Thursday, September 26, 2013

The Jose Movie Review
Insidious: Chapter 2



Overview

Tahun ini bisa dibilang tahunnya James Wan. Belum lama sukses besar dengan The Conjuring bulan lalu, kini horor yang sudah mengantongi kesuksesan luar biasa sebelumnya, Insidious, merilis sekuelnya, Insidious: Chapter 2. Dengan budget yang tergolong rendah, Wan terbukti berkali-kali mampu “menggandakan” keuntungan. Tak heran Universal lantas meng-hire sutradara berwargakenegaraan Malaysia ini untuk menyutradarai installment Fast & Furious selanjutnya (ke-tujuh).
Agak susah untuk tidak membandingkan Insidious: Chapter 2 dengan prekuelnya dan The Conjuring. Bukan untuk menemukan mana yang terbaik, namun untuk memahami style penyutradaraan Wan. Jika Insidious adalah basic yang seolah memberikan semacam sample atas karya Wan, maka Insidious: Chapter 2 adalah bagian utama yang mengembangkan cerita basic-nya sedemikian rupa. Menganalisis struktur cerita Insidious: Chapter 2, mengingatkan kerapihan dan kekuatan skrip dari The Conjuring. Jelas, saya melihat kepiawaian Wan dalam merangkai cerita dan menitik beratkan pada sisi humanis dalam kisah-kisah horornya. Jika The Conjuring berfokus pada kekuatan kasih seorang ibu untuk menjauhkan putri-putrinya dari pengaruh setan, maka Insidious: Chapter 2 sebaliknya. Ia berfokus pada upaya seorang ayah untuk menyelamatkan keluarganya. Ok, enough with the comparison. Let’s get into Insidious: Chapter 2 itself.
Secara garis besar, apa yang dijabarkan di Insidious: Chapter 2 merupakan penjelasan apa yang terjadi pada Insidious pertama. Bagi saya, Insidious pertama adala cerita horor yang paling standard, namun memiliki elemen-elemen horor yang memang kuat. Saya tidak yakin ketika Insidious pertama ditulis, penjelasan-penjelasan yang diceritakan di Chapter 2 sudah berada di benak penulisnya. That’s why I have to admit, Chapter 2 ini merupakan pengembangan cerita yang tersusun dengan rapi, baik, dan masuk akal. Sedikit banyak mengingatkan saya pada premise Psycho milik Alfred Hitchcock, namun tetap saja harus saya akui digarap dengan baik.
Untuk urusan elemen-elemen horor dan nuansa sepanjang film, jujur saya lebih merasakan evil di Insidious: Chapter 2 ini ketimbang Insidious pertama, apalagi The Conjuring yang menurut saya lebih ke arah drama humanis. So, in my opinion, Insidious: Chapter 2 lebih menawarkan suasana-suasana mencekam dan momen-momen yang membuat Anda terhenyak dari kursi bioskop.
For the next, of course there will be the third installment. Ending installment ke-dua ini dengan jelas menyiratkan hal tersebut. Agak aneh sih, tapi saya tidak mau berkomentar banyak sebelum melihat hasil akhirnya yang kemungkinan besar dirilis tahun depan. Anyway, I’m not a big fan of Insidious’ franchise, but I have to admit it’s a good one.

The Casts

Semua aktor-aktris pendukung mengisi peran masing-masing dengan pas, baik Rose Byrne yang mendominasi layar. Patrick Wilson juga patut diberikan kredit berkat peran gandanya yang berbeda sama sekali. Barbara Hershey yang memerankan Lorraine Lambert mendapatkan tambahan porsi daripada seri sebelumnya, dan mampu ia jalankan dengan baik. Ty Simpkins yang memerankan karakter Dalton juga menunjukkan peningkatan kualitas akting, seiring dengan porsi peran yang bertambah.
Namun penampilan Tom Fitzpatrick sebagai Parker jelas menjadi “momok” sepanjang durasi, bersama-sama dengan Danielle Bisutti yang sebelumnya lebih banyak hanya menghiasi layar kaca.

Technical


What makes a horror, more than the technical supports? Yes, Wan tahu itu dan memaksimalkan hampir semua aspek teknisnya. Terutama sekali score eerie dan pergerakan kamera yang banyak mengingatkan saya pada gaya-gaya film horor Hollywood era 70-80’an. Seperti karya-karyanya yang lain, Wan memang pandai memainkan emosi penonton melalui ketepatan pace dan timing. Beruntung dia didukung oleh editor yang tahu betul style bercerita Wan.
Untuk set, wardrobe, dan props, sedikit banyak masih senada dengan Insidious dan The Conjuring. Namun masih cukup efektif membuat penonton merinding.

The Essence

Tidak berbeda jauh dengan Psycho­ nya Alfred Hitchcock, trauma masa kecil bisa berdampak besar pada kondisi psikologis anak. Hanya family value yang kuat yang mampu menangkal pengaruhnya terhadap orang lain. Tema yang kerap digunakan Wan di film-filmnya. Semoga saja ia segera melakukan penyegaran sebelum penonton merasa bosan.

They who will enjoy this the most

  • They who also enjoy the first Insidious and The Conjuring
  • Classic horror fans
 Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates