Friday, June 7, 2013

The Jose Movie Review
The Hangover Part III


Overview

The Hangover (2009) adalah salah satu ikon generasi pada eranya. Ia menjadi semacam tonggak template komedi yang kemudian cukup banyak menginspirasi banyak film komedi Hollywood. Template dan formula yang sama namun dikemas dengan variasi kreatif dihadirkan pula di The Hangover Part II yang mendapat tanggapan kurang menggembirakan dari kritikus namun tetap menguntungkan secara box office. Maka tak heran jika franchise ini pun digenapkan menjadi sebuah trilogi.

Sebenarnya penggunaan template sama bukan menjadi masalah bagi film jenis ini. Kalau mau jujur, fans tentu mengharapkan formula yang tetap dengan beberapa perkembangan kreatif, misalnya lokasi kejadian yang berbeda. Tujuan utama penonton terus menyaksikan lanjutannya adalah untuk menemukan pengalaman menonton serupa atau “lebih gila” bukan?  Lihat saja franchise American Pie (yang original, bukan yang straight to video) yang tetap mampu mempertahankan kesuksesannya hingga empat seri. Padahal jika mau dianalisis, kesemuanya punya template urutan kejadian yang sama, hanya varian kejadiannya saja yang berbeda.

The Hangover Part III (H3) akhirnya mencoba untuk keluar cukup jauh dari pakem template khasnya. Tidak ada pesta bujangan sebelum pernikahan, tidak ada acara mabuk-mabukan yang menyebabkan lupa ingatan, dan tentu saja tidak ada lagi penemuan foto-foto selaku saksi bisu aksi kegilaan wolfpack ini. Namun tenang saja, semua original cast terutama anggota wolfpack (Alan, Phil, Stu, dan Doug) dan tentu saja Mr. Chow yang sudah menjadi karakter-karakter iconic, masih tetap ada dan rupanya menjadi satu-satunya senjata untuk memancing tawa penonton (terutama Alan dan Mr. Chow yang dieksploitasi habis-habisan di sini). Kedekatan karakter dengan penonton menjadi penyelamat seri ketiga franchise karya Todd Phillips ini.

Jika menilik dari alur cerita, H3 masih menyuguhkan cerita yang seru untuk diikuti. Seperti yang saya tuliskan sebagai headline, H3 menyuguhkan lebih banyak thrill, terutama karena melibatkan mafia yang tak segan-segan menghabisi siapa saja. Namun sayang justru minus di unsur kejutan dan kegilaan (dalam arti fun) selayaknya seri-seri sebelumnya. Anyway, above all semuanya masih se-fucked-up seri-seri sebelumnya, bahkan bisa dibilang lebih parah. Yes, semua dilakukan atas nama mempertahankan image franchise yang “gila”, termasuk tak segan-segan mengolok-olok (atau menantang?) PETA di beberapa bagian.

So, semua tergantung dari ekspektasi dan persepsi masing-masing penonton (terutama fans). Kalau saya sendiri H3 masih terasa H3 enjoyable. Ia masih berhasil membuat saya terbahak-bahak di beberapa adegan sekaligus berteriak “what the fuck” di adegan-adegan lain. Pendeknya, H3 masih sangat menghibur, bahkan teman saya yang belum pernah menyaksikan dua seri sebelumnya menjadi penasaran. Oh iya sebagai penutup, adegan yang “sangat Hangover” akhirnya berhasil menjawab pertanyaan “mana maboknya?” sekaligus menutup trilogi dengan memuaskan. Another sequel? Probably, but I doubt it. Enough is enough. Spin-off yang berbeda dengan “semangat” yang serupa mungkin lebih baik.

The Casts

Original cast masih memberikan performa yang stabil sejak seri pertamanya. Ed Helms (Stu) dan Bradley Cooper (Phil) masih terlihat dungu sesuai harapan penggemar. Justin Bartha masih mendapat porsi paling sedikit karena memang paling tidak mampu memancing tawa. Zach Galfianakis (Alan) dan Ken Jeong (Mr. Chow) mendapatkan porsi lebih banyak, bisa dibilang menjadi tumpuan sumber kelucuan, dan ternyata cukup mampu mengemban tugasnya dengan baik.

Di lini karakter baru, Melissa McCarthy yang angkat nama berkat Bridesmaids tampil paling mengesankan. Selanjutya ada aktor senior John Goodman yang ikut menyemarakkan “kekacauan” yang ada. Tak ketinggalan kembalinya Heather Graham dan Mike Epps dari seri pertama yang mungkin tak memberi banyak kontribusi di layar namun bagi fans setianya bisa menjadi semacam reuni manis.

Technical

Tidak ada yang terasa terlalu menonjol di segi teknis. Semua pas sesuai fungsinya, seperti sinematografi, desain produksi, hingga sound effect. Bahkan pemilihan track-track pengiringnya tak lagi punya semangat yang sama dengan seri-seri sebelumnya. H3 lebih banyak menggunakan track-track lawas seperti Mmmbop­ by Hanson, My Life by Billy Joel, The Girl from Ipanema, dan In the Air Tonight. Sentuhan “gila”-nya mungkin hanya terwakili oleh Dark Fantasy by Kanye West dan Fuckin’ Problems.

The Essence

Even the born-bad needs a friend. Enough said, eh Mr. Chow?

They who will enjoy this the most

  • True fans of the franchise
  • Fucked-up dark comedy lover
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates