The Battleship Island

Hwang Jung-min, Song Joong-Ki, and So Ji-sub fought to reach freedom from the hellish Hashima Island.
Read more.

War for the Planet of the Apes

How the war with the apes will end? Read more.
Read more.

Valerian and the City of A Thousand Planets

Luc Besson to bring the classic sci-fi graphic novel to silver screen with Dane DeHaan, Cara Delevigne, and... Rihanna!
Read more.

Atomic Blonde

Charlize Theron portraying a cold bad-ass chick in Berlin Wall era.
Read more.

A: Aku, Benci, dan Cinta

Jefri Nichol, Amanda Rawles, Indah Permatasari, and Brandon Salim in a high school romance comedy.
Read more.

Monday, October 7, 2013

The Jose Movie Review
Gravity



Overview

Di antara sineas-sineas Mexico, nama Alfonso Cuarón termasuk salah satu yang paling punya judul-judul bagus di portofolionya, mulai Y Tu Mamá También yang legendaris, Great Expectations, Harry Potter and the Prisoner of Azkaban, dan Children of Men. Tahun 2013 ini, Alfonso akhirnya merampungkan proyek yang konon memakan waktu 13 tahun persiapan. Ditulis bersama sang putra, Jonás Cuarón, Gravity menjadi sebuah tontonan sederhana namun disajikan secara luar biasa.

Gravity semakin menegaskan bahwa sebuah film tidak harus memiliki cerita yang benar-benar baru ataupun rumit. Film adalah sebuah pengalaman sinematis yang disajikan kepada penontonnya, terlepas seperti apa ceritanya. Cerita yang sama, namun dengan penyajian yang berbeda, menghasilkan “cita rasa” pengalaman yang berbeda pula. Jadi jika Anda menanyakan, bagaimana cerita Gravity, maka jawabannya sangat sederhana dan mungkin Anda tidak akan begitu tertarik. Tetapi jika Anda mengabaikan semua itu dan penasaran untuk mendapatkan pengalaman sinematis yang luar biasa, Anda harus menyaksikan Gravity secara langsung dan membuktikannya sendiri.

Secara garis besar, Gravity adalah sebuah cerita survival di luar angkasa. Sepanjang durasi, Anda akan ditempatkan pada posisi Matt Kowalski (George Clooney) dan Ryan Stone (Sandra Bullock) yang harus berjuang sendirian menyelamatkan diri di luar angkasa dan pulang ke bumi. Bukan perkara mudah, karena segala keterbatasan yang ada di luar angkasa membatasi ruang gerak mereka. It’s a real horror in outer space, caused by simple accidents and several unfortunate events. The worst scenario in outer space.

Sinematografi jempolan dari Emmanuel Lubezki berhasil membuat penonton seperti benar-benar melayang di luar angkasa seperti Matt dan Ryan. Sebuah pencapaian tersendiri bagi dunia sinematografi. Jadi jika ada yang mengatakan Anda tidak perlu membayar jutaan dolar untuk bisa ikut tour ke luar angkasa, cukup membayar tiket bioskop (terutama jika Anda menyaksikannya di layar IMAX 3D atau bahkan 4DX), maka Anda akan mendapatkan pengalaman yang serealistis mungkin, menurut saya benar adanya. Pengalaman yang hanya bisa Anda dapatkan jika menyaksikannya di layar lebar dengan tata suara surround yang memadai, even better in 3D, IMAX 3D, atau 4DX. Believe me, it’s one hell breath-taking experience of a lifetime!

The Casts

Sepanjang durasi hanya ada Sandra Bullock dan George Clooney yang mendominasi layar. Namun bukan berarti Gravity menjadi tontonan yang membosankan. Justru kedalaman karakter keduanya begitu terasa sehingga penonton bisa memposisikan diri ke dalam sudut pandang karakter. Bullock mendapatkan porsi lebih banyak, dan roller-coaster emosi yang ditampilkannya begitu nyata. Tidak perlu banyak dialog berarti, ekspresi wajah dan gesture-nya mampu lebih banyak menjelaskan. Sementara Clooney seperti biasa, masih memerankan karakter charming wise guy. Meski porsinya tak banyak, namun ia mampu membangun chemistry yang pas dengan Bullock, namun tetap memiliki kharisma karakter yang memorable.

Technical

Teknis Gravity adalah yang paling memegang peranan penting dalam membawa pengalaman tak terlupakan bagi penontonnya. Selain sinematografi yang brilian, inovatif, serta efektif “mengaduk-aduk” emosi penonton, sound mixing yang sangat prima patut mendapatkan kredit. Ketika kamera berputar-putar, arah surround sound pun mengikuti, sehingga pengalaman sinematik penonton secara audio pun semakin terasa real. Tak seperti film-film bertemakan luar angkasa lainnya yang sering “salah” secara sains, Gravity justru menerapkan detail-detail faktual. Misalnya suara hasil benturan atau ledakan di luar angkasa yang tidak terdengar karena hampa udara.

Gravity adalah film yang memang dibuat untuk sajian 3D, oleh sebab itu pengalaman paling maksimal tentu hanya bisa dinikmati dengan format ini. Meski efek pop-out-nya tidak terlalu vulgar, namun benda-benda beterbangan karena tidak adanya gaya gravitasi, tampil begitu indah. Belum lagi serangan serpihan-serpihan limbah luar angkasa yang bakal membuat Anda refleks menutup mata.

Aspek yang juga tak diabaikan sebagai kekuatan adalah score Steven Price yang turut memicu adrenalin penonton secara maksimal, menggantikan absennya sound effect di kehampaan udara.

The Essence

Ada beberapa aspek yang diangkat Cuarón lewat Gravity. Yang paling utama, jelas mengungkap tingkat kesulitan dan resiko bahaya yang harus dihadapi para awak pesawat luar angkasa, bahkan hanya untuk membereskan kerusakan kecil. Ketiadaan Gravity atau gravitasi jelas menjadi “momok” yang sangat menakutkan di luar angkasa.

Aspek kedua yang menarik dihadirkan lewat kedua karakter utama. Meski dalam waktu yang singkat, Ryan dan Matt berbagi spirit hidup yang harus Anda simpulkan sendiri ketika menyaksikannya di layar lebar.

Those who will enjoy this the most

  • Siapapun yang penasaran ingin merasakan berada di luar angkasa!

86th Annual Academy Awards nominee for

  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Performance by an Actress in a Leading Role - Sandra Bullock
  • Best Achievement in Cinematography - Emmanuel Lubezki
  • Best Achievement in Directing - Alfonso Cuarón
  • Best Achievement in Film Editing - Alfonso Cuarón and Mark Sanger
  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score - Steven Price
  • Best Achievement in Production Design - Andy Nicholson, Rosie Goodwin, Joanne Woollard
  • Best Achievement in Sound Editing - Glenn Freemantle
  • Best Achievement in Sound Mixing - Skip Lievsay, Niv Adiri, Christopher Benstead, Chris Munro
  • Best Achievement in Visual Effects - Timothy Webber, Chris Lawrence, David Shirk, Neil Corbould
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, October 6, 2013

The Jose Movie Review
Rush


Overview

Biopic jelas bukan genre baru di dunia film. Sejak pertama kali kemunculannya sebagai sebuah media, sudah ada banyak sekali kisah nyata orang-orang penting yang diangkat ke film, baik layar lebar, layar perak, maupun home video. Membuat sebuah biopic, menurut saya gampang-gampang susah. Kalau mau bermain aman, tinggal pakai template dasar 3 babak ala Hollywood, selesai sudah. That’s why saya yang sempat menggemari kisah-kisah biopic, pernah juga merasakan titik kebosanan karena kemasan-kemasan biopic yang tidak berbeda jauh antara satu dengan yang lain. Memilih salah satu sisi unik dari seseorang untuk diangkat menjadi fokus cerita adalah kunci dalam menyajikan sebuah biopic yang menarik.
Kemudian muncullah Rush, sebuah biopic yang tak hanya mengangkat kisah satu orang tokoh, tetapi dua sekaligus. Dan angle yang dibidik pun adalah rivalry (persaingan) yang sebenarnya juga bukan tema baru di dunia film. Lantas apa yang membuat Rush menjadi tontonan yang menarik dan berbeda dari film sejenis? Apalagi tema sport, terutama car racing, kurang begitu populer diangkat. Driven-nya Sylvester Stallone gagal. Hanya Senna dari Perancis yang banyak mendapatkan pujian. Itu pun bergenre dokumenter.
Awalnya saya sendiri juga tidak begitu tertarik dengan Rush. Apalagi, jujur, saya awam tentang F1. Namun membaca nama Ron Howard (A Beautiful Mind, Cinderella Man, dan The DaVinci Code) sebagai sutradara, Peter Morgan (The Last King of Scotland, The Queen, dan Frost/Nixon) sebagai penulis naskah, Hans Zimmer (masih perlukah saya menuliskan filmografinya?) sebagai composer, serta Anthony Dod Mantle (Slumdog Millionaire, 127 Hours) sebagai director of photography, rasa penasaran dengan ekspektasi tinggi pun muncul seketika. Ini bukan karya yang main-main, begitu pikir saya.
Benar ternyata. Peter Morgan menuliskan sisi yang masih jarang disentuh genre biopic. Menggabungkan basic formula biopic dari dua karakter, James Hunt dan Niki Lauda, mengambil sisi kontras dari keduanya, mempertajamnya menjadi sebuah konflik (baca: rivalry), dan mempertegas esensi di akhir. Ini jelas sebuah pengembangan dari template-template yang sudah ada dengan cara yang sangat menarik. Ia juga tidak memihak salah satu kubu karakter sebagai yang “lebih (atau paling) benar”. Masing-masing gaya memiliki konsekuensinya sendiri-sendiri.
Formula yang demikian masih ditambah sinematografi Dod Mantle dan kepiawaian Ron Howard dalam menentukan pace yang tepat. Kapan harus menggali sisi drama kehidupannya, dan kapan harus memicu adrenalin penonton saat di sirkuit. Meski bagi yang mengerti betul akhir dari setiap perlombaan, tetap saja keseruan F1 yang sesungguhnya dihadirkan dengan menegangkan, sehingga tentu saja ia juga memiliki nilai hiburan yang sangat tinggi.
So yes, Rush seperti sebuah paket komplit sebagai perpaduan film berbobot dengan unsur-unsur hiburannya. Sebuah biopic yang cukup unik dan susah untuk menemukan yang serupa.

The Casts

Jika Anda pernah melihat sosok asli dari (terutama) James Hunt dan Niki Lauda, maka Anda akan cukup terkagum-kagum dengan tampilan fisik Chris Hemsworth dan Daniel Brühl di layar yang sangat mirip. Bagi saya, Chris adalah pemeran Hunt yang paling pas secara fisik maupun personality. Ia tak perlu bersusah payah mencari referensi gaya hidup dan kepribadian Hunt yang sebenarnya, karena kurang lebih sama dengan image aslinya. Sementara saya pribadi justru lebih menyukai performa Brühl sebagai Niki Lauda. Kharismanya di layar yang seolah menjadi sosok villain terasa begitu kuat, jauh melebihi kharisma Chris.
Di barisan pemeran pendukung, tidak banyak yang benar-benar menonjol mengingat porsi masing-masing yang memang sangat sedikit. Meski demikian, Olivia Wilde cukup membuat saya melongo karena performanya yang jauh berbeda dengan perannya di, let’s say Tron Legacy dan Cowboys vs Aliens. She looked much much nicer, baik dari segi fisik maupun gesture. Gorgeous!
Alexandra Maria Lara yang berperan sebagai Marlene Lauda juga tak kalah mempesona berkat keanggunan yang berpadu dengan keseksian khas Eropa Timur-nya.

Technical

Selain sinematografi dan editing yang jempolan, Rush tak melupakan kualitas sound yang juga sangat menentukan terutama dalam film-film bertemakan balapan seperti ini. Kerenyahan sound effect dan efek surround berhasil menghidupkan suasana sirkuit. Begitu juga pemilihan score dan soundtrack yang sangat menyatu dengan adegan-adegannya.
Kostum dan make-up juga patut mendapatkan kredit lebih dalam menghadirkan nuansa 70-an dengan sempurna.

The Essence

Dua gaya hidup (baca: cara memandang hidup) yang bertolak belakang bukan berarti salah satunya benar, sedangkan yang lainnya salah. Dengan memahami konsekuensi masing-masing, keduanya bisa menikmati dan memaknai hidup sesuai dengan jalan pikiran masing-masing. Siapa tahu keduanya ternyata justru saling menginspirasi satu sama lain dalam suatu hal tertentu.

They who will enjoy this the most

  • F1 fans
  • Penikmat biopic
  • General audience yang menyukai film hiburan dengan essential value lebih
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates