Sunday, December 29, 2013

The Jose Movie Review
47 Ronin

Overview

Hollywood sudah sejak lama tertarik memasukkan unsur samurai dan budaya-budaya Jepang kuno lain ke dalam film-filmnya. Ada yang berhasil, tak jarang pula gagal. Bahkan terasa seperti film kelas B. Seingat saya, proyek paling ambisius yang hasilnya cukup sukses di pasaran worldwide mungkin The Last Samurai-nya Edward Zwick yang menampilkan Tom Cruise. Jangan lupakan juga Kill Bill volume 1-nya Quentin Tarantino yang cukup memorable. Terakhir, bahkan kita juga disuguhi aksi salah satu mutant, di The Wolverine dengan nuansa Jepang. Kini di penghujung tahun 2013, sekali lagi kita disuguhi film Hollywood berasa Jepang (atau sebaliknya?) dengan trailer yang cukup menjanjikan: 47 Ronin.

Sebagai debut film panjang sutradara Carl Rinsch, 47 Ronin (47R) sebenarnya sama sekali tidak buruk. Well, at least kesalahan bukan sepenuhnya berada di tangan dia. Premise yang diusung sebenarnya menarik. Mengambil legenda 47 pendekar Ronin yang lebih memilih dihukum bunuh diri dalam sebuah ritual yang disebut seppuku demi kehormatan dan loyalitas. Ada value keluhuran yang ingin disampaikan. Sayangnya kesemuanya dihancurkan oleh konsep proyek dan script yang digarap untuk membangun premise tersebut.

First of all, it’s a big big mistake to use English for such setting. Oke, Memoirs of Geisha pernah melakukannya. Namun masih bisa dimaafkan mengingat novel aslinya memang berbahasa Inggris dan konsep cerita cukup kuat serta menarik. Lanjut ke kesalahan kedua. Let me ask you this question: what do you expect the most from a movie about samurai? YES. BLOOD AND PURE VIOLENCE! Keputusan untuk menjadikan 47R sebagai film dengan rating “aman” PG-13 adalah keputusan yang salah. Menyebabkan ia kebingungan ingin memposisikan diri sebagai film serius atau film fun. Terlalu ringan untuk menjadi film serius, namun juga terlalu membosankan sebagai film fun. Semuanya serba tanggung dan secara keseluruhan jatuhnya malah menjadi plain dan easily forgettable. Yes, audience will might still remember the story essence, but not the movie itself.

Script yang memasukkan karakter half-blood juga terkesan dipaksakan ada agar ada nilai jualnya. Jika disimak, masuknya karakter Kai sebagai darah campuran Jepang-Inggris sama sekali tidak punya signifikasi terhadap keseluruhan cerita. Romance-nya dengan Mika bisa tetap berjalan meski Kai adalah seorang pure-blood. So yes, the whole concept is just very weak from the start. Penanganan Carl Rinsch yang biasa-biasa saja sama sekali tidak menolong 47R untuk menjadi tontonan yang lebih menarik. Sayang sekali.

The Casts

Semenjak berakhirnya franchise The Matrix, kita jarang sekali mendengar nama Keanu Reeves dalam proyek besar. Mungkin hanya The Constantine yang paling besar, itupun dibandingkan film-film lain tidak begitu bersinar. The Day the Earth Stood Still gagal total. Setelah tampil di FTV dan serial TV beberapa tahun terakhir, tahun ini kita melihatnya sebentar di Man of Tai-Chi yang juga hancur lebur dan akhirnya di film yang sedang kita bahas ini. It seems that 47 Ronin won’t be a big hit either. Too bad, saya harus mengakui kualitas akting Keanu memang payah. Sepanjang durasi dimana karakternya muncul, sama sekali tidak ada nyawa yang saya rasakan. Very flat. Puncaknya line romantis dengan Mika yang harusnya menjadi menyentuh dan poetic, jadinya seperti membaca naskah. Producers and directors need to think many times if they decide to use him as their actor.

Untung saja penampilan aktor-aktor Jepang jauh lebih baik. Mulai Hiroyuki Sanada (Oishi), Min Tanaka (Lord Asano), Tadanobu Asano (Lord Kira), Kô Shibasaki (Mika), dan tentu saja the seductive witch, Rinko Kikuchi.

Technical

Kekuatan utama yang sangat menyelamatkan 47 Ronin dari predikat film B dan kenorakan adalah desain produksinya. Mulai setting, art, kostum, hingga tata rias yang sangat cantik dan otentik.

Special effect terutama monster-monster yang ditampilkan juga didesain dengan keren dan halus, meski jumlahnya tidak begitu banyak.

Sayang efek 3D yang ditawarkan tidak memberikan banyak perbedaan. Tidak ada pop out dan depth pun terbatas. Semua terasa seperti kartu ucapan pop-up. Save your eyes comfort and (probably also) money.

Tata suara surround dan score gubahan Ilan Eshkeri bekerja pas sesuai perannya meskipun juga tidak begitu menonjol.

The Essence

Mungkin kita tidak perlu 100% meniru kode etik ronin, tetapi menjaga kehormatan dan loyalitas di atas nyawa adalah sesuatu yang mulia.

They who will enjoy this the most

  • General audiences who seek for instant action entertainment
Lihat data film ini di IMDb.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates