Sunday, December 29, 2013

The Jose Movie Review
Dhoom: 3

Overview

Semenjak kemunculan Dhoom (2004) dan dilanjutkan Dhoom 2 (2006), saya cukup dikejutkan dengan kemampuan Bollywood dalam menghadirkan film aksi laga spektakuler ala Hollywood (khususnya Mission: Impossible) dengan balutan kisah yang terkesan klise dan cheesy. Namun jika kita mengikuti lebih lanjut dan melihat lebih dalam, memiliki kedalaman cerita dan emosi tersendiri. Yang mana, masih jarang dimiliki oleh Hollywood sekalipun. Karakter Jai Dixit dan Ali yang diperkenalkan sejak seri pertama menjadi action hero khas Hindi. Maka kemunculan Dhoom: 3 (D3) setelah berselang cukup lama, yaitu 7 tahun sejak installment terakhir, membuat saya berpikir. Apakah masih bisa mempertahankan kekuatan yang dimiliki kedua installment sebelumnya atau menjadi melempem sebagaimana kebanyakan franchise polisi serupa.

Secara keseluruhan saya mengakui memang D3 mengikuti pola pengadeganan yang tak beda jauh dari seri-seri sebelumnya. Jika Anda berharap kisah penyelidikan yang membuka kedok pelaku kejahatan di akhir, Anda juga akan kecewa. D3 tidak berfokus pada pertanyaan “siapa”, namun “bagaimana selanjutnya”. Quentin Tarantino pernah menyampaikan dalam sebuah interview bahwa yang terpenting dari membuat film adalah memiliki karakter yang menarik terlebih dahulu, baru membangun cerita dari karakter tersebut. Nasehat itulah yang diusung oleh D3 (dan juga seri-seri sebelumnya). Bukan karakter jagoan, Jai Dixit dan Ali yang di-highlight, namun sosok villain-nya, yang kali ini adalah seorang pemilik sirkus bernama Sahir. Tidak, in the end Anda tidak akan dibuat membenci setengah mati oleh karakter ini. Justru ia berhasil dengan gemilang menjaring simpati saya dengan mempertimbangkan aspek psikologis yang logis. That’s the most I love from D3.

Jika ada yang berpendapat D3 comot dari film sana-sini seperti The Prestige dan Now You See Me, menurut saya terlalu dibuat-buat. It’s not a crime.  Name one movie that’s really really original other than Nolan’s. Nothing. Even James Cameron’s Avatar adalah hasil comot dari film The Matrix dan Pocahontas jika mau diteliti lagi. Dengan pendapat objektif dan secara keseluruhan, D3 berhasil merangkainya menjadi sesuatu yang mungkin bukan hal yang baru, tetapi hasilnya sangat bagus.
Jika pada Dhoom 2 karakter Jai dan Ali masih diberi porsi yang cukup banyak dengan menampilkan adegan kehidupan sehari-hari di luar tugas, maka di D3 ini tidak ada sedikitpun kehidupan pribadi maupun aspek psikologis mereka yang ditampilkan. Porsi mereka berdua seperti sosok polisi yang sekedar harus ada untuk memecahkan kasus dan replaceable.

Untuk adegan-adegan aksi yang ditampilkan, tenang saja. D3 punya seabreg adegan aksi, terutama kejar-kejaran motor yang makin mustahil (namun terlihat nyata di layar) dan harus saya akui lebih spektakuler dari seri Fast & Furious manapun.

Bagi yang kurang menyukai film Bollywood karena alasan nyanyian dan tarian yang tidak pada tempatnya, juga tidak perlu khawatir karena D3 meletakkannya pada tempat yang sesuai dan wajar, seperti audisi dan pertunjukan panggung (yang tak kalah spektakulernya). Semuanya dalam kemasan nyanyian dan tarian yang bergaya sangat pop.

So it is. D3 adalah seri yang paling memuaskan saya, baik dari segi aksi maupun kedalaman karakter dan kekuatan emosi di balik ceritanya yang terkesan klise dari permukaan. Sangat menghibur sekaligus menyentuh, namun tidak mendayu-dayu. Sangat sayang jika Anda melewatkannya di layar bioskop.

The Casts

Seperti yang sudah saya sampaikan, karakter Jai Dixit (Abhishek Bachchan) dan Ali (Uday Chopra) sama sekali tidak menonjol. Keduanya hanya dijadikan icon sejak seri pertamanya untuk tetap ada sebagai franchise Dhoom. Sebaliknya yang paling menonjol tentu saja karakter villain yang diperankan dengan sangat gemilang oleh Aamir Khan. Saya tidak akan menjelaskan sangat detail karakternya di sini karena akan menimbulkan spoiler. Lebih baik Anda saksikan dan buktikan sendiri kegemilangan aktingnya di sini.

Aktor Hindi legendaris, Jackie Shroff sebagai Iqbal Khan meski porsinya tidak banyak tetapi berhasil mengesankan.

Kekuatan porsi karakter yang diperankan oleh Aamir berdampak pula pada karakter babe yang kali ini diisi oleh si seksi Katrina Kaif. Perannya seolah hanya pemanis belaka. Bandingkan dengan peran yang diisi oleh Aishwarya Rai Bachchan di Dhoom: 2 yang cukup penting dalam cerita keseluruhan.  But it’s okay, her dance performance are magnificent and have made my eyes ain’t blink even for a second!

Technical

Bollywood boleh berbangga dengan pencapaian teknis yang dilakukan D3, terutama dari segi special effect yang sudah setara Hollywood.

Teknis lain yang mencolok tentu saja tata suara dan music. Tanpa meninggalkan tune original Dhoom yang sudah menjadi icon, remix-remix baru terdengar fresh. Terutama sekali versi tap dance yang menjadi opening title. Jangan lupakan juga soundtrack favorit saya, Bande Hain Hum Uske yang selalu berhasil membuat saya merinding, teringat adegan klimaks itu.

The Essence

Nobody wants to be the shadow of somebody else.

They who will enjoy this the most

  • Penikmat film-film Bollywood
  • Non-stop adrenaline pumper action movies fan
  • Those who enjoy movies with emotional depth

 Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates