Wednesday, September 11, 2013

The Jose Movie Review
Percy Jackson: Sea of Monsters



Overview

Masih ingat dengan Percy Jackson and the Lightning Thief (LT) yang diangkat dari novel fantasi laris berjudul sama di tahun 2010? Well, kesuksesan yang dirasa “cukup” membuat Fox memutuskan untuk melanjutkan franchise ini. Bukan perkara mudah lagi mengangkat novel fantasi ke film setelah beberapa judul bisa dikatakan gagal di pasaran. Let’s take Eragon atau Narnia as examples. Selera pasar yang semakin susah dibaca, menjadikan proyek semacam ini menjadi pertaruhan yang nilainya tidak sedikit.

So, here goes Percy Jackson: The Sea of Monsters (SoM), tanpa sutradara Christopher Columbus yang spesialis film keluarga. Dengan arahan Thor Freudenthal (yang juga cukup baik menangani proyek film keluarga, seperti Diary of a Wimpy Kid dan Hotel for Dogs, meski belum sekelas Columbus), most of the cast masih dipertahankan. Saya yang sangat menikmati installment pertamanya sebagai tontonan fantasi yang seru dan menghibur, setidaknya masih berharap menemukan fun yang sama di installment ini.

SoM rupanya sedikit berbeda dengan LT. Tidak seperti ekspektasi awal saya, banyak unsur-unsur fun berkaitan dengan teenage life, seperti tipsy, soundtrack-soundtrack yang lagi hits, hilang begitu saja. Padahal menurut saya, unsur-unsur tersebut yang membuat franchise Percy Jackson terasa lebih segar ketimbang cerita-cerita fantasi yang berlatarkan mitologi Yunani sejenis yang sangat marak ketika installment pertamanya rilis.

Jadi apa yang tersisa yang masih bisa dinikmati dari SoM? Tentu saja, sajian petualangan seru masih mendominasi durasi. Ada kejadian-kejadian seru dan gimmick-gimmick keren dari “dunia antah-berantah” yang diperkenalkan di sini. Sedikit mengingatkan kita akan formula franchise petualangan lain, terutama Harry Potter di beberapa adegan, tetapi dibungkus dalam kemasan yang berbeda dan tetap keren. My favorite part, of course, the trip with the Gray Sisters’ Chariot of Damnation. It’s fun, wild, and exciting.

Kehadiran karakter-karakter baru, seperti Tyson, half-brother Percy, Kronos, dan Clarisse, tampaknya tidak begitu memberikan pengaruh impresi apa-apa bagi keseluruhan film. Bukan salah para aktornya. Mungkin hanya porsinya dalam cerita yang kurang mendukung.

Overall, SoM masih merupakan tontonan yang enjoyable di  waktu senggang. Meski tidak bisa dipungkiri, easily forgettable, even more than the first installment.

The Casts

Tidak ada perubahan signifikan dari ketiga pemeran karakter utama, Logan Lerman, Brandon T. Jackson, dan Alexandra Daddario. But I have to admit, Daddario terlihat (dan juga terasa) lebih menarik di sini. Mungkin faktor kedewasaan.

Di lini karakter baru, Douglas Smith sebagai Tyson terasa yang paling menonjol. Selain karakteristiknya yang memang menarik dan porsinya cukup banyak, Smith mampu membawakannya dengan sangat baik. Sementara pemeran Kronos, Robert Knepper, terasa agak miscast. Selain posturnya yang menurut saya tidak cocok, kharismanya sebagai villain juga masih teramat sangat kurang. Untung saja pemilihan Leven Rambin sebagai Clarisse terasa lebih fit in, meski belum bisa dikatakan berkarakter cukup kuat.

Di antara semua cast pendukung, mungkin hanya nama Stanley Tucci yang paling senior. Meski perannya tidak begitu banyak, namun kemunculannya cukup memberikan momen tersendiri.

Technical

Ada banyak penonton yang mencemooh visual effect SoM. Di mata saya, memang sih banyak visual effect, terutama tampilan pusaran air di Sea of Monster. But I won’t complain at all. It’s not that bad anyway. In matter of fact, I like the monsters’ designs. Terutama mechanical bull yang didesain dengan sangat keren.

Divisi sound effect menghasilkan kualitas yang cukup baik untuk tipikal film aksi petualangan seperti ini. Tidak luar biasa, tapi cukup menghidupkan adegan sebagaimana mestinya.

The Essence

Sama seperti filmnya sendiri, everything isn’t always as bad as it looks.

They who will enjoy this the most

  • Those who enjoyed the first installment
  • Greek-mythology-based adventure story
  • General audiences who seek for light entertainment, including kids below 10
 Lihat data film ini di IMDb.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates