Monday, June 24, 2013

The Jose Movie Review
Man of Steel


Overview

Superman adalah sebuah legenda di dunia komik. Namun ketika demam comic superhero diangkat ke layar lebar sejak era 2000-an, entah kenapa seolah jarang ‘disentuh’ maupun ‘dilirik’. Percobaan pertama setelah 19 tahun, Superman Returns (2006) besutan Bryan Singer banyak mendapatkan kritikan baik dari kritikus maupun fans. Banyak aspek yang membuatnya tidak disukai penonton dan tentu saja fans setia Superman. Padahal jika mau dilanjutkan, SR punya materi cerita yang cukup menarik untuk dikembangkan. Namun Warner Bros selaku pemegang hak cipta tokoh-tokoh DC Comics lebih memilih untuk me-reboot superhero legendaris asal Planet Krypton ini.
Seperti halnya trilogi TDK, Nolan-Goyer menerapkan konsep yang serupa. So tidak adil rasanya jika penonton menjatuhkan vonis hanya dari seri ini saja. Setidaknya bagi saya kisah MoS sudah memiliki arah cerita yang jelas untuk seri-seri berikutnya. Ia tahu apa yang ingin diceritakan dan apa yang ingin dicapai melalui karakter utamanya. Tak seperti franchise-franchise superhero lainnya yang tiap serinya bisa berdiri sendiri, terpenting ada karakter villain baru, tanpa perlu arah perkembangan karakter yang berarti di tiap serinya (colek superhero-superhero Marvel). Memang sistem sekuel berdiri sendiri adalah langkah aman jika film yang diproduksi tidak begitu laris di pasaran sehingga tidak ada tanggungan untuk membuat sekuelnya. Sebaliknya, sistem sekuel berkelanjutan seperti sebuah pertaruhan. Jika filmnya tidak begitu menguntungkan, diproduksi sekuelnya meragukan apakah hasilnya bisa membaik, tidak diproduksi pun akan mengecewakan fans yang telah menantikan kelanjutannya. Reputasi studio dipertaruhkan.
Tak tanggung-tanggung, DC dan WB kembali menunjuk Christopher Nolan dan David S. Goyer untuk mengkonsep ulang kisah Si Manusia Baja. Dengan kesuksesan reboot Batman dalam The Dark Knight Trilogy tentu saja DC (dan fans yang juga puas dengan trilogi TDK) berharap banyak. Well, setiap hal yang dimulai dari awal lagi pasti menimbulkan pro dan kontra, antara yang suka maupun tidak suka. Apalagi bayang-bayang prodesesornya yang kerap menjadi pembanding dalam segala aspeknya. Wajar, namun akan lebih bijak jika kita melihat segalanya dengan konteks masa kini dimana generasi berubah, begitu pula dengan pola pikir dan pandangannya. Itulah yang dilakukan oleh Goyer dan Nolan. Meski tak duduk di bangku sutradara, pengaruh keduanya begitu terasa kuat sepanjang film. Man of Steel (MoS) adalah kisah Superman yang dibangun dari awal dengan cukup detail dan efektif, meski tak sekelam atau seberat konsep trilogi TDK. Banyak unsur-unsur klasik dari kisah originalnya yang tak hanya ditampilkan, namun sekaligus dijelaskan dengan rasional sesuai dengan ‘tuntutan masa kini’. That’s one good thing from this version and I appreciate it a lot. Meski ada perubahan yang cukup substansial bagi keseluruhan cerita, namun bagi saya tidak begitu mencederai kesetiaannya pada kisah asli. Justru jika dipikir-pikir lagi justru memberi porsi peran yang lebih banyak dan kuat bagi salah satu karakter.
Mulai dari titik nol, kita kembali dibawa ke Krypton ketika di ambang kehancuran, hingga Clark Kent alias Kal-El yang sudah beranjak dewasa dan mencari jati dirinya yang ‘berbeda’ dengan manusia biasa. Paruh pertama yang cukup padat ini terangkum dengan baik dan efektif. Terasa lompat-lompat berkat adegan-adegan flashback, namun masih nyaman diikuti dan sesuai dengan konteks adegan yang sedang berlangsung. Tema peran ayah, baik yang berstatus kandung maupun angkat, disampaikan dengan sangat menyentuh dan menonjol dibandingkan aspek lainnya. Tak ketinggalan metafora Yesus Kristus yang sangat terasa di banyak adegan dan aspek cerita, diselipkan di sana-sini, yang bagi saya semakin memperkuat konsep cerita.
Di paruh kedua film, dimana lebih banyak dimanfaatkan untuk memompa habis adegan-adegan aksi spektakulernya, barulah pengaruh sang sutradara, Zack Snyder sangat terasa. Meski tak menampilkan slow-mo yang sudah menjadi signature-nya, pace dan visualisasi adegan-adegan aksi sekaligus destruktif ala Snyder sudah tak perlu diragukan lagi. Mungkin sedikit mengganggu ketika selalu ada dialog antara Superman dan musuh (baik Zod maupun Faora-Ul) setiap sebelum bertarung. Tetapi semuanya tertutupi oleh adegan-adegan penghancuran kota Metropolis yang spektakuler. Tidak sampai senorak Transformers meski dalam skala yang mungkin jauh lebih luar besar.
Saya sangat puas dengan konsep Superman versi Goyer-Nolan ini. Tak hanya memberikan tebaran hint-hint yang membuat penonton menebak-nebak (dan pastinya expect for more) kisah selanjutnya, namun juga berhasil menggelitik penonton akan kemungkinan proyek Justice League setelah kisah Superman ini usai. Dengan kata lain, sesuai arti logo di dada Superman, MoS memberikan banyak “harapan” kepada penonton dan fans setia Superman ke depan. Dengan pondasi dasar yang sudah cukup kuat di sini, semoga saja MoS tidak memberikan harapan-harapan palsu ke depannya.

The Casts

Henry Cavill tentu mendapatkan sorotan utama dimana ia sempat diragukan karena faktor fisik (baca: wajah) yang berbeda dengan image Clark Kent ala Christopher Reeve yang begitu melekat selama ini. Keraguan itu sirna ketika Cavill nyatanya berhasil memberikan nafas baru bagi karakter Clark Kent. Masih memiliki kharisma yang sama kuat meski disesuaikan dengan parameter kini.
Sebagai Lois Lane, our hero’s sweetheart, Amy Adams juga memancarkan aura kecantikan dari kecerdasan karakternya. Berbeda dengan Lois Lane selama ini yang seolah hanya menunggu untuk diselamatkan semata. Porsinya jauh lebih banyak ketimbang Superman versi manapun. Ke-chubby-annya yang bertolak belakang dari image Lois Lane selama ini tak mengurangi sedikit pun pesonanya (kecuali Anda berpikiran dangkal yang hanya menilai karakternya dari fisik).
Namun di antara semua cast, saya sangat memfavoritkan Kevin Costner. Karakter ayah duniawi Clark Kent, Jonathan Kent. Meski porsinya tak banyak secara durasi, namun mampu memberikan performa serta kharisma yang luar biasa sebagai ayah yang bijaksana. Russell Crowe sebagai ayah biologis Kal-El juga tampil memikat dan berkharisma seperti biasanya, namun di mata saya Costner tampil jauh lebih berkesan. Diane Lane pun memberikan performa yang charming dan emosional namun tak berlebihan sebagai Martha Kent.
Terakhir, sebagai pemeran karakter villain utama, Michael Shannon, tak begitu berkesan di mata saya meski ia masih tampil bengis dan cukup baik. Mungkin penulisan karakternya saja yang menyebabkannya kurang begitu berkesan. Justru Faora-Ul (Antje Traue) tampil lebih memikat bagi saya.

Technical

Film blockbuster berbudget besar sepert MoS tentu tak perlu meragukan segi teknis, terutama visual effect yang bombastis. MoS delivered it in a very artistic way. Bahkan adegan-adegan penghancuran gedung-gedung yang lebih massive dari Transformers seri manapun tampak indah dan intens untuk diikuti.
Above all technical aspects, sound effect dan score menjadi yang paling menonjol dan paling berhasil membangun adegan demi adegan. Dengarkan saja sound design favorit saya ketika ancaman Zod tersiarkan di televisi seluruh dunia: “YOU ARE NOT ALONE”. Teror yang sederhana namun berhasil membangkitkan ketakutan berkat sound effect-nya. Sedangkan score dari Hans Zimmer yang megah sudah barang tentu menjadi kekuatan tersendiri, meski tak sedikit pun menyisakan tune original Superman yang sudah legendaris gubahan John Williams. Sedikit nuansa 80an di salah satu score-nya membangkitkan memori tersendiri akan adegan-adegan aksi di era tersebut.
Sayang sekali kekurangan terletak pada hasil konversi 3D yang rupanya tak begitu memberikan efek yang berarti, baik depth maupun pop-out gimmick. So I suggest to save your money and sight-health for almost two and a half hour by watching the 2D version. It would have given enough excitement to you.

The Essence

You have to wait for the greatest thing in the right time. When the world (and also you) is ready for it.

They who will enjoy this the most

  • Superman’s fans
  • Goyer-Nolan’s fans
  • Zack Snyder’s fans
  • General audiences who seek entertaining, eye-gasmic, and ear-gasmic blockbuster movie
 Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates