Monday, May 6, 2013

The Jose Movie Review
Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta
(What They Don't Talk About When They Talk About Love)


Overview

Arthouse, sebuah istilah dalam dunia perfilman yang sering dianggap “kasta tertinggi”. Ibarat karya lukisan, arthouse adalah bentuk lukisan abstrak yang oleh orang awam dianggap tidak jelas, tidak menarik, namun bagi beberapa orang yang mampu “merasakannya” lukisan tersebut tak dapat diukur nilainya. Sama seperti film, arthouse sering kali dianggap karya tak jelas yang berat, memerlukan analisa visual yang otomatis pula mengandalkan intelektualitas tertentu, dan tentu saja memiliki cita rasa yang diperlukan dalam “merasakan” keindahannya. Di Hollywood kita mengenal nama seperti Terrence Malick yang sukses membuat penonton bingung (terutama yang belum mengenal kitab Wahyu dan Mazmur di Alkitab) dengan Tree of Life-nya. Di Indonesia sendiri di deretan sutradara senior ada nama Garin Nugroho. Sementara di generasi yang lebih muda sudah ada nama Edwin, sutradara asal Surabaya yang sempat menghebohkan lewat Babi Buta yang Ingin Terbang (2008) dan terakhir yang meraih banyak pujian di mana-mana, Postcard from the Zoo (2012).

Lalu ada nama Mouly Surya, sutradara wanita (yang juga menuliskan sendiri naskah film-filmnya) yang angkat nama 2008 silam melalui Fiksi. Ditayangkan terbatas di jaringan Blitz, Fiksi berhasil menyabet banyak penghargaan, termasuk Film Cerita Bioskop Terbaik, Penyutradaraan Terbaik, Penulis Skenario Terbaik, dan Penata Musik Terbaik di ajang Fetival Film Indonesia 2008. Sebuah prestasi yang tidak main-main dari seorang sineas wanita yang baru pertama kali menggarap film panjang. Sekedar tambahan, Mouly bahkan belum pernah menulis naskah maupun menyutradarai film pendek apapun sebelumnya. So, Fiksi was practically her very first work.

Tahun 2012, Mouly kembali menggarap film panjang yang juga ditulisnya sendiri, Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta atau yang lebih dikenal dengan judul internasional berkat prestasinya di International Film Festival Rotterdam dan tentu saja Sundance Film Festival, What They Don’t Talk About When They Talk About Love (sering disingkat menjadi Don’t Talk Love). Dari dua karyanya ini bisa kita lihat kapabilitas Mouly sebagai penulis naskah dan sutradara yang tidak monoton, baik dari segi genre dan gaya penceritaan, meski masih memiliki ciri-ciri khas yang mudah dikenali.

Secara genre, jelas Don’t Talk Love yang merupakan drama romantis berbeda jauh dengan Fiksi yang drama thriller psikologis. Jika Fiksi memiliki alur naratif cerita biasa, maka Don’t Talk Love lebih eksperimental.That's why many people categorized it as an arthouse. Ia kali ini mengajak penonton mengintip kehidupan sehari-hari para difabel (different ability people) yang tinggal dan bersekolah di sebuah SLB; bagaimana mereka menghabiskan waktu di asrama, bagaimana interaksi sosial mereka sehari-hari, bagaimana mereka memandang hidup, apa cita-cita mereka, bagaimana mereka memandang hidup seandainya menjadi manusia-manusia normal seperti lainnya, dan tentu saja sesuai judulnya, bagaimana pandangan dan cara mereka menyikapi cinta.

Sekedar saran, Anda tak perlu berpikir keras sepanjang durasi untuk mencerna apa maksud dari tiap adegan. Don’t Talk Love bukan tipe arthouse seperti itu. Anda hanya perlu sabar memperhatikan tiap adegan dan merasakannya. Mouly dengan cerdas dan menarik, mengajak penonton mengamati tiap aspek kehidupan mereka (para difabel) dan larut dalam kehidupan mereka, seolah penonton adalah salah satu karakter di dalamnya. Dengan caranya yang unik pula, penonton dibuat seolah lupa bahwa karakter-karakter yang ada sebenarnya memiliki “perbedaan” fisik (tuna netra dan tuna wicara), atau sebaliknya, penonton lupa dengan dirinya sendiri dan menjadi terbiasa memandang hidup ala kaum difabel. Tak sedikit pun ia mengeksploitasi “perbedaan” mereka untuk menyentuh penonton. Tidak, ini bukan film tearjerker. Ketika film berakhir, barulah renungkan pengalaman-pengalaman yang disodorkan Mouly. Luar biasa!

Don’t Talk Love jelas sebuah tontonan unik dan menarik di tengah genre serta gaya penceritaan film yang begitu-begitu saja. Ia menawarkan pengalaman yang unik pula bagi para penontonnya yang mau membuka diri. Penonton mungkin merasakan biasa saja seusai menontonnya, namun adegan-adegannya yang “ajaib” mampu terus-menerus terngiang dalam ingatan penonton untuk jangka waktu yang cukup lama. That’s the magic of arthouse movie. Susah untuk menilai secara objektif atau sekedar saling membandingkan dengan film lain, karena ia menawarkan pengalaman dan tentu saja tiap pengalaman menghasilkan efek yang berbeda-beda bagi tiap individu yang mengalaminya. It’s very personal, sama seperti efek jatuh cinta yang berbeda-beda pada tiap orang.

The Casts

Trio Ayushita-Nicholas Saputra-Karina Salim jelas memberikan performa yang luar biasa yang akan selalu diingat penonton. Masing-masing memberikan penampilan signatural yang unik dan bisa jadi termasuk karakter-karakter paling penting di daftar filmografi masing-masing. Ayushita yang namanya melambung berkat grup BBB (Bukan Bintang Biasa) asuhan Melly Goeslaw terlihat paling menonjol, terutama berkat keberaniannya di beberapa adegan serta penghayatan karakter yang luar biasa. Begitu pula Nicholas Saputra yang selama ini saya anggap selalu menjadi diri sendiri di film-film sebelumnya, akhirnya mampu keluar dari peran tipikal dan tampil jauh berbeda. Terakhir, Karina Salim sebagai pendatang baru juga tak kalah memberikan performa luar biasa dalam adegan-adegan yang tak terlupakan.

Technical

Kekuatan penceritaan ala Mouly diperkuat oleh permainan sinematografi Yunus Pasolang yang tak kalah uniknya. Angle-angle menarik dan kadang tak biasa berhasil menangkap tiap sudut kehidupan di asrama SLB dengan indah, apalagi dalam frame beraspek rasio 2.35:1 yang terasa sekali efek teatrikal-nya.

Score piano minimalis seperti yang pernah diusung Mouly di Fiksi sekali lagi membangun suasana misterius dan rasa penasaran penonton dengan sempurna. Ditambah pemilihan lagu Burung Camar dan Nurlela yang pada akhirnya begitu melekat begitu kuat dalam ingatan penonton sebagai landmark Don’t Talk Love. Efek surround beberapa kali juga dimanfaatkan dengan sangat baik. Salah satu koloborasi kekuatan visual dan audio yang berhasil membawa penonton seolah-olah berada dalam adegan.

The Essence

Love is simple and universal. Memandang cinta dan hidup dari berbagai sudut pandang membuatnya ternyata terlihat sama dan justru semakin menghargainya sebagai anugerah, dalam kondisi apapun.

They who will enjoy this the most

-          Arthouse enthusiast
-          Penonton umum yang mau membuka diri terhadap jenis film apapun

Lihat data film ini di IMDb.
Lihat situs resmi film ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates