Sunday, January 13, 2013

The Jose Movie Review
Savages

Overview
Oliver Stone adalah salah satu sutradara paling menjanjikan karya bermutu di Hollywood. Banyak karyanya yang sudah menjadi karya klasik Hollywood. Sebut saja Platoon, Wall Street, Born on the 4th of July, JFK, Nixon, Any Given Sunday, dan W.. Tak jarang pula ia gagal, seperti ketika Alexander yang tak hanya gagal balik modal ketika diputar di bioskop, namun juga dicaci banyak kritikus. But Stone is Stone with all of the controversies through his works. Tahun 2012 ia mencoba mengadaptasi novel Don Winslow berjudul Savages ke layar lebar dengan judul sama.

Untuk sebuah drama tentang perang gembong narkoba, Savages memiliki durasi yang kelewat panjang: 141 menit untuk versi unrated, 131 menit untuk versi teatrikalnya. Apa yang tersaji di sini sebenarnya tidak ada yang baru. Sekelumit perang dunia narkoba Amerika-Meksiko, intrik yang melibatkan kekerasan, penculikan, balas dendam, dan perebutan kekuasaan. Klise? Memang. Tapi Stone membawa segala elemen “klasik” dan terkadang terasa soap opera ini ke dalam gaya penyutradaraannya, Kekerasan dan darah bertebaran di sana-sini menjadi komoditas yang cukup menjual.

Yang setidaknya membuat Savages layak untuk diikuti adalah banyaknya karakter yang memiliki cerita dan pertalian menarik. Misal saja, rasa-rasanya belum ada istilah untuk menjelaskan hubungan antara ketiga karakter utamanya : Ophelia-Ben-Chon. Ketiganya digambarkan saling mengisi keseimbangan. Di sisi lain ada pula penggambaran karakter-karakter tak bahagia, seperti Lado dan Elena. Belum lagi Dennis, agen FBI korup yang berusaha bekerja sama dengan berbagai pihak, yang sedang bertikai sekalipun. Kesemuanya terlibat dalam satu pusaran drama kekerasan yang penuh intrik namun masih sangat mudah untuk diikuti.

Menjadi istimewa bagi kita, Savages melakukan syuting beberapa adegannya di Labaun Aji dan pulau yang masih asing di telinga kita namun rupanya menjadi surga bagi petualang pariwisata berduit, Pulau Moyo. Well, sumpah alamnya keren banget di layar! Salah satu alasah kenapa Anda harus menonton karya teranyar Savages ini.

The Casts

Ketiga cast utama, Blake Lively, Taylor Kitsch, dan Aaron Taylor-Johnson bisa dibilang berhasil membangun chemistry unik antara ketiganya. Blake yang sekaligus mengisi narasi sepanjang film tidak buruk namun juga tidak tampil istimewa. Di beberapa adegan justru karakternya menjadi terasa mengganggu. Namun Taylor Kitsch dan Aaron Taylor-Johnson masing-masing tampil dengan sangat baik. Bagi Taylor, ini adalah performa terbaiknya sejauh ini. Peran badass seperti ini sangat cocok dengannya. Sementara Aaron Taylor-Johnson yang sebelumnya kita kenal sebagai Dave Lizewski di Kick-Ass juga tak kalah menonjol.

Salma Hayek masih mempesona dan berkharismatik seperti biasa. Benicio Del Toro juga masih mengisi peran tipikalnya dengan sama baik seperti sebelum-sebelumnya. John Travolta meski tak memiliki banyak porsi namun cukup mencuri perhatian dan beruntung versi unrated memberikannya detail karakter yang lebih.

Technical

Tidak ada kendala pun tak ada yang terlalu istimewa pula dari segi teknis produksi. Sinematografi, setting, kostum, visual, maupun sound effect, semuanya biasa saja dan masih pada takaran yang sesuai.

Saya juga tidak menemukan pentingnya mengubah tone warna menjadi hitam putih di beberapa adegan. Meski editingnya bisa dibilang rapi dan cukup dinamis, namun masih tidak bisa memperbaiki feel twist-endingnya yang… yah gitu deh. Bagi saya sih.

The Essence

In the circle of crime, there will be no easy and safe getaway, until you’re really really out of the circle with a hard and uneasy way. Will that make you happy even with all of that wealth? You can see and learn from each character in Savages.

They who will enjoy this the most

  • Action-gore enthusiasts
  • Penonton yang menyukai drama penuh intrik ala soap opera
  • Oliver Stone’s fans

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates