Friday, June 14, 2013

The Jose Movie Review
Cinta dalam Kardus

Overview

Belum sampai sebulan yang lalu, bioskop Indonesia diserbu oleh penonton (terutamanya remaja) hingga mengantarkan Cinta Brontosaurus (CB) ke box office Indonesia yang hingga kini (14 Juni 2013) telah melewati 890.000 penonton. Angka yang termasuk fantastis di tengah melesunya perolehan penonton film nasional. Tentu saja kesuksesan ini tak lepas dari faktor Raditya Dika yang bermula dari blogger dan penulis novel komedi hingga sukses pula menjadi stand-up comedian dan kini aktor slash penulis skenario film. Raditya Dika himself adalah sebuah brand yang sudah punya banyak sekali fan setia (lihat saja jumlah follower akun twitter-nya).  Film pertamanya, Kambing Jantan (KJ) boleh saja gagal, namun sejak CB bisa diprediksi ia mampu meledakkan karya-karya yang melibatkan namanya. Tak heran jika dalam jangka waktu yang sangat berdekatan, Kompas Gramedia Studio berani merilis film produksi pertamanya ini.

Berbeda dengan KJ dan CB, Cinta dalam Kardus (CdK) tidak diangkat dari novel manapun dari seorang Raditya Dika. Salman Aristo selaku penulis naskah dan sutradara mengaku konsep film monolog CdK sudah ada sejak sebelum booming serial YouTube Malam Minggu Miko (MMM). Lantas kemudian konsep tersebut dilebur dengan universe MMM sehingga terasa seperti sebuah spin-off dari serial yang akhirnya juga ditayangkan di Kompas TV itu.

Secara konsep jelas CdK menarik. Tak banyak film yang mengusung gaya monolog, apalagi di Indonesia. Tak perlu budget banyak untuk membuatnya, namun bisa hancur lebur dan jatuh membosankan jika tak punya materi yang menarik dan/atau dibawakan oleh figur yang tidak cukup kuat. Garis besarnya, CdK adalah sebuah diskusi panjang tentang relationship, tarik-ulur pro-kontra berbagai aspeknya, dengan visualisasi-visualisasi panggung yang unik, menarik, dan cantik, dibawakan oleh seorang Raditya Dika dalam rupa alter-egonya, Miko, yang sebenarnya tidak memiliki perbedaan dengan kepribagian induknya.

Salman sekali lagi bisa dianggap berhasil dalam memperdebatkan hubungan asmara dengan berbagai tarik-ulur pro dan kontranya menjadi satu skrip yang mengalir dan menarik. Istilah  BTB alias Berubah Tidak Baik disampaikan dengan lugas, kadang manis, kadang sinis, namun semuanya dibalut dalam guyonan khas Dika. Tak ketinggalan sindiran-sindiran sosial, terutama menyangkut perilaku remaja saat ini,  diselipkan di berbagai kesempatan yang menjadikannya terasa lebih smart dan fresh. Menjelang akhir, ia memiliki kesimpulan makna BTB yang berbeda.

Secara keseluruhan jelas CdK punya kematangan konsep cerita dan visualisasi yang kuat meski sederhana. Soal guyonan Dika, ah itu soal selera. Bagi saya dan mungkin juga beberapa penonton lain merasakan kegaringan di banyak kesempatan, namun kenyataannya tak sedikit pula yang berhasil tertawa terbahak-bahak dibuatnya.

The Casts

Raditya Dika masih menjadi dirinya sendiri meski menggunakan alter-ego Miko yang sudah cukup terkenal. Original characters dari serial tersebut masih dipertahankan, seperti Ryan Adriandhy (Rian) dan Hardian Saputra (Anca), namun dengan porsi yang sangat-sangat sedikit sekali. Bisa dibilang hanya menjadi simbol-simbol untuk menegaskan kaitannya dengan universe MMM. 

Cast pendukung yang cukup eye-catchy selain Dika sendiri adalah sekelompok gadis-gadis muda yang dipasang sebagai para mantan dari Miko. Mulai Anizabella Lesmana, Sharena Gunawan, Adhitya Putri, Wichita Setiawati, Masayu Clara, Martina Tesela, hingga Tina Toon. Kesemuanya mampu menghadirkan kepribadian yang berbeda-beda dengan meyakinkan dan tak jarang sangat menghibur.

Kehadiran Dahlia Poland dan Fauzan Nasrul (baru saja kita lihat debutnya di Pintu Harmonika) juga turut menjadi penyegar tersendiri. Terakhir tentu saja penampilan singkat Lukman Sardi namun mampu membawa penonton ke dalam keharuan sejenak setelah dibuat (setidaknya) senyum-senyum oleh nasib percintaan Miko.

Technical

Production design telihat sangat menonjol sepanjang film, menyempurnakan konsep film keseluruhan dan menyelaraskan dengan titel. Ditata dengan cantik dan meski terlihat sangat “fantasi” namun tetap mampu terasa hidup bak setting lokasi aslinya. Keren!

Endah dan Rhesa tak hanya menyumbangkan beberapa judul single-nya untuk CdK namun turut membawakan sebuah single secara live di dalam film. Sungguh sebuah bonus manis yang menyenangkan. Selain itu, penataan score yang fun (baca: gokil) dan tata suara yang baik, termasuk pemanfaatan efek surround yang semakin menghidupkan ambience, menambahkan nilai plus di divisi sound.

Satu hal yang patut disayangkan adalah tampilan beberapa animasi yang tampak kasar pixel-nya, tak setajam gambar adegan-adegan live action-nya.

The Essence

BTB dengan kepanjangan yang lebih “dewasa” di akhir film adalah konklusi dari perdebatan relationship sepanjang film.

They who will enjoy this the most

  • Couple, both in a relationship and married ones
  • Raditya Dika’s fans
  • Malam Minggu Miko’s fans
  • General audiences who can accept Raditya Dika’s signatural jokes

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates