Friday, May 31, 2013

The Jose Movie Review
The Great Gatsby (2013)


Overview

Baz Luhrmann adalah salah satu sutradara favorit saya karena selalu punya visi yang kuat di setiap karyanya. Dia punya ciri khas tersendiri dan dia selalu tahu bagaimana mengubah sebuah materi cerita sederhana menjadi visualisasi yang tampak spektakuler. Tak banyak sutradara seperti ini di dunia. Karya-karyanya yang terkenal dengan julukan “Ballroom Trilogy” : Strictly Ballroom, Romeo+Juliet, dan Moulin Rouge tentu dapat mudah dikenali style-nya. Hanya Australia yang digarap dengan style sangat berbeda. Keempatnya gagal melewati gross domestik US$100 juta ketika tayang di bioskop namun kesemuanya meraih keuntungan berlipat-lipat secara worldwide, dan versi home videonya diburu banyak kolektor. So jelas Baz Luhrmann sudah punya fanbase sendiri yang bisa menikmati karya-karyanya. Batal menggarap Alexander karena melihat kegagalan Oliver Stone menggarap film bertema sama, kini ia mengangkat kisah dari novel Scott Fitzgerald bertajuk The Great Gatsby (GG).
GG sendiri total baru lima kali diangkat ke format audio visual, baik layar lebar maupun layar kaca, dimana versi yang paling memorable tentu saja ketika dibawakan oleh pasangan Robert Redford dan Mia Farrow (1974). Maka versi Baz Luhrmann akan menjadi versi ke-6 yang menjanjikan banyak hal, termasuk keterlibatan Leonardo DiCaprio dan Carey Mulligan yang termasuk aktor-aktris papan atas Hollywood saat ini.
Baz memikul beban yang cukup berat untuk memuaskan ekspektasi banyak pihak, terutama pembaca novel yang selama ini kerap susah untuk dipuaskan dengan versi adaptasi layar lebar. Belum lagi penonton yang belum terbiasa dengan gaya penceritaan Baz yang terkesan tertutupi oleh art directing dan visualisasi megah nan glamour. Tak heran banyak kritik yang menilai GG versinya over the top atau style over substance. Apapun kata kritik, saya tetap mengejarnya (apalagi dengan jumlah layar yang sangat terbatas di kota saya).
So yes, GG versi 2013 ini sangat Baz Luhrmann sekali. Bahkan struktur adegan yang dihadirkan seolah template yang sangat mirip dengan yang pernah digunakannya untuk Moulin Rouge. Dari awal kita diajak masuk ke dunia seorang gentleman berkelas yang serba glamour dan penuh pesta meriah. Di sinilah ke-khas-an Baz tereksploitasi dengan sempurna, sambil penonton dibuat penasaran dengan sosok si Jay Gatsby dan motivasi-motivasinya.
Menginjak paruh kedua baru kita dibawa ke inti cerita yang sebenarnya sederhana namun lagi-lagi divisualisasikan dengan sangat grande oleh Baz Luhrmann, lengkap dengan dukungan departemen art dan music yang sangat menonjol di tiap karyanya. Klimaks hingga ending menyentuh dan mampu membuat saya berpikir tentang banyak hal tentang esensi cerita.
Yes, as for me, Baz Luhrmann lagi-lagi mampu menerjemahkan sebuah cerita cinta klasik dengan latar sosial yang “sakit” dengan sangat luar biasa, sesuai ekspektasi saya sebagai fan-nya. Mungkin terasa tak semegah Moulin Rouge (mungkin karena faktor genre musikal yang lebih cocok memaksimalkan visi Baz), namun dalam delivering inti cerita, it’s still spektakuler. Over the top? Yes so what? As we expected from Baz Luhrmann kan?

The Casts

GG sungguh sebuah pack berisi dream cast. Leonardo DiCaprio tak perlu diragukan lagi kharismanya yang sangat pas memerankan Jay Gatsby. Menurut saya semakin lama semakin jelas bahwa DiCaprio adalah tipe aktor yang semakin kharismanya semakin matang dan tampan seiring dengan usia, seperti halnya Richard Gere dan George Clooney. Carey Mulligan pun memberikan performa yang tak kalah gemilangnya. Tanpa banyak ekspresi berlebihan, ia mampu menunjukkan kesepian, kebahagiaan, sekaligus kegundahan pada saat yang sama.
Tobey Maguire sedikit mengingatkan karakter Christian (Ewan McGregor) di Moulin Rouge, terutama fungsinya yang sekaligus narator cerita. But he’s living his own character to Nick Carraway. Elizabeth Debicki (Jordan Baker) cukup mencuri perhatian meski porsinya tak banyak. Joel Edgerton selaku antagonis tampil komikal ala The Duke sekaligus serius dengan seimbang. Penampilan Amitabh Bachchan turut memberi warna tersendiri.

Technical

Departemen art, meliputi properti, kostum, dan lokasi selalu menjadi perhatian terbesar Baz di film-filmnya. Elemen-elemen inilah yang selalu berhasil membangun universe cerita di tiap filmnya, termasuk GG. Apalagi konsep 3D yang sengaja digunakan untuk lebih menghidupkan dunia Gatsby dan New York era 20’an.
Film-film Baz tak pernah luput dari peran music yang dipilih dan dimix dengan unik. Kali ini ia meramu New York era 20’an yang merupakan golden times buat Jazz dengan sentuhan modern, seperti R&B, hip-hop, techno, bahkan rock. Tak heran mengingat Jay-Z duduk di bangku produser sehingga pengaruhnya terasa sekali. Bagi beberapa orang terutama yang konservatif dalam menikmati film, dalam arti misalnya jika film bersettingkan tahun 20’an maka semua unsurnya harus sesuai jamannya, tentu akan mengernyitkan dahi dan mencaci maku duluan. Namun jika Anda membiarkan Baz berkreasi sesuka hati dalam membangun dunianya (sama halnya dengan “kegilaan” selera Quentin Tarantino dalam memadu-madankan music) dan sekedar menikmatinya tanpa banyak berpikir logika, it’s a lot of fun. Stylishly fun and fresh.
Tentu saja dari kesemua nomor-nomor cantik yang dipilih untuk mengiringi sepanjang durasi, Young and Beautiful-nya Lana Del Ray ditempatkan pada adegan yang sangat pas sehingga mudah untuk terus menempel di otak, selain tentu saja tune-nya yang memang sangat ear-catchy. Selain dari itu, mulai Will.I.Am, Andre 3000 (Outkast), Beyonce, Fergie, hingga Jack White, Gotye, Sia, dan Florence and the Machine, menyatu dengan adegan-adegan yang ada sepanjang hampir dua setengah jam.

The Essence

Apa yang menjadi pandangan umum dan diyakini mayoritas belum tentu benar. Jay Gatsby memberikan gambaran true gentlemen di tengah kondisi sosial yang kacau.

They who will enjoy this the most

  • Baz Luhrmann’s fans
  • The novel’s fans
  • Penonton yang menyukai kisah berlatar kondisi sosial masyarakat
  • General audience

86th Annual Academy Awards nominee for

  • Best Achievement in Costume Design - Catherine Martin
  • Best Achievement in Production Design - Catherine Martin and Beverley Dunn

Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates