It

The Pennywise devilish clown is back to spread terror after 23 years.
Read more.

Petak Umpet Minako

Are you brave enough to play the deadly Hikori Kakurenbo, a life betting Hide-and-Seek game?
Read more.

Kingsman: The Golden Circle

Manners to maketh more men.
Opens Sept 20.

Gerbang Neraka

Reza Rahadian and Julie Estelle to investigate the scary myth about the Pyramid of Gunung Padang.
Opens Sept 20.

Pengabdi Setan

The 1980's classic horror is ready to come back to life by Joko Anwar.
Opens Sept 28.

Thursday, April 25, 2013

The Jose Movie Review
9 Summers 10 Autumns


 
Overview

Motivasi. Entah bagaimana mulanya kata itu bisa menjadi komoditas di negeri ini. Bisa jadi keadaan perekonomian kita yang tidak terlalu beranjak jauh beberapa tahun terakhir membuat masyarakat merasa perlu merubah pola pikir dan strategi demi kehidupan yang lebih baik. Sebenarnya motivasi memiliki arti yang luas dan teraplikasikan pada bidang apa saja. Namun yang paling menonjol saat ini adalah motivasi pengembangan diri yang ujung-ujungnya ke arah “kesuksesan secara finansial”. Tidak perlulah saya menyebut nama-nama motivator di negeri ini, nanti satu per satu berniat difilmkan pula. Yang mana tidak begitu perlu juga jika pada dasarnya tidak ada yang berbeda. Well, money talks. Selama setiap buku motivasi yang pada prinsipnya kurang lebih sama selalu menjadi best seller, kesempatan untuk diangkat ke layar lebar semakin besar pula. Tahun lalu kita punya Negeri 5 Menara (N5M) dan 5cm. yang meski secara penghasilan bisa dikatakan berhasil, juga “dipuji karena menginspirasi” bagi mayoritas penonton kita, namun tidak begitu saya sukai. N5M terlalu flat dan “mentah” dalam mengadaptasi buku motivasi ke bentuk film cerita. Ia seperti tak punya konflik yang berarti, hanya pesan-pesan yang terlalu pretensius. Sedangkan 5cm. menginspirasi dengan caranya yang tidak logis dan ajaib (baca: dadakan). Keduanya gagal “menginspirasi” saya.
Lantas tahun ini muncullah 9 Summers 10 Autumns (9S10A) yang juga diangkat dari novel motivasi atau cenderung ke arah biografi dari Iwan Setyawan, seorang anak sopir angkot di Kota Batu yang sukses menjadi consultant di New York. Ketika bukunya dirilis yang paling menarik perhatian saya adalah konsep “dari Kota Apel yang menaklukkan Big Apple” yang tak hanya sekedar analogi kebetulan namun berdasarkan fakta yang ada. Ketika filmnya hendak diangkat, saya tidak memiliki ekspektasi muluk-muluk untuknya karena anggapan sekilas bahwa ini akan menjadi just-another-N5M.
Rupanya saya meremehkan nama Ifa Isfansyah selaku sutradara dan Fajar Nugroho selaku penata skrip yang berhasil menghidupkan kisah 9S10A dengan sangat baik, indah, dekat dengan mayoritas masyarakat kita, dan dengan pendekatan penceritaan yang unik dan menarik. Secara garis besar, kita diajak mengikuti jejak Iwan Setyawan ketika telah menjejakkan kaki di New York. Sebuah refleksi diri terjadi pada dirinya yang membawa kita flashback ke masa kecil hingga kesuksesannya itu. Sebuah biografi bergulirlah.
Idealnya sebuah film memiliki satu saja  fokus cerita untuk disampaikan. Dengan durasi yang tergolong singkat, fokus cerita yang bercabang ke mana-mana terancam (dan memang seringkali demikian) merusak kenikmatan keselurahan film. Tentu saja maksud yang ingin disampaikan pun menjadi tidak mengena dan bias. 9S10A memilih untuk murni mengangkat sebuah biografi seorang Iwan Setyawan. Sama seperti sebuah kehidupan, ia memiliki berbagai aspek. Berpotensi untuk kehilangan fokus, namun ternyata skrip mampu membagi porsi masing-masing yang diletakkan bergantian, tidak tumpang-tindih, dan tetap memiliki konsistensi satu fokus dengan porsi paling besar yang mempengaruhi keseluruhan cerita, yakni berkaitan dengan karakteristik tokoh utama.
Anda tidak akan menemukan titik klimaks dari kisah hidup Iwan Setyawan meski konflik yang terjadi telah dimulai sejak awal film. Konflik karakteristik tokoh utama yang berseberangan dengan sang ayah (dan juga mayoritas masyarakat kita dengan budaya patriarki-nya yang aneh) diperlihatkan dalam berbagai adegan. Namun bukan berarti 9S10A jatuh menjadi film yang begitu membosankan. Ifa dan Fajar pandai merangkai tiap adegan menjadi sumber informasi tentang kepribadian Iwan. Apalagi kejadian-kejadian kecil (terutama potensi spin-off film biografi diva terkenal Indonesia itu :D) dan beberapa karakter yang sukses menjadi penghibur di berbagai kesempatan dengan kadar yang pas.
Sayang, 9S10A mengakhiri cerita dengan biasa saja. Seharusnya resolusi hubungan antara ayah-anak bisa terjalin dengan lebih hangat daripada yang tersaji di layar dimana terasa sekali kurang dalam tergali. Padahal itu menjadi fokus utama cerita. Belum lagi slogan seorang Iwan Setyawan yang berulang kali diucapkan menjelang akhir film. Menurut saya pribadi, cukup sekali diucapkan ketika di New York dimana menyatu sekali dengan dialog.
Anyway, overall 9S10A jauh lebih baik dari ekspektasi dan bayangan saya sebelum menyaksikannya. Sebuah adaptasi yang mampu bertransformasi menjadi film digarap detail di setiap aspeknya dan dengan pendekatan yang unik.

The Casts

Sebagai pengisi karakter utama, Ihsan Tarore (iya... Ihsan Idol itu) masih sering terasa kaku meski memiliki gesture yang (katanya sih) mirip Iwan Setyawan asli. Bahkan pemeran karakter Iwan kecil, Shafil Hamdi Nawara tampil jauh lebih baik. Lihat saja titik paling flat dan terasa seperti menghafal dialog pementasan drama Bahasa Inggris di sekolah : ketika Iwan berdialog dengan gadis bule bernama Sharon yang tak kalah kakunya.
Untung saja jajaran cast yang lain tampil sangat luar biasa, terutama Dewi Irawan (yang tidak perlu dipertanyakan lagi kualitasnya) dan Alex Komang. Di lini pemeran pendukung, penampilan Epy Kusnandar, Ria Irawan, dan Kayana Ayunda Dianti sebagai Rini kecil, berhasil mencuri layar meski porsinya sangat minim.
Tak ketinggalan kehadiran Dira Sugandi (iya, biduwan jazz itu) dan Agni Pratistha yang menarik bagi yang mengenalinya.

Technical

9S10A digarap dengan teknis yang sangat mumpuni di berbagai aspeknya. Mari kita mulai dari yang paling menonjol dan paling layak diapresiasi : detail art dan properti yang luar biasa. Kota Batu seolah disulap kembali ke tahun silam (70-90an) lengkap dengan adegan bioskop misbar (gerimis-bubar, semacam bioskop drive-in) Kelud yang susah dilupakan, terutama bagi moviegoers yang merindukan bioskop vintage). Begitu juga dengan New York awal 2000-an yang ditandai dengan berbagai poster film di stasiun kereta api bawah tanah dan billboard-billboard film di Madison Square Garden yang sesuai dengan tahunnya.
Dandanan dan kostum juga tak luput diperhatikan detailnya. Tata rambut 90-an ala Sahrul Gunawan di Jin dan Jun dan kostum ala Catatan Si Boy. Detail sekali!
Untuk tata kamera dan tone warna tak perlu diragukan lagi. Setiap momen ter-capture dengan sangat indah, mulai Kota Batu, Bogor, Jakarta, hingga New York. Score-nya menarik dan tidak monoton, menyatu dengan tiap adegan dengan pas. Divisi sound pun tak mengalami kendala sama sekali, tergarap dengan rapi dan baik. Dialog yang terdengar jelas, sound effect yang sesekali memanfaatkan fasilitas surround dengan baik.

The Essence

Di atas kertas 9S10A memang mengedepankan dukungan keluarga dalam kesuksesan seseorang. Banyak adegan memang menunjukkan hal tersebut. Namun hubungan antara ayah-anak dengan latar budaya patriarki ala masyarakat Indonesia yang unik menjadi hal yang menarik dan nampaknya memang dijadikan highlight oleh Ifa dan Fajar. Banyak sekali adegan dan unsur-unsur yang menyuarakan aspek tersebut.
Figur ayah yang menginginkan anaknya menjadi seorang laki-laki yang serba “cowok” di matanya : berani berkelahi, bermain sepak bola, memperbaiki mesin, adalah sebuah potret keluarga yang terjadi pada mayoritas masyarakat kita. Karakter Iwan yang cenderung sebaliknya seolah mempertanyakan figur anak laki-laki yang bagaimana yang diinginkan oleh seorang ayah. Apa makna menjadi “laki-laki” yang sebenarnya. Sebuah highlight yang masih jarang diangkat di sinema kita dan ini menarik. Tak sampai mendobrak budaya patriarki, cukup mempertanyakannya, sama seperti film-film Ifa lainnya yang lebih banyak bertanya kepada penonton daripada memberikan jawaban.

They who will enjoy this the most

General audiences, terutama orang tua dan anak-anaknya.
 Lihat data film ini di Film Indonesia
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, April 22, 2013

The Jose Movie Review
Java Heat


Overview

Conor Allyn (bersama sang ayah, Rob Allyn) adalah produser serta penulis naskah muda asal Australia yang pada 2009 lalu memproduksi film Indonesia Merah Putih beserta dua sekuelnya dimana ia juga menduduki kursi sutradara, Darah Garuda (2010) dan Hati Merdeka (2011). Harus diakui ketiganya memiliki adegan-adegan laga yang berani tampil di atas rata-rata (setidaknya sekelas Hollywood) ketika Indonesia kesulitan untuk menggarapnya terutama karena faktor budget, meski secara naskah masih sangat miskin dan banyak kekurangan di mana-mana. Ketiganya sempat menembus pasar internasional lewat home video yang beredar di beberapa negara, termasuk Jerman.

Di tahun 2013 ini, Conor Allyn bersama production house-nya, Margate House, kembali menggarap film action di Indonesia dengan melibatkan aktor-aktris terkenal serta kru Indonesia. Tak hanya itu, ia juga melebarkan sedikit sayapnya dengan berani menyewa aktor Hollywood Mickey Rourke dan Kellan Lutz untuk mengisi peran utama. Pasar Amerika Serikat pun dicoba untuk dimasuki, menyusul sukses The Raid di bioskop sana tahun lalu. Faktor Rourke dan Lutz sebenarnya menjadi pemulus jalan utama distribusi ke pasar Amerika Serikat.

Lantas apa yang ditawarkan Allyn lewat Java Heat (JH)? Jika pernah atau malah sering menyaksikan film-film laga kelas B yang melibatkan konspirasi anggota keluarga kerajaan, penculikan anggota keluarga kerajaan wanita bermotif harta, dan pengkhianatan, maka Anda akan cukup familiar dengan alur ceritanya. Ada sedikit variasi yang membuatnya menjadi sedikit lebih menarik, namun lagi-lagi Allyn belum mampu mengeksekusinya dalam bentuk visual dengan baik. Overall secara cerita, JH seperti film aksi tanpa nyawa, dengan karakteristik yang serba dangkal, gagal mengundang simpatik penontonnya, dan dialog-dialog yang tak kalah cheesy.

Oke, memang ada satu-dua dialog ringan yang cukup cerdas dan menggelitik, namun jumlahnya yang tak banyak tertutupi dan tak mampu menyelamatkan kualitas skrip keseluruhan sama sekali. Begitu pula sindiran-sindiran kepada banyak pihak, terutama pemerintah negara ini, Amerika Serikat, dan kepribadian bangsa ini yang sayang sekali harus lewat begitu saja tanpa kesan yang mendalam.

Untung saja kadar dan kualitas adegan-adegan aksinya cukup banyak dan memang bercita rasa Hollywood sehingga setidaknya JH tak sampai terlalu jatuh dalam jurang kebosanan. Masih sangat enjoyable dan cukup memicu adrenalin meski sesekali saya masih merasakan kekonyolan.

In the end, JH berhasil meng-capture keindahan aneka unsur budaya Jawa  secara atmosferik dan menyatu dalam adegan-adegannya, seperti keraton, pakaian adat, batik, tari-tarian, dokar, upacara adat, eksotisme wanita, dan bahkan watak kepribadian orang-orangnya. Setidaknya kita bisa berharap JH menjadi  pembuka jalan bagi budaya Indonesia lainnya untuk dilirik oleh dunia yang lebih luas dan dilibatkan dalam proyek-proyek film yang skalanya lebih besar dan dengan skrip yang jauh lebih baik.

The Casts

Mickey Rourke yang berkat perannya di The Wrestler mendapatkan gelar Award-winning actor, kali ini harus rela memerankan karakter yang berpotensi kharismatik, namun dengan kedalaman serta perkembangan karakter yang dangkal. Sungguh sangat disayangkan. Sementara Kellan Lutz masih cukup menarik perhatian di layar khususnya berkat adegan aksi yang porsinya paling banyak. Lebih menarik ketimbang perannya di The Twilight Saga.

Dari jajaran aktor dalam negeri, Ario Bayu masih memerankan karakter tipikal, seperti misalnya di Kala : Dead Time. Tetapi jangan salah, he’s really good at it with his charisma. Rio Dewanto, Atiqah Hasiholan, dan Mike Lucock mendapatkan porsi peran yang tak banyak meski (juga) berpotensi menarik. Yang justru berhasil mencuri perhatian meski porsinya sangat sedikit adalah Verdi Solaiman dan Ully Auliani. Sisanya seperti Astri Nurdin, Tio Pakusadewo, Frans Tumbuan, dan Rudy Wowor bisa dibilang pelengkap yang hanya dimanfaatkan popularitasnya semata.

Technical

Tidak ada cacat yang begitu terlihat dari segi teknis, terutama sound effect yang sudah setara film-film aksi Hollywood. Begitu pula visual effect yang tampil meyakinkan, kecuali adegan ledakan di Keraton.

Editingnya cukup efektif meski penggunaan multi-panel frame masih terasa kurang pas dari segi fungsional. Bahkan di adegan terakhir malah terkesan seperti film kelas B.

Terakhir, score yang ada bisa dibilang mampu mendukung adegan-adegan aksi yang cukup memompa adrenalin.

The Essence

Ah selalu ada konspirasi tersembunyi di balik setiap peristiwa yang melibatkan pemerintahan dan/atau aparat negara. Yang kita lihat di media cuma “pihak disalahkan yang harus ada”.

They who will enjoy this the most

Penonton yang menyukai film aksi tanpa banyak berpikir

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, April 19, 2013

The Jose Movie Review
Sinister


Overview

Formula dalam film horor biasanya sudah cukup standard : nuansa creepy atau adegan kejut yang ditebar di banyak bagian. Suasana creepy yang dibangun memiliki efek yang berbeda-beda pada penonton. Bisa jadi berhasil atau bisa juga biasa saja. Dari sejauh tertangkap mata, Sinister memanglah sebuah horor yang mencoba membangun nuansa creepy melalui rekaman-rekaman video ganjil. Saya pun yang biasanya susah terpengaruh oleh film horor dapat merasakannya dengan sangat kuat. Apalagi sentuhan score dan suara-suara aneh yang semakin mendukung suasana creepy, misterius, dan mistis dari adegan demi adegan yang ditampilkan.

Namun apa yang tersaji di depan mata rupanya belum apa-apa dibandingkan efek psikologis yang dirasakan penonton (well, at least saya) dari bangunan-bangunan nuansa creepy yang ada. Sinister adalah film horor yang mampu menghantui, membuat depresi, dan tidak nyaman bagi saya sepanjang durasi. Persis seperti yang dirasakan oleh karakter utama kita, Ellison Oswalt, yang berprofesi sebagai penulis novel misteri.

Tidak perlu naskah brilian dan original namun alur cerita yang disajikan berhasil memancing rasa penasaran dan turut mengajak saya menganalisis video-video rekaman ganjil yang dikirimkan kepada Ellison secara misterius pula. Semakin lama semakin mencekam. Sayang, ia lebih menggunakan penjelaskan bagaimana proses bekerja si karakter misterius dengan ending yang semakin bikin depresi dan menghantui. Sebuah ending yang mungkin bagi banyak penonton tidak memuaskan, namun sukses menyempurnakan perasaan depresi dan terhantui yang telah dibangun sejak awal dalam benak penonton. And that’s the way it works very well as a horror.

The Casts

Secara keseluruhan sebenarnya tidak ada satupun aktor yang tampil menonjol di sini karena memang tidak membutuhkannya. Aktor manapun bisa mengisi peran siapapun di sini. Namun Ethan Hawke terasa cukup pas mengisi peran utama. Tak heran di proyek selanjutnya dari produser Jason Blum-Jeanette Brill-Gerard DiNardi, The Purge ia kembali mengisi peran utama dengan karakteristik yang tampaknya tidak jauh berbeda. 

Aktris yang tampak paling menonjol adalah si cilik Clare Foley yang berperan sebagai Ashley, putri Ellison. Bagi Anda yang rajin menyaksikan film horror Hollywood, mungkin sudah tidak heran jika aktor/aktris yang paling menonjol justru anak-anak.

Technical

Seperti yang sudah saya sampaikan di Overview, Sinister adalah horor yang berhasil berkat dukungan score dan audio effect, selain tentu saja art directing terutama pada footage-footage film yang ditemukan Ellison secara misterius.  Adegan pembuka sudah menguatkan nuansa creepy ini.

The Essence

Ah sudahlah pasrah saja jika sudah terlanjur basah. Hahaha…

They who will enjoy this the most

  • Fans horror yang menyukai nuansa-nuansa creepy sebagai pembangun kengerian dan ketegangan
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, April 14, 2013

The Jose Movie Review
Finding Srimulat


Overview

Dunia hiburan Indonesia sempat disemarakkan oleh kehadiran grup-grup lawak legendaris. Sebut saja yang paling terkenal Warkop DKI, Bagito, dan di atas segalanya, Srimulat. Sayang seiring dengan tren humor yang mulai beralih ke parodi seperti Padhyangan atau formasi terbarunya Project Pop, dan tren terkini berupa stand-up comedy, grup-grup lawak yang mengandalkan guyonan slapstick dan plesetan kata-kata perlahan mulai menghilang, tergantikan oleh humor-humor jorok dan/atau cerdas yang belakangan sedang tren. Padahal kesuksesan acara TV OVJ menjadikan bukti bahwa tayangan lawak ala wayang orang ala Srimulat sebenarnya masih bisa eksis hingga saat ini, apalagi nama Srimulat sudah menjadi legenda dan bagian dari budaya Indonesia.

Memang saya belum pernah menyaksikan pergelaran panggung Srimulat secara langsung yang dulu pernah rutin digelar di THR Surabaya, namun saya mengenal Srimulat dan menjadi penonton setia ketika salah satu stasiun televisi nasional kita membawa pergelaran ini ke layar kaca. Tiap kamis malam, sudah bisa dipastikan saya beserta seluruh anggota keluarga berkumpul di satu kamar untuk bersama-sama tertawa terbahak-bahak menyaksikan tingkah laku khas karakter-karakter dan jargon-jargon memorable-nya yang menggelitik.

Charles Gozali, generasi ketiga dari Garuda Film yang pernah berjaya di era 90an berkat serial lagi seperti Jacky, Jacklyn dan Buce Li, melalui MagMA Entertainment mencoba mengangkat lagi idola masa kecilnya itu ke layar lebar melalui sebuah film bertema reuni. Tak hanya mentah-mentah memindahkan pergelaran panggung Srimulat ke layar lebar, namun ia membungkusnya dalam sebuah drama yang seolah-olah terjadi sungguhan.

Guyonan-guyonan khas Srimulat, baik berupa tingkah laku slapstick maupun dialog-dialog plesetan yang sudah pasti dihafal luar kepala oleh para fansnya, diusung kembali oleh karakter-karakter khas seperti Ibu Jujuk, Mamiek, Gogon, Kadir, dan tentu saja Tessy. Tentu saja ada humor-humor baru yang masih setipe dengan lawakan klasik mereka. Semuanya terangkai dalam sebuah sajian drama yang tak hanya mempertemukan kembali semua personel Srimulat yang kini memiliki jalan hidup yang berbeda-beda, namun juga menginspirasi melalui karakter pemersatu yang mewujudkan mimpinya.

Tak ketinggalan Finding Srimulat (FS) turut mengupas sejarah Srimulat pertama kali hingga tribute anggota-anggota Srimulat yang telah meninggal dunia tanpa ada satu pun yang ketinggalan. Menjadikan FS adalah sebuah tribute komplit. Tak hanya itu, sesuai judulnya FS seolah menjadi titik awal menemukan kembali Srimulat ke dunia modern dalam format media apapun.

Memang ada banyak bagian yang saya rasa masih bisa lebih dimaksimalkan dengan guyonan-guyonan yang lebih banyak dan lebih lucu. Namun apa yang tersaji di layar sudah memberikan takaran yang pas antara komedi dan dramanya. Antara yang bikin terharu maupun yang bikin terhura. Tak heran jika Anda yang besar dengan Srimulat akan tertawa sambil menitikkan air mata haru ketika menyaksikannya, bahkan sejak adegan pembuka yang jelas-jelas menggugah kenangan masa kecil moviegoers di mana saja.

Semoga saja FS menjadi perintis kisah-kisah Srimulat yang menurut saya masih berpotensi untuk digali lebih dalam dan luas. Siapa tahu tren komedi seperti ini bisa booming lagi dan menghadirkan karakter-karakter legendaris lain maupun karakter-karakter baru ke depannya. Jika saja ada banyak pemuda seperti Adika Fajar di Indonesia, sudah barang pasti kebudayaan asli kita akan terus bertahan dan beradapatasi di dunia modern.

The Casts

Semua cast asli Srimulat yang muncul di sini kembali membawakan karakter-karakter khas-nya. Namun ternyata tak hanya melawak, Gogon, Mamiek, Kadir, dan Tessy (Kabul) pun ternyata bisa berakting drama yang menyentuh tanpa terkesan berlebihan.

Reza Rahadian kembali membuktikan kepiawaian aktingnya setelah ribuan pujian atas penampilannya sebagai B.J. Habibie. Perkembangan karakter yang paling menonjol sepanjang durasi berhasil ditampilkan dengan meyakinkan olehnya. Sementara tak ada yang benar-benar istimewa dari penampilan Rianti Cartwright yang memang tak diberi banyak porsi namun tampil cukup memuaskan.

Nadila Ernesta mampu sedikit mencuri layar berkat penampilannya yang tak banyak namun cukup mengesankan. Sementara Fauzi Baadilla memainkan karakter yang tak beda jauh dari biasanya. Gestur dan aksennya seolah masih tersisa dari perannya di RectoVerso.

Deretan cameo seperti Butet Kartaredjasa, Ray Sahetapy, Nungki Kusumastuti, dan bahkan Jokowi turut meramaikan serta mewarnai suasana yang terbukti berhasil.

Technical

Sinematografi yang cantik menjadi nilai plus tersendiri. Ia berhasil menggabungkan nuansa klasik dan tradisional Solo dengan elemen-elemen modern seperti flashmob yang masih sangat khas Srimulat. Original score Srimulat yang juga sudah sangat khas itu pun digubah dengan aransemen yang lebih segar. Belum lagi Lenggang Puspita karya Guruh Soekarno Putra dan dibawakan oleh Ahmad Albar yang juga diremix oleh DJ Winky & Mahesa. Menjadikan nuansa haru dan hura menjadi tepat sasaran dan termanfaatkan secara maksimal.

Editing yang cukup unik dan berkali-kali dialog yang diletakkan antar dua adegan yang berbeda memberikan kesegaran tersendiri meski masih belum benar-benar pas peletakannya. Yang paling disayangkan adalah satu adegan yang jelas-jelas out of sync antara gambar (gerak bibir) dan audio-nya. Meski hanya terjadi pada satu adegan dengan durasi beberapa menit namun bagi saya ini sangat disayangkan.

The Essence

Kecintaan kita terhadap sesuatu pasti membuahkan hasil jika dikerjakan dengan hati dan kegigihan. Terwujudnya film Finding Srimulat ini sendiri salah satu buktinya.

They who will enjoy this the most

  • True Srimulat fans
  • General audience yang terbuka terhadap humor-humor slapstick dan plesetan bahasa khas Srimulat

Lihat situs resmi film ini. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Cloud Atlas


Overview

Jangan salah mengartikan titel di banner atas. Cloud Atlas (CA) bukanlah adaptasi Bible atau Injil terbaru ke media audio-visual. Dalam kamus Bahasa Inggris, arti kata “bible” tidak selalu “Injil”. Dalam arti yang lebih luas, “bible” bisa berarti kitab suci, apapun agamanya. Dan istilah “injil” di sini saya gunakan untuk menggambarkan CA yang menurut saya pas sekali mewakili berbagai aspek kehidupan manusia, seperti layaknya sebuah kitab suci, tanpa membawa embel-embel agama tertentu. Well, jika mau ditelaah lebih lanjut, sebenarnya Buddhism adalah ajaran agama yang paling mendekati yang tergambar dalam film meski tidak disebut secara eksplisit.

Adalah proyek ambisius dari Wachowski Bersaudara yang pernah mencatatkan sejarah perfilman lewat trilogi The Matrix, Andy dan Lana (dulunya bernama Larry sebelum operasi transeksual), bersama-sama dengan Tom Tykwer (sutradara Run Lola Run dan Perfume : The Story of a Murderer), berdasarkan novel yang ditulis oleh David Mitchell. Resepsinya di US cukup beragam. Ada banyak kritikus yang tidak menyukainya namun tidak sedikit pula yang menganggapnya sebagai sebuah masterpiece sinema. Bagi saya, CA adalah tipikal film yang akan Anda cintai setengah mati atau benci setengah mati, tergantung bagaimana pemahaman Anda akan ceritanya.

Secara garis besar CA membawa kita ke enam cerita dengan setting era yang berbeda-beda. Mulai 1849 di Samudra Pasifik, 1936 di Belgia, 1973 di California, 2012 di Inggris, 2144 di Neo Seoul (penggambaran kota Seoul di masa depan), dan 2321 di sebuah planet di luar bumi masa post-apocalypse. Keenamnya dituturkan secara inter-woven dimana adegan-adegan dari masa yang berbeda ditampilkan secara bergantian, bukan tamat satu segmen baru disambung segmen berikutnya. Yang menarik adalah kepiawaian editor dalam menggabungkan aneka adegan kejadian dari masa yang berbeda menjadi satu kesatuan peristiwa dengan emosi yang berkesinambungan. Ini tak mudah mengingat tiap segmen bisa memiliki pola alur cerita yang berbeda-beda. Namun editor Alexander Brener mampu melakukannya dengan sangat baik sehingga mood CA bisa terjaga sepanjang durasinya yang nyaris tiga jam.

Uniknya lagi, tiap segmen menyajikan genre yang berbeda-beda, mulai kisah cinta romantis sesama jenis, drama kemanusiaan, thriller konspirasi, komedi satir, drama sci-fi, hingga action gore. Semuanya terangkai menjadi satu sajian yang menggelitik, menyentuh, seru, dan menegangkan dengan kadar yang sama rata dan pas.

Kunci utama menikmati sajian unik CA adalah nikmati saja, jangan banyak bertanya-tanya di menit-menit awal. Seiring dengan berjalannya durasi, Anda akan dengan mudah memahami maksud dari semuanya. Untuk itulah alur CA dibuat se-menghibur mungkin dan pada akhirnya dijelaskan dengan cukup eksplisit agar dengan mudah dicerna oleh segmen penonton yang lebih luas. Setelah itu, mungkin Anda akan berpikir seperti saya, penasaran untuk mengaitkan semua segmen yang ada, termasuk kemungkinan karakter-karakter yang mengalami “reinkarnasi” beserta “karma-karma” dari kehidupan sebelumnya. Menebak-nebak aktor dan aktris yang bakal memerankan jadi apa di tiap segmen pun juga bisa menjadi keasyikan tersendiri. Untuk itu dipakai aktor-aktris yang sudah punya nama di Hollywood bukan?

The Casts

Sulit untuk menjelaskan bagian ini karena nyaris semua aktor utamanya berperan dengan sangat baik, terutama karena masing-masing memerankan karakter yang berbeda di tiap segmennya. Mulai Tom Hanks, Halle Berry, Ben Whisaw, Jim Broadbent, Hugo Weaving, Jim Sturgess, Hugh Grant, Doona Bae, hingga James D’Arcy masing-masing memerankan banyak karakter yang tak hanya lintas gender, namun juga lintas rasial. Luar biasa!

Technical

Visual effect dan make-up menjadi aspek yang paling penting dan paling ditonjolkan di sini. Bisa jadi malah divisi yang paling banyak menghabiskan budget. Tetapi semuanya serasa terbayarkan setelah menyaksikan hasil akhirnya yang luar biasa. Terutama sekali tampilan Neo Seoul yang indah namun “mengerikan”, Belgia tahun 1936 dengan detail properti dan kostum yang mengagumkan, hingga setting planet lain post-apocalypse yang menjadi kunci penyatu semua kejadian di masa lalu, semuanya tergarap sempurna.

Di samping tentu saja peran editing yang juga sangat krusial dalam men-deliver hasil akhir yang ternyata jauh lebih mudah dicerna dan jauh lebih menghibur dari yang saya perkirakan.

The Essence

Kesimpulan akhirnya bisa berbeda-beda tiap penonton, tergantung point of view masing-masing. Bisa jadi Anda menemukan koneksi garis reinkarnasi dan karma-karma dari tiap segmen. Mungkin juga Anda menemukan banyak sekali aspek humanis di sini.

Saya sendiri menemukan bagaimana kejadian-kejadian yang terjadi dalam kehidupan manusia bisa menginspirasi untuk menjadi sebuah ajaran religius tersendiri, bagaimana kejadian di masa lalu atau masa kini sekecil apapun mampu saling mempengarahui, termasuk karya tulis, musik, maupun film. Bagaimana pula manusia selalu punya insting untuk bertahan hidup dan mencari kebebasannya.  Mungkin saja Anda bisa menemukan lebih banyak lagi. Itulah mengapa saya memberi label “bible” untuk CA. It told a lot more than it appeared in the surface. Asyik untuk ditonton berulang-ulang. Siapa tahu Anda bisa menemukan hal-hal baru di tiap sesinya.

They who will enjoy this the most

  • Open-minded audiences
  • Pecinta sci-fi
  • Penikmat film dengan nilai filosofis

Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, April 4, 2013

The Jose Movie Review
Stoker


Overview

Semula saya tidak pernah tahu film tentang apa Stoker itu dan saya berusaha untuk tidak mau tahu. Poster yang sangat artistik dan nama sutradara Korea legendaris Chan-wook Park (yang terkenal berkat karya fenomenalnya Oldboy/Oldeuboi, I’m a Cyborg but That’s Ok, dan Thirst) di film berbahasa Inggris pertamanya, Ysudah cukup mengundang rasa penasaran saya tanpa harus tahu bagaimana premis dan alur ceritanya. Bahkan fantasi liar saya sempat beranggapan bahwa ini adalah biografi dari penulis kisah klasik Dracula, Bram Stoker. Tak salah melihat nuansa yang diusung posternya. Namun tentu saja that’s only a joke from my silly mind.
Ternyata ketidaktahuan saya ada untungnya juga. Sejak opening credit saya sudah dibuat terpukau oleh editing yang “tak wajar” itu. Apalagi credit yang dibuat berinteraksi dengan adegan adalah favorit saya. Narasi tentang perkenalan tokoh utama kita, India, dan pemikirannya tentang kedewasaan membuat saya kegirangan. Ini menarik, begitu pikir saya. Dan iya, memang adegan demi adegan yang ditampilkan kemudian secara perlahan semakin membuat saya penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi dan lebih penting lagi, apa yang akan terjadi berikutnya.
Secara garis besar jika Anda sudah sampai pada konklusi cerita, mungkin Anda akan menemukan bahwa Stoker tidak memiliki premis yang benar-benar baru maupun original. Cerita seperti ini sudah berkali-kali diangkat. Namun bagaimana ia menyusun storyline sejak awal hingga revealing dan ending, itulah bagian yang paling menarik perhatian saya. Apalagi alur cerita ala Alfred Hitchcock seperti ini sudah jarang digunakan akhir-akhir ini.
Agak mengejutkan juga ketika mendapati bahwa penulis naskahnya adalah Wentworth Miller yang selama ini kita kenal lewat serial Prison Break. Lumayan juga bakat menulisnya selain sebagai aktor mediocre. Dibantu oleh co-writer Erin Cressida Wilson yang juga pernah menulis naskah-naskah tak kalah nyentriknya, seperti Fur : An Imaginary Portrait of Diane Arbus yang juga dibintangi Nicole Kidman, dan Chloe. Tak heran dengan hasilnya yang cukup appealing untuk membungkus premis yang biasa. Chan-wook Park pun berhasil memoles naskah tersebut menjadi suatu karya audio visual yang sangat indah dan bercita rasa unik. Sayang untuk dilewatkan begitu saja di layar lebar.

The Casts

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika India tidak diperankan oleh Mia Wasikowska dan ibunya, Evelyn, tidak diperankan oleh Nicole Kidman. Keduanya sangat luar biasa dalam menghidupkan karakter masing-masing. Tidak ada aktris yang lebih pas memerankan keduanya. Meski porsi karakter Evelyn seharusnya bisa lebih digali lagi namun performa Nicole Kidman sudah memberikan kesan yang cukup besar sepanjang film.
Pujian juga layak disematkan kepada Matthew Goode yang berhasil mengeluarkan kharisma misteriusnya secara maksimal. Gesture, senyum, dan artikulasinya creepy! Sekedar iseng, ada satu adegan yang meyakinkan saya bahwa Goode cocok memerankan Dr. Hannibal Lecter muda.

Technical

Teknis memegang peranan yang paling penting dalam kesuksesan Stoker sebagai sebuah karya audio visual. Saya mulai dengan editingnya yang paling menonjol. Editor Nicolas de Toth (Terminator 3, Live Free or Die Hard, dan X-Men Origins : Wolverine) mengeluarkan berbagai teknik dan mencampurnya menjadi film utuh yang menarik. Tak hanya opening title yang menyatu dengan adegan, tetapi juga berlaku untuk transisi adegan dan penempatan flash-back yang efektif. Semuanya tersusun dengan rapi dan indah.
Tak hanya sendiri, Park memboyong beberapa kru dari Korea Selatan untuk bekerja sama. Terutama sekali penata kamera Chung-hoon Chung yang menjadi langganan Park. Selain angle-angle standard yang cantik, Chung juga berani sering mengambil angle yang unik, misalnya shot dari garis kuning jalan raya yang tampak out of focus di opening title dan berkali-kali angle tak simetris untuk close up shot karakter.
Untuk desain produksi, art, kostum, dan dekorasi set, tidak perlu diragukan lagi. Dari poster dan trailernya saja sudah sangat mencolok. Luar biasa indahnya bak lukisan.
Aspek teknis yang juga mencuri perhatian saya adalah sound effect yang begitu detail. Masih terngiang di telinga saya bagaimana suara India menggesekkan telur di meja, suara derit lantai kayu ketika diinjak, atau efek surround ketika India menggoyang lampu gantung. Luar biasa detail dan memberikan efek emosi tersendiri kepada penonton.

The Essence

“You need to do something bad to stop you from doing something worse.” Enough explained.

They who will enjoy this the most

  • Artistic movie buffs
  • Thriller fans
  • Chan-wook Park’s works fans
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates