The Battleship Island

Hwang Jung-min, Song Joong-Ki, and So Ji-sub fought to reach freedom from the hellish Hashima Island.
Read more.

War for the Planet of the Apes

How the war with the apes will end? Read more.
Read more.

Valerian and the City of A Thousand Planets

Luc Besson to bring the classic sci-fi graphic novel to silver screen with Dane DeHaan, Cara Delevigne, and... Rihanna!
Read more.

Atomic Blonde

Charlize Theron portraying a cold bad-ass chick in Berlin Wall era.
Read more.

A: Aku, Benci, dan Cinta

Jefri Nichol, Amanda Rawles, Indah Permatasari, and Brandon Salim in a high school romance comedy.
Opens August 16.

Friday, July 26, 2013

The Jose Movie Review
The Wolverine


Overview

X-Men adalah aset paling penting bagi Marvel selain tentu saja The Avengers’s universe. Maka meski kisah induknya di ranah film telah disudahi di X-Men: The Last Stand (XLS), masih banyak side-story yang bisa digali lebih dalam dan tak kalah menariknya. Ada X-Men Origins: Wolverine (XOW) 2009 lalu X-Men First Class di 2011, dan X-Men: Days of Future Past (XDFP) yang dijadwalkan tahun depan (2014). Namun sebelum menikmati seri terbarunya tersebut, Wolverine, karakter mutant paling menonjol karena punya ability yang bisa digali lebih dalam, dibuatkan 1 film lagi bertajuk The Wolverine.

Dari judulnya jelas bahwa film ini semata-mata menonjolkan kisah karakter Wolverine yang berdiri sendiri, tidak memiliki afiliasi apa-apa dengan plot utama X-Men, baik tentang akademi yang didirikan oleh Prof. X maupun tentang perseteruan mutant dan manusia. Hanya ada penampilan satu karakter X-Men induk yang lebih karena punya interaksi personal dengan Wolverine sekaligus penanda bahwa setting cerita di sini adalah pasca XLS. Tak lupa adegan mid-credit yang lebih merupakan teaser dari XDFP. So, you will be so na├»ve if you’re expecting the same story scale. It’s much more personal here.

Jika XOW hanya memaparkan pengalaman-pengalaman hidup yang pernah dialami seorang Wolverine dari kecil hingga mendapatkan cakar adamantium, di The Wolverine, kita diajak untuk menyelami sisi psikologis Logan lebih dalam, terutama pasca kejadian di XLS. Mungkin ada yang merasa ini seperti langkah mengekor kebanyakan film superhero beberapa tahun belakangan yang membuat kisah superhero dari sisi manusiawinya. Tak ada yang salah, apalagi subjek ceritanya berbeda jauh dengan, misalnya Batman maupun Superman versi Nolan. Sama-sama merasakan dilematis untuk berhenti menjadi superhero dan memulai hidup sebagai manusia biasa. Namun ada alasan yang lebih kuat bagi Logan untuk menjadi manusia “normal”, mengingat statusnya yang immortal. Di banyak bagian, penonton diajak untuk ikut merasakan “kutukan” Logan dan memahami keinginan yang seolah-olah berbanding terbalik dengan pola pikir kebanyakan orang.

Jepang (Tokyo) yang dijadikan background cerita pun bukan asal tempel. Selain tentu saja mengeksploitasi keindahan budayanya, ada korelasi tema yang cukup kuat dengan tema pilihan hidup yang menjadi isu utama Logan di film. Mungkin kita yang tinggal di Asia menganggap side-story yang bertemakan perebutan kekuasaan sudah klise dan jamak diangkat. Namun tak bisa dipungkiri kisah itu sangat Asia sekali. Dengan kecurigaan faktor kemiripan sifat (genetis) antara Mariko (cucu Yashida) dan Yashida, ketimbang Shingen yang putra kandung Yashida, menunjukkan pola pikir masyarakat Timur yang cenderung pro terhadap orang-orang yang memiliki kemiripan.

Kontras pola pikir terhadap hidup dan takdir antara Barat dan Timur juga direpresentasi oleh Yashida yang merasa perlu hidup selamanya dan Logan yang cenderung menghindari takdirnya sebagai immortal dan pahlawan. Juga, karakter Mariko yang menjelaskan perbedaan value antara masyarakat Barat yang serba rasional dan Timur yang serba memiliki makna di balik setiap tanda. Tak hanya perbedaan, ada juga budaya Jepang yang digunakan sebagai metafora Logan. Pemaparan yang menarik untuk disimak dan dikaji untuk saling memahami kedua budaya yang berbeda ini.

Adegan revealing di menjelang akhir film cukup mengejutkan saya. Sebelum-sebelumnya saya sudah curiga akan hal tersebut, namun I thought it will only be my wildest fantasy. But then IT CAME TRUE! Anda tak bisa membayangkan betapa girangnya ketika fantasi terliar saya benar-benar terjadi di layar dan menggenapi tema besar yang saya tangkap sepanjang film.

James Mangold selaku sutradara sebenarnya lebih sering menggarap drama berkelas Oscar seperti Girl, Interrupted, Walk the Line, dan 3:10 to Yuma, namun ternyata mampu menunjukkan kepiawaiannya dalam menggarap adegan-adegan aksi yang tak hanya seru dan menegangkan, tetapi juga brutal. Melibatkan banyak senjata tajam (termasuk cakar adamantium Logan sendiri) hanya minus detail adegan darah secara explicit untuk menjaga rating PG-13-nya. Tingkat kebrutalannya di atas rata-rata film superhero (bahkan XOW) tetapi tidak sevulgar Kick-Ass. Ada cukup banyak adegan aksi favorit saya, terutama ketika di atas kereta supercepat.

Komplain yang paling menonjol mungkin ada beberapa adegan yang memiliki dialog penjelasan masa lalu yang terlalu lama. Tak terlalu mengganggu pace keseluruhan, tetapi kehadirannya cukup sering.
So overall, sebelum mengharapkannya seperti film-film superhero kebanyakan, lebih baik Anda merubahnya dulu untuk dapat menikmatinya secara maksimal. Ada makna lebih dalam yang terkandung di dalamnya. Personal, sama sekali tidak epic, tetapi merupakan isu personal yang menarik serta penting untuk diangkat.

The Casts

Selain Hugh Jackman yang sudah sangat menyatu dengan karakter Logan/Wolverine, tidak ada nama yang benar-benar familiar mendukung di sini. Namun bukan berarti tidak menonjol. Jelas Tao Okamoto (Mariko) dan Rila Fukushima (Yukio) berhasil mencuri perhatian sepanjang film. Terutama Tao Okamoto yang so gorgeous dan Rila Fukushima yang kick-ass. Penampilan yang sangat baik yang mana ini merupakan film panjang pertama bagi keduanya.

Pencuri perhatian lain adalah aktris Rusia, Svetlana Kodchenkova sebaga Viper yang seksi mematikan. Anggap saja pengganti Mystique berwajah Kim Catrall dengan selera fashion Lady Gaga.

Technical

Secara garis besar tak ada perkembangan signifkan special fx di sini, tetapi ada 1 hal yang menurut saya sangat impresif, yaitu ranjang pasien yang dipakai oleh Yashida. Sangat keren dan saya yakin bakal sangat berguna jika suatu hari benar-benar diwujudkan di dunia nyata.

Poin plus di lini teknis lainnya harus saya sematkan pada score gubahan Marco Beltrami yang menggabungkan musik modern dengan elemen-elemen Asia yang eksotis. Hasilnya, tak hanya blended dengan adegan secara keren, tetapi juga berhasil menjadi cukup memorable dalam ingatan.

The Essence

Manusia selalu cenderung tidak menyukai takdirnya. Yang mortal ingin hidup selamanya, yang immortal ingin hidup normal. Padahal tiap orang lahir dengan takdir yang berbeda-beda. Kebanyakan dari masyarakat (tak hanya yang hidup di Timur, tetapi juga di Barat) tidak menerima orang-orang yang takdirnya “berbeda”, seperti yang dialami oleh para mutant, tanpa menyadari tiap takdir memiliki fungsi sendiri-sendiri dalam society. But inn the end, living our destiny to the fullest is the best way of living life.

They who will enjoy this the most

  • X-Men’s fans, especially Wolverine
  • Audience who seek deeper aspects than a full-action superhero movie
  • Japanese cultural enthusiasts
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, July 12, 2013

The Jose Movie Review
The Heat


Overview

Tahun 2011 silam dunia perfilman Hollywood dihebohkan oleh sebuah film komedi yang cukup berani memasang karakter-karakter wanita dalam sebuah komedi seks gila-gilaan, Bridesmaids. Ada yang menyebutnya “female American Pie” dan “female Road Trip”. Wanita bisa dibilang jarang ditempatkan sebagai subjek dalam komedi seks. Mungkin hanya Sex and the City yang paling dikenal, itu pun tidak murni komedi seks karena sebenarnya memiliki content yang cukup berat. Tak heran jika kemudian Bridesmaids meledak di pasaran dan membuat orang-orang yang terlibat di dalamnya angkat nama. Selain Kristen Wiig, ada nama Melissa McCarthy yang sebenarnya sudah cukup dikenal lewat serial kondang Gilmore Girls namun dengan karakteristik yang jauh berbeda. Nama Melissa lantas melambung sebagai komedian wanita yang memiliki keunikan karakteristik sendiri; kasar, nyinyir, dan seringkali tidak senonoh. Berturut-turut ia tampil di This is 40, Identity Thief, dan terakhir ikut bergabung dalam Hangover Part III.

Kali ini sutradara Paul Feig yang juga mengarahkan Melissa di Bridesmaids, memasangkannya dengan Sandra Bullock yang meski pernah memenangkan Oscar tetapi juga punya track record cukup baik di genre komedi. Membaca premisenya saja, penonton yang mengenal keduanya tentu bisa langsung membayangkan akan seperti apa keseruan dua wanita “nyentrik” ini ketika dipertemukan dan “diadu”. Benar saja, meski dengan storyline good cop-bad cop (or crazy cop?) yang cukup familiar namun dengan gender yang berbeda, sebut saja Bad Boys dan Training Day, The Heat masih mampu terasa segar sepanjang durasi. Tentu saja jualan utamanya bukanlah ide cerita yang fresh atau storyline yang tak terduga. Saya lebih mengharapkan nyinyiran-nyinyiran dan profanity cerdas apa saja yang kali ini keluar dari mulut McCarthy dan bisa saya dengarkan serta tertawakan sekeras-kerasnya. Atau menyaksikan tingkah kecanggungan Bullock seperti yang pernah ia tampilkan di Miss Congeniality. Ya, kesemuanya itu terbayarkan dengan memuaskan. Aneka bentuk guyonan mulai slapstick, spoof, celetukan-celetukan pedas nan vulgar, olokan-olokan cerdas, tingkah laku tak senonoh, hingga black comedy yang melibatkan kekerasan, digelar lengkap sepanjang durasi yang hampir dua jam. Those are very hilarious, terutama jika Anda mengerti dialog-dialog asli dalam bahasa Inggrisnya. Terakhir kali saya tertawa terbahak-bahak dengan tingkat ketulusan yang sama adalah ketika menyaksikan Ted tahun lalu.

Meski demikian, penulis naskah Katie Dippold dan Feig tak luput untuk memberikan perkembangan karakter dan chemistry yang wajar untuk McCarthy dan Bullock. Selain itu di balik keseruan membangun plot crime dan elemen-elemen penggelitik urat tawa, ia juga memberikan sentuhan-sentuhan hearty di banyak kesempatan. Sungguh sebuah paket hiburan segar yang manis untuk disimak. Sayang untuk dilewatkan begitu saja di tengah gempuran summer movie yang lebih banyak menggempur dengan adegan-adegan aksi sarat visual effect bombastis.

The Casts

Oh tak perlu meragukan chemistry McCarthy dan Bullock yang berkembang dengan sangat baik sepanjang film dengan keunikan masing-masing.

Di lini pemeran pendukung, Dan Bakkedahl tampil cukup menonjol berkat spoof  tentang stereotip karakter albino yang diperankannya. Tak ketinggalan nama-nama kondang yang turut mengisi peran pendukung seperti Marlon Wayans yang kita kenal lewat franchise spoof Scary Movie dan mantan anggota New Kids on the Block, Joey McIntyre.

Technical

Tak ada elemen yang begitu menonjol maupun unik dari segi teknis. Meski demikian kesemuanya berada pada kadar yang pas dan seimbang sesuai dengan kebutuhan delivering cerita.

Satu hal paling notable bagi saya pribadi adalah pemilihan soundtrack-nya yang meliputi berbagai era dan terasa sangat pas dengan masing-masing adegan. Sebut saja The Hives, LCD Soundsystem, Luther Vandross, The Isley Brothers, Boston, Journey, bahkan Vengaboys. Penonton dari generasi 80an hingga awal 2000-an bisa bersorak ketika single-single yang familiar di telinganya diletakkan secara gokil pada tempatnya.

The Essence

Seringkali the people we hate the most justru memiliki karakteristik yang tak beda jauh dengan diri kita sendiri. But in some point, keduanya bisa menjadi kekuatan yang tak bisa diremehkan jika dipersatukan dengan tepat. Ingat proverb “your worst enemy can be your best friend”.

They who will enjoy this the most

  • Penonton yang tak keberatan atau malah cenderung menikmati guyonan-guyonan kasar, tak senonoh, namun cerdas
  • Fans Melissa McCarthy maupun Sandra Bullock
  • General audiences who seek for fun entertainment and understand English pretty well
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, July 11, 2013

The Jose Movie Review
The Lone Ranger (2013)


Overview

The Lone Ranger (TLR) bisa jadi adalah salah satu franchise tertua. Berawal dari sandiwara radio di era 30-an, ia sudah pernah menjelma dalam serial TV, novel, komik, hingga video game dan tentu saja merchandise-merchandise. Bahkan ada yang berpendapat bahwa siapapun yang mengenal dunia wild west, baik itu melalui film atau serial TV, ia mengenalnya melalui TLR. Sayang, tema wild west yang semakin dijauhi studio (dan juga penonton) beberapa tahun belakangan ini menjadikannya semakin dilupakan orang. Apalagi adaptasi layar lebar terakhirnya, The Legend of the Lone Ranger sudah 32 tahun yang lalu. Hasilnya dicaci maki kritikus dan penonton pula. Sementara versi FTV terakhir tahun 2003 meski dengan Chad Michael Murray sebagai pemeran utama namun tidak begitu dikenal.

So it’s about time and could be a lil’ bit of gambling bagi Disney untuk kembali mengangkat karakter serta universe TLR di tengah penonton yang lebih suka aksi superhero dengan special effect modern gila-gilaan. Dana yang dianggarkan Disney pun tak main-main, US$ 250 juta! Maka pemilihan Johnny Depp dan Gore Verbinski untuk membangun konsep teranyar TLR adalah strategi penting agar dilirik oleh penonton modern. Merujuk pada kesuksesan franchise The Pirate of the Caribbean (PotC), kolaborasi keduanya mau tak mau turut mempengaruhi hasil akhir dan juga ekspektasi penonton.

Dari trailernya saja sudah terlihat bagaimana karakter legendaris Tonto dibawakan Johnny Depp dengan banyak merujuk pada karakter Jack Sparrow. Mulai dari dandanan hingga gesture meski tidak sama persis. Secara struktur cerita pun sebenarnya banyak mengikuti gaya PotC. Gaya Gore Verbinski sebenarnya, jika kita juga memasukkan Rango sebagai referensi. Durasi yang mulur hingga nyaris dua setengah jam bagi beberapa penonton mungkin terlalu panjang apalagi pace-nya yang tidak melulu diisi adegan aksi spektakuler.

TLR memanfaatkan nyaris tiga perempat durasinya untuk memberi ruang kedua karakter utamanya, Tonto dan John Reid untuk mengembangkan karakter sekaligus naik-turun buddy-chemistry antara saling dukung dan saling serang secara seimbang yang in my opinion, very interesting. Sedikit mengingatkan chemistry antara Robert Downey Jr. dan Jude Law di Sherlock Holmes versi Guy Ritchie. Dibumbui dengan humor di mana-mana, mengalir lancar, namun tetap saja bagi beberapa penonton terasa draggy terutama jika hanya melihat plot kejar-kejaran dengan kelompok antagonis yang dipimpin Butch Cavendish saja. Alangkah baiknya jika Anda menikmati saja alur dan gelaran humornya sepanjang durasi.

The best part dari TLR versi terbaru tentu saja pada adegan aksi menjelang klimaks yang membangkitkan memori saya akan keseruan dan keasyikan menonton film wild west (dengan bahasa saya dulu ketika kecil, film koboi), baik dari segi gimmick-gimmick adegan hingga terutama score William Tell Overture : Finale dari Gioachino Rossini yang begitu legendaris. If you like the adventure and action spirit from PotC (1-3), I can barely sure you will enjoy this one too.

So as conclusion, I like this version of TLR. Menghibur tak hanya dengan petualangan dan kelucuan khas Depp dan Verbinski, namun juga kembali menghidupkan keseruan serta keasyikan menonton film wild west klasik seperti dulu.

The Casts

Johnny Depp sekali lagi memerankan karakter eksentris yang memang sudah menjadi pilihan jalan karirnya. Tipikal terutama seperti Jack Sparrow, namun tetap appealing terutama bagi fansnya. Tak seflamboyan Sparrow dan lebih serius. Sementara pendatang baru yang selama ini hanya mendapatkan peran pendukung, Armie Hammer, cukup berhasil menyeimbangkan kharisma Depp dan membangun buddy-chemistry yang kuat dengannya. Banyak mengingatkan saya akan Bradley Cooper, but it’s okay.

William Fichtner yang kita kenal lewat peran antagonis di serial Prison Break berhasil menampakkan ke-fierce-an karakternya dengan sangat meyakinkan. Aktor senior Tim Wilkinson juga tampil cukup mengesankan. Terakhir Helena Bonham Carter yang porsinya tak banyak cukup mencuri perhatian penonton berkat keeksentrikan karakter khasnya.

Technical

Fotografi dan sinematografi merupakan kekuatan utama dari TLR. Angle-angle unik yang seolah seperti dibuat dengan tujuan tampilan 3D digelar di mana-mana, lengkap dengan penempatan opening title yang tak kalah uniknya.

Sementara teknis favorit saya adalah sound design yang begitu detail dan terdengar begitu hidup. Dengarkan suara ambience semilir angin yang menerbangkan pasir-pasir mengiringi dialog di kota. Suara mesin kereta api, kaki kuda yang melaju, ledakan, tembakan, semuanya terdengar renyah, mantap, namun jernih.

Score dari Hans Zimmer tak perlu diragukan lagi baik dalam menghidupkan keseruan adegan maupun memberikan efek berkelas. Ada beberapa yang mirip score PotC, terutama yang bernuansa sneaky, serta modifikasi score asli TLR yang membawa penonton kembali ke pengalaman wild west  klasik.

The Essence

Latar belakang cerita TLR agaknya masih relevan dengan keadaan masyarakat modern saat ini, terutama di Indonesia yang seperti berkaca dari segi kondisi pola pikir masyarakat dan strategi politisnya. Bagaimana pemerintah dan kapitalis menggunakan alasan pembangunan untuk menguasai rakyat dan bagaimana reaksi rakyat dalam menyikapi keadaan tertindasnya.

They who will enjoy this the most

  • The original The Lone Ranger’s fans
  • Wild west genre fans
  • Johnny Depp’s fans
  • General audiences who seek light and fun entertaining adventure

86th Annual Academy Awards nominee for


  • Best Achievement in Makeup and Hairstyling - Joel Harlow and Gloria Pasqua Casny
  • Best Achievement in Visual Effects - Tim Alexander, Gary Brozenich, Edson Williams, John Frazier

Lihat data film ini di IMDb.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, July 10, 2013

The Jose Movie Review
Despicable Me 2


Overview

Despicable Me (DM- 2010) adalah sebuah hit. Banyak faktor yang membuatnya demikian digemari dan menjelma menjadi franchise tambang emas bagi Universal dan Illumination Entertainment. Saya pun sangat menikmatinya karena memang memiliki banyak sekali kelebihan, mulai konsep cerita yang menarik dan unik, hingga desain karakter yang sangat “menjual”. Tak hanya minion, tetapi juga Gru, Vector, bahkan ketiga gadis yatim piatu; Margo, Edith, dan everyone’s sweetheart, Agnes. As a franchise, wajar Universal-Illumination memanfaatkannya semaksimal mungkin selagi bisa. Maka kehadiran sekuel pun sudah bisa ditebak dengan mudah bagi siapa saja.
Dengan tim yang kurang lebih sama, dirilislah Despicable Me 2 (DM2) yang sudah didahului kehebohannya berkat program Happy Meal di McD dan dirilisnya teaser-teaser trailer yang menampilkan minion dengan berbagai tingkah. Demam minion pun melanda dunia bahkan jauh sebelum filmnya resmi dirilis. Strategi promosi yang harus diakui sukses menggiring penonton ke bioskop. Terbukti dengan opening weeked melewati angka US$ 80 juta di US saja. Namun sayang nyatanya saya tidak bisa sedikit pun menikmati DM2 sebagaimana saya sangat menikmati predecessor-nya.
Saya pun penasaran untuk mengkaji lebih dalam penyebabnya. Hal paling utama yang saya temukan adalah DM2 tidak memiliki konsep cerita yang kuat dan jelas sebagaimana pendahulunya. DM punya perkembangan karakter (terutama) Gru yang jelas dan mengalir dengan lancar. Kehadiran minion dengan tingkah lakunya di berbagai adegan tak hanya lucu dan sangat menghibur, namun juga masih dalam frame cerita yang berkaitan. Lantas apa yang dilakukan kreator di DM2 ini justru sebaliknya. Iya, saya tahu dan sangat menyadari bahwa minion adalah komoditas yang sangat menjual dari franchise DM. Desain karakter yang sederhana namun unik dan berkelas ini adalah contoh desain karakter animasi yang kuat. Namun jika tidak ditempatkan dalam konsep cerita yang juga kuat maka potensi yang ada, menurut saya, terbuang sia-sia.
Coba kita cermati lagi tiap detail adegan yang ada dan rasakan. Soulless. Penonton mungkin akan tertawa terbahak-bahak melihat adegan-adegan yang menampilkan minion (yang porsinya memang jauh lebih banyak ketimbang sebelumnya) sepanjang durasi, but that’s all you got. Pondasi cerita seolah hanya menjadi background yang “asal ada”, tanpa kesinambungan yang cukup berarti dari satu adegan ke adegan lain, dan lebih parah lagi, berakhir pointless. Bagi saya, ia telah kehilangan daya tarik untuk mengikuti film hingga akhir. Mungkin saya hanya penasaran bagaimana adegan nyanyian Underwear yang begitu diributkan banyak orang.
Tiap adegan minion terasa seperti klip sketsa komedi pendek yang berdiri sendiri-sendiri, seperti Larva atau Shaun the Sheep. Dan dengan porsi yang begitu banyak, sama seperti gula jika kebanyakan juga bikin eneg, alih-alih lucu, saya malah merasa muak dengan tingkah, suara, dan bahasa yang mereka gunakan. Untuk saat ini ada baiknya saya hanya mengenal minion dari figurine saja, tak perlu bergerak, tak perlu bersuara. It’s very annoying, thanks to DM2.
Well, itu adalah pendapat pribadi dari saya. Tentu sah-sah saja jika Anda menganggap adegan-adegan minion tersebut lucu dan menghibur and has been enough of what you’ve paid for. Toh selera humor tiap orang juga beda-beda. Namun dengan kacamata objektif, tentu ekploitasi minion berlebih dan mengesampingkan aspek-aspek lainnya yang bisa memperkuat film keseluruhan, adalah penyia-nyiaan potensi yang ada. Padahal kehadiran karakter-karakter baru, seperti Lucy, Eduardo a.k.a. El Macho, bahkan Shannon, bisa jadi potensi yang tidak kalah menariknya jika mau digali lebih dalam. Sayang mereka masing-masing hanya diberi porsi show-off keunikan gesture tanpa keterlibatan yang kuat dalam plot hingga mampu menarik simpati penonton.
Tingkat humor slapstick kasar pun meningkat drastis kadarnya dari DM. Jika saya masih menganggap kadarnya di DM dalam konteks wajar dan lucu, maka segala kekerasan yang mengatas-namakan “lucu” di DM2 ini saya rasa begitu berlebihan, sudah tidak lucu lagi, bahkan risih melihatnya berada pada sebuah film animasi yang target utama audience-nya anak-anak. I think it’s another form of big exploitation in this movie which has decreasing its value a lot. What a shame.

The Casts

Like I’ve written in previous part, Steve Carell masih mampu menghidupkan karakter Gru yang unik dengan maksimal meski porsi ketertarikan karakternya sudah jauh menurun ketimbang di DM. Kristin Wiig yang mengisi suara karakter baru, Lucy, mampu mengimbangi keunikan karakter Gru berkat gesture dan karakter suaranya. Mungkin banyak penonton yang mengira pengisi suaranya adalah Gwyneth Paltrow (terutama karakter Potts di franchise Iron-Man) karena kemiripan karakter, but it’s okay. She’s still looking (and also sounding) good here.
Benjamin Bratt yang selama ini kita kenal berkat peran-peran gentleman yang charming ternyata mampu mengisi suara Eduardo, pria Mexico nyentrik bertubuh tambun, dengan sangat pantas. Good job! Tak ketinggalan icon Hangover, Ken Jeong, yang turut menyumbangkan suara khasnya untuk karakter Floyd.
Untuk pengisi suara para minion yang kebanyakan diisi oleh sutradaranya sendiri, Pierre Coffin (iya, saya sudah tahu dia anaknya Nh. Dini, sastrawati Indonesia itu), hmmmm maaf yah sudah sampai pada tahap annoying tapi tampaknya kelangsungan franchisenya bakal lancar-lancar saja, jadi ya sudahlah...

Technical

Tidak ada hal teknis yang begitu menonjol maupun berkembang dari seri sebelumnya. Animasi yang halus dan nyata, serta warna-warna vibrant yang digunakan sangat memanjakan mata. Efek 3D yang ditawarkan pun cukup worth the price (and also worth your eyes’ health). Depth of field yang cukup terasa serta gimmick-gimmick pop-out yang sengaja ditebar di sana-sini.
Pharrell lagi-lagi menyumbangkan karya-karyanya untuk mengisi soundtrack DM2. Tak hanya theme song dan single-single dari DM, tetapi juga single baru, Happy dan Just A Cloud Away. Masih mampu mengusung suasana fun dan keren. Sementara lagu-lagu spoof yang dibawakan oleh para minion menurut saya kacau balau dan tak jelas, tapi rupanya masih mampu membuat banyak orang tertawa.

The Essence

Jika di Hangover 3, tak peduli seberapa jahat seseorang tetap butuh sahabat, maka di sini ia juga butuh pendamping wanita!

They who will enjoy this the most

  • Minion’s fans
  • Penonton yang menganggap suara cempreng dan bahasa tak jelas tidaklah mengganggu, melainkan lucu
  • Penonton dari segala usia yang butuh instant entertainment super ringan. Just for laughs.

86th Academy Awards nominee for

  • Best Animated Feature
  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Song - "Happy" by Pharrell Williams
Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, July 2, 2013

The Jose Movie Review
Monsters University


Overview

Pixar adalah salah satu pionir animasi panjang 3D di dunia. Tak hanya itu, setiap karyanya jelas punya signature tersendiri dengan berbagai kelebihannya dibanding animasi 3D garapan studio sebelah. Yang paling terasa tentu saja ide cerita yang unik, kreatif, dan digarap dengan manis, serta menghibur untuk semua kalangan usia. Beberapa tahun belakangan jelas terasa ada kekendoran dalam signatural-signatural tersebut di karya-karya mereka. Let’s say Cars 2 dan Brave. Tak buruk memang, tapi image yang sudah terlanjur melekat itu mau tak mau menimbulkan ekspektasi yang cukup tinggi dari penonton, terutama fansnya. Tentu ini adalah sebuah beban bagi Pixar yang kadangkala ingin juga keluar dari pakemnya selama ini.

Monsters, Inc. (MI) mungkin bukan judul animasi paling populer di antara karya Pixar lainnya. Toy Story jelas yang terkuat. Up, Wall-E, The Incredibles, Finding Nemo, dan Cars bahkan masih di atas MI dari segi popularitas. Namun bagi saya pribadi, MI memiliki ide cerita yang brilian dan desain karakter yang keren, satu tingkat di bawah Toy Story di antara karya Pixar yang lain. That’s why ketika kabar prekuelnya tersiar, saya adalah salah satu yang paling antusias untuk melihat lagi Mike, Sulley, dan monster-monster lainnya di layar lebar.

Menilik ceritanya yang berlatar belakang dunia kampus, jelas ada banyak sekali unsur-unsur klise Hollywood khas film remaja yang dipakai di sini. Mulai dari nama-nama asrama berbau Yunani hingga yang paling penting, persaingan mahasiswa populer dan geek. Oh yes, Monsters University masih mengusung tema klasik film remaja : perjuangan seorang (atau sekelompok) geek dalam melakukan aksi social-climbing ke lingkungan yang populer. Namun penulis naskah Gerson-Baird-Scanlon berhasil merangkai tema klise tersebut dalam sebuah plot yang masih terasa menarik, fun, dan yang paling penting mampu membangkitkan nuansa warm dari karakter-karakter yang ada sehingga dengan mudah mengundang simpati penonton.

Kisah disampaikan dalam kemasan “scare game” yang sedikit banyak mengingatkan kita akan Harry Potter and the Goblet of Fire atau film Hindi Student of the Year. Cara yang cukup jitu dalam mendeliver cerita dengan sajian yang seru dan menghibur. Belum lagi berbagai jenis humor, mulai yang bersifat karakteristik, slapstick, hingga dialog, dilontarkan di sana-sini untuk menghibur berbagai kalangan usia penonton. Tak hanya anak-anak, remaja dan orang dewasa pun akan menikmatinya. Barangkali Pixar belajar dari animasi-animasi DreamWorks yang lebih menghibur (baca: lebih gokil) untuk golongan penonton yang tak lagi anak-anak. Bagi penonton anak-anak sekalipun, guyonan-guyonan MU masih aman dan menyisakan humor-humor ringan yang mudah dipahami oleh anak-anak. In short, Pixar kali ini memang terasa lebih banyak mengedepankan sisi menghibur untuk berbagai kalangan ketimbang sisi “manis” dan “pesan moral” seperti biasanya, namun tanpa menghilangkannya sama sekali. It really works.

Sisi “fun” dari film lantas mendadak berubah menjadi serius di seperempat terakhir film. Tentu saja perubahan yang cukup drastis ini membuat (bahkan) saya shock. Sekilas seolah merusak aura yang telah dibangun sejak awal. Namun mengikutinya hingga akhir, saya pun menyadari bagian itu memang harus ada untuk memberikan jalinan cerita (dan karakteristik) yang utuh. Untung saja MU menutup bagian ini dengan manis yang akhirnya membuat penonton tersenyum puas menyaksikan gelaran Pixar kali ini. Prosentase komposisi yang tak biasa dari Pixar namun masih efektif dan tentu saja masih sangat menghibur.

PS. : animated short sebelum film utama, Blue Umbrella manis dan cantik. Sedikit mengingatkan saya akan music video I Do-nya Colbie Caillat (termasuk musik pengiringnya). Jangan ketinggalan pula after credit yang gokil!

The Casts

Billy Crystal dan John Goodman kembali mengisi suara Mike dan Sulley dengan kualitas karakteristik serta chemistry yang sama kuat. Di lini karakter baru, jelas suara Helen Mirren sebagai Dean Hardscrabble terdengar paling khas dan sesuai dengan karakternya. Begitu pula Alfred Molina yang mengisi suara Professor Knight.

Technical

Animasi 3D Pixar tak perlu diragukan lagi, selalu setingkat lebih maju di tiap karyanya. Mulai tingkat kedetailan gambar hingga pergerakan yang semakin hidup. Unsur yang tak kalah menonjol di MU adalah sound yang remarkable dan semakin menghidupkan adegan-adegan ambience. Dukungan Dolby 7.1 (dan mungkin lebih lagi di tata suara Dolby Atmos) jelas termanfaatkan secara maksimal di tiap detail suaranya, termasuk score Randy Newman.

The Essence

Ada cukup banyak esensi yang bisa ditarik dari MU. Namun mengingat kesinambungan cerita dengan MI, saya menyukai yang satu ini : those who you think are your closest friends could be your worst enemy and otherwise, those who you hate the most could be your best friends one day. And above all, yang sedang aktual dengan keadaan saya sekarang: selalu ada cara untuk mencapai cita-cita meski tak sesuai rencana. Believe and make it happen (laaah….?!).

They who will enjoy this the most

  • Monsters, Inc.'s fans
  • Pixar's fans
  • General audiences, from toddlers, kids, teenagers, adults, to elderly
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
World War Z


Overview

Zombie, the trailer, the poster, Brad Pitt…  semuanya sudah menggugah rasa penasaran penonton akan World War Z (WWZ), sampai rating resmi dari MPAA keluar : PG-13. Well rating tersebut sebenarnya sudah diincar oleh pihak studio (Paramount) ketika produksi, tetapi tentu saja tema zombie yang sudah terlanjur lekat dengan image berdarah-darah dan gore akan terkesan lembek jika “dipaksa” untuk menyesuaikan dengan rating aman (atau cupu?) PG-13. Itu baru dari segi rating. Konon menurut kabar  yang beredar selama ini, produksi WWZ sendiri diwarnai berbagai drama, mulai bongkar-pasang kru (termasuk penulis naskah), over budget (dari rencana awal US$ 150 juta membengkak hingga nyaris US$ 250 juta), Pitt (selaku salah satu produser) dan sutradara Marc Forster yang digosipkan sampai enggan bicara satu sama lain, hingga pihak studio yang tidak puas dengan hasil editing pertama. Jadilah potensi franchise baru bagi Paramount yang penuh kontroversi dan berdampak meragukan banyak penonton.

Melihat hasil akhirnya, segala kendala yang terjadi selama proses produksi saya rasa cukup terbayarkan. Terlepas dari hasil box office-nya yang tidak mudah diprediksi (ada yang mengatakan WWZ butuh setidaknya pemasukan US$ 400 juta dari seluruh dunia untuk sekedar balik modal), WWZ bisa dianggap sebagai sesuatu yang agak berbeda dari tema zombie kebanyakan. Terlalu berlebihan jika disebut “re-invented the genre”, namun WWZ memang cukup inovatif dalam membangun teori-teori dan dunianya sendiri. Salah satu yang paling menonjol adalah karakteristik zombie dengan kemampuan berlari dan memanjat yang agresif. Kontroversial, ada yang suka namun ada pula yang menyebutnya tidak logis. Speaking of logic, menurut saya setiap film berhak menentukan logikanya sendiri, terlepas dari logika umum atau logika fiktif yang sudah terlanjur stereotip seolah seperti logika faktual. Baru akan menjadi masalah apabila film mengingkari logika yang telah dibangunnya sendiri. WWZ didn’t (atau setidaknya belum).

Forster selama ini lebih banyak mengarahkan film drama emosional seperti Monster’s Ball, Finding Neverland, dan The Kite Runner. Sekalinya mengarahkan film aksi blockbuster, Quantum of Solace, ia justru mendapatkan cacian terutama dari penggemar James Bond. Namun kali ini rupanya ia cukup berhasil membawa ketegangan dan kengerian ala film-film zombie lain secara maksimal meski harus meminimalkan penampakan-penampakan adegan kekerasan yang terlalu frontal dan vulgar. Dengan skala cerita yang ‘global’, dimana melibatkan beberapa negara, seperti Korea Utara, Israel, dan Rusia, jelas WWZ telah membawa sub-genre zombie ke level yang lebih tinggi. Setidaknya setara dengan sub-genre disaster dan alien.

Secara cerita, jelas WWZ punya materi cerita yang lebih dalam dan menarik dari sekedar zombie survival. Strukturnya masih template tipikal Hollywood, tapi diramu dengan cukup menarik dengan memasukkan fakta-fakta sesungguhnya ke dalam cerita fiktif. Favorit saya adalah bagaimana ia memanfaatkan fakta negara Israel dan Korea Utara yang seolah-olah selalu siap menghadapi berbagai serangan dari luar untuk membangun pondasi cerita. Kreatif, menarik, dan cerdas.

Penggunaan karakter-karakter pendukung yang dibongkar-pasang di setiap segmen untuk memback-up karakter Gerry Lane bisa menjadi kekuatan maupun kelemahan bagi WWZ. Di satu sisi tentu saja ini dapat menonjolkan karakter utama Gerry Lane menjadi sangat kuat di benak penonton. Namun salah-salah, karakter-karakter pendukung yang seharusnya potensial untuk memorable, menjadi terlupakan begitu saja oleh penonton. Belum lagi jika penonton sudah mulai bosan dan muak dengan porsi peran karakter tunggal yang terlalu mendominasi. But in this case, skrip rupanya memberikan porsi yang cukup adil untuk karakter-karakter pendukung. Memang tidak semuanya bisa tampil memorable, namun setidaknya ada satu-dua yang mampu menarik simpati penonton, sementara yang lainnya hanya menjadi bahan lelucon. Semoga saja ke depannya karakter Gerry tidak semakin dibuat “one man show” yang bisa dengan mudah menghancurkan bangunan cerita serta universe WWZ yang telah dibangun di sini.

Jangan keburu kecewa dengan ending WWZ yang seolah tidak klimaks. Paramount dan juga Plan B (production house milik Brad Pitt) memang sejak awal ingin menjadikan kisah yang diadaptasi dari novel karya Max Brooks, World War Z: An Oral History of the Zombie War, menjadi sebuah franchise besar, setelah judul-judul franchise Marvel-nya telah diambil alih oleh Disney. Jadi apa yang telah dibangun di sini sebagai sebuah pondasi awal, baik dari segi cerita, karakter, dan universe, adalah hal yang terpenting untuk diperhatikan sekaligus menjadi landasan ekspektasi untuk proyek lanjutannya. For that purpose, it might not be so special but it’s been good enough so far.

The Casts

Pasca Mr. & Mrs. Smith, Pitt seolah-olah selektif dalam memilih peran. Tak lagi mengincar peran-peran utama di film-film blockbuster, ia justru tampil di film-film yang cenderung ‘independen’ dan berkelas award seperti di Babel, Tree of Life-nya Terrence Mallick, The Curious Case of Benjamin Button, Inglourious Basterds, Moneyball, dan terakhir Killing Them Softly yang juga diproduserinya. Kini ia kembali memerankan karakter blockbuster dan meski juga sudah tak lagi muda, kharismanya sebagai jagoan utama masih terasa kuat sepanjang film.

Selain dari itu tidak ada nama-nama kondang lain yang menghiasi layar. Meski demikian penampilan Daniella Kertesz sebagai Segen terasa paling memorable di antara karakter-karakter pendukung lainnya.

Technical

Dengan skala cerita yang global, WWZ dituntut untuk menghadirkan adegan penyerangan zombie yang juga besar-besaran dan berkali-kali. Favorit saya adalah adegan zombie-zombie yang bertumpukan hingga mampu menembus tembok tinggi yang dibangun oleh pemerintah Israel. Tampak begitu epic dengan wideshot dan begitu menegangkan ketika medium dan close-up shot. Sinematografinya mampu mengcover kedua kebutuhan tersebut dan menjadikannya film blockbuster yang memuaskan.

Score yang banyak menggunakan unsur tekno dari Marco Beltrami mendukung adegan-adegan menegangkan dengan nuansa industrial yang cukup kental. Sound effectnya turut memberikan pengaruh yang cukup massive dalam menghadirkan ketegangan demi ketegangan. Keseimbangan antara dentuman suara yang menggelegar dan kejernihan silent terjaga dengan sangat baik. Editing oleh Roger Barto dan Matt Cheese memberikan pace yang tepat sebagai film blockbuster yang menghibur maupun film yang punya cerita yang kuat untuk di-deliver.

The Essence

Sometimes it took our loved ones for the greater cause.

They who will enjoy this the most

  • Zombie fans
  • Thrilling-action lovers
  • Brad Pitt’s fans
  • General audiences who seek gripping and thrilling entetainment
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates