Guardians of the Galaxy Vol. 2

Star-Lord, Gamora, Rocket, Drax, and Baby Groot were on an adventure to the planet they've never seen before.
Read more.

Critical Eleven

Ika Natassa's best-seller novel about marriage's critical moment is ready to hit the screen!
Read more.

Stip dan Pensil

Ernest Prakasa to go back to the high school and learn to teach people around.
Read more.

Kartini

Hanung Bramantyo pick Dian Sastrowardoyo to portray Kartini in her new version of biopic.
Read more.

Alien Covenant

Another expedition ship to confronted with the Alien's colony .
Opens May 10.

Friday, May 31, 2013

The Jose Movie Review
Laura & Marsha


Overview

Road movie selalu seru untuk diikuti, setidaknya ada bonus pemandangan-pemandangan indah seolah diajak traveling kala menonton. Namun most of them selalu ada esensi tersendiri along the way. Tak hanya di film, kehidupan nyata pun demikian. So road movie jelas perlu untuk terus diproduksi dengan aneka bongkar-pasang elemen-nya. Tahun lalu sinema kita punya Rayya – Cahaya di Atas Cahaya, road movie dewasa yang mencoba puitis namun tetap mudah dimengerti dengan membawa penontonnya perjalanan darat dari Jakarta ke Bali, maka tahun ini ada road movie yang dikemas lebih ringan, fun, dan youth. Laura dan Marsha (LM) sebenarnya punya formula yang cukup klasik untuk sebuah road movie : persahabatan sisterhood yang bertahan di atas segala perbedaan, terutama perbedaan kepribadian dan prinsip hidup. Apalagi background yang sering dipakai untuk tema road movie karena memang menarik untuk diangkat : Eropa. Namun jika biasanya film-film macam Eurotrip, Before Sunrise (dan sekuel-sekuelnya), dan masih banyak lagi yang mengambil landmark-landmark negara besar di Eropa, LM malah memilih kota-kota yang tak begitu banyak punya landmark terkenal, malah cenderung kota-kota kecil : Amsterdam (Belanda), Bruhl (Jerman), Innsbruck (Austria), Verona (Italia), dan Venice (Italia).

Sejak awal, penonton disuguhi kehidupan Laura yang begitu kontras dengan Marsha. Singkatnya Laura hidup teratur, sementara Marsha lebih bebas dan spontan. Alur pun bergulir lancar dan menyenangkan berkat dialog-dialog celetukan cerdas dari keduanya, terutama Marsha. Banyak sekali dialog yang quotable bertaburan sepanjang durasi.

Along the way, benturan-benturan satu per satu yang semakin meruncingkan perbedaan keduanya. Dari sini terlihat sekali konsep cerita utamanya (yakni persahabatan di atas perbedaan yang kontras) digarap dengan sangat matang. Alhasil, kesemuanya berhasil mengalir lancar, berarah jelas, dan nikmat diikuti. Hingga menjelang akhir pun sebenarnya cukup memuaskan. Kelemahan terbesar memang adalah faktor “kebetulan” yang kelewatan sehingga mengakibatkan kecenderungan tipikal  sinetron atau FTV. Tetapi menurut saya itu hanyalah merupakan side-story yang mendukung konsep cerita utama. I don’t mind at all selama masih mampu men-drive cerita utama menjadi konsep yang kuat dan solid.

Naskah Titien Wattimena yang biasa tertata baik dan rapi berpadu debut penyutradaraan dari Dinna Jasanti, menghasilkan LM tontonan yang berbobot namun terkemas ringan.

The Casts

Prisia Nasution (Laura) dan Adinia Wirasti (Marsha) adalah irreplaceable cast di sini. Tidak ada yang lebih cocok dalam menyatukan mereka dalam satu frame. Adinia charming dengan gayanya yang signatural seperti biasa dan siapa yang meragukan pesona Prisia. Apalagi adegan heartbreak yang sudah menjadi keahlian Prisia tanpa terkesan overdramatic dan tearjerker. Chemistry yang terbangun pun terbangun dengan sangat asyik di balik segala perbedaannya.

Technical

Dari hasilnya tentu dapat ditebak konsep small crew untuk syuting di Eropa. Berbekal DSLR Canon 5D Mark II, boomer, dan segala keterbatasan, LM mampu tampil cukup maksimal. Keindahan kota-kota besar maupun kecil tertangkap dengan baik oleh kamera. Sinematografi Roy Lolang yang lebih banyak handheld memang sesuai dengan konsep road movie yang dinamis tanpa harus membuat pusing akibat shakey camera. Adegan kejar-kejaran di hutan agak kurang nyaman dan kurang maksimal, untungnya tak berlangsung lama. Konsistensi gambar di tiap negara juga beberapa kurang terjaga. Di adegan gelap memang tidak sampai grainy, namun justru terjadi saat adegan terang namun ramai dengan detail gambar. Untung saja tone warna sering membantu mengangkat kualitas gambar sehingga overall di mata penonton awam tidak begitu mengganggu.

Editing Aline Jusria yang dinamis serta melibatkan desain grafis yang cantik melengkapi keindahan LM.

Kekuatan score Aghi Narottama dan Bemby Gusti, pakar musik bernuansa European serta pilihan track pengiring dari Diar (Antonius Mashdiarto Wiryanto), musisi Indonesia yang menetap di Jerman, sangat asyik untuk mengiringi perjalanan darat, sesuai dengan konsep road movie. Semoga saja album soundtracknya turut dirilis.

The Essence

Oh yes, perbedaan kepribadian ada untuk saling melengkapi dan mendukung.

They who will enjoy this the most

  • Best-friends
  • Penonton yang suka dialog-dialog menggelitik nan cerdas
  • Pecinta road movie
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Lihat situs resmi film ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Furious 6 (Fast & Furious 6)


Overview

Sampailah kita pada seri keenam dari surprisingly successful franchise. I mean, I like the first one, tetapi siapa yang bakal menyangka sekarang bisa menjadi franchise sebesar ini, apalagi setelah seri kedua dan ketiga yang lebih tepat disebut sebagai spin-off. Namun nasib baik merundung produser dan uang memang tidak bisa membohongi the whole original cast team. So mulai seri empat hingga sekarang ke-enam, cerita track utama dari seri pertama dilanjutkan. Apparently tak hanya didukung faktor kejar-kejaran mobil keren, cewek-cewek seksi, soundtrack-soundtrack asyik, dan keragaman ras serta suku bangsa yang menghiasi cerita yang sudah menjadi semacam brand mark dari franchise Fast and Furious (FF) namun storyline yang ternyata dikembangkan dan di-expand dengan cukup baik, menjadi kekuatan tersendiri.

Jika seri kelima lalu disingkat menjadi Fast Five, maka kali ini jelas sekali alasannya kenapa judulnya disingkat “hanya” menjadi Furious Six (F6 - seperti tertera di opening credit). Oh yes, all you can expect from the franchise was there. Justin Lin yang sudah menggarap franchise ini sejak Tokyo Drift (TD - seri ke-3) jelas terlihat terus menaikkan levelnya sebagai sutradara blockbuster action. Semakin brutal dan gila, namun tetap aman untuk mendapatkan rating PG-13. Ini tak berlebihan, saya berkali-kali dibuat berteriak “waddafak?”. Very fun to watch. Tetapi bisa dirasakan juga bahwa unsur “furious”-nya jauh lebih dominan ketimbang “fast”-nya. Masih ada sih beberapa adegan balapan mobil atau yang mengandalkan keahlian mengendarai mobil, namun suguhan Dom, Hobbs, dan Brian menghajar musuh-musuhnya dengan tangan kosong jauh lebih mendominasi. Belum lagi suguhan chick-fight yang punya daya tarik tersendiri. Overall masih gripping, menarik, sometimes breathtaking, tetapi hanya ketika saat ditonton. Setelah film usai tidak banyak yang berkesan seperti di seri-seri sebelumnya. Diajak re-watch? Hmmm mungkin oke ketika rilis home video-nya sekitar empat bulan ke depan, tetapi definitely no dalam rentang waktu dekat. It will be torturing me somehow.

Gradasi perlahan dari benchmark FF menjadi semacam Die Hard atau franchise-franchise action lainnya mulai terasa. Ada dua konsekuensi dari perubahan ini. Bagus untuk penyegaran di tiap serinya agar penonton tidak bosan, namun di sisi lain fans yang benar-benar fanatik bisa jadi malah menjauhi karena benchmark aslinya perlahan mulai terkikis dan bertransformasi menjadi just another action blockbuster franchise.

Bicara soal storyline dan sejauh mana penulis skenario mampu membawa (atau memelintir) arah cerita saya rasa tak begitu menjadi masalah. Jujur, berapa persen sih yang nonton FF karena jalinan cerita yang bagus? Yang penting adegan aksi baik kejar-kejaran mobil (makin) gila-gilaan (dan semakin tidak masuk akal), tembakan, ledakan, baku hantam di sana-sini dengan variasi makin keren, end of story. I have to admit meski terkesan dipanjang-panjangkan dan seolah tidak rela membiarkan para karakternya hidup tentram, penulis naskah so far terasa masih cukup jeli melihat potensi perkembangan cerita dan menjadikannya menarik, along with the stand-alone premise yang memang harus ada di setiap bagian agar tak monoton. Kendati demikian in my opinion, cerita F6 bukan merupakan bagian penting dari keseluruhan. It has over its important part since they realize their power as a team in F5. Sekedar informasi, F6 merupakan sekuel langsung dari F5 dan dari endingnya jelas sekali menjadi prekuel langsung dari TD. So (sudah pasti) ada F7 yang ceritanya melanjutkan TD. Confusing storyline? Tidak juga kok jika Anda menonton semua serinya. Start to get boring and tiring? Probably. Tergantung dari aspek apa saja yang menurut Anda penting.

The Casts

Cast dari tim awal tidak banyak ada perubahan. Semuanya pada porsi masing-masing dan bagusnya, meski tergolong banyak dalam hal jumlah namun tetap bisa membagi porsi masing-masing karakter dengan cukup adil sehingga mudah dikenali oleh penonton, baik Diesel, Walker, Brewster, Rodriguez, Tyrese, Ludacris, Sung Kang, Johnson, dan tentu saja screen stealer, Gal Gadot. Di lini karakter baru, tak perlu meragukan penampilan Gina Carano yang sudah dapat diprediksi bakal bergabung di franchise ini sejak penampilan kick-ass-nya di Haywire. Alhasil menjadikan rival yang seimbang untuk Michelle Rodriguez dan menjadi daya tarik tersendiri di layar.

Di kubu villain penampilan Luke Evans menambah daftar panjang villain modern yang berwatak serupa. He’s doing it good enough. Penonton Indonesia tentu menanti-nantikan penampilan Joe Taslim yang ternyata diberi porsi cukup banyak sebagai anak buah Evans dan cukup kick-ass hingga Han dan Roman harus menahan malu mengaku kalah bertarung dengannya. Terakhir, penampilan dingin (tetapi seksi) dari Clara Paget (Vegh) sedikit banyak mengingatkan pada pesona Léa Seydoux di Mission Impossible : Ghost Protocol.

Technical

Ah, perlu kah membahas teknis untuk franchise sekelas FF? Memang banyak adegan stunt yang mustahil, lebih mustahil ketimbang dua mobil menyeret brankas berton-ton sejauh berkilo-kilo meter, but hey atas nama kegilaan adegan dan keasyikan menonton, masih sah-sah saja. Pun begitu dengan sound fx yang masih terasa mantap terdengar.

Minus yang paling terasa mungkin hanya sajian tracklist yang tidak seasyik dan se-earcatchy seri-seri sebelumnya. Sungguh sayang sekali, padahal tracklist pendukung menurut saya adalah salah satu unsur daya tarik dari franchise ini.

The Essence

Menarik melihat perbandingan yang dilakukan karakter villain, Shaw, di satu adegan, antara timnya dengan tim Dom. Jika Dom mengutamakan kekuatan kekeluargaan, Shaw lebih memilih untuk bongkar-pasang dalam timnya hingga mencapai satu titik kekuatan yang solid. Tidak ada yang salah atau yang paling benar, masing-masing punya kelebihan dan kelemahan tersendiri, tergantung sudut pandang dan nilai-nilai yang lebih diutamakan.

They who will enjoy this the most

  • Franchise’s fans
  • General audiences who needs fun, light, and non-stop blockbuster adrenaline rush
Lihat data film ini di IMDb.


Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
The Great Gatsby (2013)


Overview

Baz Luhrmann adalah salah satu sutradara favorit saya karena selalu punya visi yang kuat di setiap karyanya. Dia punya ciri khas tersendiri dan dia selalu tahu bagaimana mengubah sebuah materi cerita sederhana menjadi visualisasi yang tampak spektakuler. Tak banyak sutradara seperti ini di dunia. Karya-karyanya yang terkenal dengan julukan “Ballroom Trilogy” : Strictly Ballroom, Romeo+Juliet, dan Moulin Rouge tentu dapat mudah dikenali style-nya. Hanya Australia yang digarap dengan style sangat berbeda. Keempatnya gagal melewati gross domestik US$100 juta ketika tayang di bioskop namun kesemuanya meraih keuntungan berlipat-lipat secara worldwide, dan versi home videonya diburu banyak kolektor. So jelas Baz Luhrmann sudah punya fanbase sendiri yang bisa menikmati karya-karyanya. Batal menggarap Alexander karena melihat kegagalan Oliver Stone menggarap film bertema sama, kini ia mengangkat kisah dari novel Scott Fitzgerald bertajuk The Great Gatsby (GG).
GG sendiri total baru lima kali diangkat ke format audio visual, baik layar lebar maupun layar kaca, dimana versi yang paling memorable tentu saja ketika dibawakan oleh pasangan Robert Redford dan Mia Farrow (1974). Maka versi Baz Luhrmann akan menjadi versi ke-6 yang menjanjikan banyak hal, termasuk keterlibatan Leonardo DiCaprio dan Carey Mulligan yang termasuk aktor-aktris papan atas Hollywood saat ini.
Baz memikul beban yang cukup berat untuk memuaskan ekspektasi banyak pihak, terutama pembaca novel yang selama ini kerap susah untuk dipuaskan dengan versi adaptasi layar lebar. Belum lagi penonton yang belum terbiasa dengan gaya penceritaan Baz yang terkesan tertutupi oleh art directing dan visualisasi megah nan glamour. Tak heran banyak kritik yang menilai GG versinya over the top atau style over substance. Apapun kata kritik, saya tetap mengejarnya (apalagi dengan jumlah layar yang sangat terbatas di kota saya).
So yes, GG versi 2013 ini sangat Baz Luhrmann sekali. Bahkan struktur adegan yang dihadirkan seolah template yang sangat mirip dengan yang pernah digunakannya untuk Moulin Rouge. Dari awal kita diajak masuk ke dunia seorang gentleman berkelas yang serba glamour dan penuh pesta meriah. Di sinilah ke-khas-an Baz tereksploitasi dengan sempurna, sambil penonton dibuat penasaran dengan sosok si Jay Gatsby dan motivasi-motivasinya.
Menginjak paruh kedua baru kita dibawa ke inti cerita yang sebenarnya sederhana namun lagi-lagi divisualisasikan dengan sangat grande oleh Baz Luhrmann, lengkap dengan dukungan departemen art dan music yang sangat menonjol di tiap karyanya. Klimaks hingga ending menyentuh dan mampu membuat saya berpikir tentang banyak hal tentang esensi cerita.
Yes, as for me, Baz Luhrmann lagi-lagi mampu menerjemahkan sebuah cerita cinta klasik dengan latar sosial yang “sakit” dengan sangat luar biasa, sesuai ekspektasi saya sebagai fan-nya. Mungkin terasa tak semegah Moulin Rouge (mungkin karena faktor genre musikal yang lebih cocok memaksimalkan visi Baz), namun dalam delivering inti cerita, it’s still spektakuler. Over the top? Yes so what? As we expected from Baz Luhrmann kan?

The Casts

GG sungguh sebuah pack berisi dream cast. Leonardo DiCaprio tak perlu diragukan lagi kharismanya yang sangat pas memerankan Jay Gatsby. Menurut saya semakin lama semakin jelas bahwa DiCaprio adalah tipe aktor yang semakin kharismanya semakin matang dan tampan seiring dengan usia, seperti halnya Richard Gere dan George Clooney. Carey Mulligan pun memberikan performa yang tak kalah gemilangnya. Tanpa banyak ekspresi berlebihan, ia mampu menunjukkan kesepian, kebahagiaan, sekaligus kegundahan pada saat yang sama.
Tobey Maguire sedikit mengingatkan karakter Christian (Ewan McGregor) di Moulin Rouge, terutama fungsinya yang sekaligus narator cerita. But he’s living his own character to Nick Carraway. Elizabeth Debicki (Jordan Baker) cukup mencuri perhatian meski porsinya tak banyak. Joel Edgerton selaku antagonis tampil komikal ala The Duke sekaligus serius dengan seimbang. Penampilan Amitabh Bachchan turut memberi warna tersendiri.

Technical

Departemen art, meliputi properti, kostum, dan lokasi selalu menjadi perhatian terbesar Baz di film-filmnya. Elemen-elemen inilah yang selalu berhasil membangun universe cerita di tiap filmnya, termasuk GG. Apalagi konsep 3D yang sengaja digunakan untuk lebih menghidupkan dunia Gatsby dan New York era 20’an.
Film-film Baz tak pernah luput dari peran music yang dipilih dan dimix dengan unik. Kali ini ia meramu New York era 20’an yang merupakan golden times buat Jazz dengan sentuhan modern, seperti R&B, hip-hop, techno, bahkan rock. Tak heran mengingat Jay-Z duduk di bangku produser sehingga pengaruhnya terasa sekali. Bagi beberapa orang terutama yang konservatif dalam menikmati film, dalam arti misalnya jika film bersettingkan tahun 20’an maka semua unsurnya harus sesuai jamannya, tentu akan mengernyitkan dahi dan mencaci maku duluan. Namun jika Anda membiarkan Baz berkreasi sesuka hati dalam membangun dunianya (sama halnya dengan “kegilaan” selera Quentin Tarantino dalam memadu-madankan music) dan sekedar menikmatinya tanpa banyak berpikir logika, it’s a lot of fun. Stylishly fun and fresh.
Tentu saja dari kesemua nomor-nomor cantik yang dipilih untuk mengiringi sepanjang durasi, Young and Beautiful-nya Lana Del Ray ditempatkan pada adegan yang sangat pas sehingga mudah untuk terus menempel di otak, selain tentu saja tune-nya yang memang sangat ear-catchy. Selain dari itu, mulai Will.I.Am, Andre 3000 (Outkast), Beyonce, Fergie, hingga Jack White, Gotye, Sia, dan Florence and the Machine, menyatu dengan adegan-adegan yang ada sepanjang hampir dua setengah jam.

The Essence

Apa yang menjadi pandangan umum dan diyakini mayoritas belum tentu benar. Jay Gatsby memberikan gambaran true gentlemen di tengah kondisi sosial yang kacau.

They who will enjoy this the most

  • Baz Luhrmann’s fans
  • The novel’s fans
  • Penonton yang menyukai kisah berlatar kondisi sosial masyarakat
  • General audience

86th Annual Academy Awards nominee for

  • Best Achievement in Costume Design - Catherine Martin
  • Best Achievement in Production Design - Catherine Martin and Beverley Dunn

Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Pintu Harmonika


Overview

Ada banyak hal yang membuat Pintu Harmonika tampak menarik untuk disimak. Pertama, tentu saja tiga nama wanita yang duduk di bangku sutradaranya; ada aktris/penyanyi/presenter Luna Maya, aktris Sigi Wimala, dan terakhir penulis naskah Catatan Harian Si Boy, Ilya Sigma. Dari jajaran cast-nya ada Donny Damara, Barry Prima, pendatang baru yang pernah muncul di Hattrick, Fauzan Nasrul, dan tentu saja yang baru saja jadi bahan pembicaraan di scene film Indonesia berkat penampilannya di What They Don’t Talk About When They Talk About Love, Karina Salim. Ditambah trailer yang ternyata menjanjikan keceriaan serta penggarapan yang mumpuni, Pintu Harmonika jelas menunjukkan kualitas yang tidak main dari tiga wanita ini.
Digarap oleh 700 Pictures yang juga pernah menggarap CHSB) bekerja sama dengan, Pintu Harmonika (PH) adalah sebuah omnibus berisi tiga cerita yang mana saling berhubungan meski tidak secara langsung. Ketiganya diikat oleh persamaan setting lokasi, yakni tiga ruko yang berjejer di suatu kompleks. Jika mau dianalisis lebih dalam dari segi cerita, ketiganya pun menyajikan konflik orang tua-anak yang bermacam-macam.
PH dibuka dengan segmen Otot yang berfokus pada karakter Rizal, siswa SMA yang populer di dunia maya berkat blog traveling dan twitter, dan Cynthia, teman sekolahnya yang sedang mencari dana untuk membiayai kompetisi dance. Sebagai pembuka, Otot punya cerita yang menarik, apalagi dengan pengemasan romance comedy serta sedikit musical. Sungguh sebuah pembuka yang membangkitkan minat menonton berkat aura fun-nya. Namun sayang penulisan naskah harus mengalami turn-over yang agak kurang relevan menjelang konklusi. Kelemahan minor yang membuat saya mengernyitkan dahi, “lho kok bisa jadi begini?” dan sungguh disayangkan merusak semua bangunan cerita dan karakter yang sudah tertata baik sejak awal.
Segmen Skors mampu tampil lebih baik dari segi naskah. Sederhana namun mampu divisualisasikan dengan hangat, terlebih lagi endingnya yang membuat tersenyum bahagia. Berfokus pada pengalaman Juni, seorang siswi SMP, ketika sedang diskors selama lima hari, yang membawa hubungannya dengan sang ayah ke babak baru.
Piano yang disajikan terakhir membawa perubahan aura film cukup signifikan karena memiliki genre yang paling berbeda, yakni thriller. Ia memang memiliki premise dengan “twist” (itupun kalau masih dianggap sebagai “twist”) yang sudah sering digunakan. Sejak awal cerita pun saya sudah tahu akan dibawa ke mana alur ceritanya, namun berkat penggarapannya yang mampu menggiring cerita menjadi lebih menarik, saya seperti diyakinkan bahwa there’s still more than that. Selain nuansa thriller nan depresif yang berhasil dibangun dan dihidupkan sejak awal, ia juga mampu menyentuh penontonnya di ending hingga terenyuh berkat hubungan manis namun tragis antara ibu-anak.
So dari kacamata saya, ketiga segmen PH ditampilkan dengan kualitas yang berurutan, dari yang paling biasa hingga paling menarik. Penyusunan urutan yang pas sekali menurut saya, baik dari segi kualitas maupun fungsinya dalam menjaga mood penonton. Tidak terlalu istimewa, namun bisa dibilang berhasil sebagai sajian hiburan yang menarik dan bermakna.

The Casts

Cast pendukung PH rata-rata tampil baik dan terasa pas mengisi peran masing-masing. Dari segmen Otot, Karina Salim yang baru saja mencuri perhatian di Don’t Talk Love tentu kembali menjadi sorotan utama. Mengisi peran yang lebih ringan dan muda, ia tetap mampu membawakannya dengan menarik dan berkarakter. Sementara lawan mainnya, Fauzan Nasrul juga mampu mengimbangi Karina maupun menciptakan chemistry anak-ayah yang asyik dengan Donny Damara. Sebagai karakternya sendiri pun ia mampu menciptakan charm tersendiri.
Di Skors yang mana jalinan chemistry antara ayah-anak ditulis dengan lebih jelas dan fokus direfleksikan dengan sangat baik oleh aktor veteran Barry Prima dan Nasya Abigail (Kita vs Korupsi dan Perempuan Berkalung Sorban).
Terakhir, akting Jenny Chang (May dan Karma) di Piano yang porsi perannya kian menanjak patut diacungi jempol dalam meraih simpatik penonton tanpa terkesan terlalu dramatisir. Natural namun kuat.

Technical

Menarik melihat konsep yang berbeda-beda pada ketiga cerita di PH. Tak hanya dari segi genre namun juga konsep universe-universe yang diangkat : sekolah, percetakan sablon, dan cookie. Ketiganya ditampilkan dengan detail yang cukup tinggi meski hanya berfungsi sebagai latar cerita.
DOP Roy Lolang menyumbangkan gambar-gambar dan angle yang menarik dan dinamis di hampir tiap adegan tiap segmen. Pun juga score dari Aghi Narottama dan Bemby Gusti yang tak perlu diragukan lagi kemampuannya dalam menghidupkan adegan. Ketiga cerita dengan konsep yang berbeda, bahkan ketika pada segmen Piano yang sama sekali berbeda, mampu menghadirkan nuansanya masing-masing dengan maksimal.

The Essence

Hubungan orang tua-anak tidak pernah mudah, apapun bentuknya. Belajar menjalin komunikasi yang baik adalah solusinya.

They who will enjoy this the most

  • General audiences
  • Anak (terutama remaja) dan orang tuanya
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, May 20, 2013

The Jose Movie Review
Hummingbird


Overview

Setiap generasi punya aktor action hero yang menonjol dan nama Jason Statham adalah icon action hero pada era 2000-an. Ia sudah punya basis fans sendiri sehingga film-film yang ia bintangi meski hanya mengandalkan aksi laga tanpa landasan cerita yang kuat atau malah cenderung klise, setidaknya masih ada penonton yang setia menyaksikannya. Pernah sih ia membintangi film-film laga berbobot di era 90-an seperti Lock, Stock, and Two Smoking Barrels dan Snatch. (keduanya karya Guy Ritchie), tetapi bukan sebagai pemeran utama. Image-nya sudah melekat pada franchise-franchise macam Transporter, Crank, The Expendables, dan terbaru ia pun bergabung di gang Fast and Furious (6-7). Dari deretan filmografinya, film terakhir yang impresif bagi saya adalah The Mechanic (2011) garapan Simon West dimana ia beradu akting dengan Ben Foster.

Hummingbird atau di US menggunakan judul yang lebih “pasaran” namun lebih menjelaskan inti filmnya, Redemption, merupakan karya debut penyutradaraan bagi penulis naskah Steven Knight (nominee Academy Award 2004 untuk Dirty Pretty Things) yang juga pernah angkat nama lewat Eastern Promises). Masih menyorot kehidupan remang-remang underground dan kelas bawah kota besar, kali ini ia memasukkan unsur “religius” dalam menyampaikan kisahnya.

Mungkin terdengar terlalu mengada-ada namun demikianlah kenyataannya. Tak hanya menghadirkan karakter biarawati sebagai bagian penting dari cerita, premise redemption-nya benar-benar dibidik secara “religius”. Tenang saja, jangan bayangkan unsur “religi” seperti yang ada di film/sinetron kita yang serba pure black-pure white dengan template yang itu-itu saja. Karakter utama Joey, mantan tentara Afghanistan yang kini buron, digambarkan tidak melulu hitam. Bahkan karakter Cristina, seorang biarawati juga digambarkan tidak sepenuhnya putih. Ada pergulatan kepribadian masing-masing yang membawa mereka ke satu titik temu sekaligus titik balik kehidupan keduanya. Bukan hal baru sebenarnya, tetapi berkat konsistensi fokus cerita dan perkembangan cerita yang terjaga baik, somehow tetap membuat saya tertarik untuk menyaksikannya hingga akhir film.

Steven Knight tak hanya menuliskan naskahnya dengan detail karakter serta perkembangan yang natural dan manusiawi, terutama Joey dan Cristina. Nyatanya, di bawah arahannya, Hummingbird tampil elegan, khas crime drama thriller Eropa. Berbeda dengan film-film tipikal Statham biasanya, Hummingbird memang lebih banyak menghadirkan drama dengan menonjolkan character development ketimbang adegan aksi gila-gilaan. Namun bukan berarti ia tak punya cukup adegan aksi untuk dinikmati. Dengan didominasi perkelahian tangan kosong dan perkakas seadanya, tanpa senjata api ataupun bahan peledak, porsi adegan aksi yang ada menurut saya pas, sesuai dengan kebutuhan cerita. Nyaris brutal dan cukup membuat gregetan penonton di beberapa bagian.

So, penggemar Statham agaknya harus mengubah ekspektasinya ketika menyaksikan Hummingbird (mengubah, bukan menurunkan). Adalah sebuah kemajuan bagi seorang Statham untuk bermain di film dengan cerita serius, tidak hanya mengandalkan kemampuan fisiknya. Toh, cerita yang diusung Hummingbird sangat memuaskan untuk disaksikan, dipikirkan, bahkan direnungkan.

The Casts

Meski tidak juga terlalu istimewa, Statham memainkan dan menunjukkan perkembangan karakter Joey dengan sangat baik. Begitu pula Agatha Buzek (Cristina) yang mampu mengimbangi bahkan tampil lebih menonjol berkat karakternya yang memang lebih menarik untuk disimak.

Technical

Kekuatan teknis yang paling terasa adalah sinematografi Chris Menges yang pernah bekerja bersama Knight di Dirty Pretty Things. Jalan-jalan kecil London yang remang-remang namun dihiasi lampu neon warna-warni indah, apartemen mewah, bahkan biara tempat Cristina bernaung terekam dengan sangat indah dan berkelas.

Tak ketinggalan score dari composer kelas Oscar, Dario Marianelli (Atonement dan Anna Karenina) yang sukses membawa penonton ke dunia Joey yang keras. Menyentuh di beberapa bagian namun tak sampai terbuai menjadi tear-jerker yang terlalu dalam.

The Essence

Ah saya sudah tahu dan percaya Tuhan selalu punya cara yang misterius untuk mengubah hidup seseorang. I’ve been there dan kisah-kisahnya selalu menarik perhatian saya asalkan tidak digambarkan serba hitam-putih dan naif.

They who will enjoy this the most

  • Statham’s true fans who will still love him just the way he is, not just because what he used to be in previous movies
  • Penyuka film action-drama yang thoughtful, tak hanya menjual adegan-adegan aksi spektakuler semata
  • Penyuka film character-driven
Lihat data film ini di IMDbRate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Star Trek Into Darkness


Overview

Saya bukan berasal dari generasi di mana era keemasan Star Trek (ST) berpuncak. Nevertheless, ketika kecil saya masih mengenali versi serial TV-nya (The Next Generation) dengan karakter-karakter uniknya seperti Data, Worf, dan Geordi La Forge. Tetapi sampai di situ saja impresi saya tentang ST dulu, secara dari segi cerita dan desain universe saya lebih “klik” dengan franchise Star Wars yang kebetulan dirilis ulang bertepatan dengan generasi saya.

Kemudian muncul J. J. Abrams, penulis sekaligus sutradara yang angkat nama sejak booming serial Alias dan Lost. Reputasinya di layar lebar pun ternyata sangat impresif. Tak heran satu per satu proyek ambisius melamar dirinya. Reboot Star Trek di 2009 mampu menjadi penyegaran dari franchise klasik yang sempat sudah pada titik terendahnya. Seorang Steven Spielberg pun memberi kepercayaan menggarap Super 8, drama sci-fi sejenis Close Encounters of the Third Kind yang lagi-lagi meraih banyak pujian dari kritikus maupun penonton. Setelah Star Trek Into Darkness (STID) ini, ia akhirnya dilamar untuk menggarap trilogi ketiga dari mega franchise Star Wars. Berakhirlah sudah seteru antara fanboy keduanya dengan momentum berbagi sutradara ini. Alam semesta kembali berdamai. Jadi bagaimana sepak terjang Abrams di sekuel reboot salah satu yang paling ditunggu-tunggu die hard fansnya di seluruh dunia?

All I can say is, he’s succeeded leaping his own previous achievement. Jika reboot ST (2009) seolah “hanya” pengenalan universe Star Trek ala Abrams, maka STID adalah hasil dari segala grand concept dari seorang Abrams untuk franchise ini. This is the true ST he always want to show us : aspek sci-fi sebagai konsep utama namun diseimbangkan dengan sisi hiburan yang masih terasa. Dan tampaknya memuaskan para Trekkies sekaligus fans generasi baru yang menjadi salah satu alasan utama kenapa franchise besar perlu sebuah reboot setiap jangka waktu tertentu. Franchise yang bagus harus selalu dilestarikan lintas generasi bukan?

Boleh saja sub-judulnya Into Darkness tapi ternyata ia sama sekali tak berusaha menjadi kelam seperti trend blockbuster Hollywood akhir-akhir ini. Ia masih mengusung keseruan dan fun yang sama dengan pendahulunya. Bahkan menurut saya jauh lebih segar dan menyenangkan ketimbang bagian pertamanya. Ringan, mudah dipahami, namun tidak kacangan. Jalinan kisah daur ulang, termasuk ditampilkannya Kahn sebagai villain (namun dengan tampilan dan latar belakang karakter yang jauh berbeda dari Star Trek – The Wrath of Kahn) berhasil ditampilkan secara segar tanpa terasa jatuh menjadi semacam opera sabun. Sementara kekuatan utama tetap berada pada jalinan hubungan antar karakter dan perkembangan masing-masing. Ada cukup banyak karakter yang ditampilkan namun somehow masing-masing terasa pada porsi yang pas dan adil. Satu hal yang sulit dilakukan dan jarang ditemukan pada medium film terutama akhir-akhir ini, dimana cenderung saling tumpang tindih atau ada karakter yang terasa hanya sebagai pemanis layar.

Dari segi sci-fi, STID menghadirkan universe yang seimbang dan sesuai fungsinya sehingga tidak merebut perhatian penonton sepanjang durasi. It looked cool, real, but not distracting the main focus, its story.

Terakhir, action yang tentu saja menjadi perhatian utama penonton. Jelas sudah terbukti kepiawaian Abrams dalam menggarap adegan-adegan aksi seru, menegangkan, dan bisa dinikmati. Jadi jika Anda (dan juga saya) berpikir film-film aksi era 2000-an hanya mengandalkan efek visual gila-gilaan semata tanpa sense of action excitement, bersyukur masih ada Abrams yang punya bakat luar biasa di bidang ini. Mr. Bay dan Mr. Emmerich, please get off the screen!

The Casts

Chemistry bromance yang ditunjukkan Chris Pine (Kirk) dan Zachary Quinto (Spock) tetap menjadi highlight yang menarik dan menonjol sepanjang film. Spotlight berikutnya patut diarahkan pada Benedict Cumberbatch yang berhasil mensejajarkan dirinya dengan deretan villain kharismatik lainnya dengan gestur dan  suara yang mengintimidasi. Tambahan screen’s sweetheart, Alice Eve (Carol) tak hanya mempercantik layar namun memberikan kesegaran baru pada franchise.

Sementara tampilan beberapa kru yang sudah ada sejak seri sebelumnya, seperti Zoe Saldana, Anton Yelchin, John Cho, Karl Urban, dan Simon Pegg masih mengisi peran dengan keunikan masing-masing dan tetap menjadikan suasana di dalam USS Enterprise “hidup”.

Technical

Sebuah sci-fi dengan grand design concept semumpuni ST-nya J. J. Abrams tentu tak perlu diragukan lagi. Semuanya tertata rapi dan keren. Mulai dari set lokasi seperti keadaan di bumi masa depan, di dalam pesawat USS Enterprise, desain kostum (terutama seragam) yang keren tanpa menghilangkan unsur khasnya, hingga visual effect mencengangkan di tiap frame-nya.

Sinematografi cantik dari Daniel Mindel, lengkap dengan efek flare di mana-mana yang telah menjadi signature Abrams. Efek 3D yang meski hasil convert, bukan shot in 3D, ternyata mampu memuaskan, terutama adegan pembuka yang breathtaking. Adegan-adegan selanjutnya meski tak begitu menonjol dan minim efek pop-out, namun cukup mampu membawa penonton seolah-olah menjadi bagian dari awak USS Enterprise.

Score gubahan Michael Giacchino menggiring penonton ke nuansa grande dari franchise semegah ST. Mungkin tidak begitu hummable di telinga saya, tetapi setidaknya terdengar sangat megah untuk ukuran film yang memang disiapkan untuk menjadi blockbuster.

The Essence

Aneka karakter yang berbeda-beda di dalam awak USS Enterprise mengingatkan kita sekali lagi untuk mempergunakannya sebagai saling pengisi dan dukung. Contoh yang paling mudah perbedaan Spock yang rasional dan matematis dengan Kirk yang sering mengandalkan insting.

They who will enjoy this the most

  • Trekkies
  • General blockbuster audiences
86th Annual Academy Awards for
  • Best Achievement in Visual Effects - Roger Guyett, Pat Tubach, Ben Grossmann, and Burt Dalton
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, May 9, 2013

The Jose Movie Review
Evil Dead (2013)


Overview

The Evil Dead (ED - 1981) karya Sam Raimi (iya, sutradara Spider-Man versi Tobey Maguire itu) dianggap sebagai sebuah cult masterpiece dalam scene horor yang mengeksploitasi gore serta unsur-unsur klasik lainnya seperti kabin di hutan, mantra pembangkit setan, dan kerasukan. Suksesnya berbuntut pada pembuatan sekuel, Evil Dead 2 (1989) dan Army of Darkness (1992), diikuti sekuel-sekuel berikutnya di ranah video game. Di tengah tren remake horor klasik, tinggal menunggu waktu saja bagi ED untuk diperbaharui dengan teknologi yang lebih modern ketimbang versi aslinya.

Keterlibatan Raimi sebagai produser di sini menjadi semacam jaminan bahwa remake ED tidak akan mengecewakan fans setia versi aslinya. Ditunjuklah sutradara film pendek asal Uruguay, Fede Alvarez yang sekaligus menuliskan naskah versi barunya ini bersama dengan Rodo Sayagues.

Jika Anda fans atau sekedar pernah menyaksikan versi aslinya, sulit untuk tidak membanding-bandingkan keduanya, setidaknya susunan template adegan-adegannya. Well in the end, saya menyimpulkan bahwa masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan sendiri-sendiri. Ini tidak hanya sebuah remake, namun juga bisa menjadi semacam sekuel tidak langsung dari versi aslinya. Terserah masing-masing penonton.

ED2013 tidak mentah-mentah copy-paste versi 1981. Yang ia ambil hanya cerita dasarny, beberapa unsur remarkable, serta yang wajib adalah nyawa horornya. Ia menambahkan sub-plot hubungan kakak-adik yang lebih solid ketimbang versi 1981 yang terkesan hanya pelengkap. I know we don’t watch this kind of movie for the story, but for the gorefest and the thrill. Tetapi tidakkah merupakan sebuah elemen positif dan rasional yang ditambahkan untuk mendukung film.

Untuk horror dan thrill-nya sendiri sebenarnya saya merasakan sedikit di bawah  versi 1981. Dengan kacamata horor modern sekalipun, versi 2013 thrill-nya terasa kurang gripping dan seolah seperti terburu-buru mematikan karakter demi karakternya sebelum mengeksploitasi ketegangan yang mampu diciptakan secara maksimal, terutama di bagian pertengahan film. Bandingkan dengan versi 1981 yang dengan asyiknya “menahan” ketegangan sebelum benar-benar mematikan karakter demi karakter. Sedikit humor absurd dan creepy yang diselipkan di tengah-tengah versi 1981 juga banyak dikurangi. Masih penuh darah, penuh shocker, namun sudah sangat formulaic di banyak horor sejenis sehingga terkesan biasa.

Saya yang masih mengingat susunan template adegan versi asli sampai pada titik tersebut sudah terlanjur kecewa. Namun rupanya ia tidak mematuhi template aslinya dan menambahkan bagian terbaiknya di akhir film. This is the real thriller and the best part of all, even from the original version! Akhirnya versi ED2013 berhasil membayar lunas semua kekecewaan saya di awal hingga pertengahan film, termasuk dengan adegan yang seolah sebuah tribute untuk The Raid karya Gareth Evans. Akhirnya ada bagian yang membuat saya teriak kegirangan.

So in the end, dengan berbagai kreativitas di sana-sini untuk menghiasi film dengan tetap menghormati dan menjaga ketat nyawa serta beberapa elemen orisinalnya, ED2013 bisa dikatakan sebuah remake yang berhasil memuaskan fans setianya sekaligus menjaring fans baru dimana sudah pasti Sam Raimi dan krunya  berencana untuk melanjutkan franchise yang jelas-jelas potensial menjadi tambang uang ini.

Oh yes, jangan buru-buru keluar dari studio untuk mendapatkan informasi penting tentang sejarah Book of the Dead bagi yang belum pernah nonton versi aslinya. Untuk fans versi 1981, ada kejutan tambahan di after credit.

The Casts

Saya rasa ia tak butuh aktor-aktor ternama dengan kemampuan akting mumpuni untuk menghiasi layar. Tetapi Shiloh Hernandez (Red Riding Hood) harus diakui mirip atau setidaknya mengingatkan dengan sosok Ash di versi aslinya. Begitu pula Jane Levy yang memerankan Mia dan Randal Wilson, pemeran Mia ketika kerasukan. Tak kalah menyeramkan dan mengerikan ketimbang Betsy Baker (pemeran Cheryl di versi aslinya).

Sekedar fakta unik, jika Anda mengambil huruf depan dari karakter-karakter utama kita; David, Eric, Mia, Olivia, dan Natalie, maka Anda akan menemukan kata…

Technical

Kesetiaannya untuk sebisa mungkin tak mengandalkan CGI dalam menghadirkan horor dan gore patut diacungi jempol. Dengan hanya meggunakan prostetik, gore yang ditampilkan terasa lebih nyata dan hidup. Aspek itulah yang menambah suasana ngeri di hampir sepanjang durasi.

Divisi sound effect juga patut diberi kredit lebih dalam menghidupkan berbagai adegan. Timing silent yang tetap efektif memberi efek kejut meski penonton sudah bisa menebaknya, serta keseimbangan bass-treble yang mantap terjaga. Experience yang jarang bisa dirasakan di film-film horor modern.

The Essence

“You’re all going to die tonight!”

They who will enjoy this the most

  •  Gore-horror enthusiast
  •  The original Evil Dead fans
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Kisah 3 Titik


Overview

Lola Amaria dikenal sebagai sosok film yang concern dengan problematika sosial di negeri ini. Setelah sebelumnya mengangkat cerita TKW Indonesia di Hongkong lewat Minggu Pagi di Victoria Park dan LGBT di Sanubari Jakarta, kini bekerja sama dengan Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia, Lola mengangkat tema perburuhan di dalam negeri, nyaris bertepatan dengan Hari Buruh.

Bicara mengenai perburuhan di Indonesia, mungkin kita sudah bosan dengan hiruk-pikuknya yang tak kunjung selesai. Apalagi setiap kali kita yang tinggal di kota dibuat sebal oleh kemacetan akibat demonstrasi buruh yang seolah-olah tak pernah puas menuntut. Tuntutan UMR yang mencapai 1.5 juta pun cukup mengernyitkan dahi karyawan-karyawan kantor yang dengan latar belakang pendidikan lebih tinggi namun gajinya tak beda jauh. Tentu ketimpangan terasa semakin tidak adil. Bahkan saya sampai pada anekdot, mungkin para buruh tidak akan pernah puas berdemo kalau belum memiliki gaji dan fasilitas setara direktur-direktur di atasnya. Well, tuntutan tinggal tuntutan jika kita tidak menganalis dampak ke depannya dari permasalahan ini yang mau tak mau akan selalu berputar-putar pada “lingkaran setan” yang sama.

Maka Kisah 3 Titik mencoba untuk mengangkat permasalahan perburuhan di tanah air ini dari berbagai sudut. Setidaknya ada tiga titik penting yang patut dilihat. Titik di sini bukanlah metafora semata karena sekaligus dijadikan nama karakter yang merepresentasi masing-masing pihak. Titik yang pertama adalah Titik Sulastri, seorang janda yang sedang berusaha mencari pekerjaan demi menghidupi anak serta calon anak yang akan lahir. Titik kedua Kartika (Titik Tomboy), seorang buruh garmen yang tergolong vokal menentang ketidakadilan dan kecurangan yang dilakukan perusahaannya, namun menjadi percuma karena tak punya kuasa apa-apa. Yang terakhir mungkin yang paling punya power atas nasib buruh namun masih kalah dari segi posisi, Titik Dewanti Sari.

Penceritaan tiga sisi yang saling berkaitan di sini menjadi sebuah premise yang menjanjikan. Setidaknya, menarik untuk disimak. Memang benar, penulis naskah Charmantha Adjie dan sutradara Bobby Prabowo bisa dikatakan berhasil merangkai kisah ketiganya menjadi satu kesatuan yang tak hanya menarik untuk diikuti (meski most of us mungkin sudah paham betul ke mana arahnya akan menuju), sekaligus tetap mampu membuat penonton berempati terhadap nasib karakter-karakter yang ada. Ia memang murni memaparkan tiap kisah secara faktual, mungkin sedikit mirip sebuah dokumenter dengan sentuhan art sinematik. Tak ada perkembangan karakter yang berarti, karena tiap karakter seperti para buruh yang sudah ditentukan nasibnya sejak awal, tinggal diikuti, dan semakin lama semakin memburuk. Tidak ada pula kesimpulan dan solusi yang ditawarkan, karena memang hingga kini belum ada solusi yang benar-benar bisa menyelesaikan permasalahan yang ada.

Namun justru di situlah kekuatan Kisah 3 Titik (K3T). Ia tak mau bersikap sok tahu atas langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini, yang justru rentan terjerumus pada ketidakrealistisan. Ia malah seolah mengajak penonton untuk mencerna permasalahan buruh dari berbagai sudut dan aspek serta berpikir bersama solusi apa yang bisa mengurangi permasalahan buruh. Syukur-syukur terselesaikan semua.

Untuk tujuan itu, K3T bisa dikatakan berhasil meski tidak juga menjadi karya yang begitu istimewa dan sangat mengesankan di balik berbagai aspeknya yang sudah tertata apik. Dengan embel-embel dukungan Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia yang rentan menjadi karya pretensius dan penuh “pesanan” di sana-sini, setidaknya ia mampu memvisualisasikannya dengan sangat halus dan elegan.

The Casts

Lola Amaria serta dua aktris utama pemeran Titik lainnya, Ririn Ekawati dan Maryam Supraba berhasil mengundang simpati penonton berkat karakter yang cukup kuat dibawakan masing-masing. Ririn dengan nasib malangnya yang bertubi-tubi, Maryam dengan keberaniannya namun tetap saja kalah, serta Lola yang bisa mengubah namun tanpa kekuasaan yang cukup.

Di deretan pemeran pendukung juga tak kalah apiknya. Ada Donny Alamsyah, Gessata Stella, Ingrid Widjanarko, Ella Hamid (yang pernah mencuri layar di Minggu Pagi di Victoria Park dan segmen Ella di Belkibolang), dan Dimas Hary (masih ingat segmen Hari Ini Aku Cantik di Sanubari Jakarta?). Penampilan sekilas dari Edward Gunawan, Rangga Djoned, dan Lukman Sardi turut membuat film menjadi lebih berwarna.

Technical

Sinematografi cantik yang menghasilkan tone warna bumi, penghias dunia masing-masing karakter yang memiliki kesuraman tersendiri. Tidak ada yang begitu istimewa dari segi permainan angle namun cukup mampu bercerita dengan efektif.

Tak ada kendala pula pada sound yang tetap memanfaatkan efek surround. Score yang menghiasi juga tak terlalu istimewa namun cukup mampu mengiringi adegan-adegan dalam membangkitkan empati penonton.

The Essence

Perburuhan adalah permasalahan yang susah untuk ditemukan ujung pangkalnya. Dari berbagai sudut/pihak menyimpan permasalahan tersendiri. K3T mengajak penonton untuk berpikir tidak hanya dari sudut pandang buruh, namun juga pengusaha serta dampak-dampaknya dalam skala yang lebih besar.

They who will enjoy this the most

  • Siapapun yang concern dengan permasalahan sosial, terutama perburuhan.
Lihat data film ini di Film Indonesia.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates