Monday, April 22, 2013

The Jose Movie Review
Java Heat


Overview

Conor Allyn (bersama sang ayah, Rob Allyn) adalah produser serta penulis naskah muda asal Australia yang pada 2009 lalu memproduksi film Indonesia Merah Putih beserta dua sekuelnya dimana ia juga menduduki kursi sutradara, Darah Garuda (2010) dan Hati Merdeka (2011). Harus diakui ketiganya memiliki adegan-adegan laga yang berani tampil di atas rata-rata (setidaknya sekelas Hollywood) ketika Indonesia kesulitan untuk menggarapnya terutama karena faktor budget, meski secara naskah masih sangat miskin dan banyak kekurangan di mana-mana. Ketiganya sempat menembus pasar internasional lewat home video yang beredar di beberapa negara, termasuk Jerman.

Di tahun 2013 ini, Conor Allyn bersama production house-nya, Margate House, kembali menggarap film action di Indonesia dengan melibatkan aktor-aktris terkenal serta kru Indonesia. Tak hanya itu, ia juga melebarkan sedikit sayapnya dengan berani menyewa aktor Hollywood Mickey Rourke dan Kellan Lutz untuk mengisi peran utama. Pasar Amerika Serikat pun dicoba untuk dimasuki, menyusul sukses The Raid di bioskop sana tahun lalu. Faktor Rourke dan Lutz sebenarnya menjadi pemulus jalan utama distribusi ke pasar Amerika Serikat.

Lantas apa yang ditawarkan Allyn lewat Java Heat (JH)? Jika pernah atau malah sering menyaksikan film-film laga kelas B yang melibatkan konspirasi anggota keluarga kerajaan, penculikan anggota keluarga kerajaan wanita bermotif harta, dan pengkhianatan, maka Anda akan cukup familiar dengan alur ceritanya. Ada sedikit variasi yang membuatnya menjadi sedikit lebih menarik, namun lagi-lagi Allyn belum mampu mengeksekusinya dalam bentuk visual dengan baik. Overall secara cerita, JH seperti film aksi tanpa nyawa, dengan karakteristik yang serba dangkal, gagal mengundang simpatik penontonnya, dan dialog-dialog yang tak kalah cheesy.

Oke, memang ada satu-dua dialog ringan yang cukup cerdas dan menggelitik, namun jumlahnya yang tak banyak tertutupi dan tak mampu menyelamatkan kualitas skrip keseluruhan sama sekali. Begitu pula sindiran-sindiran kepada banyak pihak, terutama pemerintah negara ini, Amerika Serikat, dan kepribadian bangsa ini yang sayang sekali harus lewat begitu saja tanpa kesan yang mendalam.

Untung saja kadar dan kualitas adegan-adegan aksinya cukup banyak dan memang bercita rasa Hollywood sehingga setidaknya JH tak sampai terlalu jatuh dalam jurang kebosanan. Masih sangat enjoyable dan cukup memicu adrenalin meski sesekali saya masih merasakan kekonyolan.

In the end, JH berhasil meng-capture keindahan aneka unsur budaya Jawa  secara atmosferik dan menyatu dalam adegan-adegannya, seperti keraton, pakaian adat, batik, tari-tarian, dokar, upacara adat, eksotisme wanita, dan bahkan watak kepribadian orang-orangnya. Setidaknya kita bisa berharap JH menjadi  pembuka jalan bagi budaya Indonesia lainnya untuk dilirik oleh dunia yang lebih luas dan dilibatkan dalam proyek-proyek film yang skalanya lebih besar dan dengan skrip yang jauh lebih baik.

The Casts

Mickey Rourke yang berkat perannya di The Wrestler mendapatkan gelar Award-winning actor, kali ini harus rela memerankan karakter yang berpotensi kharismatik, namun dengan kedalaman serta perkembangan karakter yang dangkal. Sungguh sangat disayangkan. Sementara Kellan Lutz masih cukup menarik perhatian di layar khususnya berkat adegan aksi yang porsinya paling banyak. Lebih menarik ketimbang perannya di The Twilight Saga.

Dari jajaran aktor dalam negeri, Ario Bayu masih memerankan karakter tipikal, seperti misalnya di Kala : Dead Time. Tetapi jangan salah, he’s really good at it with his charisma. Rio Dewanto, Atiqah Hasiholan, dan Mike Lucock mendapatkan porsi peran yang tak banyak meski (juga) berpotensi menarik. Yang justru berhasil mencuri perhatian meski porsinya sangat sedikit adalah Verdi Solaiman dan Ully Auliani. Sisanya seperti Astri Nurdin, Tio Pakusadewo, Frans Tumbuan, dan Rudy Wowor bisa dibilang pelengkap yang hanya dimanfaatkan popularitasnya semata.

Technical

Tidak ada cacat yang begitu terlihat dari segi teknis, terutama sound effect yang sudah setara film-film aksi Hollywood. Begitu pula visual effect yang tampil meyakinkan, kecuali adegan ledakan di Keraton.

Editingnya cukup efektif meski penggunaan multi-panel frame masih terasa kurang pas dari segi fungsional. Bahkan di adegan terakhir malah terkesan seperti film kelas B.

Terakhir, score yang ada bisa dibilang mampu mendukung adegan-adegan aksi yang cukup memompa adrenalin.

The Essence

Ah selalu ada konspirasi tersembunyi di balik setiap peristiwa yang melibatkan pemerintahan dan/atau aparat negara. Yang kita lihat di media cuma “pihak disalahkan yang harus ada”.

They who will enjoy this the most

Penonton yang menyukai film aksi tanpa banyak berpikir

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates