Sunday, February 3, 2013

The Jose Movie Review
3SUM

Overview

Biasanya sebuah film omnibus memuat film-film yang mempunyai benang merah, setidaknya dari segi tema. Misalnya saja KvsK yang bertemakan anti korupsi atau Sanubari Jakarta yang mengangkat kisah-kisah bertemakan LGBT. Tetapi apa yang ditawarkan oleh tiga sutradara muda ini berbeda. Let’s say you pay once to get three short movies back to back. Lebih unik lagi, ketiganya memiliki genre yang berbeda-beda : thriller psikologis, drama romance (dengan sedikit bumbu komedi), dan action.
Sekedar informasi, 3SUM merupakan film indie yang disutradarai dan ditulis oleh tiga sutradara pendatang baru, yakni Andri Cung, William Chandra, dan Witra Asliga. Andri Cung namanya mulai dikenal lewat film pendek pertamanya, Payung Merah yang memenangkan berbagai penghargaan nasional dan internasional, dilanjutkan Merindu Mantan dan Buang yang juga dinominasikan di berbagai festival film nasional dan internasional. Sementara William Chandra sudah lebih banyak menghasilkan film pendek. Salah satunya yang paling dikenal adalah Emile, Nemesis, dan Guk!. Ia pun masuk dalam tim sutradara dari The Killers yang tengah digarap oleh Mo Brothers (Rumah Dara). Terakhir, Witra Asliga yang selama ini dikenal sebagai founder movie blog http://databasefilm.blogspot.com dan akun twitter @film_bioskop, dimana ini merupakan debutnya sebagai penulis naskah sekaligus sutradara film.
Menonton film pendek, apalagi indie, tentu harus memakai kacamata yang berbeda dibandingkan menonton film panjang mainstream. Dengan keterbatasan budget, yang paling penting adalah bagaimana film mampu menyampaikan cerita dengan efektif dan tetap mampu membekas di benak penonton. Untuk tujuan paling basic tersebut, 3SUM sudah bisa dianggap berhasil. Mari kita bedah satu per satu.

Insomnights (thriller psikologis) yang menjadi pembuka 3SUM mengajak penonton untuk mengikuti kisah seorang yang mengidap insomnia. Bagi penggemar film thriller psikologis, tentu endingnya bukan hal yang baru lagi dan besar kemungkinan Anda bisa menerkanya dengan mudah sejak clue ke-sekian (yang pasti bukan yang pertama). Namun Witra selaku penulis sekaligus sutradara dengan rapi membuka clue demi clue secara bertahap dan logis. Sayangnya, sejak clue ke sekian (tergantung referensi masing-masing penonton) twist sudah dengan mudah ditebak sehingga menjelang akhir film kehabisan gregetnya. Rangkaian flashback yang ditampilkan juga terasa agak mengganggu berkat editing yang kurang mulus. But for a first timer, this has been a great milestone. Setidaknya alurnya ditulis dan diadegankan dengan baik dan benar. Sisanya masih bisa berkembang di karya-karya berikutnya bukan?
Segmen berikutnya, Rawa Kucing (drama romantis dengan sedikit bumbu komedi) is easily becoming every audience’s favorite. Di antara ketiganya, segmen inilah yang menurut saya terasa paling hidup, menarik, teknis paling mumpuni, directing tertata paling baik, dan didukung aktor-aktris yang tampil sangat mengesankan. Setting Rawa Kucing (Tangerang) yang bernuansa etnis Cina tahun 80-an terpresentasikan dengan sangat indah dan detail. Mulai dari properti, kostum, hingga bahasa dan dialek yang digunakan. Kisahnya pun mengalir dengan sangat lancar, lugas, jelas, dan yang pasti manis. Peletakan adegan sepasang orang tua miskin yang tricky (saya pun sempat tertipu) terasa keefektifannya di akhir film.
Sebagai penutup, Impromptu menawarkan suguhan aksi keren ala Hollywood. Tak hanya dari sisi pengadeganan, tetapi juga art, fotografi, dan koreografi. Tema pembasmian pihak-pihak korup (baik pejabat maupun oknum polisi) oleh sepasang kick-ass... let’s say vigilante, tertuang dengan lugas, jelas, dan stylish. Tidak, alur ceritanya tidak sesimpel The Raid. Ada rangkaian tertentu yang menjadikannya menarik jika Anda mau menganalisanya lebih dalam. Koreografinya oke meski agak terasa terlalu diatur dan fotografi yang menangkap adegan-adegan laga tersebut masih terasa statis dan belum maksimal dalam menangkap keseruannya. Hal minor yang terasa paling mengganggu saya di segmen ini adalah editing beberapa adegan (terutama di adegan pembuka) yang terasa blank. Seperti ada jeda antar dialog maupun tindakan yang terlalu lama beberapa detik sehingga mengganggu kedinamisan pace. Other than that, ini adalah segmen yang paling menarik jika hendak dikembangkan menjadi film panjang dengan budget yang lebih besar pula tentunya.
Overall, 3SUM bisa menjadi alternatif tontonan yang segar dan enjoyable. Masih belum sempurna memang. Namun menilik dari kenyataan ini berasal dari sutradara-sutradara pendatang baru, kita patut bangga dan lega bahwa masa depan mutu perfilman Indonesia masih cukup cerah. Jadi mengapa tidak ikut mendukung dan menjadi saksi kelahiran generasi terbaru dari perfilman Indonesia?

The Casts

Winky Wiryawan bisa dibilang menjadi one man show di Insomnights. Sayang ia membawakan karakter Morty agak terlalu berlebihan atau boleh dibilang terlalu teatrikal. Alih-alih membuat penonton ikut merasakan ketakutan yang sama, justru tidak memberikan efek apa-apa buat penonton. Tetapi efeknya relatif sih, tergantung ketahanan masing-masing penonton juga, but it didn’t work on me. Sementara kehadiran Gesata Stella memang tak terlalu banyak namun bermain cukup baik sesuai porsinya.
Rawa Kucing punya jajaran cast yang paling cemerlang, tak hanya dari pengisi karakter-karakter utama seperti Aline Adita dan Natalius Chendana, tetapi juga cameo yang meliputi Novita Savitri (Afung), Judy Francesca (Asiu), Ronny P. Tjandra (bos Jive! Entertainment, mengisi peran Koh Abong), dan tak ketinggalan Royana (Ci Leni). Catatan khusus untuk pendatang baru Natalius Chendana, grand finalis Be Our Cover Men’s Health 2012 berhasil mengisi karakter Welly, gigolo bisu-tuli yang pemalu dengan sempurna.
Pasangan Dimas Agroebie (2nd runner up L-Men of the Year 2009) dan Hannah Al Rashid (Modus Anomali) di Impromptu tampil keren dan meyakinkan dalam menunjukkan aksi bela diri menumpas gerombolan polisi korup. Jika benar-benar diangkat menjadi film panjang, dengan mudah mereka menjadi icon action Indonesia generasi ini.

Technical

Teknis seringkali kurang maksimal pada film-film indie, namun nyatanya tidak untuk 3 SUM. Memang tak sebaik film-film mainstream namun secara keseluruhan masih di atas rata-rata dan sangat layak untuk ukuran film bioskop.
Insomnights mungkin lemah di editing yang masih terasa kasar di beberapa bagian, tetapi permainan tone color, tata kamera, dan score berhasil menghadirkan suasana kelam sepanjang film.
Selain teknis yang sudah saya sampaikan di bagian sebelumnya, Rawa Kucing juga didukung tone color vintage yang indah dan theme song Berakhir Denganmu by A.J. Valen yang semanis filmnya.
Terakhir, Impromptu menyajikan production value ala Hollywood dengan keren. Tampilan visual effect gore, sinematografi, sampai score techno terangkai dengan sangat baik, mendukung nuansa filmnya yang dark dan glamour. Yang paling mengganggu mungkin hanya sound effect perkelahian yang tedengar kurang nyata.

The Essence

Tagline life, love, and death memang terwakili dalam film meski urutannya di layar berkebalikan. Insomnights mewakili death, dimana kematian adalah proses yang harus dialami oleh semua yang hidup. Rawa Kucing menunjukkan cinta yang tulus dan tak perlu alasan tertentu. Impromptu menggambarkan chain dalam kehidupan dimana seseorang bisa saja menjadi korban kejahatan dari oknum yang sebenarnya berada pada pihak yang sama.

They who will enjoy this the most

  • Penonton yang menginginkan tontonan yang unik dan segar
  • Penikmat thriller psikologis
  • Penikmat kisah romance
  • Penikmat kick-ass action
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates