Tuesday, February 19, 2013

The Jose Movie Review
RectoVerso

Overview
Dewi Lestari (atau dikenal dengan nama pena Dee) nampaknya sedang memanen kerja kerasnya menulis novel dan cerpen selama ini dimana satu demi satu karyanya diangkat ke layar lebar setahun belakangan ini. Baru saja menuai sukses Perahu Kertas yang sampai dipecah menjadi dua bagian, kini giliran novelet RectoVerso, dan siap rilis Maret mendatang, Madre. Tentu saja ini tak lepas dari kualitas sastra populer yang ditulisnya sangat menonjol dibanding penulis-penulis lokal lain serta trend film yang diangkat dari novel best-seller.

RectoVerso merupakan omnibus interwoven, omnibus dimana semua segmennya menyatu seolah-olah satu kesatuan cerita yang ditampilkan saling bergantian hingga mencapai klimaksnya bersama-sama. Contohnya Dilema, Kuldesak, Love, Valentine’s Day, New Year’s Eve, dan Love Actually. Sebenarnya ada keuntungan dan kerugian tersendiri menggunakan teknik seperti ini jika tidak ditangani (terutama diedit) dengan hati-hati. Keuntungannya, kualitas per segmen mampu tampak lebih merata karena saling menutupi. Emosi penonton pun bisa ter-manage dengan lebih baik ketimbang harus menetralkan kembali setelah mencapai klimaks di akhir segmen sebelumnya. Namun kerugiannya jika tidak diedit dengan baik, penonton bisa merasa bingung dengan cukup banyaknya kisah yang diceritakan terpenggal-penggal.


Untungnya RectoVerso (RV) menggaet editor Cesa David Luckmansyah yang sudah tak perlu diragukan lagi kehandalan dalam merangkai adegan. Alhasil RV tampil sebagai omnibus yang tak hanya nyaman diikuti namun juga berhasil membangun emosi tiap segmennya dengan sangat baik dan menyatu sempurna. Ada satu segmen yang sebenarnya melibatkan rentang waktu yang cukup panjang, yakni Cicak di Dinding, yang menjadi agak membingungkan dan pada akhirnya mempengaruhi penokohan salah satu karakter kuncinya, Saras (diperankan oleh Sophia Latjuba). Tetapi dengan segala kompensasi positifnya, bagi saya hal ini masih bisa ditolerir.


Ada lima segmen yang diangkat dari 11 kisah dari bukunya, yakni Malaikat Juga Tahu, Curhat buat Sahabat, Firasat, Hanya Isyarat, dan Cicak di Dinding dimana kesemuanya mengisyaratkan satu benang merah : cinta yang tak terucap. Kelimanya digarap oleh sutradara-sutradara wanita muda yang selama ini kita kenal di depan layar, ada Marcella Zallianty, Rachel Maryam, Olga Lidya, Cathy Sharon, dan Happy Salma. Siapa sangka rupanya mereka berlima punya bakat yang cukup besar dalam mengarahkan adegan, terlepas dari materi dasar cerita yang memang sudah bagus.


Tiap segmen yang ditampilkan memang sengaja tidak memberikan konklusi jelas, sehingga mungkin akan membuat penonton yang lebih menyukai ending jelas-sejelas-jelas-nya agak kecewa. Namun di situlah makna dari RV. Ia tidak berusaha memberikan jawaban atau mengarahkan penonton. Ia lebih mengajak untuk merasakan apa yang dirasakan para karakternya sekaligus kembali mempertanyakan makna dari tiap segmen kepada penonton. Jadi yang menjadi pertanyaan sebenarnya bukan segmen yang mana yang paling bagus, tetapi segmen mana yang paling mengena bagi penonton sesuai dengan pengalaman pribadi masing-masing. Yes, RectoVerso adalah film yang bisa jadi sangat personal bagi tiap penonton dengan penggalian emosi yang maksimal dari tiap segmennya.


The Casts 

Kekuatan yang paling menonjol dari RV selain materi ceritanya adalah kekuatan akting dari jajaran aktor all star yang dipasang di sini. Siapa saja tentu akan dengan mudah terperanjat oleh penampilan Lukman Sardi yang total memerankan tokoh Abang, seorang penderita autisme. It’s probably his best performance in a movie among all extraordinary performances he’s ever played. Di segmen yang sama, Prisia Nasution dan terutama Dewi Irawan juga tak kalah mengiris hati.

Acha Septriasa yang semakin hari semakin matang kemampuan aktingnya tampil lepas dan sangat baik di sini. Meski lawan mainnya, Indra Birowo terasa agak miscast, namun keduanya mampu menghadirkan chemistry yang cukup kuat dan nyata.

Di segmen Cicak di Dinding, Sophia Latjuba dan Yama Carlos menunjukkan chemistry yang sangat kuat antara love dan lust-nya. Come back yang baik untuk Sophia Latjuba (atau yang sekarang telah berganti nama menjadi Sophia Mueller).

Amanda Soekasah yang baru saja kita lihat aktingnya sebagai penulis Zara Zettira di Loe Gue End  tampil cukup baik di segmen Hanya Isyarat meski ada beberapa dialog puitis yang seharusnya dibawakan sebagai dialog sehari-hari namun terdengar seperti membaca sajak. Sementara Fauzi Baadilla dan pendatang baru Hamish Daud cukup menghidupkan peran masing-masing meski porsinya memang tak begitu banyak.

Terakhir, saya kurang suka penampilan Dwi Sasono dan Asmirandah di segmen Firasat yang membawakan peran masing-masing terlalu melodrama ala sinetron. Cara Dwi Sasono membawakan dialog puitisnya saja sudah terlalu dibuat-buat. Untung saja penampilan natural dari Widyawati mampu mengcover segmen ini dengan baik sehingga tidak jatuh begitu jauh dibandingkan segmen-segmen lainnya.

Technical

Selain editing yang patut diacungi jempol, tidak ada kendala berarti untuk teknisnya. Seperti layaknya film-film Indonesia lain yang unggul di gambar (sinematografi), penata gambar Yadi Sugandi memberikan kemampuan terbaiknya dalam menghadirkan gambar-gambar serta warna yang memukau. Didukung pula oleh desain produksi, mulai dari setting lokasi, kostum, hingga properti yang ditata dengan sangat baik dan indah.

Score dan lagu-lagu soundtrack yang pada dasarnya sudah ada melengkapi novelnya dibawakan ulang oleh musisi-musisi papan atas negeri ini dengan sangat baik dan memperkuat emosi yang telah tersampaikan dengan baik oleh gambarnya. Sebut saja Glenn Fredly yang membawakan Malaikat Juga Tahu, Dira Sugandi dengan Cicak di Dinding, Raisa dengan Firasat, Acha Septriasa dan Tohpati dengan Curhat buat Sahabat, dan Drew dengan Hanya Isyarat. Jika penggemar Dewi Lestari sebagai musisi, tentu saja soundtrack-soundtrack ini wajib menjadi koleksi Anda.

The Essence

RV mengajak penonton untuk merasakan cinta tanpa perlu terucap melalui segmen-segmen yang memiliki cara dan pesan cinta yang berbeda-beda. Feel it and discover the similar signs in our life.

They who will enjoy this the most

  •           Penggemar novel dan novelet karya Dewi Lestari
  •           Penikmat film-film romantis terutama yang menyayat hati
  •           Penonton yang belajar untuk merasakan cinta tak terucap di sekitarnya
Lihat situs resmi film ini. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates