Sweet 20

Tatjana Saphira to perform young Niniek L. Karim in South Korea's hit remake.
Opens Lebaran 2017.

Jailangkung

Rizal Mantovani and Jose Purnomo to pass-on the Jailangkung mythology.
Opens Lebaran 2017.

Surat Kecil untuk Tuhan

Bunga Citra Lestari starred in a child-abuse awareness tearjerker based on Agnes Davonar's best seller novel series.
Opens Lebaran 2017.

Mantan

Gandhi Fernando to find his soul mate out of five fabulous exes.
Read more.

Transformers: The Last Knight

Michael Bay to put the dino-bots back to the world for another mission.
Opens June 21st.

Saturday, February 23, 2013

The Jose Movie Review
Beasts of the Southern Wild


Overview

Di antara sembilan nominasi Oscar 2013 untuk kategori Best Motion Picture of the Year, ada satu judul yang terasa asing dan unik. Nama sutradara dan para aktornya pun masih asing di telinga. Tentu siapa saja menjadi penasaran film apakah The Beasts of Southern Wild (BotSW) ini. Dari judul dan posternya, mungkin banyak yang mengira ini adalah film fantasi, atau malah animasi 3D yang melibatkan makhluk buas. Tak salah, namun nyatanya ini bukanlah film fantasi biasa yang penuh dengan keajaiban. Ini adalah sebuah fantasi tidak indah yang terasa begitu nyata.
Mengambil setting fiktif bernama Bathtub, cerita bergulir seputar anak perempuan kulit hitam berusia 6 tahun yang hanya diasuh oleh sang ayah beserta beberapa hewan ternak peliharaan. Uniknya, mereka berdua justru tidak tinggal dalam satu atap. Dari sini cerita mulai bergulir seiring dengan pertanyaan-pertanyaan keheranan yang mungkin dilontarkan penonton. Pemandangan realita yang jauh dari kesan indah, cenderung kumuh, dan penuh dengan kejadian-kejadian pahit.
So, apa yang ditawarkan oleh sutradara Benh Zeitlin di debut film panjangnya ini? Sebuah dunia nyata yang kelam, dari sudut pandang seorang anak gadis berusia 6 tahun bernama Hushpuppy, hasil representasi berbagai ajaran dan cerita yang ia dengarkan dari orang-orang di sekitarnya. Terkadang memilukan, lucu, iba, sekaligus membuat penonton terkagum-kagum. Sebuah petualangan di negeri antah berantah yang keras namun sangat nyata, di tengah peradaban di sekelilingnya yang jauh lebih mewah. Tidak ada gambar yang indah, namun justru di situlah letak keindahan film ini secara keseluruhan. BotSW bagi saya tipe film yang terasa biasa saja ketika menontonnya, namun melekat terus untuk jangka waktu yang cukup lama usai menyaksikannya.

The Casts

Tak heran jika Quvenzhane Wallis meraih nominasi Oscar untuk kategori Best Actress in a Leading Role. Perannya yang tak mudah dan jauh dari wajar (untuk anak seusianya) ini berhasil dibawakan dengan luar biasa naturalnya dan sangat kuat. Apalagi mengingat ini adalah pengalaman pertamanya berakting di depan kamera untuk sebuah film panjang. Luar biasa!
Sementara di lini pemeran pendukung, Dwight Henry (pemeran Wink) dan Gina Montana (Miss Bathsheba) terasa menonjol berkat karakter serta permainan akting yang sangat baik dari mereka berdua.

Technical

BotSW menjadi satu lagi bukti bahwa sebuah film yang bagus tak harus selalu dengan budget yang besar. Dengan “hanya” US$ 1.8 juta saja dan tak diperankan oleh satupun aktor yang dikenal luas, ia berhasil bicara banyak di berbagai ajang penghargaan, termasuk Academy Awards 2013. Tak heran penggunaan teknik kamera handheld sangat terasa di sepanjang film. Pun demikian tak ada sedetik pun yang terasa mengganggu atau membuat pusing. Hasilnya justru membuat kesan nyata bak dokumenter meski ada beberapa adegan yang merupakan fantasi dari karakter Hushpuppy.
Kemunculan makhluk fantasi yang meski hanya sejenak tetapi ditampilkan dengan sangat meyakinkan dan cukup membuat jantung penonton berdebar-debar.
Penggarapan sound effect yang serius tak luput dari perhatian. Dengarkan saja suara ambience hujan dan badai yang begitu nyata. Sungguh merupakan nilai plus tersendiri untuk ukuran film indie.

The Essence

Pernahkah ketika kecil Anda dijelaskan tentang hal-hal yang tidak Anda mengerti oleh orang-orang di sekitar Anda, seperti orang tua atau guru, dengan cara sederhana dan melibatkan fantasi? Mungkin penjelasan tersebut mengandung ajaran-ajaran tertentu yang kelak ketika dewasa baru Anda sadari maksudnya. Well, Anda akan kembali dibawa ke masa-masa itu dalam memahami berbagai hal di sekitar.

They who will enjoy this the most

  • Sons or daughters with their parents
  • Audiences who had a very close relationship with their parents
  • Indie movies lovers
  • Audiences who enjoy movies portraying realistic and rough life

Academy Awards 2013 Nominees for :

  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Achievement in Directing
  • Best Performance by an Actress in a Leading Role
  • Best Writing, Screenplay Based on Material Previously Produced or Published

Lihat data film ini di IMDbRate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, February 20, 2013

The Jose Movie Review
Flight


Overview

Robert Zemeckis dikenal sebagai salah satu sutradara papan atas yang mana karya-karyanya tak hanya banyak yang menjadi box office, namun juga menuai banyak pujian kritikus. Keseimbangan yang tak banyak diraih oleh sutradara Hollywood. Setelah beberapa tahun belakangan terobsesi pada motion-capture animation seperti Polar Express, Beowulf, dan A Christmas Carol, Zemeckis rupanya rindu membuat film live action. So here it is, Zemeckis’ first live action movie since Cast Away in 2000. Come back ini rupanya tak main-main karena ternyata membuahkan banyak penghargaan terutama bagi sang aktor utama, Denzel Washington.

Sejak menit awal, jujur saya agak terkejut dengan sajian adegan-adegannya. Lihat saja posternya yang begitu bersahaja dan tampak wise, namun ternyata penuh dengan booze, drugs, sex, dan profanity. Wow, that’s quite a surprise to me! Tetapi ini adalah film Zemeckis yang tak mungkin tampil gila-gilaan tanpa ada esensi yang bagus dan… yah, inilah perjalanan menuju sober conscience yang begitu “memabukkan” dan penuh terjal. Tidak dalam visualisasi adegan, namun secara psikologis yang dialami oleh karakter utama, Whip Whitaker. Tentu saja perhatian utama sebagian besar penonton akan tertuju pada adegan penerbangan di awal film yang gila-gilaan menegangkannya itu. Pujian yang patut disematkan kepada sutradara, penata kamera, dan editing yang sangat berhasil menghidupkan adegan tersebut menjadi sangat mencekam.

Adegan-adegan berikutnya merupakan rollercoaster psikologis dari Whip Whitaker pasca penerbangan tersebut, di antara pujian, ancaman hukum sebagai akibat dari kebiasaanya selama ini, dan kesempatan untuk make things right. Kali ini skrip memegang peran yang sangat penting dalam mengembangkan karakter-karakternya, tak hanya Whip, tetapi juga Nicole, wanita sesama pejuang yang akhirnya saling menemukan dalam suatu peristiwa. Jalinan kisah yang digarap dengan rapi, detail, alur yang pas, dan ending yang bersahaja, layaknya kesan yang saya tangkap dari posternya sebelum benar-benar  menontonnya. Zemeckis has beem back to his track!

Casts

Denzel Washington memang layak dinominasikan sebagai Best Actor in Leading Role di ajang Academy Awards 2013, bahkan jika pada akhirnya memenangkannya. Peran Whip sebagai pilot yang bergulat melawan dirinya sendiri dibawakan dengan sangat hidup dan meyakinkan. Bahkan pada adegan penerbangan utama, karakter pilot yang memiliki keahlian dan kecerdasan di atas rata-rata tampak begitu reliable dan convincing di tangan Washington. Probably his best and strongest performance, even better than his last Oscar performance in Training Day.

Di jajaran cast pendukung, penampilan Kelly Reilly sebagai Nicole juga patut mendapat pujian. Don Cheadle tak begitu menonjol, bukan karena penampilan aktingnya, namun porsinya yang memang tak memberikan banyak ruang penting untuk itu. Sementara peran kecil namun begitu banyak mencuri perhatian penonton terutama saya, adalah John Goodman yang memerankan karakter Harling Mays, tetangga Whip yang eksentrik dan entah bagaimana bisa selalu on the list.

Technical

Editing dan sinematografi memegang peranan penting dalam film dan memang digarap dengan sangat baik, terutama untuk adegan penerbangan utama. Sementara desain produksi yang meliputi setting lokasi dan properti juga digarap dengan apik, terutama rumah peternakan keluarga Whip yang membawa penonton ke suasana homey.

Tata suara yang menggelegar turut menghidupkan adegan penerbangan utama, dan tak lupa pilihan track-track era 80-90’an sangat pas mengiringi rollercoaster psikologis sepanjang film.

The Essence

What makes you happy in life, especially when you’ve lost everything you love? Pelarian mungkin saja menutupi ketidakbahagiaan. When it leads to another destructions, the choice is ours to keep destructing or stop and start to recover. Pasti ada satu titik balik yang membangunkan kita untuk kembali ke sober state. It could be bitter, but it’s for the best for everyone, especially ourselves. Flight juga mengajak untuk merefleksikan sampai sejauh mana kejadian-kejadian di sekitar kita yang merupakan campur tangan Tuhan atau murni tindakan manusia.

They who will enjoy this the most

  • Audiences who likes psychological rollercoaster
  • Audiences who likes and needs wisdom after madness
  • Everybody who’s (been) in a life runaway

Academy Awards 2013 Nominees for :

  • Best Performance by an Actor in Leading Role
  • Best Writing, Screenplay Written Directly for the Screen
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, February 19, 2013

The Jose Movie Review
Zero Dark Thirty

 

Overview

Setelah mengalahkan mantan suami, James Cameron di perhelatan Academy Awards 2010 dengan memenangkan Best Motion Picture sekaligus Best Achievement in Directing lewat The Hurt Locker, sutradara Kathryn Bigelow bersama penulis naskah Mark Boal kembali berkolaborasi dalam film bertema tak jauh berbeda, Zero Dark Thirty (ZDT) yang mengangkat kisah investigasi hingga perburuan Osama bin Laden, orang paling dicari nomer satu di mata Amerika Serikat.

Terlepas dari keakuratan kisah dan kejadian-kejadian, Mark Boal menyajikan naskah investigasi yang begitu seru dan intens untuk ZDT. Kisahnya yang diambil dari sudut pandang Maya (Jessica Chastain), seorang anggota CIA wanita muda yang ambisius, disajikan dengan begitu detail mulai mencari orang-orang yang memiliki jaringan langsung ke Osama hingga menemukan kurir yang secara intens menjadi penghubung keluarga Osama dengan dunia luar, Abu Ahmed, dan berakhir pada eksekusi orang-orang penting dalam tubuh Al-Qaedah termasuk Osama bin Laden sendiri.

Keseruan dan ketegangan cerita dibangun melalui investigasi dan penjelasan analisa yang menarik dari karakter-karakternya, terutama Maya sendiri. So, jika Anda agak kesulitan memahami dialog-dialog yang ada kemungkinan besar Anda akan jatuh dalam kebosanan. Sebaliknya, Anda akan excited mengikuti perkembangan investigasi yang dilakukan CIA di sini. Ketegangan demi ketegangan juga terletak pada ketidak tahuan kita sebagai penonton akan apa yang mungkin saja terjadi berikutnya. Mengingat setting cerita di Pakistan yang selalu diselimuti teror bom tiap harinya, tentu  ledakan maupun serangan bisa terjadi kapan saja pada karakter apa saja. Kedua jenis ketegangan ini diramu dengan sangat baik dan dengan porsi yang pas hingga puncaknya sehingga durasi yang kurang lebih dua setengah jam tidak begitu terasa.

Namun cukup di situ saja yang patut saya apresiasi dari ZDT, tak lebih. Ia sama sekali tidak memberikan ruang untuk sekedar pengenalan secara personal maupun perkembangan  pada karakter-karakter yang ada, termasuk Maya, si pendominasi cerita. Penonton hanya diajak untuk melihat emosi karakter pada tiap kejadian saja. Misalnya Maya ketika sedang kesal, antusias, maupun desperate, at each moment. That’s all.

Sisi humanis yang hampir selalu digali pada film-film bertema perang maupun militer akhir-akhir ini pun absen hadir. Namun untuk sisi yang satu ini bisa dimaklumi mengingat Amerika Serikat pada umumnya sudah sangat geram dengan Osama maupun Al Qaedah.

So, secara keseluruhan ZDT hanya menjadi sajian investigasi serta perburuan yang seru pada saatnya saja. Tak begitu berkesan selepas film berakhir dan juga tak memiliki kedalaman karakter maupun cerita apa-apa.

The Casts

Hanya nama Jessica Chastain yang mungkin dikenal penonton kita dari jajaran cast-nya. Begitu pula dengan porsinya yang paling mendominasi. Kapasitas akting dan kebiasaannya yang pilih-pilih peran berbobot memang harus diperhitungkan. Meski tak diberi kedalaman karakter apa-apa, setidaknya penonton bisa menganalisis dan mengenal kepribadian Maya melalui akting yang dihidupkan oleh Chastain. Sisanya, kesemua aktor pendukung di sini sudah tampil sesuai dengan porsi masing-masing yang memang sangat pas-pasan.

Technical

Tak ada yang istimewa dari segi teknis pun juga tak buruk. Mulai sinematografi, score, editing, desain produksi, pas dan natural sesuai dengan kebutuhan cerita. Tata suara terutama suara ledakan dan tembakan terdengar begitu renyah di tengah kesunyian dan dialog yang lebih mendominasi film.

The Essence

Di tengah keputus-asaan Amerika Serikat dalam menemukan Osama bin Laden, apakah Osama bin Laden memang masih hidup atau mereka selama ini hanya mengejar “hantu”, Maya justru begitu gigih dan ambisius dalam menuntaskan misinya. Meski menghabiskan waktu 12 tahun dan menguras emosi, ia menggunakan tak sekedar bukti-bukti kongkret tetapi juga analisis berbagai kemungkinan yang mengindikasikan keberadaan orang yang dicarinya. Cara-cara yang cerdas dalam meyakinkan para petinggi untuk mempercayai keyakinannya.

They who will enjoy this the most

  • Penonton yang menyukai film dengan proses investigasi detail dan analisis cerdas
  • Penggemar action-drama thriller

Academy Awards 2013 Nominees for :

  • Best Achievement in Editing
  • Best Achievement in Sound Editing
  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Performance by an Actress in a Leading Role
  • Best Writing, Screenplay Written Directly for the Screen
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
RectoVerso

Overview
Dewi Lestari (atau dikenal dengan nama pena Dee) nampaknya sedang memanen kerja kerasnya menulis novel dan cerpen selama ini dimana satu demi satu karyanya diangkat ke layar lebar setahun belakangan ini. Baru saja menuai sukses Perahu Kertas yang sampai dipecah menjadi dua bagian, kini giliran novelet RectoVerso, dan siap rilis Maret mendatang, Madre. Tentu saja ini tak lepas dari kualitas sastra populer yang ditulisnya sangat menonjol dibanding penulis-penulis lokal lain serta trend film yang diangkat dari novel best-seller.

RectoVerso merupakan omnibus interwoven, omnibus dimana semua segmennya menyatu seolah-olah satu kesatuan cerita yang ditampilkan saling bergantian hingga mencapai klimaksnya bersama-sama. Contohnya Dilema, Kuldesak, Love, Valentine’s Day, New Year’s Eve, dan Love Actually. Sebenarnya ada keuntungan dan kerugian tersendiri menggunakan teknik seperti ini jika tidak ditangani (terutama diedit) dengan hati-hati. Keuntungannya, kualitas per segmen mampu tampak lebih merata karena saling menutupi. Emosi penonton pun bisa ter-manage dengan lebih baik ketimbang harus menetralkan kembali setelah mencapai klimaks di akhir segmen sebelumnya. Namun kerugiannya jika tidak diedit dengan baik, penonton bisa merasa bingung dengan cukup banyaknya kisah yang diceritakan terpenggal-penggal.


Untungnya RectoVerso (RV) menggaet editor Cesa David Luckmansyah yang sudah tak perlu diragukan lagi kehandalan dalam merangkai adegan. Alhasil RV tampil sebagai omnibus yang tak hanya nyaman diikuti namun juga berhasil membangun emosi tiap segmennya dengan sangat baik dan menyatu sempurna. Ada satu segmen yang sebenarnya melibatkan rentang waktu yang cukup panjang, yakni Cicak di Dinding, yang menjadi agak membingungkan dan pada akhirnya mempengaruhi penokohan salah satu karakter kuncinya, Saras (diperankan oleh Sophia Latjuba). Tetapi dengan segala kompensasi positifnya, bagi saya hal ini masih bisa ditolerir.


Ada lima segmen yang diangkat dari 11 kisah dari bukunya, yakni Malaikat Juga Tahu, Curhat buat Sahabat, Firasat, Hanya Isyarat, dan Cicak di Dinding dimana kesemuanya mengisyaratkan satu benang merah : cinta yang tak terucap. Kelimanya digarap oleh sutradara-sutradara wanita muda yang selama ini kita kenal di depan layar, ada Marcella Zallianty, Rachel Maryam, Olga Lidya, Cathy Sharon, dan Happy Salma. Siapa sangka rupanya mereka berlima punya bakat yang cukup besar dalam mengarahkan adegan, terlepas dari materi dasar cerita yang memang sudah bagus.


Tiap segmen yang ditampilkan memang sengaja tidak memberikan konklusi jelas, sehingga mungkin akan membuat penonton yang lebih menyukai ending jelas-sejelas-jelas-nya agak kecewa. Namun di situlah makna dari RV. Ia tidak berusaha memberikan jawaban atau mengarahkan penonton. Ia lebih mengajak untuk merasakan apa yang dirasakan para karakternya sekaligus kembali mempertanyakan makna dari tiap segmen kepada penonton. Jadi yang menjadi pertanyaan sebenarnya bukan segmen yang mana yang paling bagus, tetapi segmen mana yang paling mengena bagi penonton sesuai dengan pengalaman pribadi masing-masing. Yes, RectoVerso adalah film yang bisa jadi sangat personal bagi tiap penonton dengan penggalian emosi yang maksimal dari tiap segmennya.


The Casts 

Kekuatan yang paling menonjol dari RV selain materi ceritanya adalah kekuatan akting dari jajaran aktor all star yang dipasang di sini. Siapa saja tentu akan dengan mudah terperanjat oleh penampilan Lukman Sardi yang total memerankan tokoh Abang, seorang penderita autisme. It’s probably his best performance in a movie among all extraordinary performances he’s ever played. Di segmen yang sama, Prisia Nasution dan terutama Dewi Irawan juga tak kalah mengiris hati.

Acha Septriasa yang semakin hari semakin matang kemampuan aktingnya tampil lepas dan sangat baik di sini. Meski lawan mainnya, Indra Birowo terasa agak miscast, namun keduanya mampu menghadirkan chemistry yang cukup kuat dan nyata.

Di segmen Cicak di Dinding, Sophia Latjuba dan Yama Carlos menunjukkan chemistry yang sangat kuat antara love dan lust-nya. Come back yang baik untuk Sophia Latjuba (atau yang sekarang telah berganti nama menjadi Sophia Mueller).

Amanda Soekasah yang baru saja kita lihat aktingnya sebagai penulis Zara Zettira di Loe Gue End  tampil cukup baik di segmen Hanya Isyarat meski ada beberapa dialog puitis yang seharusnya dibawakan sebagai dialog sehari-hari namun terdengar seperti membaca sajak. Sementara Fauzi Baadilla dan pendatang baru Hamish Daud cukup menghidupkan peran masing-masing meski porsinya memang tak begitu banyak.

Terakhir, saya kurang suka penampilan Dwi Sasono dan Asmirandah di segmen Firasat yang membawakan peran masing-masing terlalu melodrama ala sinetron. Cara Dwi Sasono membawakan dialog puitisnya saja sudah terlalu dibuat-buat. Untung saja penampilan natural dari Widyawati mampu mengcover segmen ini dengan baik sehingga tidak jatuh begitu jauh dibandingkan segmen-segmen lainnya.

Technical

Selain editing yang patut diacungi jempol, tidak ada kendala berarti untuk teknisnya. Seperti layaknya film-film Indonesia lain yang unggul di gambar (sinematografi), penata gambar Yadi Sugandi memberikan kemampuan terbaiknya dalam menghadirkan gambar-gambar serta warna yang memukau. Didukung pula oleh desain produksi, mulai dari setting lokasi, kostum, hingga properti yang ditata dengan sangat baik dan indah.

Score dan lagu-lagu soundtrack yang pada dasarnya sudah ada melengkapi novelnya dibawakan ulang oleh musisi-musisi papan atas negeri ini dengan sangat baik dan memperkuat emosi yang telah tersampaikan dengan baik oleh gambarnya. Sebut saja Glenn Fredly yang membawakan Malaikat Juga Tahu, Dira Sugandi dengan Cicak di Dinding, Raisa dengan Firasat, Acha Septriasa dan Tohpati dengan Curhat buat Sahabat, dan Drew dengan Hanya Isyarat. Jika penggemar Dewi Lestari sebagai musisi, tentu saja soundtrack-soundtrack ini wajib menjadi koleksi Anda.

The Essence

RV mengajak penonton untuk merasakan cinta tanpa perlu terucap melalui segmen-segmen yang memiliki cara dan pesan cinta yang berbeda-beda. Feel it and discover the similar signs in our life.

They who will enjoy this the most

  •           Penggemar novel dan novelet karya Dewi Lestari
  •           Penikmat film-film romantis terutama yang menyayat hati
  •           Penonton yang belajar untuk merasakan cinta tak terucap di sekitarnya
Lihat situs resmi film ini. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, February 17, 2013

The Jose Movie Review
Django Unchained


Overview

Saya rasa saya tidak perlu lagi mendeklarasikan betapa nge-fans-nya saya dengan sutradara Quentin Tarantino. Maka tak heran jika karya terbarunya ini menjadi film yang paling saya nantikan di tahun 2012, melebihi franchise-franchise besar macam The Avengers maupun The Dark Knight Rises. Secara garis besar jika Anda menyukai formula-formula khas Tarantino, maka dengan mudah Anda menikmati film ke-8-nya ini.

Semua yang Anda harapkan dari film-film Tarantino tersaji lengkap di Django Unchained (DU), masterpiece “Revenge is a dish best served cold” dengan kemasan spaghetti western. Jika Anda jeli, sebenarnya film-film Tarantino tak jauh-jauh dari tema balas dendam. Namun berkat kecerdasannya meramu skrip, dialog, serta menjaga pace dengan baik sehingga tidak terasa membosankan meski durasinya di atas rata-rata dan kerap bertele-tele, setiap karyanya memiliki kekhasan tersendiri dan selalu menjadi semacam cult modern. Bagi yang belum akrab dengan karya-karya Tarantino, DU bisa jadi pengalaman pertama yang tepat sebelum menyaksikan karya-karya sebelumnya seperti Reservoir Dogs, Jackie Brown, Pulp Fiction, Kill Bill vol. 1 dan 2, Death Proof, dan Inglourious Basterds.

Dari DU saya mencoba menganalisa apa yang menjadi kelebihan karya-karyanya sehingga selalu tampak outstanding meski dengan premise sederhana. Jawabannya: ia tahu persis topik yang membuat penonton tertarik menyimak perbincangan-perbincangan panjang dengan durasi dan intensitas yang akurat. Lantas ia tahu pula apa yang membuat penonton gregetan hingga bersorak kegirangan dengan apa yang tersaji di layar. He’s very good at it. Formula sama yang mendefinisikan pengalaman sinematik sebenarnya, yang membuat film-film klasik masih mampu memikat lintas generasi hingga kini. Tak ketinggalan desain karakter-karakter iconic yang applicable untuk Halloween dan quote-quote yang terdengar keren untuk digunakan dalam percakapan sehari-hari. Formula yang berhasil mengantarkan film-filmnya menjadi cult classic berkelas secara instan meski dengan elemen-elemen nyeleneh ala film kelas B era 80-an itu. Toh film-filmnya yang jahil dan kurang ajar terhadap materi-materi aslinya tersebut berhasil membuat saya berharap banyak peristiwa bersejarah terjadi persis seperti yang saya tonton di layar.

Begitu pula dengan DU. Hanya saja dibandingkan karya-karya sebelumnya, DU terasa sedikit di bawah kualitas Tarantino. Sama sekali tidak buruk, namun DU tak memberikan cineorgasm sebesar, misalnya saat saya menyaksikan Inglorious Basterds (IB) yang menurut saya adalah film terbaik Tarantino. DU masih memberikan klimaks-klimaks kecil di setiap babaknya dan lebih dari cukup untuk membuat saya bersorak-sorai. Namun hingga akhir film “kadar” klimaksnya nyaris sama. Bandingkan dengan IB yang klimaks-klimaksnya terus meningkat hingga ending yang sangat luar biasa dan terus membekas dalam ingatan saya. Bisa jadi pula faktor saya yang mulai bisa membaca polanya sehingga sedikit banyak mampu menebak kelanjutannya dengan mudah meski tetap saja membuat saya excited.

Other than that, DU masih sangat menghibur dengan kecerdasan-kecerdasan dialog, referensi menarik (mulai mitologi Jerman, fakta tentang penulis kisah The Three Musketeers, Alexandre Dumas, hingga anekdot medis tentang perbedaan tengkorak ras negroid), humor yang benar-benar lucu, dan action gore-fest bertubi-tubi yang membuat fansnya bersorak-sorai.

The Casts

Christoph Waltz rupanya mulai menjadi aktor favorit Tarantino dan itu memang beralasan. Penampilannya sebagai bounty hunter mantan dokter gigi bernama Dr. King Schultz memang berbeda jauh dengan Lt. Hans Landa di IB, namun keduanya memiliki kharisma tersendiri yang sama kuatnya. Tak heran Academy kembali mengganjarnya nominasi Best Actor in Supporting Role untuk perannya di sini.

Jamie Foxx selaku pengisi peran utama cukup berhasil menghidupkan karakter Django Freeman sehingga tampak dan terdengar keren meski tak se-iconic karakter-karakter utama di film Tarantino, seperti misalnya The Bride (Kill Bill). Sekedar meracau, untung saja kerja sama barter Tarantino dengan RZA di The Man with the Iron Fists hanya sebatas mengisi soundtrack, bukan sampai RZA yang mengisi karakter utama yang bisa-bisa merusak segalanya.

Leonardo DiCaprio yang notabene jarang mengisi peran antagonis tampil maksimal pula di sini. Sisi terbengisnya sangat terasa dan terlihat di sini. Kehadiran serta gerak-geriknya menimbulkan teror tersendiri bagi penonton.

Di lini pemeran pendukung, Samuel L. Jackson (yang juga menjadi aktor langganan Tarantino) tampil paling mengesankan berkat karakternya yang unik; seorang kulit hitam yang justru menyiksa sesama rasnya. Karakter yang menarik untuk dianalisa dan dibawakan dengan sangat iconic pula oleh Jackson. Terakhir, Kerry Washington dengan penampilannya yang tak banyak mampu menyentuh sekaligus membuat penonton bersimpati padanya.

Technical

Anda merasa editingnya banyak yang kasar (terutama lagu yang dipotong seenaknya)? Ah itu memang disengaja dan sudah menjadi ciri khas film-filmnya, bersamaan dengan unsur-unsur vintage seperti yang teraplikasi pada logo studio dan credit, serta playlist soundtrack-nya yang lintas generasi maupun genre. Racikan nyelenehnya tetap berhasil membuat Anda excited atau setidaknya membuat teriak spontan, “Anjrit, Gokil!” bukan? Yah, itulah Quentin Tarantino. Daripada saya jelaskan di sini mending Anda mengalaminya sendiri.

Sepeninggal Sally Menke, editor langganan Tarantino yang seperti sudah paham betul selera Tarantino, editing DU dikerjakan oleh mantan asisten Menke, Fred Raskin. Hasilnya memang tak jauh berbeda, namun masih ada beberapa “ketidak-nyamanan”. Misalnya saja pada perpindahan adegan flashback maupun perpindahan babak yang terasa tidak semulus atau senyaman biasanya. Tapi… yah masih mengusung semangat Tarantino yang sama sih.

Jika Anda menemukan properi-properti yang terasa misplace pada setting waktunya, ya harap maklum saja. Let’s not make it a big deal. Anggap saja semua ini terjadi hanya di dalam dunia imajinasi (liar) seorang Quentin Tarantino, bukan dunia nyata. Anyway, setting lokasi seperti rumah di Candyland dan clubhouse Cleopatra tampak sangat indah sesuai dengan jamannya, lengkap dengan aneka perabotan dan pernak-perniknya. Begitu pula tata kostum yang tergarap dengan sangat rapi, memukau, dan penuh warna. Sungguh sebuah desain produksi yang keren.

The Essence

Saya menangkap penamaan Candyland, karakter Calvin Candie, dan seorang dokter gigi merupakan sebuah metafora dari cerita. Tema kebebasan (budak) mewarnai motif balas dendam yang menjadi plot utama. Selain itu, karakter Django yang mendobrak anekdot Calvin tentang “otak menghamba” kulit hitam, tak hanya dalam hal menembak ataupun menyerang, namun juga dalam menjaga emosi dari pancingan musuh dan menyusun strategi cerdas, menjadi sub-plot yang tak kalah menariknya.

They who will enjoy this the most

  • Quentin Tarantino fans, for sure
  • Penonton umum yang mulai bosan dengan formula mainstream Hollywood akhir-akhir ini dan butuh penyegaran
  • Penikmat film dengan dialog-dialog cerdas
  • Penonton yang menyukai ketegangan dibangun melalui dialog dan kharisma akting para karakternya
  • Penggemar action gore 

Academy Awards 2013 Nominees for :

  • Best Achievement in Cinematography
  • Best Achievement in Sound Editing
  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Performance by an Actor in a Supporting Role
  • Best Writing, Screenplay Written Directly for the Screen

Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Mama


Overview

Apa yang kebanyakan penonton harapkan ketika menonton sebuah film horor? Saya sangat mengerti bahwa yang paling penting adalah bisa membuat penonton merinding, menutup mata, telinga, hingga mungkin juga menjerit-jerit ketakutan. Maka formula film-film horor terus berevolusi demi memuaskan emosi penontonnya. Era 2000-an trend horor dunia seolah menegaskan bahwa film horor yang menyeramkan adalah yang tidak terlalu sering menampakkan sosok hantunya. Cukup sekali saja di penghujung cerita namun dengan tampilan yang mengejutkan. Atau bisa juga bermain-main di atmospheric, misalnya faktor setting lokasi atau sound effect dan score. Apapun itu, setiap penonton punya selera masing-masing yang tidak bisa dijadikan patokan untuk penonton yang lain.

Begitu pula dengan Mama yang bagi saya pribadi sama sekali tidak berhasil membuat bulu kuduk saya berdiri. Entah memang bukan tipe horor saya ataupun karena menonton di bioskop yang kebetulan studionya penuh (ini juga sangat mempengaruhi mood menonton). Sebenarnya tak ada yang salah dengan formula-formula horornya, misal dengan tampilan sosok Mama yang kerap menunjukkan diri terang-terangan dan memang cukup mengerikan. It’s fine dan efek kejutnya pun cukup banyak disebar di banyak adegan. Tetapi bagi saya pribadi ada hal lain yang membuat horor Mama kalah pesona, yakni konsep cerita.

Mama mungkin punya premise yang sangat sederhana dan kelewat klise (termasuk dalam hal formula adegan-adegannya, seperti what will happen next or which will die next). Namun jika Anda mau melihat dan menganalisanya lebih dalam, Mama adalah film horor dengan sisi psikologis yang cukup kompleks, apalagi melibatkan anak-anak di bawah usia 10 tahun. Plot pun dibangun dengan cukup menarik berkat perkembangan karakter-karakter yang natural dan digarap dengan rapi. Semua ini membuat saya sibuk memikirkan aspek psikologis ini ketimbang menikmati sajian horor menakutkan, menegangkan, sekaligus mengejutkan sepanjang film. Aspek psikologis anak-anak seolah menjadi favorit Guillermo del Toro untuk ditempatkan di film-film horor yang diproduserinya, setelah sebelumnya ada Pan’s Labyrinth, The Orphanage, dan Don’t be Afraid of the Dark.

So, bagi Anda yang enggan ikut bersusah-susah berpikir apa yang menjadi beban pikiran saya sepanjang film, tidak ada salahnya mencoba menikmati sajian horor yang disuguhkan Mama. Jangan dengarkan apa kata orang karena mungkin efeknya bisa berbeda bagi Anda. Memang ada banyak yang mengeluhkan “buruk sekali” untuk Mama, namun tak sedikit pula yang berhasil dibuat ketakutan setengah mati olehnya. Bukan soal siapa yang lebih penakut, tetapi terletak pada selera horor semata.

The Casts

Karakter anak-anak di film horor hampir selalu tampil mencengangkan. Di sini ada dua aktor wanita cilik yang tak hanya berhasil tampil mengerikan namun juga membuat penonton (bahkan saya) tersentuh; Megan Charpentier (Victoria) dan tentu saja terutama Isabelle NĂ©lisse (Lilly). Karakter-karakter menarik yang dikembangkan dengan mulus dan sangat baik sekaligus dihidupkan oleh aktris-aktris yang tampil luar biasa. Jessica Chastain yang akhir-akhir ini namanya semakin diperhitungkan pun cukup berhasil memberikan nafas tersendiri dengan tampilan ala rock-chic yang keren.

Yang tak kalah menariknya adalah aktor Javier Botet yang mengisi peran Mama. Yap, ikon makhluk halus di sini bukanlah hasil rekaan digital semata. Kelenturan Botet terutama dalam “melepaskan” sendi-sendi tubuh serta jari jemari yang tumbuh memanjang membuat sosok Mama praktis hanya butuh sentuhan digital untuk efek rambut panjang yang melambai-lambai.

Technical

Setting lokasi dan properti banyak membantu dalam memberikan efek mengerikan, misalnya rumah keluarga, kabin di hutan, dan terowongan. Namun bagi saya unsur creepy yang paling menghantui adalah alunan lullaby yang kerap disenandungkan sosok Mama dan juga diaplikasikan di beberapa score-nya.

Tidak ada yang begitu istimewa namun cukup menarik di divisi visual effect. Tampilan sosok Mama yang banyak dibanding-bandingkan dengan sosok dementor di franchise Harry Potter cukup mengerikan dan sangat nyata.  Aspek visual yang paling mengganggu saya hanyalah peletakan cahaya outdoor yang terlalu terang ketika adegan malam hari sehingga dari dalam jendela terlihat seperti siang hari.

The Essence

Hubungan ibu-anak memiliki ikatan batin dan psikologis begitu kuat yang tidak mudah dilepaskan begitu saja. Tidak hanya saat proses kelahiran, namun justru terjalin lebih kuat saat pengasuhan. Ini adalah sebuah dilema yang cukup kompleks dan berhasil menyita perhatian saya sepanjang film dan Mama memvisualisasikannya dengan begitu menyentuh.

They who will enjoy this the most

  • Penggemar horor yang tak keberatan untuk kerap dikejutkan dan dengan kehadiran sosok makhluk halus yang terang-terangan dan cukup sering
  • Penonton yang menyukai kisah dengan aspek psikologis
  • The moms
 Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates