Friday, May 31, 2013

The Jose Movie Review
Laura & Marsha


Overview

Road movie selalu seru untuk diikuti, setidaknya ada bonus pemandangan-pemandangan indah seolah diajak traveling kala menonton. Namun most of them selalu ada esensi tersendiri along the way. Tak hanya di film, kehidupan nyata pun demikian. So road movie jelas perlu untuk terus diproduksi dengan aneka bongkar-pasang elemen-nya. Tahun lalu sinema kita punya Rayya – Cahaya di Atas Cahaya, road movie dewasa yang mencoba puitis namun tetap mudah dimengerti dengan membawa penontonnya perjalanan darat dari Jakarta ke Bali, maka tahun ini ada road movie yang dikemas lebih ringan, fun, dan youth. Laura dan Marsha (LM) sebenarnya punya formula yang cukup klasik untuk sebuah road movie : persahabatan sisterhood yang bertahan di atas segala perbedaan, terutama perbedaan kepribadian dan prinsip hidup. Apalagi background yang sering dipakai untuk tema road movie karena memang menarik untuk diangkat : Eropa. Namun jika biasanya film-film macam Eurotrip, Before Sunrise (dan sekuel-sekuelnya), dan masih banyak lagi yang mengambil landmark-landmark negara besar di Eropa, LM malah memilih kota-kota yang tak begitu banyak punya landmark terkenal, malah cenderung kota-kota kecil : Amsterdam (Belanda), Bruhl (Jerman), Innsbruck (Austria), Verona (Italia), dan Venice (Italia).

Sejak awal, penonton disuguhi kehidupan Laura yang begitu kontras dengan Marsha. Singkatnya Laura hidup teratur, sementara Marsha lebih bebas dan spontan. Alur pun bergulir lancar dan menyenangkan berkat dialog-dialog celetukan cerdas dari keduanya, terutama Marsha. Banyak sekali dialog yang quotable bertaburan sepanjang durasi.

Along the way, benturan-benturan satu per satu yang semakin meruncingkan perbedaan keduanya. Dari sini terlihat sekali konsep cerita utamanya (yakni persahabatan di atas perbedaan yang kontras) digarap dengan sangat matang. Alhasil, kesemuanya berhasil mengalir lancar, berarah jelas, dan nikmat diikuti. Hingga menjelang akhir pun sebenarnya cukup memuaskan. Kelemahan terbesar memang adalah faktor “kebetulan” yang kelewatan sehingga mengakibatkan kecenderungan tipikal  sinetron atau FTV. Tetapi menurut saya itu hanyalah merupakan side-story yang mendukung konsep cerita utama. I don’t mind at all selama masih mampu men-drive cerita utama menjadi konsep yang kuat dan solid.

Naskah Titien Wattimena yang biasa tertata baik dan rapi berpadu debut penyutradaraan dari Dinna Jasanti, menghasilkan LM tontonan yang berbobot namun terkemas ringan.

The Casts

Prisia Nasution (Laura) dan Adinia Wirasti (Marsha) adalah irreplaceable cast di sini. Tidak ada yang lebih cocok dalam menyatukan mereka dalam satu frame. Adinia charming dengan gayanya yang signatural seperti biasa dan siapa yang meragukan pesona Prisia. Apalagi adegan heartbreak yang sudah menjadi keahlian Prisia tanpa terkesan overdramatic dan tearjerker. Chemistry yang terbangun pun terbangun dengan sangat asyik di balik segala perbedaannya.

Technical

Dari hasilnya tentu dapat ditebak konsep small crew untuk syuting di Eropa. Berbekal DSLR Canon 5D Mark II, boomer, dan segala keterbatasan, LM mampu tampil cukup maksimal. Keindahan kota-kota besar maupun kecil tertangkap dengan baik oleh kamera. Sinematografi Roy Lolang yang lebih banyak handheld memang sesuai dengan konsep road movie yang dinamis tanpa harus membuat pusing akibat shakey camera. Adegan kejar-kejaran di hutan agak kurang nyaman dan kurang maksimal, untungnya tak berlangsung lama. Konsistensi gambar di tiap negara juga beberapa kurang terjaga. Di adegan gelap memang tidak sampai grainy, namun justru terjadi saat adegan terang namun ramai dengan detail gambar. Untung saja tone warna sering membantu mengangkat kualitas gambar sehingga overall di mata penonton awam tidak begitu mengganggu.

Editing Aline Jusria yang dinamis serta melibatkan desain grafis yang cantik melengkapi keindahan LM.

Kekuatan score Aghi Narottama dan Bemby Gusti, pakar musik bernuansa European serta pilihan track pengiring dari Diar (Antonius Mashdiarto Wiryanto), musisi Indonesia yang menetap di Jerman, sangat asyik untuk mengiringi perjalanan darat, sesuai dengan konsep road movie. Semoga saja album soundtracknya turut dirilis.

The Essence

Oh yes, perbedaan kepribadian ada untuk saling melengkapi dan mendukung.

They who will enjoy this the most

  • Best-friends
  • Penonton yang suka dialog-dialog menggelitik nan cerdas
  • Pecinta road movie
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Lihat situs resmi film ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates