5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies

What if Ario Bayu, Muhadkly Acho, Arifin Putra Dwi Sasono, and Cornelio Sunny play dumb and fight the zombies?
Opens Dec 14.

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

After glorious trip worldwide, the latest feminist heroine from Mouly Surya comes home.
Read more.

Justice League

The DC superheroes are finally united, bringing justice for all.
Read more.

Star Wars: The Last Jedi

What path Rei will choose? The Jedi or the Sith?
Opens Dec 15.

Chrisye

Witness the side of Indonesian music legend you never know before.
Opens Dec 7.

Thursday, May 31, 2012

The Jose Movie Review
MIB 3 (Men in Black III)



Overview
Men in Black (MIB) di mata saya adalah franchise film blockbuster yang tanggung, tidak bagus-bagus amat tapi juga tidak buruk sama sekali. Seri pertama dan keduanya bisa dibilang biasa saja, hanya jualan special effect dan tentu saja humor. Premis yang menarik sebenarnya, dimana digambarkan bahwa di muka bumi ini sebenarnya ada banyak sekali imigran alien yang tinggal di tengah-tengah masyarakat dengan agen-agen MIB sebagai pengurus keimigrasian mereka selama di bumi. Installment pertama just fine for a start, sementara installment keduanya terasa seperti film televisi yang miskin plot dan durasinya yang menyusut tajam. Pendeknya, MIB murni menjadi eye-candy entertainment. Sepuluh tahun kemudian, dengan promosi pra-tayang yang tidak terlalu gencar dan juga (menurut saya nih ya) tidak banyak penonton yang peduli apakah MIB akan ada lanjutannya atau tidak, MIB3 dirilis di pasaran. Rupanya baik para produser maupun sutradara Barry Sonnenfeld sudah mengantisipasi supaya MIB3 ini “aman” di pasaran dengan cara memberikan perbaikan, penyegaran, dan pembaruan di sana-sini. Berhasil? Tergantung dari selera masing-masing penonton, tentu saja.
Perbaikan yang paling kentara adalah perbaikan plot yang terasa lebih “berisi” ketimbang seri-seri sebelumnya. Hubungan antara Agent J dan Agent K menjadi fokus utama, sementara plot tentang mengalahkan villain dan misi penyelamatan dunia menjadi prioritas berikutnya. Keputusan yang cukup bijak karena dengan demikian cukup mengubah image franchise MIB menjadi lebih baik. Apalagi plot utama ini ternyata digarap dengan baik dari segi skrip maupun eksekusi. Tentu saja masih tak lepas dari beberapa plothole terutama dari segi logika. Saya menyadari tak mudah menyusun skrip tentang time travel menjadi rapi dan cukup masuk akal. Bukan soal mungkin-tidaknya perjalanan waktu dilakukan, tapi soal urutan waktu dan kejadian-kejadian yang ikut berubah sebagai efek dari perjalanan waktu. Well, anyway it's only for entertainment. I think we don't need to think too hard about it. Just follow what's shown on the screen and enjoy it. Toh, skrip timeline MIB3 masih tersusun dengan cukup rapi.
Perubahan yang terjadi di installment ini tak melulu ke arah yang positif. Ada juga yang ke arah sebaliknya alias penurunan dari installment-installment sebelumnya, yakni dari segi humor. Masih banyak sih humor (yang kebanyakan lebih ke arah slapstick) disebar sepanjang durasi, namun tak banyak yang berhasil membuat saya tertawa selepas ketika menyaksikan installment-installment sebelumnya, kalau tidak mau dibilang garing. To be exact, yes I missed Frank, the singing pug and those worm guys who has cheered the previous installments. Untung saja skrip juga turut menyuguhkan guyonan yang lebih cerdas, seperti keterlibatan tokoh-tokoh dunia terkenal sehingga setidaknya memberikan kesegaran baru di installment ini.
Well, setidaknya MIBmenurut saya cukup berhasil memberikan hiburan instant yang tidak hanya eye-candy tapi juga meletakkan sedikit “hati” untuk melumerkan penontonnya. Nice effort and worth-watching result.
The Casts
Kalau sebelumnya (dan juga film-film yang memasangnya sebagai aktor utama) Will Smith mendominasi layar, kali ini ia harus berbagi layar dengan Josh Brolin yang dengan gemilang mengimitasi kepribadian Agent K (Tommy Lee Jones). Ekspresi wajah, cara berbicara, dan gesture-nya sangat meyakinkan sebagai Agent K muda. Ditambah dengan kharisma karakter Agent K muda yang masih gemilang-gemilangnya, maaf yah Smith, kali ini Agent K lebih menarik ketimbang Anda :D.
Di lini karakter pendukung, Griffin yang diperankan Michael Stuhlbarg mencuri layar tersendiri berkat karakternya yang very lovable. Sementara di kubu villain, Jemaine Clement yang memerankan Boris The Animal berhasil menjadi penjahat yang menyebalkan walau tidak tampak begitu mengintimidasi juga. Mengingat plot “versus villain” yang sedikit, tentu saja Boris The Animal tampak seperti karakter pelengkap saja.
Technical
Masih unggul di lini special effect (termasuk make up) dan scoring seperti installment sebelumnya. MIB sudah memiliki ciri tersendiri untuk desain alien, senjata, serta interior markas MIB. Begitu juga scoring dari Danny Elfman yang masih mempertahankan ciri dari installment sebelumnya. All’s good. Efek surround juga dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menghidupkan adegan.
Hal yang baru di MIB3 adalah pilihan format 3D yang walaupun hasil konversi namun ternyata hasilnya cukup baik, terutama dalam menampilkan beberapa gimmick pop-out. Soal depth of field nampaknya tidak begitu merata sepanjang film. Hanya di beberapa bagian saja terasa kedalaman ruangnya. Cukup layaklah menyaksikan installment ini dengan format 3D.
The Essence
Ketika kita melakukan sesuatu untuk orang lain, ada satu pertanyaan yang patut dipertimbangkan : apa yang membuat kita rela melakukan sesuatu untuk orang tersebut? Saya menemukan satu jawaban dari MIB3, yaitu : HOPE. Lebih dari sekali film memberikan jawaban ini. Pertama, Agent J mau melakukan perjalanan waktu untuk menyelamatkan Agent K karena ia menganggap Agent K memberikan harapan bagi bumi ini dari invasi alien seperti Boris The Animal.
Yang kedua, ah bisa spoiler neh kalau saya mengungkapkannya di sini. Lebih baik nonton sendiri deh untuk mendapatkan jawabannya. Yang pasti, we want to do something for somebody else because we see there’s hope in them.
Lihat data film ini di IMDB.





Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, May 23, 2012

The Jose Movie Review
Shame


Overview
Saya ingat pernah menyaksikan Last Tango in Paris (LTIP), salah satu film arthouse klasik besutan sutradara legendaris Bernardo Bertolucci dan dibintangi Marlon Brando. Jujur saat itu saya menganggap film ini sebagai film yang sangat absurd. Only about a relationship based on sex, nothing more, even each identity. Tapi setelah melalui beberapa observasi, ternyata LTIP lebih dari sekedar softporn berbalut arthouse film. Film yang mendapatkan rating NC-17 saat dirilis ini adalah sebuah gambaran salah satu kebutuhan manusia paling dasar dan bagaimana ia mengeksplornya. Di tahun 2011, sutradara Inggris, Steve McQueen, mencoba mengangkat tema manusia dan seksualitasnya dengan caranya sendiri.
Shame mengangkat tema sex-addiction yang dialami oleh karakter utama, Brandon. Tak hanya menghadirkan adegan-adegan panas antara Brandon dan wanita-wanita random, Shame lebih banyak mengeksplor akting dan gesture Brandon yang cukup jelas menggambarkan bagaimana perasaannya ketika berhubungan seks dengan wanita, bagaimana ketika ia tidak mendapatkan pemuas nafsu saat membutuhkan.
Film berkembang lebih jauh dari sekedar isu sex-addiction ketika dimunculkan karakter Sissy, adik Brandon yang dependant dan seolah-olah selalu mencari perhatian kakaknya. Penonton lantas diajak untuk menganalisis hubungan seperti apa yang dimiliki oleh Brandon-Sissy yang nantinya berkaitan dengan ketergantungan seksual yang dialami oleh Brandon. Perkembangan karakter dan plot yang menarik, indah, dan makin lama makin membuat penasaran. Namun jika Anda tidak terbiasa untuk menonton film yang informasinya disampaikan melalui akting, gesture, dan detail adegan yang tak begitu kentara, Anda akan terbosan-bosan dan langsung memberikan label “tidak jelas” pada film ini.
Dibutuhkan analisis dari beberapa elemen yang ada di layar, seperti gesture, ekspresi wajah, dan sedikit dialog, untuk mendapatkan makna sesungguhnya dari Shame. Konklusinya pun bisa berbeda-beda untuk setiap penonton. Jadi diskusi sehabis menyaksikannya akan menjadi kegiatan intelektual yang menarik. Namun jangan khawatir, McQueen membuat plot Shame dengan lebih jelas untuk diikuti ketimbang LTIP. Tentu saja dengan garapan visualisasi yang tak kalah artistik, halus, dan indah.
The Casts
Ini adalah film kedua Michael Fassbender yang juga disutradarai Steve McQueen setelah Hunger. Saya sendiri belum menyaksikan Hunger, tetapi jelas sekali dari permainan akting Fassbender yang maksimal bahwa McQueen telah menemukan chemistry yang kuat dengannya. Melihat ekspresi wajah dan gesture Fassbender ketika sedang “tersiksa” karena tidak bisa melampiaskan nafsunya atau ketika berhadapan dengan Sissy, Marianne, dan wanita-wanita yang ditidurinya, Fassbender jelas punya kemampuan akting yang mumpuni daripada sekedar bermain di film-film blockbuster minim akting skill needed.
Sementara sang lawan main, Carey Mulligan mampu mengimbangi akting Fassbender dengan sangat baik. Setelah terpukau oleh aktingnya di An Education, Never Let Me Go, dan bahkan di Drive, saya lagi-lagi diyakinkan bahwa ia adalah salah satu aktris muda yang sangat berbakat memerankan karakter di film-film berkelas award. Lebih dari itu, ternyata Mulligan punya bakat bernyanyi. Yap, sebagai bonus sekaligus tribute to New York yang menjadi setting Shame, Mulligan menyanyikan New York, New York di salah satu adegan. She’s just marvelous!
Technical
Layaknya film arthouse lainnya, McQueen memanjakan mata dengan visual sinematografinya. Satu adegan yang paling berkesan dan saya kagumi adalah adegan Brandon jogging malam-malam mengeliling kompleks apartemennya. Kamera mengikuti langkah Brandon tanpa cut sedetik pun.
McQueen menawarkan berbagai angle yang tak lazim untuk memberikan makna tersendiri dari adegan sekaligus memoles beberapa adegan seks sehingga jauh dari kesan vulgar. Dari sini jelas sekali kepiawaian McQueen sebagai sutradara arthouse yang tak hanya jago meramu plot, namun juga memainkan visualisasi dalam menuturkannya. He did a very good job here.
Suasana kota New York yang tak pernah tidur namun membuat orang-orang yang tinggal tetap merasa kesepian seperti yang dialami oleh Brandon terbangun dengan sempurna oleh kombinasi setting, score, dan akting para aktornya. Satu kredit khusus yang menambah kelam dan frustrasinya nuansa Shame.
The Essence
Sejak awal peradaban manusia, seks selalu menjadi kontroversi. Tidak selamanya putih, juga tak selamanya hitam. Ada kalanya di kondisi tertentu, seks adalah hal yang haram. Namun tak bisa dipungkiri seks adalah salah satu kebutuhan sekaligus hasrat yang tak bisa terlepas dari kehidupan manusia.
Karakter Brandon menunjukkan seks bukan sebagai kebutuhan seperti layaknya manusia yang lainnya. Baginya, seks adalah kebutuhan yang wajib dipenuhi di saat sedang “tinggi”. Sayangnya, ia tidak bisa menikmati seks sebagai wujud ekspresi emosi (dalam arti “affection”). Ia hanya menikmati seks sebagai “penyelamat” di saat ia sedang membutuhkannya. Bagi beberapa orang mungkin menganggap kebiasaan Brandon adalah sesuatu yang enak, tapi tidak bagi Brandon. Seks adalah siksaan baginya tapi ia harus memenuhinya. Bayangkan betapa tersiksanya kondisi jiwa Brandon.
Ada banyak petunjuk yang menjelaskan hubungan psikologis antara ia dan Sissy sehingga mempengaruhi perilaku seks Brandon. I suggest you to watch and analyze it yourself because it may spoil your viewing experience and the result may vary. 
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, May 17, 2012

The Jose Movie Review - Dark Shadows



Overview
Tim Burton dan Johnny Depp adalah magnet tersendiri bagi beberapa kalangan pecinta film. Dimulai sejak Edward Scissorhands yang sudah menjadi semacam cult-classic, kolaborasi keduanya berlanjut pada proyek-proyek seperti Sleepy Hollow, Charlie & The Chocolate Factory, Corpse Bride, Sweeney ToddAlice in Wonderland, dan kali ini Dark Shadows. Tim Burton sendiri adalah sutradara visioner yang memiliki ciri khas dalam berkarya. Sebelum Nolan, film Batman yang paling menarik menurut saya adalah garapannya, Batman dan Batman Returns. Jelas saja Depp yang juga memiliki karakter unik sehingga cocok memerankan karakter-karakter eksentrik, menjadi begitu klop dengan visi Burton.

Dengan promosi yang tergolong “mendadak” dimana cukup jarang terjadi mengingat potensi box office-nya, Dark Shadows (DS) kontan membuat banyak orang, terutama fans Burton maupun Depp penasaran setengah mati. Belum lagi ditambah berita bahwa aktris cilik yang mencuri perhatian lewat Kick-Ass, ChloĆ« Grace Moretz turut bergabung dengan “keluarga besar” Burton (sebelumnya kita mengenal “keluarga Burton” hanya Depp dan Helena Bonham Carter, istri Burton sendiri di kehidupan nyata).

Melihat dari premisenya, mungkin banyak yang teringat dengan Adam’s Family atau karya Burton yang juga menjadi klasik, Beetle Juice. Tidak salah sih, memang ada beberapa elemen yang sama dengan kedua film bertemakan gothic tersebut. Tapi tentu saja ada banyak hal yang membedakan. Dengan premise yang menurut saya cukup menarik ini, seperti biasa Burton membungkusnya dengan gayanya sendiri. Tentu saja maksud saya dalam arti yang positif karena saya memang menyukai gaya penceritaan dan visualisasi Burton. Namun sayang skrip yang mendasari film ini kurang digarap dengan baik.

Skrip menawarkan banyak hal menarik untuk dieksplor, misalnya subplot, karakter-karakter beserta korelasi antar-karakternya.  Namun kesemuanya ini kurang bisa dieksekusi dengan baik dan seimbang. Banyak subplot yang tidak terselesaikan dengan memuaskan dan terkesan hanya numpang lewat. Plot utamanya saja masih terasa mentah, harusnya masih bisa dibuat lebih menarik lagi. Untung saja karakter Barnabas Collins dan Angelique Bouchard mampu dikembangkan dengan sangat baik hingga akhir film. Sisanya harus puas dengan porsi yang tak banyak padahal memliliki potensi menarik jika dieksplor sedikit lebih banyak.

Skrip pun tak banyak memberikan hal-hal memorable yang mampu diingat penonton dalam jangka waktu lama. Dialog-dialog dan guyonan bertema fish-out-of-the-water-nya ada yang berhasil, ada pula yang garing. Kendati demikian secara keseluruhan tidak ada yang berhasil stand-out menjadi ciri khas DS. Just mediocre but still entertaining enough.

The Casts
Depp tentu saja menjadi perhatian utama penonton. Bahkan bagi penonton awam yang tidak begitu mengenal Burton, ia menjadi alasan utama menonton DS. And don’t worry, he did it very well as expected here. Eva Green yang menjadi Angelique mampu mengimbangi kharisma karakter Barnabas. I have to admit that her role here was beyond Vesper Lynd in Casino Royale. Thanks to a very interesting character given to her.

Helena Bonham Carter yang karakternya di sini memiliki porsi tak sebanyak karakter-karakter yang dipercayakan kepadanya di previous Burton’s masih mampu menebarkan kharisma aktingnya di DS. Penampilannya mengingatkan saya akan karakter Mrs. Lovett di Sweeney Todd and she’s one of the most memorable characters in DS.

Sementara Pfeiffer, Moretz, Lee Miller, Earle Haley, McGrath, dan Heathcote, masih tetap tampak bermain bagus walau porsi masing-masing tergolong minim dan diperlakukan seolah-olah tidak begitu penting.

Technical
Bicara tentang Burton mustahil untuk tidak membicarakan teknis produksinya. Yap, Burton dikenal sangat detail dalam segi setting, properti, dan kostum. Malah justru kekuatan utama dalam membangun “dunia” DS terletak pada departemen-departemen ini yang mampu bersinergi dengan sempurna. Gothic and 70’s style have never fused as well as shown in DS.

Special effect dan make-up juga bekerja dengan sangat baik, terutama dalam menampilkan tubuh Angelique yang berlekuk-lekuk bak Meryl Streep di Death Becomes Her dan kulit porselen-nya yang retak. Excellent work!

Yang cukup unik bagi saya adalah divisi sound editing. Entah karena pengaruh soundsystem bioskop tempat saya menonton atau memang aslinya demikian, saya merasakan dialog-dialog yang ada terdengar kurang keras dan terkesan tenggelam. Padahal sound effect dan music terdengar dengan sangat jelas, crisp, dan efek surround-nya cukup dimaksimalkan. Dengarkan saja lagu Top of The World-nya The Carpenters yang terdengar sangat hidup.

The Essence
Ada banyak esensi yang coba ditawarkan DS melalui subplot yang sayangnya tidak ada satu yang lebih kuat dibandingkan yang lain, misalnya tentang cinta sejati yang bereinkarnasi ala Bram Stoker’s Dracula, ada pula tentang cinta Angelique kepada Barnabas yang “memaksa” dengan sihir, dan juga tentang keluarga sebagai harta yang paling berharga.

Namun ada satu hal yang menarik bagi saya, yakni status Barnabas yang in-between antara kejahatan Setan dan kebaikan manusia. Di satu sisi, ia adalah vampire yang jelas-jelas adalah sekutu Setan. Apalagi ia masih menghisap darah manusia, tidak seperti Lestat atau Edward Cullen yang meminum darah hewan. Akan tetapi di sisi lain ia masih memiliki hati untuk melindungi keluarganya. Tentu he’s not a full-Satan karena ia berubah karena ulah sihir Angelique. Barnabas menjadi representasi manusia terburuk yang masih memiliki hati terutama jika berkaitan dengan keluarganya. Just like one of the taglines, “Every family has its demons”.

Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review - Hanna



Overview
Tidak begitu lantang terdengar, Hanna adalah film produksi 2011 berbudget rendah untuk ukuran film aksi, hanya sekitar US$ 30 juta. Namun siapa sangka hampir separuh budget tersebut balik modal ketika opening weekend saja dan mampu meraup lebih dari dua kali budget untuk penayangan worldwide-nya? Tentu ada hal yang menarik dari film besutan Joe Wright setelah Pride & Prejudice dan Atonement ini. Apalagi Saoirse Ronan, aktris muda yang sempat mencuri perhatian di Atonement menjadi karakter utama di sini.

Hanna dibuka dengan sangat menarik dan sangat menjanjikan. Kita diperkenalkan dengan sosok Hanna, seorang gadis muda belasan tahun yang tangguh berkat tutorial dari sang ayah di tengah hutan bersalju. Aksinya dalam berburu rusa tentu memukau siapa saja. Cerita lantas bergulir ketika pelatihan-pelatihan self-defense dan attacking tersebut mulai mengarah ke keterlibatan badan intelijen. Dari sini cerita berkembang dengan sangat baik, terutama dalam hal memberikan clue satu per satu kepada penonton tentang siapa Hanna sebenarnya dan alasan-alasan mengapa ini-itu terjadi. Gaya penceritaan dan editing ala arthouse sangat mendukung kedinamisan film. Pace cepat pas pada waktunya ketika adegan aksi dan kejar-kejaran, serta alur melambat dan silence ketika adegan emosional Hanna yang mempelajari dunia barunya. Semua terangkai dengan sangat seimbang dan enjoyable. Patut dicatat pula keefektifan pemecah keheningan yang mampu membuat penonton terguncang dari kursi berkali-kali.

Sayang, Hanna mulai kedodoran ketika memasuki paruh kedua, baik dari segi pace, keefektifan adegan, dan juga perkembangan cerita. Paruh kedua ini terasa seperti kehilangan arah dalam membawa cerita dan membuyarkan semua pondasi-pondasi menarik yang dibangun sejak awal film. Sedikit demi sedikit rasa penasaran penonton memudar, termasuk ketika twist cerita terungkap. Twist yang sejatinya menarik namun terasa hambar di layar. Editing pun tak banyak membantu, seperti sudah kehabisan inovasi dan energi yang sempat menggebu-gebu di awal. Menjelang akhir, plot utama dan sub plot banyak yang tidak dituntaskan dengan memuaskan. Subplot yang bisa dikembangkan menjadi lebih menarik, misalnya tentang persahabatan Hanna-Sophie dan keluarganya, hubungan antara Hanna-Erik, serta kejadian awal yang melibatkan Marissa, Erik, dan Johanna, tidak diberikan konklusi yang jelas. Well, finally Hanna hanya mampu menjadi gabungan antara film spionase dikejar-kejar ala Bourne Identity dengan kick-ass character gadis belasan tahun ala Leon The Professional.

Andai saja paruh kedua hingga akhir digarap sama menariknya dengan awal film, bukan tidak mungkin Hanna menjadi film aksi spionase yang bakal dikenang sepanjang masa, bahkan mungkin menjadi franchise tersendiri.

The Casts
Alasan utama saya menonton Hanna adalah Saoirse Ronan sebagai kick-ass teenage girl dan saya sangat puas dengan penampilannya di sini. Eric Bana tampil cukup menarik. Sayang karakternya tidak banyak dikembangkan sehingga terasa kurang berkesan. Begitu pula dengan Cate Blanchett yang kharismanya tak kalah sebagai villain.

Technical
Gaya art-house begitu kental terasa sejak awal film, terutama dari segi editing, angle, dan scoring. Modal yang sangat baik untuk menjadikan Hanna unik yang berbeda dengan film-film bertema spionase lainnya. Adegan yang saya sukai adalah ketika Hanna melarikan diri dari fasilitas Marissa. Dinamis seperti menyaksikan music video. Menarik pula menyaksikan pertarungan antara Erik dan puluhan anak buah Marissa dengan angle berkeliling. Mengingatkan saya akan adegan Neo vs. Agent Smith’s clones di The Matrix Reloaded.

Score oleh The Chemical Brothers bisa jadi pilihan yang sangat tepat. Aliran industrial techno-nya berhasil menghidupkan adegan-adegan aksi dan menegangkan sepanjang film. Belum lagi The Devils is in the Details yang disiulkan Isaacs sepanjang film berhasil terngiang terus di telinga.

The Essence
Hanna adalah gadis belasan tahun yang dibesarkan dengan cara yang keras. Sepanjang hidupnya ditempa sehingga ia menjadi mesin pembunuh yang tangguh, kuat, dan berteknik tinggi. Selain itu, ia juga dihindarkan dari berbagai emosional, seperti rasa kasihan, rasa kehilangan, bahkan ia belum pernah mengenal yang namanya musik. Tentu ketika dilepas ke dunia luar, Hanna canggung untuk berteman dan berpacara. Namun secara naluriah, ternyata ia juga merasakan butuh untuk memiliki sahabat dan orang-orang yang mengasihinya. Sisi manusiawinya inilah yang menarik untuk dijadikan bottomline. It’s human nature to feel, no matter how hard you’ve been trained and raised as a killing-machine.

Lihat data film ini di IMDB.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, May 13, 2012

The Jose Movie Review - Lovely Man


Overview
Teddy Soeriaatmadja adalah salah satu sutradara (sekaligus juga penulis naskah) Indonesia yang memiliki talenta menjanjikan. Terlihat sekali dari film ke film, keahliannya menyusun cerita sekaligus memvisualisasikannya semakin membaik. Tengok saja sejak Banyu Biru, Ruang, remake Badai Pasti Berlalu, Namaku Dick, dan Rumah Maida. Kini, ia kembali menulis sekaligus menyutradarai film layar lebar keenam yang juga diklaim oleh berbagai pihak sebagai pencapaian terbaiknya selama ini, Lovely Man.
Ini adalah film tentang hubungan ayah-anak yang telah lama terpisah, tidak hanya oleh ruang tapi juga oleh dunia kehidupan yang sangat kontras : Waria dan gadis berjilbab. Seperti sejatinya kehidupan, Lovely Man (LM) memilih untuk mengangkatnya secara sederhana. Tidak perlu kompleksitas cerita ala sinetron. Tak perlu pula menjustifikasi salah satu pihak. LM tampil apa adanya, realistis dan sangat mengena. Justru dari situlah premise LM menjadi sangat menarik untuk diikuti.
Cerita dibangun hanya melalui gesture serta dialog (juga hanya) oleh dua karakter : Saiful alias Ipuy dan putrinya, Cahaya. Hebatnya, justru cerita dapat mengalir dengan sangat lancar dan semakin lama semakin menarik hanya dengan bekal tersebut. Tentu hal ini tak terlepas dari kepiawaian Teddy dalam menentukan timing dan pace dari tiap dialog yang ada. Dimulai dengan canggung hingga lama-kelamaan semakin mencair dan chemistry ayah-anak antara keduanya terasa sangat akrab, termasuk dan terutama bagi penonton.
LM juga tidak merasa perlu untuk menutup cerita dengan jelas bagaimana nasib Ipuy dan Cahaya selanjutnya. Saya setuju, karena fokus utama di sini adalah bagaimana Ipuy dan Cahaya dengan perbedaan-perbedaan yang ada mampu menjadi akrab dan intim. That’s all. Dan dengan fokus tersebut, Teddy sangat berhasil mengeksekusinya. Satu adegan yang sangat indah dan jelas dalam mengkonklusi cerita : Cahaya menerima telepon dari pacarnya di sudut terang kota Jakarta sementara Ipuy berada di baliknya, sisi remang-remang, sedang tersenyum puas melihat putrinya berani menghadapi problemanya. They both are happy in their own realm. Lantas bagaimana endingnya? Penonton lah yang menentukan, apakah termasuk happy ending atau tidak. Jika dilihat dari sudut pandang kedua karakternya dan fokus tersebut, jelas LM memiliki happy ending yang sangat memuaskan. Walau pada akhirnya salah satu karakter harus meregang nyawa demi karakter yang lain, LM tak perlu menampilkannya.
Sebagai background cerita, Teddy memotret kota Jakarta pada saat yang paling pas (menurut karakter Ipuy) : rame nggak, dibilang sepi-sepi banget juga nggak. Jakarta yang tanpa glamoritas dan kemacetan. Yang ada justru warga golongan marginal : waria dan pemulung yang makan nasi bungkus sambil mengais sampah. Sebuah realitas kota megapolitan yang membuat saya terdiam dan terenyuh.
Dengan durasi yang tergolong singkat, yakni 75 menit, LM berhasil menyuguhkan pengalaman visual sekaligus keintiman karakter yang sederhana namun mengesankan bagi penonton.
The Casts
Donny Damara dan Raihaanun menjadi pusat perhatian sepanjang film. Sedikit mengingatkan peran Barry Prima di Realita, Cinta, dan Rock n’ Roll, Donny juga berhasil mencuri layar berkat perannya yang bertolak belakang dengan image-nya sehari-hari. Ia mampu membawakan peran Ipuy dengan sangat baik, tak hanya dari segi gesture namun juga karakternya secara keseluruhan. Bahkan ketika tanpa atribut yang ia kenakan sebagai waria, Donny masih mampu mempertahankan karakter Ipuy-nya dengan sangat meyakinkan. Tak heran jika Asian Film Awards mengganjarnya pengahargaan Aktor Asia Terbaik 2012, bahkan mengalahkan Andy Lau di film A Simple Life.
Raihaanun pun sanggup mengimbangi akting Donny. Sebagai gadis berjilbab yang lugu, yang tidak tahu harus melakukan apa menghadapi ayahnya yang ternyata seorang waria, gesture dan ekspresi wajahnya juara! Perkembangan yang terjadi pada karakter Cahaya di tiap adegan pun dapat diterjemahkan dengan sangat baik dan pas olehnya.
Technical
Berangkat sebagai film independen berbudget terbatas, harus dimaklumi ada banyak kendala teknis di sana-sini, terutama yang paling terasa adalah pergerakan kamera. Di hampir semua adegan, shaky-camera sangat terasa, begitu pula dengan panning yang kasar. Tidak sampai membuat pusing atau mengganggu sekali sih, tapi tidak bisa dipungkiri goyangnya kamera ini membuat LM terasa “kurang profesional”. Untung saja cerita, dialog, dan akting dari para aktornya cukup menutupi kekurangan tersebut, sehingga secara keseluruhan LM masih tampil elegan.
Pencahayaan tidak begitu menjadi kendala sepanjang durasi, mengingat settingnya yang hampir 90% malam hari hingga subuh. Tak ada gambar yang terasa terlalu gelap hingga mengurangi kejelasan adegan. Detail ketajaman gambar pun cukup terjaga dan memanjakan mata.
Sementara score yang disuguhkan menurut saya tergolong generik, kebanyakan hanya dentingan piano sederhana. Cukup lah jika hanya sekedar mengiringi adegan agar terasa lebih menyentuh, tetapi tidak terasa begitu istimewa. Justru ada beberapa adegan yang (lagi-lagi, menurut saya) terasa lebih efektif jika ditampilkan tanpa iringan score sama sekali.
The Essence
Seorang teman pernah berujar seperti ini : “Kehidupan memberikan ujian terlebih dahulu baru kita mendapatkan pelajarannya”. Sebuah ungkapan sederhana namun jika mau kita renungkan ada benarnya juga. Kita, di Indonesia, yang notabene “diwajibkan” untuk beragama dan menjadi religius, seringkali diajarkan untuk hidup sesuai dengan ajaran agama kita masing-masing. (Ajaran) agama dijadikan semacam “manual book” untuk menjalani hidup sehari-hari. In life, it’s all about right or wrong. Do the right thing and avoid the wrong thing. That’s all. Padahal hidup tidak semudah benar atau salah, tetapi hidup juga lebih sederhana ketimbang aturan-aturan yang dituliskan di kitab suci.
Buat saya pribadi, pengalaman hidup kita sehari-hari adalah “ajaran” yang paling penting dan paling mempengaruhi kepribadian kita masing-masing. Lihat saja Ipuy yang walaupun menurut banyak orang adalah sampah masyarakat (terutama dari mata agama), ternyata mampu mengajarkan wisdom yang realistis kepada putrinya. Sementara Cahaya yang besar dalam bimbingan pesantren justru kebingungan dalam menghadapi hidupnya yang semakin keras seiring dengan fase kedewasaan yang mulai dimasukinya. Dua dunia yang berbeda dengan dua sudut pandang kehidupan yang berbeda pula.
Menjadi hal yang penting dalam hidup manusia bagaimana menempatkan ajaran agama sebagaimana mestinya. Ajaran agama memang penting sebagai basic, tapi dalam menghadapi problematika hidup sehari-hari, kita tidak bisa menerapkan ajaran agama mentah-mentah. Perlu pemikiran yang mendalam dalam menyelesaikan masalah. Agama tidak memberikan jawaban, hanya petunjuk. Jawabannya tentu ada di pribadi kita masing-masing setelah kita memikirkan dan menganalisanya.
Lihat data film ini di IMDB.
Situs resmi Lovely Man.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, May 7, 2012

The Jose Movie Review - Marvel's The Avengers


Overview
Ide yang cukup baik sebenarnya untuk menggabungkan berbagai karakter komik superhero ke dalam satu layar setelah mentok dengan ide apa lagi yang bisa dikembangkan dari cerita superheroe yang tampil secara single-fighter. Setidaknya secara komersial, film gabungan tersebut bisa menyatukan semua fanboy dari masing-masing karakter. Sehingga tidak perlu diprediksi pun, penghasilan ratusan juta dolar dalam hitungan hari sudah hampir pasti di depan mata.

Saya menikmati film-film superhero, terutama dari Marvel yang cukup bervariasi dan lebih “berwarna-warni” baik dari segi tampilan hingga latar belakang. Tak ada satu pun film keluaran Marvel Studios yang saya lewatkan. Tapi jujur setelah menyaksikan hasil Thor dan Captain America tahun lalu, saya tidak begitu antusias menantikan The Avengers ini. Namun dengan hype yang begitu luar biasa dan review positif yang diberikan oleh reviewer-reviewer terpercaya, saya pun sedikit menaikkan ekspektasi yang awalnya biasa-biasa saja. Ternyata hasilnya pun tak beda jauh dengan prediksi saya selama ini. 
 
The Avengers tak lebih dari sekedar film eye-candy yang hanya memanjakan mata dengan visualisasi-visualisasinya yang bagus dijadikan wallpaper komputer. Penggemar salah satu karakter superhero pun harus puas dengan peran yang tak sebanyak film “solo karir”-nya. Saya mengerti mustahil untuk membagi peran dengan adil dengan begitu banyaknya karakter. Toh kalau mau perkembangan karakter masing-masing yah nonton film “solo karir”-nya saja. Tapi agaknya di sini tidak ada karakter yang mampu meninggalkan kesan bagi fans masing-masing
 
Selain itu juga, tak ada satupun momen yang memiliki emosi, entah itu ketegangan, ketakutan, kekhawatiran, rasa iba, maupun keseruan menyaksikan adegan-adegan aksinya. IronMan 2 saja masih memiliki adegan-adegan aksi yang lebih seru dan menegangkan. Kalau menurut saya, sutradara terlalu fokus untuk menunjukkan betapa kerennya kekuatan super yang dimiliki karakter-karakternya dan betapa mudah dikalahkan serta tidak begitu penting kehadiran karakter-karakter villainnya. Tidak banyak effort yang perlu dilakukan oleh pahlawan-pahlawan super di layar untuk mengalahkan prajurit musuh. Satu-satunya kendala adalah jumlah pasukan. Singkatnya, para villain yang ada dapat dengan mudah dikalahkan, termasuk otaknya, Loki yang sudah sangat annoying bagi saya sejak kemunculannya di Thor. Looked cool, but to me it’s just felt plain.

Untungnya, humor-humor yang diselipkan di sana-sini berhasil menyegarkan suasana. Thanks to Tony Stark yang berhasil mengolok-olok anggota timnya sehingga menghadirkan kelucuan dan kekonyolan sepanjang film. In matter of fact, humor-humor tersebut justru yang menjadi penyelamat sehingga durasi yang dua setengah jam tersebut menjadi enjoyable tanpa terasa draggy.

Terlalu berlebihan jika ada yang mengatakan The Avengers sebagai the best superhero movies ever karena dilihat dari berbagai aspek sekalipun, masih banyak film-film superhero sebelumnya yang lebih unggul. Misalnya Batman-nya Nolan, IronMan, bahkan Hulk yang lebih kuat dari segi penokohan atau Spider-Man yang adegan-adegan aksinya seru dan menegangkan.

Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa The Avengers adalah lompatan karya dari sutradara Joss Whedon yang karya layar lebar sebelumnya hanya Serenity yang tergolong underrated movie. Tidak, Joss masih belum pada tahap itu karena ia masih belum berhasil menjalin ikatan emosi dengan penonton melalui adegan-adegan yang dihasilkannya. Keberhasilan film ini lebih kepada image superhero-superhero yang ada, bukan karena tangan dingginnya.

The Casts
Lemahnya perkembangan karakter-karakter yang ada menyebabkan aktor-aktor utamanya tampil di sini hanya karena mereka memerankan karakter yang sama di film “solo karir”-nya. Bukan salah aktornya, tapi memang porsi peran yang diberikan tak sebaik film satuannya. Well okay, Robert Downey Jr., Chris Evans, Chris Hemsworth, Samuel L. Jackson, dan Scarlett Johansson tampil just like their each previous movie, no improvement at all.

Mark Ruffalo, yang tergolong pemeran baru di universe Marvel juga tak begitu memberikan banyak arti untuk karakter Hulk/Bruce Banner. Saya masih berpendapat Eric Bana adalah pemeran paling pas untuk karater ini. Kalaupun di sini karakter Hulk cukup memorable berkat “jasa”-nya, itu karena karakter CGI-nya, bukan akting Ruffalo. Skrip tidak memberikan cukup ruang baginya untuk menunjukkan kemampuan akting.

Technical
Film jenis ini tak perlu diragukan lagi dari segi visualisasi, special effect, dan sound effectnya. Sudah seharusnya disuguhkan secara maksimal, dan The Avengers cukup berhasil. Walau surround sound effect-nya tak begitu banyak dimanfaatkan di awal hingga pertengahan film, namun cukup terbayarkan di adegan pamungkas di Manhattan yang sangat all-out di semua elemen teknis.

Score yang digubah oleh Alan Silvestri tak banyak membantu mengiringi adegan-adegan yang ada. Ada atau tidaknya score tidak begitu terasakan bagi saya. Sepertinya masih sangat jauh deh jika mengharapkan score yang terasa signature bagi franchise ini. Alan was one of the maestros in movie scoring, but I have to say that The Avengers will not be one of his remarkable works.

The Essence
Dengan ego dan pride masing-masing (terutama Tony Stark alias IronMan), hampir mustahil untuk menyatukan superhero-superhero ini menjadi satu tim yang solid. Penyebab utamanya adalah masing-masih merasa dirinya tahu apa yang harus dilakukan, tidak perlu orang lain untuk menjadi leadernya. Lihat betapa tidak senangnya Stark diperintah oleh Rogers dan sebaliknya, Rogers pun tak suka dengan gaya Stark yang cenderung arogan dan sombong.

Seperti yang diungkapkan oleh karakter Phil Coulson, yang mereka (dan juga orang-orang lain) butuhkan adalah mengesampingkan ego dan pride masing-masing demi mencapai tujuan bersama. Itulah sifat yang dimiliki oleh true hero. Sayang gaungnya kurang begitu kuat terasa sepanjang film.

Academy Awards 2013 Nominees for :

  • Best Achievement in Visual Effects

Lihat data film ini di IMDB.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, May 3, 2012

Testing protected post

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates