Friday, March 29, 2013

The Jose Movie Review
Madre


Overview

Setelah Perahu Kertas 1-2 dan RectoVerso, inilah karya tulis Dewi Lestari yang diangkat ke layar lebar. Kali ini bukanlah dari sebuah novel panjang maupun novelete yang diangkat menjadi omnibus, tetapi sebuah novelete yang diangkat  menjadi satu cerita film panjang. Saya sendiri sudah membaca versi novelete-nya dan sangat jatuh cinta pada ceritanya. Sampai-sampai saya sudah punya proyeksi sendiri seperti apa jika kelak dibuat filmnya. Doa saya pun terkabul. Tak butuh waktu lama menantikan Madre diangkat ke layar lebar.
Sebagai pembaca sekaligus pecinta bukunya, ekspektasi yang cukup tinggi wajar hinggap dalam benak saya. Bahkan ketika trailernya keluar, kekhawatiran saya justru semakin besar. Banyak hal yang tak sesuai dengan bayangan saya. Baiklah, mari menurunkan ekspektasi dan enjoy the movie, as if I have never read the book.
Secara garis besar, tak banyak perbedaan yang dilakukan Benni Setiawan selaku sutradara sekaligus penulis naskahnya. Secara nafas sama persis. Mungkin ada penambahan terutama porsi unsur romance antara karakter utamanya, Tansen dan Meilan. Bisa dimaklumi dengan alasan daya tarik penonton yang lebih luas. Saya pun tak ada masalah selama memperkaya ceritanya. Namun persoalan sebenarnya bukan di situ. Sebagai sebuah adaptasi, terasa sekali Benni Setiawan menuliskan naskah yang mentah-mentah dari materi aslinya.
Pada dasarnya, Madre adalah cerita tentang pilihan hidup yang dikemas dalam dunia bakery. Dunia yang diangkat dengan amat sangat menarik, lebih menarik ketimbang esensi utamanya. Bayangkan cerita seluk-beluk dunia bakery lengkap dengan unsur adonan biang (tonton film atau baca bukunya jika penasaran apa itu adonan biang). Mungkin Benni cukup berhasil memvisualisasikan aura vintage dan kenikmatan roti klasik dengan sangat indah, namun dalam hal mengikat premise dunia bakery dengan esensi pilihan hidup dan juga unsur romance-nya masih jauh dari berhasil. Alhasil ketiganya menjadi unsur yang berdiri sendiri-sendiri, alih-alih menjadi kesatuan yang solid. Berbeda ketika membaca versi novelet dimana saya dapat dengan mudah menangkap esensi pilihan hidupnya sembari membayangkan kenikmatan roti Tan de Baker. Kedominan kisah romance turut menenggelamkan esensi pilihan hidup yang menjadi terkesan tempelan saja. Sayang sekali.
Timing menjadi nilai minus lain dari Madre. Terutama sekali di awal hingga pertengahan, pace terkesan terlalu cepat dan terburu-buru. Kurang enak untuk dinikmati. Menjelang akhir pace-nya menjadi pas. Sayang, di bagian paling akhir (menjelang credit) timing yang kedodoran kembali terjadi yang menjadikannya terasa kasar dan kurang rapi.
Selain dari itu, Madre masih menjadi tontonan hiburan yang menarik. Penambahan humor-humor cukup berhasil menyegarkan suasana berkat pemilihan aktor-aktris yang pas. Romance yang terjalin antara Tansen-Meilan pun terjalin dengan wajar dan manis.

The Casts

Vino G. Bastian masih menjadi diri sendiri, tak beda dengan peran-peran yang pernah dimainkan sebelumnya. Tak buruk memang. Mungkin gambaran karakter Tansen sendiri sedikit banyak mirip dengan Vino. Namun karena saya sudah sering melihat aktingnya, penampilan di sini pun menjadi tak terlalu istimewa. Guyonan-guyonan yang berusaha dilontarkannya banyak yang berhasil namun tak jarang pula gagal dan berubah menjadi garing. Laura Basuki pun tak beda jauh dengan pembawaan peran-peran tipikal sebelumnya.
Pemberi nafas utama di sini justru penampilan Didi Petet dan Titi Qadarsih. Keduanya memberikan kesegaran yang paling kuat sepanjang film berkat permainan aksen Sunda dan Belanda serta gestur. Sayang sekali karakter-karakter pendukung yang bekerja di Tan de Baker tidak diisi oleh aktor-aktris yang sama uniknya. Seandainya saja, misalnya Mpok Nori atai Mpok Atik turut mengisi lini ini, Madre akan menjadi jauh lebih menyegarkan.

Technical

Nuansa vintage divisualisasikan dengan sempurna oleh tim artistik. Interior toko Tan de Baker serta eksterior pedestrian tersusun dengan sangat indah. Kesemuanya tertangkap dengan begitu estetis dan sinematik oleh tata kameranya.
Score dan soundtrack ala le franรงais turut pula membangun nuansa klasik dengan apik. Sayang pemilihan lagu tema Jodoh Pasti Bertemu dari Afgan menjatuhkan nuansa klasiknya menjadi ala sinetron atau FTV.

The Essence

Selalu ada suatu kejadian tak terduga yang menghadapkan kita pada pilihan yang dapat mengubah hidup secara drastis dan membawa keseimbangan.

They who will enjoy this the most

  • Romance enthusiasts
  • Culinary lovers, especially bakery
  • General audiences
Lihat data film ini di Film Indonesia. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates