Monday, May 20, 2013

The Jose Movie Review
Hummingbird


Overview

Setiap generasi punya aktor action hero yang menonjol dan nama Jason Statham adalah icon action hero pada era 2000-an. Ia sudah punya basis fans sendiri sehingga film-film yang ia bintangi meski hanya mengandalkan aksi laga tanpa landasan cerita yang kuat atau malah cenderung klise, setidaknya masih ada penonton yang setia menyaksikannya. Pernah sih ia membintangi film-film laga berbobot di era 90-an seperti Lock, Stock, and Two Smoking Barrels dan Snatch. (keduanya karya Guy Ritchie), tetapi bukan sebagai pemeran utama. Image-nya sudah melekat pada franchise-franchise macam Transporter, Crank, The Expendables, dan terbaru ia pun bergabung di gang Fast and Furious (6-7). Dari deretan filmografinya, film terakhir yang impresif bagi saya adalah The Mechanic (2011) garapan Simon West dimana ia beradu akting dengan Ben Foster.

Hummingbird atau di US menggunakan judul yang lebih “pasaran” namun lebih menjelaskan inti filmnya, Redemption, merupakan karya debut penyutradaraan bagi penulis naskah Steven Knight (nominee Academy Award 2004 untuk Dirty Pretty Things) yang juga pernah angkat nama lewat Eastern Promises). Masih menyorot kehidupan remang-remang underground dan kelas bawah kota besar, kali ini ia memasukkan unsur “religius” dalam menyampaikan kisahnya.

Mungkin terdengar terlalu mengada-ada namun demikianlah kenyataannya. Tak hanya menghadirkan karakter biarawati sebagai bagian penting dari cerita, premise redemption-nya benar-benar dibidik secara “religius”. Tenang saja, jangan bayangkan unsur “religi” seperti yang ada di film/sinetron kita yang serba pure black-pure white dengan template yang itu-itu saja. Karakter utama Joey, mantan tentara Afghanistan yang kini buron, digambarkan tidak melulu hitam. Bahkan karakter Cristina, seorang biarawati juga digambarkan tidak sepenuhnya putih. Ada pergulatan kepribadian masing-masing yang membawa mereka ke satu titik temu sekaligus titik balik kehidupan keduanya. Bukan hal baru sebenarnya, tetapi berkat konsistensi fokus cerita dan perkembangan cerita yang terjaga baik, somehow tetap membuat saya tertarik untuk menyaksikannya hingga akhir film.

Steven Knight tak hanya menuliskan naskahnya dengan detail karakter serta perkembangan yang natural dan manusiawi, terutama Joey dan Cristina. Nyatanya, di bawah arahannya, Hummingbird tampil elegan, khas crime drama thriller Eropa. Berbeda dengan film-film tipikal Statham biasanya, Hummingbird memang lebih banyak menghadirkan drama dengan menonjolkan character development ketimbang adegan aksi gila-gilaan. Namun bukan berarti ia tak punya cukup adegan aksi untuk dinikmati. Dengan didominasi perkelahian tangan kosong dan perkakas seadanya, tanpa senjata api ataupun bahan peledak, porsi adegan aksi yang ada menurut saya pas, sesuai dengan kebutuhan cerita. Nyaris brutal dan cukup membuat gregetan penonton di beberapa bagian.

So, penggemar Statham agaknya harus mengubah ekspektasinya ketika menyaksikan Hummingbird (mengubah, bukan menurunkan). Adalah sebuah kemajuan bagi seorang Statham untuk bermain di film dengan cerita serius, tidak hanya mengandalkan kemampuan fisiknya. Toh, cerita yang diusung Hummingbird sangat memuaskan untuk disaksikan, dipikirkan, bahkan direnungkan.

The Casts

Meski tidak juga terlalu istimewa, Statham memainkan dan menunjukkan perkembangan karakter Joey dengan sangat baik. Begitu pula Agatha Buzek (Cristina) yang mampu mengimbangi bahkan tampil lebih menonjol berkat karakternya yang memang lebih menarik untuk disimak.

Technical

Kekuatan teknis yang paling terasa adalah sinematografi Chris Menges yang pernah bekerja bersama Knight di Dirty Pretty Things. Jalan-jalan kecil London yang remang-remang namun dihiasi lampu neon warna-warni indah, apartemen mewah, bahkan biara tempat Cristina bernaung terekam dengan sangat indah dan berkelas.

Tak ketinggalan score dari composer kelas Oscar, Dario Marianelli (Atonement dan Anna Karenina) yang sukses membawa penonton ke dunia Joey yang keras. Menyentuh di beberapa bagian namun tak sampai terbuai menjadi tear-jerker yang terlalu dalam.

The Essence

Ah saya sudah tahu dan percaya Tuhan selalu punya cara yang misterius untuk mengubah hidup seseorang. I’ve been there dan kisah-kisahnya selalu menarik perhatian saya asalkan tidak digambarkan serba hitam-putih dan naif.

They who will enjoy this the most

  • Statham’s true fans who will still love him just the way he is, not just because what he used to be in previous movies
  • Penyuka film action-drama yang thoughtful, tak hanya menjual adegan-adegan aksi spektakuler semata
  • Penyuka film character-driven
Lihat data film ini di IMDbRate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates