Guardians of the Galaxy Vol. 2

Star-Lord, Gamora, Rocket, Drax, and Baby Groot were on an adventure to the planet they've never seen before.
Read more.

Critical Eleven

Ika Natassa's best-seller novel about marriage's critical moment is ready to hit the screen!
Read more.

Stip dan Pensil

Ernest Prakasa to go back to the high school and learn to teach people around.
Read more.

Kartini

Hanung Bramantyo pick Dian Sastrowardoyo to portray Kartini in her new version of biopic.
Read more.

Alien Covenant

Another expedition ship to confronted with the Alien's colony .
Opens May 10.

Thursday, June 28, 2012

The Jose Movie Review
Brave


Overview

Disney-Pixar adalah nama yang tidak perlu diragukan lagi kualitas animasi 3 dimensinya. Selain menjadi salah satu pioneer di bidang long-feature 3D animation, Pixar sudah terlanjur memiliki image yang tidak hanya bagus di detail gambar animasi, namun juga bobot cerita dan tampilannya yang elegan. Walau tahun lalu sempat dicibir banyak pihak lewat Cars 2, nama Disney-Pixar masih menjadi jaminan animasi bermutu. Tak heran masih banyak yang menantikan sajian mereka tahun ini, Brave yang menambah portolio cerita “princess” untuk Disney (anyway saya masih bertanya-tanya kenapa pada opening title yang tertulis hanya nama “Disney” tanpa embel-embel “Walt”).

Masih berada dalam tradisi Pixar, Brave memiliki elemen khas-nya; tampilan dan alur cerita yang elegan dan esensi cerita yang cukup kuat, lengkap dengan metafora-metafora yang indah, dan juga dalam hal struktur filmnya (itu artinya ada short feature tersendiri sebelum film utama diputar). I have to admit, from start to end, semuanya tersaji dengan sangat baik. Alur cerita dengan pace yang sangat nyaman untuk diikuti, ups and downs yang terangkai dengan baik, adegan-adegan aksi yang juga cukup seru, humor-humor yang cukup menghibur, dan momen-momen (potentially) tearjerkers. Namun saya juga tidak bisa bohong kalau saya merasa biasa saja seusai menyaksikannya. Tidak ada satu pun adegan yang begitu berkesan dalam benak saya dan tidak ada pula yang berhasil menyentuh saya. For comparison, I was so touched until my eyes gone (a lil bit) wet everytime I watched The Married Life scene in Up or Andy’s Farewell scene in Toy Story 3. Tapi di sini… saya lempeng-lempeng saja tuh. Mungkin karena adegan-adegan serupa sudah seringkali muncul kali yah?! Atau kalau menurut saya sih di sini Pixar berusaha untuk memuaskan semua golongan penontonnya sehingga akhirnya tidak ada satu pun yang berhasil. Premise-nya sendiri paling cocok untuk penonton remaja muda (10-16 tahun). Untuk memuaskan penonton di bawah usia tersebut, dimasukkan unsur-unsur fantasi, seperti nenek sihir, dan humor-humor innocence yang mungkin terasa terlalu childish untuk target penonton utamanya. Sebaliknya tema utama yang tergolong serius berpotensi membuat penonton yang lebih muda untuk tidak mengerti dan merasa bosan.

Selain itu, ada satu hal yang membedakan Brave dengan produksi-produksi Pixar lainnya (baca : sebelumnya) adalah munculnya sejumlah crude humor yang sempat membuat saya terkejut. Humor-humor yang menyerempet sensuality dan kekerasan tingkat ringan yang biasanya menjadi komoditas animasi keluaran DreamWorks diadopsi di sini. Kalau soal perubahan ini sih relatif yah bagi penonton, apakah merupakan perkembangan ataupun malah kemunduran. Kalau saya yang sudah terlanjur jatuh cinta dengan sajian khas Pixar yang aman, elegan, dan cocok untuk semua umur sih agak risih. Bukan berarti saya anti crude humor yah. Saya sangat menikmatinya di installment-installment Shrek, misalnya. Tapi aneh rasanya menyaksikan hal-hal demikian di film keluaran Pixar.

So in short, tanpa ekspektasi apa-apa dan walau unsur archery pun belakangan sudah mulai overrated di Hollywood (tahun ini saja sudah ada di The Avengers dan Hunger Games), Brave masih merupakan suguhan yang menghibur bagi seluruh anggota keluarga. Tentu saja dengan dampingan orang tua untuk penonton di bawah usia 10 tahun. Oh iya, jangan lewatkan pula sebuah adegan post-credit-nya jika Anda penasaran.

The Casts

Aksen Norwegia yang terkadang terdengar kurang jelas bagi kita yang sudah terbiasa memahami aksen Amerika, menjadi ciri khas tersendiri untuk Brave dan semua lini pengisi suaranya mendukung feature tersebut dengan sangat baik. Namun demikian, tidak ada pengisi suara yang lebih menonjol ketimbang yang lain. Semuanya mengisi peran masing-masing sesuai dengan porsinya.

Technical

Soal detail gambar animasi, kualitas Pixar tidak perlu dipertanyakan lagi. Lihat saja detail rambut merah Merida yang justru sangat jelas terlihat ketika acak-acakan, detail butiran air, dan juga detail beruang Mor’du. Wonderful! Begitu pula dengan desain karakter yang masih ‘khas’ Pixar namun tetap unik dan menarik.

Divisi sound effect pun bekerja dengan sangat baik. Dengarkan suara geraman beruang (maaf, saya tidak menemukan paduan kata yang tepat untuk seekor beruang :p) atau suara letusan dari kuali nenek sihir. Crisp but clear.

Score dan original music yang juga sudah menjadi tradisi Disney maupun Pixar masih dipertahankan di sini. Score-nya tidak begitu iconic namun cukup membangun suasana sepanjang film. Sementara penggunaan theme songs-nya mengingatkan saya akan animasi-animasi klasik Walt Disney seperti Mulan.

The Essence

Dibandingkan “Father and Son”, tema “Mother and Daughter” masih tergolong jarang diangkat di Hollywood. Yang cukup berkesan bagi saya hanya Freaky Friday (Jamie Lee Curtis dan Lindsay Lohan), Anywhere but Here (Susan Sarandon dan Natalie Portman), dan serial Gilmore Girls. Terkait dengan budaya patriarki yang ternyata memang lebih mendominasi di berbagai wilayah di dunia, tentu saja permasalahan yang diangkat dari hubungan ibu-putri sangat berbeda dengan hubungan ayah-putra. Namun sebenarnya inti permasalahannya sama : masing-masing pihak punya alasan tersendiri untuk mempertahankan pendapat (atau pendirian)-nya. Orang tua yang merasa lebih tahu tentang kehidupan seringkali memaksakan berbagai hal demi ‘kebaikan’ anaknya. Sedangkan anak membutuhkan untuk memahami segala hal dalam kehidupan dengan sendirinya, tanpa campur tangan dari orang tua yang cenderung protektif. Jika melakukan kesalahan, let it be a lesson for them. It’s the human nature.

Mungkin Ratu Elinor tahu betul bagaimana seorang putri harus bersikap, namun ada kalanya ia butuh belajar tentang survival dari Merida. Sebaliknya, Merida juga belajar lebih banyak tentang kehidupan melalui kejadian-kejadian yang dialami bersama. Sebuah contoh yang sangat bagus tentang perlunya saling mengenal dan memahami antara orang tua dan anak untuk menemukan win-win solution terbaik, terutama demi perkembangan si anak sendiri.


Academy Awards 2013 Nominees for :

  • Best Animated Feature Film of the Year
Lihat data film ini di IMDB.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, June 22, 2012

The Jose Movie Review
Abraham Lincoln : Vampire Hunter

Overview

Film dengan plot yang memelintir sejarah sudah sering dibuat. Favorit saya sih Inglourious Basterds. Selain dari itu masih ada Hellboy dan Captain America : The First Avenger yang juga sedikit memelintir sejarah Nazi. Saya sih tidak keberatan dengan kekurang-ajaran ini karena menurut saya justru dengan cara demikian penonton (seharusnya) menjadi penasaran untuk mencari tahu lebih banyak tentang sejarah yang sebenarnya. Saya bisa mengerti jika Amerika mengolok-olok Nazi yang menjadi public enemy dunia sehingga sering dijadikan kambing hitam di berbagai film yang memelintir sejarah. Tapi saya tidak habis pikir jika salah satu presiden Amerika Serikat yang paling berpengaruh, Abraham Lincoln, menjadi “korban” imajinasi liar filmmaker Hollywood. Heran, tapi juga disertai rasa penasaran seperti apa jadinya, terlebih lagi setelah mengetahui bahwa sutradara Rusia dengan style unik, Timur Bekmambetov-lah yang mengarahkan. Jujur, tanpa nama Bekmambetov dan juga Tim Burton di jajaran produser, saya akan langsung melewatkan begitu saja premise seperti Van Helsing ini.
Dengan ekspektasi yang tak terlalu tinggi dan berusaha menikmati senyaman mungkin tiap durasinya, saya berhasil melewatkan keseluruhan film tanpa rasa kantuk atau bosan. Ada banyak hal yang harus saya toleransi dan abaikan demi menikmatinya. Pertama, tentu saja tebaran plothole di mana-mana yang untungnya masih tolerable. Kedua, alurnya yang sangat generik. Terakhir, keklisean yang juga tersebar di setiap sendi plotnya, termasuk elemen-elemen klasik sosok vampire. Jika Anda capek dengan semua ini, I suggest you to skip this flick. Namun jika Anda masih bisa mentolerirnya, Abraham Lincoln Vampire Hunter (ALVH) masih menawarkan adegan-adegan aksi stylish lengkap dengan ciri khas Bekmambetov : slow motion. Memang tidak se-remarkable Wanted, juga tidak terlalu bloody maupun gory, namun bagi beberapa penonton masih enjoyable. Oh iya, tingkat sadisme-nya berada di ambang bawah rating R. So mungkin bakal banyak penggemar gore yang kecewa.
Kelemahan lainnya juga terletak pada alur yang kurang rapi, dalam arti mengganggu kenikmatan mengikutinya. Saya mengerti plot turning point Abraham Lincoln dari seorang pemburu vampire menjadi sosok presiden yang berpengaruh sangat perlu dihadirkan dalam rangka mensinkronkan dengan fakta sejarah. Tapi kenapa harus meletakkannya di tengah-tengah dan melanjutkan aksi sang pemburu vampire di babak terakhir? Selain mengganggu kenyamanan mengikuti alur, aneh (dan konyol) rasanya melihat Abe tua bertarung memberantas komplotan vampire. Sama anehnya ketika melihat Master Yoda ikut berperang  dengan pedang lasernya di Star Wars Episode II. Untung saja cerita ditutup dengan kembalinya ke fakta sejarah tentang sosok Abraham Lincoln sehingga menutup kemungkinan adanya sekuel, walau bukan berarti menutup kemungkinan adanya spin-off.
Jadi apa yang tersisa yang bisa diharapkan dari ALVH? Well, untunglah Timur Bekmambetov yang duduk di kursi sutradara sehingga setidaknya memiliki style tersendiri. Favorit saya sih adegan pertarungan Abe vs. Jack Barts di tengah horse stampede. Sisanya... yah very mediocre lah.

The Casts

Entah apa yang ada di dalam benak eksekutif Fox sehingga memutuskan aktor yang kurang begitu dikenal untuk mengisi karakter utama, Abraham Lincoln. Benjamin Walker sebelumnya hanya mendapatkan peran-peran kecil, seperti di Kinsey, The Notorious Bettie Page, dan Flags of Our Fathers. Untunglah di balik wajah geek-nya, Walker bisa menghidupkan karakter Abe muda dengan cukup baik dan meyakinkan. Furious by vengeance sekaligus warmhearted. Saya jadi teringat penampilan James McAvoy di film Bekmambetov sebelumnya, Wanted.
Penampilan terbaik ditampilkan oleh Dominic Cooper (masih ingat Howard Stark muda, ayah Tony “IronMan” Stark, di Captain America : First Avenger?) dalam memberikan kharisma pada karakter Henry Sturgess.
Mary Elizabeth Winstead bisa dibilang aktris muda yang nasibnya cukup baik. Dari semua jajaran bintang franchise Final Destination, bisa jadi namanya lah paling bersinar hingga kini. Bermain di Live Free or Die Hard, Scott Pilgrim vs. The World, dan kini mengisi peran yang cukup penting di sini, menjadi bukti peningkatan karirnya. Sementara Rufus Sewell (A Knight's Tale dan The Legend of Zorro) yang sekali lagi memegang peran villain, masih tampil sesuai dengan porsinya walau karakternya bukanlah villain yang cukup memorable dan kharismatik.

Technical

Sebagai sebuah film action-horror, ALVH memiliki teknis yang cukup mumpuni terutama dalam menghidupkan ketegangan dan keseruan adegan-adegan. Tidak ada yang begitu menonjol namun editing, special effect, dan sound effect tampil dengan prima. Make up vampire-nya sendiri bagi saya cukup mengerikan walau masih terkesan seperti film vampire kelas B.

The Essence

Amerika Serikat sejak awal berdirinya menjadi simbol kebebasan. Perjalanan sejarah yang panjang mempengaruhi makna kebebasan bagi mereka sehingga menjadi hal yang sangat penting. Ada satu dialog yang paling menarik disampaikan oleh karakter Adam yang mempertanyakan kebebasan : “sudahkah kita membebaskan diri dari berbagai belenggu sebagai individu?” Sebuah pertanyaan yang cukup substansial dalam hidup namun luput untuk terbersit dalam pikiran kita. Di saat manusia sering berkoar-koar tentang kebebasan individu, seringkali malah ia sendiri belum terbebas dari dirinya sendiri, termasuk dari tuntutan-tuntutan yang dibebankan oleh sekelompok (masyarakat). Thanks Adam for questioning something that has harassed my mind pretty hard!
Lihat data film ini di IMDB.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Madagascar 3 : Europe's Most Wanted

Overview

DreamWorks Animation (DWA) bisa dibilang sebagai salah satu studio animasi yang paling kuat dalam melahirkan franchise-franchise baru. Setelah menutup franchise tersuksesnya, Shrek, DWA memilih untuk move on dengan franchise-franchise lainnya, seperti Kungfu Panda, Madagascar, dan How to Train Your Dragon. Tahun 2012 ini DWA memilih untuk merilis sekuel kedua dari petualangan Alex dan kawan-kawan setelah tahun lalu menjadi milik Po dan The Furious Five-nya.
Secara pribadi, saya berpendapat Madagascar memang layak menjadi franchise besar karena materinya yang bisa dikembangkan seluas-luasnya dan tentu saja menarik terutama dari segi desain karakter. Sekuel terakhir, Madagascar Escape 2 Africa, walaupun premise-nya tidak jauh berbeda dengan seri pertamanya, namun masih sangat berhasil dalam hal menghibur penonton (terutama penonton anak-anak yang menjadi target utama). Di installment terbarunya, saya menyambut baik pengembangan cerita yang dilakukan cukup drastis. Contoh baik dari pengembangan cerita yang bisa dilakukan sebuah franchise.
Film dibuka dengan adegan aksi chaotic ber-pace cepat, sama seperti yang dilakukan DWA di Kungfu Panda 2 tahun lalu. Jujur, saya tidak begitu menikmati dan menyukai adegan yang disajikan seperti ini, yang mana dilakukan sepanjang film Kungfu Panda 2 tahun lalu. Saking banyaknya adegan yang memberikan efek “lucu instan dan sejenak” namun pada dosis yang terlalu banyak bisa menyebabkan kebosanan dan pada akhirnya tidak memberikan kesan apa-apa, akan terlupakan begitu saja dalam waktu singkat. Untungnya adegan pembuka yang menggunakan formula ini tidak berlangsung lama.
Begitu memasuki fase berikutnya, dimana genk Alex bertemu genk sirkus Eropa, film berubah menjadi lebih berwarna. Pace menurun tapi justru di sinilah pace terbaik untuk dinikmati dalam bercerita, baik untuk penonton anak-anak maupun dewasa. Humor-humor baik yang slapstick maupun cerdas disebar di sana-sini untuk memeriahkan plot. Banyak yang berhasil walau ada pula beberapa yang biasa saja.
Dibandingkan dua seri sebelumnya, installment kali ini menyajikan lebih banyak adegan mustahil (kayaknya lebih tepat jika saya menyebut tingkat kemustahilannya paling tinggi). But, come on... this is an animation movie. Seperti kata Alex, “people love it because it's impossible”. Just let our childhood naiveness cheers a little. Kisah cinta antar-species seperti layaknya Donkey-Dragon di Shrek kembali dihadirkan di sini dengan kadar yang sama sweetnya dan tak kalah kocaknya. Walaupun film ditutup kembali dengan adegan aksi chaotic, namun setidaknya masih lebih enak untuk diikuti dan tidak berlebihan.
Seperti biasa di tiap installment pasti diperkenalkan karakter-karakter baru. Di sini ada cukup banyak karakter baru yang cukup menarik, seperti misalnya Vitaly, Gia, Stefano, dan tentu saja Sonya. Namun saya kurang begitu terkesan terutama dengan tampilan desain karakter-karakter barunya. Entah dengan penonton yang lain, saya merasa sejak Kungfu Panda 2 tahun lalu DWA mengalami penurunan dalam hal desain tampilan karakter-karakter barunya. Hampir semua karakter-karakter barunya seperti desain-desain generik yang sering diciptakan peserta lomba desain karakter. Kurang begitu ikonik. Lihat saja Vitaly yang mirip karakter harimau Kelloggs, atau Gia yang mengingatkan karakter Tigress di Kungfu Panda. Untung saja masih ada karakter villain, Captain Chantel DuBois yang paling berhasil menjadi karakter mengesankan dengan aneka keunikannya, seperti perpaduan Edith Piaf dan Cruella DeVil. Sayang, kemungkinan kemunculannya kembali di seri-seri berikutnya jauh lebih kecil dibandingkan karakter gerombolan sirkus yang ada.
Overall, walaupun tidak begitu memorable untuk jangka waktu yang lama (kecuali tentu saja senandung Afro Circus-nya Marty), Madagascar Europe's Most Wanted masih menjadi film animasi paling menghibur dan ceria dengan plot yang digarap dengan cukup baik tahun 2012 so far. Sayang rasanya jika melewatkan sajian yang satu ini di musim liburan kali ini.

Casts

Tidak perlu mengomentari pengisi suara karakter-karakter lamanya yang masih konsisten menjalankan tugas masing-masing. Di lini karakter-karakter baru, tentu DuBois menjadi yang paling menarik, terutama berkat aksen Perancisnya yang remarkable dan meyakinkan. Bravo untuk Frances McDormand (masih ingat pemeran karakter Secretary of Defense bertas Birkin di Transformers : Revenge of The Fallen?). Jessica Chastain yang dua tahun belakangan ini namanya sedang naik daun juga mencuri perhatian berkat aksen Spanyol ala Penélope Cruz lewat karakter Gia.

Technical

Salah satu kekuatan yang membuat installment ini very loveable adalah penggunaan warna-warni ceria untuk menghias layar, terutama ketika adegan-adegan circus performance-nya yang sangat memanjakan mata. Penonton pun dapat dengan mudah memaafkan kemustahilan adegan demi adegan yang ada.
Score dan music yang mengiringi worked very well in order to cheer the movie up. That's what we always love from these kinds of entertaining movie, isn't it?
Jika Anda mempertimbangkan, versi 3D-nya adalah pilihan yang tepat. Impressive 3D effects, baik dalam hal pop-out gimmick maupun depth of field. It's a lot of fun and worth every extra pennies you've spent.

The Essence

Home. Tema yang diusung franchise Madagascar sejak installment pertamanya. Alex yang di installment kedua memutuskan Afrika sebagai rumahnya, kali ini merindukan New York, kota tempat ia dibesarkan dan dipuja-puja pengunjung Kebun Binatang. Apa sih makna “rumah” sebenarnya bagi kita?
Some of us mungkin akan menjawab keluarga, tempat tinggal orang-orang yang kita cintai dan juga mencintai kita. “Rumah” juga bisa jadi tempat asal kita sejak awal, tempat kita lahir dan atau dibesarkan. Namun installment ketiga ini menawarkan pilihan “rumah” yang lain : lingkungan tempat kita merasa nyaman berada di dalamnya. Alex mungkin merindukan New York. Marty mungkin merasa bersalah telah mengajak teman-temannya dalam aneka petualangan berbahaya ke Madagascar, Afrika, hingga Eropa. Namun tak satu pun dari mereka ada yang menyesal telah meninggalkan New York karena melalui petualangan itulah mereka semua menemukan “rumah” mereka. “Rumah” ada di mana-mana selama kita merasa nyaman berada di dalamnya dan kita dianggap “seseorang” bagi “rumah” kita.
Lihat data film ini di IMDB.


Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, June 17, 2012

The Jose Movie Review
Soegija

Overview

Setelah seminggu histeria Soegija akhirnya mereda juga. Banyaknya review negatif tidak menyurutkan rasa penasaran saya akan film terbaru Garin Nugroho ini karena saya yakin seorang Garin memiliki standard kualitas tersendiri dalam berkarya. Ternyata saya tidak salah, namun review-review negatif yang beredar pun ada benarnya juga.

Kebanyakan orang mungkin memiliki ekspektasi Soegija akan menjadi sebuah film biopic dimana perkembangan karakter utamanya menjadi fokus sepanjang durasi, mulai dari lahir, karya-karyanya, hingga kematiannya. Namun rupanya Garin tidak mengambil pola ini. Ia lebih tertarik menggunakan sudut pandang seorang Mgr. Soegijo untuk menceritakan kejadian demi kejadian yang terjadi di tanah air selama masa menjelang kemerdekaan hingga perebutan kembali tanah air dari Sekutu. Singkatnya, ia memvisualisasikan “buku harian” yang ditulis oleh Monseigneur. Suatu keputusan yang sah saja apabila ia tetap memberikan nafas semangat sang tokoh utama pada tiap kejadian yang terjadi di layar sehingga setidaknya penonton bisa mengenal dan terkesan dengan karakter Soegija secara utuh seusai menonton. Sayang, hal itu tidak terjadi. Hanya ada beberapa quote dari karakternya yang berkesan dan bermakna dalam. But that’s all. Justru adanya karakter penyiar radio keliling yang seolah menjadi “narator tambahan” terasa lebih dominan dalam menuturkan cerita, menutupi narator utama yang seharusnya berada di tangan karakter Soegija sendiri.

Sebagai pemanis cerita, dihadirkan karakter-karakter fiktif untuk merepresentasi golongan-golongan yang bergulat pada masa itu yang sebenarnya semuanya menarik untuk diikuti. Porsi mereka justru jauh lebih banyak ketimbang karakter Soegija sendiri. Banyak subplot menarik, seperti misalnya apa yang terjadi pada ibu Ling Ling, hubungan antara Mariyem dan Hendrick, pergulatan batin Nobuzuki, dan perkembangan karakter Robert. Namun sekali lagi naskah gagal untuk menanamkan kesan yang dalam dan menimbulkan simpati dari penonton kepada karakter-karakter yang ada. Adegan masing-masing karakter yang sepotong-sepotong memang masih mampu menyentuh penonton namun tidak secara utuh sepanjang film. Penyebabnya sama, setiap karakter tidak diberikan perkembangan yang cukup dalam dan berarti.

Jika hanya melihat film ini sebagai potongan-potongan adegan, bisa jadi malah lebih menarik ketimbang menyaksikannya secara utuh. Semua elemen teknis dan akting sudah sangat mendukung, namun gagal memberikan arti ketika dirangkai menjadi satu kesatuan. Tak heran jika lantas muncul gosip bahwa film Soegija yang kita tonton di bioskop sudah mengalami pemotongan oleh LSF dari durasinya yang sedianya sekitar 3 jam. Saya sih lebih percaya jika pihak pembuat film lah yang “bermain aman” dengan memutuskan untuk menghilangkan elemen-elemen utama cerita, terutama unsur semangat dan peran Gereja Katolik (termasuk peran karakter Soegija sendiri yang tidak bisa dilepaskan dengan semangat Gereja Katolik), demi menggenaralisasikan tema cerita yang “nasionalis” dan terlepas dari tuduhan Kristenisasi yang belakangan menjadi sangat sensitif. Sayang sih sebenarnya saya lebih suka jika penonton (terutama yang awam tentang Gereja Katolik) melalui film seperti ini bisa mengenal dan mengerti Gereja Katolik dan menyadari bahwa siapapun itu, termasuk Gereja Katolik memiliki peran juga dalam kemerdekaan bangsa Indonesia. Jika Islam menjelaskan tentang ajaran dan perannya bagi bangsa secara general lewat film-film seperti Sang Pencerah, kenapa agama lain harus takut untuk melakukan hal yang sama? Semoga di lain waktu, ketika sensitivitas antar umat beragama agama di negara ini menghilang, semuanya bisa memiliki keberanian untuk menyuarakan perannya bagi bangsa ini.

Saya yakin apabila film memasukkan adegan-adegan tambahan yang mampu menguatkan karakter-karakter yang ada, Soegija bisa menjadi film sejarah, biopic, sekaligus epic terbaik yang pernah dibuat Indonesia. Bahkan bukan tidak mungkin menjadi film pertama yang (akhirnya) lolos masuk nominasi Academy Awards. Semoga saja Garin punya banyak stock footage yang bisa dimasukkan dalam film ketika keadaan negara ini sudah lebih baik, atau segera mengambil gambar-gambar tambahan untuk merevisi versi yang sekarang. Harapan saya ini serius lho. Hanya penambahan adegan-adegan tersebut yang harus dilakukan untuk memperbaiki film ini menjadi mahakarya yang utuh dan sempurna.

The Casts

Kekuatan cast di sini menjadi salah satu kekuatan yang setidaknya berhasil membuat penonton tersentuh walau hanya dalam potongan-potongan adegan. Kesemuanya memiliki sumbangsih akting yang luar biasa. Saya tidak bisa berkomentar soal Nirwan Dewanto yang memerankan Soegija karena perannya yang memang tak banyak. Dari yang tampak di layar sih cukup kharismatik. Butet Kertaradjasa dengan celetukan-celetukan kocaknya yang tidak hanya berhasil menghidupkan suasana namun juga mampu menyampaikan pemikiran-pemikiran tersendiri, misalnya soal manusia yang utuh dan kebebasan.

Olga Lydia dan juga terutama Andrea Reva (pemeran Ling Ling) membuat penonton bersimpati melalui nasib mereka yang selalu dijarah oleh bangsa sendiri. Khusus untuk Reva, penampilan yang luar biasa dan mampu bikin merinding.

Annisa Hertami yang berperan sebagai Mariyem tak kalah mengundang simpati penonton. Adegan memandikan jenazah yang dilakoninya menjadi puncak pencurahan emosinya yang luar biasa.

Wouter Zweers, pemeran Robert, tentara Belanda yang bangga menjadi mesin perang, menjadi karakter antagonis yang tampak bengis. Tak banyak adegan yang menampilkannya namun memberikan kesan di tiap penampilannya. Begitu pula dengan Suzuki (pemeran Nobuzuki) dengan perannya sebagai penjajah Jepang yang bengis namun berhasil membangkitkan simpati penonton di beberapa adegan pentingnya.

Satu lagi karakter yang menurut saya paling menarik walau sebagian besar penonton malah menjadikannya bahan tertawaan; seorang remaja yang tidak bisa membaca namun memiliki jiwa rebel tinggi, mempertanyakan banyak hal di sekitarnya. Dengan senjata api diselipkan di bagian belakang celananya, ia menjadi representasi kebanyakan pemuda bangsa bahkan hingga saat ini. Sosok pemuda yang give up pada pendidikan dan lebih memilih untuk “gelut” (berkelahi) untuk membela haknya. Cermin buram namun nyata bangsa ini. Saya sama sekali tidak tertawa melihat tingkahnya di sini walaupun sebagian besar penonton tertawa terbahak-bahak. I think it’s our nation’s ironic. Pada adegan puncaknya, ia mengingatkan saya pada remaja biasa yang berhasil membunuh Khadafi. We think this type of people will be our scum of society, but we have to admit this kind of people are the ones having enough gut to make changes. Kredit tersendiri untuk munculnya karakter ini sekaligus pemerannya.

Technical

Secara teknis, satu kata… JUARA!!! Detail set, kostum, sinematografi, scoring, sound effect, semuanya kelas dunia. Bahkan jika tidak melihat cerita dan mendengarkan dialog bahasa Indonesianya, siapa saja akan mengira ini adalah film Hollywood kelas A. Pencapaian tertinggi film Indonesia so far. Dana yang mencapai dua belas milyar itu menjadi masuk akal melihat hasil detail teknisnya.

The Essence

Ada banyak esensi yang bisa ditarik, baik secara verbal (melalui dialog) maupun melalui adegan. Dari mulut Monseigneur sendiri mengingatkan tentang pentingnya fungsi kepemimpinan sebagai pemimpin, bukan hanya penguasa. Ia juga menjelaskan fungsi dan peran imam sebenarnya dalam masyarakat, serta juga keutuhan hidup manusia.

Dari karakter-karakter pendukung, saya paling terkesan dengan esensi yang dimunculkan dari karakter Nobuzuki dan Robert. Walau berada di pihak antagonis (baca : penjajah), keduanya menunjukkan bahwa mereka sebenarnya tidak suka perang. Ada banyak hal yang memberatkan mereka untuk terlibat dalam perang. Tapi perang telah mengubah hidup mereka namun pada satu titik mereka diingatkan kembali tentang hal-hal lebih berharga yang mereka tinggalkan demi tugas perang.

Jelas humanity melalui berbagai sisi karakter menjadi headline yang ingin disampaikan Garin melalui karyanya kali ini. 

Lihat situs resmi film ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, June 10, 2012

Histeria Soegija
(Sebuah essay opini, bukan review film)

Saya sangat senang ketika akhirnya film Soegija yang diarahkan oleh Garin Nugroho diputar di bioskop-bioskop tanah air dengan sambutan yang tergolong fantastis untuk ukuran film nasional. Sejak awal berita pembuatannya, saya sudah sangat excited untuk menyaksikannya. Namun semakin mendekati hari H peluncuran, saya semakin merasakan banyak ke-ilfill-an seputar film ini. Bukan soal filmnya sendiri tetapi mengenai sikap beberapa kelompok orang dalam menyikapinya. Persetan dengan provokasi via BBM tentang boikot karena bagi saya sudah menjadi modus basi (that's why I hate BB so much because people making it to stupify themselves). Which smart people will eat that bait anyway?
Kaum Skeptis dan Aktivitas Wajib Sekolah
Sekitar sebulan sebelum tanggal rilis, 7 Juni 2012, saya mendapatkan tag foto poster film Soegija di Facebook dari teman saya. I don't mind with that kind of tag walau pengunggah foto dan komentar-komentar yang ada di sana sama sekali tidak saya kenal. Yang mengganggu pikiran saya adalah beberapa komentar yang mengganggu pikiran saya. Ada satu orang mengeluhkan sekolah yang mewajibkan anaknya ikut nonton bersama film tersebut. Dengan nada skeptisnya, ia melampiaskan emosinya dengan berkomentar tentang dana 12 miliar yang menurutnya terbuang sia-sia hanya untuk membuat film tersebut. Bahkan ia berujar kalau Mbah Soegija pasti menangis di atas sana, tidak berharap cerita hidupnya diangkat menjadi film dengan membuang-buang uang 12 miliar yang seharusnya bisa digunakan untuk disumbangkan ke orang-orang miskin. Oh man... How can a man think that shallow? It's not cheap to make a good movie, you don't know how a movie can inspire people, and inspiration values more than just 12 billion for God's sake! Saya lebih mending menyumbangkan inspirasi untuk kaum miskin sehingga mereka bisa sukses dengan usaha sendiri ketimbang menyumbang mereka materi yang hanya akan membuat mereka semakin manja bergantung dari pemberian orang. Yah yah yah.. saya jadi ingat polling yang diangkat Kompas beberapa waktu lalu tentang kaum menengah di Indonesia yang skeptis dalam menanggapi berbagai hal.
Oke, mari lupakan kaum skeptis yang sudah sangat susah untuk diubah pola pikirnya. Semoga ke depannya tidak semakin banyak kaum seperti ini. Saya kembali ke topik sekolah-sekolah Katolik yang mewajibkan murid-muridnya untuk berpartisipasi dalam suatu kegiatan (salah satunya menonton film). Bukan barang baru sih, sejak saya TK (kebetulan sejak TK hingga SMA saya bersekolah di sekolah Katolik) sudah sangat sering diwajibkan untuk ikut inilah, itulah.. Dulu sih saya dan orang tua seringnya ngomel-ngomel. Sekolah koq macem-macem, aneh-aneh kegiatannya, apa-apa duit. Kalau sekarang saya berpandangan bahwa it's good to give students many experience sehingga murid-murid tahu banyak hal dan berpandangan luas. Terlebih lagi jaman sekarang, ada berapa banyak sih murid yang berinisiatif ikut suatu kegiatan kalau tidak diwajibkan? Mending main iPad atau Xbox deh di rumah. Gitu kan? Celakalah generasi penerus bangsa! Sayangnya, sistem “wajib” seperti ini bisa menjadi bumerang, terutama bagi image film Soegija sendiri. Saya yakin Garin Nugroho atau tim produksi tidak akan menggunakan cara seperti ini untuk mempromosikan filmnya. But let's think positive about this kind of student activities.

Gereja Berpromosi
Beberapa minggu sebelum rilis, di gereja Paroki saya pun semakin gencar promosi. Selain spanduk rentang collybrite yang membentang di halaman gereja, Romo juga menghimbau umatnya untuk berpartisipasi menyaksikan film ini dengan (lagi-lagi) menyebut angka 12 miliar dan juga kebijakan jaringan 21/XXI tentang masa tayang film Indonesia yang akan dihentikan jika tidak sampai target penonton tertentu dalam waktu 3 hari. Wah hebat, Romo sekarang jadi ikut tahu gerakan #kamiskebioskop hehehe... Saya tersenyum bangga akhirnya ada film Indonesia yang diapresiasi di gereja hingga menimbulkan hype seperti ini. Lebih bangga lagi, akhirnya ada cerita yang mengangkat topik Katolik dari Indonesia untuk memperkaya referensi orang asing tentang budaya bangsa kita yang tidak melulu tentang yang mayoritas itu.
Bookingan Penonton Komunitas
Lantas saya mulai mengernyitkan dahi ketika Romo mengumumkan bahwa sekretariat gereja membuka pendaftaran bagi umat yang ingin menyaksikan film tersebut bersama-sama dengan menjual voucher yang nantinya ditukar di bioskop pada hari H penayangan. Saya masih berpikir, “ah nanti beli tiket langsung di bioskopnya aja”. Menginjak H-1 saya terkejut ketika mendengar kabar via akun twitter @SoegijaTheMovie bahwa tiket Soegija untuk penayangan hingga tanggal 11 Juni 2012 sudah habis di-booking. HAH??? Koq bisa begitu? Yang saya tahu sih selama ini pihak 21/XXI tidak pernah membuka pre-sale tiket untuk film apapun hingga lebih dari tiga hari penayangan. Adapun dulu ketika Harry Potter and The Deathly Hallows Part II atau The Avengers hanya membuka presale untuk penayangan 3 hari pertama (hingga hari Minggu). Itu pun mereka tidak menjual semua seat yang ada. Sebuah kebijakan yang sangat baik menurut saya, sehingga penonton yang tidak memiliki akses pre-sale atau mtix tidak pulang ke rumah dengan kecewa gara-gara gagal menyaksikan film. Apalagi penonton dari kota kecil sampai berkorban jauh-jauh ke kota besar terdekat karena di kotanya tidak ada gedung bioskop. Kasihan banget kan?
Lebih parah lagi, di kota sebesar Surabaya film Soegija hanya diputar di lima layar (empat theatre, satu theater memutar di 2 layar; Ciputra World) dan tidak satu pun gedung bioskop yang memutar film tersebut didukung oleh mobile ticketing Mtix. Baru hari kedua ditambah hingga tujuh layar (hanya 1 theatre yang mendukung Mtix; Cito, yang jaraknya 10 km lebih dari tempat tinggal saya maupun pusat kota). Hilang sudah appetite saya untuk menonton cepat-cepat. Sudah tidak bisa via Mtix, antri langsung on the spot juga belum tentu dapat tiket karena tidak ada kepastian masih ada seat yang dijual atau tidak untuk penonton reguler. Tidak ada pengumuman resmi pula dari pihak XXI/21 hingga kapan ia menerima bookingan untuk Soegija sehingga batas waktu untuk tebak-tebak buah manggis di bioskop masih tidak jelas.
Jatah layar Soegija
Satu hal yang bisa saya tarik dari histeria Soegija ini adalah sebuah ironi. Beginilah akibat dari kebijakan XXI/21 yang seolah-olah menganak-tirikan film nasional dalam hal jatah layar pemutaran, bahkan kepada film yang jelas-jelas memiliki hype yang sangat tinggi. Jika The Raid bulan lalu diberi jatah jumlah layar yang sama dengan film-film Hollywood besar lainnya, kenapa Soegija tidak? Padahal jauh-jauh hari sebelum perilisan Soegija sudah di-booking oleh banyak pihak hampir di setiap kota besar yang memutar, sedangkan The Raid sama sekali tidak ada kegiatan pre-sale. Jawabannya jelas : The Raid adalah film dengan tema populer yang bisa dinikmati oleh lebih banyak kalangan dan alasan terbesar adalah film ini hype-nya sangat tinggi secara internasional. Siapa yang tidak penasaran menyaksikannya? Sedangkan Soegija punya tema yang (kelihatannya) lebih segmented dan belum punya prestasi internasional apa-apa. Ditambah lagi jadwal rilisnya yang berbarengan banyak sekali summer movies Hollywood yang jadi tambang emas utama bagi XXI/21 terutama karena distributor untuk kebanyakan summer blockbuster movies tersebut adalah dari afiliasi mereka sendiri (Omega Film). Tentu mereka tidak mau mengkompromikan sedikitpun jatah yang sudah mereka siapkan untuk film-film Hollywood ini. Tak heran jika group XXI/21 memberikan jatah layar yang lebih sedikit untuk Soegija, sekiranya cukup untuk memenuhi kuota bookingan saja. Siapa tahu berita meledaknya penonton yang membooking ini bisa jadi promosi yang ampuh untuk menjaring lebih banyak penonton nantinya.  Lumayanlah, usia tayang di bioskopnya bisa lebih lama. Hmmm… trik yang menarik juga sih, entah berasal dari pihak produser film ataupun group XXI/21. Btw ini hanya dugaan lho yah, murni dari hasil analisa saya sendiri, belum tentu kebenarannya.
Kesimpulan Soegija bagi penonton Indonesia
Ketika hari pertama rilis (7 Juni 2012) timeline saya yang kebanyakan berasal dari kaum movie mania maupun pelaku industri film tanah air dipenuhi oleh pujian untuk Soegija (tentu saja selain tweet hujatan untuk KK Dheeraj atas Mr. Bean Kesurupan Depe-nya). Satu kesimpulan yang ditarik oleh banyak orang : terbukti bangsa Indonesia merindukan tontonan tentang kepahlawanan dan hidup dalam damainya kemajemukan. Hmmm… saya masih menyangsikan kesimpulan ini mengingat fakta yang saya uraikan di segmen sebelumnya dan fakta-fakta lain yang terjadi di tanah air belakangan ini. Kalau mau membuktikan hipotesa (ciaahh.. hipotesa jareee…) tersebut, agaknya harus menunggu ketika penonton Soegija bersih dari seat bookingan dan hanya diisi murni oleh penonton yang berinisiatif pribadi untuk menyaksikan film ini, entah berapa lama lagi hal ini terjadi. Kita lihat saja nanti. Semoga saja benar sehingga kita tidak perlu membaca berita tentang kekerasan intoleransi lagi di tanah air.
Lihat website resmi Soegija
Lihat The Jose Movie Review - Soegija.



Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, June 7, 2012

The Jose Movie Review
Prometheus


Overview
Ridley Scott adalah salah satu nama sutradara yang tak perlu lagi diragukan kemampuannya dalam mengarahkan film. Setelah dua tahun absen (terakhir menyutradarai Robin Hood di tahun 2010), Ridley rupanya menggarap salah satu proyek idealisnya, Prometheus. Bisa dibilang ini adalah prekuel dari franchise Alien yang pernah dimulainya di tahun 1979. Setidaknya Prometheus punya pertalian cerita dan universe yang sama dengan salah satu horror sci-fi paling terkenal itu.

Dengan berbagai elemen yang sama dengan Alien, tak heran jika hasil produksinya juga memiliki cita rasa yang hampir sama. Itulah yang saya rasakan sejak awal film and that’s a good sign since we haven’t seen a lot of pretty decent sci-fi lately. Kekuatan utama dari film adalah premise cerita yang menarik, dirangkai dalam perkembangan plot yang semakin lama semakin membuat penasaran, dan yang membuat saya memutuskan bahwa Prometheus adalah film bagus adalah kesimpulan dari film ini yang tidak disampaikan secara terang-terangan. Sehingga membuka ruang diskusi bagi para penontonnya sehabis menonton.

Sebagai sebuah film horror-thriller pun saya rasa sudah bisa dikatakan berhasil dalam membangun suasana mencekam dan adegan-adegan mengerikan, walau masih belum sekelas Event Horizon. Saya sendiri sebenarnya tidak begitu merasakan ketegangan yang kadarnya tinggi dan juga tidak peduli dengan nasib karakter-karakternya karena saya terlalu sibuk untuk penasaran dengan kepingan-kepingan puzzle plot yang disebar sepanjang film. Dengan kata lain, Prometheus berhasil membuat saya tertarik dengan plotnya tapi mengesampingkan karakter-karakternya. Terserah Anda mengartikan ini sebagai hal yang positif atau negatif.

Namun bukan berarti semua pertanyaan akan bisa terjawab dengan teliti memperhatikan tiap detail film. Ada beberapa hal yang masih saya pertanyakan tentang logika film ini. Saya sih memilih untuk menerka-nerka sendiri jawabannya sambil menantikan penjelasan yang lebih pasti jika kelak ada sekuel-nya (dan saya yakin sudah pasti dipersiapkan untuk kemungkinan tersebut sebagai “jembatan” menuju seri pertama Alien) ketimbang keburu menjustifikasi sebagai plothole.

In my short, baik secara premise maupun teknis, Prometheus adalah suatu produksi yang baik walau masih tidak se-epic Alien. Very worth watching in theatres.

The Casts
Saya melihat tak ada karakter yang benar-benar orisinil di sini. Hampir semuanya memiliki karakteristik yang mirip dengan karakter-karakter film yang pernah ada sebelumnya. Misalnya karakter Elizabeth Shaw (Noomi Rapace) yang mirip dengan Ripley yang dibawakan secara iconic oleh Sigourney Weaver dari Alien. Robot David (Michael Fassbender) juga mengingatkan saya pada karakter Gigolo Joe yang dibawakan Jude Law di Artificial: Intelligence, dan Meredith Vickers (Charlize Theron) yang mirip dengan TX (Kristanna Loken) di Terminator 3 : Rise of the Machines.

Tentu saja dari kesemuanya, Noomi Rapace berhasil mencuri perhatian layar berkat porsi yang dominan dan performa akting Noomi yang baik. Lebih baik ketimbang di Sherlock Holmes : A Game of Shadows, dan setara lah dengan penampilannya di trilogy Millennium yang melambungkan namanya. Michael Fassbender juga berhasil mendapatkan simpatik dari saya sebagai robot yang less feeling and more curiosity. Andai saja dia juga dibuat tidak berkedip seperti robot-robot di A:I mungkin akan lebih mengesankan lagi. Terakhir, Theron seperti biasa tampil anggun, berkelas, tapi juga licik at the same time. You know she’s good at it.

Technical
Setelah bertahun-tahun disuguhi visual fx yang begitu-begitu saja di berbagai film, akhirnya ada juga film yang berhasil memuaskan saya secara visual. Saya sangat menyukai visualisasi alien (menyerupai manusia) yang sedikit demi sedikit hancur dari dalam, The Med Pod; mesin operasi otomatis yang menurut saya visioner dan masih masuk akal diwujudkan, dan banyak lagi elemen-elemen teknologi yang wowed me sepanjang film. A very good job in this department!

Di divisi sound effect juga terdengar maksimal. Tak hanya efek-efek suara yang crisp tapi jernih, efek surround juga dimanfaatkan semaksimal mungkin. Dengarkan saja suara gemericik air di gua, suara badai elektrik yang menggetarkan seat bioskop namun tidak terdengar berisik, dan suara pekikan alien yang sounds so real. This was one of the most amazing audio experience from a movie I’ve ever had.

The Essence (Spoiler Alert!)
Premise-nya cukup kontroversial; mempertanyakan asal-usul kehidupan (manusia) yang mau tidak mau berkaitan dengan siapa Sang Pencipta dan apa tujuan dari penciptaan tersebut. Hal yang sensitif terutama bagi kaum religius yang sejak awal seolah-olah “memusuhi” kaum scientist yang tidak begitu saja menerima konsep ke-Tuhan-an sebagai sosok Pencipta.

Seperti kata ayah Elizabeth, setiap manusia berhak memiliki pandangan masing-masing tentang keberadaan hidup termasuk dalam menyebut tempat tujuan manusia setelah kematian. Satu hal yang pasti, tak ada satu pun manusia yang tidak mempertanyakan eksistensinya, termasuk kaum atheis yang banyak ditampilkan di sini. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuat manusia selalu berusaha mencari. Bahkan agama pun sebenarnya tidak pernah memiliki jawaban untuk semua pertanyaan manusia karena agama ada untuk direnungkan dan ditelaah oleh manusia, bukan untuk menjawab pertanyaan. Jawaban yah ada di tangan masing-masing individu.

Kalau mau diteliti, film ini tidak pernah mendoktrin tentang siapa Sang Pencipta (di sini disebut sebagai Engineers) dan apa tujuan hidup manusia. Adapun teori-teori yang disampaikan adalah persepsi dan asumsi dari karakter-karakter yang ada dan itu tentu saja belum tentu benar (that’s why I can’t call them as plotholes). Penonton lah yang (harus) terus mencari dan menentukan jawabannya masing-masing. Ah, saya jadi ingat epilog-nya.

Academy Awards 2013 Nominees for :

  • Best Achievement in Visual Effects
Lihat data film ini di IMDB.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
50/50


Overview
Anda pernah menyaksikan dan terkesan dengan film berjudul (500) Days of Summer? Well, saya rasa Anda juga akan menikmati sajian yang satu ini. Memang, antara (500) Days of Summer dan 50/50 tidak memiliki sutradara maupun penulis cerita yang sama, hanya Joseph Gordon Levitt lah letak persamaannya. Oh iya satu lagi, keduanya memiliki judul yang diawali angka 50. That’s all. Tapi entah kenapa dan bagaimana, saya merasakan aura dan feel yang sama antara keduanya sejak menit awal film. Bukan hal yang buruk karena saya merasakan kenyamanan sepanjang durasi film (pada dua judul yang saya sebutkan tesebut). Yap, sejak awal cerita bergulir hingga akhir, 50/50 adalah suguhan yang comforting dan bikin feel good bagi penonton.
Agak tak pantas memang untuk menyandingkan tema penyakit ganas dengan komedi. Biasanya tema seperti ini hanya dijadikan film tearjerkers. Nyatanya 50/50 berhasil memadukan keduanya tanpa terasa inappropriate. Memang sisi komediknya tidak se-hilarious film-film Farrelly Brothers, tapi cukup lah untuk membuat penonton tersenyum dan menyadari bahwa hati yang riang bisa jadi obat yang lebih mujarab ketimbang harus menguras air mata yang semakin membuang energi. Tema struggling with deadly disease disajikan dengan sangat menarik dan detail emosional yang baik. Pada akhirnya penonton menjadi bersimpatik kepada karakter Adam bukan karena kasihan pada kondisinya, tapi karena perkembangan karakter yang dilaluinya. Menyentuh namun tidak sampai menjadikan penonton cengeng.
Sayang, kekuatan tema pergulatan seseorang dalam menghadapi penyakit ganas di sini tidak diimbangi dengan kuatnya tema bromance yang justru dijadikan bahan “jualan” utama. Lihat saja tagline “It takes a pair to beat the odds” dan selalu tampilnya dua karakter utama, Adam dan Kyle, di semua materi promosinya. Saya tidak begitu melihat ada kedekatan emosional atau sikap saling peduli antara keduanya. Justru Kyle tampak memanfaatkan kondisi Adam untuk keuntungan dirinya sendiri. Sorry, but the bromance premise was a total failure to me.
Selain dari itu, plot hubungan asmara Adam justru terasa lebih menarik. Memang bukan menjadi plot yang dipentingkan tapi nyatanya digarap dengan lebih baik ketimbang sisi bromancenya. So, I think it’s a sweet bonus to redeem the bromance.
The Casts
Joseph Gordon Levitt (JGL) semakin lama semakin menonjol dalam film-film yang diperankannya. Dengan bentuk tubuhnya yang kurus, ia berhasil membuktikan bahwa kemampuan akting lebih penting ketimbang tampilan fisik. Memerankan karakter yang tak jauh berbeda dengan di (500) Days of Summer, penampilan JGL masih memikat sebagai pria dengan penyakit kanker. Beruntung skrip memberikan detail emosi dan perkembangan karakter yang baik untuk karakternya dan ia membawakannya dengan sangat pas.
Sementara Seth Rogen masih membawakan karakter tipikalnya, pemuda slacker yang agak nyentrik. So what can I say. Let’s say that he’s still playing himself and the script hasn’t been so kind to him. Maaf Rogen, penampilan Anda tidak begitu mengesankan bagi saya di sini.
Seperti dengan film-film sebelumnya, perhatian saya selalu teralihkan ketika Anna Kendrick muncul di layar (bahkan ketika tampil sebentar di Twilight Saga!!!). I just loved her charm and I think she’s one of the most promising young actress. Beruntung pula ia seringkali mendapatkan peran yang menarik, seperti halnya di sini yang bagi saya berhasil mengalahkan performa Seth Rogen dan Bryce Dallas Howard. Terakhir, saya sangat mengapresiasi akting Angelica Houston yang walau tak begitu banyak tapi sangat berkesan. Aktingnya dalam membawakan karakter wanita dengan dua anggota keluarga pria berpenyakit parah terasa begitu hidup dan simpatik khusus dari saya teralamatkan untuknya.

Technical
Tak ada yang sangat menonjol dari sisi teknis. Editing, sinematografi, setting dan kostum, semuanya terasa pas sesuai dengan kebutuhan dalam membangun suasana yang diinginkan. Mungkin yang paling menarik adalah soundtrack pengiring yang mampu menghanyutkan suasana, baik di saat haru maupun bahagia. As good as (500) Days of Summer’s soundtrack but less memorable.
The Essence
Setiap kali mendengar kabar kerabat yang menghadapi penyakit ganas, kita selalu merasa perlu untuk menunjukkan kekhawatiran kita dan memberikan semangat. We say, “I’m sorry to hear that”, “don’t worry, you are going to be okay”, atau sejenisnya. Padahal sebenarnya si penderita hanya perlu dimanusiakan seperti biasa, seperti tidak ada penyakit apa-apa yang sedang menggerogotinya. Saya sendiri pernah menghadapi penyakit ganas yang hampir merenggut nyawa saya, so I know exactly what and how did Adam feel and think in the movie. Thank God, ada juga yang mengangkat tema ini ke layar.
Di sisi lain, sebenarnya orang yang memerlukan penghiburan bukanlah si penderita itu sendiri, tetapi orang terdekatnya (baca : orang yang mengasihinya). Di sini, ibu Adam lah yang memerlukan penghiburan dan ucapan, “He’s going to be okay”. Jadi tidak salah jika Katherine menyebut Adam egois ketika ia merasa tidak nyaman dengan kekhawatiran berlebihan dari ibunya. 

Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates