Sweet 20

Tatjana Saphira to perform young Niniek L. Karim in South Korea's hit remake.
Opens Lebaran 2017.

Jailangkung

Rizal Mantovani and Jose Purnomo to pass-on the Jailangkung mythology.
Opens Lebaran 2017.

Surat Kecil untuk Tuhan

Bunga Citra Lestari starred in a child-abuse awareness tearjerker based on Agnes Davonar's best seller novel series.
Opens Lebaran 2017.

Mantan

Gandhi Fernando to find his soul mate out of five fabulous exes.
Read more.

Transformers: The Last Knight

Michael Bay to put the dino-bots back to the world for another mission.
Opens June 21st.

Tuesday, August 28, 2012

The Jose Movie Review
Tanah Surga... Katanya

Overview

Deddy Mizwar dengan rumah produksinya, Citra Sinema (sebelumnya bernama PT. Demi Gisela Citra Sinema) tergolong rajin memproduksi film-film satir yang mengkritik (baca: mengolok-olok) berbagai permasalahan bangsa dan terutama perangkat pejabat negeri ini. Sebelum ini sudah ada Nagabonar Jadi 2, Alangkah Lucunya (Negeri ini), dan Kentut. Bagi banyak orang terasa begitu “cerewet” tanpa memberikan solusi yang kongkrit, namun begitulah gaya film-filmnya. Alih-alih menawarkan solusi, film-filmnya lebih mengajak untuk membuka mata penontonnya dan mungkin, merefleksikannya. Saya pribadi menyukai Nagabonar Jadi 2, namun pengalaman terakhir, Kentut, menurut saya memiliki potensi premise yang menarik namun digarap dengan sangat mentah, terutama di ending, membuat saya ragu akan karya terbarunya ini.

Sebelumnya, abaikan posternya yang terlihat begitu melankolis dan cengeng, karena nyatanya ini adalah film yang ceria, memberikan harapan, dan tetap menyentuh dengar porsi yang pas. Sejak film dibuka, keraguan saya akan kualitas Tanah Surga… Katanya (TSK) perlahan sirna. Mengangkat cerita penduduk Indonesia di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat, alur TSK mengalir dengan baik dan natural. Konflik serius tentang nasionalisme dibidik dari sudut pandang sederhana seorang anak kelas 4 SD, Salman. Ia berada di tengah-tengah pengaruh kakeknya yang mempertahankan jiwa nasionalisnya berkat pengalaman konfrontasi Indonesia-Malaysia tahun 1965 dan ayahnya yang memilih realistis pindah ke Malaysia demi keadaan perekonomian yang lebih baik. Film berfokus pada kejadian demi kejadian yang dialami Salman yang akhirnya mempengaruhi pola pikir kritis (namun polos)-nya tentang keadaan sekitarnya.

Seiring dengan itu, ada pula subplot karakter-karakter pendukung yang turut menguak fakta-fakta ironis yang terjadi pada warga desa di perbatasan tersebut. Sayang subplot-subplot tersebut dibiarkan tanpa konklusi yang jelas, sehingga terkesan hanya sebagai bumbu pelengkap, misalnya subplot hubungan asmara antara dr. Anwar dan Astuti. Menjelang akhir sebenarnya ada adegan yang cukup kuat sebagai ending dimana karakter Salman sudah menentukan pilihan nasionalisnya. Namun rupanya cerita ingin menuntaskan permasalahan pribadi Salman yang ternyata mampu mempertegas ironis kekontrasan antara yang memilih untuk tetap bertahan di Nusantara dan yang “berbelok” ke negeri tetangga.

Beberapa product placement sponsor sebenarnya sedikit mengganggu keindahan visual. Akan tetapi masih tergolong halus dan blending dengan plot. Kekurangan-kekurangan tersebut berhasil ditutupi oleh kekuatan beberapa adegan yang digarap dengan sangat kuat dan menggetarkan, termasuk endingnya, dan tentu saja desain produksi yang luar biasa.
TSK adalah paket yang menghibur, membuat bangga sebagai bangsa Indonesia, sekaligus miris dengan keadaan warga di situ. Memang tak menawarkan solusi kongkrit akan permasalahan yang ada, namun terasa sangat kuat bagi penonton (khususnya saya) untuk merefleksikan apa yang tersaji di layar.

The Casts

Pemilihan cast tampak dilakukan dengan sangat selektif, terbukti dengan aktor-aktor yang tampil maksimal sesuai dengan porsi masing-masing, termasuk untuk peran-peran pendukung dan figuran. Pujian terutama patut dialamatkan kepada Osa Aji Santoso, pemeran Salman. Di usianya yang masih anak-anak, ia mampu menunjukkan kualitas akting yang sangat menjanjikan dan natural walau beban pemeran utama yang cukup berat.

Ringgo Agus Rahman masih memerankan karakter komedik yang sudah menjadi tipikalnya. Namun kali ini diimbangi dengan sisi serius sesuai perannya yang adalah seorang dokter. Astri Nurdin yang belum lama ini memerankan ibu Amelia di Ambilkan Bulan mengisi peran yang lebih banyak dan berhasil tampil loveable sebagai Ibu Guru Astuti. Terakhir, Fuad Idris tampil kharismatik sehingga jiwa nasionalis-nya terasa begitu kuat.

Di lini pemeran pendukung, yang tampil menarik adalah Muhammad Rizky, pemeran Lized, teman Salman yang seringkali menjadi sumber komedi berkat kepolosannya.

Technical

Semua segi teknisnya memiliki kualitas yang luar biasa, apalagi untuk ukuran film Indonesia. Pertama-tama, sinematografi yang tak hanya berhasil merekam gambar-gambar indah meski menampilkan kekontrasan keadaan sisi Indonesia dan Malaysia, namun juga kualitas detail yang mengagumkan. Bahkan pada adegan gelap (di danau malam hari, misalnya), tingkat kepekatan hitam-nya begitu solid, tak ada noise yang terlihat.

Segi audionya turut mencengangkan saya. Kejernihan suara dan pembagian kanal surround yang dimanfaatkan secara maksimal menjadikan TSK pengalaman sinematik yang luar biasa jika disaksikan di gedung bioskop dengan fasilitas audio yang memadai. Salut pula untuk score-score yang mengalun indah dan megah yang diisi oleh kelompok orkestra dari China. Jujur, score lah yang paling membangun aura sepanjang film.

The Essence

Ada percampur-adukan perasaan dalam diri saya sepanjang film. Ada kalanya jiwa nasionalisme saya bangkit berkat semangat Salman, namun ada kalanya saya sedih melihat keadaan warga di perbatasan Indonesia-Malaysia. Bukan salah mereka untuk memilih realita yang lebih menjanjikan. TSK mungkin terasa lebih cocok ditujukan untuk pejabat yang memang bertanggung jawab untuk melayani masyarakat di pinggiran sekalipun. Namun saya sendiri sebagai warna negara biasa juga merefleksikan satu hal dari TSK.

Seringkali kita yang tinggal di kota dengan berbagai fasilitas memadai mengeluh dengan keadaan negara ini. Pemerintah negeri ini, lebih tepatnya. Tak hanya itu, saya sendiri juga seringkali ngomel dengan mentalitas bangsa ini yang mayoritas tidak pro kemajuan. Saya juga sering menanyakan apa alasan kita harus mencintai dan menjaga negeri ini? TSK juga tidak memberikan jawaban atas pertanyaan itu tetapi ternyata masing-masing dari kita seharusnya punya alasan sendiri yang mungkin irasional. Suatu hari atau mungkin saat ini juga, masing-masing dari kita sendiri secara kumulatif sebenarnya menjadi alasan orang lain untuk mencintai negeri ini. Jika tidak dimulai dari masing-masing pribadi, tidak akan pernah ada harapan di masa depan untuk bangsa kita. Lupakan pemerintah yang acuh tak acuh, karena sebagai rakyat biasa, sebenarnya masing-masing dari kita punya pengaruh yang besar terhadap perubahan bangsa ini, sekecil dan sesederhana yang dilakukan Ibu Guru Astuti dan dr. Anwar sekalipun. Maukah kita menjadi inspirasi dan meneruskan tongkat estafet nasionalisme ke generasi berikutnya, anak cucu atau adik-adik kita?

Lihat situs resmi film ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, August 26, 2012

The Jose Movie Review
The Cabin in the Woods



Overview

Ini dia film yang paling ditunggu-tunggu oleh banyak moviegoers di Indonesia. Tak hanya jadwal tayangnya di Indonesia  terus tertunda karena harus mengalah dengan film-film blockbuster yang tentu saja mendapatkan prioritas lebih utama karena faktor komersial, nyatanya jadwal rilis world premiere nya juga sudah tersendat-sendat. Setelah rampung produksi di tahun 2009, The Cabin in the Woods (TCITW) masih memiliki kendala distribusi yang dilempar ke sana-kemari hingga akhirnya Lionsgate bersedia mendistribusikannya dan juga perdebatan mengenai konversi ke format 3D. Sampai-sampai jadwal rilis internasionalnya melewati jadwal film Thor yang dibintangi Chris Hemsworth dan The Avengers yang disutradarai Joss Whedon (penulis naskah TCITW). But that’s okay, mungkin melambungnya dua nama ini bisa menjadi daya jual yang kuat untuk TCITW saat dilempar ke pasaran.

Susah untuk menulis tentang TCITW tanpa mengurangi sedikitpun kenikmatan ketika menonton secara langsung tapi menarik perhatian yang membacanya, but I’ll try to. Benar, jika ada yang menyarankan untuk mengetahui seminim mungkin hal berkaitan dengan film ini, termasuk menonton trailer atau membaca sinopsis yang berlebihan. Semakin sedikit yang Anda tahu, semakin Anda akan menikmati TCITW. Memangnya sehebat apa sih nih film? Pertanyaan yang sama juga sempat terbersit di pikiran saya kala itu hingga saya menyaksikannya sendiri.

Sebenarnya tidak ada yang begitu istimewa dari TCITW di mata saya. Jika Anda penggemar film horor (khususnya Hollywood) dan pernah menyaksikan hampir semua sub-genre horor yang pernah dibuat, maka Anda akan mendapatkanya semua dalam satu kemasan ini, mulai dari gaya Evil Dead hingga Friday the 13th. Cliché? Iya, tapi kapasitasnya sebagai sebuah paket tribute, kesemuanya itu dimasukkan hanya untuk membuat Anda bersenang-senang dan mengenang adegan-adegan serta juga unsur-unsur yang pernah ada di film-film horor favorit Anda. Sometimes, they also made fun of it.

Kejutan yang ada sebenarnya tidak begitu luar biasa atau original sekali (setidaknya bagi saya). Saya menggambarkannya sebagai : it’s not how far the things have gone, but how things have turned into. Penonton (termasuk saya) akan dibiarkan sok pintar menebak jalan cerita yang sedang berjalan berkat ke-cliché-annya, termasuk jika Anda mengira adegan-adegan yang berjalan paralel dengan plot utamanya adalah segala rahasia di balik cerita. Anda tak perlu memperhatikan perkembangan karakter-karakter yang ada, tak perlu pula peduli siapa yang survive, siapa yang bakal mati, atau siapa pelaku semuanya (karena Anda sudah tahu semua dari referensi film-film horor yang pernah Anda saksikan sebelumnya). Silahkan duduk, nikmati segala adegan mengerikan, menegangkan, dan gore yang tersaji dan bersenang-senang sepanjang film, hingga Anda melongo di akhir film. Tidak, saya tidak sampai geleng-geleng kepala atau berujar ‘watdefak’. Toh saya berpikir endingnya berlebihan secara logika, tapi harus diakui pertautan antar plot hingga akhir serta penjagaan intensitas film sangat baik dan rapi untuk film horor sejenis.

Membahas TCITW mengingatkan saya akan tuduhan plagiarism police Indonesia yang serta merta menuduh Modus Anomali mirip dengan TCITW. Well, setelah menyaksikan filmnya secara langsung saya hanya bisa menertawai mereka. What the fuck man? Konsepnya saja sudah sangat jauh berbeda.” Jika kehadiran kabin di tengah hutan dianggap sebagai persamaan yang penting, bagaimana dengan Cabin Fever dan Friday the 13th? Sangat sok tahu tetapi referensi filmnya sangat kurang. Dengan silogis yang sama, saya bisa juga lho menuduh franchise Harry Potter mirip Doraemon karena sama-sama memiliki invisible robe.

The Casts

Di sini Anda akan melihat Chris Hemsworth sebelum ia terkenal berkat peran anak dewa, Thor. For a jock role, I’d prefer him a lot rather than the flat and boring Channing Tatum. Fran Kranz, pemeran Marty menjadi aktor kedua yang saya favoritkan sepanjang film.

Sementara di seberang plot, Richard Jenkins (Sitterson) dan Bradley Whitford (Hadley) yang disebut-sebut menggambarkan Joss Whedon dan Drew Goddard (sutradara-penulis naskah TCITW) tampil mengesankan dengan humor-humornya yang segar dan terkadang kelam. Oh iya, jangan lupa penampilan aktris legendaris yang akhir-akhir ini sering tampil sebagai villain kejutan di akhir film. Surprise! :D

Technical

Tentu saja special effect dan make up menjadi keunggulan utamanya. That’s all I can say here to keep the surprising effect preserved.

The Essence

Humanity. Hahahaha… segitu aja yah yang saya bocorin tentang esensinya. Nanti disimpulkan sendiri setelah menonton langsung filmnya. It’s not heavy at all koq. Have a fun vacation in the cabin!

Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, August 23, 2012

The Jose Movie Review
Brandal Brandal Ciliwung



Overview

Maxima Pictures adalah production house film-film layar lebar Indonesia yang unik. Film-film produksinya lebih banyak cenderung ke murni hiburan dan cukup sering mengundang sensasi berkat “inovasi”-nya, seperti misalnya memulai tren menggunakan aktris bule sebagai bintang tamu, Heather Storm di Paku Kuntilanak, dan tentu saja Maria Ozawa alias Miyabi di Menculik Miyabi dan Hantu Tanah Kusir serta Rin Sakuragi dan Sora Aoi di franchise Suster Keramas. Langkah yang lantas diekori oleh KK Dheeraj namun dengan kualitas jauh di bawahnya. Belum lagi jasanya dalam mengangkat popularitas Dewi Perssik di layar lebar berkat Tali Pocong Perawan. Memang Maxima punya track record horor komedi yang nyerempet-nyerempet sensualitas tapi setidaknya masih digarap dengan jalinan skrip yang logis dan production value yang baik. Tak hanya horor komedi, Maxima juga pernah menggarap film drama seperti Pupus, Butterfly, dan terakhir Bila, film komedi seperti Tulalit, Lihat Boleh Pegang Jangan, dan Poconggg Juga Pocong. Kini untuk pertama kalinya PH yang dimotori oleh Ody Mulya Hidayat ini mencoba menggarap film anak-anak.

Tak mudah menggarap film anak-anak. Pertama, imajinasi boleh seluas-luas dan setinggi-tingginya tetapi tetap dibatasi oleh pola pikir yang tidak sedalam orang dewasa dan juga batasan-batasan moral yang harus diperhatikan. Kedua, target audience anak-anak memiliki rentang usia yang panjang dengan lompatan pola pikir dan perilaku  yang cukup jauh. Misalnya saja saya bagi dalam dua kategori usia, anak kelompok kelas 1-3 SD memiliki pola pikir dan perilaku yang sudah berbeda jauh dengan anak kelompok kelas 4-6 SD. Apa yang dianggap keren oleh anak kelas 1-3 malah dianggap terlalu polos (baca : cupu) oleh anak kelas 4-6. Belum lagi akibat cukup lama kekurangan hiburan yang sesuai dengan usia mereka dan mau tidak mau nebeng dengan kategori remaja memaksa anak-anak saat ini untuk berpikir dan bertingkah laku lebih dewasa daripada yang seharusnya. Jadi, produsen harus spesifik menentukan segmen usia dan Maxima memilih menggarap Brandal-Brandal Ciliwung (BBC) untuk lebih bisa dinikmati oleh anak–anak kelas 4-6 SD, berbeda dengan 5 Elang atau Ambilkan Bulan yang lebih cocok untuk anak-anak kelas 1-3 SD.

Keputusan meletakkan tema pluralisme hanya sebagai identitas karakter semata saya rasa cukup tepat karena anak-anak lebih mudah menangkap pesan tersebut dengan kesan “keren yah punya gank yang isinya berbeda-beda seperti itu” ketimbang mengangkatnya sebagai sebuah problem utama yang justru tidak menarik bagi anak-anak. Toh, seberapa besar sih perbedaan etnis dan agama menjadi problem bagi anak-anak kalau belum dikontaminasi oleh media dan lingkungan sekitarnya yang cenderung homogen? Untungnya Maxima memilih persahabatan yang lebih general sebagai premis utamanya. Unsur percintaan juga diselipkan sebagai pemanis, namun tentu saja dengan porsi sebatas taksir-taksiran, tidak sampai pada tahap “pacaran”, sesuai dengan tingkat usia mereka.


Film anak-anak (apalagi film Indonesia) pasti tak lepas dari “pesan moral” yang seringkali ditampilkan secara eksplisit sehingga terkesan sangat pretensius. Apa daya, akibat banyaknya film-film Indonesia yang mengabaikan “pesan moral” membuat orang tua lebih menuntut hal tersebut di film-film yang ditonton oleh anaknya. Well, I like the way BBC menyampaikan pesan moralnya yang cukup banyak itu dengan terselubung dan cukup elegan. Misalnya pesan persahabatan multi-etnis dan agama yang digambarkan sebagai sesuatu yang keren, pesan pentingnya menjaga kebersihan kali yang disampaikan dengan menyindir (baca: mengejek) kali di Jakarta kota, keberanian yang wajar dan rasional, kebandelan yang disertai dengan prestasi, dan tentu saja pentingnya arti persahabatan yang membuat saya berpikir, “asyik yah punya gank seperti itu”. Sungguh, sebuah gambaran persahabatan anak yang ideal. Tak ada yang salah dengan hal tersebut, toh Hollywood juga sangat sering memberikan gambaran propagandis seperti itu di film-filmnya dan terbukti cukup efektif “menginspirasi” penontonnya, terutama generasi muda.

Namun sayang sekali penulis naskah memberi porsi yang terlalu banyak untuk berbagai subplot problematika keluarga masing-masing karakter utama sehingga cukup mengganggu kelancaran alur cerita, menyamarkan fokus cerita, dan terkesan bertele-tele di banyak bagian. Menurut saya porsi yang paling pas adalah subplot Raja yang dipaksa untuk belajar menyanyi. Bandingkan dengan porsi subplot trauma yang dialami engkong Sissy, belum lagi ditambah konflik Sissy dengan mamanya yang janda hendak menikah lagi dengan bule, membuat porsi problematika Sissy terasa terlalu berlebihan dan “sinetron banget”. Well, mungkin ini bukan menjadi masalah  bagi anak-anak jaman sekarang yang terlanjur akrab dengan gaya sinetron seperti itu. Penampilan Sissy dengan pakaian cheongsam-nya juga terasa sebagai atribut etnis yang berlebihan, apalagi karakternya cenderung tomboi. Mungkin masih wajar ketika adegan pesta tahu, tetapi menjadi aneh ketika dikenakan sehari-hari (ketika Sissy mengantar minuman untuk teman-temannya yang sedang belajar Tai Chi).

Terakhir, klimaks cerita ketika pertandingan balap getek turut kurang digarap dengan maksimal sehingga terkesan kurang seru dan lewat begitu saja tanpa kesan apa-apa. Untung saja endingnya cukup membuat tersenyum dan jauh dari ke-klise-an ala sinetron yang dipaksa mengharu-biru. Anyway, BBC dibuat murni sebagai hiburan yang ceria. Ada sih momen-momen yang mengharukan tetapi (untungnya) tidak sampai terjerumus menjadi tear-jerker yang berlebihan dan lebih baiknya lagi tidak menjadikan masalah finansial (baca : kemiskinan) dan kemalangan-kemalangan karakter sebagai sumber penguras air mata.

Selebihnya, BBC cukup menghibur dan berkesan bagi saya berkat production value-nya. Mama dan adik saya yang kebetulan kelas 4 SD juga sangat menikmatinya. Bahkan Mama berpendapat ini adalah film anak Indonesia terbagus yang pernah disaksikannya di bioskop akhir-akhir ini.

The Casts

Selepas kesuksesan aktingnya menghidupkan karakter psikopat cilik di The Perfect House, Endy Arfian kembali mengisi peran utama dengan karakter yang lebih sesuai dengan usianya. Walau harus diakui peran Jaka yang anak Betawi sangat tidak cocok dengan fisiknya yang sangat bule, ia cukup baik menghidupkan karakternya secara personal, terutama kharisma sebagai ketua gank dan kelabilannya dalam menghadapi problematika kehidupannya. Begitu juga dengan Gritte Agatha yang tampil baik dalam menyeimbangkan sisi tomboinya dengan kerapuhannya sebagai anak yang ibunya hendak menikah lagi. Sementara karakter-karakter anak lainnya yang diisi oleh Julian Liberty, Sehan Zack, Aldy Rialdy Indrawan, dan M Syafikar, tampil menghibur dan cukup berkesan berkat keunikan masing-masing karakter yang dituliskan skenario. 

Sementara pemeran-pemeran pendukung yang lebih punya nama, seperti Ira Wibowo, Hengky Solaiman, Idrus Madani, Olga Lidya, dan Lukman Sardi, turut memberikan performa yang sangat baik sesuai dengan porsi masing-masing.

Technical

Seperti produksi-produksi Maxima Pictures sebelumnya, teknis mendapat perhatian yang tidak main-main terutama dari segi sinematografi. Berbagai angle tak biasa, termasuk teknik fish-eye untuk gambar latar masjid di tepi Sungai Ciliwung, menghiasi sepanjang film. Belum lagi setting lokasi yang indah, terutama rumah Babah Alun (Engkong Sissy) dan markas Pasukan Ciliwung.

Score dan music menjadi elemen yang sangat mendukung suasana ceria dan terkadang serunya film dan patut diberi kredit lebih atas keberhasilan mencapai tujuannya. Apalagi theme song Kupu Biru oleh Slank yang catchy. Sound department bekerja dengan baik dengan keseimbangan antara suara music, dialog, dan sound effect yang disalurkan melalui kanal-kanal studio yang ada. Namun saya terganggu dengan suara narasi oleh karakter Tirto yang terdengar dari setiap kanal yang ada sehingga terdengar dobel.

The Essence

Kali ini saya mengambil tiga quote dialog dari BBC yang cukup mewakili esensi cerita persahabatan para Pasukan Ciliwung. Silahkan disimpulkan sendiri :).

Lihat situs resmi film ini.






Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, August 17, 2012

The Jose Movie Review
Perahu Kertas Part 1


Overview

Akhirnya ada juga buku karya Dewi Lestari (Dee) -salah satu penulis Indonesia yang sangat produktif baik dalam bentuk novel maupun cerpen- yang diangkat ke layar lebar. Tak hanya itu, kualitasnya dalam membangun alur dan karakter serta membungkus esensi dalam keindahan sastra tergolong luar biasa untuk generasi sekarang. Menurut saya semua karya tulisnya sangat menarik diangkat untuk memperkaya khazanah perfilman nasional. Namun agak susah diwujudkan mengingat cerita karangannya banyak melibatkan lokasi di berbagai negara dan tentu saja dengan kondisi perfilman nasional saat ini, budget menjadi kendala yang paling utama. So I think it’s a good start to bring Perahu Kertas (PK) to the movie screen.


Sebenarnya tak perlu membahas alur maupun esensi ceritanya atau karakter serta perkembangannya karena semuanya sudah tertata dengan sangat rapi dan bagus dari novelnya. Well, saya belum pernah membaca versi novelnya, tetapi melihat hasil akhir filmnya dan berbekal pengalaman membaca karya tulis Dee yang lain-lainnya, saya bisa menerka-nerka bagaimana versi novelnya. Semoga saja saya tidak salah dan menjadi sok tahu soal ini.

Anyway, permasalahan yang paling klasik adalah bagaimana mengadaptasi karya tulis ke dalam media film yang jelas-jelas berbeda sehingga penonton non-pembaca novel dapat mencerna dan menikmatinya namun tetap memuaskan ekspektasi para pembaca novelnya. Dengan kenyataan Dee yang menulis langsung screenplay-nya sebisa mungkin memasukkan semua yang ada di novel dan Hanung yang merekam semua adegan yang ada di screenplay, susah untuk membayangkan PK versi lengkap dan apa yang terjadi jika pemotongan dilakukan di mana-mana demi durasi yang nyaman untuk penonton. Belum lagi kenyataan pemenggalan film menjadi dua bagian yang semakin menambah beban penulis skenario dan sutradara untuk menentukan titik  perpindahan yang enak dan pas agar penonton tetap penasaran untuk menyaksikan lanjutannya.

Kekhawatiran tersebut pada akhirnya memang berimbas pada pace film. Paruh pertama film dimana diletakkan detail awal hubungan dua sejoli lakon kita, Kugy dan Keenan, terasa terlalu cepat sehingga terkesan terburu-buru dan harus diakui di beberapa bagian editing-nya kurang nyaman untuk dinikmati. Alur dan plotnya masih jelas dan menghibur tapi kurang mengajak lebih dalam ke hubungan antara keduanya. Things are better in the second half ketika pace mulai mereda dan mengalir tenang, sangat enak dinikmati dan alhasil penampilan para aktornya pun terasa maksimal. Anyway, mungkin bisa saja hal ini disengaja, sebagai bagian dari filosofi “perahu kertas” yang berlayar, terombang-ambing ke sana kemari sebelum menuju laut.

Selain dari kekurang-nyamanan itu, saya harus memberikan pujian untuk skrip yang berhasil memberikan porsi yang konsisten untuk fokus karakter utamanya; Kugy dan Keenan. Walaupun kebanyakan cerita mengambil dari sudut pandang Kugy, namun detail plot Keenan masih cukup terasa kuat. Begitu pula dengan karakter-karakter pendukung seperti Eko, Noni, Remi, dan Wanda yang masing-masing diberikan porsi sub plot adil sekaligus tetap memberikan kesan tersendiri.

Dengan dukungan production value mumpuni di hampir semua lini, PK hadir sebagai film metafora kehidupan yang disajikan dengan sangat menghibur dan menyenangkan sehingga cukup mengena bagi target audience utamanya; remaja, sekaligus melanjutkan tradisi novelnya yang berhasil menjadi bagian dari budaya pop Indonesia. Yes, it’s still talking about love and its cliché, but Dee (and also Hanung Bramantyo) have wrapped ‘em in a very interesting and different artistic accomplishment.

The Casts

Maudy Ayunda akhirnya mendapatkan peran utama sebagai remaja setelah terakhir kali berperan di Untuk Rena (2005) dimana ia masih anak-anak. Penampilannya menarik perhatian saya sejak Tendangan dari Langit dan terus mengalami peningkatan kualitas akting termasuk di sini. Dengan modal fisiknya yang juga unik dan manis, karir akting (dan juga menyanyi) Ayunda sangat cerah ke depannya. Sementara Adipati Dolken masih belum beranjak dari peran-peran sebelumnya. He could have done better than this, hopefully in the next part.

Di jajaran pemeran pendukung pun banyak yang tampil mengesankan. Kimberly Ryder kemampuan aktingnya semakin matang, Reza Rahadian berhasil menghidupkan perannya dengan sangat baik, serta pendatang baru Fauzan Smith dan Sylvia Fully yang juga berhasil menjadi penyegar suasana film.

Technical

Tak perlu meragukan seorang Hanung Bramantyo untuk sinematografi dan teknisnya, he’s a perfectionist. Lihat saja bagaimana ia memperhatikan detail properti yang sesuai dengan setting waktu: handphone Nokia 5110, uang pecahan sepuluh ribu, hingga iMac keluaran 1998. Tak ketinggalan soundtrack yang dibawakan sekelompok pengamen yang mulai menjadi signature-nya.

Yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah kemunculan aneka cahaya seperti flare yang kerap muncul di berbagai adegan. Tampak itu adalah hasil digital tetapi atas dasar yang belum jelas. Mungkin saja itu tanda yang diselipkan Hanung untuk menjelaskan sesuatu atau hanya sekedar untuk alasan estetika yang sebenarnya justru cukup mengganggu keindahan gambar.

The Essence

Perahu Kertas adalah sebuah metafora tentang kehidupan, tidak hanya soal urusan asmara tetapi juga pilihan hidup lainnya, seperti karir dan passion. Alur sungai yang tak menentu membawa perahu kertas ke sana-kemari dalam arahan Neptunus, dewa laut, hingga akhirnya menemukan laut yang tenang. Sama seperti cinta dan passion yang kerap membuat bimbang dan bingung (bahasa jaman sekarang : galau). Seperti kata Keenan, menjadi orang lain terlebih dahulu baru menjadi diri sendiri. Mencoba berbagai kemungkinan dalam hidup sebelum memilih satu yang paling pas dengan diri kita. Laut.



Lihat situs resmi film ini.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
The Expendables 2

Overview

Actually, The Expendables 2 (TE2) was the last choice in my August’s movies to watch. Tapi  keadaan lah yang memaksa saya untuk menontonnya di urutan pertama. But it’s okay, karena nyatanya tidak seburuk seri pendahulunya yang sangat saya benci itu.

Sama seperti pendahulunya, TE2 masih terjebak dalam adegan-adegan aksi tidak masuk akal yang saya gambarkan sebagai fantasi para jagoan usang yang sedang mengalami post-power syndrome; seolah-olah semua musuh bisa dibasmi dengan mudah tanpa satu pun halangan dan apalagid dengan strategi yang brilian. Don’t mind nor expected them here! Mereka cuma punya otot dan mental bonek, terkecuali mungkin Jason Statham yang setidaknya masih memiliki ilmu beladiri yang impressive. Belum lagi plot-plot cliché dan adegan-adegan sadis yang kelihatan palsu sehingga mengurangi gregetnya. Saya sudah memaklumi hal-hal seperti ini sebelum menyaksikannya secara langsung.

Tapi tunggu dulu, masuknya Simon West di posisi sutradara cukup memberikan penyegaran dalam franchise ini. Setidaknya ada beberapa adegan aksi yang terlihat stylish (lagi-lagi saya memuji penampilan Jason Statham) dan yang paling menghibur adalah pada akhirnya mereka mengakui ke-payah-an masing-masing dan juga sesama anggota tim yang lain serta membuatnya menjadi bahan bercandaan. Jujur, humor seperti ini dan juga parodi dari karakter-karakter iconic yang pernah dilakoni oleh para action-heroes di sini sebelumnya -terutama Arnold Schwarzenegger, Sylvester Stallone, dan Chuck Norris- menjadi hiburan yang jauh lebih menghibur ketimbang adegan-adegan aksinya maupun film pertamanya secara keseluruhan. Jangan lupakan pula celetukan Statham yang seolah-olah menjawab tantangan Yayan Ruhian The Raid bahwa “tangan kosong lebih gereget”.

Anyway, TE2 saya rasa cukup berhasil menjalankan misi utamanya yaitu mengajak penonton (terutama fans masing-masing action-heroes) bersenang-senang dengan parade bodoh-bodohan sambil bernostalgia dengan karakter-karakter iconic yang pernah kita idolakan dulu.

The Casts

Hmmm… the baddest ass was Jason Statham, the dumbest ass was Dolph Lundgren (poor him..!). Bagi penggemar Jet Li siap-siap kecewa yang entah bagaimana hanya muncul di sepertiga awal film lalu menghilang begitu saja. Satu-satunya yang saya syukuri adalah tidak kembalinya karakter yang diperankan Mickey Rourke yang paling saya benci dari film pertamanya.

Masuknya Liam Hemsworth dalam gank sebenarnya cukup mampu menjadi penyegaran dan perbaikan kualitas karakter maupun plot secara keseluruhan, namun rupanya para senior tidak ingin kalah pamor sehingga porsinya ‘dikurangi’ di sini.

Terakhir, Nan Yu, wajah wanita oriental baru di Hollywood cukup menonjol walaupun masih belum begitu menunjukkan aura bintang yang begitu cemerlang seperti aktor-aktor wanita Asia sebelumnya (misalnya Michelle Yeoh atau Ziyi Zhang). Sebenarnya Nan Yu sudah cukup sering membintangi film Mandarin dan pernah tampil sekilas di Speed Racer, tapi TE2 adalah debutnya di Hollywood dengan peran yang cukup banyak.

Technical

Set lokasi yang paling menarik perhatian saya adalah tata pedesaan di Bulgaria, termasuk set gerejanya. Lovely!

Tidak ada masalah untuk sound effect yang membahana, di atas rata-rata film aksi sejenis. Suara tembakan dan ledakan terdengar dahsyat berkat deep-bass namun tetap jernih. Score pun blend-in dengan cukup baik dengan adegan. Even better, I love the oldies music played during the assault sequence when the gank was just arrived in the dead city.

The Essence

Ketika usia beranjak senja dan kemampuan menurun, ada baiknya mengakui dan menjadikannya lelucon ketimbang berusaha memaksa jadi jagoan tapi malah terlihat bodoh dan kehilangan kehormatan. Just move on and pass the relay stick, sir! (seriously)

Lihat data film ini di IMDB.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, August 14, 2012

The Jose Movie Review
Carnage

Overview

Jika tidak dihiasi jajaran cast papan atas seperti Jodie Foster, Kate Winslet, Christoph Waltz, dan John C. Reilly, dan disutradarai sineas legendaris, Roman Polanski, mungkin judul Carnage tidak begitu menarik perhatian saya. Terdengar seperti film gore kelas B straight-to-video. Tapi jangan salah, film black comedy yang diangkat dari drama panggung bertajuk God of Carnage ini ternyata sempat menjadi nominee Golden Globe 2012 untuk Foster dan Winslet.

Carnage mengangkat isu manner dengan segala latar belakangnya melalui argumen verbal yang terjadi antar karakternya; dua pasangan suami istri yang anaknya terlibat perkelahian di taman. Awalnya kedua pasangan ini bersilaturahmi dengan maksud baik lengkap dengan berbagai atribut manner dan sungkan di sana-sini hingga perlahan berubah menjadi konfrontasi verbal yang menjurus ke mana-mana, mulai tentang cara mendidik anak, moralitas orang tua, hingga battle of sexes. Penonton pun diajak untuk turut berpikir tentang pemikiran-pemikiran realistis dari dialog karakter-karakter yang sedang perang mulut ini. Jika mau jujur kesemuanya tidak ada yang salah, namun juga tak ada yang lebih benar. It’s just human nature.

Seperti yang pernah dilakukannya untuk film horor klasik Rosemary’s Baby, Polanski kembali membawa ruang sempit ke dalam dramanya kali ini. Sepanjang film, selain prolog dan epilog di taman, Anda akan ‘dikurung’ bersama empat karakter utama di dalam sebuah apartemen. Tentu ada kekhawatiran akan kebosanan dari penonton. Namun nyatanya hal tersebut tidak terjadi pada saya. Polanski merangkai dialog demi dialog seiring dengan isu yang dibahas serta tersusun dengan sistematis dan masuk akal. Ketika dialog mengalami kebuntuan, dengan  cerdas pula Polanski memasukkan isu-isu baru yang masih berkaitan dan membuat permasalahan semakin menarik. Asal Anda tertarik dengan topik-topik yang diperdebatkan, mengerti dan bisa menikmati setiap subjek yang diperdebatkan, Polanski tidak hanya berhasil membuat film dengan alur dan pace yang terjaga dengan rapi dan stabil, tetapi juga berhasil membuat penonton semakin penasaran akan dibawa kemana lagi perdebatan yang terjadi sekaligus terhibur berkat tingkah karakter-karakter yang ‘melanggar’ manner-nya sendiri.

Keterbatasan karakter dan ruang geraknya menurut saya justru menjadi sebuah keuntungan tersendiri. Selain cerita yang lebih fokus, kedalaman karakter pun dapat dieksplorasi lebih sehingga kedekatan penonton dengan karakter-karakter di layar dapat maksimal. Beruntung dengan sutradara dan jajaran cast papan atas berhasil memenuhi konseptual film yang sudah dibangun sejak awal.

Ada penonton yang merasa menonton Carnage seperti sedang menonton drama panggung, Tak heran, film ini memang diangkat dari drama panggung dan tak ada salahnya mengusung gaya seperti itu ke media film. Drama panggung kan tidak mungkin disebarkan seluas media film?!

The Casts

Hanya ada empat aktor yang bermain dengan porsi yang sama besarnya sepanjang durasi, sisanya bisa dibilang hanya cameo (termasuk Roman Polanski sendiri) dan figuran di opening dan credit title. Dengan reputasi masing-masing, tentu tak perlu diragukan lagi penampilan mereka di sini. Di antara keempatnya, Kate Winslet dan Jodie Foster terasa tampil paling menonjol, tentu saja berkat karakter-karakter mereka yang lebih dominan menyetir alur film. Namun tetap saja Christoph Waltz dan John C. Reilly telah tampil maksimal mengisi perannya masing-masing.

Technical

Ruang sempit apartemen (terutama ruang tamu) yang ditampilkan sepanjang durasi harus diakui berhasil dieksplorasi maksimal tiap sudutnya sehingga tidak terasa membosankan.

Aspek menonjol lainnya adalah komposisi yang diarahkan oleh composer film yang sedang naik daun, Alexandre Desplat (Harry Potter and the Deathly Hallows part 1 and 2, The Ghost Writer, The Tree of Life). Nuansa witty tapi berkelas berhasil dihadirkan berkat score-nya.

The Essence

It’s a human nature to survive. Apa yang dilakukan oleh keempat karakter utama dan juga anak-anak yang terlibat perkelahian (yang menjadi subjek pertemuan para orang tua ini) semata-mata untuk membela diri. Di saat terdesak, siapapun akan mengeluarkan sisi terburuknya untuk membela diri. Seperti yang disampaikan oleh Alan, peraturan dan manner yang pernah dibuat manusia semuanya dibuat atas dasar sifat dasar manusia tersebut. Tak salah jika pada satu titik manusia melupakan manner yang selama ini dijunjungnya dan mengeluarkan sifat dasarnya. Bukan tidak mungkin melalui konfrontasi yang mengesampingkan basa-basi, manusia justru saling mengenal dan mengerti satu sama lain. Pada akhirnya mungkin pihak yang berkonfrontasi tidak akan pernah menemukan satu titik yang sama, namun life goes on dan kemungkinan besar pula yang terjadi sebenarnya tidak seburuk yang diperdebatkan dan dikhawatirkan.

Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, August 6, 2012

The Jose Movie Review
Salmon Fishing in the Yemen

Overview

Dalam ingatan saya, nyaris tak ada film yang mengangkat tema memancing (fishing). Mungkin karena olahraga memancing membutuhkan kesabaran ekstra dan kurang begitu seru (baca: membosankan) untuk dijadikan sebuah film. Maka Salmon Fishing in the Yemen (SFY) yang diangkat dari novel karya Paul Torday ini bisa menarik perhatian hanya dari premisenya saja. Belum lagi judulnya yang menggelitik itu. Bagamana bisa memancing ikan salmon di tanah segersang Yeman?

Mungkin Anda bisa menebak bahwa istilah “memancing salmon di Yemen” hanyalah sebuah metafora. Memang benar demikian tetapi film yang digarap oleh sutradara Lasse Hallström yang sebelumnya dikenal lewat Chocolat, The Cider House Rules, Hachiko, dan Dear John ini juga menghadirkannya secara harafiah. Tenang, Anda tidak perlu pengetahuan khusus atau hobby memancing untuk dapat menikmati sajian yang satu ini.

Berkat SFY, saya baru menyadari alangkah banyaknya wisdom yang tersimpan dari olah raga memancing. Kesemuanya ditunjukkan melalui hubungan karakter seorang Sheikh kaya raya, Sheikh Muhammed; asistennya, Harriet; dan seorang pakar perikanan, Dr. Alfred Jones. Porsi plot utama diisi oleh hubungan asmara antara Harriet dan Fred dengan aneka problematika masing-masing. Uniknya, keromantisan hubungan mereka tidak ditunjukkan secara blak-blakan dengan dialog-dialog yang klise tetapi melalui perkembangan kejadian dan kedekatan mereka yang terjalin secara alami. We know they both were in love without saying any sentences containing the word “love” in it.

Seiring dengan plot romantisme, SFY menyelipkan berbagai subplot, seperti tentang perbedaan sosial antara orang Eropa dan Timur Tengah yang seolah-olah sangat bertolak belakang. Plot dan subplot tersebut dirangkai dengan alur yang sangat enak untuk diikuti, tidak terasa dragging maupun bertele-tele. Tentu saja aneka humor cerdas diselipkan di sana-sini untuk menambah kesegaran film, menjadikan SFY sebuah feel-good movie dengan cerita yang sederhana namun digarap dengan indah dan sangat menginspirasi.

Namun bukan berarti tak ada kelemahan sama sekali. Saking feel-good-nya, tak ada sama sekali lonjakan cerita yang begitu berarti. Bagi yang tidak terbiasa mungkin malah akan menganggapnya kelewat datar. Seperti salah satu dialog Patricia; “It’s just what we need right now, a bit of Anglo-Arab news that isn’t about things that explode”, SFY seperti sengaja dibuat untuk tidak 'explode'. Selain itu karakter Sheikh mungkin terasa charming. Namun sisi yang terlalu ‘saint’ tersebut justru membuatnya menjadi tidak manusiawi. Apalagi image seorang Sheikh yang setidaknya memiliki sedikit arogansi.

Satu-satunya penghidup suasana film adalah karakter Patricia Maxwell, sekretaris press Perdana Menteri yang memanfaatkan proyek sang Sheikh demi kepentingan politisnya. She’s witty and definitely the funniest element of the movie. Well, karakter Dr. Fred pun sebenarnya cukup lucu dengan gaya sinis-nya. Tapi harus diakui Patricia lebih mencuri layar.

The Casts

Bagi penikmat kisah romantis, chemistry antara Ewan McGregor dan Emily Blunt akan menjadi highlight yang tak terlupakan. Seperti yang sudah saya sampaikan di segmen sebelumnya, tanpa dialog flirting terang-terangan spark asmara di antara mereka bisa terasa dengan jelas berkat chemistry yang terjalin dengan sangat kuat.

Aktor asal Mesir, Amr Waked berhasil menghidupkan karakter Sheikh Muhammed yang kaya raya dan tergolong masih muda namun bijaksana. Karakternya mengubah image seorang Sheikh selama ini yang cenderung arogan berkat kekayaan dan posisi yang dimilikinya di dalam masyarakat. What a charming Sheikh.

Dari semua karakter yang ada, saya memfavoritkan Patricia Maxwell. Salut untuk Kristin Scott Thomas yang membuat karakter sekretaris press Perdana Menteri ini menjadi sangat menarik dan witty. Nilai plus ketika menyadari betapa banyaknya adegan yang mengharuskannya berinteraksi dengan karakter lain hanya melalui telepon seluler. Tak mudah berakting tanpa lawan main yang nyata ketika pengambilan gambar.

Technical

Selain sinematografi yang meng-capture gambar-gambar indah dari lokasi-lokasi yang kontras; London yang hectic dengan kehidupan urbannya, Skotlandia yang hijau dan asri, dan Maroko (lokasi syuting untuk merepresentasi Yemen) yang gersang, SFY juga bermain-main dengan variasi editing. Adegan percakapan melalui chatting window, teks e-mail yang dipertegas dengan ditulis ulang di frame, dan multi-panel adalah beberapa varian editing yang semakin mendukung gambar-gambar menarik untuk dinikmati.

Aura witty dan wise didukung pula score oleh Dario Marianelli yang cukup menghidupkan kedua aura tersebut.

The Essence

Ada banyak wisdom dalam olahraga memancing yang sering dianggap membosankan. Selain melatih kesabaran, memancing juga menjadi bukti bahwa pada dasarnya semua orang memiliki faith di dalam dirinya, tak terkecuali bagi mereka yang lebih menganut paham sains ketimbang religius. Faith yang membuat manusia percaya bahwa tidak ada yang mustahil dalam hidup, termasuk bahwa ikan salmon dapat hidup di alam sekering dan segersang Yemen.


Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, August 5, 2012

The Jose Movie Review
Total Recall (2012)


Overview

Saya ingat betul ketika peluncuran stasiun televisi swasta bermaskot ikan terbang, ada satu film yang begitu menarik perhatian saya. Selain bintang Arnold Schwarzenegger dan Sharon Stone yang jelas sudah menjadi daya tarik, tampilan adegan-adegan aksi dan special effect yang unik membuat film bertajuk Total Recall (TR) keluaran tahun 1990 ini tertanam cukup kuat dalam ingatan saya. Begitu mendengar kabar akan dibuat remake-nya, saya yakin sulit untuk menyamai pencapaian versi aslinya. Akan tetapi nama Len Wiseman yang sukses menggarap franchise Underwood dan seri terakhir Die Hard menjadi film aksi stylish, setidaknya ada yang bisa saya harapkan dari hasil remake-nya. FYI, dikembangkan dari cerpen We Can Remember It for You Wholesale karya bapak sci-fi, Phillip K. Dick, TR mengangkat premise memory manusia yang bisa diciptakan sendiri atau diubah-ubah.

Benar saja dengan ekspektasi secukupnya, saya tidak begitu kecewa menyaksikan hasil akhirnya. Memang, jika membandingkan dengan versi Verhoeven yang visioner dan kuat secara konseptual cerita, versi Wiseman jelas jauh berada di belakangnya. Namun setidaknya, TR versi Wiseman masih merupakan film aksi yang memompa adrenaline penonton sejak awal hingga akhir film. Adegan kejar-kejaran dengan tingkat intensitas yang pas dan terus terjaga, adegan tembak-tembakan, dan barehands fighting yang sangat memuaskan. Yap, itulah “jualan” utama TR 2012. Apalagi beberapa tahun belakangan ini tak banyak film yang berhasil dengan baik memberikan visualsiasi bumi masa depan, maka TR tampil visually stand-out, setidaknya bagi saya.

But that’s all you will find here. Ide “permainan ingatan” yang menjadi tema utama film dan sebenarnya potensial menjadi premise yang sangat menarik jika dikembangkan dengan baik, tampak seperti hanya sekedar tempelan cerita. Tak hanya itu, semua subplot yang ditawarkan seperti tentang pemeberontakan koloni dan rahasia misi karakter utama kita, Douglas Quaid, turut mengalami hal yang sama; tidak dikembangkan sama sekali dan dibiarkan berakhir begitu saja tanpa kesan apa-apa. Parahnya lagi, karakter-karakter yang ada, termasuk karakter utamanya, juga tidak diberikan perkembangan yang berarti. Padahal seandainya kejadian-kejadian yang terjadi di layar sedikit saja memberi pengaruh pada penokohan salah satu saja karakter (let’s say, Douglas Quaid himself), mungkin TR masih dapat terselamatkan dari segi plot menjadi lebih menarik.

Segala kekurangan esensial ini tentu bukan salah Wiseman. Sebagai sutradara, Wiseman sudah menjalankan tugasnya dengan baik sehinggia setidaknya TR 2012 menjadi film thrilling action yang memuaskan. Dibandingkan film-film aksi yang digelar hingga akhir kuartal kedua 2012 ini, TR masih cukup stand out. Mungkin saja pihak produser yang sejak awal menitipkan pesan kepada penulis skenario untuk membuat TR 2012 menjadi lebih ringan dan pure entertainment seperti layaknya kebanyakan film keluaran Sony Pictures lainnya akhir-akhir ini. So, I guess just enjoy the dish they served, shall we?

The Casts

Lama tak mengisi peran penting di film mainstream, Colin Farrell menghidupkan karakter utama dengan cukup baik di sini. Tapi tentu saja penarik perhatian sepanjang film adalah dua wanita seksi yang lebih kick-ass, Kate Beckinsale dan Jessica Biel. Benckinsale tampil lebih menarik dan dengan wajah yang lebih seksi ketimbang di franchise Underworld. Bagi saya, style istri sang sutradara di sini mirip supermodel Giselle Bundchen, very sexy and kick ass. Sementara Biel walau berada satu tingkat di bawah Beckinsale dari segi keseksian, masih menjadi protagonist’s sidekick yang menarik. Sementara peran antagonis, Coohagen (Bryan Cranston) tak begitu menonjol berkat skrip yang memang tidak memberikan banyak kesempatan untuk mencuri perhatian penonton. Begitu juga dengan Harry (Bokeem Woodbine) yang sebenarnya bisa diberi peran lebih banyak dalam cerita.

Di lini pengisi peran pendukung, Bill Nighy, John Cho (siapa sangka Harold dari franchise Harold & Kummar bisa berperan di film serius?), dan tentu saja Kaitlyn Leeb berhasil mencuri perhatian walau masing-masing hanya tampil beberapa menit. Well, siapa yang bisa lupa hooker berpayudara tiga di sini? Beruntung LSF tidak memotong atau menyensor adegannya. You’ll wish you have three hands, won’t u?

Technical

Tentu saja divisi teknis menjadi tulang punggung keberhasilan TR 2012 selain arahan adegan-adegan aksi dari Wiseman. Kredit lebih patut diberikan kepada sang production designer yang berhasil menampilkan peradaban masa depan dengan memukau. Desainnya lebih mengingatkan kita akan desain Blade Runner, The Fifth Element, dan Minority Report ketimbang TR versi aslinya. Tak hanya dari segi desain, tapi juga ide-ide teknologinya yang menarik. Favorit saya adalah telepon seluler yang tak perlu lagi layar khusus dan kendaraan lintas benua yang memanfaatkan inti bumi. Supercool! Bukan tidak mungkin di masa depan ide-ide ini dikembangkan menjadi kenyataan.

Score dari Harry Gregson-Williams berhasil menghidupkan keseruan adegan kejar-kejaran dengan sangat baik. Ada score yang mengingatkan saya akan versi aslinya, tapi sisanya benar-benar baru. Tak terlalu memorable tetapi cukup berhasil membangun suasana.

Divisi sound effect berhasil memanfaatkan efek surround dengan sangat baik dan menghadirkan suara-suara yang terdengar dahsyat namun tetap jernih seperti misalnya suara ledakan, tembakan, dan lesatan mobil terbang.

The Essence

Dalam hidup tentu saja ada banyak sekali kejadian yang terekam dalam memory otak manusia. Tak hanya yang indah tetapi juga yang buruk. Rekall, perusahaan yang dihadirkan dalam film menawarkan untuk menuliskan memory-memory yang indah dalam ingatan Anda. Tentu saja munculnya bisnis seperti ini sebagai hasil dari keinginan manusia untuk hanya mengingat hal-hal yang indah dalam hidupnya saja, termasuk angan-angan yang selama ini ada di dalam benak. Intinya : escaping reality. Namun apa artinya itu semua karena telah terjadi di masa lalu, apalagi tidak nyata. Bukankah lebih baik manusia berfokus untuk membangun hidup di masa depan ketimbang terbuai oleh kejayaan masa lalu?

 
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates