Galih dan Ratna

The Indonesia's very own romantic couple has been reborn to the millenial era.
Opens March 9. Read more.

Moammar Emka's Jakarta Undercover

The Jakarta's famous night life is going to be a hype one more time!
Read more.

Kong: Skull Island

The giant King Kong roars again!
Opens March 8. Read more.

Logan

Hugh Jackman to portray Wolverine for one last time.
Read more.

Beauty and the Beast

Disney to bring the classic magical animation to live action with Emma Watson!
Opens March 17.

Monday, October 29, 2012

The Jose Halloween Special
Suicide Club (Jisatsu Sâkuru) (2002)

Halloween adalah salah satu occasion yang paling saya tunggu-tunggu dalam setahun. Meski bukan bagian dari budaya kita, saya percaya Halloween adalah kesempatan untuk berkreatif ria, baik sekedar merilis foto-foto pribadi bertema horor maupun ikut pesta kostum. Persetan dengan isu okultisme, Anti-Christ, atau sejenisnya yang sering dikait-kaitkan dengan perayaan Halloween. Yang penting saya tahu sampai sejauh mana saya memaknai Halloween: just for fun and be creative. Kapan lagi saya punya alasan yang masuk akal untuk tampil nyentrik?
Well, jika malas berpartisipasi dalam “ajang kreativitas” ini, Anda masih bisa duduk di rumah dan marathon nonton film horor favorit Anda. Tahun ini saya mencoba untuk menonton film-film horor yang belum pernah saya tonton sebelumnya dan hasil rekomendasi dari berbagai sumber. Mulai hari ini hingga puncaknya, 31 Oktober nanti, saya akan membagikan satu judul per hari yang saya tonton sehari sebelumnya. Siap?

Overview

Saya harus mengakui, Jepang selalu mampu tampil outstand di peta pefilman dunia. Jika perfilman Jepang klasik punya Akira Kurosawa yang punya sumbangsih sangat besar bagi perkembangan film dunia, terutama Hollywood, maka gerakan new wave Jepang unggul terutama di genre horor. Tak hanya horor atmosferik yang terwakili franchise Ringu (The Ring), Jepang juga cukup maju di jenis horor gore. Di tahun 2002, sutradara Shion Sono merilis sebuah horor gore independen bertajuk Suicide Club (Jisatsu sâkuru/SC) yang tak hanya punya plot menarik (baca : mengerikan) tetapi berhasil menjadi salah satu film cult dunia yang tak terlupakan.

SC membidik fenomena bunuh diri massal yang sempat menghebohkan Negeri Matahari Terbit. Tak tanggung-tanggung film dibuka oleh aksi 54 gadis berseragam SMA yang terjun ke rel ketika sebuah gerbong kereta api melesat kencang sambil bergandengan tangan. Bahkan sebelum terjun, mereka masih menampakkan wajah ceria sambil berhitung. How sick was that?

Dengan kreatif tetapi masih dalam koridor rasional, adegan disambung dengan video musik sebuah girlband bernama Dessart. Tentu kecurigaan penonton akan tertuju padanya. Namun tunggu dulu, berturut-turut penonton disajikan aneka petunjuk lainnya, mulai dari gulungan kulit manusia yang ada di setiap TKP, penelepon gelap, hingga gank Genesis dengan dandanan ala Rocky Horror Picture Show dicampur Hyde L'ar-en-ciel. Jangan terkecoh oleh tampilan luarnya yang tampak absurd, karena SC memang dibuat surealis. Jadi silahkan gunakan kemampuan analisis Anda untuk menemukan apa yang sebenarnya terjadi di balik fenomena bunuh diri di kalangan remaja ini. Adegan-adegan sadis mencekam walau beberapa 'organ' tampak palsu, dengan atmosfer ngeri sepanjang film, dan unsur teka-teki yang terjalin rapi, SC muncul sebagai salah satu film cult paling terkenal dari Jepang setelah Battle Royale

Sutradara Shion Sono membuat Noriko's Dinner Table (Noriko no shokutaku) di tahun 2005 yang merupakan prekuel sekaligus sedikit lanjutan apa yang terjadi setelah SC. Judul ini akan saya bahas pada postingan berikutnya.

They who will enjoy this the most

  • Gore freak
  • Riddle enthusiast
    Lihat data film ini di IMDb.

Monday, October 22, 2012

The Jose Movie Review
Rock of Ages


Overview

Tayangan musikal selalu menarik perhatian saya, bahkan film-film musikal dari era Sound of Music, West Side Story, dan Singin' in the Rain. Sayang sekali pertunjukan musikal tidak populer di Indonesia, jadi adaptasi ke film layar lebar menjadi satu-satunya pemuas kenikmatan buat saya. Itu pun tak banyak film musikal yang diimpor ke bioskop Indonesia karena, lagi-lagi, genre ini peminatnya sangat sedikit. Tak jarang pula saya mendengar cibiran, “Film koq isinya nyanyi-nyanyi. Nggak masuk akal.” Iya deh, saya (lagi-lagi) mengalah kepada kaum mayoritas yang berpikiran sempit kalau film harus dibuat serealistis mungkin, meski orang yang sama ternyata doyan film-film sci-fi dan fantasi.
Adam Shankman tidak menyajikan sesuatu yang baru lewat Rock of Ages (RoA). Premise cerita tentang kenekadan pemuda-pemudi ke Hollywood untuk menggapai mimpi menjadi artis sudah beratus-ratus kali diangkat, lengkap dengan dunia hiburan malam yang seolah-olah harus dilalui oleh siapa saja yang hendak memulai karir di Hollywood, dan alurnya yang sangat cliché. Pun di antara film-film dengan premise serupa, RoA bukan juga yang terbaik dari segi naskah. Dengan durasi dua jam lebih, tentu awalnya membuat kening saya sedikit berkerut. Ngapain aja tuh cerita begitu saja panjangnya dua jam lebih?
Nyatanya RoA bisa mengisi dua jam lebih tersebut dengan lagu-lagu yang sangat fun dan beberapa humor yang menggelitik sehingga sepanjang film terasa sangat menghibur dan saya melupakan segala alur cliche-nya. Jajaran cast-cast terkenal yang turut menyumbang peran (dan juga suara) semakin  menambah semarak RoA. Lagu-lagu rock yang mendukung bukanlah jenis rock metal melainkan rock populer dan glam-rock yang sempat naik daun di era 80'an, sesuai dengan setting film, seperti Foreigner, Def Leppard, Pat Benatar, Bon Jovi, Twisted Sister, Starship, Scorpions, dan Journey. Hal menarik lain yang turut diselipkan dalam skrip adalah transisi trend musik rock ke boyband yang cukup berhasil menjadi bahan tertawaan. Sebuah issue yang tampaknya sedang relevan pada dunia musik saat ini.
Finally, RoA memang tidak menawarkan hal yang baru atau kedalaman cerita maupun karakter. Saya juga tidak akan memasukkan judul ini jika saya harus menyebut lima judul film musikal terbaik sepanjang masa. Tetapi saya harus mengakui, I had a lot of fun watching this. Malahan saya tidak bisa berhenti re-watch RoA selama semingguan ini untuk sekedar mendengarkan performance-performance asyik maupun menikmati medley-medley serunya. So for entertainment's sake, it's a must-see for musical lovers. ROCK ON!!! \m/

The Casts

What I find amazing from musical movies adalah aktor-aktris kesayangan kita yang belum pernah memamerkan suara sebelumnya ternyata punya suara yang bagus juga dalam berdendang. Siapa yang sangka Nicole Kidman atau Catherine Zeta Jones ternyata bisa nyanyi? Di Rock of Ages (RoA) ini giliran Tom Cruise yang membuktikan diri bisa nge-rock dengan suaranya sendiri. Well, Tom Cruise bisa jadi hanya dijadikan materi “jualan” utama RoA karena karakternya sendiri bukanlah karakter utama. Tapi ia benar-benar serius nge-rock di sini dan suaranya ternyata (sekilas) tidak kalah dengan Axl Guns N’ Roses. Bertambah satu lagi daftar peran “berbeda” yang dilakoni dalam filmografi Tom Cruise.
Sementara dua sejoli pemeran utamanya, Diego Boneta (serial 90210 dan Pretty Little Liars) dan Julianne Hough, cukup baik memainkan peran masing-masing dan dengan chemistry yang cukup meyakinkan meski ketika baru berkenalan terasa seperti sudah lama nge-date. Diego punya karakter vokal yang sangat cocok dengan peran rocker, sementara Hough angin-anginan. Di beberapa nomor terdengar bagus, namun agak mengganggu ketika membawakan beberapa nomor lainnya. Selain dari itu, kemampuan menarinya ketika adegan Rock You Like A Hurricane patut diapresiasi lebih. Tak heran, ia sebelumnya pernah mengisi peran serupa di remake Footloose dan Burlesque.
Catherine Zeta Jones tak perlu dikomentari lagi penampilannya karena sudah pernah bermain gemilang di film musikal Chicago. Penampilannya membawakan Hit Me with Your Best Shot cukup mengejutkan dan sangat menghibur.
Pasangan unik Alec Baldwin dan Russel Brand memberikan warna tersendiri dalam film. Siapa yang sangka Alec ternyata bisa menyanyi?
Kejutan lainnya tentu saja Malin Akerman yang (juga) ternyata bersuara bagus dan mampu membawakan I Wanna Know What Love Is bersama Tom Cruise dengan begitu merdunya.
Terakhir, Mary J. Blige yang memang seorang biduan, tampil tak begitu menonjol karena porsi perannya yang memang tak banyak. Begitu pula aktor berkelas Oscar, Paul Giamatti yang tampil biasa saja.

Technical

Sebagai sebuah film musikal, RoA memiliki tata artistik, kamera, serta suara yang menarik sehingga mampu menangkap semangat rock n roll dengan kuat. Lihat saja set The Bourbon Room yang hidup dan meriah atau panggung stripper Justice yang energik.

The Essence

RoA menyorot beberapa hal tentang dunia gemerlap rocker pada khususnya dan artis pada umumnya. Ada satu quote menarik yang saya angkat dan patut di-highlight bagi siapa saja yang berniat masuk atau memiliki hubungan dengan pelaku dunia entertainment. Namun secara garis besar, RoA menyorot ironi dari kehidupan rockstar (atau juga selebriti lainnya) yang harus membayar popularitasnya dengan brokenheart dan hidup kesepian tanpa makna, seperti yang dialami karakter Stacee Jaxx. So are you ready to (be a) rock (star)?

They who will enjoy this the most

  • Rock music fan (especially from the 80’s, the glory years of rock music)
  • Musical fan
  • General audiences who can accept musical film concept
Lihat data film ini di IMDb.

Wednesday, October 17, 2012

The Jose Movie Review
Cita-Citaku Setinggi Tanah

Overview

Saya ingat betul ketika masih kuliah Desain Komunikasi Visual dulu, pernah mengikuti workshop pembuatan music video (video klip) di bawah bimbingan Eugene Panji yang kala itu sangat terkenal karena namanya seringkali tertulis di baris keempat videotag siaran MTV. Yap, Eugene Panji memang sempat menjadi sutradara music video terkenal yang pernah menangani video untuk Agnes Monica, Slank, Cokelat, Audi, dan banyak lagi, selain juga kerap menangani berbagai TVC. Kala workshop tersebut, ada audience yang bertanya ketertarikannya membuat film layar lebar. Ia menjawab bahwa ia sedang berencana membuat sebuah film bertemakan anorexia. Sekitar lima tahun kemudian barulah karya layar lebar perdananya dirilis tetapi dengan tema jauh berbeda dari yang ia rencanakan kala itu : dunia anak-anak. Unik, ketika mendengar sebuah wawancara, Eugene Panji mengungkapkan bahwa ia membuat film ini sebagai bentuk CSR (creative social responsibility) (baca artikel wawancara lengkapnya di sini), sehingga ia sebenarnya tidak terbebani oleh sukses-tidaknya film ini secara komersil. Namun bukan berarti ia setengah hati menggarapnya karena ia terbukti ia menunjukkan kualitas dan reputasinya.
Kebutuhan akan tayangan untuk anak-anak khususnya di Indonesia memang beberapa tahun belakangan ini mulai dilirik oleh produser maupun PH-PH. Namun tak semuanya mampu menarik perhatian karena masih kerap terjebak pada gaya sinetron yang kurang sesuai dengan dunia anak-anak maupun masih terpaku pada prinsip “mendidik”. Alhasil banyak film anak-anak yang cenderung pretensius dan terlalu menggurui sehingga mengabaikan sisi hiburannya.
Mendengar setting sebuah desa di kaki Gunung Merapi, Jawa Tengah dan premise “cita-cita”, tentu gambaran tentang film ini mengarah ke film anak yang begitu-begitu saja; pretensius, sok menggurui, tidak menarik, dan hanya mengeksploitasi kemelaratan untuk memancing iba penonton. Apalagi judulnya yang sounds so silly dan shallow; Cita-Citaku Setinggi Tanah (CCST). Nyatanya, kesemua image itu salah besar. CCST adalah film dengan cerita yang sangat sederhana, mungkin malah ada dari Anda yang merasa tidak penting. Namun ketika sampai pada klimaksnya ternyata menyimpan sebuah penjelasan yang cerdas, cukup dalam, logis, dan realistis tentang cita-cita. Sebuah kisah inspiratif yang tidak muluk-muluk namun mampu menggerakkan saya untuk bertekad melakukan hal yang lebih besar lagi. Itu saya yang sudah berusia twenty something. Bisa dibayangkan efeknya pada anak-anak yang pola pikirnya masih polos dan sederhana.
Bagusnya lagi, penulis skenario Satriono membungkus proses “pencapaian cita-cita” yang sederhana itu dengan mengalir, tidak dibuat-buat, namun tetap menarik untuk diikuti. Tidak ada sama sekali usaha untuk membuat penonton merasa iba akan keadaan karakter-karakternya. Mereka memang tinggal di desa tetapi mereka tidak digambarkan hidup melarat. Karakter Agus memang menganggap makan makanan Padang sebuah kemewahan, tapi ia dan keluarganya masih bisa makan tiap hari. Sebaliknya, penonton yang terbiasa tinggal di kota sekalipun diajak untuk merasakan keceriaan anak-anak yang tinggal di desa dengan segala kesederhanannya dan kreativitasnya. The movie will make you feel good during the movie and afterward, especially for kids.
Complain dari saya mungkin hanya satu adegan yang menurut saya bisa digali menjadi lebih emosional lagi, yakni ketika Agus nyaris “kehilangan” harapan untuk mencapai “cita-citanya”. Andaikan adegan tersebut dibuat sedikit lebih dramatis, misalnya di sedikit di-slow-mo, pasti semakin membuat penonton merasakan apa yang dirasakan Agus saat itu. Tetapi minor kecil ini sama sekali tidak mempengaruhi niat dan atmosfer positif keseluruhan film. It's still a good simple movie crafted with a true heart. Apalagi keseluruhan penjualan tiket film ini (dan juga penjualan album soundtracknya) didonasikan ke Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia, benar-benar membuat penontonnya begitu feel good. Di antara film-film anak Indonesia yang beredar dan sudah saya tonton tahun ini, CCST berhasil memikat dan menjadikannya yang terbaik so far.

The Casts

Kesemua pemeran anak-anaknya bukanlah nama-nama terkenal. Ini adalah film pertama bagi M. Syihab Imam Muttaqin (Agus), Rizqullah Maulana Daffa (Jono), Iqbal Zuhda Irsyad (Puji), dan Dewi Wuladnari Cahyaningrum (Sri/Mey). Namun kesemuanya memerankan masing-masing karakter yang berbeda-beda dengan sangat natural. Agus yang cerdas, Jono yang berjiwa pemimpin namun kocak berkat kepolosannya, Sri/Mey yang obsesif gara-gara ibunya, dan Puji yang santai. Di lini pemeran pendukung ada nama terkenal Agus Kuncoro dan Donny Alamsyah. Kesemuanya juga berhasil mengisi peran sesuai dengan porsi masing-masing. Sementara yang paling mencuri perhatian penonton adalah Luh Monika Sokananta, pemeran karakter ibu Sri/Mey yang membuat penonton tertawa sekaligus miris melihat tingkah lakunya. Salah satu karakter yang ditulis dengan sangat baik selain karakter utamanya.

Technical

Film dengan setting alam (pedesaan) biasanya mengeksploitasi habis-habisan keindahannya lewat desain produksinya. Mungkin dengan pertimbangan seandainya cerita gagal menarik perhatian penonton, setidaknya masih bisa menikmati pemandangan-pemandangan indah yang tersaji secara visual. CCST nyatanya tidak begitu mengeksploitasi habis-habisan setting alam kaki Gunung Merapi. Semuanya tersaji sesuai dengan kebutuhan adegan, misalnya adegan perjalanan yang memang pas dibuat wide shot sehingga keindahan alamnya dapat terekam secara natural. Pun demikian, penonton masih seperti diajak untuk ikut merasakan nikmatnya tinggal di desa berkat atmosfer, logat bahasa, dan segala atributnya. Bisa jadi juga karena saya sudah kepincut duluan dengan ceritanya sehingga sajian visual panoramanya terasa kalah menonjol.
Teknis yang menarik bagi saya adalah editing, terutama di bagian awal-awal film saat perkenalan karakter-karakter cilik anaknya. Editor behasil menyatukan adegan karakter-karakter secara berkesinambungan dan menjadikannya lucu serta menarik. Namun sedikit flicker beberapa kali terjadi saat transisi fade antar adegan cukup mengganggu saya meski mungkin tidak begitu diperhatikan bagi penonton yang lain.
Score dan lagu-lagu tema yang dibawakan Endah & Resha semakin memperkaya suasana nyaman tinggal di desa dengan lirik yang selaras dengan cerita. Pun score dan sound effect mengalun dengan mantap dan jernih melalui kanal-kanal speaker bioskop.

The Essence

Siapapun pasti punya cita-cita, baik yang digembor-gemborkan ke sekitarnya maupun yang hanya dipendam dalam diri. It's good and important to have one or more. Tetapi cita-cita tinggallah cita-cita jika tidak pernah ada usaha untuk mewujudkannya. Sekecil dan sesederhana apapun itu membutuhkan usaha dan bermula dari diri sendiri. Tidak pernah ada cita-cita yang terwujud dengan sendirinya. Percayalah, Anda akan lebih terinspirasi dengan menonton film CCST ketimbang hanya membaca segmen ini di blog saya.

They who will enjoy this the most

  • General audiences, terutama anak-anak dan remaja
  • Penonton yang butuh inspirasi untuk mengejar cita-citanya dan selama ini lebih senang diam dalam comfort zone-nya

 


Lihat situs resmi film ini.

Thursday, October 11, 2012

The Jose Movie Review
Looper

Overview

Time travel... salah satu branch genre sci-fi yang jarang sekali diangkat ke layar lebar. Tak salah, setiap kali keluar film bertemakan time travel, selalu saja ada penonton sok pintar yang menggugat ketidak-sinambungan antar adegan akibat perbedaan dimensi waktu. Satu hal yang sebenarnya menjadi dasar masalah dari gugatan-gugatan tersebut : penonton tidak percaya bahwa kita bisa merubah masa lalu sehingga masa depan pun ikut berubah seperti yang kerap digambarkan dalam film-film time travel. Dalam "logika" mereka, proses time travel juga merupakan bagian dari "takdir" yang sudah digariskan sehingga kejadian di masa depan seharusnya sudah mencakup interupsi yang diakibatkan time travel. Well, karena mesin waktu memang belum pernah ditemukan dalam dunia nyata, “ketidak-percayaan” mereka ini sebenarnya sah-sah saja. Tapi bukankah lebih baik tidak perlu terlalu serius memikirkan logika yang bahkan memang belum pernah ada? Benar, ini adalah sci-fi dan memungkinkan kelak benar-benar terwujud. Namun selama masih belum ada pembuktian bagaimana dan sejauh mana sebuah perjalanan waktu bisa mengacaukan garis waktu, maka kedua pihak (sineas yang membuat teori time travel-nya sendiri maupun penonton yang bingung dengan teori yang tersaji dalam film) sama-sama tidak ada yang salah maupun yang benar.
Di tengah susahnya menuliskan skrip film bertemakan time travel yang tetap menghibur penontonnya dengan resiko gugatan goof seminimal mungkin, sutradara yang juga kerap menulis sendiri film-filmnya, Rian Johnson, mencoba menghadirkannya dengan struktur cerita ala film noir seperti layaknya karya-karya sebelumnya. Menarik menyaksikan perpaduan premise Twelve Monkeys dan Terminator dengan gaya noir penuh teka-teki yang membuat penasaran sekaligus menegangkan.
Johnson memang piawai menyusun cerita yang solid dan rapi. Ia tahu betul bagaimana menyebarkan clue teka-teki sepanjang film secara merata sehingga penonton terus penasaran akan apa yang akan terjadi berikutnya, kapan harus meletakkan adegan-adegan klimaks yang membuat penonton menahan nafas, dan pace seperti apa yang pas dinikmati. Bukan plot yang benar-benar baru namun semuanya tersaji dengan sangat rapi dan menarik sepanjang film bahkan tetap menegangkan di banyak adegan-adegan yang hanya berupa dialog, terlepas dari kemungkinan gugatan-gugatan penonton seperti yang saya singgung di paragraf pertama.
Penonton yang mengharapkan porsi action yang banyak seperti halnya Terminator mungkin akan sedikit kecewa karena porsinya memang tak sebanyak dialog-dialog yang (bagi saya) menarik. Bagi saya sendiri porsi actionnya sangat pas dan sekalinya ada tampil begitu memuaskan dan menegangkan. Namun penonton yang senang dengan teka-teki dan gemar menganalisa atau berdiskusi selepas menonton akan kegirangan. Seberapa banyak sih ada film seperti ini beberapa tahun terakhir?
The Casts
Beruntung, Johnson meng-hire cast yang bermain dengan sangat baik di sini. Perhatian utama penonton pasti tertuju pada Joseph Gordon Levitt (JGL) yang setahun belakangan tampak seperti sedang kejar setoran. Jika minggu lalu saya melihatnya di Premium Rush yang biasa-biasa saja, maka minggu ini ia memberikan performa yang luar biasa dan bahkan mungkin salah satu performa akting terbaiknya di layar selama ini. Gesture dan gerak-gerik dalam usaha menirukan Bruce Willis bisa dibilang sangat meyakinkan, terlepas dari prostetik wajah dan sulam alisnya yang ridiculous terutama bagi fans berat JGL. Sementara Bruce Willis yang memerankan versi tuanya masih layak tampil se-badass John McClane sesuai porsi skrip.
Emily Blunt yang konon kabarnya menerima peran di sini bahkan sebelum tahu seperti apa karakternya, memerankan karakter ibu tough dengan sangat baik. Sedikit mengingatkan saya akan karakter Sarah O'Connor di franchise Terminator.
Namun di antara aktor-aktor yang sudah punya nama di atas, aktor cilik Pierce Gagnon berhasil mencuri perhatian berkat performanya yang sangat kuat untuk karakter anak-anak. Salah satu aktor anak-anak pendatang baru dengan karir akting paling menjanjikan di masa depan.

Technical

Tak banyak visual effect yang dipamerkan di sini. Tak masalah karena konsepnya memang tidak memerlukan banyak visual effect seperti halnya Total Recall. Ada sih motor terbang, mesin waktu, dan gadget-gadget canggih lainnya tetapi tampak minimalis dan sudah pernah ada di film-film sci-fi sebelumnya. But above all, my favorite is the slow-mo when a man's heart exploded.
Editing lantas memegang peranan yang sangat penting dalam menjaga intensitas alur sekaligus menguak teka-teki satu demi satu. Bagaimana timeline Joe muda (JGL) dan Joe tua (Bruce Willis) berjalan sendiri-sendiri hingga akhirnya dipertemukan, tertata dengan rapi, dinamis, dan tidak terasa membingungkan seperti yang sempat saya khawatirkan sebelum menyaksikannya sendiri. A very good achievement in editing.
Score juga memegang peranan penting. Memang tak banyak score yang ada, malahan lebih banyak adegan in silent. Tetapi begitulah film bergaya noir kebanyakan bekerja, menegangkan in silent mode. Bahkan ketika credit title mulai rolling pun diberi jeda silent beberapa detik hingga akhirnya terdengar musik country tenang. Menambah suasana ngeri sekaligus memberikan ruang untuk berpikir sejenak akan apa yang baru saja disaksikan.

The Essence

Siapa sangka film dengan tema time travel dan bergaya noir ternyata menyindir pola pikir manusia saat ini, khususnya tentang pengorbanan dan peran penting seorang ibu bagi anaknya? Well, Looper is. Find out yourself if you have a curiosity about it.

They who will enjoy this the most

  • Penikmat film dengan teka-teki yang membutuhkan analisa dan memancing diskusi setelah film berakhir
  • Penikmat film bergaya noir
  • Penikmat film berpremise time travel
  • Penggemar Joseph Gordon Levitt
Lihat data film ini di IMDb.

Monday, October 8, 2012

The Jose Movie Review
Taken 2

Overview

Sebelumnya, saya sempat menyampaikan ekpektasi akan Taken 2 (T2) yang mempunyai sutradara baru, Olivier Megaton (sebelumnya pernah menyutradarai Transporter 3). Dengan track record Megaton, saya tentu berharap ia membawa franchise Taken ini dengan gaya yang lebih dinamis tanpa meninggalkan ciri khas kebrutalan serta intelijensia karakter Bryan Mills yang sudah cukup remarkable. Ekspektasi tersebut pun harus segera saya lupakan ketika mulai banyak review negatif tentang installment kedua ini. But I still have a little curiosity to watch this one.

Mari abaikan plot yang memang seolah mengulang installment pertama. Saya harus mengakui walau ide balas dendam terdengar klise, namun menjadikan Bryan sendiri dan istrinya yang diculik kali ini adalah variasi plot yang cukup menarik untuk digali. Di satu titik ada kalanya plot seolah tidak tahu harus berkembang ke arah mana lagi dan mulai ngaco, namun Megaton masih berhasil membuat adegan kejar-kejaran yang cukup menegangkan. Meski pada akhirnya saya menyadari bahwa skill para penjahat yang ada di sini sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan villain di predesesornya (apalagi dibandingkan Mills). Modalnya hanya nekad karena dendam.

Megaton memang tidak terlalu banyak membawa perubahan yang berarti seperti yang saya harapkan di T2. Kedinamisan adegan-adegan aksinya masih sama dengan installment sebelumnya. Pun, kebrutalannya pun terasa lebih soft-core. Mungkin saja versi yang kita tonton di bioskop sekarang ini adalah versi PG-13 yang sudah di-“lembutkan” di mana-mana, sama seperti ketika installment pertama yang terasa sekali perbedaan feel antara versi theatrical dan extended cut-nya. Well, apapun alasannya, semua adegan aksi yang tersaji di layar tidak berhasil memberikan greget yang sama seperti ketika saya menyaksikan versi extended cut installment pertama. Tidak hanya kurang greget, kebodohan dan ketidak-masuk-akalan pun terjadi di banyak bagian tapi kesemuanya masih bisa saya maklumi. Toh ini memang film action thriller murni dimana faktor ke-masuk-akal-an menjadi prioritas kesekian. Yang penting berhasil membuat penonton deg-degan ketika mengikutinya.

Di banyak bagian, T2 juga terasa begitu diskriminatif meski tidak secara eksplisit menunjukkan dentitas salah satu agama sebagai villain. Misalnya saja ketika  wanita-wanita berburqa yang menatap Kim sedang menyetir mobil dengan tatapn aneh. Belum lagi adegan sembarangan melempar granat seolah-olah penduduk Turki sudah biasa mendengar ledakan. Sebagai negara sekuler, Turki yang digambarkan di sini tentu berbeda dengan kenyataannya. Entah mengapa T2 seolah mengarahkan Turki seperti negara-negara Arab Saudi dengan berbagai atribut sosial-budayanya.

Lalu dengan plot yang biasa saja (sama halnya dengan installment pertama) dan greget adegan-adegan aksi yang menurun, apa yang tersisa? Ada satu bagian yang menurut saya sangat menarik dan jarang (atau mungkin malah belum pernah) ditampilkan dalam film bergenre spionase sebelumnya. Lihat bagaimana cara Bryan mengetahui kemana ia dan istrinya akan dibawa dan bagaimana ia mengarahkan Kim untuk menemukan kedua orang tuanya. That’s the most interesting part of the movie, in despite of its fact possibilities.

Anyway, T2 masih menghibur sebagai sebuah film action thriller namun tentu masih di bawah predesesornya dari berbagai segi dan dapat dengan mudah terlupakan dalam hitungan bulan.

The Casts

Liam Neeson masih mengusung kharisma yang masih tetap sama sebagai Bryan Mills. Tentu dengan tambahan faktor intelijensia ke dalam karakter, akan dengan mudah membuat penonton semakin kagum dengan Bryan Mills. Famke Janssen masih dengan porsi yang sama ketika di Taken dan tidak ada perkembangan karakter yang berarti. Sementara Maggie Grace diberikan porsi lebih yang menjadikannya lebih tangguh. Bukan tidak mungkin jika nanti dibuat sekuel berikutnya, karakter Kim menjadi side-kick Bryan yang lebih matang.

Sementara di jajaran para villain sama sekali tidak ada yang menarik. Jangankan penampilan para aktornya, kharisma karakter-karakternya saja sama sekali tidak ada yang membekas. Just random villain with Albanian faces. We don’t even need to care what they are capable of.

Technical

Tidak ada yang begitu menonjol di sisi teknis. Tata kamera, editing, sound effect, dan score kurang lebih masih sama dengan predesesornya. Kalaupun ada yang berbeda dan cukup menarik adalah pemilihan Istanbul, Turki yang eksotis sebagai setting lokasinya.

The Essence

Seringkali kita mendengar (atau malah mengalami sendiri) ada orang yang menuntut balas dendam kepada orang yang pernah menyakiti dirinya dan/atau orang-orang yang dikasihinya. Terlepas dari apa penyebab seseorang menyakitinya/orang-orang yang dikasihinya, emosional manusia seringkali membutakan realita maupun moralitas. Yang penting, saya tidak bisa lagi melihat kerabat saya yang sudah kamu bunuh. Jika hal ini terus-menerus berlangsung tanpa ada pihak yang let go, maka ‘lingkaran setan’ ini tidak akan pernah ada ujungnya. Dunia tidak akan pernah damai. So, I guess the true winner is not the one who can get his/her revenge, but the one who can forgive and forget of what’s happened to him/her. Toh semua orang juga pasti akan mati, bukan?

They who will enjoy this the most

  • Fanboy Bryan Mills
  • General audience who seek for an instant thrilling-action fun, even by ignoring any logic
Lihat data film ini di IMDb.
Lihat The Jose Past Review - Taken (2008)

Thursday, October 4, 2012

The Jose Movie Review
Rumah Kentang


Overview
Jose Poernomo boleh saja mendadak terkenal gegara film horor fenomenal yang sekaligus menjadi salah satu tonggak sejarah perfilman Indonesia era 2000-an lewat Jelangkung. Di proyek-proyek berikutnya, sineas yang juga kerap merangkap penulis skrip dan penata gambar ini masih dipercaya secara komersial hingga menelurkan franchise Pulau Hantu. Di tahun 2012, ia mencoba untuk kembali menghadirkan horor atmosferik yang telah lama hilang tertutup tren horor komedi erotik. Dengan trailer kedua yang begitu menjanjikan, penonton penikmat Jelangkung tentu berharap mengalami hal serupa ketika menyaksikan Rumah Kentang (RK).

Di sini Jose memasukkan beberapa referensi dari karya sebelumnya, misalnya boneka Jelangkung yang sama dengan di Jelangkung, alunan piano seperti di Tusuk Jelangkung, dan sosok hantu anak yang mengingatkan saya akan Turah. Legenda rumah kentang sendiri sebenernya juga sempat disinggung di film karya pertamanya itu. Oke, menarik nih. Jose seperti mengindikasikan bahwa RK berada pada universe yang sama dengan Jelangkung. Sayang, kali ini Jose berpijak pada skrip yang ditulis dengan sangat-sangat buruk dalam mewujudkan kerinduan penonton akan horor atmosferik khas-nya. Tak hanya plot haunted house yang sangat klise, mulai dari cerita yang sama sekali tidak berkembang, logika cerita yang seringkali menggelikan, dialog yang hanya berputar-putar, bertele-tele dan penjelasan yang tidak penting seolah penonton belum pernah menonton film horor sejenis sebelumnya (lebih parah lagi dilafalkan oleh Shandy Aulia seperti tugas drama sekolah), hingga kontinuiti adegan yang seringkali kacau, merusak segala production value yang sudah tertata dengan rapi. Saking parah kualitas skripnya, semua elemen horor yang biasanya berhasil di tangan Jose menjadi tidak menarik lagi bagi saya. Semuanya terasa melelahkan dan “menyiksa”.

At some point, saya menahan diri untuk tidak walk-out sebelum semuanya berakhir. Ada dalam diri saya yang masih menaruh kepercayaan kepada seorang Jose Poernomo bahwa mungkin saja ada twist cerita atau tampilan kejutan yang signatural disimpan di akhir film. Fantasi saya sempat berkembang liar akan kemungkinan kejutan-kejutan yang mungkin telah disiapkan Jose. Namun saya harus terima kenyataan bahwa tidak ada kejutan apa-apa hingga tulisan “Sebuah film karya Jose Poernomo” muncul.

Tentu ekspektasi yang terbangun dari reputasi Jose Poernomo dan trailer kedua sangat menjatuhkan efek hasil akhirnya ke penonton. Sekedar usul, mungkin lebih menarik jika mengangkat kisah the beginning dari legenda rumah kentang itu sendiri. Seperti The Ring Zero begitulah. Setidaknya saya sudah punya fantasi sadis untuk adegan penggorengan. Hmmmm...

The Casts

Mungkin karena sudah lama tidak bermain film layar lebar dan lebih sering bermain di sinetron Soraya yang ditayangkan Indosiar, akting Shandy Aulia sama sekali tidak berkembang. Jika Anda tidak menyukai aktingnya di Eiffel I’m in Love atau Apa Artinya Cinta, maka Anda juga tidak akan menemukan perbedaan kualitas akting pada peran Farah di sini. Dengan dialog yang bertele-tele dan tidak penting, semakin memperparah kualitas aktingnya. Kejutannya malah ada pada mantan penyanyi cilik Tasya Kamila yang ternyata berakting dengan sangat baik di sini. Tanpa banyak dialog, ia mampu mengekspresikan karakter Rika, adik Farah yang sedang tersiksa secara psikologis. Sayang porsi perannya tidak banyak dan tidak begitu signifikan dalam cerita.

Di deretan cameo seperti Daus OB, Ki Kusumo, dan Dokter Sonia Wibisono tidak begitu menarik maupun memberikan warna tersendiri dalam film. Malah Ki Kusumo bisa saja menyalahkan film ini jika kelak usaha jasa paranormalnya mengalami penurunan pelanggan secara drastis. Gilang Dargahari yang diberi peran lebih banyak pun sama-sama tidak berkesannya. Mungkin hanya Rina Rose yang berhasil meniupkan sedikit “hiburan segar” di tengah alur yang melelahkan.

Technical

Sama seperti sebelum-sebelumnya, Jose selalu unggul dalam hal teknis, terutama fotografi (apalagi dibekali kamera digital Red yang banyak dipakai film-film Hollywood di era digital ini) dan desain produksi. Ditambah sound effect yang begitu mantap terdengar dan penggunaan efek surround yang cukup efektif, setidaknya production value RK masih sangat patut diapresiasi.

Kekurangan lain yang turut memperburuk kualitas RK selain skrip adalah editingnya, baik gambar maupun suara dialog. Jangankan variasi editing yang kreatif, kontinuitas antar adegan yang kacau dan pergantian angle yang kasar masih sering terjadi sepanjang film. Perubahan volume dialog yang drastis pun beberapa kali terjadi. Terakhir, thrillng score-nya oke tetapi score dramanya terlalu berlebihan.

The Essence

Hmmmm... jika hanya mendapat warisan rumah yang terkenal angker, mending tinggal bersama tante, sanak-saudara, teman, atau mungkin pacar (yang kelihatannya kaya) daripada memaksakan diri tinggal di dalamnya. Mau nunggu terjual juga sampai kapan? Oh iya, kalau Farah memilih untuk tidak tinggal di Rumah Kentang, film ini juga tidak mungkin ada dong ya?! Terus nanti Jose Poernomo dan krunya makan apa? Kasihan tim artistiknya yang sudah capek-capek menata kentang-kentang di lantai terus membereskannya lagi... #mulaingelantur

They who will enjoy this the most  

  • Orang yang belum pernah menonton film horor sebelumnya
  • Penonton yang masih saja super penakut meski pernah menonton film sejenis
Lihat situs resmi film ini.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates