Blade Runner 2049

Ryan Gosling continue the replicant's tale as the next generation, K.
Read more.

Geostorm

Gerard Butler, Ed Harris, Andy Garcia, Jim Sturgess, and Abbie Cornish was stuck in an unprecedented series of natural disasters threat.
Read more.

Happy Death Day

What if you have to keep repeating the day you die, which also your birthday, again and again?
Read more.

One Fine Day

Jefri Nichol and Michelle Ziudith to paired up against Maxime Boutierre in Barcelona's exoticisim.
Read more.

Pengabdi Setan

The 1980's classic horror is ready to come back to life by Joko Anwar.
Read more.

Friday, March 29, 2013

The Jose Movie Review
Madre


Overview

Setelah Perahu Kertas 1-2 dan RectoVerso, inilah karya tulis Dewi Lestari yang diangkat ke layar lebar. Kali ini bukanlah dari sebuah novel panjang maupun novelete yang diangkat menjadi omnibus, tetapi sebuah novelete yang diangkat  menjadi satu cerita film panjang. Saya sendiri sudah membaca versi novelete-nya dan sangat jatuh cinta pada ceritanya. Sampai-sampai saya sudah punya proyeksi sendiri seperti apa jika kelak dibuat filmnya. Doa saya pun terkabul. Tak butuh waktu lama menantikan Madre diangkat ke layar lebar.
Sebagai pembaca sekaligus pecinta bukunya, ekspektasi yang cukup tinggi wajar hinggap dalam benak saya. Bahkan ketika trailernya keluar, kekhawatiran saya justru semakin besar. Banyak hal yang tak sesuai dengan bayangan saya. Baiklah, mari menurunkan ekspektasi dan enjoy the movie, as if I have never read the book.
Secara garis besar, tak banyak perbedaan yang dilakukan Benni Setiawan selaku sutradara sekaligus penulis naskahnya. Secara nafas sama persis. Mungkin ada penambahan terutama porsi unsur romance antara karakter utamanya, Tansen dan Meilan. Bisa dimaklumi dengan alasan daya tarik penonton yang lebih luas. Saya pun tak ada masalah selama memperkaya ceritanya. Namun persoalan sebenarnya bukan di situ. Sebagai sebuah adaptasi, terasa sekali Benni Setiawan menuliskan naskah yang mentah-mentah dari materi aslinya.
Pada dasarnya, Madre adalah cerita tentang pilihan hidup yang dikemas dalam dunia bakery. Dunia yang diangkat dengan amat sangat menarik, lebih menarik ketimbang esensi utamanya. Bayangkan cerita seluk-beluk dunia bakery lengkap dengan unsur adonan biang (tonton film atau baca bukunya jika penasaran apa itu adonan biang). Mungkin Benni cukup berhasil memvisualisasikan aura vintage dan kenikmatan roti klasik dengan sangat indah, namun dalam hal mengikat premise dunia bakery dengan esensi pilihan hidup dan juga unsur romance-nya masih jauh dari berhasil. Alhasil ketiganya menjadi unsur yang berdiri sendiri-sendiri, alih-alih menjadi kesatuan yang solid. Berbeda ketika membaca versi novelet dimana saya dapat dengan mudah menangkap esensi pilihan hidupnya sembari membayangkan kenikmatan roti Tan de Baker. Kedominan kisah romance turut menenggelamkan esensi pilihan hidup yang menjadi terkesan tempelan saja. Sayang sekali.
Timing menjadi nilai minus lain dari Madre. Terutama sekali di awal hingga pertengahan, pace terkesan terlalu cepat dan terburu-buru. Kurang enak untuk dinikmati. Menjelang akhir pace-nya menjadi pas. Sayang, di bagian paling akhir (menjelang credit) timing yang kedodoran kembali terjadi yang menjadikannya terasa kasar dan kurang rapi.
Selain dari itu, Madre masih menjadi tontonan hiburan yang menarik. Penambahan humor-humor cukup berhasil menyegarkan suasana berkat pemilihan aktor-aktris yang pas. Romance yang terjalin antara Tansen-Meilan pun terjalin dengan wajar dan manis.

The Casts

Vino G. Bastian masih menjadi diri sendiri, tak beda dengan peran-peran yang pernah dimainkan sebelumnya. Tak buruk memang. Mungkin gambaran karakter Tansen sendiri sedikit banyak mirip dengan Vino. Namun karena saya sudah sering melihat aktingnya, penampilan di sini pun menjadi tak terlalu istimewa. Guyonan-guyonan yang berusaha dilontarkannya banyak yang berhasil namun tak jarang pula gagal dan berubah menjadi garing. Laura Basuki pun tak beda jauh dengan pembawaan peran-peran tipikal sebelumnya.
Pemberi nafas utama di sini justru penampilan Didi Petet dan Titi Qadarsih. Keduanya memberikan kesegaran yang paling kuat sepanjang film berkat permainan aksen Sunda dan Belanda serta gestur. Sayang sekali karakter-karakter pendukung yang bekerja di Tan de Baker tidak diisi oleh aktor-aktris yang sama uniknya. Seandainya saja, misalnya Mpok Nori atai Mpok Atik turut mengisi lini ini, Madre akan menjadi jauh lebih menyegarkan.

Technical

Nuansa vintage divisualisasikan dengan sempurna oleh tim artistik. Interior toko Tan de Baker serta eksterior pedestrian tersusun dengan sangat indah. Kesemuanya tertangkap dengan begitu estetis dan sinematik oleh tata kameranya.
Score dan soundtrack ala le franรงais turut pula membangun nuansa klasik dengan apik. Sayang pemilihan lagu tema Jodoh Pasti Bertemu dari Afgan menjatuhkan nuansa klasiknya menjadi ala sinetron atau FTV.

The Essence

Selalu ada suatu kejadian tak terduga yang menghadapkan kita pada pilihan yang dapat mengubah hidup secara drastis dan membawa keseimbangan.

They who will enjoy this the most

  • Romance enthusiasts
  • Culinary lovers, especially bakery
  • General audiences
Lihat data film ini di Film Indonesia. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, March 28, 2013

The Jose Movie Review
The Croods


Overview

Tema orang tua-anak rupanya sedang trend di film-film Hollywood, utamanya animasi. Tahun lalu kita sudah melihat setidaknya dua judul, yakni Brave dan Hotel Trannsylvania. Meski mengangkat tema yang sama dengan pendekatan yang berbeda, saya tidak begitu menyukai keduanya. Brave yang sangat jauh dari kualitas hati Pixar biasanya, sedangkan Hotel Trannsylvania yang jatuhnya terlampau biasa akibat humor dan unsur chaotic yang menghancurkan hati yang ingin diusung. Kali ini DreamWorks Animation mencoba untuk mengangkat tema serupa versi mereka sendiri. Tentu saja DWA sudah mempunyai ciri khas animasi tersendiri yang mulai memasang hati cukup besar tanpa meninggalkan sisi fun-nya.
Ternyata DWA berhasil membuktikan bahwa mereka telah menghasilkan karya yang berbeda dari dua judul tersebut. Jauh lebih baik dalam banyak hal. Pertama, The Croods punya materi cerita yang sangat kuat, baik konflik ayah-anak maupun konflik perbedaan pandangan akan perubahan. Keduanya pun dibalut dengan sangat rapi, tidak tumpang tindih, dan yang pasti pada satu titik menyentuh hati sekaligus membuat penonton tersenyum lebar.
Kedua, humor yang pas. Seperti biasa, guyonan-guyonan khas DWA yang kerap kali cenderung crude (kasar) masih menghiasi berbagai adegan. Anak-anak mungkin akan tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah slapstick para karakternya yang saling lempar, saling tendang, atau saling pukul. Humor yang sudah tidak mempan membuat saya tertawa terbahak-bahak. Namun untunglah The Croods juga memberikan bonus humor melalui dialog untuk menghibur penonton dewasanya. Objek utama dan favorit saya untuk ditertawai tentu saja Granny yang diasosiasikan seolah-olah seperti Rose Hewitt Bukater tua di Titanic. Ah, what a scandal... :D
Ketiga, cerita The Croods mengalir dengan smooth dan nyaman dari awal hingga akhir. Pace yang pas serta alur yang tidak membosankan menjadikannya sangat enjoyable.
So yes, kali ini DreamWorks menang besar dalam berbagai aspek di perang animasi bertemakan serupa. Meski belum berhasil menjadi karya animasi yang super klasik seperti Toy Story, Wall-E, atau Up dari Pixar, setidaknya The Croods berhasil menjadi tontonan menghibur yang menarik dan dengan hati yang cukup besar. Itu saja sudah lebih dari cukup melihat kondisi kualitas animasi Hollywood setahun belakangan.

The Casts

Chemistry yang terbangun antara Nicolas Cage (Grug) dan Emma Stone (Eep) luar biasa! Kharisma sang ayah dan pesona putrinya yang rebel terbangun dengan sempurna.
Ryan Reynolds yang mengisi suara Guy cukup menarik meski tidak begitu menonjol. Begitu juga dengan Catherine Keener (Ugga) dan Clarke Duke (Thunk) yang seolah replaceable by anyone. Yang menarik tentu saja aktris veteran Cloris Leachman (Gran) dan Chris Sanders (Belt) yang tak henti-hentinya membuat penonton tertawa terbahak-bahak.

Technical

Setelah dikecewakan oleh desain karakter yang menurut saya “murahan” di Rise of the Guardians, DWA kembali ke desain karakternya yang khas. Dan harus diakui kali ini sangat menarik. Lihat saja proporsi tubuh dan kepala keluarga Croods. Desain Eep mungkin mengingatkan banyak penonton akan Merida (Brave), tetapi menurut saya jauh lebih menarik Eep. Sementara di lini makhluk-makhluknya jauh lebih variatif dan kesemuanya menarik. Siapa yang tidak ingin punya hewan peliharaan macam Belt? Hewan-hewan buas yang dijadikan villain sedikit banyak mengingatkan kita pada franchise Ice Age. Well, karena The Croods didistribusikan oleh Fox, wajar saja jika saya berpikir ini dijadikan semacam spin-off dari Ice Age (namun nyatanya bukan, hanya mirip saja).
Desain universe yang ditampilkan pun sangat menarik dan penuh warna-warni vibrant. Efek 3D yang ditawarkan turut mendukung keindahan universe yang begitu hidup. Efek pop-up yang cukup banyak meski tak sampai jauh maupun dalam, menarik untuk disaksikan versi 3D-nya.
Score dari Alan Silvestri mengembalikan keagungan dari sebuah karya animasi. Sangat berkelas dan mampu menghidupkan tiap adegan dengan elegan.

The Essence

The Croods menawarkan jembatan generasi antara orang tua yang selalu khawatir akan keselamatan keluarganya dan anak-anak yang selalu penuh rasa ingin tahu dan mencoba hal baru. Keduanya saling belajar dan melengkapi.

They who will enjoy this the most

  • The whole family member!

86th Annual Academy Award nominee for

  • Best Animated Feature
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Argo


Overview

Penonton awam Indonesia mungkin tak banyak yang tahu bahwa Ben Affleck beberapa tahun belakangan juga duduk di bangku sutradara setelah sekian lama “hanya” menjadi aktor. Maklum film-film besutannya tidak ada yang tayang di bioskop sini. Sebut saja Gone Baby Gone, The Town, dan yang teranyar dan panen kemenangan di banyak ajang award tahun 2012 lalu, Argo. Untung saja yang terakhir akhirnya tayang juga di bioskop sini. Jika tidak maka penonton sini tidak akan pernah mengenal karyanya sebagai sutradara yang jelas-jelas punya kualitas yang tak boleh diremehkan dan terus berkembang baik.
Argo membidik kejadian (yang katanya) nyata di Iran tahun 1979, Krisis yang dialami oleh kedubes dunia barat, khususnya Amerika Serikat, memaksa mereka untuk memutar otak demi membebaskan sandera keluar dari Iran. Bukan premise yang benar-benar baru, toh ada lusinan film bertemakan serupa. Affleck pun tak membawa sesuatu yang baru pada pengemasannya yang justru cenderung lebih “soft” ketimbang film-film sejenis. Tidak ada dialog bernuansa politik yang berat, tidak ada kekerasan berdarah-darah, dan karakter-karakternya pun tidak dieksplor terlalu dalam.
Satu-satunya unsur yang membuatnya menarik adalah bagaimana Hollywood berkontribusi dalam “tugas negara”. Sebuah ide gila yang sebenarnya agak konyol didengar dan berpotensi menjadi bahan tertawaan publik. Namun Affleck berhasil mengangkatnya dengan hati-hati dan membungkusnya menjadi drama thriller yang breathtaking.
Jika Anda berpikir Argo akan memuat banyak dialog-dialog politik berat, tak perlu khawatir. Argo bukan film dengan pendekatan dialog-dialog tentang strategi politik yang rumit dan menggunakan jargon-jargon intelijen. Fokusnya tetap terjaga pada usaha pembebasan sandera keluar dari Iran, tidak ke unsur politis lainnya. Meski mau tidak mau tentu fokus cerita bisa saja cenderung menggiring penonton ke opini tertentu.
So in my opinion, tidak ada yang benar-benar istimewa dari Argo selain skrip yang disusun baik dan mampu menjaga ketegangan sepanjang durasi. Kemenangannya sebagai film terbaik di Oscar, menurut hemat saya, semata-mata karena ia menunjukkan kontribusi Hollywood kepada negara.

The Casts

Ben Affleck yang seperti biasa sekaligus mengambil peran utama di film garapannya sendiri, sekali lagi tidak begitu menonjol meski porsinya cukup banyak. Inilah yang menurut saya membuat Argo kurang terasa begitu kuat. Entah penulisan karakternya atau faktor kharismatik Affleck sendiri yang memang kurang maksimal.
Penampilan yang justru lebih menarik perhatian saya adalah Alan Arkin yang saya yakin setelah ini bakal selalu terasosiasi dengan quote “Argo Fuck Yourself” dan tentu saja John Goodman yang somehow tahun ini cukup sering mencuri layar di film-film Oscar lewat peran-peran kecilnya. Terakhir kita lihat kharisma eksentriknya di Flight.
Terakhir, senang sekali bisa kembali melihat Clea DuVall yang cukup terkenal di film-film remaja era 90-an seperti She’s All That dan The Faculty, setelah bertahun-tahun hanya mengisi peran-peran kecil di serial TV.

Technical

Hal paling menarik perhatian saya dari teknis adalah art-nya. Narasi pembuka yang menggunakan gambar ala storyboard sudah menunjukkan hal tersebut. Tahun 1979 divisualisasikan dengan sempurna lewat kostum dan props.
Score Alexandre Desplat sekali lagi mampu mengeksploitasi eksotisme Iran sekaligus mengiringi ketegangan-ketegangan adegan dengan baik. Catatan khusus untuk score penutup yang pasti membuat hati pelaku Hollywood manapun tersentuh bangga. Tata suara juga berhasil memanfaatkan surround untuk menghidupkan berbagai adegan, misalnya suara hiruk-pikuk massa yang berdemo di depan kedubes Amerika Serikat dan suara bising suara pesawat di ending.

The Essence

Sometimes the best idea of survival is not by physical strength, but by a bright mind. Out of the box and crazy one.

They who will enjoy this the most

  • Audience who loves survival thriller
  • Mid-eastern exoticism worshippers

Academy Awards 2013 Nominees for

  • Best Achievement in Editing
  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Writing, Screenplay Based on Material Previously Produced or Published
  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score
  • Best Achievement in Sound Editing
  • Best Achievement in Sound Mixing
  • Best Performance by an Actor in a Supporting Role

Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, March 26, 2013

The Jose Movie Review
Oz the Great and Powerful


Overview

Dari posternya mungkin bakal banyak yang mengira akan menemukan “fantasi” yang sama dengan Alice in Wonderland (AiW) versi Tim Burton. Nyatanya banyak yang kecele karena Oz – The Great & Powerful (Oz-TGP) karya Sam Raimi ini tidak se-dongeng AiW. Banyak juga yang mengira ini adalah remake dari kisah klasik The Wizard of Oz (TWoO) yang melambungkan nama karakter Dorothy dan makhluk-makhluk aneh seperti Scarecrow dan Tin Man. Kecele lagi karena Oz-TGP bisa dibilang unofficial prekuel dari TWoO. Mengapa unofficial? Karena Walt Disney tidak memiliki hak resmi untuk mengangkat kisah asli TWoO ke layar lebar yang sudah keburu dimiliki oleh MGM. So, impian untuk memfilmkan kisah TWoO ke layar lebar tentu saja dengan membuat versi unofficialnya, bisa prekuel ataupun sekuel. So here it is, Oz-TGP yang seperti saya sebutkan sebelumnya, unofficial prekuel. Seperti apa jadinya?

Sebagai sebuah karya dongeng fantasi, sebenarnya Oz-TGP bisa dibilang cukup memuaskan. Petualangan seru dan ternyata tidak terlalu “fantasi” malah cenderung realistis digelar sepanjang durasi dengan takaran yang pas. Perkembangan karakter-karakternya pun ditulis dengan cukup baik dan loveable. Namun rupanya kisah Oz-TGP secara keseluruhan memang utamanya ditujukan untuk bisa dinikmati penonton anak-anak berusia 10 tahun ke bawah. Sementara bagi penonton yang lebih dewasa besar kemungkinan tidak akan sama menikmatinya. Terutama tentu saja faktor “I’ve seen that before. Many times.”

Jadi bagi penonton dewasa nikmati saja instant fun fantasy yang ditawarkan beserta keindahan-keindahan visual warna-warni vibrant yang dipamerkan di sana-sini. Setelah Anda keluar dari gedung bioskop mungkin tak banyak yang akan melekat dalam ingatan Anda. That’s fine karena untuk itulah film ini dibuat, sama halnya dengan kebanyakan film mainstream Hollywood dewasa ini.

The Casts

James Franco tidak mengecewakan. Mungkin tidak begitu memikat seperti biasanya, tetapi sama sekali tidak buruk. Saya masih mampu beberapa kali dibuat tertawa oleh ekspresi wajahnya. Berkali-kali pula saya terbawa kesal dengan sikapnya yang licik. Anyway, variasi penampilan Franco di film mainstream Hollywood yang cukup menarik. Begitu pula dengan Michelle Williams yang tampil biasa saja.

Penampilan paling menonjol ada pada Mila Kunis yang cukup dominan dan mampu dibawakan dengan baik. Rachel Weisz di sisi yang sama juga memberikan kontribusi akting yang memikat dan anggun, sesuai dengan kapasitasnya sebagai ‘fairy tale’.

Technical

Tak perlu meragukan lagi kualitas special visual fx yang memang menjadi salah satu komoditas utama Oz-TGP. Sayangnya kualitas visual fx yang bombastis tersebut tidak begitu terintegrasi maksimal dengan efek 3D yang ditawarkan. Entah faktor apa, mungkin karena saking vibrant-nya warna-warni visual fx yang ada atau projector bioskop tempat saya menonton yang mengalami gangguan, banyak efek yang tidak nyaman disaksikan. Salah satu adalah tingkat vibrant warna-warni efek yang terlalu tajam dan somehow justru mengganggu ilusi letak layer-layer 3D-nya. Misalnya benda berwarna tajam yang seharusnya berada di foreground jadi tampak seperti berada paling depan. Gangguan tersebut justru tidak tampak pada gambar-gambar live action (karakter manusia).

Tampilan karakter CGI Finley dan China Girl membuat Oz-TGP menjadi lebih menarik. Terutama sekali China Girl yang tampak memukau saya meski beberapa kali kurang menyatu dengan karakter manusianya.

Tata suara surround dahsyat terpompa ke seluruh kanal yang ada dan mampu menghidupkan kemagisan dunia Oz dengan maksimal. Sayang tak ada soundtrack-soundtrack asyik yang menghiasi, kecuali Almost Home milik Mariah Carey yang tidak diperdengarkan sepanjang film. Sementara iringan score dari Danny Elfman cukup mampu meniupkan nafas adventurous meski forgettable.

The Essence

Anda tidak akan pernah tahu kejadian apa yang mampu mengubah seseorang. Seburuk apapun ia sebelumnya. Dan yah… seperti biasa kecerdasan logika mampu mengalahkan sihir, dengan caranya sendiri.

They who will enjoy this the most

  • Kids under 10
  • Fantasy adventure fans 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Warm Bodies


Overview

Summit, based on a novel material, bizarre teenage romance… Siapapun yang mendengar atau membaca premisenya bisa dengan mudah menebak seperti apa Warm Bodies (WB) ini. Wajar jika Summit merasa perlu untuk memiliki franchise besar lainnya sebagai mesin uang setelah Twilight (so-called) Saga berakhir. So dipilihlah premise yang serupa berdasarkan novel karya Isaac Marion. Jujur, tanpa unsur zombie dan posternya yang menurut saya keren itu, mungkin saya akan melewatkan WB begitu saja. Apalagi ada nama Jonathan Levine (yang pernah sukses membesut Joseph Gordon Levitt lewat 50/50) di bangku sutradara. Well, bukan jaminan juga sih secara semua seri Twilight juga ditangani sutradara-sutradara kondang.

Ternyata pesimistis saya tak terbukti sama sekali. WB mampu hadir sebagai tontonan hiburan yang jauh lebih menarik ketimbang Twilight, terutama berkat skrip yang terasa dikerjakan dengan sangat baik dan efektif. Kisah cinta yang berkembang wajar, tidak berlebihan, namun justru terasa sangat manis, tergelar sepanjang durasi yang pas. Sebagai nilai plus, guyonan berupa dialog-dialog yang juga cerdas turut tersebar merata di berbagai bagian. In short, WB berhasil mem-blend kisah percintaan klasik ala Romeo & Juliet (nama karakternya saja R dan Julie) dan zombie dengan sangat baik dan menarik.

Sebagai sutradara, Levine mengarahkan tiap adegan sesuai dengan porsinya, baik sebagai drama romantis maupun action-horror. Memuaskan bagi (terutama) pasangan remaja. Si cowok puas dengan unsur  zombienya, sementara si cewek dari segi romansa. Everybody’s happy.

The Casts

Jika tahun lalu adalah tahunnya JGL, maka tahun ini bisa dibilang tahunnya Nicholas Hoult yang sebelumnya kita kenal sebagai Marcus Brewer di About a Boy dan Hank McCoy di X-Men: First Class. Di saat yang sangat berdekatan ia muncul di Warm Bodies dan Jack the Giant Slayer. Di sini ia sangat baik dalam menghidupkan karakter zombie remaja berinisial R. Ia berhasil memadukan kekakuan ala zombie dengan kewajaran manusiawi remaja pria dalam bertingkah laku terutama ketika sedang jatuh cinta. Bahkan aktingnya di sini jauh lebih luwes ketimbang Robert Pattinson yang mana seharusnya sosok vampire berperilaku jauh lebih mendekati manusia ketimbang zombie yang sebenarnya sudah tidak memiliki otak yang berfungsi.Well, Hoult has done it very well, believable as both a zombie and a human-being.

Teresa Palmer yang pada angle tertentu mirip Kristen Stewart juga mampu mengimbangi akting Hoult. Tidak memerankan karakter yang benar-benar  unik namun setidaknya ia menghidupkan karakter Julie dengan sangat wajar. Jauh berbeda dengan…. Ah sudahlah, bosan juga  membanding-bandingkan WB dengan franchise itu.

Di lini pemeran pendukung, tidak ada yang tampil mengecewakan, terutama aktor kawakan John Malkovich (Grigio, ayah Julie), Rob Corddry (M), Dave Franco (Perry) yang mulai angkat nama terlepas dari bayang-bayang kepopuleran sang kakak, dan tentu saja si seksi eksotis Analeigh Tipton (Nora) yang entah kenapa sedikit mengingatkan saya akan Denise Richards ketika masih muda.

Technical

Kekuatan teknis yang paling saya rasakan sepanjang film adalah editing yang termasuk gokil dan pemilihan soundtrack yang berkelas. Sekali lagi Levine menunjukkan selera musik yang sangat baik untuk mengiringi adegan-adegan manis filmnya. Bahkan penonton yang tidak lagi remaja akan tersenyum mendengar Missing You-nya John Waite, Hungry Heart-nya Bruce Springsteen, atau Shelter from the Storm-nya Bob Dylan mulai mengalun. Untuk penonton mudanya ada nama Feist yang menyumbangkan The Bad in Each Other, Bon Iver dengan Hinnom TX, dan The Black Keys dengan Lonely Boy.

Tak ada kendala berarti di sound fx yang mampu terdengar renyah namun jernih terutama ketika adegan-adegan yang ditujukan untuk mengageti penonton.

Visual fx dan make-up yang “menghidupkan” karakter-karakter zombie di sini memang tak begitu “sadis” mengingat target audience remaja, tetapi sudah lebih dari cukup untuk mengesankan “ketidak-hidupan”-nya. Sedikit komentar, Hoult menjadi mirip Depp di Dark Shadows.

The Essence

Love lives up the dead…. Ouch! 

They who will enjoy this the most

  •  Zombie geeks
  • Teenage romance lovers
  • General (especially teenage) audiences
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, March 2, 2013

The Jose Movie Review
Belenggu


Overview

Upi bisa dibilang mewakili film Indonesia generasi populer yang gaya film-filmnya “rock n’ roll”. Bukan sekedar “rock n’ roll” sebagai genre musik, namun style cerita dan desain produksi film-filmnya. Sebut saja Realita, Cinta, dan Rock n’ Roll, Radit dan Jani, dan Serigala Terakhir. Selain itu ada pula 30 Hari Mencari Cinta, Red Cobex, Coklat Stroberi, dan Oh Tidak! yang juga mendapat respon yang baik di pasaran. Kali ini ia mencoba genre yang berbeda dari biasanya meski digarap dengan style desain produksi khas Upi.
Belenggu merupakan film thriller psikologis bergaya noir yang membangun ceritanya ala Pintu Terlarang. Awalnya cerita bergulir seperti biasa, dimana karakter utama mengalami kebingungan dengan yang terjadi pada dirinya. Oke, awalnya memang sangat standard terutama bagi penggemar film sejenis. Hingga lapis pertama dikupas pun masih tergolong klise. Dialog-dialog yang disebar juga tergolong standard dan tidak secerdas Pintu Terlarang, misalnya. Hanya simbol-simbol semiotika yang cukup menarik untuk dicermati dan dianalisis. Alur “tenang” dan terkesan “datar” di awal rupanya dimanfaatkan untuk menghipnotis penonton ke nuansa creepy yang lantas dibawa ke babak berikutnya dimana alurnya dipompa sedikit lebih cepat.
Agak terganggu di adegan interogasi pasca lapiasn pertama terkupas yang terkesan pengulangan meski pada subjek yang berbeda. Mungkin akan terasa lebih praktis dan nyaman diikuti jika diedit lebih dinamis. Subjek-subjek yang diinterogasi ditampilkan bergantian, misalnya. Tak hanya sampai di situ saja, ternyata Upi masih punya lapisan berikutnya yang patut diacungi jempol dari segi kreativitas mengembangkan premise yang sudah sering diangkat tersebut. So if in the middle you think you’ve already known the whole story, you’re just being a smart-ass. The next and the final layer was the best part of the story.
Harus diakui, skrip yang ditulisnya sendiri kali ini tersusun dengan rapi, mudah diikuti bahkan oleh penonton yang belum terbiasa diajak berpikir ketika menonton film, dan jika diruntut keseluruhan termasuk detail. Memang, kompensasinya seperempat bagian terakhir film menjadi terasa terlalu mendikte penonton, terlebih bagi yang terbiasa mencerna dan berpikir ketika menonton serta mendiskusikannya seusai film berakhir. But like it or not, we have to admit, kebanyakan penonton Indonesia adalah tipe yang lebih suka didikte serta dijelaskan satu persatu. Jadi menurut saya ini adalah hal yang bijak dilakukan untuk menjaring penonton yang lebih banyak. Toh bagi saya sebenarnya tidak begitu mengganggu karena Upi menyajikannya dengan visualisasi yang indah. So, just enjoy the thrill from start to finish. Don’t complain, don’t be a smartass, don’t distract yourself by anything, such as cellphones. Let yourself hypnotized and led to the final part of the story. It’s satisfying and very enjoyable to me!

The Casts

Abimana Aryasatya tampil sedikit berbeda dari tipikal perannya selama ini, terutama sejak debutnya di Catatan Harian Si Boy. Kesan datar di awal hingga pertengahan memang tampak “aneh” namun ia berhasil memainkan adegan puncak dengan luar biasa. Membuat saya terhentak sekaligus bersimpati pada karakternya. Imelda Therinne yang kita kenal sebagai Maya di Rumah Dara sekali lagi menampilkan peran misteriusnya yang seksi. Jenis seksi yang berbeda dengan Maya, namun tetap memancarkan kharisma keseksian yang kurang lebih sama.
Di lini pemeran pendukung, Laudya Cynthia Bella, Verdi Solaiman, Arswendi Nasution, Rifnu Wikana, hingga Bella Espearance bermain baik sesuai porsinya yang memang tak begitu menonjol. Sementara Jajang C. Noer dengan logat Jawa-nya dan gadis cilik Avrilla berhasil mencuri perhatian penonton meski perannya tak begitu banyak.

Technical

Tak perlu meragukan desain produksi untuk film-film garapan Upi yang fashionable. Mulai kostum, tata rias, desain setting lokasi, semuanya digarap dengan indah, detail bak noir Eropa. Persetan dengan anggapan orang yang mencibir karya-karyanya sangat tidak Indonesia dan sok kebarat-baratan. Tak ada yang salah dengan gaya seperti itu. Di sisi lain, bukannya banyak penonton Indonesia memang lebih suka gaya barat tersebut? Toh, ini adalah sebuah cerita fiksi yang tidak perlu keakuratan kewajaran budaya atau setting lokasi. Kalau semua terpatok pada budaya tradisional dan lokal, matilah kreativitas. Jangan harap ada budaya populer tumbuh dari negeri ini.

Sinematografi dan penggunaan aspect ratio 1.85:1 menambah poin plus dalam menghadirkan pengalaman sinematik ala noir. Sayang untuk dilewatkan  begitu saja di layar bioskop.
Namun kali ini, Upi tak melupakan budaya asli Indonesia sebagai elemen yang cukup penting bagi film : tembang Jawa! Hayo siapa yang ketawa ketika tembang Jawa didendangkan di bioskop? Katanya mau yang ada unsur budaya Indonesia-nya? Kok malah ditertawakan? :D
Sound effect cukup dahsyat mengalir dari tiap kanal dan pemanfaatan efek surround sangat maksimal. Sementara score yang digubah oleh Aksan Sjuman dan sang mantan istri, Titi Rajo Bintang (di credit masih Titi Sjuman :D) memainkan peranan yang penting dalam membangun nuansa creepy dan thrillernya.

The Essence

Jiwa yang rapuh dan labil sangat mudah dipengaruhi. So beware!

They who will enjoy this the most

  • Suspense thriller lovers
  • Penonton yang suka dibawa ke atmosferik creepy dan menegangkan
  • Audiences who enjoy riddles
  • Gore fans
Lihat data film ini di IMDb dan Film Indonesia. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates