Blade Runner 2049

Ryan Gosling continue the replicant's tale as the next generation, K.
Read more.

Geostorm

Gerard Butler, Ed Harris, Andy Garcia, Jim Sturgess, and Abbie Cornish was stuck in an unprecedented series of natural disasters threat.
Read more.

Happy Death Day

What if you have to keep repeating the day you die, which also your birthday, again and again?
Read more.

One Fine Day

Jefri Nichol and Michelle Ziudith to paired up against Maxime Boutierre in Barcelona's exoticisim.
Read more.

Pengabdi Setan

The 1980's classic horror is ready to come back to life by Joko Anwar.
Read more.

Sunday, November 10, 2013

The Jose Movie Review
Ender's Game

Overview


Sci-fi agaknya memang menjadi genre yang mendominasi tahun 2013 ini. Menarik, setelah beberapa tahun film Hollywood hanya diramaikan oleh kisah-kisah superhero dan mitologi yang sudah diperas habis-habisan sedemikian rupa hingga mencapai titik jenuhnya. Gladly, most of the sci-fis this year were above average. Bahkan ada beberapa judul yang berhasil menjadi sci-fi terbaik sepanjang satu dekade terakhir. Jujur, awalnya dari sekian banyak judul film sci-fi yang rilis tahun ini, Ender’s Game (EG) bukanlah termasuk yang menarik minat saya. Membaca premise dan melihat dari trailer, EG dipromosikan sebagai kisah sci-fi human vs alien biasa. Kalau pun terlihat unsur “the chosen one”, promo-promonya tampak biasa-biasa saja. Mungkin hanya jajaran cast berkualitas yang berhasil sedikit menggelitik rasa penasaran saya.
But hey, I gave it a chance and suprisingly, EG has stolen my heart! Saya tidak peduli apa kata orang, terutama yang berasal dari penggemar novelnya. It’s very very good in most of its aspects. Mari kita mulai melihat dari kacamata film sci-fi manusia vs alien biasa. EG memang tidak begitu tertarik untuk memamerkan adegan laga seru dan berdarah-darah ala Prometheus atau Starship Troopers. Bahkan kita hanya akan disuguhi pertarungan dengan bermodalkan strategi brilian yang dikontrol dari dalam pesawat luar angkasa. Tapi jangan salah, ke-brilian-an karakter Ender dalam berstrategi jauh lebih menarik daripada pertarungan kontak fisik langsung seperti kebanyakan action sci-fi. Beberapa adegan latihan di tiap tingkatan sekolah disuguhkan satu per satu tanpa terasa membosankan, berkat visualisasi strategi yang berbeda-beda dan menarik untuk disimak.
Lanjut kita lihat EG lebih dalam lagi, yaitu dari segi pengembangan karakter, terutama karakter utama, Ender Wiggin. Di sinilah letak kekuatan utama EG versi film sehingga berhasil menjadi sebuah kisah yang sangat kuat. Ia tak hanya membuat karakter Ender sebagai “the chosen one” biasa yang entah bagaimana tiba-tiba muncul sebagai karakter dengan predikat tersebut, seperti layaknya Anakin Skywalker di franchise Star Wars Saga, Harry Potter di franchise Harry Potter, Neo di franchise The Matrix, atau Katniss di franchise The Hunger Games. Secara detail namun tak bertele-tele, Gavin Hood menuliskan karakter Ender dengan alasan yang jelas kenapa ia menjadi “the chosen one”, jauh sebelum cerita menobatkan dia predikat tersebut. Pondasi yang kuat dan cukup menarik untuk mengembangkan kisah dasar sci-fi-nya. Ender berhasil menjadi karakter yang lovable meski dengan berbagai kekurangan-kekurangannya yang manusiawi.
Menganalisa lebih dalam lagi, EG ternyata menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang lebih substansial daripada yang terlihat dari permukaannya. Iya, EG lebih merupakan film yang mempertanyakan, ketimbang memberi jawaban kepada penonton. And that’s good karena penonton tak hanya didikte, tetapi juga diajak untuk berpikir dan berkesimpulan sendiri. Belum lagi, ternyata pertanyaan-pertanyaan yang divisualisasikan disusun dengan rapi dan berhasil mencapai klimaksnya menjelang akhir. Once again, dengan mudah penonton dibuat bersimpati sebesar-besarnya terhadap karakter Ender. Gavin Hood yang merangkap sutradara sekaligus penulis naskah, harus diberi apresiasi tertinggi di sini. Tak hanya berhasil merangkum dua novel menjadi bahasa gambar yang cukup mewakili cerita (dari kacamata saya, yang bukan pembaca novelnya), namun ia juga berhasil memvisualisasikannya dengan menawan serta dialog-dialog cerdas pun efektif yang memorable. Tak heran jika debut sineas asal Afrika Selatan ini, Tsotsi berhasil meraih Oscar untuk kategori Best Foreign Language Film of the Year tahun 2006.

The Casts

Siapa sangka si Hugo Cabre, Asa Butterfield, ternyata salah satu aktor muda yang patut diperhitungkan kiprahnya? Asa berhasil menghidupkan karakter Ender dengan berbagai dilematis karakternya yang cukup kompleks dan tidak mudah dibawakan. Hailee Steinfeld juga diberi porsi karakter yang cukup untuk melebihi kharisma karakter Mattie Ross di True Grit. Kita tunggu saja peningkatan karir yang bakal cukup signifikan setelah memerankan Juliet di versi terbaru Romeo & Juliet.
Sementara di jajaran cast senior, Harrison Ford dan Ben Kingsley sudah tidak perlu diragukan lagi. Ford belum kehilangan kharismanya dan Kingsley juga menjadi sangat memorable meski porsi perannya tak begitu banyak. Sayang hanya Viola Davis yang karakternya harus mengalah secara porsi dengan karakter-karakter lain, meski sudah sesuai dengan kebutuhan naskah. Abigail Breslin juga terasa sedikit mubazir karena porsi karakter Valentine yang tak hanya kurang banyak, tetapi juga kurang kuat. Semoga saja ia diberi porsi lebih di sekuelnya kelak.
Di jajaran cast pendukung, beruntung masing-masing punya karakter yang menarik, sehingga meski porsinya tak begitu banyak, namun cukup berhasil menancap di ingatan saya. Sebut saja Aramis Knight, pemeran Bean, Suraj Partha, pemeran Alai, Conor Carroll, pemeran Bernard, dan bahkan Moises Arias, pemeran Bonzo. Mereka harus sangat berterima kasih pada naskah Hood yang memberi mereka karakter serta adegan menarik.

Technical

Sebenarnya tak ada yang baru dari segi teknis, namun naskah dari Hood berhasil membuat adegan-adegan biasa menjadi lebih menarik. Sebut saja seperti adegan latihan di zero gravity dan penampakan ratu kaum Formic. Bahkan adegan dialog di atas sampan yang terlihat biasa menjadi menarik, mengingat setting masa depan yang terasa begitu kontras.
Yang patut saya apresiasi lebih adalah score dari Steve Jablonsky yang tak hanya berhasil menghidupkan emosi tiap adegan, namun juga terdengar stand-out. Begitu pula detail sound effect yang terpompa rapi dan dahsyat pada tiap kanal surround.

The Essence

Seperti yang sudah saya tulis di segmen overview, EG melontarkan banyak pertanyaan bagi penonton untuk direnungkan. Terutama sekali adalah bagaimana kita didoktrin untuk menjadi paranoid terhadap hal-hal yang selama ini tidak kita ketahui. Formic dipandang sebagai alien yang berniat menguasai bumi dan harus dihancurkan demi utuhnya bumi (atau alam semesta kita) sebagai habitat manusia, sama seperti gambaran alien dalam film-film sci-fi selama ini. Bagaimana jika sebenarnya mereka (Formic dan alien-alien lainnya) sebenarnya sama saja dengan kita, manusia bumi? Kita mencari planet alternatif untuk ditinggali karena bumi sudah terlalu sesak. Mereka pun sama, mencari planet lain, yang apparently mereka menemukan bumi. Sebuah pemikiran paranoid yang akhirnya teraplikasi pada pola pikir kita (orang US lebih tepatnya) terhadap bangsa atau negara tertentu.
Karakter Ender pun mewakili generasi muda cerdas yang dimanfaatkan negara untuk tujuan politisnya, tanpa memikirkan dampak perkembangan psikologis ke depannya. Saya sepakat dengan pendapat seorang teman yang menganggap karakter Colonel Graff dan Major Gwen Anderson mewakili peran ayah dan ibu dalam perkembangan kepribadian anak (dalam hal ini para siswa, terutama Ender) yang seharusnya seimbang. Beruntung Ender lebih cerdas dan punya pendirian yang kuat sehingga mampu mengambil keputusan sendiri. That’s why he’s so lovable!

They who will enjoy this the most

  • Deep-thoughtful audiences
  • Sci-fi adventure enthusiasts
  • General audiences who seek for crispy entertainment
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Thor: The Dark World


Overview

What should I say? The Avengers Universe was definitely not my cup of tea. Jujur saja, saya lebih menikmati film masing-masing karakter yang berdiri sendiri. Dan dari sekian karakter-karakter The Avengers, Thor menempati urutan paling akhir dari daftar favorit saya. Yes, you’re right. Even Hulk (baik versi Eric Bana maupun Edward Norton) menurut saya masih jauh lebih baik dari segi naskah dan eksekusi ketimbang Thor. Sayang sekali sebenarnya. Thor punya materi cerita yang menarik, terutama berkat unsur mitologi Skandinavia yang menjadi elemen utama cerita. Sayang penggarapan naskah yang lebih mementingkan bag-big-bug dan fantasi menjadikan karakter-karakter menarik di dalamnya menjadi tenggelam dan gagal menarik simpati dari saya. Anyway, setidaknya adegan hancur-hancuran di ending Thor masih bisa saya nikmati dan visualisasi  Asgard juga memanjakan mata. So apa lagi yang ditawarkan di sekuel yang sekaligus menjadi bagian dari Marvel’s The Avengers Universe Phase 2 ini?
Seperti biasa, sebuah sekuel menunjukkan extended universe dari pendahulunya. Begitu juga dengan Thor: The Dark World (TTDW). Di sini kita disuguhi sisi lain Asgard, dimana di seri sebelumnya kita (khususnya yang awam dari cerita Thor sebelumnya) dibuat mengira bahwa Asgard hanya terdiri dari istana Odin. Siapa sangka Asgard ternyata punya alam dan rumah-rumah penduduk juga yang menyerupai gabungan Naboo dan Gondor. Berbagai karakter yang muncul di pendahulunya juga diberi porsi yang lebih banyak dan dipoles menjadi tampak lebih menarik. Misalnya saja Darcy, Erik Selvig, Odin, dan bahkan Frigga. “Polesan” tersebut more or less berupa adegan humor yang lebih menggelitik dan adegan aksi yang lebih heroik. Namun “polesan” yang diberikan kepada mereka hanya sampai sejauh itu saja. Sama sekali tidak meningkatkan ketertarikan saya pada karakter-karakter ini secara signifikan.
Hubungan karakter Thor dan Loki yang selama ini selalu dijadikan highlight cerita pun (lagi-lagi) tidak digarap secara mendalam. Oke, di sini mungkin menunjukkan sisi sentimentil yang melibatkan pertalian emosi antara keduanya. Tapi sekali lagi, tidak punya signifikasi terhadap karakter maupun cerita secara utuh. Jika kebanyakan kisah superhero setidaknya meng-highlight karakter villain sehingga masih punya hal menarik untuk disodorkan, maka TTDW bahkan terlalu malas untuk menjadikan Malekith karakter yang menarik. Jangankan menarik, porsinya sebagai vilain utama seolah bisa dengan mudah digantikan oleh vilain manapun. We’re just given the fact that Malekith was such a threat to the nine universes. That’s it. Nothing I should be worried about. Cerita lebih berfokus pada usaha Thor untuk mencari cara mengalahkan Malekith, dan itu sama sekali tidak menjadi materi yang menarik bagi cerita. Sayang sekali.
So, what’s left in TTDW? I don’t know how to answer. Adegan laganya pun tak lebih memorable dan seru ketimbang Thor. Bagi saya, secara keseluruhan TTDW adalah just another Marvel’s superheroes movies yang forgettable dalam hitungan bulan. Entahlah jika Anda seorang fanatik Marvel dan The Avengers Universe-nya.

The Casts

Di mata saya, Chris Hemsworth masih tidak banyak berubah dalam memerankan Thor. Begitu juga dengan aktor-aktor pendukung yang rata-rata termasuk kelas A, seperti Natalie Portman, Tom Hiddleston, Anthony Hopkins, dan Stellan Skarsgard. Bahkan Christopher Eccleston pun sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menjadi karakter villain yang menarik. Jika ada media yang mengatakan Thor dan TTDW menyia-nyiakan bakat akting mereka, saya harus mengakui memang benar adanya. Kredit khusus deh buat Natalie Portman yang secara fisik tampak jauh lebih cantik ketimbang sebelum-sebelumnya, terutama faktor rambut (I guess). Kudos juga untuk Rene Russo yang akhirnya berhasil mencuri layar walau tak begitu lama.

Technical

Tidak ada yang begitu menonjol dari segi teknis, pun semuanya sudah memenuhi standard film superhero fantasi sekelasnya. Baik dari segi visual effect maupun sound effect yang setidaknya masih terasa “nendang”.

The Essence

Hmmm... I have no idea. Once a jerk, forever a jerk, maybe?

They who will enjoy this the most

  • Marvel’s The Avengers Universe’s fanatics
  • General audiences who seek for instant entertainment
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates