Sunday, February 17, 2013

The Jose Movie Review
Django Unchained


Overview

Saya rasa saya tidak perlu lagi mendeklarasikan betapa nge-fans-nya saya dengan sutradara Quentin Tarantino. Maka tak heran jika karya terbarunya ini menjadi film yang paling saya nantikan di tahun 2012, melebihi franchise-franchise besar macam The Avengers maupun The Dark Knight Rises. Secara garis besar jika Anda menyukai formula-formula khas Tarantino, maka dengan mudah Anda menikmati film ke-8-nya ini.

Semua yang Anda harapkan dari film-film Tarantino tersaji lengkap di Django Unchained (DU), masterpiece “Revenge is a dish best served cold” dengan kemasan spaghetti western. Jika Anda jeli, sebenarnya film-film Tarantino tak jauh-jauh dari tema balas dendam. Namun berkat kecerdasannya meramu skrip, dialog, serta menjaga pace dengan baik sehingga tidak terasa membosankan meski durasinya di atas rata-rata dan kerap bertele-tele, setiap karyanya memiliki kekhasan tersendiri dan selalu menjadi semacam cult modern. Bagi yang belum akrab dengan karya-karya Tarantino, DU bisa jadi pengalaman pertama yang tepat sebelum menyaksikan karya-karya sebelumnya seperti Reservoir Dogs, Jackie Brown, Pulp Fiction, Kill Bill vol. 1 dan 2, Death Proof, dan Inglourious Basterds.

Dari DU saya mencoba menganalisa apa yang menjadi kelebihan karya-karyanya sehingga selalu tampak outstanding meski dengan premise sederhana. Jawabannya: ia tahu persis topik yang membuat penonton tertarik menyimak perbincangan-perbincangan panjang dengan durasi dan intensitas yang akurat. Lantas ia tahu pula apa yang membuat penonton gregetan hingga bersorak kegirangan dengan apa yang tersaji di layar. He’s very good at it. Formula sama yang mendefinisikan pengalaman sinematik sebenarnya, yang membuat film-film klasik masih mampu memikat lintas generasi hingga kini. Tak ketinggalan desain karakter-karakter iconic yang applicable untuk Halloween dan quote-quote yang terdengar keren untuk digunakan dalam percakapan sehari-hari. Formula yang berhasil mengantarkan film-filmnya menjadi cult classic berkelas secara instan meski dengan elemen-elemen nyeleneh ala film kelas B era 80-an itu. Toh film-filmnya yang jahil dan kurang ajar terhadap materi-materi aslinya tersebut berhasil membuat saya berharap banyak peristiwa bersejarah terjadi persis seperti yang saya tonton di layar.

Begitu pula dengan DU. Hanya saja dibandingkan karya-karya sebelumnya, DU terasa sedikit di bawah kualitas Tarantino. Sama sekali tidak buruk, namun DU tak memberikan cineorgasm sebesar, misalnya saat saya menyaksikan Inglorious Basterds (IB) yang menurut saya adalah film terbaik Tarantino. DU masih memberikan klimaks-klimaks kecil di setiap babaknya dan lebih dari cukup untuk membuat saya bersorak-sorai. Namun hingga akhir film “kadar” klimaksnya nyaris sama. Bandingkan dengan IB yang klimaks-klimaksnya terus meningkat hingga ending yang sangat luar biasa dan terus membekas dalam ingatan saya. Bisa jadi pula faktor saya yang mulai bisa membaca polanya sehingga sedikit banyak mampu menebak kelanjutannya dengan mudah meski tetap saja membuat saya excited.

Other than that, DU masih sangat menghibur dengan kecerdasan-kecerdasan dialog, referensi menarik (mulai mitologi Jerman, fakta tentang penulis kisah The Three Musketeers, Alexandre Dumas, hingga anekdot medis tentang perbedaan tengkorak ras negroid), humor yang benar-benar lucu, dan action gore-fest bertubi-tubi yang membuat fansnya bersorak-sorai.

The Casts

Christoph Waltz rupanya mulai menjadi aktor favorit Tarantino dan itu memang beralasan. Penampilannya sebagai bounty hunter mantan dokter gigi bernama Dr. King Schultz memang berbeda jauh dengan Lt. Hans Landa di IB, namun keduanya memiliki kharisma tersendiri yang sama kuatnya. Tak heran Academy kembali mengganjarnya nominasi Best Actor in Supporting Role untuk perannya di sini.

Jamie Foxx selaku pengisi peran utama cukup berhasil menghidupkan karakter Django Freeman sehingga tampak dan terdengar keren meski tak se-iconic karakter-karakter utama di film Tarantino, seperti misalnya The Bride (Kill Bill). Sekedar meracau, untung saja kerja sama barter Tarantino dengan RZA di The Man with the Iron Fists hanya sebatas mengisi soundtrack, bukan sampai RZA yang mengisi karakter utama yang bisa-bisa merusak segalanya.

Leonardo DiCaprio yang notabene jarang mengisi peran antagonis tampil maksimal pula di sini. Sisi terbengisnya sangat terasa dan terlihat di sini. Kehadiran serta gerak-geriknya menimbulkan teror tersendiri bagi penonton.

Di lini pemeran pendukung, Samuel L. Jackson (yang juga menjadi aktor langganan Tarantino) tampil paling mengesankan berkat karakternya yang unik; seorang kulit hitam yang justru menyiksa sesama rasnya. Karakter yang menarik untuk dianalisa dan dibawakan dengan sangat iconic pula oleh Jackson. Terakhir, Kerry Washington dengan penampilannya yang tak banyak mampu menyentuh sekaligus membuat penonton bersimpati padanya.

Technical

Anda merasa editingnya banyak yang kasar (terutama lagu yang dipotong seenaknya)? Ah itu memang disengaja dan sudah menjadi ciri khas film-filmnya, bersamaan dengan unsur-unsur vintage seperti yang teraplikasi pada logo studio dan credit, serta playlist soundtrack-nya yang lintas generasi maupun genre. Racikan nyelenehnya tetap berhasil membuat Anda excited atau setidaknya membuat teriak spontan, “Anjrit, Gokil!” bukan? Yah, itulah Quentin Tarantino. Daripada saya jelaskan di sini mending Anda mengalaminya sendiri.

Sepeninggal Sally Menke, editor langganan Tarantino yang seperti sudah paham betul selera Tarantino, editing DU dikerjakan oleh mantan asisten Menke, Fred Raskin. Hasilnya memang tak jauh berbeda, namun masih ada beberapa “ketidak-nyamanan”. Misalnya saja pada perpindahan adegan flashback maupun perpindahan babak yang terasa tidak semulus atau senyaman biasanya. Tapi… yah masih mengusung semangat Tarantino yang sama sih.

Jika Anda menemukan properi-properti yang terasa misplace pada setting waktunya, ya harap maklum saja. Let’s not make it a big deal. Anggap saja semua ini terjadi hanya di dalam dunia imajinasi (liar) seorang Quentin Tarantino, bukan dunia nyata. Anyway, setting lokasi seperti rumah di Candyland dan clubhouse Cleopatra tampak sangat indah sesuai dengan jamannya, lengkap dengan aneka perabotan dan pernak-perniknya. Begitu pula tata kostum yang tergarap dengan sangat rapi, memukau, dan penuh warna. Sungguh sebuah desain produksi yang keren.

The Essence

Saya menangkap penamaan Candyland, karakter Calvin Candie, dan seorang dokter gigi merupakan sebuah metafora dari cerita. Tema kebebasan (budak) mewarnai motif balas dendam yang menjadi plot utama. Selain itu, karakter Django yang mendobrak anekdot Calvin tentang “otak menghamba” kulit hitam, tak hanya dalam hal menembak ataupun menyerang, namun juga dalam menjaga emosi dari pancingan musuh dan menyusun strategi cerdas, menjadi sub-plot yang tak kalah menariknya.

They who will enjoy this the most

  • Quentin Tarantino fans, for sure
  • Penonton umum yang mulai bosan dengan formula mainstream Hollywood akhir-akhir ini dan butuh penyegaran
  • Penikmat film dengan dialog-dialog cerdas
  • Penonton yang menyukai ketegangan dibangun melalui dialog dan kharisma akting para karakternya
  • Penggemar action gore 

Academy Awards 2013 Nominees for :

  • Best Achievement in Cinematography
  • Best Achievement in Sound Editing
  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Performance by an Actor in a Supporting Role
  • Best Writing, Screenplay Written Directly for the Screen

Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates