Thursday, July 11, 2013

The Jose Movie Review
The Lone Ranger (2013)


Overview

The Lone Ranger (TLR) bisa jadi adalah salah satu franchise tertua. Berawal dari sandiwara radio di era 30-an, ia sudah pernah menjelma dalam serial TV, novel, komik, hingga video game dan tentu saja merchandise-merchandise. Bahkan ada yang berpendapat bahwa siapapun yang mengenal dunia wild west, baik itu melalui film atau serial TV, ia mengenalnya melalui TLR. Sayang, tema wild west yang semakin dijauhi studio (dan juga penonton) beberapa tahun belakangan ini menjadikannya semakin dilupakan orang. Apalagi adaptasi layar lebar terakhirnya, The Legend of the Lone Ranger sudah 32 tahun yang lalu. Hasilnya dicaci maki kritikus dan penonton pula. Sementara versi FTV terakhir tahun 2003 meski dengan Chad Michael Murray sebagai pemeran utama namun tidak begitu dikenal.

So it’s about time and could be a lil’ bit of gambling bagi Disney untuk kembali mengangkat karakter serta universe TLR di tengah penonton yang lebih suka aksi superhero dengan special effect modern gila-gilaan. Dana yang dianggarkan Disney pun tak main-main, US$ 250 juta! Maka pemilihan Johnny Depp dan Gore Verbinski untuk membangun konsep teranyar TLR adalah strategi penting agar dilirik oleh penonton modern. Merujuk pada kesuksesan franchise The Pirate of the Caribbean (PotC), kolaborasi keduanya mau tak mau turut mempengaruhi hasil akhir dan juga ekspektasi penonton.

Dari trailernya saja sudah terlihat bagaimana karakter legendaris Tonto dibawakan Johnny Depp dengan banyak merujuk pada karakter Jack Sparrow. Mulai dari dandanan hingga gesture meski tidak sama persis. Secara struktur cerita pun sebenarnya banyak mengikuti gaya PotC. Gaya Gore Verbinski sebenarnya, jika kita juga memasukkan Rango sebagai referensi. Durasi yang mulur hingga nyaris dua setengah jam bagi beberapa penonton mungkin terlalu panjang apalagi pace-nya yang tidak melulu diisi adegan aksi spektakuler.

TLR memanfaatkan nyaris tiga perempat durasinya untuk memberi ruang kedua karakter utamanya, Tonto dan John Reid untuk mengembangkan karakter sekaligus naik-turun buddy-chemistry antara saling dukung dan saling serang secara seimbang yang in my opinion, very interesting. Sedikit mengingatkan chemistry antara Robert Downey Jr. dan Jude Law di Sherlock Holmes versi Guy Ritchie. Dibumbui dengan humor di mana-mana, mengalir lancar, namun tetap saja bagi beberapa penonton terasa draggy terutama jika hanya melihat plot kejar-kejaran dengan kelompok antagonis yang dipimpin Butch Cavendish saja. Alangkah baiknya jika Anda menikmati saja alur dan gelaran humornya sepanjang durasi.

The best part dari TLR versi terbaru tentu saja pada adegan aksi menjelang klimaks yang membangkitkan memori saya akan keseruan dan keasyikan menonton film wild west (dengan bahasa saya dulu ketika kecil, film koboi), baik dari segi gimmick-gimmick adegan hingga terutama score William Tell Overture : Finale dari Gioachino Rossini yang begitu legendaris. If you like the adventure and action spirit from PotC (1-3), I can barely sure you will enjoy this one too.

So as conclusion, I like this version of TLR. Menghibur tak hanya dengan petualangan dan kelucuan khas Depp dan Verbinski, namun juga kembali menghidupkan keseruan serta keasyikan menonton film wild west klasik seperti dulu.

The Casts

Johnny Depp sekali lagi memerankan karakter eksentris yang memang sudah menjadi pilihan jalan karirnya. Tipikal terutama seperti Jack Sparrow, namun tetap appealing terutama bagi fansnya. Tak seflamboyan Sparrow dan lebih serius. Sementara pendatang baru yang selama ini hanya mendapatkan peran pendukung, Armie Hammer, cukup berhasil menyeimbangkan kharisma Depp dan membangun buddy-chemistry yang kuat dengannya. Banyak mengingatkan saya akan Bradley Cooper, but it’s okay.

William Fichtner yang kita kenal lewat peran antagonis di serial Prison Break berhasil menampakkan ke-fierce-an karakternya dengan sangat meyakinkan. Aktor senior Tim Wilkinson juga tampil cukup mengesankan. Terakhir Helena Bonham Carter yang porsinya tak banyak cukup mencuri perhatian penonton berkat keeksentrikan karakter khasnya.

Technical

Fotografi dan sinematografi merupakan kekuatan utama dari TLR. Angle-angle unik yang seolah seperti dibuat dengan tujuan tampilan 3D digelar di mana-mana, lengkap dengan penempatan opening title yang tak kalah uniknya.

Sementara teknis favorit saya adalah sound design yang begitu detail dan terdengar begitu hidup. Dengarkan suara ambience semilir angin yang menerbangkan pasir-pasir mengiringi dialog di kota. Suara mesin kereta api, kaki kuda yang melaju, ledakan, tembakan, semuanya terdengar renyah, mantap, namun jernih.

Score dari Hans Zimmer tak perlu diragukan lagi baik dalam menghidupkan keseruan adegan maupun memberikan efek berkelas. Ada beberapa yang mirip score PotC, terutama yang bernuansa sneaky, serta modifikasi score asli TLR yang membawa penonton kembali ke pengalaman wild west  klasik.

The Essence

Latar belakang cerita TLR agaknya masih relevan dengan keadaan masyarakat modern saat ini, terutama di Indonesia yang seperti berkaca dari segi kondisi pola pikir masyarakat dan strategi politisnya. Bagaimana pemerintah dan kapitalis menggunakan alasan pembangunan untuk menguasai rakyat dan bagaimana reaksi rakyat dalam menyikapi keadaan tertindasnya.

They who will enjoy this the most

  • The original The Lone Ranger’s fans
  • Wild west genre fans
  • Johnny Depp’s fans
  • General audiences who seek light and fun entertaining adventure

86th Annual Academy Awards nominee for


  • Best Achievement in Makeup and Hairstyling - Joel Harlow and Gloria Pasqua Casny
  • Best Achievement in Visual Effects - Tim Alexander, Gary Brozenich, Edson Williams, John Frazier

Lihat data film ini di IMDb.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates