Thursday, August 8, 2013

The Jose Movie Review
The Smurfs 2


Overview

Smurfs adalah legenda. Komik dan film animasinya sudah lima puluh tahun lebih men-smurf dunia. Versi CGI-nya pertama kali diangkat ke layar lebar oleh Sony Pictures di tahun 2011 dan dengan keuntungan yang cukup, kehadiran sekuelnya takelakkan. Jelas, like I always say, franchise yang bagus harus terus diestafetkan dari generasi ke generasi. So, dengan ekspektasi yang tak terlalu besar, here’s The Smurfs 2.

Menonton film sejenis The Smurfs 2 memang harus dengan kacamata anak-anak, yang jelas merupakan target utamanya. Jika Anda penonton dewasa dan tak berniat menontonnya bersama anak-anak, big chance tak akan begitu menikmatinya. Kecuali Anda siap untuk menyederhanakan pola pikir Anda selama menonton dan kembali menyelami keceriaan petualangan masa kecil, maka inilah tontonan yang tak hanya menghibur tapi juga punya value yang digarap dengan baik. Jauh lebih baik ketimbang installment pertamanya.

Guyonan-guyonannya masih banyak mengandalkan slapstick. Mungkin Anda tidak akan terbahak-bahak seperti halnya penonton anak-anak. Namun dengan pola pikir polos ala anak-anak, saya masih bisa tersenyum melihat keseruan makhluk-makhluk kecil berwarna biru bertualang menjelajahi dunia manusia yang ukurannya jauh di atas mereka. Tersenyum pula menyaksikan tingkah polos para smurf yang lebih menggemaskan dan jauh dari kesan annoying. Kehadiran Azrael, si kucing dengan aksen bahasa yang sama-sama tidak begitu jelas, tapi masih lebih menyenangkan ketimbang bahasa tak jelas para minion.

Kelebihan yang tak dimiliki seri sebelumnya adalah value yang diangkat dan disajikan dengan sangat baik. Tipikal film keluarga sejenis, tapi seberapa seringnya diangkat, dengan kadar yang pas, tetap saja menciptakan keharuan tersendiri, apalagi Anda menyaksikannya bersama seluruh anggota keluarga tercinta. Raja Gosnell memang termasuk sutradara yang piawai meramu film komedi keluarga yang tak hanya fun namun hangat, seperti franchise Scooby-Doo dan Big Momma’s House, and this time he did it again.

Plot utama yang terjadi di “komunitas smurf” lantas disandingkan dengan sub-plot serupa tetapi terjadi pada universe manusia, yaitu konflik di dalam keluarga karakter yang juga muncul di seri sebelumnya, Patrick dan ayah tirinya, Victor. Relevansi keduanya tak terasa dipaksakan, mengalir dengan mulus, serta mudah dipahami, oleh anak-anak sekalipun.

The Cast

Porsi para smurf terasa lebih banyak di sini, apalagi Smurfette yang voice talent-nya masih dipercayakan pada Katy Perry. She’s improved quite well, along with the character’s portion. Ada beberapa smurf yang lebih ditonjolkan karakteristiknya, seperti Clumsy, Gutsy, Vanity, Brainy, dan Grouchy. Hal yang juga absen di seri pertamanya dimana para smurf ditampilkan secara general. Tidak ada pengenalan secara khusus kekhasan masing-masing karakter. Kehadiran karakter baru, Vexy yang disuarakan oleh Christina Ricci (masih ingat Kat di versi layar lebar Casper atau putri Kevin Spacey-Annette Bening di American Beauty?) dan Hackus, turut meramaikan installment kedua ini.

Di universe manusia, Neil Patrick Harris masih menonjol seperti sebelumnya berkat karakter yang lebih dewasa dan menyentuh. Brendan Gleeson (Moody Mad-Eye di franchise Harry Potter) sebagai Victor, ayah tiri Patrick, juga mencuri perhatian. Tak hanya mampu berakting serius, ternyata juga bagus tampil komikal. Jayma Mays sebagai Grace semakin menggemaskan. Hank Azaria yang karakternya ditulis semakin menarik juga mampu mengimbangi meski tak ada perkembangan karakter yang berarti. Komplain saya hanya pada pemilihan Jacob Tremblay sebagai Blue, putra tunggal Patrick yang nyaris tak bisa akting sama sekali. Untung karakternya tak begitu berpengaruh pada plot.

Technical

Tampilan CGI terasa sedikit lebih halus dan lebih baik ketimbang sebelumnya. Tata suara dan pemanfaatan efek surround-nya pas. Pemilihan soundtrack juga sangat mendukung keseruan dan keasyikan film.

The Essence

Like Papa Smurf said, “it doesn’t matter where you came from. What matter is who you choose to be”. Sama halnya dengan relevansi pengaruh orang tua kandung atau orang tua tiri yang ditunjukkan Papa Smurf-Smurfette dan Victor-Patrick. Smurfs 2 menggambarkan semuanya dengan sangat baik.

They who will enjoy this the most

  • Smurf’s fans
  • Kids, especially below 10 years old
  • The whole family member
  • General audiences who seek for light but valuable entertainment
 Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates