Galih dan Ratna

The Indonesia's very own romantic couple has been reborn to the millenial era.
Opens March 9. Read more.

Moammar Emka's Jakarta Undercover

The Jakarta's famous night life is going to be a hype one more time!
Read more.

Kong: Skull Island

The giant King Kong roars again!
Opens March 8. Read more.

Logan

Hugh Jackman to portray Wolverine for one last time.
Read more.

Beauty and the Beast

Disney to bring the classic magical animation to live action with Emma Watson!
Opens March 17.

Sunday, September 30, 2012

The Jose Past Review
Taken (2008)



Overview

2008 lalu, ada sebuah film produksi Perancis-UK-US yang mampu meraup dua ratus juta dolar lebih untuk peredaran worldwide-nya. Sebuah angka yang fantastis untuk film non-Hollywood berbudget “hanya” sekitar US$ 25 juta. Saya sendiri sebenarnya sudah memiliki DVD-nya (edisi extended-cut) sejak lama tetapi baru saya putar ketika mendengar kabar sekuelnya, Taken 2 akan dirilis 5 Oktober 2012 di Amerika Serikat nanti.

Dari trailernya, saya mengira Taken akan menyuguhkan action-thriller ala Jason Bourne, dipenuhi adegan aksi tangan kosong yang intense dan intrik cerita yang menarik. Well, ekspektasi yang cukup tinggi tersebut unfortunatelly membawa saya pada kekecewaan kecil. Sutradara Pierre Morel yang pernah menyutradarai From Paris with Love setelah film ini memang berhasil menyuguhkan adegan-adegan aksi tangan kosong (dan sedikit menggunakan senjata api) dari karakter utamanya, Bryan Mills, agen veteran yang menghalalkan segala cara demi menemukan dan menyelamatkan putrinya yang diculik oleh sindikat human-trafficker. Yes, that simple. Jika judul Man on Fire terbersit dalam benak Anda ketika mendengar premise-nya, mungkin iya. Tetapi menurut saya, baik dari segi stabilitas intens alur cerita dan gaya penyutradaraan masih kalah jauh dari Man on Fire.

Terlalu fokus untuk menghadirkan adegan-adegan aksi brutal (terutama bila Anda menyaksikan versi extended cut-nya) tidak memberikan cukup ruang untuk komplikasi cerita yang tidak hanya terlalu sederhana tetapi juga dengan mudah ditemukan plot hole di mana-mana. Begitu pula koneksi emosi antara karakter-karakter yang ada dengan penonton yang diabaikan begitu saja. Praktis, penonton tidak akan pernah bersimpatik terhadap apa yang dialami putri Bryan dan wanita-wanita lainnya yang menjadi korban human-trafficking. Penonton hanya akan sering meringis atau menutup mata melihat adegan-adegan brutal yang bertebaran sepanjang film. And for that purpose, Liam Neeson’s really kicking it. Belum pernah rasanya melihat performa Liam Neeson seberingas Kevin Bacon di Death Sentence. Terlepas dari apa saja yang bisa dan telah dilakukannya di layar, di mata saya raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ancaman keberingasannya. Sorry Neeson, your face ain’t as threatening as Bacon’s.

Overall, Taken memang hanyalah film hiburan ringan yang harus mengabaikan banyak logika untuk bisa dinikmati. Style film pun tidak ada yang benar-benar unik atau beda. Aksi Liam Neeson-lah yang menjadi daya tarik sepanjang film. Terakhir, tentu saja siapa pun yang pernah menyaksikannya akan selalu mengingat adegan penyiksaan Bryan terhadap Marko. Bagaimana dengan Taken 2 yang katanya memiliki cerita berbalik, salah satu anak dari sindikat yang dibunuh Bryan balik menuntut balas kepada Bryan dan keluarganya? Dengan sutradara Olivier Megaton yang pernah menggarap Transporter 3 dan Colombiana, saya mengharapkan film yang setidaknya lebih stylish dan alur yang lebih intense daripada predesesornya.

The Casts

Liam Neeson praktis menjadi satu-satunya aktor yang paling mencuri perhatian sepanjang film. Famke Janssen, Magie Grace, dan Olivier Rabourdin seharusnya bisa lebih memperkaya film jika diberi peran yang lebih oleh skrip. Sayang, kesemuanya harus tampak biasa saja tanpa kedalaman karakter apa-apa. Apalagi biduan yang namanya sekarang sudah nyaris tak terdengar, Holly Vallance yang tak lebih dari sekedar pemanis atau cameo saja.

Technical

Sinematografi dan editing mempunyai andil yang paling besar dalam berbagai adegan aksi brutal meski juga tidak begitu unik. Sementara sound effect juga terdengar biasa saja, tidak ada yang begitu spektakuler mengingat aksinya juga lebih banyak melibatkan tangan kosong dan sesekali senjata api. Cukup disayangkan pula score-nya absen dalam memberikan efek thrilling.

The Essence

You don’t know how far a father would go to save his daughter/son, especially if he’s a skillfull one.

They who will enjoy this the most

  • General audience who loves brutal bare-handed fights
  • Action-thriller fan 
Lihat data film ini di IMDb.




Thursday, September 27, 2012

The Jose Movie Review
Premium Rush



Overview

Agak terkejut juga ketika baru mendengar ada film berjudul Premium Rush (PR) kurang dari tiga bulan sebelum tanggal rilis. Padahal dengan tema yang jarang disentuh, bintang yang sedang bersinar-bersinarnya, Joseph Gordon Levitt, dan sutradara/penulis skenario David Koepp (penulis skenario untuk film-film sekelas Spider-Man, War of the Worlds, Mission: Impossible, Carlito’s Way, Jurassic Park, dan The Lost World : Jurassic Park), PR jelas punya daya tarik yang cukup tinggi untuk dijual. Apalagi distributornya adalah Sony Pictures yang terkenal paling getol mempromosikan film-filmnya secara besar-besaran. Koq buzz-nya nyaris tak terdengar ya?

Pertanyaan tersebut terjawab setelah menyaksikan filmnya secara langsung. Tidak, PR sama sekali tidak buruk. Namun tidak bisa disangkal pula bahwa PR memang tidak dibuat untuk menjadi film besar. Let’s say, Sony Pictures melakukan penyegaran dengan sesuatu yang sedikit berbeda di tengah gempuran film-film aksi yang modal utamanya visual effect CGI dan dengan tujuan tersebut, Sony Pictures bisa dibilang cukup berhasil.

Plot yang ditawarkan sebenarnya sangat sederhana dan sudah sering sekali diangkat dalam film, misal saja yang paling terkenal di era 2000-an Transporter-nya Jason Statham : seorang pengantar paket bersepeda harus berurusan dengan berbagai pihak yang memperebutkan barang yang diantarnya. Namun kreatifitas Koepp yang merangkai alur non-linear berhasil membuat PR terasa lebih menarik untuk diikuti. Setidaknya penonton akan dibuat penasaran dan kerap berujar, “lho koq bisa begitu? Bagaimana ceritanya?”. Ya, meski sebenarnya penjelasan-penjelasannya pun termasuk biasa saja, tetap saja sempat membangkitkan rasa penasaran sejenak. Soal perkembangan karakter, well nyaris tidak ada yang begitu berarti. Mungkin itu yang membuat PR meski enjoyable namun terkesan biasa saja dan easily forgotten.

Selain aksi stunt yang ternyata jumlahnya tak banyak, bagi banyak penonton adegan kejar-kejaran di tengah belantara lalu lintas New York mungkin adalah hal yang paling ditunggu-tunggu, bahkan alasan paling utama untuk menyaksikan PR. Untuk ekspektasi demikian, I assure you, you’ll get it. Saya sangat menikmati tegangnya menggowes sepeda fixie yang disajikan sepanjang film di tengah kekhawatiran munculnya mobil-mobil dari berbagai arah, pintu mobil yang mendadak terbuka, hingga menabrak pejalan kaki. Ditambah lagi visualisasi analisis opsi rute dari sudut pandang Wilee yang menambah kekhawatiran penonton. Kesemuanya ini disajikan dengan porsi yang menurut saya, pas. Koepp tidak terlalu serakah menghabiskan porsi aksi kejar-kejaran sepanjang film yang justru bakal berpotensi membosankan. Ada kalanya Koepp menggantinya dengan visualisasi ala map di smartphone yang cukup keren sebagai variasi. Pun dengan porsi yang demikian, Koepp hanya menginjeksikan adrenaline rush yang efeknya tidak begitu keras. Just average.

Overall, PR memang dibuat sebagai film mediocre sederhana yang mengajak penonton bersenang-senang sejenak dengan suguhan adrenaline rush-nya. Just enjoy the ride!

The Casts

Joseph Gordon Levitt memang sedang menjadi sorotan di Hollywood pasca sukses menjadi langganan Christopher Nolan lewat Inception dan The Dark Knight Rises. Di sini he acted just fine karena memang tidak banyak tuntutan karakter dari skrip. Dengan pembawaan yang santai dan cool, JGL cocok-cocok saja mengisi peran utama di sini. Begitu juga Danie Ramirez yang sebelumnya pernah mencuri perhatian di American Reunion, X-Men The Last Stand, dan serial Heroes, tampak cukup keren di layar dengan tampilan fisik berotot (tapi seksi)-nya.

Karakter yang sebenarnya paling menarik bagi saya justru karakter antagonisnya, Bobby Monday yang diperankan Michael Shannon. Karakter antagonis yang menyebalkan, licik, tapi tidak begitu punya skill untuk head-to-head dengan karakter hero-nya, dimainkan dengan baik oleh aktor yang menurut saya wajahnya mirip Willem Dafoe ini.

Technical

Keunggulan utama yang menonjol di sini tentu saja visualisasi yang mampu memompa adrenaline penonton seolah berada pada sudut pandang Willee yang sedang mengayuh sepeda fixie. Tak ada tembak-tembakan, ledakan, maupun visual special effect CGI, namun justru adegan aksi sederhana seperti ini yang berhasil memompa degup jantung Anda lebih cepat. Belum lagi editing yang efektif menambah pace ketegangan. A very good job for this purpose.

Sementara divisi sound effect tidak banyak memberikan kontribusi penting. Entah karena faktor theatre tempat saya menonton atau memang aslinya seperti itu, suara-suara yang dihasilkan sepanjang film kurang terasa menggelegar. Efek surroundnya pun hanya terasa beberapa kali, seperti misalnya suara lesatan sepeda-sepeda yang berputar. Beruntung score dan pilihan soundtracknya ternyata cukup memuaskan untuk mendukung tensi yang sudah tercapai secara visual.

The Essence

Brakes are death. Begitu ujar Wilee, karakter utama kita. Di saat pengendara lain memilih sepeda dengan rem dan gear, Wilee malah memilih sepeda fixie yang meniadakan dua fungsi tersebut. Tak hanya dalam hal bersepeda, gaya hidup Wilee digambarkan tak beda dengan pilihannya tersebut. Baginya, keraguan yang kerap membuat kita berhenti sejenak seringkali justru “membunuh”. Pola pikir dan analogi yang menarik meski saya tak sepenuhnya setuju. Ada kalanya kita harus settle down dan berstrategi sebelum melakukan sesuatu. Ingat, nekad itu bukan skill, kata Manny.

They who will enjoy this the most

  • Bike riders, especially fixed-gear (fixie)
  • General audience who seeks for a fun temporary adrenaline rush
  • Pengguna jalan raya yang senang melihat pengendara lain ugal-ugalan dan tidak akan mengklakson atau mengumpat mereka
Lihat data film ini di IMDb.







Sunday, September 23, 2012

The Jose Movie Review
Rayya - Cahaya di Atas Cahaya



Overview

Film bertemakan road trip selalu menarik perhatian saya. Mungkin karena saya sendiri memang lebih menikmati jalan darat jika bepergian ke kota lain. Saya sangat menikmati melihat-lihat sekeliling, melihat hal-hal baru, kebiasaan-kebiasaan dan budaya-budaya baru. Sungguh menyenangkan. Bukan tidak mungkin pula ada banyak yang bisa saya renungkan, analisis, maupun pelajari dari perjalanan tersebut. Dalam film, road trip kerap diangkat untuk mengembangkan hubungan antar karakter, misalnya di Little Miss Sunshine dan dari dalam negeri ada Punk in Love, atau untuk menemukan jati diri, misalnya 3 Hari untuk Selamanya. Tema road trip memang masih sangat jarang diangkat oleh sineas kita. Padahal dengan modal kekayaan alam maupun budaya yang dimiliki bangsa ini, tema road trip seharusnya menarik untuk selalu diangkat. Meski dengan premise yang mirip atau sama, dengan background lokasi yang berbeda jatuhnya masih bisa menarik.
Rayya – Cahaya di Atas Cahaya (RCAC) adalah tipikal film road trip yang menggabungkan dua tujuan tersebut. Rayya, seorang bintang papan atas yang bisa dibilang memiliki segalanya namun tidak merasakan kebahagiaan. Rayya lantas dipertemukan dengan karakter wise-ass yang ternyata juga memiliki problematika hidup sendiri, Arya. Sepanjang perjalanan Jakarta-Bali, terjadilah perang mulut dan adu argumentasi tentang berbagai aspek kehidupan, misalnya tentang asmara, agama yang dianalogikan dengan menanak nasi di rice cooker, dan kebahagiaan. Dialog-dialog di antara keduanya menjadi menarik karena masing-masing memiliki tingkat intelijensia yang sama tingginya. Viva Westi, penulis skenario sekaligus sutradara RCAC dengan piawai menyusun topik-topik yang dibahas sehingga sepanjang film tidak pernah menyentuh titik jenuh. Ditambah dengan pemilihan kalimat-kalimat bersajak khas Emha Ainun Najib semakin memperindah tiap dialog yang terucap dari karakter-karakternya. Tidak perlu takut RCAC menjadi tontonan yang berat dengan dialog yang susah dicerna. Meski bergaya sajak namun dialog-dialog yang ada sangat mudah dimengerti dan tidak berusaha sok puitis. Bahkan terbaiknya, melalui bibir Rayya dan Arya, dialog-dialog yang teatrikal tersebut sangat terdengar wajar sebagai percakapan sehari-hari, kadang menohok, kadang kocak. Mungkin susah untuk mengingat persis semua dialog-dialog yang digelar, tapi setidaknya Anda akan terus mengingat esensi-esensinya.
Selain dialog antara Rayya dan Arya yang menjadi nyawa utama RCAC, Viva tak lupa membubuhkan adegan-adegan interaksi antara Rayya dan penduduk setempat dari tiap lokasi yang dilewatinya, yang semakin menguatkan jawaban tentang apa yang dicari oleh Rayya dalam hidup. Memang, masing-masing adegan interaksi Rayya-penduduk ini tidak langsung mengena dalam benak saya. Namun ketika Rayya menyampaikan epilog dimana ia mengkompilasi semua pengalaman-pengalamannya tersebut, menjadi sebuah perenungan yang menggugah hati saya sekaligus menjadi potret watak bangsa kita yang tinggal di luar kota besar.
Bagi yang mengharapkan keindahan panorama-panorama sepanjang perjalanan, tentu saja Anda akan sangat dimanjakan. Tetapi Viva hanya secukupnya saja mengeksploitasi keindahan panorama-panorama tersebut. Dalam satu wawancara, Viva mengaku memiliki banyak sekali stock gambar yang menonjolkan keindahan panorama namun tidak memasukkan semuanya agar fokus pada perkembangan cerita, baik perkembangan kepribadian Rayya maupun hubungan antara Rayya dan Arya tetap terjaga. Harus diakui Viva memang berhasil mencapai tujuan tersebut tanpa mengorbankan keindahan panorama yang mau tak mau juga ikut menjadi daya tarik RCAC.
Tentu keberhasilan di berbagai aspek tidak lantas membuat RCAC tampil sempurna. Satu hal yang janggal adalah urutan lokasi yang dilewati sepanjang alur film. Misalnya ketika sudah sampai di Kawah Ijen, di beberapa adegan berikutnya ternyata kembali berpindah ke Jawa Tengah dengan adegan di pabrik rokok kretek. Bagi yang tidak mengerti rute Jakarta-Bali yang sebenarnya tidak akan jadi masalah. Toh, sepanjang film juga tidak ditampilkan keterangan tempat dan waktunya. Akan tetapi bagi yang mengerti rutenya, apalagi yang seringkali menempuh rute tersebut tentu cukup mengganggu kenyamanan menonton meski tidak akan mengganggu alur cerita sama sekali.

The Casts

Sepanjang film tentu chemistry yang terjalin antara Titi Sjuman dan Tio Pakusadewo sangat terasa nyata dan konstan. Penonton dapat merasakan kedekatan secara bertahap antara keduanya, entah itu sebagai dua pribadi yang saling menemukan apa yang dicari dalam hidup maupun sebagai pasangan asmara. Sebagai Rayya, Titi Sjuman yang memiliki kecantikan unik khas Indonesia terasa sangat pas sekali. Emosinya yang meledak-ledak mungkin terasa berlebihan dan seringkali dialog yang disampaikannya ketika puncak emosi tidak terdengar jelas, namun secara keseluruhan berhasil menghidupkan karakter Rayya yang cerdas, labil, dan dalam tahap menemukan kebahagiaan hidup. Sementara Tio Pakusadewo sudah tidak perlu diragukan lagi dalam menampilkan kharisma kedewasaan yang di satu sisi terkesan wise-ass dan mellow di sisi yang lain.
Di lini pemeran pendukung, terutama tim di balik pembuatan biografi Rayya juga cukup berhasil memberi warna tersendiri. Lucu, unik, namun tidak berlebihan. Ada nama Verdi Solaiman, Tino Saroengallo, Sapto Sutarjo, dan lain-lain. Cameo-cameo yang turut meramaikan juga tampil cukup mencuri perhatian, terutama Christine Hakim yang kharismanya tetap bersinar meski hanya punya satu scene.

Technical

Sebagai sebuah film road trip, tentu sinematografi menjadi kekuatan yang haram untuk diabaikan.  Beruntung Rachmat Syaiful berhasil menangkap aneka keindahan panorama maupun budaya di kota-kota yang dilewati dan dikunjungi. Jangan terkecoh oleh posternya yang ala instagram karena sepanjang film, tone warna yang digunakan justru cukup kontras dan berwarna-warni tajam. Contoh yang paling jelas adalah kostum merah Titi Sjuman yang disandingkan di belantara hijau sawah. Penggunaan medium rekam seluloid 35 mm di tengah tren digital menjadikan gambar-gambar RCAC lebih membumi dan alami meski harus mengorbankan  munculnya noise di beberapa adegan gelap.
Keindahan juga menjadi milik tata artistik termasuk tata kostum Titi oleh  Musa Widyatmodjo yang terkesan sangat couture dan stylish, sesuai dengan profesi Rayya yang seorang model.
Terakhir, score yang digubah oleh Aksan Sjuman (suami Titi Sjuman yang sekaligus turut menjadi cameo di film) mampu menyatu dengan adegan-adegan, misalnya melalui alunan country sederhana yang sangat cocok untuk tema road trip meski tidak begitu memorable.

The Essence

Hidup adalah sebuah perjalanan dimana manusia akan menjumpai banyak hal yang mempengaruhi pola pikir dan perilaku. Sama seperti sebuah perjalanan darat dari satu tempat ke tujuan lain, terutama yang melewati jalan darat yang memungkinkan kita untuk berhenti dan melihat banyak hal di sepanjang jalan. Kita tidak perlu sengaja mencari (apa yang dicari dalam hidup/dalam perjalanan) karena dengan sendirinya kita akan selalu menemukan hal baru, “bunuh diri”, dan menjadi pribadi yang baru, begitu seterusnya.

They who will enjoy this the most

  • Road trip enthusiast dan traveller
  • Penggemar sastra, teater, dan semiotika
  • Pecinta sacasm
  • Fotografer, terutama panorama dan outdoor
  • Individu galau yang baru putus dan belum bisa move on/let go

 Lihat situs resmi film ini. 

Thursday, September 20, 2012

The Jose Movie Review
Ted


Overview

Publik Amerika Serikat mengenal Seth MacFarlane melalui animasi fenomenal Family Guy dan American Dad dimana ia bertindak selaku penulis cerita sekaligus produser. Ted merupakan proyek layar lebar pertamanya yang bergaya tak beda jauh dari serial-serial animasi tersebut; kasar, penuh guyonan dan referensi seks, umpatan-umpatan, serta materi-materi dewasa lainnya. Namun kesemuanya disajikan dengan humor cerdas. Tak hanya itu, MacFarlane pun memboyong Mila Kunis dari Family Guy untuk meramaikan persahabatan antara seorang pria berusia 35 tahun dan boneka teddy bear hidup miliknya, hasil dari ‘wish upon a star’ ketika berusia 8 tahun.

15 menit awal mungkin Anda akan merasa aman-aman saja karena Ted tampak seperti film Natal keluarga yang manis dan indah. Namun ini bukanlah dongeng ‘wish come true’ untuk anak-anak. Konflik yang sesungguhnya terjadi ketika sang anak telah beranjak dewasa dan hal yang sama ternyata juga dialami si boneka teddy bear bernama Ted.

Kelucuan demi kelucuan muncul dari tingkah laku Ted yang kontras dengan perilakunya ketika masih kecil. Tak hanya nakal, Ted rupanya cukup cerdas dalam berkelakar dan sangat gaul akan budaya populer mulai dari era 80’an hingga kini. Di sinilah MacFarlane memanfaatkan semaksimal mungkin tiap kesempatan untuk menuangkan guyonan-guyonan gilanya. Ia seolah menyalurkan setiap kepribadiannya ke dalam karakter Ted. No wonder, MacFarlane sendiri yang mengisi suara sekaligus menjadi aktor di balik teknik motion-capture untuk menghidupkan karakter Ted. Yes, as a CG character, Ted was so alive and loveable.

Tak hanya berhasil membuat penonton terpingkal-pingkal secara konstan dari awal hingga akhir film dengan mengumbar adegan-adegan kurang ajar dan tak senonoh (jika Anda mengerti maksud guyonannya), MacFarlane juga sangat berhasil dan rapi dalam menyusun perkembangan multi plot yang berjalan linear secara seimbang sekaligus berkaitan satu sama lain. Tak ada adegan yang terasa dragging atau bertele-tele. Jika ada yang merasa bosan, itu lebih disebabkan ia sudah terlanjur terbiasa dengan gaya bertutur Hollywood akhir-akhir ini yang selalu terburu-buru ditambah lagi tidak mengerti maksud guyonan-guyonannya, padahal sebenarnya Ted bertutur dengan natural dan santai. Memang ada beberapa dialog yang terasa ‘basa-basi’ tapi masih dalam batas toleransi dan justru terasa natural untuk percakapan sehari-hari. Pun Ted juga punya beberapa momen menyentuh antar karakter utamanya, John-Ted-Lori. Both romance and bromance.

Well, jika Anda rindu tertawa terbahak-bahak di studio bioskop, Ted adalah film yang tidak boleh Anda lewatkan begitu saja. Apalagi jika Anda termasuk gaul dalam hal film dan budaya-budaya pop Amerika era 80-an hingga kini, it will be the most amusing entertainment since… I don’t know since when.

The Casts

Mark Wahlberg yang selama ini image-nya lebih banyak ke action hero kali ini berhasil mengeluarkan sisi kanak-kanak dalam dirinya. Aktingnya sebagai pria 30 tahunan yang masih bertingkah seperti anak-anak sangat meyakinkan. Mila Kunis pun bisa mengimbangi selera humor Wahlberg sehingga chemistry antara keduanya sangat kuat dan menjadikan mereka berdua pasangan yang tampak begitu serasi dan sweet.

Penampilan favorit saya berikutnya adalah narator yang ternyata diisi oleh aktor senior Patrick Stewart. Di balik suara berwibawanya yang khas film-film science fiction, ia turut berhasil menghembuskan nafas komedik di dalamnya. In matter of fact, kebanyakan dari guyonan favorit saya di film ini berasal dari celetukan sang narator, bahkan pada kalimat terakhir dari epilog. You could be hilarious too, Prof. Xavier!

Sebagai bonus yang sangat menghibur, MacFarlane juga mengundang beberapa selebriti Hollywood menjadi cameo, seperti si Flash Gordon, Sam Jones, Tom Skerritt dari Top Gun, biduan jazz berinisial NJ,  serta yang paling mengejutkan aktor ternama berinisial RR (sumpah, saya sangat terkejut dan langsung ngakak sekeras-kerasnya ketika ia muncul di layar).

Technical

Tentu tampilan boneka Ted yang begitu hidup menjadi daya tarik utama yang digarap dengan sangat baik. Awalnya saya bertanya-tanya, teknik apa yang digunakan di sini untuk menghidupkannya; apakah menggunakan robot elektronik seperti dinosaurus-dinosaurus di Jurassic Park III atau motion capture seperti Gollum di franchise Lord of The Rings. I have told the answer previously in the overview section.

Keunggulan lainnya yang begitu terasa adalah score yang cukup bervariasi. Mulai dari suasana holiday-joy ala Christmas hingga yang  menyayat bak film thriller, semuanya berhasil ditempatkan dengan sangat baik. Tak serakah menyelipkan score di setiap bagian, keheningan justru kerap dihadirkan untuk kebanyakan adegan yang lebih menekankan pada dialognya. Sebuah keputusan yang efektif sehingga tak mau terlalu berlarut dalam drama namun tetap bisa menyentuh.

Terakhir, editing yang dinamis bak music video di beberapa adegan menambah kegokilan Ted.

The Essence

Ada sebuah quote berbunyi, “tua itu pasti, dewasa itu pilihan.” Ya, kedewasaan seseorang (terutama seorang pria) bisa dilihat dari bagaimana ia mengambil keputusan-keputusan dalam hidupnya. Pria dewasa berani membuat keputusan dan bertanggung jawab penuh atas segala konsekuensi yang ditimbulkan dari pilihan tersebut. No, you don’t need a miracle to be a mature man, it’s in yourself (through choices you make).

They who will enjoy this the most

  • Penikmat komedi gila-gilaan tidak senonoh.
  • Penggemar Family Guy dan/atau American Dad.
  • Mereka yang cukup referensi tentang budaya populer Amerika dari era 80-an hingga 2000-an, terutama penggemar Flash Gordon, Star Wars, dan Top Gun.
  • Penyuka drama romantis yang tidak picisan tapi tetap sweet.
  • Mereka yang gemar mem-bully The Twilight Saga.

Academy Awards 2013 Nominees for :

  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Song

Lihat data film ini di IMDb.

Sunday, September 16, 2012

The Jose Movie Review
The Watch

Overview

Tak banyak yang berani menyandingkan genre sci-fi dengan komedi. Dalam ingatan saya, hanya ada judul Mars Attacks!, Evolution, dan terakhir Paul yang terbersit. Special mention untuk Men in Black yang lebih berat ke action ketimbang komedi. Ditambah dengan ensamble cast komedian-komedian Hollywood favorit saya; Ben Stiller, Vince Vaughn, dan Jonah Hill, tanpa pikir panjang segera saja The Watch (TW) mengisi daftar wajib tonton meski banyak review negatif di mana-mana. I mean what's the worst these gank could have been?  

Entah kenapa 20th Century Fox tampak tak begitu banyak melakukan promosi untuk film yang awalnya berjudul Neighborhood Watch ini. Bisa jadi karena terkait kasus penembakan Trayvon Martin yang dilakukan seorang kapten neighborhood watch di Florida yang akhirnya juga membuat studio mengganti judulnya. Padahal dengan ensamble cast seperti itu, nama Seth Rogen di salah satu penulis naskahnya, dan rating R yang disandangnya sudah cukup menjadi faktor pengundang penonton.

TW memang memiliki premise utama sci-fi (alien) namun sebenarnya invasi alien hanya dijadikan background cerita. Fokus utama cerita justru pada bagaimana perilaku karakter-karakter utamanya dalam menghadapi alien-alien. Malah delapan puluh persen guyonan-guyonan yang disuguhkan adalah humor seks dan kata-kata kotor, sisanya Anda akan diajak untuk mentertawai aneka perilaku manusia yang tergambar melalui karakter-karakter utama. The good is hampir kesemuanya berhasil membuat saya terbahak-bahak di dalam studio. Bahkan tertawa saya di sini lebih keras dibandingkan ketika menonton 21 Jump Street yang juga dibintangi Jonah Hill.

Sayang, porsi humor yang ditampilkan tidak konstan merata di sepanjang film. Ada kalanya film terlalu serakah dalam menyampaikan (baca : menyindir) poin-poin serius sehingga lupa kodrat utamanya sebagai film komedi. Ada banyak kesempatan yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk diselipi aneka humor baik berupa celetukan dialog maupun tingkah laku namun pada akhirnya terlalu asyik ber-drama ria. Permasalahan demi permasalahan tersebut disusun secara langsung berurutan sehingga terasa bertele-tele dan parahnya lagi tak satupun tampil menyentuh maupun mendalam. Kesannya cuma tempelan dan hanya berniat menyentil tanpa memberi efek apa-apa. Bagi penonton yang sudah terlebih dulu mengharapkan cerita sci-fi murni mungkin malah akan merasa subplot-subplot ini tidak nyambung dan tidak penting.

Untung saja menjelang klimaks hingga akhir, TW berhasil menaikkan sisi komedi maupun aksi sci-fi dengan porsi yang pas sehingga ekpektasi penonton yang mengharapkan cerita sci-fi, action, dan komedi cukup terbayarkan.

Di balik kelebihan dan kekurangannya, bagi saya TW sangat sayang untuk dilewatkan apalagi jika Anda menikmati humor-humor seks dan mengerti bahasa-bahasa slang Amerika. Sekedar saran, jangan terpaku pada subtitle Bahasa Indonesia-nya yang terlalu ‘sopan’ dan mengurangi efek kelucuannya. Memang plotnya tak sebaik Paul yang cerdas dan unsur sci-fi-nya sangat kental, namun karakter-karakter berkelakuan ajaib di sini lebih dari cukup untuk menghibur dan berkesan (bagi saya lho...).

The Casts

Keempat karakter utama diisi oleh aktor-aktor yang memiliki ciri khas tersendiri dalam membawakan peran komedik dan itu menjadi modal yang sangat kuat untuk TW. Ben Stiller boleh menjadi aktor utama namun penampilannya di sini tidak semenonjol karakter-karakter lainnya. Sisi komediknya masih terletak pada keluguan ekspresi wajahnya ketika menjadi bahan bercandaan orang lain, sisanya ia lebih banyak berakting serius ketimbang anggota gank lainnya maupun karakter-karakter yang pernah ia mainkan sebelumnya.

Sementara Vince Vaughn dan Jonah Hill masih memerankan karakter yang tidak jauh berbeda dengan tipikal peran-peran mereka sebelumnya, misalnya Vince Vaughn di Dodgeball dan Jonah Hill di 21 Jump Street.

Dari keempat karakter utama, yang paling menonjol justru Richard Ayoade yang ternyata memang belum banyak membintangi film. Aktor Inggris yang angkat nama lewat serial The IT Crowd ini berhasil stand out ketimbang karakter-karakter utama lainnya berkat keunikan pembawaannya. Tanpa banyak bicara atau overacting, kelucuan alaminya keluar begitu saja. He just have that comedic charm.

Di luar karakter utama, Billy Crudup tampil mengesankan berkat karakter Paul, tetangga yang tak kalah unik dan creepy-nya.

Technical

Meski tema sci-fi hanya menjadi latar belakang cerita namun TW tak mau main-main menggarap special effectnya. Tampilan alien, transmitter, hingga adegan-adegan ledakan digarap dengan mumpuni, sekelas Men in Black lah. Tak hanya visual effect tetapi juga sound effect yang terdengar dahsyat, crisp, namun tetap jernih.

The Essence

Ada banyak sekali sindiran yang disampaikan sepanjang film yang patut menjadi pemikiran bagi penonton, terutama bagaimana concerned citizen saat ini ironisnya lebih banyak menjadi bahan tertawaan oleh masyarakat umum. Ketidak pedulian dan individualisme justru dianggap sikap yang lebih wajar.

TW juga mengolok-olok perilaku manusia, mulai sikap sok pintar, sok tahu, dan sok keren bak film-film Hollywood meski akhirnya malah tampak bodoh, sikap mudah menuding orang lain padahal ia sendiri melakukan hal yang sama jika dihadapkan pada kasus yang sama atau serupa (dalam kasus ini, antara kewajiban dalam keluarga dan dalam masyarakat), seseorang tanpa teman yang berusaha eksis dengan membentuk kelompok-kelompok, hingga betapa jauh fantasi seseorang akibat dari kecurigaan terhadap orang lain yang tidak disukainya.

They who will enjoy this the most

  • Penggemar komedi seks dan kata-kata kotor, apalagi jika Anda mengerti bahasa Inggris slang tanpa perlu membaca subtitle Bahasa Indonesia yang terlalu sopan dan terlalu ilmiah.
  • Penonton yang menganggap humor-humor Ben Stiller, Vince Vaughn, dan Jonah Hill lucu.
  • Penonton yang gemar mentertawai perilaku-perilaku manusia di sekitarnya.
  • Nonton rame-rame bersama gank gila-gilaan lebih nikmat.
 Lihat data film ini di IMDB.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates