi gerakan bak fast-forward yang berlebihan. Yang tersisa adalah gambar yang crystal clear dan amazing.
Untuk efek 3D memang tidak ada efek pop-out yang begitu mencolok namun depth yang ditampilkan tampak hidup dan nyata. Efek (seolah-olah) pop-out cukup berhasil membuat saya memalingkan pandangan, meski terhenti sampai layar, tidak sampai keluar layar. Misalnya adegan laba-laba yang cukup memorable dan menegangkan.
Note khusus untuk desain naga yang keren dan berkelas, serta tampilan yang begitu nyata.

The Essence

Konfrontasi yang punya potensi besar dalam meraih kebebasan patut diperjuangkan daripada tinggal diam dalam zona nyaman yang tidak membebaskan. Meski nyawa taruhannya, it’s worth fighting for.

They who will enjoy this the most

  • The Hobbit and The Lord of the Rings movies’ fans
  • General audiences who seek for exciting entertainment

86th Annual Academy Awards nominee for


  • Best Achievement in Sound Editing - Brent Burge
  • Best Achievement in Sound Mixing - Christopher Boyes, Michael Hedges, Michael Semanick, and Tony Johnson
  • Best Achievement in Visual Effects - Joe Letteri, Eric Saindon, David Clayton, Eric Reynolds 

Lihat data film ini di IMDb.

The Jose Movie Review
Soekarno: Indonesia Merdeka

Overview

Soekarno adalah sosok tokoh paling penting sepanjang sejarah republik ini. Maka mengangkat kisahnya dalam media film biopik adalah sebuah keharusan yang ditunggu-tunggu banyak pihak. Tentu saja penggarapannya tidak boleh main-main. Maka nama Hanung Bramantyo yang sudah punya reputasi dalam menggarap film-film dengan tingkat kedetailan tinggi adalah pilihan yang sebenarnya tepat dalam menggarap proyek ini. Sempat dihebohkan berbagai kontroversi dengan pihak keluarga yang disinyalir merupakan bagian dari promosi terselubung, membuat Soekarno jadi salah satu film Indonesia yang berebut penonton di akhir tahun.
Harus diakui Soekarno memang sebuah karya yang dikerjakan dengan tingkat kedetailan cukup tinggi, seperti karya-karya Hanung sebelumnya. Namun karena faktor Hanung pula, film yang diproduksi MVP ini menjadi formulaic. Dan bagi yang rajin mengikuti film-film Hanung, membosankan. Menurut saya, singkatnya, Soekarno sekedar memindahkan runtutan-runtutan kejadian yang ada di buku sejarah ke dalam rekonstruksi di layar. Ada sih beberapa adegan yang berusaha memberikan kedalaman dan kejelasan karakter, namun jumlahnya yang sangat sedikit belum mampu membuat penonton mengenal sosok-sosok karakter yang ada secara personal. Formula biopic yang diusung Hanung di sini sebenarnya sudah terlampau basi. Coba bandingkan pendekatan yang dilakukan The Iron Lady dalam mengajak penontonnya memahami kepribadian Margaret Tatcher atau penggambaran karakter King George VI di The King’s Speech. Gaya biopic memang bebas, hak dari filmmaker-nya. Namun yang menjadi masalah adalah masih efektifkah gaya tersebut dalam mencapai tujuan dari pembuatan film?
Memang di sana-sini ditampilkan adegan yang mengupas kehidupan pribadi Soekarno, seperti rumah tangganya dengan istri pertama, Inggit, dan istri keduanya, Fatmawati. Namun kesemuanya hanya memberitahukan penonton tentang keberadaan fakta ini. Bukan menampilkan efek kehidupan rumah tangga tersebut ke dalam kepribadian maupun karir seorang Soekarno. Atau bisa saja menampilkan kepribadian Soekarno melalui bagaimana ia meng-handle rumah tangganya. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya hanya mendapatkan dua adegan yang menampilkan relasi antar karakter yang cukup mendalam. Keduanya menggambarkan relasi Soekarno dan Bung Hatta. Dua adegan favorit saya adalah dialog di bangku belakang mobil tentang keraguan Bung Hatta atas masa depan Indonesia dan ucapan selamat ulang tahun kepada Bung Hatta semalam sebelum proklamasi.
Isu-isu politik yang diangkat pun tidak lepas dari seperti sekedar ‘informasi’ saja. Tak ketinggalan sempalan-sempalan sosial terutama tentang kemajemukan bangsa Indonesia yang sudah menjadi concern Hanung lewat karya-karyanya beberapa tahun belakangan. Masih relevan sih, tapi lama kelamaan menjemukan. Kemasan yang berusaha dibuat pop dengan harapan agar lebih mudah diterima masyarakat, dilakukan di sana-sini. Misalnya penempatan humor-humor tidak penting. Mungkin berhasil bagi mayoritas penonton kita, tetapi jujur saja bagi saya cukup mengganggu estetika film secara keseluruhan.
Selain dari segi angle cerita yang diusung, Soekarno adalah karya yang just fine. Good, but not great. Malah cenderung forgettable dalam jangka waktu beberapa bulan ke depan. Enjoyable bagi yang sudah akrab dengan kisah hidup Soekarno sehingga film ini terasa seperi semacam konfirmasi visual. Namun bagi yang tidak akrab dengan kisah sejarah Soekarno, versi Hanung ini bisa jadi membingungkan.

The Casts

Ario Bayu semakin mengukuhkan diri sebagai aktor yang patut diperhitungkan. Setara dengan permainan Reza Rahadian tahun lalu di Habibie & Ainun, Ario Bayu benar-benar melebur dan menghidupkan karakter Soekarno seperti yang selama ini dikenal masyarakat. Intonasi bicara hingga gesture tangannya begitu hidup. Lukman Sardi juga berhasil menghidupkan karakter Bung Hatta, meski masih terdapat kekurangan di aksen yang aslinya berasal Bukittinggi.
Pujian juga patut disematkan kepada Maudy Koesnaedi yang meniupkan emosi terbesar sepanjang film. Pendatang baru Tanta Ginting tampil menonjol dan patut diperhitungkan sebagai Sjahrir. Sementara Tika Bravani mengalami kenaikan yang cukup besar, seiring dengan porsi peran yang semakin banyak.

Technical

Tak perlu diragukan lagi mengingat Hanung sangat detail dalam hal artistik yang sesuai denga jamannya. Kostum yang dianggap terlalu bersih oleh banyak pihak sehingga terlihat tidak alami pun masih acceptable. Tata musik Tya Subiakto tak hanya mampu menghidupkan berbagai dramatisasi yang ada. Pun sekaligus mewakili adegan-adegan sesuai dengan jaman serta budaya.

The Essence

Sebesar apapun sosok seorang tokoh, adalah manusia biasa yang punya kelemahan dan kekurangan. Keraguan juga pasti pernah muncul. Namun yang membedakan adalah bagaimana ia fokus terhadap kelebihan dan menjadikannya sebagai alat mencapai tujuan.

They who will enjoy this the most

  • General audiences, terutama yang sudah akrab dengan kisah hidup Soekarno dan sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id

Tuesday, December 10, 2013

The Jose Movie Review
Frozen 3D

Overview
Coba tanyakan siapa saja yang pernah melewati era 80-90’an: apa yang paling membekas dari film-film animasi Walt Disney? Jawaban yang hampir pasti adalah film animasi dengan kisah yang hearty, menyenangkan, guyon yang tidak kasar namun tetap lucu, serta dipenuhi lagu-lagu indah. Seiring dengan waktu memori indah ini tergeserkan, terutama sejak animasi 3D yang dimulai, ironisnya dimulai oleh Disney sendiri (bersama Pixar). Coba diingat-ingat, kapan terakhir kali menyaksikan film animasi panjang yang menimbulkan perasaan yang sama seperti menyaksikan animasi klasik Disney macam Beauty and the Beast, Aladdin, hingga masterpiece mereka, The Lion King? I don’t really remember and I miss all that classic animation!

Well, kerinduan itu terjawab ketika tahun ini Disney memutuskan untuk menghadirkan kembali perasaan yang sama ketika menyaksikan film-film animasi klasik tersebut. Hasilnya, ada beberapa penonton yang dibawa bernostalgia ke era keemasan itu, namun ada pula yang menganggapnya cheesy karena banyak diselipi lagu (Yes, I’m talking about you, today’s generation who just started watching movies since early 2000’s!). Apapun itu, saya menyatakan Disney telah berhasil membawa kembali masa kejayaan yang mengusung segala ciri khasnya. Tentu saja kali ini mengikuti selera jaman, yaitu dengan format animasi 3D. Tak menjadi masalah, toh ia masih mengusung jiwa yang sama. Bahkan tipikal wajah karakter-karakternya sudah sangat khas Disney klasik.

Tak hanya dalam hal teknis, materi cerita yang diambil dari dongeng karya Hans Christian Andersen, pun mengalami update yang sesuai dengan jaman sekarang. Memang masih bercerita tentang kehidupan princess, namun dengan pola pikir yang jauh lebih modern. Ini yang paling utama saya kagumi. Tak mau jatuh klise seperti kisah-kisah princess yang lain sekaligus mendidik generasi modern menjadi lebih cerdas.

Tiap menit Frozen sangat enjoyable, dengan alur yang mengalir pas, lagu-lagu indah nan memorable, yang dibawakan dengan merdu, terutama oleh Kristen Bell dan Idina Menzel, dan humor-humor yang jauh dari kesan crude yang mana sedang menjadi trend di film animasi. So, if you miss the good old time Walt Disney animation classic with many updates, you better not miss Frozen on wide screen, even better in 3D! Jangan lupakan juga opening short Get A Horse! yang menampilkan Mickey Mouse versi klasik.

The Cast

Tidak bisa dipungkiri, Kristen Bell dan Idina Menzel punya bakat menyanyi yang luar biasa. Terutama sekali Idina Menzel. Untuk urusan akting, Idina jelas punya pengalaman yang cukup di film musikal, seperti di Rent dan serial Glee. Sementara Kristen Bell cukup memberi kejutan dengan kemampuan olah vokalnya yang ternyata layak disimak. 

Untuk voice talent pendukung lainnya bukan nama-nama kondang, meski juga bukan merupakan aktor baru di dunia hiburan, seperti Jonathan Groff (Kristoff), Santino Fontana (Hans), Alan Tudyk (Duke), dan tentu saja si snowball pencuri perhatian, Olaf yang diisi dengan cemerlang oleh Josh Gad. Kesemuanya terdengar pas mengisi peran masing-masing.

Technical

Tak perlu meragukan kualitas animasi Disney, bahkan untuk format 3D. Sebagai contoh, lihat saja tekstur es dan salju yang begitu detail dan nyata. Meski desain karakter-karakternya sangat khas animasi Disney yang toonish, detail latar dan tekstur dibuat real. Menjadikannya perpaduan toon dan real yang cantik.

Tata suara pun disusun dengan rapi, seimbang antara sound effect, music, dan vokal, membuat suara sepanjang durasi enak didengarkan dan terasa hidup.

Pada versi 3D, Frozen menawarkan depth yang sangat baik, meski tak banyak adegan yang memanfaatkan efek pop-out. Just try to touch the falling snow but if you want but you won’t find it touching your face.

The Essence

You’ll never know who will be your true love, and it’s about the action you do for someone you love, not only things people you love does for you.

They who will enjoy this the most

  • They who watch and like the classic Disney animation
  • The whole family member, from infant to the eldest

86th Annual Academy Awards nominee for

  • Best Animated Feature
  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Song - "Let It Go" by Kristen Anderson-Lopez and Robert Lopez

Lihat data film ini di IMDb.

Monday, December 9, 2013

The Jose Movie Review
Sokola Rimba

Overview

Duo Riri Riza-Mira Lesmana tidak pernah gagal membuat pecinta film Indonesia melirik karya-karyanya. Konsistensi mereka dalam menghasilkan karya yang tak hanya bermutu, namun juga menghibur menjadikan semacam jaminan mutu tersendiri. Tak terkecuali karya terbaru mereka ini, Sokola Rimba (SR), yang diangkat dari novel karya Butet Manurung berdasarkan pengalamannya sendiri sebagai pengajar anak-anak Suku Anak Dalam di pedalaman Jambi.
Film tentang pendidikan rentan jatuh menjadi pretensius atau terkesan terlalu menggurui. Namun apa yang disajikan Riri di sini ternyata jauh dari ketakutan-katakutan saya tersebut. Seperti biasa, Riri menampilkan fakta yang terjadi di kehidupan sehari-hari secara apa adanya. Tak ada motivasi-motivasi sukses delusional yang seringkali diasosiasikan hanya dengan kekayaan dan pekerjaan di luar negeri dalam berbagai media kita. Penonton lah yang harus merefleksikan sendiri apa yang ditontonnya dalam film. Sekali lagi, menurut saya Riri berhasil memikat penontonnya dengan kisah yang sederhana namun solid dan digarap dengan sense sinematik yang luar biasa, sehingga menghasilkan karya film yang tak hanya punya makna mendalam, efektif menyuguhkan realita, namun sangat menghibur untuk diikuti.
Dibandingkan karya sebelumnya, Atambua 39°C yang digarap ala film festival yang bisa jadi membosankan bagi penonton umum, SR jelas jauh lebih pop, meski tidak sepop Ada Apa dengan Cinta atau Laskar Pelangi. SR berada pada keseimbangan film pop dan festival yang menjadikannya ringan namun terkesan sangat berkelas. A very good job on keeping this balance. Tak hanya film Indonesia terbaik tahun ini, tetapi bagi saya salah satu pencapaian terbaik Riri Riza-Mira Lesmana sejauh ini.

The Casts

Prisia Nasution memang satu-satunya nama populer yang ada dalam jajaran cast, namun bukan berarti sisanya tidak menarik. Prisia memang bermain sangat baik di sini. Tak heran, ia memang salah satu aktris generasi kini yang punya kemampuan akting sangat baik. Namun yang membuat saya terkesan justru penampilan anak-anak rimba asli yang memerankan karakter bernama sama dengan nama asli mereka. Terutama sekali jelas Nyungsang Bungo yang paling mencuri perhatian berkat aktingnya yang sudah terasa mumpuni. Padahal ini adalah pengalaman pertamanya berakting. Tak heran jika ada beberapa adegan yang membuat saya sangat sedih hingga hampir berkaca-kaca dan ada juga yang membuat saya senang bangga, kesemuanya melibatkan penampilan Bungo. Luar biasa!

Technical

Seperti biasa, teknis selalu mendapat perhatian penting bagi karya-karya Riri-Mira. Terutama sekali sinematografi Gunnar Nimpuno yang tak hanya berhasil menangkap keindahan hutan, namun juga menghidupkannya sebagai latar cerita yang luas. Tak ketinggalan score Aksan Sjuman yang menjadikan nuansa eksotisme dalam cerita.
Daya tarik lain yang cukup membuat saya kagum adalah tampilan animasi di satu adegan yang tidak hanya cantik, namun juga punya makna penting tersendiri bagi keseluruhan cerita. Ide yang sangat bagus menampilkannya dalam animasi. Membuat statement yang ingin disampaikan melalui visualisasi tersebut menjadi membekas bagi penonton.
Terakhir, editing Waluyo Ichwandiardono (yang sudah menjadi langganan Riri sejak Laskar Pelangi) masih mengikuti style Riri Riza yang banyak menyelipkan adegan cut-to-cut, namun tak terasa membingungkan atau membosankan.

The Essence

Pertama-tama, bagi saya Sokola Rimba adalah cermin bagi masyarakat Indonesia. Tak hanya kebobrokan yang sudah kita lihat sehari-hari, tetapi juga masyarakat yang membuat saya bangga menjadi bagian dari Indonesia yang sayangnya justru berada pada suku rimba yang kita anggap belum mengenal peradaban. 
Kedua, tidak semua orang harus punya standard peradaban yang sama. Seringkali bagi mereka yang kita anggap memiliki peradaban yang lebih rendah justru punya value-value yang lebih tinggi dan lebih baik dari kita. Mereka juga tidak membutuhkan keseteraan peradaban seperti kita saat ini. Sebuah pesan universal yang membuat saya yakin Sokola Rimba punya semua kualitas yang disukai juri Oscar. Semoga saja komite yang menentukan film apa yang akan diikutkan ke Academy Awards menyadari itu.

They who will enjoy this the most

  • Semua warga Indonesia yang mengaku peduli dengan keadaan bangsa ini

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id 

The Jose Movie Review
The Hunger Games: Catching Fire

Overview

The Hunger Games (THG) bukanlah franchise main-main. Inilah pemain yang bakal melanjutkan sukses franchise The Twilight Saga. Tidak hanya bagi Summit, tetapi juga bagi franchise yang diadaptasi dari novel secara keseluruhan. Hasil dari seri pertamanya juga tidak main-main. Maka produksi sekuelnya harus “lebih” dalam segala aspek, termasuk dalam pemilihan sutradara yang kini berada di tangan Francis Lawrence (Constantine, I Am Legend, dan Water for Elephants). Bagi saya sendiri THG pertama bukan termasuk film yang istimewa. I have to admit it is a good one, but won’t be too memorable in my mind. Maka saya tidak punya ekspektasi  yang tinggi-tinggi untuk seri keduanya, Catching Fire (CF).

Tapi rupanya ekspektasi biasa saja membawa berkah. CF di mata saya adalah peningkatan yang cukup signifikan bagi franchise THG. Memang, dari materi aslinya saja (novel), semua pembacanya tentu sudah tahu bahwa cerita bakal semakin menarik dengan terbukanya konspirasi-konspirasi politik di balik permainan maut ini. Namun apa yang dibawa ke layar benar-benar pas dalam segala aspek. Konspirasi politik disuguhkan dengan halus, tanpa harus membuat penonton awam mengernyitkan dahi namun tetap tersaji utuh.

Kisah politik yang berada di background cerita tak semata-mata disodorkan begitu saja. Konflik pribadi antar karakter utamanya masih dipertahankan dan dengan penampilan-penampilan para aktornya yang semakin matang, menjadikannya semakin menarik untuk diikuti. Tidak hanya sekedar kisah cinta remaja menye-menye. Lebih dari itu, ada banyak sindiran-sindiran sosial yang diselipkan. Universe THG yang dibangun apik sejak awal menjadi semakin hidup dan nyata.

Dan yang tidak boleh dilupakan adalah “permainan” Hunger Games itu sendiri. Untuk hal ini, saya merasakan peningkatan yang paling signifikan dari seri pertamanya. Melibatkan karakter-karakter baru yang menarik dan sedikit permainan otak, Quarter Quell, The Hunger Games setiap 25 tahun, jelas menjadi daya tarik utama CF yang barhasil, bahkan bagi penonton yang tidak peduli dengan kisah politik maupun perkembangan karakter-karakter utamanya.

Tentu saja bagi penonton awam, ending CF membuat sedikit kecewa karena tidak begitu klimaks. Well, calm down. I think it’s the best way to end a part, to make audiences still curious for the next part. Meski demikian, sepanjang durasi CF terasa sangat enjoyable kan?

The Casts

Jennifer Lawrence menunjukkan kualitas akting yang jauh lebih matang dan solid dari penampilannya di seri pertama. Seolah ingin membuktikan bahwa ia adalah aktor yang telah naik kelas pasca Oscar pertamanya di Silver Linings Playbook. Sayang, Josh Hutcherson tidak mengikuti jejak Jennifer. Bukan sepenuhnya salah dia, mengingat karakternya yang memang ditakdirkan tetap “lemah” seperti di seri sebelumnya. Sehingga dengan perkembangan karakter Katniss yang semakin kuat, Peeta terasa semakin tenggelam dan tidak begitu mengundang simpati penonton. Sementara Woody Harrelson, Elizabeth Banks, dan Lenny Kravitz masih menunjukkan kharisma akting yang sama kuatnya dari penampilan pertama kali mereka.

Di lini karakter-karakter baru, Phillip Seymour Hoffman tampak paling berkesan bagi saya. Sisanya, Jena Malone (Johanna), Sam Claflin (Finnick), dan Jeffrey Wright (Beetee), berhasil menjadikan karakter-karakter masing-masing menjadi menarik di mata saya.

Technical

Ada banyak efek-efek visual keren yang ditampilkan di sini. Terutama berkaitan dengan permainan “Hunger Games” sendiri. Memanjakan mata dan berhasil menciptakan ketegangan tersendiri. Juga berkat tata suara yang disajikan juga terdengar mantap dan renyah.

Poin plus tersendiri patut diberikan kepada tim costume designer yang menciptakan kostum-kostum indah, tak terkecuali Tex Saverio, fashion designer asal Indonesia yang mendesain gaun pengantin Katniss ketika di atas panggung.

The Essence

Masih percaya apa yang Anda lihat di televisi sehari-hari?

They who will enjoy this the most

  • The Hunger Games’ fans, either the book or previous movie
  • General audiences who seek for exciting and thrilling adventure
Lihat data film ini di IMDb.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates