Selamat Hari Film Nasional

Celebrate Film Nasional by watching Film Indonesia. Find one suits you here.

The Guys

Raditya Dika on his following project in 2017.
Read more.

Stip dan Pensil

Ernest Prakasa to go back to the high school and learn to teach people around.
Opens April 19.

Kartini

Hanung Bramantyo pick Dian Sastrowardoyo to portray Kartini in her new version of biopic.
Opens April 19.

Fast and Furious 8

When someone has broken the solid family, will they still believe in theirs?
Read more.

Thursday, September 26, 2013

The Jose Movie Review
Insidious: Chapter 2



Overview

Tahun ini bisa dibilang tahunnya James Wan. Belum lama sukses besar dengan The Conjuring bulan lalu, kini horor yang sudah mengantongi kesuksesan luar biasa sebelumnya, Insidious, merilis sekuelnya, Insidious: Chapter 2. Dengan budget yang tergolong rendah, Wan terbukti berkali-kali mampu “menggandakan” keuntungan. Tak heran Universal lantas meng-hire sutradara berwargakenegaraan Malaysia ini untuk menyutradarai installment Fast & Furious selanjutnya (ke-tujuh).
Agak susah untuk tidak membandingkan Insidious: Chapter 2 dengan prekuelnya dan The Conjuring. Bukan untuk menemukan mana yang terbaik, namun untuk memahami style penyutradaraan Wan. Jika Insidious adalah basic yang seolah memberikan semacam sample atas karya Wan, maka Insidious: Chapter 2 adalah bagian utama yang mengembangkan cerita basic-nya sedemikian rupa. Menganalisis struktur cerita Insidious: Chapter 2, mengingatkan kerapihan dan kekuatan skrip dari The Conjuring. Jelas, saya melihat kepiawaian Wan dalam merangkai cerita dan menitik beratkan pada sisi humanis dalam kisah-kisah horornya. Jika The Conjuring berfokus pada kekuatan kasih seorang ibu untuk menjauhkan putri-putrinya dari pengaruh setan, maka Insidious: Chapter 2 sebaliknya. Ia berfokus pada upaya seorang ayah untuk menyelamatkan keluarganya. Ok, enough with the comparison. Let’s get into Insidious: Chapter 2 itself.
Secara garis besar, apa yang dijabarkan di Insidious: Chapter 2 merupakan penjelasan apa yang terjadi pada Insidious pertama. Bagi saya, Insidious pertama adala cerita horor yang paling standard, namun memiliki elemen-elemen horor yang memang kuat. Saya tidak yakin ketika Insidious pertama ditulis, penjelasan-penjelasan yang diceritakan di Chapter 2 sudah berada di benak penulisnya. That’s why I have to admit, Chapter 2 ini merupakan pengembangan cerita yang tersusun dengan rapi, baik, dan masuk akal. Sedikit banyak mengingatkan saya pada premise Psycho milik Alfred Hitchcock, namun tetap saja harus saya akui digarap dengan baik.
Untuk urusan elemen-elemen horor dan nuansa sepanjang film, jujur saya lebih merasakan evil di Insidious: Chapter 2 ini ketimbang Insidious pertama, apalagi The Conjuring yang menurut saya lebih ke arah drama humanis. So, in my opinion, Insidious: Chapter 2 lebih menawarkan suasana-suasana mencekam dan momen-momen yang membuat Anda terhenyak dari kursi bioskop.
For the next, of course there will be the third installment. Ending installment ke-dua ini dengan jelas menyiratkan hal tersebut. Agak aneh sih, tapi saya tidak mau berkomentar banyak sebelum melihat hasil akhirnya yang kemungkinan besar dirilis tahun depan. Anyway, I’m not a big fan of Insidious’ franchise, but I have to admit it’s a good one.

The Casts

Semua aktor-aktris pendukung mengisi peran masing-masing dengan pas, baik Rose Byrne yang mendominasi layar. Patrick Wilson juga patut diberikan kredit berkat peran gandanya yang berbeda sama sekali. Barbara Hershey yang memerankan Lorraine Lambert mendapatkan tambahan porsi daripada seri sebelumnya, dan mampu ia jalankan dengan baik. Ty Simpkins yang memerankan karakter Dalton juga menunjukkan peningkatan kualitas akting, seiring dengan porsi peran yang bertambah.
Namun penampilan Tom Fitzpatrick sebagai Parker jelas menjadi “momok” sepanjang durasi, bersama-sama dengan Danielle Bisutti yang sebelumnya lebih banyak hanya menghiasi layar kaca.

Technical


What makes a horror, more than the technical supports? Yes, Wan tahu itu dan memaksimalkan hampir semua aspek teknisnya. Terutama sekali score eerie dan pergerakan kamera yang banyak mengingatkan saya pada gaya-gaya film horor Hollywood era 70-80’an. Seperti karya-karyanya yang lain, Wan memang pandai memainkan emosi penonton melalui ketepatan pace dan timing. Beruntung dia didukung oleh editor yang tahu betul style bercerita Wan.
Untuk set, wardrobe, dan props, sedikit banyak masih senada dengan Insidious dan The Conjuring. Namun masih cukup efektif membuat penonton merinding.

The Essence

Tidak berbeda jauh dengan Psycho­ nya Alfred Hitchcock, trauma masa kecil bisa berdampak besar pada kondisi psikologis anak. Hanya family value yang kuat yang mampu menangkal pengaruhnya terhadap orang lain. Tema yang kerap digunakan Wan di film-filmnya. Semoga saja ia segera melakukan penyegaran sebelum penonton merasa bosan.

They who will enjoy this the most

  • They who also enjoy the first Insidious and The Conjuring
  • Classic horror fans
 Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, September 22, 2013

The Jose Movie Review
Malavita (The Family)


Overview

Sutradara Perancis ternama, Luc Besson, punya ciri khas cita rasa sinema tersendiri di tiap karyanya. Baik yang digarap serius macam La Femme Nikita dan Leon: The Professional, maupun yang lebih bersifat “for entertainment only” macam The Fifth Element, The Extraordinary Adventure of Adele Blanc-Sec, trilogi Arthur, serta franchise Taxi, Transporter, dan Taken yang diproduserinya. Meski memiliki variasi kualitas dari segi skrip, tiap karyanya jelas menarik untuk disimak. Tak terkecuali karya terbarunya ini, The Family atau yang di negara kita (dan juga beberapa negara lainnya) dikenal sebagai Malavita, seperti judul novel aslinya. Malavita sendiri adalah bahasa Italia yang berarti “underworld”, sekaligus dijadikan nama anjing keluarga Manzoni yang bisa dianggap mewakili saksi segala yang terjadi pada keluarga tersebut.

Ia berani menyandingkan penampilan aktor-aktor senior macam Robert DeNiro, Michelle Pfeiffer, dan Tommy Lee Jones, dengan bintang-bintang muda pendatang baru seperti Dianna Agron (Quinn Fabray di serial fenomenal Glee) dan John D’Leo. Jika biasanya cerita mafia lebih sering diangkat sebagai film drama thriller yang serius, jelas genre black comedy yang diusung Malavita menjadi menarik. Apalagi dengan embel-embel “keluarga”, sesuai dengan judulnya di US. Speaking of family, bukan barang baru lagi jika keluarga menjadi perhatian utama yang penting bagi para bos mafia. Contoh yang paling mudah diingat adalah Don Corleone yang begitu mencintai keluarganya di franchise The Godfather.

Di sini penonton diajak untuk melihat dua sisi yang begitu kontras dari keluarga Manzoni, seorang mantan mafia yang kini memilih hidup tenang di bawah program perlindungan CIA. Di awal-awal kita diperkenalkan dengan kebiasaan-kebiasaan ganjil tiap anggota keluarga Manzoni (atau dengan nama samaran Blake) yang terbiasa dengan cara-cara mafia (baca: kekerasan) dan tampak begitu menikmatinya. Di fase ini, Besson secara leluasa mengeksplorasi sisi black comedy-nya.

Namun di paruh kedua, Besson membanting plot secara signifikan dengan menghadirkan kegetiran dan ketakutan yang dialami tiap anggota keluarga Manzoni sebagai keluarga mafia. Kontras yang begitu drastis menjadikannya terasa terlalu  rapi diatur (atau malah terlalu terasa dibuat-buat) plotnya bagi beberapa penonton. Perubahan kepribadian para karakter utamanya yang begitu drastis juga menjadi keanehan tersendiri. Namun tidak akan menjadi masalah bagi beberapa penonton yang lain. Anyway, ini adalah film dan adalah hak sutradara untuk mengatur bagaimana alurnya berjalan. Toh, Besson masih menyajikannya dengan sangat baik dari segala aspek. Lagipula tiap orang yang paling tangguh sekalipun pasti pernah merasa labil juga.

Perpaduan black comedy, action, dan drama thriller Malavita jelas adalah hiburan yang menarik. Bisa jadi salah satu karya Luc Besson yang paling menarik, meski bukan yang terbaik.

The Casts

Tak perlu meragukan kualitas akting Robert De Niro dan Michelle Pfeiffer yang selalu tampil gemilang, untuk peran comedic sekalipun. Tommy Lee Jones pun menunjukkan kharisma seperti peran-peran lain yang pernah dilakoninya. Dianna Agron dan John D’Leo juga mampu mengimbangi kualitas senior-seniornya dengan tampil cukup pas dengan peran masing-masing.

Technical

Tak banyak teknis yang bisa digali untuk membuat film sejenis ini terasa lebih menarik selain mengutak-atik editing. Yes, editing adalah salah satu aspek yang membuat Malavita terasa asyik untuk diikuti. Selain dinamis, hampir semua pergantian adegan dengan sengaja dibuat seolah-olah “nyambung”, bahkan beberapa kali “sambungan” ini mampu mengundang tawa tersendiri.

Pemilihan soundtrack dan score yang variatif turut mewarnai keseruan Malavita. My favorite, tentu saja lagu lawas milik Gorillaz, Clint Eastwood yang bikin saya kegirangan.

The Essence

Bahkan manusia yang tampaknya tangguh dan sekejam keluarga Manzoni, punya titik-titik perasaan kosong dalam hidupnya. Misalnya Giovanni Manzoni yang senang merasa dihargai ketika diundang sebuah acara nobar tentang mafia dan menuliskan kisah hidupnya sebagai bentuk curhat. Juga Belle Blake yang memilih untuk mencintai seorang pria geek sebagai penyeimbang kehidupan di keluarganya sehari-hari. It’s so human.

They who will enjoy this the most

  • Penggemar black comedy
  • Penggemar film bertemakan mafia
  • Sekeluarga yang semua anggotanya sudah dewasa

 Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, September 18, 2013

The Jose Movie Review
Kick-Ass 2


Overview
Tahun 2010 saya dibuat jatuh cinta setengah mati oleh sebuah film superhero berjudul Kick-Ass. Tidak hanya berhasil menghadirkan kisah superhero yang paling nyata, Kick-Ass punya elemen kekerasan, gore, profanity, dan racikan black comedy yang gokil abis! Kekuatan karakter-karakter serta sindiran-sindiran sosial yang patut direnungkan bersama turut menjadi nilai tambah bagi film yang diangkat dari graphic novel ini.

Kesuksesan seri pertama membuat peluang produksi sekuelnya semakin besar. Saya sendiri tidak punya ekspektasi yang terlalu muluk dari segi pengembangan cerita. Saya hanya haus untuk melihat, mendengar, dan merasakan ke-khas-an visualisasi yang dihadirkan di seri pertamanya. That will be just enough, and you know what, Kick-Ass 2 sangat berhasil mengemban misi tersebut. Even better dari segi dark comedy yang porsinya semakin banyak, kadar menggelitik yang lebih, serta kecerdasan yang setara. Adegan-adegan kekerasan dan gore pun mengalami perkembangan yang lebih dari segi porsi dan variasi. Jika Anda bersorak ketika menyaksikan film pertamanya, maka sekali lagi Anda akan dibuat bersorak lebih sering dan lebih keras di installment ini.

Dari segi pengembangan cerita pun, Kick-Ass 2 punya materi yang tidak kalah menariknya. Segala aspek cerita, mulai kebingungan identitas yang dirasakan Dave Lizewski, hingga perubahan-perubahan sosial yang dialami Mindy Macready sebagai remaja, memiliki kedalaman yang cukup dan dengan porsi yang bersanding pas dengan kadar hiburannya. Abaikan apa kata kritikus luar, if you love the first Kick-Ass, you will definitely enjoy this one too!

The Casts

Aaron Taylor-Johnson masih meneruskan karakter Dave/Kick-Ass yang diperankannya sejak seri pertama dengan baik. Jika Anda sempat menyaksikan filmnya yang lain, seperti Savages, maka Anda akan lebih menghargai keammpuan aktingnya sebagai Dave di sini. Sementara ChloĆ« Grace Moretz  yang kini tampil lebih matang (dan HOT!) tentu menjadi perhatian tersendiri bagi fans Kick-Ass. Porsi Mindy yang cukup besar mampu di-handle Moretz dengan sangat baik, sehingga menciptakan image yang semakin kuat pada karakter Mindy. Sementara Christopher Mintz-Plasse yang berperan sebagai tokoh antagonis, Chris D’Amico alias The Motherfucker, masih tidak berubah sama sekali, baik secara karakter maupun penampilannya.

Ada cukup banyak karakter-karakter baru, baik dari kubu heroine maupun villain. Dari kesemuanya, jelas Colonel Stars and Stripes yang surprisingly diperankan oleh Jim Carrey adalah yang paling mengesankan. Selain tampilan fisik yang berbeda dari biasanya, akting Carrey di sini turut menjadi semacam remark tersendiri.

Technical

Pemilihan soundtrack yang punya spirit sejalan dengan kedinamisan sinematografi serta editing adalah aspek yang paling mengasyikkan dari seri Kick-Ass dan masih dipertahankan di installment ini.

Dari segi tata suara tidak ada keluhan sama sekali, pun juga tidak terlalu istimewa. Setidaknya keseimbangan antara dialog, sound effect, dan soundtrack (score) terjaga dengan baik dan hasil akhirnya sangat enjoyable.

The Essence

Yang manakah identitas kita sebenarnya? Abaikan apa kata orang tentang bagaimana diri Anda seharusnya, karena hanya kita sendiri yang bisa dan berhak menentukan identitas diri sendiri.

They who will enjoy this the most

  • Fans Kick-Ass
  • Penggemar film-film gokil yang menggabungkan keasyikan gory violence dan musik-musik dinamis
  • Penikmat black comedy

 Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, September 11, 2013

The Jose Movie Review
One Direction: This Is Us


Overview

Kesuksesan sebuah band/artis yang akhirnya diangkat ke layar lebar sudah sangat sering terjadi akhir-akhir ini. Tentu saja mengeruk keuntungan finansial tak bisa terelakkan sebagai alasan utamanya. Massa (baca: fans setia) yang jumlahnya tidak sedikit, apalagi secara global, jelas menjadi tambang emas yang pasti bagi produser. Maka tak heran jika vocal-band jebolan X-Factor UK yang sukses luar biasa secara global di era 2010’an ini menjadi tambang emas yang tidak boleh dilewatkan begitu saja untuk dikeruk semaksimal mungkin.

One Direction: This Is Us (TIU) terbukti tidak asal-asalan digarap sebagai tambang emas. Memang merupakan sebuah film dokumenter yang merangkum kegiatan Harry, Zayn, Liam, Louis, dan Niall sehari-hari yang berubah drastis setelah ketenaran dalam genggaman. Tak ketinggalan potongan penampilan mereka di atas panggung, terutama ketika konser di O2 Arena, London, sebagai pemanis yang menghibur. Namun merangkainya menjadi satu paket sajian yang informatif, enak diikuti, sekaligus membuat penonton yang paling awam sekalipun jadi mengenal mereka berlima secara personal, bukanlah tugas yang mudah. Thankfully, sutradara Morgan Spurlock yang memang berpengalaman menggarap film dokumenter yang bagus seperti Super Size Me, Where in the World is Osama bin Laden, dan Freakonomics, mampu membungkus TIU menjadi paket komplit yang saya sebutkan tadi.

Dimulai dari sejarah terbentuknya 1D, interview dengan beberapa orang penting di balik kesuksesan mereka, termasuk Simon Cowell, mengenal kepribadian masing-masing personel sehari-hari, hingga yang paling saya favoritkan; bagaimana ketenaran mereka mempengaruhi hubungan mereka dengan keluarga (baca: orang tua).
Semua tersaji bersama footage-footage konser yang tak hanya mengajak penontonnya sing-along, tetapi juga dimanjakan berkat gabungan permainan animasi yang “mencolok mata”. Eye-candy and very entertaining.

Secara keseluruhan, mungkin kisah “mendadak terkenal” bukan lagi hal baru yang menarik. Tapi setidaknya TIU masih merupakan sajian yang menarik dan menghibur, bahkan bagi saya yang sebelumnya hanya mengenal 1D melalui lagu What Makes You Beautiful dan Live While We’re Young karena saking seringnya diputar. Momen-momen emosional yang terutama melibatkan keluarga personel juga mampu tereksploitasi dengan cukup tanpa harus terasa berlebihan atau overdramatic.

The Casts

Well, this is a documentary. Terlepas apakah aslinya mereka seperti itu atau hanya untuk kepentingan image-building, TIU cukup informatif dalam menggambarkan karakter-karakter tiap personel, terutama dari segi kepribadian remaja mereka.

Technical

TIU dihadirkan dalam format 3D yang cukup baik. Efek 3D-nya sangat terasa terutama saat footage-footage konser. Depth panggung yang artistically beautiful dan pop-out gimmick dari personel-personel 1D, mampu memuaskan dahaga para penggila 3D. Ditambah tampilan animasi yang digitally added to pop-out from the background yang semakin menambah tingkat eye-candy film.

Dialog pada footage-footage sehari-hari terdengar sama jernihnya dengan footage-footage interview maupun konser. Membuat audio terdengar stabil serta seimbang antara vokal dan music.

The Essence

Sebuah wawancara dengan orang tua dari salah satu pesonel mengungkapkan sebuah fakta menarik. Jika biasanya (dan seharusnya) orang tua yang mengajak anak-anaknya untuk melihat dunia, maka justru para personel 1D-lah yang mengajak orang tuanya untuk melihat dunia. Ironis? Begitulah. Betapa sebuah aturan tak tertulis tentang hakekat orang tua-anak yang ada dalam masyarakat adalah sesuatu yang fleksibel untuk berubah, sesuai dengan kondisi masing-masing. Yang terpenting adalah ketenaran tidak membuat mereka lupa akan keluarga tempat mereka berasal.

Those who will enjoy this the most

  • One Direction’s fans, absolutely
  • General audiences who’s interested to find out the real life of famous celebrities
  • Musical documentary enthusiasts
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Cinta/Mati


Overview

Selama beberapa minggu terakhir, absennya film Indonesia yang bermutu dan layak disaksikan di bioskop membuat saya memendam rasa rindu. Akhirnya ada satu karya yang dari trailernya saja sudah terlihat keunikannya. Disutradarai, ditulis, sekaligus diproduseri oleh seorang Ody C. Harahap atau yang akrab dipanggil Ochay, sutradara yang pernah menangani Kawin Kontrak dan Punk in Love, Cinta/Mati (C/M) memang bisa dibilang seunik trailer dan materi-materi promosinya.

Jangan salah, judulnya saja sudah menimbulkan ambiguitas. Jika Anda membacanya sebagai Cinta Mati (seperti judul lagu Agnes Monica), menurut saya adalah salah. Setelah menontonnya, maka Cinta (atau) Mati adalah cara membaca yang paling tepat. Tanda [/] di tengah-tengah ternyata bukan tanpa maksud. Let’s get back to the film itself.

Ada seorang teman yang mengira C/M adalah film horor thriller. Terutama dari posternya yang terkesan suram. Belum lagi Astrid Tiar digambarkan sedang memegang gunting rumput besar di depan Vino G. Bastian yang terlihat ketakutan di balik selimut. Jelas fantasi calon penonton dengan mudah termainkan. Eit, Anda salah lagi. Bukan bermaksud misleading, tapi (lagi-lagi) setelah menyaksikan filmnya, Anda baru akan mengerti relevansi materi-materi promosinya ini dengan cerita.

C/M adalah sebuah film komedi satir (atau black comedy?) yang didominasi sekaligus memiliki kekuatan utama pada dialog antara dua orang sepanjang durasi. Dalam film ini, seorang gadis yang hendak bunuh diri bernama Acid, dan seorang pemuda bertampang rock n’ roll, Jaya. Jangan lebih dulu membayangkan dialog-dialog cerdas bin manis ala trilogi Before (Before Sunrise, Before Sunset, dan baru saja, Before Midnight). Tidak. Dialog Acid-Jaya mungkin tidak secerdas dan tidak se-ngalor-ngidul Jesse dan Celine. Menjadi suram dengan tema bunuh diri-nya. Namun keduanya memiliki ups and downs dialog yang rapi, natural, sekaligus menggelitik. Terasa terjadi repitisi di beberapa bagian, tapi tidak sampai jatuh membosankan. Jangan lupakan juga ending yang sukses membuat banyak penonton shocked. Tidak relevan dengan keseluruhan tema? Mungkin saja, tetapi ia berhasil menjawab pertanyaan judulnya sendiri; Cinta/Mati, sekaligus membuatnya menjadi memorable secara instan. Tak lupa sindiran-sindiran sosial yang disematkan sebagai background cerita di banyak bagian. Menggelitik namun tak sampai terasa berebut porsi dengan cerita utama.

C/M mungkin bukan film yang istimewa, tapi dengan segala keunikannya, mampu dengan mudah disukai serta menancap lama di ingatan penontonnya. Manis, dengan caranya sendiri.

The Casts

Karena tergolong dialog-driven film dimana kekuatan akting Vino G. Bastian dan Astrid Tiar menjadi tulang punggung keberhasilan film dalam mencuri hati penonton. Apalagi porsi keduanya jauh lebih mendominasi ketimbang karakter-karakter lain yang bisa dibilang porsinya setara figuran. Untunglah Vino dan Astrid berhasil membangun chemistry yang believable. Rangkaian proses terbangunnya chemistry pun terasa masuk akal. Sebuah peningkatan tersendiri bagi Astrid Tiar yang baru kedua kalinya tampil di layar lebar setelah Badai di Ujung Negeri dua tahun lalu.

Technical

FYI, C/M adalah film yang disebut oleh Ochay sebagai “film gerilya”, bukan “film indie”. Alasannya jelas, Ochay tidak ingin image “apa adanya” ala film indie menjadi alasan berbagai pemakluman teknis di sini. Tetapi dengan semangat “gerilya”-nya ini, jelas segala keterbatasan teknis bisa ter-handle dengan sangat baik. Saya sendiri tidak menyangka jika C/M direkam hanya dengan kamera DSLR. Memang di banyak bagian masih terlihat grainy. Apalagi lebih dari 90% adegan bersettingkan malam hari. But it’ s still tolerable. Ketajaman warna di lebih banyak adegan masih mendominasi dan membuat saya memaafkan beberapa bagian yang grainy tadi. Apalagi penataan kamera dari Patri Nadeak dan artistik yang cantik ala Lovely Man; membidik temaram urban Jakarta di malam hari.

Sementara divisi sound yang masih terasa kedodoran. Dialog-dialog yang menjadi kekuatan utama memang masih terdengar dengan jelas, namun kejernihan dan ke-crisp-an suaranya masih terasa kurang mantap.

The Essence

Cinta dan Mati adalah dua takdir yang pasti dijalani oleh setiap manusia. Jika Anda percaya tiap kejadian di dunia ini tidak mungkin merupakan sebuah kebetulan, maka keputusan dari maksud pertemuan antara Jaya dan Acid adalah untuk (saling jatuh) Cinta atau Mati, ada di tangan mereka berdua sendiri. Ada di hasil analisa persepsi Anda sebagai penonton juga, mungkin?

They who will enjoy this the most

  • Black comedy lover
  • Dialog-driven-movie’s enthusiast
  • Vino G. Bastian’s fans
  • Coupled audiences
  • General audiences, especially young adults
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id
Lihat situs resmi film ini. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Percy Jackson: Sea of Monsters



Overview

Masih ingat dengan Percy Jackson and the Lightning Thief (LT) yang diangkat dari novel fantasi laris berjudul sama di tahun 2010? Well, kesuksesan yang dirasa “cukup” membuat Fox memutuskan untuk melanjutkan franchise ini. Bukan perkara mudah lagi mengangkat novel fantasi ke film setelah beberapa judul bisa dikatakan gagal di pasaran. Let’s take Eragon atau Narnia as examples. Selera pasar yang semakin susah dibaca, menjadikan proyek semacam ini menjadi pertaruhan yang nilainya tidak sedikit.

So, here goes Percy Jackson: The Sea of Monsters (SoM), tanpa sutradara Christopher Columbus yang spesialis film keluarga. Dengan arahan Thor Freudenthal (yang juga cukup baik menangani proyek film keluarga, seperti Diary of a Wimpy Kid dan Hotel for Dogs, meski belum sekelas Columbus), most of the cast masih dipertahankan. Saya yang sangat menikmati installment pertamanya sebagai tontonan fantasi yang seru dan menghibur, setidaknya masih berharap menemukan fun yang sama di installment ini.

SoM rupanya sedikit berbeda dengan LT. Tidak seperti ekspektasi awal saya, banyak unsur-unsur fun berkaitan dengan teenage life, seperti tipsy, soundtrack-soundtrack yang lagi hits, hilang begitu saja. Padahal menurut saya, unsur-unsur tersebut yang membuat franchise Percy Jackson terasa lebih segar ketimbang cerita-cerita fantasi yang berlatarkan mitologi Yunani sejenis yang sangat marak ketika installment pertamanya rilis.

Jadi apa yang tersisa yang masih bisa dinikmati dari SoM? Tentu saja, sajian petualangan seru masih mendominasi durasi. Ada kejadian-kejadian seru dan gimmick-gimmick keren dari “dunia antah-berantah” yang diperkenalkan di sini. Sedikit mengingatkan kita akan formula franchise petualangan lain, terutama Harry Potter di beberapa adegan, tetapi dibungkus dalam kemasan yang berbeda dan tetap keren. My favorite part, of course, the trip with the Gray Sisters’ Chariot of Damnation. It’s fun, wild, and exciting.

Kehadiran karakter-karakter baru, seperti Tyson, half-brother Percy, Kronos, dan Clarisse, tampaknya tidak begitu memberikan pengaruh impresi apa-apa bagi keseluruhan film. Bukan salah para aktornya. Mungkin hanya porsinya dalam cerita yang kurang mendukung.

Overall, SoM masih merupakan tontonan yang enjoyable di  waktu senggang. Meski tidak bisa dipungkiri, easily forgettable, even more than the first installment.

The Casts

Tidak ada perubahan signifikan dari ketiga pemeran karakter utama, Logan Lerman, Brandon T. Jackson, dan Alexandra Daddario. But I have to admit, Daddario terlihat (dan juga terasa) lebih menarik di sini. Mungkin faktor kedewasaan.

Di lini karakter baru, Douglas Smith sebagai Tyson terasa yang paling menonjol. Selain karakteristiknya yang memang menarik dan porsinya cukup banyak, Smith mampu membawakannya dengan sangat baik. Sementara pemeran Kronos, Robert Knepper, terasa agak miscast. Selain posturnya yang menurut saya tidak cocok, kharismanya sebagai villain juga masih teramat sangat kurang. Untung saja pemilihan Leven Rambin sebagai Clarisse terasa lebih fit in, meski belum bisa dikatakan berkarakter cukup kuat.

Di antara semua cast pendukung, mungkin hanya nama Stanley Tucci yang paling senior. Meski perannya tidak begitu banyak, namun kemunculannya cukup memberikan momen tersendiri.

Technical

Ada banyak penonton yang mencemooh visual effect SoM. Di mata saya, memang sih banyak visual effect, terutama tampilan pusaran air di Sea of Monster. But I won’t complain at all. It’s not that bad anyway. In matter of fact, I like the monsters’ designs. Terutama mechanical bull yang didesain dengan sangat keren.

Divisi sound effect menghasilkan kualitas yang cukup baik untuk tipikal film aksi petualangan seperti ini. Tidak luar biasa, tapi cukup menghidupkan adegan sebagaimana mestinya.

The Essence

Sama seperti filmnya sendiri, everything isn’t always as bad as it looks.

They who will enjoy this the most

  • Those who enjoyed the first installment
  • Greek-mythology-based adventure story
  • General audiences who seek for light entertainment, including kids below 10
 Lihat data film ini di IMDb.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates