Selamat Hari Film Nasional

Celebrate Film Nasional by watching Film Indonesia. Find one suits you here.

The Guys

Raditya Dika on his following project in 2017.
Read more.

Stip dan Pensil

Ernest Prakasa to go back to the high school and learn to teach people around.
Opens April 19.

Kartini

Hanung Bramantyo pick Dian Sastrowardoyo to portray Kartini in her new version of biopic.
Opens April 19.

Fast and Furious 8

When someone has broken the solid family, will they still believe in theirs?
Read more.

Tuesday, January 22, 2013

The Jose Movie Review
Sang Pialang

Overview

Senang rasanya khazanah film Indonesia semakin beragam, tak hanya berada di zona nyaman selama ini yang tak jauh-jauh dari percintaan remaja, atau horor seks, atau drama tearjerker yang mengajak penonton mengasihani penderitaan orang, atau drama yang berdalih memberikan motivasi. Meski akan sulit mengundang penonton sebanyak genre-genre mainstream yang sedang jadi trend, bagi beberapa penonton justru merupakan kesegaran tersendiri. Apalagi mengusung dunia pasar saham yang termasuk segmented dan tak banyak pemiantnya di Indonesia. Maka jika mengangkat dunia tersebut ke film dengan kerumitan plot seperti layaknya Wallstreet garapan Oliver Stone, bisa dipastikan penonton akan menjauhinya bahkan sebelum mengetahui detail premise film itu sendiri. So, menurut saya adalah pilihan yang bijak untuk “hanya” mengangkat hal-hal basic tentang stock trading, atau tak salah juga jika menganggapnya hanya sebagai latar belakang cerita.
Demikianlah SP bergulir, serasa tanggung di tengah-tengah. Terlalu ringan untuk penonton yang memang menggeluti dunia pasar saham, namun sudah terlebih dahulu dijauhi oleh penonton awam. Sayang sekali. Padahal plot yang dikedepankan sebernarnya adalah hal-hal yang dekat dengan masyarakat kita, seperti persahabatan, hubungan ayah-anak, cinta segitiga, hedonisme, serta profesionalisme kerja. Memang sekilas terdengar klise tetapi admit it, begitulah yang memang bisa diterima oleh masyarakat luas kita. Berharap dengan “pancingan-pancingan” tersebut penonton yang seawam apapun bisa masuk ke dalam dunia stock trading dengan mulus. Saya pun harus mengakui skrip menarik yang membingkai plot-plot klise tersebut dengan dialog-dialog cerdas dan humor-humor yang segar.
Tak hanya itu, kolaborasi Titien Wattimena dan Anggoro Saronto pun saya rasa berhasil menuliskan karakter-karakter pendukung yang menarik dan efektif. Misalnya karakter Irfan yang selalu “ngikut” setiap kali Gilang taruhan bola, merepresentasi salah satu tipikal pialang saham yang juga cuma mengekor langkah pialang lainnya. Aksi-aksi yang kerap dilakukan pialang saham, baik yang jujur maupun curang, tertuang lancar dalam berbagai adegan. Kasus-kasus yang membuat penonton (setidaknya saya) penasaran how bad things can go, bagaimana solusinya, dan cukup berpengaruh pada pandangan saya akan dunia pasar saham. Semua konfliknya tidak rumit dan memang terjadi secara natural, dan tanpa dramatisasi yang terlalu berlebihan. Hal yang positif bagi saya namun bagi yang berharap ada something “bang” di sini, bisa jadi akan kehilangan antusiasme. Jadi saran saya santai saja, nikmati tiap durasinya, dan Anda akan tersenyum dan setidaknya sedikit mengenal dunia pasar saham setelah film berakhir.

The Casts

Seperti biasa, Abimana Aryasatya memerankan karakter tipikalnya. Tak beda jauh dari perannya di Catatan Harian Si Boy yang wise-ass dan kalem, but that’s the character he’s really best at. Begitu juga dengan Christian Sugiono yang tak beda jauh dengan watak karakter biasanya; keras kepala, licik, dan angkuh. The screen’s sweetheart, Kamidia Radisti, pesonanya tidak begitu banyak mencuri perhatian padahal satu-satunya wanita yang disorot sepanjang cerita. Tak buruk, tetapi biasa saja.
Yang justru menarik dan membuat film menjadi hidup serta segar adalah Alblen dan Mario Irwinsyah. Tak hanya karakter-karakternya yang ditulis dengan baik, namun juga mampu dibawakan oleh keduanya dengan sangat baik.

Technical

Teknis gambar menjadi salah satu keunggulan dimana setting lokasi, tata kamera, dan staging yang tertata dengan rapi dan indah.
Sementara audio cukup baik memanfaatkan fasilitas surround namun sayang malah minus di dialog recording yang tidak stabil, terutama untuk karakter Gilang yang voice-nya sering tenggelam. Tidak sampai membuat dialognya tidak terdengar jelas, tetapi cukup mengganggu kenyamanan menonton. Untung kehadiran score dan theme song-nya ditata dengan baik sehingga setidaknya menutupi kekurangan di audio.

The Essence

It’s a cruel cruel world out there baby, not only in stock trading world, but even in daily life. Sometimes kita menemukan sahabat terdekat yang merasa cemburu dengan pencapaian sahabatnya sendiri dan diam-diam menusuk dari belakang. Hanya sahabat sejati saja yang mau memaafkannya bahkan membantu menyelesaikan kekacauan-kekacauan yang disebabkan oleh kecemburuan tersebut.

They who will enjoy this the most

  • Pelaku pasar saham yang mengajak kerabat/keluarga/teman yang masih awam
  • Siapa saja untuk ditonton bersama sahabat-sahabat
Lihat situs resmi film ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, January 20, 2013

Cita-Citaku Setinggi Tanah DVD Limited Release

Hai pembaca setia JMR!

Apakah Anda sudah menyaksikan Cita-Citaku Setinggi Tanah? Salah satu film Indonesia terbaik 2012 yang sederhana namun sangat menginspirasi, tidak hanya untuk anak-anak namun siapa saja (baca review lengkapnya di sini). Tidak hanya content filmnya tetapi juga saat penayangan di bioskop dimana seluruh penghasilan disumbangkan ke Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia. Tak hanya dari tiket bioskop, namun juga penjualan CD soundtrack-nya.

Tak disangka film sederhana yang dibuat sekedar untuk menginspirasi generasi muda Indonesia ini berhasil melewati seleksi dan mewakili Indonesia di Berlinale, salah satu festival film internasional bergengsi yang diadakan di Berlin, Jerman untuk kategori Generation Kplus. Tak hanya soal penghargaan, karena dengan berlaga di festival internasional seperti ini pintu distribusi yang lebih luas terbuka lebar. Menurut saya adalah hal yang mulia untuk menyebarkan kebaikan lebih luas lagi.

Eugene Panji selaku sutradara menggagas untuk mengajak cast dan crew terbang ke Berlin, sekedar merasakan bangga atas kerja keras mereka selama bertahun-tahun selama menyelesaikan film yang punya judul internasional Stepping on the Flying Grass ini. Sayang, pengajuan bantuan dana ke Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenkraf) ditolak. Eugene pun berusaha mencari cara agar bisa memberangkatkan mereka. Bagus lah mereka tidak mengandalkan pihak pemerintah dan berusaha secara mandiri untuk mencapai cita-cita, sesuai dengan yang mereka sebarkan melalui filmnya.

Akhirnya tercetuslah ide untuk merilis film ini dalam format DVD yang diproduksi secara terbatas (rumahan) dan tidak dijual untuk umum. Harganya memang lebih tinggi dari DVD produksi massal, namun untuk tujuan yang mulia dan mendapatkan barang langka yang tidak diproduksi massal, I'm sure it will worth it. Jika tertarik untuk turut membantu, hanya ada satu jalan untuk mendapatkan DVD ini, yakni melalui sutradaranya sendiri, Eugene Panji (@eugenepanji). Cukup kirimkan email ke eugenepanji@yahoo.com untuk pre-order. Beliau akan menjelaskan prosedurnya langsung secara pribadi.

Saya tahu mungkin Anda akan mengira saya berafiliasi dengan film ataupun Eugene sehingga mau membantu promosi dengan imbalan. Well, saya tidak menerima apapun dari pihak manapun ketika menuliskan post ini. Saya sendiri pun membayar nominal yang sama untuk membantu mereka. Mari kita terbuka atas kebaikaan ini dan menyebarkannya lebih luas lagi. Cheers!
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Les Misérables

Overview
Seberapa sering frekuensi film musikal singgah di layar bioskop? Apalagi di Indonesia yang penontonnya entah kenapa masih banyak yang menganggap film musikal sebagai hal konyol dan norak. Pasti Anda sering mendengar cibiran, “ciih… mau mati aja pake nyanyi-nyanyi segala…” Saya sebenarnya marah dengan pendapat shallow seperti ini tetapi apa lacur. Seni teater terutama musikal memang tidak begitu dikembangkan di sini sehingga tidak begitu akrab dengan masyarakat kita. Kalaupun ada yang masih survive, sudah terlanjur lekat dengan tontonan kelas menengah ke bawah yang menganggap nonton film di bioskop sebagai barang mewah. Berbanding terbalik dengan di Amerika Utara atau negara-negara di Eropa di mana seni teater menjadi hiburan mewah yang malah dinikmati oleh kalangan atas dan borjuis hingga kini. Jadi saya sebenarnya agak bingung dengan selera masyarakat kita yang terlalu rendah atau terlalu tinggi. Well, whatever it is, jika Anda open-minded dengan tontonan musikal atau malah menggemarinya, maka pantang untuk melewatkan sajian musikal teranyar Hollywood tahun ini.

Les Misérables (LM) sebenarnya bukan karya baru. Novel karangan Victor Hugo ini sudah ada sejak berabad lalu dan hingga kini udah sering sekali diangkat dalam berbagai medium. Terakhir yang terkenal adalah versi tahun 1998 yang dibintangi Liam Neeson, Geoffrey Rush, Uma Thurman, dan Claire Danes. Namun baru 2012 ini versi drama musikalnya diangkat ke layar lebar dengan bintang-bintang masa kini yang tak kalah berkelasnya; Hugh Jackman, Russell Crowe, Anne Hathaway, dan Amanda Seyfried. Anda tidak perlu mengenal jalinan cerita aslinya untuk bisa menikmati versi musikalnya ini. Justru Anda akan semakin terpukau oleh kisah menyentuh dan menginspirasinya yang dibawakan dengan performa luar biasa dari para aktornya.

Berbeda dengan kebanyakan drama musikal yang diangkat ke layar lebar dimana masih ada dialog-dialog yang dibawakan secara non-musikal, LM menyajikan lebih dari 90% dialognya dalam bentuk nyanyian. Sekali lagi saya harus memaklumi penonton-penonton yang berkeluh-kesah seperti yang saya tulis di awal. Teknik aktor yang langsung menyanyikan nomor-nomor ketika direkam gambarnya memang terasa berbeda dengan film-film musikal lain yang menggunakan teknik pengambilan gambar dan suara terpisah. Mungkin bakal terasa kasar dan tidak sesempurna ketika direkam terpisah lalu disatukan dan diedit. Sebaliknya, justru teknik seperti ini berhasil merekam emosi yang sangat hidup ketika para aktor membawakan nomor-nomornya. Apalagi seringkali shot yang digunakan adalah close-up ke wajah karakter dan juga one-take shot. Oke mungkin tidak one-take shot, tetapi untuk adegan satu lagu penggunaan variasi angle-nya tak banyak. And for me, it worked very well.

Durasi yang sekitar dua setengah jam dan rentang waktu cerita yang juga cukup panjang berhasil diterjemahkan oleh Tom Hopper (The King’s Speech) dengan sangat efektif dan pace yang mengalir lancar, seolah ia memboyong panggung teater ke layar dengan background hidup yang luar biasa. Jika Anda merasakan kelelahan di tengah-tengah cerita, stay tune. Itu bukan karena alur ceritanya, tetapi bisa jadi Anda kelelahan menyantap dialog-dialog yang dilagukan. Apalagi jika Anda belum terbiasa menonton film musikal. Percayalah, LM punya ending yang sangat menyentuh dan melegakan. I shed happiness tears at the end.

So Anda tidak boleh melewatkan kesempatan untuk menyaksikan suguhan film drama musikal terbaik dekade ini di layar bioskop. Sungguh sebuah pengalaman sinematik  luar biasa megah yang jarang bisa Anda dapatkan, sambil menunggu, syukur-syukur, jika kelak di Indonesia hiburan teater (khususnya musikal) bisa berkembang dan menyentuh segmen yang lebih luas.

The Casts

Semua cast mendukung LM dengan teramat baik dan justru menjadi kekuatan utama film. Terutama sekali yang paling menonjol tentu saja Anne Hathaway yang meski porsinya tak banyak namun sangat berhasil mencuri perhatian serta hati saya. I Dreamed a Dream dan potongan bait di Epilogue membuat saya merinding berkat olah vokal serta penghayatan emosi yang mengagumkan. Russell Crowe dan Amanda Seyfried tidak begitu mengejutkan karena masing-masing sudah punya pengalaman di dunia musik,

Hugh Jackman meski memegang peran utama dan dinominasikan di Academy Awards, somehow tidak begitu menarik perhatian saya. Well okay, dia tampil beda dari peran biasanya dan emosinya keluar dengan sangat baik di berbagai adegan. Ia tampak begitu berusaha keras untuk bernyanyi dan saya hargai itu, akan tetapi saya tidak bisa bohong bahwa banyak dari lirik yang ia bawakan tidak begitu jelas nadanya. Forgive me but I don’t like his musical performance.

Kejutan paling besar terletak pada pendatang baru Samantha Barks, pemeran Eponine. Dengan paras yang seksi dan suara yang powerful, saya yakin banyak produser film maupun rekaman yang akan meliriknya. Kejutan lainnya yang ternyata mampu menyegarkan sehingga tidak melulu beraura mellow adalah Sacha Baron Cohen dan Helena Bonham Carter. One of my favorite performances and numbers.

Eddie Redmayne yang sebelumnya kita kenal sebagai brondong yang menarik perhatian Marilyn Monroe di My Week with Marilyn, ternyata mampu mengolah vokal dengan sangat baik di balik aktingnya yang sudah above average. Terakhir, penampilan aktor-aktor kecil, Daniel Huttlestone (Gavroche) dan Isabelle Allen (Cossette kecil) yang menggemaskan dan juga berhasil menjadi scene stealer.

Technical

Setting Perancis abad 19 dihidupkan dengan sangat baik dan detail; setting lokasi, kostum, dan make-up. Meski penampakan bendera Perancis yang tidak sesuai dengan jamannya namun overall magnificent.

Shot close-up yang memaksimalkan tampilan akting para aktor untuk membuat penonton merasakan emosi cerita diseimbangkan dengan longshot yang merekam keindahan latar panoramic, menghasilkan satu kesatuan yang luar biasa indah.

Terakhir, tak perlu lagi rasanya saya memuji tata suara dan tata music-nya. The best in years.

The Essence

Les Misérables membawa kita ke masa di mana masyarakat menganut istilah “once a thief, forever a thief”. Sebenarnya paham seperti ini masih terus berlaku hingga sekarang, di negara yang menganut sistem hukum yang (katanya) adil sekalipun. Cap negatif seperti ini yang mungkin lantas membuat pelaku kejahatan terus mengulangi aksinya. Toh mau sebaik apapun berperilaku, imagenya tidak bisa berubah.

Karakter Jean Valjean merepresentasikan kejahatan yang ditebus oleh kebaikan demi kebaikan sepanjang hidup. Meski masa lalu yang kelam terus menghantui, ketulusannya yang konsisten membuahkan ketentraman hati.

They who will enjoy this the most

  • Classical story fans (especially Victor Hugo)
  • Renaissance themed lovers
  • Musical drama enthusiasts

Academy Awards 2013 Nominees for :

  • Best Achievement in Costume Design
  • Best Achievement in Makeup and Hairstyling
  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Song
  • Best Achievement in Production Design
  • Best Achievement in Sound Mixing
  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Performance by an Actor in a Leading Role
  • Best Performance by an Actress in a Supporting Role
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Gending Sriwijaya

Overview

Sudah berapa kali Anda mendapatkan nama Hanung Bramantyo di poster film Indonesia tahun 2012 lalu? Kalau menurut hitungan saya, setidaknya ada Perahu Kertas 1-2, Cinta tapi Beda (menemani salah satu muridnya, Hestu Saputra), dan Habibie dan Ainun (sebagai salah satu co-producer). Tahun 2011 lalu malah ada tiga film yang menyangkut-paut namanya; Tendangan dari Langit, Tanda Tanya, dan Pengejar Angin (Dapunta). Tak terkecuali di awal 2013 dimana proyek film seolah tidak pernah berhenti mengalir padanya. Kali ini Pemprov Sumatra Selatan yang lagi-lagi mengontraknya untuk menggarap proyek film kedua setelah Pengejar Angin (Dapunta). Tak hanya menyutradarai, Hanung juga yang menulis skripnya yang dipromosikan sebagai film sejarah kolosal Indonesia jaman kerajaan.
Well Indonesia memang punya sejarah yang cukup panjang dalam mengangkat kisah jaman kerajaan-kerajaan Nusantara. Sempat pula mengalami masa-masa keemasan meski akhirnya perlahan mulai ditinggalkan dan tergantikan dalam format sinetron yang semakin lama semakin ngaco, baik dalam hal cerita maupun production value. Alangkah patut dihargai dan disambut atas niat baik Hanung untuk mencoba menangani berbagai genre, termasuk yang sudah lama ditinggalkan dan sudah terlanjur punya image buruk di mata penonton Indonesia: sejarah kerajaan Nusantara. Soal berhasil atau tidak, itu urusan lain.
Promo yang menggunakan istilah “kolosal” rupanya masih belum tepat untuk disematkan pada film bertajuk Gending Sriwijaya ini karena Hanung memposisikannya lebih kepada sebuah film drama bersettingkan pecahan Kerajaan Sriwijaya, Kedatuan Bukit Jerai. Cerita yang digunakan di sini memang bukan berdasarkan kisah sejarah nyata atau legenda. Hanung murni menulis kisah fiksi yang sedikit banyak sebenarnya merefleksikan keadaan politik tanah air saat ini, dengan karakter-karakter yang rupanya terinspirasi dari cerita legenda Sriwijaya yang sudah ada. Bukan menjadi masalah sebenarnya selama cerita tersebut masih menarik untuk diikuti di balik durasinya yang cukup panjang, 138 menit.
Ide cerita yang diusung Hanung sebenarnya sudah cukup jamak diangkat dalam medium film, khususnya Hollywood. Versi paling modern-nya mungkin banyak punya kemiripan dengan Thor; perebutan kekuasaan sebuah kerajaan monarki oleh kedua bersaudara anak Raja yang mengakibatkan salah satunya terasingkan. Maka sebuah pembalasan (atau lebih tepatnya pengembalian kekuasaan) dilakukan oleh pihak yang terasingkan untuk mengembalikan kerajaan ke keadaan yang stabil. Yes, that simple. Namun yang menarik sebenarnya ada pada sub-plot kelompok vigilante yang di dalamnya tergabung seorang wanita tangguh nan seksi yang diperankan oleh Julia Perez. Perannya inilah yang melahirkan istilah Gending Sriwijaya hingga dijadikan titel.
Unsur menarik dari sub-plot tersebut sayangnya seolah hanya menjadi pemanis dan tidak banyak dieksplor dalam skrip. Justru Hanung menyelipkan terlalu banyak sub-plot yang membuat GS terasa terlalu panjang, bercabang ke mana-mana, dan pada akhirnya mengurangi kenikmatan menonton. Ada banyak sekali bagian yang menurut saya tidak perlu ditampilkan terlalu detail namun ditampilkan semua di layar bak drama seri televisi. It’s ok for TV series, but for theatrical, it must have a different treatmeant kan? Contohnya saja, cerita bisa saja dimulai langsung ketika pembunuhan raja terjadi. Tidak perlu lah menampilkan kedatangan Purnama Kelana secara bertele-tele hingga memaksakan untuk mengurusi masalah santapan babi untuk tamunya yang beragama muslim demi idealisme Hanung. Jika Anda mengamati karya-karya Hanung akhir-akhir ini, entah kenapa “babi” menjadi unsur favoritnya dalam menggambarkan toleransi antar umat beragama. Pun penggantian beberapa adegan dengan visualisasi animasi justru lebih terkesan untuk menghemat budget ketimbang mempersingkat alur. Sayang sekali sebenarnya.
Untung saja penampilan para aktor terutama yang sudah senior dan adegan-adegan perkelahian nan brutal cukup menghibur di banyak kesempatan. Sebagai sebuah awal permulaan baru genre kerajaan Nusantara, it’s ok. Semoga saja ke depannya genre sejenis bisa berkembang dengan skrip yang jauh lebih baik dan tentu saja production value yang lebih epik.

The Casts

Penampilan aktor menjadi kekuatan untuk menutupi skripnya yang membosankan dan meluber kemana-mana, terutama aktor-aktor senior seperti Slamet Rahardjo Djarot dan Jajang C. Noer. Agus Kuncoro masih tampil baik terlepas dari shading six-pack palsunya yang menggelikan dan tidak konsisten itu. Sahrul Gunawan... agak miscast sih sebenarnya tetapi usahanya cukup maksimal untuk menghidupkan karakternya.
Mathias Muchus tidak memiliki banyak porsi untuk membuat karakternya menjadi menarik selain karena faktor tata rias make over-nya. Rifnu Wikana masih memerankan karakter tipikal dan tercocoknya dengan ekspresi wajah penuh murka itu. Qausar HY sama seperti Mathias Muchus yang tidak punya banyak porsi.
Sementara bintang yang mungkin menjadi faktor utama menonton GS bagi kebanyakan penonton adalah Julia Perez yang banyak dinilai sebagai usahanya “naik kelas” dari sekedar bomb seks menjadi aktris yang patut diperhitungkan. Kemampuan aksi bela diri yang di luar ekspektasi, akting yang ternyata lebih dari sekedar cukup baik, dan aura seksi yang masih terpancar meski dengan warna kulit yang digelapkan dan tanpa pakaian yang terlampau mengeskploitasi organ, she’s the star here.

Technical

Poin positif lainnya yang menjadikan GS masih layak untuk disaksikan adalah production value-nya yang tergolong sangat niat. Terutama sekali setting serta props yang tampak real dan tidak main-main. Visualisasi kerajaan dalam wideshot mungkin masih tampak animasi (atau maket?) but overall was still above average. Adegan laganya pun ditata dengan rapi dan visual effect gore yang real.
Teknis favorit lainnya yang juga mencengangkan saya ketika menyaksikannya di bioskop adalah score megah yang ditata oleh Djaduk Ferianto. Luar biasa, bahkan jika digunakan untuk film kolosal yang melibatkan peperangan jauh lebih epik.

The Essence

Dua pangeran penerus tahta kerajaan yang berbeda preferensi, yang satu dalam kekuatan perang dan satunya dalam intelektualitas sebenarnya merupakan simbol dari keseimbangan yang dua-duanya dibutuhkan dalam sebuah kerajaan. Namun ketamakan dan pengkhianatan salah satu mengganggu keseimbangan tersebut dan nyaris menghancurkan semuanya. Hanung pun kembali mendobrak budaya patriarki. Seolah ia ingin menyampaikan bahwa yang paling dibutuhkan dalam kemajuan sebuah kerajaan adalah intelektualitas, bukan melulu maskulinitas yang ditandai oleh kekuatan dalam berperang. Lihat juga simbol kekuatan feminisme yang juga dijadikan titel mengalahkan kedigdayaan penguasa yang maskulin.

They who will enjoy this the most

  • Pecinta cerita bersettingkan kerajaan Nasional
  • Fans Julia Perez
 Lihat data film ini di Film Indonesia dan IdFilmCenter.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, January 16, 2013

The Jose Movie Review
Gangster Squad

Overview
Tema gangster/mafia sudah menjadi sub-genre sendiri, tak hanya di Hollywood tetapi juga di banyak negara lain mengingat eksistensi mafia ternyata hampi selalu ada di negara-negara besar. Hollywood sebagai salah satu trendsetter sub-genre ini tentu saja sudah menelurkan banyak sekali film dan karakter-karakter legendaris hingga kini. Mulai dari Don Corleone dari franchise The Godfather yang menjadi landmark pertama sub-genre ini, Tony Montana, Al Capone, dan masih banyak lagi. Jika dianalisa sebenarnya tidak banyak hal baru yang ditampilkan film-film tersebut. Semuanya memiliki formula yang kurang lebih sama. Yang membedakan biasanya terletak pada keuikan karaktersistik tokoh pemimpin mafia beserta dengan latar belakang kehidupannya. Dengan modal tersebut ditambah aktor hebat yang mampu menghidupkan dengan cemerlang beserta production design yang berkelas sesuai dengan gaya hidup ala gangster, kekerasan di sana-sini yang menegangkan... Voila! Jadilah satu film gangster yang terkesan baru bagi generasinya.
Berbekal dengan analisis tersebut, saya sebagai salah satu penggemar sub-genre ini tidak pernah berekspektasi terlalu tinggi terhadap film bertema gangster. Apalagi di era 2000 ini film bertema gangster sangat jarang diangkat, kalah pamor dengan film-film action bertemakan superhero. Jadi ketika tahun ini disuguhi dua film bertema gangster yang terkesan “berkelas”, Lawless dan Gangster Squad, maka saya menyambutnya dengan antusias, meski seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, tak perlu memasang ekspektasi tinggi-tinggi and let's just have fun. Sayang karena tragedi penembakan Colorado ketika premiere The Dark Knight Rises beberapa waktu lalu, sebuah adegan dihapus, ditulis, serta dishot ulang. Semoga saja adegan tersebut dimasukkan sebagai bonus fitur di versi home video-nya. Sayang rasanya jika tidak terpakai sama sekali.
Mengambil sudut pandang pasukan polisi rahasia yang dibentuk untuk bergerilya dalam rangka menghentikan langkah gangster “pemegang” Los Angeles, Mickey Cohen, Gangster Squad (GS) memang tidak mengusung sesuatu yang benar-benar baru bagi sub-genre gangster. All those classical formula was here : setting Hollywood 40'an lengkap dengan kostum, desain bangunan, props, music jazz, senapan, pejabat yang telah disuap, serta polisi bersih yang bertekad memberantas gangster. The atmosphere itself has been a love letter yang menjawab kerinduan fans-nya. Klise demi klise dalam film sejenis ditampilkan dengan sengaja seolah-olah sebagai mocking di sana-sini. Misalnya saja quote-quote flirting, pamer aksi sang jagoan, atau tindakan-tindakan yang akan dilakukan seorang pemimpin gangster ketika kecewa dengan kinerja anak buahnya. Hal-hal yang mengingatkan saya akan film-film gangster favorit dan berujar sambil tersenyum, “ahseeeekkk” secara spontan. Meski in other side, saya harus mengabaikan beberapa plot hole terutama yang berkaitan dengan logika tindakan yang biasa dilakukan oleh seorang pemimpin gangster. Lebih baik saya menganggap mungkin seperti itulah karakternya, tidak secerdas atau sehati-hati yang lain. Siapalah saya sok tahu bagaimana seorang pemimpin gangster harus bertindak?
GS berada di antara dua treatment : punya materi cerita dan alur yang serius tetapi mocking di sana-sini, spoof tetapi tidak sampai jatuh menjadi slapstick. Menghibur dari dua sisi, komikal sekaligus menegangkan. Lucu, brutal, dan berkali-kali it has its own memorable moments. Dengan treatment demikian, nama Ruben Fleischer rasa-rasanya adalah pilihan tepat untuk mengarahkan. Track record-nya yang berhasil menjadikan Zombieland dan 30 Minutes or Less film unik di sub-genre masing-masing diharapkan mampu menghembuskan nafas kesegaran di sub-genre gangster. Usaha yang baik dan cukup menghibur fans sub-genre-nya meski belum mampu menyamai kesegaran Zombieland maupun 30 Minutes or Less. Sebenarnya tak ada gunanya pula membanding-bandingkan ketiganya karena masing-masing punya keunikan sendiri dan toh saya masih menikmati semuanya. GS tidak pula berusaha tampil serius dengan jalinan cerita yang dibuat sok beda atau sok ribet yang justru malah akan membuatnya lebih susah dinikmati (masih ingat kasus The Man with the Iron Fists?). It’s total fun dan yang pasti senyum lebar pun terukir di bibir saya ketika credit bergaya vintage dengan diiringi Bless You (For the Good That's in You) oleh Peggy Lee dimulai.

The Casts

Jajaran cast list GS bisa jadi salah satu alasan utama penarik minat penonton. Bayangkan saja Sean Penn, Josh Brolin, Ryan Gosling, Emma Stone, Giovanni Ribisi, Michael Peña, Nick Nolte, hingga Robert Patrick berada pada satu layar. Tentu tak perlu diragukan lagi performa akting mereka. Terutama sekali Josh Brolin yang semakin matang dalam menghidupkan peran badass dan diberi porsi peran yang paling banyak. Kualitas akting yang sama ditunjukkan pula oleh Sean Penn. Memang bukan karakter utama dan porsinya tak sebanyak serta sedetail film-film gangster lain, tetapi ia tetap menunjukkan kharisma yang cukup kuat.
Ryan Gosling menampilkan sisi lain yang berbeda jauh dari karakter yang biasa diambilnya. Flamboyan, cenderung lembut, namun cukup berbahaya ketika beraksi. Sementara Emma Stone yang menjadi satu-satunya kembang di antara lebah terasa tidak lebih dari sekedar pemanis. Untung saja pemanis yang tidak “buatan”, diciptakan lemah banget yang justru membuat kehadirannya mengganggu. Setidaknya she’s still a tough and pretty brave lady.
Kehadiran Michael Peña, Anthony Mackie, Giovanni Ribisi, dan aktor-aktor lawas macam Nick Nolte, serta Robert Patrick, cukup meramaikan suasana. Terutama Ribisi yang mengisi peran karakter wise, tidak pandai berkelahi, namun cerdas. Sedikit berbeda dari biasanya (dimana ia selalu hanya mendapat peran pendukung tipikal di film-film action besar) dan terbukti cukup mengesankan.

Technical

Semua elemen pembangun atmosfer glamour Hollywood 40’an digarap dengan sangat serius. Set, prop, kostum, dan terutama pemilihan music Jazz serta score Steve Jablonsky ala-ala film gangster klasik, sangat berhasil menghidupkan atmosfer tersebut. Penggunaan slo-mo dalam timing dan jumlah yang efektif turut menambah keseruan dan ketegangan beberapa adegan laga. Tak ketinggalan pula kerenyahan bass terutama untuk suara tembakan. Semuanya terbungkus dalam satu paket yang tepat guna, tidak terasa berlebihan sesuai setting jamannya.

The Essence

Semua orang punya “badge” dalam hidupnya. Beberapa polisi mengenakan “badge” secara sukarela dan niat yang mulia karena benar-benar ada di dalam dirinya, bukan karena uang atau kenaikan pangkat maupun gaji. Ganjaran yang diterimanya adalah kehormatan dan kebanggan diri. So what’s your “badge”?

They who will enjoy this the most

  • Gangster movies fans
  • The 40’s vintage atmosphere lovers
  • Brutal action enthusiasts
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, January 13, 2013

The Jose Movie Review
Lo Imposible (The Impossible)

Overview

Seperti layaknya bencana alam besar lainnya, Tsunami yang melanda negara-negara di sekitar Samudra Hindia 2004 silam menyisakan duka dan trauma bagi siapa saja yang menjadi korban. Jika tahun lalu Starvision (Indonesia) sempat mengangkat kisah seorang anak Aceh yang kehilangan keluarganya pasca Tsunami lewat Hafalan Salat Delisa, maka kali ini giliran Spanyol yang mengangkat kisah survival korban Tsunami 2004 dengan latar Thailand. Spanyol? Yess, this was not a mega-budget Hollywood flicks ala Roland Emmerich (thankfully). Disutradarai sineas Juan Antonio Bayona beserta penulis skenario Sergio G. Sánchez yang dikenal lewat horor fenomenal The Orphanage 2007 lalu, konon ini merupakan kisah nyata yang dialami keluarga Belón ketika liburan Natal 2004 silam.
Layaknya film Spanyol kebanyakan yang dirilis secara international, The Impossible mem-push emosi penonton begitu dalam hingga masih mampu menghantui penonton jauh setelah filmnya selesai. Itulah kelebihan sinema Spanyol dibandingkan sinema Eropa lainnya, apalagi Hollywood yang semakin mengabaikan sisi emosional. Tentu saja pendekatan yang demikian memberikan nyawa yang luar biasa dahsyat, tidak hanya sekedar pamer kedigdayaan visual. Bukan berarti The Impossible lack in visual effect juga. Percayalah, visual effect terutama ketika ombak raksasa menggulung daratan sangat realistis dan dahsyat. Didukung sinematografi, akting, serta dukungan teknis lainnya, adegan tersebut tak hanya memanjakan mata namun sangat menghantui. Somehow that Final Destination thrilling moment kerap terasa, terutama semenjak mesin blender mendadak mati. You will never know what will happen next on the screen. Di tengah ombak laut yang menggulung daratan, bisa saja tiba-tiba Anda kejatuhan pohon palm atau dihantam mobil yang hanyut. Once again, you’ll never know and that’s very thrilling.
Namun seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, kekuatan utama The Impossible terletak pada kepiawaian meracik adegan pembangkit segala emosi yang dimiliki manusia : ketakutan, kekhawatiran, kepedihan, dan terutama kebahagiaan, secara seimbang. Tidak terasa cheesy atau terlalu over-mellow yang sekedar menjual penderitaan karakter untuk menarik simpati penonton. Ada beberapa bagian yang mungkin bagi penonton snob terasa “soap opera banget” karena serba kebetulan. But if you really believe in God’s mysterious works, there’s no such thing as coincidence. I do and I’ve been there before many times, even though not in equal scale. Toh, Bayona membuatnya dengan takaran yang pas, tidak terlalu klise ataupun berputar-putar. Ada pula yang pada akhirnya merasa The Impossible hanyalah iklan panjang. Well, I felt it too but if it’s so, it’s a very damn good advertisement. Elegant, relevant, and at the most effective way. If you didn’t feel it, so it’s worked even much better as an advertisement.
Kesemua pemancing emosi tersebut ditampilkan melalui interaksi antar karakter yang intimate : ibu-anak, ayah-anak, suami-istri, dan kakak-adik. Itulah sebabnya saya selalu merekomendasikan film ini untuk ditonton bersama seluruh anggota keluarga. Percayalah, seusai menonton Anda akan semakin sayang dan menghargai eksistensi setiap anggota keluarga Anda.

The Casts

Kekuatan sinematik The Impossible didukung oleh penampilan aktor-aktor yang luar biasa dan merata. Aktris Inggris Naomi Watts jelas mendominasi layar berkat penampilan luar biasanya sebagai Maria, seorang ibu yang tetap memiliki spirit kuat meski dihantam secara fisik dan mental oleh berbagai luka. Lihat saja akting kesakitannya yang bertubi-tubi sehingga membuat saya kerap memalingkan pandangan dari layar, membayangkan rasa sakit yang dirasakannya. Tak salah Academy mengganjarnya nominasi Oscar 2013. Saya pun tak heran jika nantinya memang ia yang berhasil menyabet Oscar tersebut. Pujian berikutnya pantas dilayangkan kepada Tom Holland (Lucas). Porsi peran yang cukup banyak dan memiliki perkembangan karakter yang cukup signifikan berhasil dijalankan dengan sangat baik olehnya. Permainannya di sini bisa disandingkan dengan Christian Bale kecil di Empire of the Sun.
Sementara itu meski terasa kalah menonjol ketimbang Watts dan Holland, Ewan McGregor cukup baik mengisi perannya. Setidaknya di sini ia mempunyai salah satu adegan dramatis yang paling saya ingat dan ia mainkan dengan sangat baik hingga penonton terdiam. Rasanya baru pertama kali saya melihatnya (tampak) sungguh-sungguh menangis di layar.
Jika Anda mudah dibuat gemes oleh tingkah anak-anak, maka Anda akan dengan mudah jatuh cinta pada Samuel Joslin (Thomas) dan Oaklee Pendergast (Simon), atau juga Johan Sundberg (Daniel).
Di lini pemeran pendukung, ada aktris veteran yang terkenal lewat film klasik Dr. Zhivago sekaligus putri komedian legendaris Charile Chaplin, Geraldine Chaplin yang meski hanya kebagian satu scene tetapi menjadi salah satu adegan favorit saya. Tak ketinggalan Sönke Möhring (Karl) yang baik hati meski nasib keluarganya sendiri tidak jelas. Well actually, The Impossible was full of lovable characters who will carry you far far away.

Technical

Tak perlu saya ulang lagi visual effect luar biasanya dalam memvisualisasikan gelombang tsunami. Sinematografi dan editingnya pun berhasil menangkap keindahan setiap momen, bahkan ketika hanya adegan Henry yang berjalan mencari keluarganya.
Pujian terbesar dan terutama harus saya jatuhkan atas sound effect yang tergarap dengan sangat detail dan menjadi faktor utama pembangkit suasana sepanjang film. Seringkali penonton justru diajak berfantasi melalui sound effect yang sangat dahsyat ini. Kualitas sound inilah yang menurut saya membuat The Impossible wajib disaksikan di layar bioskop dengan tata suara terbaik, demi mendapatkan efek emosi maksimal bagi Anda.
Tak ketinggalan score yang menurut saya salah satu score paling brilian dan remarkable yang saya dengarkan tahun ini (baik 2012 maupun 2013 sejauh ini). Siapa sangka komposer Fernando Velázques menyajikan score-score sama beragamnya dengan emosi-emosi yang dibangun oleh Bayona. Dalam satu paket ada score menegangkan ala film-film horor sekaligus tentu saja score pembangkit keharuan penonton. Ada banyak adegan yang kembali terproyeksi dalam memori saya tiap kali mendengarkan alunan score-nya, terutama adegan pertemuan kembali keluarga Bennett yang paling banyak meluluh-lantahkan air mata penonton. Damn, it’s a must-have score album of the year, both 2012 and 2013!

The Essence

Emosi merupakan pondasi yang membuat manusia terasa hidup. Ketakutan, kekhawatiran, kepedihan, kelegaan, kebahagiaan, semuanya menggerakkan manusia menjadi makhluk yang sempurna. Namun ada banyak hal yang membuat manusia lupa bahwa dirinya memiliki emosi, lupa untuk merasa. Melalui sebuah peristiwa tragis, manusia diingatkan akan ke-manusia-annya, tanpa batasan ras, suku bangsa, agama, maupun bahasa.  The Impossible membangkitkan semua emosi yang dimiliki manusia beserta mengingatkan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang tercipta dari emosi-emosi tersebut. Empati, harapan yang harus selalu ada, dan kebahagiaan ketika bisa berguna bagi orang lain. Thanks to this wonderful movie for reminding me as a whole mankind.

They who will enjoy this the most

  • Those who started forgetting how to feel
  • You and your whole family members
  • Human being

Academy Awards 2013 Nominees for :

  • Best Performance by an Actress in a Leading Role
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates