Sunday, October 6, 2013

The Jose Movie Review
Rush


Overview

Biopic jelas bukan genre baru di dunia film. Sejak pertama kali kemunculannya sebagai sebuah media, sudah ada banyak sekali kisah nyata orang-orang penting yang diangkat ke film, baik layar lebar, layar perak, maupun home video. Membuat sebuah biopic, menurut saya gampang-gampang susah. Kalau mau bermain aman, tinggal pakai template dasar 3 babak ala Hollywood, selesai sudah. That’s why saya yang sempat menggemari kisah-kisah biopic, pernah juga merasakan titik kebosanan karena kemasan-kemasan biopic yang tidak berbeda jauh antara satu dengan yang lain. Memilih salah satu sisi unik dari seseorang untuk diangkat menjadi fokus cerita adalah kunci dalam menyajikan sebuah biopic yang menarik.
Kemudian muncullah Rush, sebuah biopic yang tak hanya mengangkat kisah satu orang tokoh, tetapi dua sekaligus. Dan angle yang dibidik pun adalah rivalry (persaingan) yang sebenarnya juga bukan tema baru di dunia film. Lantas apa yang membuat Rush menjadi tontonan yang menarik dan berbeda dari film sejenis? Apalagi tema sport, terutama car racing, kurang begitu populer diangkat. Driven-nya Sylvester Stallone gagal. Hanya Senna dari Perancis yang banyak mendapatkan pujian. Itu pun bergenre dokumenter.
Awalnya saya sendiri juga tidak begitu tertarik dengan Rush. Apalagi, jujur, saya awam tentang F1. Namun membaca nama Ron Howard (A Beautiful Mind, Cinderella Man, dan The DaVinci Code) sebagai sutradara, Peter Morgan (The Last King of Scotland, The Queen, dan Frost/Nixon) sebagai penulis naskah, Hans Zimmer (masih perlukah saya menuliskan filmografinya?) sebagai composer, serta Anthony Dod Mantle (Slumdog Millionaire, 127 Hours) sebagai director of photography, rasa penasaran dengan ekspektasi tinggi pun muncul seketika. Ini bukan karya yang main-main, begitu pikir saya.
Benar ternyata. Peter Morgan menuliskan sisi yang masih jarang disentuh genre biopic. Menggabungkan basic formula biopic dari dua karakter, James Hunt dan Niki Lauda, mengambil sisi kontras dari keduanya, mempertajamnya menjadi sebuah konflik (baca: rivalry), dan mempertegas esensi di akhir. Ini jelas sebuah pengembangan dari template-template yang sudah ada dengan cara yang sangat menarik. Ia juga tidak memihak salah satu kubu karakter sebagai yang “lebih (atau paling) benar”. Masing-masing gaya memiliki konsekuensinya sendiri-sendiri.
Formula yang demikian masih ditambah sinematografi Dod Mantle dan kepiawaian Ron Howard dalam menentukan pace yang tepat. Kapan harus menggali sisi drama kehidupannya, dan kapan harus memicu adrenalin penonton saat di sirkuit. Meski bagi yang mengerti betul akhir dari setiap perlombaan, tetap saja keseruan F1 yang sesungguhnya dihadirkan dengan menegangkan, sehingga tentu saja ia juga memiliki nilai hiburan yang sangat tinggi.
So yes, Rush seperti sebuah paket komplit sebagai perpaduan film berbobot dengan unsur-unsur hiburannya. Sebuah biopic yang cukup unik dan susah untuk menemukan yang serupa.

The Casts

Jika Anda pernah melihat sosok asli dari (terutama) James Hunt dan Niki Lauda, maka Anda akan cukup terkagum-kagum dengan tampilan fisik Chris Hemsworth dan Daniel Brühl di layar yang sangat mirip. Bagi saya, Chris adalah pemeran Hunt yang paling pas secara fisik maupun personality. Ia tak perlu bersusah payah mencari referensi gaya hidup dan kepribadian Hunt yang sebenarnya, karena kurang lebih sama dengan image aslinya. Sementara saya pribadi justru lebih menyukai performa Brühl sebagai Niki Lauda. Kharismanya di layar yang seolah menjadi sosok villain terasa begitu kuat, jauh melebihi kharisma Chris.
Di barisan pemeran pendukung, tidak banyak yang benar-benar menonjol mengingat porsi masing-masing yang memang sangat sedikit. Meski demikian, Olivia Wilde cukup membuat saya melongo karena performanya yang jauh berbeda dengan perannya di, let’s say Tron Legacy dan Cowboys vs Aliens. She looked much much nicer, baik dari segi fisik maupun gesture. Gorgeous!
Alexandra Maria Lara yang berperan sebagai Marlene Lauda juga tak kalah mempesona berkat keanggunan yang berpadu dengan keseksian khas Eropa Timur-nya.

Technical

Selain sinematografi dan editing yang jempolan, Rush tak melupakan kualitas sound yang juga sangat menentukan terutama dalam film-film bertemakan balapan seperti ini. Kerenyahan sound effect dan efek surround berhasil menghidupkan suasana sirkuit. Begitu juga pemilihan score dan soundtrack yang sangat menyatu dengan adegan-adegannya.
Kostum dan make-up juga patut mendapatkan kredit lebih dalam menghadirkan nuansa 70-an dengan sempurna.

The Essence

Dua gaya hidup (baca: cara memandang hidup) yang bertolak belakang bukan berarti salah satunya benar, sedangkan yang lainnya salah. Dengan memahami konsekuensi masing-masing, keduanya bisa menikmati dan memaknai hidup sesuai dengan jalan pikiran masing-masing. Siapa tahu keduanya ternyata justru saling menginspirasi satu sama lain dalam suatu hal tertentu.

They who will enjoy this the most

  • F1 fans
  • Penikmat biopic
  • General audience yang menyukai film hiburan dengan essential value lebih
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates