The Battleship Island

Hwang Jung-min, Song Joong-Ki, and So Ji-sub fought to reach freedom from the hellish Hashima Island.
Read more.

War for the Planet of the Apes

How the war with the apes will end? Read more.
Read more.

Valerian and the City of A Thousand Planets

Luc Besson to bring the classic sci-fi graphic novel to silver screen with Dane DeHaan, Cara Delevigne, and... Rihanna!
Read more.

Atomic Blonde

Charlize Theron portraying a cold bad-ass chick in Berlin Wall era.
Read more.

A: Aku, Benci, dan Cinta

Jefri Nichol, Amanda Rawles, Indah Permatasari, and Brandon Salim in a high school romance comedy.
Opens August 16.

Monday, June 24, 2013

The Jose Movie Review
Man of Steel


Overview

Superman adalah sebuah legenda di dunia komik. Namun ketika demam comic superhero diangkat ke layar lebar sejak era 2000-an, entah kenapa seolah jarang ‘disentuh’ maupun ‘dilirik’. Percobaan pertama setelah 19 tahun, Superman Returns (2006) besutan Bryan Singer banyak mendapatkan kritikan baik dari kritikus maupun fans. Banyak aspek yang membuatnya tidak disukai penonton dan tentu saja fans setia Superman. Padahal jika mau dilanjutkan, SR punya materi cerita yang cukup menarik untuk dikembangkan. Namun Warner Bros selaku pemegang hak cipta tokoh-tokoh DC Comics lebih memilih untuk me-reboot superhero legendaris asal Planet Krypton ini.
Seperti halnya trilogi TDK, Nolan-Goyer menerapkan konsep yang serupa. So tidak adil rasanya jika penonton menjatuhkan vonis hanya dari seri ini saja. Setidaknya bagi saya kisah MoS sudah memiliki arah cerita yang jelas untuk seri-seri berikutnya. Ia tahu apa yang ingin diceritakan dan apa yang ingin dicapai melalui karakter utamanya. Tak seperti franchise-franchise superhero lainnya yang tiap serinya bisa berdiri sendiri, terpenting ada karakter villain baru, tanpa perlu arah perkembangan karakter yang berarti di tiap serinya (colek superhero-superhero Marvel). Memang sistem sekuel berdiri sendiri adalah langkah aman jika film yang diproduksi tidak begitu laris di pasaran sehingga tidak ada tanggungan untuk membuat sekuelnya. Sebaliknya, sistem sekuel berkelanjutan seperti sebuah pertaruhan. Jika filmnya tidak begitu menguntungkan, diproduksi sekuelnya meragukan apakah hasilnya bisa membaik, tidak diproduksi pun akan mengecewakan fans yang telah menantikan kelanjutannya. Reputasi studio dipertaruhkan.
Tak tanggung-tanggung, DC dan WB kembali menunjuk Christopher Nolan dan David S. Goyer untuk mengkonsep ulang kisah Si Manusia Baja. Dengan kesuksesan reboot Batman dalam The Dark Knight Trilogy tentu saja DC (dan fans yang juga puas dengan trilogi TDK) berharap banyak. Well, setiap hal yang dimulai dari awal lagi pasti menimbulkan pro dan kontra, antara yang suka maupun tidak suka. Apalagi bayang-bayang prodesesornya yang kerap menjadi pembanding dalam segala aspeknya. Wajar, namun akan lebih bijak jika kita melihat segalanya dengan konteks masa kini dimana generasi berubah, begitu pula dengan pola pikir dan pandangannya. Itulah yang dilakukan oleh Goyer dan Nolan. Meski tak duduk di bangku sutradara, pengaruh keduanya begitu terasa kuat sepanjang film. Man of Steel (MoS) adalah kisah Superman yang dibangun dari awal dengan cukup detail dan efektif, meski tak sekelam atau seberat konsep trilogi TDK. Banyak unsur-unsur klasik dari kisah originalnya yang tak hanya ditampilkan, namun sekaligus dijelaskan dengan rasional sesuai dengan ‘tuntutan masa kini’. That’s one good thing from this version and I appreciate it a lot. Meski ada perubahan yang cukup substansial bagi keseluruhan cerita, namun bagi saya tidak begitu mencederai kesetiaannya pada kisah asli. Justru jika dipikir-pikir lagi justru memberi porsi peran yang lebih banyak dan kuat bagi salah satu karakter.
Mulai dari titik nol, kita kembali dibawa ke Krypton ketika di ambang kehancuran, hingga Clark Kent alias Kal-El yang sudah beranjak dewasa dan mencari jati dirinya yang ‘berbeda’ dengan manusia biasa. Paruh pertama yang cukup padat ini terangkum dengan baik dan efektif. Terasa lompat-lompat berkat adegan-adegan flashback, namun masih nyaman diikuti dan sesuai dengan konteks adegan yang sedang berlangsung. Tema peran ayah, baik yang berstatus kandung maupun angkat, disampaikan dengan sangat menyentuh dan menonjol dibandingkan aspek lainnya. Tak ketinggalan metafora Yesus Kristus yang sangat terasa di banyak adegan dan aspek cerita, diselipkan di sana-sini, yang bagi saya semakin memperkuat konsep cerita.
Di paruh kedua film, dimana lebih banyak dimanfaatkan untuk memompa habis adegan-adegan aksi spektakulernya, barulah pengaruh sang sutradara, Zack Snyder sangat terasa. Meski tak menampilkan slow-mo yang sudah menjadi signature-nya, pace dan visualisasi adegan-adegan aksi sekaligus destruktif ala Snyder sudah tak perlu diragukan lagi. Mungkin sedikit mengganggu ketika selalu ada dialog antara Superman dan musuh (baik Zod maupun Faora-Ul) setiap sebelum bertarung. Tetapi semuanya tertutupi oleh adegan-adegan penghancuran kota Metropolis yang spektakuler. Tidak sampai senorak Transformers meski dalam skala yang mungkin jauh lebih luar besar.
Saya sangat puas dengan konsep Superman versi Goyer-Nolan ini. Tak hanya memberikan tebaran hint-hint yang membuat penonton menebak-nebak (dan pastinya expect for more) kisah selanjutnya, namun juga berhasil menggelitik penonton akan kemungkinan proyek Justice League setelah kisah Superman ini usai. Dengan kata lain, sesuai arti logo di dada Superman, MoS memberikan banyak “harapan” kepada penonton dan fans setia Superman ke depan. Dengan pondasi dasar yang sudah cukup kuat di sini, semoga saja MoS tidak memberikan harapan-harapan palsu ke depannya.

The Casts

Henry Cavill tentu mendapatkan sorotan utama dimana ia sempat diragukan karena faktor fisik (baca: wajah) yang berbeda dengan image Clark Kent ala Christopher Reeve yang begitu melekat selama ini. Keraguan itu sirna ketika Cavill nyatanya berhasil memberikan nafas baru bagi karakter Clark Kent. Masih memiliki kharisma yang sama kuat meski disesuaikan dengan parameter kini.
Sebagai Lois Lane, our hero’s sweetheart, Amy Adams juga memancarkan aura kecantikan dari kecerdasan karakternya. Berbeda dengan Lois Lane selama ini yang seolah hanya menunggu untuk diselamatkan semata. Porsinya jauh lebih banyak ketimbang Superman versi manapun. Ke-chubby-annya yang bertolak belakang dari image Lois Lane selama ini tak mengurangi sedikit pun pesonanya (kecuali Anda berpikiran dangkal yang hanya menilai karakternya dari fisik).
Namun di antara semua cast, saya sangat memfavoritkan Kevin Costner. Karakter ayah duniawi Clark Kent, Jonathan Kent. Meski porsinya tak banyak secara durasi, namun mampu memberikan performa serta kharisma yang luar biasa sebagai ayah yang bijaksana. Russell Crowe sebagai ayah biologis Kal-El juga tampil memikat dan berkharisma seperti biasanya, namun di mata saya Costner tampil jauh lebih berkesan. Diane Lane pun memberikan performa yang charming dan emosional namun tak berlebihan sebagai Martha Kent.
Terakhir, sebagai pemeran karakter villain utama, Michael Shannon, tak begitu berkesan di mata saya meski ia masih tampil bengis dan cukup baik. Mungkin penulisan karakternya saja yang menyebabkannya kurang begitu berkesan. Justru Faora-Ul (Antje Traue) tampil lebih memikat bagi saya.

Technical

Film blockbuster berbudget besar sepert MoS tentu tak perlu meragukan segi teknis, terutama visual effect yang bombastis. MoS delivered it in a very artistic way. Bahkan adegan-adegan penghancuran gedung-gedung yang lebih massive dari Transformers seri manapun tampak indah dan intens untuk diikuti.
Above all technical aspects, sound effect dan score menjadi yang paling menonjol dan paling berhasil membangun adegan demi adegan. Dengarkan saja sound design favorit saya ketika ancaman Zod tersiarkan di televisi seluruh dunia: “YOU ARE NOT ALONE”. Teror yang sederhana namun berhasil membangkitkan ketakutan berkat sound effect-nya. Sedangkan score dari Hans Zimmer yang megah sudah barang tentu menjadi kekuatan tersendiri, meski tak sedikit pun menyisakan tune original Superman yang sudah legendaris gubahan John Williams. Sedikit nuansa 80an di salah satu score-nya membangkitkan memori tersendiri akan adegan-adegan aksi di era tersebut.
Sayang sekali kekurangan terletak pada hasil konversi 3D yang rupanya tak begitu memberikan efek yang berarti, baik depth maupun pop-out gimmick. So I suggest to save your money and sight-health for almost two and a half hour by watching the 2D version. It would have given enough excitement to you.

The Essence

You have to wait for the greatest thing in the right time. When the world (and also you) is ready for it.

They who will enjoy this the most

  • Superman’s fans
  • Goyer-Nolan’s fans
  • Zack Snyder’s fans
  • General audiences who seek entertaining, eye-gasmic, and ear-gasmic blockbuster movie
 Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, June 14, 2013

The Jose Movie Review
Cinta dari Wamena


Overview

Akhir Mei 2013 lalu mendadak muncul trailer sepanjang 10 menit dari film bertajuk Cinta dari Wamena (CdW), tanpa publikasi lain yang besar dan jelas. Hanya ada tiga nama terkenal di baliknya; Lasja Susatyo (yang sebelumnya sukses baik sebagai penulis naskah maupun sutradara untuk film-film nasional seperti Mika, Bukan Bintang Biasa The Movie, Dunia Mereka, Langit Biru, Lovely Luna, serta masing-masing sebuah segmen di Kita vs Korupsi dan Perempuan Punya Cerita) dan Nicholas Saputra serta Susan Bachtiar di barisan aktor pendukungnya.

Dari trailer yang durasinya kelewat panjang tersebut sebenarnya jelas sudah seperti apa gambaran cerita CdW. Kita pun bisa dengan mudah mengetahui bahwa ini merupakan proyek PSA (public service announcement) yang didanai oleh AusAID dan the Ford Foundation serta didukung oleh Pemprov Jayapura. Jelas sudah bakal seperti apa hasilnya: cerita klise tentang penderita HIV dengan aneka pesan-pesan prentesiusnya dan tentu saja mengeksploitasi keindahan alam Papua (terutama Wamena dan Jayapura) untuk tujuan promosi wisata. Tak ada yang salah dengan kedua hal tersebut, namun yang lebih penting adalah bagaimana membuatnya sehingga menarik minat penonton.

Untunglah hal pertama yang saya tuliskan di paragraf sebelumnya tidak sepenuhnya benar. Ia memang masih mengusung cara yang sama dengan sebelum-sebelumnya dalam menyampaikan pesan-pesan terutama berkaitan dengan HIV. Namun tema kampanye penanggulangan HIV ini ternyata hanyalah satu sub-plot kecil dari konsep cerita besar CdW. Garis besarnya adalah sebuah persahabatan antara ketiga anak Jayawijaya yang pindah ke Wamena demi pendidikan dan masa depan yang lebih baik; Litius, Martha, dan Tembi. Bagaimana perbedaan keadaan sosial di lingkungan yang baru menantang mereka bertiga, baik dalam persahabatan maupun menggapai masa depan. Sebenarnya ini adalah jalinan cerita yang menarik jika ditata dengan baik dan terfokus. Sayangnya, CdW di mata saya mengambil range cerita yang terlalu luas sehingga terasa kebingungan hendak menitik beratkan ke arah mana. Belum lagi penataan adegan yang dicampur aduk timeline-nya dan ditambah sub-plot Daniel dan Maya yang terkesan tidak penting dan hanya dipasang untuk menambah nilai jual film untuk pasar nasional. Tak hanya terasa kacau balau secara alur, namun juga menjemukan.

Berbagai pengulangan dialog terjadi yang semakin membuat kesal penonton dan cukup membuang-buang durasi. Untung saja (sekali lagi), ending yang disiapkan tidak klise dengan menghadirkan adegan-adegan yang mengeskploitasi kesedihan, dan bagi saya cukup memuaskan. Jauh dari kesan menggurui, apalagi seperti ditunggangi berbagai kepentingan politis.

Semua kekurangan yang ada sebenarnya dapat saya maklumi jika penulisan naskah, penyutradaraan, dan pemeran pendukung dilakukan oleh anak-anak Papua asli yang masih belajar dan menimba pengalaman di dunia film. Namun nama Lasja Susatyo di bangku penyutradaraan dan Sinar Ayu Massie (penulis naskah 3 Hari untuk Selamanya dan Kita vs Korupsi) di bangku penulis naskah yang bisa dikatakan punya pengalaman yang cukup banyak, membuat saya mengernyitkan dahi ketika melihat hasil jadinya. Sungguh, it could have been much better in many aspects. Bahkan trailer 10 menit-nya sebenarnya sudah cukup efektif menyampaikan keseluruhan durasi film yang mencapai satu setengah jam.

The Casts

Ketiga karakter utama yang diperankan oleh talent-talent dari Papua asli; Maximus Itlay (Litius), Madonna Marrey (Martha), dan Benyamin Lagowan (Tembi) termasuk bermain bagus untuk kategori debut. Kadang masih canggung, sering juga fokus mata ke mana-mana, namun overall masih acceptable.

Scene stealer yang menonjol dari kesemua cast dan berpadu indah dengan alam Jayapura adalah Amyra Jessica, pemeran Endah. Kecantikan eksotis dan aktingnya yang paling wajar patut mendapat kredit lebih.

Terakhir, meski tak punya kaitan yang cukup relevan dengan plot utama dan terasa hanya sebagai penambah nilai jual film di pasar nasional, penampilan Nicholas Saputra dan Susan Bachtiar sebenarnya cukup menarik. Apalagi Nico yang juga menyumbangkan suaranya di panggung acara musik di salah satu adegan.

Technical

Panorama alam Papua, khususnya Wamena dan Jayapura terekam dengan sempurna oleh kamera Red One yang digunakan. Detail warna dan kedalaman dimensi tampak luar biasa indah. Pemilihan kostum yang didominasi warna-warna vibrant, seperti orange, shocking pink, dan light cyan, mempertegas kekontrasan warna yang tinggi sepanjang durasi.

Score dari Aghi Narottama dan Bemby Gusti tak perlu diragukan lagi. Nuansa etnik Papua dipadu harmonis dengan musik-musik pop seperti reggae dan R&B. Belum lagi sumbangan band Indonesia yang sudah go international, White Shoes and the Couples Company, dengan single Matahari yang “Papua banget”. Sayang tata suara dan music yang sudah tertata baik ini dikacaukan oleh editing yang terasa kasar dan gagal menyatukan adegan-adegannya menjadi kesatuan yang enak dinikmati.

The Essence

Persahabatan sejati akan lolos berbagai lolos ujian kehidupan; cita-cita dan kondisi sosial.

They who will enjoy this the most

  • General audiences yang tidak keberatan dengan tema sosial yang klise
  • Penikmat keindahan alam panoramic

Lihat situs resmi film ini.
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Cinta dalam Kardus

Overview

Belum sampai sebulan yang lalu, bioskop Indonesia diserbu oleh penonton (terutamanya remaja) hingga mengantarkan Cinta Brontosaurus (CB) ke box office Indonesia yang hingga kini (14 Juni 2013) telah melewati 890.000 penonton. Angka yang termasuk fantastis di tengah melesunya perolehan penonton film nasional. Tentu saja kesuksesan ini tak lepas dari faktor Raditya Dika yang bermula dari blogger dan penulis novel komedi hingga sukses pula menjadi stand-up comedian dan kini aktor slash penulis skenario film. Raditya Dika himself adalah sebuah brand yang sudah punya banyak sekali fan setia (lihat saja jumlah follower akun twitter-nya).  Film pertamanya, Kambing Jantan (KJ) boleh saja gagal, namun sejak CB bisa diprediksi ia mampu meledakkan karya-karya yang melibatkan namanya. Tak heran jika dalam jangka waktu yang sangat berdekatan, Kompas Gramedia Studio berani merilis film produksi pertamanya ini.

Berbeda dengan KJ dan CB, Cinta dalam Kardus (CdK) tidak diangkat dari novel manapun dari seorang Raditya Dika. Salman Aristo selaku penulis naskah dan sutradara mengaku konsep film monolog CdK sudah ada sejak sebelum booming serial YouTube Malam Minggu Miko (MMM). Lantas kemudian konsep tersebut dilebur dengan universe MMM sehingga terasa seperti sebuah spin-off dari serial yang akhirnya juga ditayangkan di Kompas TV itu.

Secara konsep jelas CdK menarik. Tak banyak film yang mengusung gaya monolog, apalagi di Indonesia. Tak perlu budget banyak untuk membuatnya, namun bisa hancur lebur dan jatuh membosankan jika tak punya materi yang menarik dan/atau dibawakan oleh figur yang tidak cukup kuat. Garis besarnya, CdK adalah sebuah diskusi panjang tentang relationship, tarik-ulur pro-kontra berbagai aspeknya, dengan visualisasi-visualisasi panggung yang unik, menarik, dan cantik, dibawakan oleh seorang Raditya Dika dalam rupa alter-egonya, Miko, yang sebenarnya tidak memiliki perbedaan dengan kepribagian induknya.

Salman sekali lagi bisa dianggap berhasil dalam memperdebatkan hubungan asmara dengan berbagai tarik-ulur pro dan kontranya menjadi satu skrip yang mengalir dan menarik. Istilah  BTB alias Berubah Tidak Baik disampaikan dengan lugas, kadang manis, kadang sinis, namun semuanya dibalut dalam guyonan khas Dika. Tak ketinggalan sindiran-sindiran sosial, terutama menyangkut perilaku remaja saat ini,  diselipkan di berbagai kesempatan yang menjadikannya terasa lebih smart dan fresh. Menjelang akhir, ia memiliki kesimpulan makna BTB yang berbeda.

Secara keseluruhan jelas CdK punya kematangan konsep cerita dan visualisasi yang kuat meski sederhana. Soal guyonan Dika, ah itu soal selera. Bagi saya dan mungkin juga beberapa penonton lain merasakan kegaringan di banyak kesempatan, namun kenyataannya tak sedikit pula yang berhasil tertawa terbahak-bahak dibuatnya.

The Casts

Raditya Dika masih menjadi dirinya sendiri meski menggunakan alter-ego Miko yang sudah cukup terkenal. Original characters dari serial tersebut masih dipertahankan, seperti Ryan Adriandhy (Rian) dan Hardian Saputra (Anca), namun dengan porsi yang sangat-sangat sedikit sekali. Bisa dibilang hanya menjadi simbol-simbol untuk menegaskan kaitannya dengan universe MMM. 

Cast pendukung yang cukup eye-catchy selain Dika sendiri adalah sekelompok gadis-gadis muda yang dipasang sebagai para mantan dari Miko. Mulai Anizabella Lesmana, Sharena Gunawan, Adhitya Putri, Wichita Setiawati, Masayu Clara, Martina Tesela, hingga Tina Toon. Kesemuanya mampu menghadirkan kepribadian yang berbeda-beda dengan meyakinkan dan tak jarang sangat menghibur.

Kehadiran Dahlia Poland dan Fauzan Nasrul (baru saja kita lihat debutnya di Pintu Harmonika) juga turut menjadi penyegar tersendiri. Terakhir tentu saja penampilan singkat Lukman Sardi namun mampu membawa penonton ke dalam keharuan sejenak setelah dibuat (setidaknya) senyum-senyum oleh nasib percintaan Miko.

Technical

Production design telihat sangat menonjol sepanjang film, menyempurnakan konsep film keseluruhan dan menyelaraskan dengan titel. Ditata dengan cantik dan meski terlihat sangat “fantasi” namun tetap mampu terasa hidup bak setting lokasi aslinya. Keren!

Endah dan Rhesa tak hanya menyumbangkan beberapa judul single-nya untuk CdK namun turut membawakan sebuah single secara live di dalam film. Sungguh sebuah bonus manis yang menyenangkan. Selain itu, penataan score yang fun (baca: gokil) dan tata suara yang baik, termasuk pemanfaatan efek surround yang semakin menghidupkan ambience, menambahkan nilai plus di divisi sound.

Satu hal yang patut disayangkan adalah tampilan beberapa animasi yang tampak kasar pixel-nya, tak setajam gambar adegan-adegan live action-nya.

The Essence

BTB dengan kepanjangan yang lebih “dewasa” di akhir film adalah konklusi dari perdebatan relationship sepanjang film.

They who will enjoy this the most

  • Couple, both in a relationship and married ones
  • Raditya Dika’s fans
  • Malam Minggu Miko’s fans
  • General audiences who can accept Raditya Dika’s signatural jokes

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, June 7, 2013

The Jose Movie Review
Now You See Me


Overview

Tema sulap (magic) masih jarang diangkat dalam film. Dalam setahun saja belum tentu ada satu film yang mengangkatnya. Itulah mengapa film bertema sulap hampir pasti menarik perhatian penonton. Di era 2000-an, judul The Prestige dan The Illusionist (dua-duanya rilis tahun 2006) menjadi yang paling diingat. Oh iya, jangan lupakan film animasi dari Perancis L’illusionniste yang masuk nominasi Oscar tahun 2011. Maka di tengah bombardir film franchise superhero dan laga, kehadiran Now You See Me (NYSM) garapan sutradara Louis Leterrier (Transporter 1-2, The Incredible Hulk, dan Clash of the Titans) seolah menjadi oase yang menyegarkan.

Secara premise NYSM sebenarnya sangat menjanjikan: menggabungkan tema sulap dengan heist (perampokan) ala Ocean’s Trilogy. Alur ceritanya pun ditulis dengan baik dan menghibur, terutama sistematik trik-trik sulap yang tampak sophisticated dan harus diakui one of a kind. Namun jika diikuti hingga akhir, kisah tentang empat ilusionis berjuluk The Four Horsemen ini terasa melelahkan dan gagal menjadi film yang mengesankan untuk jangka waktu lama. Saya sempat berusaha menganalisa apa yang menjadi penyebabnya. Alhasil ada beberapa teori yang mungkin salah satu (atau malah semuanya) menjadi penyebabnya menurut saya.

Pertama dan menurut saya adalah alasan paling kuat, alur yang disodorkan terlalu rapi. Semua rencana protagonis terasa mulus dan lancar hingga akhir film. Ini yang menyebabkan film terasa datar. Misalnya saja sejak awal memang penonton diberi clue bahwa pasti ada horseman ke-5 yang menjadi penentu keberhasilan The Four Horsemen. Namun entah kenapa saya kurang penasaran siapakah horseman ke-5 tersebut. Hingga pada akhirnya terungkap dan bagi beberapa penonton menganggapnya sebagai twist, jawabannya memang meleset dari dugaan saya (dan saya yakin juga sebagian besar penonton lainnya) namun lagi-lagi gagal untuk membuat saya berujar “lho kok bisa?”. Tak ada sedikit pun excitement dalam diri saya untuk mengulik kembali kejadian-kejadian sebelumnya yang mengindikasikan identitas horseman ke-5. Yap, semuanya tersusun terlalu rapi sehingga seperti sebuah pertunjukan sulap yang sukses, tanpa ada kelokan-kelokan ataupun bump  yang berarti.

Kedua, ini adalah film tentang sulap sehingga segala kejadian akan dengan mudah diantisipasi oleh penonton sebagai sebuah tipuan. So, diperlukan putaran cerita yang benar-benar melintir dan serius untuk meyakinkan bahwa hal-hal buruk yang terjadi bukan bagian dari trik melainkan sebuah kegagalan yang bisa berakibat fatal. NYSM tidak memberikan kadar “kejutan” tersebut dengan dosis yang cukup untuk membuat penonton terhenyak, seperti halnya ketika menyaksikan The Prestige yang memang bernuansa kelam dan bergenre drama thriller. Bandingkan NYSM yang nuansanya sangat fun. Akibatnya ketika ada kematian pun penonton tidak merasa kehilangan. Oh, mungkin juga sih ini akibat dari penokohan yang tidak begitu kuat sehingga gagal simpatik penonton.

Ketiga, Leterrier masih kurang “megang” dalam hal menyuguhkan adegan kejar-kejaran, baik manusia maupun yang melibatkan mobil.

Meski demikian, setidaknya NYSM masih terasa menghibur berkat performance-performance sulap yang unik, belum pernah dipertunjukkan sebelumnya, dan sedikit tak terduga dalam hal teknis. Dan yah, tema seperti ini boleh lah sebagai variasi film blockbuster Hollywood yang mulai membosankan.

The Casts

NYSM cukup beruntung berhasil menarik perhatian banyak aktor mulai yang sedang naik daun hingga yang senior. Dari tim The Four Horsemen ada Jesse Eisenberg yang tampak meninggalkan image geek-nya selama ini menjadi lebih keren seperti layaknya Aston Kutcher. Woody Harrelson masih seperti biasanya memerankan karakter berfisik gahar namun ber-attitude komikal dan gokil. Dave Franco tak banyak memberikan kontribusi di layar meski berwajah paling tampan. Isla Fisher yang baru saja kita saksikan di The Great Gatsby tampil memukau dengan kharisma kuat di balik tubuh sintalnya. She can be the next Nicole Kidman, I guess.

Selain dari tim, penampilan Mark Ruffalo, Morgan Freeman, dan Michael Caine cukup pas dengan karakter masing-masing. Terutama Freeman yang tak perlu diragukan lagi dalam menghidupkan karakter-karakter berkharismatik kuat. Sementara Caine tak diberi porsi yang cukup untuk tampil memikat. Terakhir, senang rasanya melihat aktris Perancis Mélanie Laurent kembali hadir di layar bioskop. Masih ingat Shosanna dari Inglorious Basterds kan? Ia tampil dengan pesona yang kurang lebih sama di sini.

Technical

Visual effects dan sinematografi yang mumpuni menjadikan pertunjukan sulap yang ditampilkan tampak spektakuler, terutama panggung di Las Vegas dan pertunjukan terakhir dengan menggunakan tampilan projection art yang keren.

Pemilihan track yang dominan techno dan score Brian Tyler pun menghiasi nuansa fun dan menghidupkan kemegahan show-show yang ditampilkan dengan baik.

The Essence

Apakah Anda merasa tereksploitasi atau justru timbul perasaan senang ketika menyaksikan pertunjukan sulap? You choose.

They who will enjoy this the most

  • Penyuka film yang menjanjikan “kejutan”
  • Penikmat pertunjukan sulap
  • General audiences who need a different entertaining film
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
The Hangover Part III


Overview

The Hangover (2009) adalah salah satu ikon generasi pada eranya. Ia menjadi semacam tonggak template komedi yang kemudian cukup banyak menginspirasi banyak film komedi Hollywood. Template dan formula yang sama namun dikemas dengan variasi kreatif dihadirkan pula di The Hangover Part II yang mendapat tanggapan kurang menggembirakan dari kritikus namun tetap menguntungkan secara box office. Maka tak heran jika franchise ini pun digenapkan menjadi sebuah trilogi.

Sebenarnya penggunaan template sama bukan menjadi masalah bagi film jenis ini. Kalau mau jujur, fans tentu mengharapkan formula yang tetap dengan beberapa perkembangan kreatif, misalnya lokasi kejadian yang berbeda. Tujuan utama penonton terus menyaksikan lanjutannya adalah untuk menemukan pengalaman menonton serupa atau “lebih gila” bukan?  Lihat saja franchise American Pie (yang original, bukan yang straight to video) yang tetap mampu mempertahankan kesuksesannya hingga empat seri. Padahal jika mau dianalisis, kesemuanya punya template urutan kejadian yang sama, hanya varian kejadiannya saja yang berbeda.

The Hangover Part III (H3) akhirnya mencoba untuk keluar cukup jauh dari pakem template khasnya. Tidak ada pesta bujangan sebelum pernikahan, tidak ada acara mabuk-mabukan yang menyebabkan lupa ingatan, dan tentu saja tidak ada lagi penemuan foto-foto selaku saksi bisu aksi kegilaan wolfpack ini. Namun tenang saja, semua original cast terutama anggota wolfpack (Alan, Phil, Stu, dan Doug) dan tentu saja Mr. Chow yang sudah menjadi karakter-karakter iconic, masih tetap ada dan rupanya menjadi satu-satunya senjata untuk memancing tawa penonton (terutama Alan dan Mr. Chow yang dieksploitasi habis-habisan di sini). Kedekatan karakter dengan penonton menjadi penyelamat seri ketiga franchise karya Todd Phillips ini.

Jika menilik dari alur cerita, H3 masih menyuguhkan cerita yang seru untuk diikuti. Seperti yang saya tuliskan sebagai headline, H3 menyuguhkan lebih banyak thrill, terutama karena melibatkan mafia yang tak segan-segan menghabisi siapa saja. Namun sayang justru minus di unsur kejutan dan kegilaan (dalam arti fun) selayaknya seri-seri sebelumnya. Anyway, above all semuanya masih se-fucked-up seri-seri sebelumnya, bahkan bisa dibilang lebih parah. Yes, semua dilakukan atas nama mempertahankan image franchise yang “gila”, termasuk tak segan-segan mengolok-olok (atau menantang?) PETA di beberapa bagian.

So, semua tergantung dari ekspektasi dan persepsi masing-masing penonton (terutama fans). Kalau saya sendiri H3 masih terasa H3 enjoyable. Ia masih berhasil membuat saya terbahak-bahak di beberapa adegan sekaligus berteriak “what the fuck” di adegan-adegan lain. Pendeknya, H3 masih sangat menghibur, bahkan teman saya yang belum pernah menyaksikan dua seri sebelumnya menjadi penasaran. Oh iya sebagai penutup, adegan yang “sangat Hangover” akhirnya berhasil menjawab pertanyaan “mana maboknya?” sekaligus menutup trilogi dengan memuaskan. Another sequel? Probably, but I doubt it. Enough is enough. Spin-off yang berbeda dengan “semangat” yang serupa mungkin lebih baik.

The Casts

Original cast masih memberikan performa yang stabil sejak seri pertamanya. Ed Helms (Stu) dan Bradley Cooper (Phil) masih terlihat dungu sesuai harapan penggemar. Justin Bartha masih mendapat porsi paling sedikit karena memang paling tidak mampu memancing tawa. Zach Galfianakis (Alan) dan Ken Jeong (Mr. Chow) mendapatkan porsi lebih banyak, bisa dibilang menjadi tumpuan sumber kelucuan, dan ternyata cukup mampu mengemban tugasnya dengan baik.

Di lini karakter baru, Melissa McCarthy yang angkat nama berkat Bridesmaids tampil paling mengesankan. Selanjutya ada aktor senior John Goodman yang ikut menyemarakkan “kekacauan” yang ada. Tak ketinggalan kembalinya Heather Graham dan Mike Epps dari seri pertama yang mungkin tak memberi banyak kontribusi di layar namun bagi fans setianya bisa menjadi semacam reuni manis.

Technical

Tidak ada yang terasa terlalu menonjol di segi teknis. Semua pas sesuai fungsinya, seperti sinematografi, desain produksi, hingga sound effect. Bahkan pemilihan track-track pengiringnya tak lagi punya semangat yang sama dengan seri-seri sebelumnya. H3 lebih banyak menggunakan track-track lawas seperti Mmmbop­ by Hanson, My Life by Billy Joel, The Girl from Ipanema, dan In the Air Tonight. Sentuhan “gila”-nya mungkin hanya terwakili oleh Dark Fantasy by Kanye West dan Fuckin’ Problems.

The Essence

Even the born-bad needs a friend. Enough said, eh Mr. Chow?

They who will enjoy this the most

  • True fans of the franchise
  • Fucked-up dark comedy lover
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates