5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies

What if Ario Bayu, Muhadkly Acho, Arifin Putra Dwi Sasono, and Cornelio Sunny play dumb and fight the zombies?
Opens Dec 14.

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

After glorious trip worldwide, the latest feminist heroine from Mouly Surya comes home.
Read more.

Justice League

The DC superheroes are finally united, bringing justice for all.
Read more.

Star Wars: The Last Jedi

What path Rei will choose? The Jedi or the Sith?
Opens Dec 15.

Chrisye

Witness the side of Indonesian music legend you never know before.
Opens Dec 7.

Friday, March 30, 2012

The Jose Movie Review - Hi5teria


Overview
Omnibus rupanya menjadi bentuk film yang sedang banyak diminati oleh sineas. Menarik sebenarnya, karena dengan membeli satu tiket, penonton bisa mendapatkan beberapa cerita sekaligus. Jika ada salah satu segmen yang tidak disukai tidak jadi masalah, setidaknya ada segmen lainnya yang menarik dan mampu mengobati kekecewaan penonton. Tapi jangan salah, tidak mudah menyusun sebuah omnibus. Memilih cerita yang akan dimasukkan lantas menyusun urutannya dengan baik sehingga penonton merasakan klimaks dan tidak drop, it’s not that easy. Horror Indonesia pernah melakukannya dengan baik melalui Takut dan Fisfic Vol.1. Salah satu sutradara, penulis naskah, serta produser tanah air yang dikenal lewat Realita Cinta dan Rock n’ Roll dan Serigala Terakhir, Upi, mencoba memberi wadah kepada sineas-sineas pendatang baru untuk mewujudkan ide cerita mereka yang ternyata hasilnya cukup menarik lewat Hi5teria.
Secara garis besar, kelima segmen yang ada di Hi5teria memiliki benang merah yang sama, mengangkat legenda, mitos, atau urban legend yang cukup dikenal masyarakat, dan entah disengaja atau tidak, karakter-karakter utamanya adalah wanita.
Segmen Pasar Setan menjadi pembuka yang cukup membangun suasana ngeri. Tidak ada penampakan di sini, namun setidaknya saya berhasil dibuat ngeri membayangkan kejadian yang dialami oleh karakter-karakternya yang tersesat di hutan. Bagi yang belum pernah mendengar cerita mitos tentang Pasar Setan ini mungkin bakal merasakan kengerian yang lebih ketimbang yang pernah mendengar. Setidaknya ending yang disuguhkan benar-benar bikin ngeri. Sayang, ekspektasi saya untuk melihat detail visualisasi Pasar Setan kurang terjawab di sini sehingga apa yang tertera di judul menjadi kurang cocok. Well, lumayanlah sebagai pemanasan.
Segmen berikutnya adalah Wajang Koelit yang menjadi favorit saya. Selain suasana ngeri yang sangat berhasil terbangun berkat permainan sound effect dan score tradisional, menurut saya segmen ini memiliki cerita yang paling nyata dan digarap dengan baik. Entah apakah mitos yang disampaikan di segmen ini benar atau tidak, saya sendiri belum pernah mendengarnya. Yang pasti, Wajang Koelit adalah salah satu bukti bahwa budaya bangsa ini memiliki potensi yang sangat tinggi untuk dijadikan cerita horror, tidak kalah dengan Thailand.
Dilanjutkan dengan segmen Kotak Musik. Nah, kalau yang ini premisenya cukup menarik walau hanya variasi dari tipikal horror generik Indonesia. Tapi jangan salah, berkat penggarapan yang serius dan craftmanship sutradaranya, segmen ini berhasil memberi efek horror yang melebihi tipikal jenis horror sejenis. Unsur drama yang dimasukkan pun tidak begitu mengganggu alur dan pace, justru mendukung kelengkapan cerita yang diusung.
Palasik menjadi segmen keempat yang sebenarnya memiliki premise yang menarik namun sayang penggarapannya kurang maksimal, terutama dari segi skrip dan alur cerita. Ada cukup banyak plothole yang saya rasakan, diperparah alurnya yang terlalu bertele-tele sehingga penonton (baca : saya) menjadi capek duluan menggantikan rasa penasaran tentang apa yang sedang terjadi pada karakter utama. Endingnya cukup baik walau predictable bagi saya. Kalau kata teman saya yang nonton bersama saya, ceritanya sinetron banget.
Hi5teria ditutup dengan Loket. Premisenya sudah pernah diangkat sebelumnya, seperti gabungan P2 dan... banyak deh film yang endingnya seperti itu. Jujur saya tidak begitu bisa menikmati segmen yang menjadi puncak dari segala kengerian yang ada. Saya terus bertanya-tanya dan penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi tapi ternyata disuguhi ending yang seperti itu. Kengerian dan ketegangan yang dibangun pun tidak begitu terjaga dengan rapi, tapi setidaknya masih mending ketimbang Palasik.
Yap, cukup disayangkan segmen-segmen awal berhasil tampil menarik tapi ditutup dengan biasa saja. Kesannya jadi antiklimaks deh. Namun setelah saya tahu bahwa segmen-segmen yang ada ternyata hasil karya sutradara yang baru pertama kali ini menggarap film, saya langsung berubah menjadi salut atas kerja keras mereka. It’s so damn good for beginners! Saya yakin jika terus berkarya, bukan tidak mungkin sutradara-sutradara berbakat ini; Adriyanto Dewo (Pasar Setan), Chairun Nissa (Wajang Koelit), Billy Christian (Kotak Musik), Nicholas Yudifar (Palasik), dan Harvan Agustriansyah (Loket), ke depannya menjadi sutradara-sutradara yang bisa mengubah masa depan film horror Indonesia sehingga tidak lagi didominasi film-filmnya Nayato (dan berbagai nama alter egonya) dan KK Dheeraj.
Casts
Ada cukup banyak nama terkenal menghiasi layar, seperti Dion Wiyoko, Luna Maya, Imelda Therinne, Poppy Sovia, Sigi Wimala, Tara Basro, Dinda Kanya Dewi, dan Bella Esperance. Rata-rata semuanya bermain dengan sangat baik dan sesuai dengan porsi masing-masing. Beruntung karakter-karakter utamanya diberi pengembangan yang cukup dalam durasi yang cukup singkat. Kalau ditanya penampilan favorit, saya memilih Luna Maya (di Kotak Musik) dan Maya Otos (Wajang Koelit). Kapan lagi bisa melihat Luna Maya tampil semengerikan itu?
Technical
Satu hal yang menjadi keunggulan utama Hi5teria adalah segi teknikal nya yang tergarap dengan sangat baik dan merata untuk semua segmen, baik dari segi sinematografi, lighting, sound effect, dan score. All’s good. Kredit khusus untuk sound effect yang berani memainkan efek surround serta score yang sangat berhasil mendukung suasana tegang dan ngeri sepanjang film.
The Essence
Saya menangkap beberapa poin dari Hi5teria. Pertama, rupanya sineas-sineas horor seluruh dunia harus berterima kasih kepada M. Night Shyamalan yang telah menemukan twist ending ala The Sixth Sense yang cukup menginspirasi hingga kini, termasuk juga di segmen-segmen Hi5teria. Tentu saja dengan berbagai modifikasi plot sehingga tidak terkesan basi.
Kedua, Indonesia memiliki banyak sekali budaya yang menarik serta berpotensi diangkat menjadi ide cerita (termasuk horror). Takut dan Fisfic vol. 1 pernah mengangkatnya, dan Hi5teria menambah daftar panjang variasi ide cerita horor Indonesia. Kita sudah bosan dan tidak takut lagi dengan pocong dan kuntilanak kan?
Ketiga, hantu anak-anak dan orang tua itu jauh lebih seram ketimbang perempuan muda berambut panjang bergaun putih!
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, March 24, 2012

The Jose Movie Review - Serbuan Maut (The Raid Redemption)


Overview
Harapan sebagian besar rakyat Indonesia yang merindukan film action yang bisa dibanggakan terjawab sudah. Thanks to Gareth Evans, pria Wales yang memperkenalkan Pencak Silat ke dunia internasional sehingga setidaknya menjadi setara dengan seni beladiri Asia lainnya. Setelah berhasil mengangkat Pencak Silat dalam balutan drama yang seimbang dan enak dinikmati secara sinematik dalam Merantau, Evans membawa Pencak Silat ke level yang berbeda. Bisa dibilang ke level yang lebih tinggi, tapi tidak salah juga bila ada yang mengatakan ke level yang lebih rendah. Yang pasti, Evans kali ini menyuguhkan sajian pure action-pack yang tidak begitu mempedulikan plot yang menarik alias sudah berkali-kali diangkat ke dalam berbagai medium visual. Saya tidak begitu masalah dengan film yang murni mengandalkan adegan aksi seperti ini asalkan memang bagus dan kuat di sisi yang ditonjolkan tersebut. At least show me something I’ve never seen before and thrill me up!
Secara keseluruhan, saya tidak menemukan adegan laga yang benar-benar baru di sini, baik itu perkelahian tangan kosong, aksi baku tembak, maupun yang melibatkan senjata tajam. Sudah banyak sekali film action-thriller sejenis, baik Hollywood maupun lokal dari jamannya Cynthia Rothrock atau Deddy Yusuf. Bedanya, koreografi perkelahian khas Pencak Silat yang diarahkan oleh Iko Uwais dan Yayan Ruhian di sini mampu tampil setara film-filmnya Jackie Chan.
Walaupun menurut saya adegan-adegan aksinya tergolong biasa, saya tetap saja menemukan momen-momen istimewa sepanjang film, seperti adegan Rama di ruang persembunyian yang menegangkan, dan adegan pertarungan Rama-Andi-Mad Dog yang indah secara visual serta koreografi. Ditambah lagi dengan kehandalan Evans dalam menentukan pace dan timing, serta teknik pengambilan gambar yang di atas rata-rata. Alhasil, The Raid film murni non-stop action-thriller dengan adegan gore di sana-sini yang cukup mendebarkan.
The Raid boleh jadi sebuah landmark tersendiri bagi perfilman Indonesia. Tapi saya berharap sih Evans tak lantas terlena oleh pujian banyak pihak, karena menurut saya faktor kesuksesan terbesar dari The Raid adalah penonton internasional baru kali ini melihat seni beladiri Pencak Silat yang dikemas dengan gaya pop yang bisa dinikmati oleh penonton dari berbagai negara dan budaya. Tapi this will only be a one-time-moment. Jika tidak diteruskan dengan modifikasi adegan aksi dan plot yang lebih menarik, maka franchise Pencak Silat dan juga The Raid hanya akan seperti American Ninja yang semakin lama semakin terpuruk dan pada akhirnya hanya akan menodai karya pertamanya. Sayang kan?! Saya yakin The Raid masih bisa dikembangkan menjadi karya yang lebih baik dan lebih kuat baik secara visual maupun plot.
The Casts
Iko Uwais boleh jadi masih menjadi pusat perhatian setelah Merantau. Dengan porsi adegan aksi yang lebih banyak, jelas Uwais bisa meraup lebih banyak perhatian. Namun The Raid secara khusus melambungkan nama Joe Taslim, atlet Judo yang perannya di film-film sebelumnya tidak begitu melekat di ingatan penonton. Ternyata kemampuan aktingnya juga cukup baik. Didukung dengan postur yang tinggi besar, bukan tidak mungkin karirnya sebagai aktor laga bakal mulus selepas histeria The Raid.
Yayan Ruhian punya karakter yang lebih kuat dan tentunya porsi yang lebih banyak ketimbang ketika di Merantau. Donny Alamsyah seperti biasa tampil sesuai dengan porsinya dengan sangat baik. Ray Sahetapy masih tampak kurang mengintimidasi sebagai bos mafia narkoba, sementara Paul Gruno tampil lebih baik sebagai Letnan Wahyu.
Technical
Sejak Merantau, jelas sekali Evans punya selera visual yang sangat baik, setara lah dengan sutradara-sutradara handal Hollywood. Di sini pun ia kembali bermain-main dengan teknik pengambilan gambar yang dinamis, kadang handheld, tata suara surround yang tepat guna, serta variasi sound effect yang sudah sekelas Hollywood. Dengarkan efek suara teredam ketika adegan telinga terluka, atau suara hantaman tangan kosong dan tendangan yang terdengar dahsyat tapi tetap realistis, sementara score-nya mengiringi tiap adegan menegangkan dan glorious dengan sangat efektif.
Special effect juga menjadi perhatian apalagi action yang ditampilkan di sini rata-rata tergolong gore. Untuk urusan ini, semuanya tampak halus dan believable, tak kalah dengan Hollywood. Padahal jajaran penggarap visual effect-nya orang Indonesia semua lho. So, I think Evans has proven that actually, Indonesia has no problem in technical and with a budget only around US$ 1 million, you will still be able to make a cool action movie.
The Essence
Jangan salah, walaupun tergolong murni action-pack, The Raid ternyata menyampaikan beberapa esensi yang cukup menarik. Semua penonton tentu sudah bisa membaca esensi tentang polisi-polisi korup yang juga menjadi antek mafia. Di negara manapun, bahkan Amerika Serikat sekalipun punya masalah yang sama. Infernal Affairs dan remake-nya, Departed, pernah mengangkat esensi ini dengan sangat kuat. Sementara di Indonesia sendiri, kasus mafia-penegak hukum sedang panas-panasnya setelah belakangan terkuak jaringan mafia-mafia di berbagai kota. Sebuah masalah yang sulit untuk ditemukan solusinya, mengingat kedua pihak memiliki hubungan yang simbiosis mutualisme.
The Raid juga mempertanyakan tujuan seseorang ketika mendaftarkan diri menjadi anggota penegak hukum seperti polisi atau tim SWAT. Apakah murni ingin menegakkan hukum, tugas sosial, atau sekedar mencari pujian yang disimbolkan dengan lencana?
Kemiskinan menjadi potret kecil yang turut ditampilkan dalam film. Lihatlah betapa banyaknya orang-orang miskin yang menggantungkan hidupnya dari lembah hitam mafia. Tak banyak pilihan bagi mereka, mati karena kelaparan atau mati dibunuh sebagai konsekuensi menjadi bagian dari mafia.
Terakhir dan yang paling menarik, karakter antara Rama-Andi sebenarnya memiliki persamaan : memilih jalan hidup dimana ia dihormati dan dianggap serius, terlepas dari benar atau salahnya jalan yang dipilih. Alasannya cuma satu, “karena pas sama gue”, lantas keduanya berjalan ke arah yang berlawanan. Wow, one strong poetical scene during the whole movie!!!
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, March 21, 2012

The Jose Movie Review - The Woman in Black


Overview
Bagi pecinta horror klasik, tentu nama Hammer Films sebagai produsen film bukan nama yang asing didengar. Dari rumah produksi yang berdiri di era 30’an ini pernah dihasilkan film-film klasik seperti Dracula, The Revenge of Frankenstein, The Mummy dan ratusan judul lainnya. Sayang, masa kejayaannya di era ’50-’60an sudah lewat. Mencoba bangkit lagi di kembali millenium dengan karya Let Me In, drama horror yang pantas mendapat pujian di berbagai aspek, membuktikan bahwa karya Hammer Films memiliki kualitas yang baik, seiring dengan perkembangan dunia sinema.
Sebagai sebuah film horror yang menggunakan formula klasik, The Woman in Black (WIB) bisa dibilang cukup baik dari segi penggarapan. Namun bagi penonton jaman sekarang, rupanya alur yang disuguhkan terasa terlalu lambat. Tak heran jika banyak penonton awam yang terbiasa nonton horror berisik akan merasa bosan. Buat saya pribadi sih tidak begitu membosankan, karena jalinan ceritanya termasuk cukup rapi dan tidak ada yang tidak penting untuk ditampilkan. Justru keheningan-keheningan yang ada bisa mendukung suasana ngeri yang sudah cukup dihadirkan dari desain set.
Kekurangan yang paling saya sayangkan adalah kurangnya kekuatan cerita, terutama di bagian penjelasan misterinya yang biasa, tidak banyak beda dengan film-film horror sejenis. Saya sih berharap ada penjelasan yang lebih terselubung dan sedikit twisted, kalau bisa sih ending yang membiarkan saya menarik kesimpulan sendiri. Sayang, bayangan dan harapan saya tersebut rupanya terlalu muluk. Untung, ada sedikit “kebahagiaan” di akhir yang setidaknya membuat penonton sedikit puas walau masih gregetan dengan sosok si wanita bergaun hitam ini.
Sosok hantu wanita bergaun hitam sendiri sebenarnya sudah cukup bikin merinding. Tapi jujur, saya lebih terintimidasi oleh kemunculan hantu anak-anaknya, terutama ketika mereka bergerombol di depan rumah berhantu hendak menyerang Arthur. Sayang adegan ini tidak ditindak-lanjuti, padahal cukup berpotensi menjadi adegan yang paling bikin merinding sekaligus menegangkan.
Alhasil, WIB hanyalah menjadi just another horror movie with classical element. Sama sekali tidak buruk, tapi juga bukan karya yang bakal bisa diingat dalam jangka waktu panjang. Setidaknya, lumayan lah buat mengisi waktu luang sekaligus mengobati rasa kangen dengan taste horror klasik. Cukup baik untuk James Watkins yang mana ini baru kali keduanya ia duduk di bangku sutradara.
The Casts
Memanfaatkan sisa-sisa histeria Harry Potter yang baru saja berakhir, Hammer tampaknya mencoba menarik penonton dengan menghadirkan Daniel Radcliffe sebagai pemeran utama di WIB. Mungkin bagi beberapa penggemar Harry Potter tentu merasa aneh melihat Radcliffe berakting sebagai pria yang jauh lebih tua ketimbang usia aslinya. Boleh dibilang, karakternya mirip karakter Jonathan Harker yang diperankan Keanu Reeves di Bram Stoker’s Dracula. Kalau mau dibandingkan antara keduanya? Well, I’ve got to be honest, I would be easily chose Reeves over Radcliffe. Bukan berarti penampilannya buruk di sini, tapi kayaknya kurang begitu pantas memerankan karakter seusia itu. Sisa-sisa “aura” Harry Potter-nya masih terasa sekali, sehingga kharisma karakter seusia Arthur Kipps di sini kurang begitu kelihatan.
Selain nama Radcliffe, tak banyak nama terkenal yang menghiasi film Inggris ini. Hanya Ciaran Hinds sebagai Mr. Daily yang namanya cukup sering membintangi film Hollywood walau bukan sebagai pemeran utama. Selama tahun 2011-2012 saja ia tampil di John Carter, Ghost Rider Spirit of Vengeance, Tinker Tailor Soldier Spy, dan bahkan memerankan Aberforth Dumbledore di Harry Potter and The Deathly Hollows Part II. Selain Arthur, karakter dan kharisma Mr. Daily inilah yang paling menonjol. Karakternya menjadi penetralisir kepercayaan akan hantu dengan pemikiran-pemikiran realis-nya. Kapasitas akting Hinds pun pas dengan porsi yang disodorkan kepadanya.
Technical
Teknis yang paling menonjol dan kuat adalah segi setting, baik itu lokasi, kostum, maupun properti. Setting pedesaan, makam keluarga, serta manor Drablow tampak begitu indah, detail, sekaligus mengerikan. Begitu juga dengan kostum ala 1800’an yang memukau. Sedangkan properti-properti yang digunakan cukup mengambil peran yang banyak dalam menciptakan suasana kengerian, seperti boneka-boneka dan mainan ala gothic yang super creepy. Make up sosok hantu-hantunya tergolong biasa sih, tapi cukup meyakinkan terutama hantu anak-anaknya. Sosok woman in black-nya tidak begitu banyak tampak jelas, hanya di bagian akhir saja akhirnya beliau menunjukkan sedikit lebih banyak wajahnya yang... lihat sendiri saja deh.
Score yang digubah oleh Marco Beltrami cukup menambahkan aura kengerian adegan-adegan yang ada. Cuma seandainya saja ditambahkan unsur Gregorian atau Satanic ke dalam komposisi score-nya, pasti bisa menjadikan WIB salah satu horror terseram 2012 ini.
The Essence
Tak banyak yang bisa disampaikan oleh WIB yang memang dibuat hanya sebagai hiburan semata. Namun dialog yang disampaikan Mr. Daily banyak yang menarik dan bisa dijadikan bahan penetral di saat kita sedang menghadapi suasana yang mencekam. Ingat selalu, “I believe the most rational mind can play tricks in the dark” dan “Don't go chasing shadows, Arthur.”
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, March 19, 2012

The Jose Movie Review - A Separation (Jodaeiye Nader az Simin)


Overview
Tak banyak film Iran yang berhasil menembus pasar internasional. A Separation merupakan film Iran pertama yang berhasil memenangkan Oscar untuk kagetori Best Foreign Feature. Sebelumnya ada film drama bertemakan anak-anak bertajuk Children from Heaven yang “hanya” berhasil masuk nominasi Oscar. Maka saya pun tertarik untuk mencicipi bagaimana sinematik ala Iran.
A Separation berhasil membuka mata saya terhadap sinema Iran yang selama ini tidak begitu terdengar gaungnya (apalagi di Indonesia). Yang paling saya kagumi dari film karya Asghar Farhadi ini adalah skrip yang tertata dengan sangat rapi dan cerdas. Tema perceraian yang terkesan simple dan mungkin terdengar pasaran bagi banyak orang, diramu sedemikian rupa sehingga tampak lebih menarik. Tak hanya seputar penyebab perceraian, mediasi, lalu keputusan akhir; Asghar yang juga menulis sendiri skripnya, menyisipkan berbagai problematika yang, katanya sih, sangat Iran banget. Ada selipan kasus hukum yang melibatkan keluarga seorang perawat, yang nantinya ternyata turut mewarnai puncak keputusan akhir dari gugatan cerai Simin kepada suaminya, Nader. Ada pula karakter ayah Nader yang mederita Alzheimer, yang juga tak kalah meyumbang problematika tersendiri dalam film. Dari itu semua baru penonton mengerti dengan jelas, mengapa akhirnya mereka memutuskan untuk bercerai, tidak hanya sekedar karena masalah Nader tidak mau diajak pindah ke negara lain yang kata orang-orang memiliki harapan masa depan lebih baik untuk putri mereka ketimbang stay di Iran. Saran saya ketika menyaksikannya, perhatikan tiap detail adegan yang ada, baik itu dialog yang terkesan sepele dan gerak-gerik serta ekspresi karakter-karakternya. Semua pertanyaan yang mungkin muncul di dalam benak Anda ketika sampai pada akhir film, sebenarnya terjawabkan dan terjelaskan semua melalui detail-detail dari awal film.
Cerita yang realistis, akting yang alami namun tetap memukau, jalinan alur yang pas hingga akhir film, twist yang cukup mengejutkan, dan ending yang membuat saya merenung beberapa saat, cukup layaklah jika A Separation meraih Oscar. I have to admit, Asghar’s script is brilliant, very strong, and clever.
Casts
Kekuatan cast terasa dengan jelas ketika menyimak chemistry antara Leila Hatami (Simin) dan Peyman Moadi (Nader), pasangan yang sedang dalam proses perceraian. Lihat saja bagaimana canggungnya mereka bersikap ketika saling bertemu, namun ketika perang mulut, meyakinkan sekali chemistry-nya bahwa mereka adalah pasangan yang pernah “bersama” sekian tahun. Chemistry tersebut tajam namun tidak sampai terasa seperti dilebih-lebihkan atau didramatisir. Just like real.
Akting yang tak kalah bagusnya ditampilkan oleh Sareh Bayat, pemeran Razieh. Bisa dibilang selain kedua aktor utamaya, Bayat-lah aktor yang paling menonjol berkat karakter yang juga menarik dan permainan akting yang dibawakan dengan sangat baik. Great job!
Technical
Satu hal yang unik adalah A Separation sama sekali tidak memiliki musik pengiring maupun score, termasuk ketika credit title di bagian akhir. Kendati demikian, A Separation sudah cukup berhasil membawa penonton ke situasi dalam film. Saya sama sekali tidak merasakan kebosanan sepanjang film, justru semakin penasaran dengan apa yang bakal terjadi berikutnya.
Teknik pengambilan gambarnya banyak menggunakan teknik handheld dan mengikuti karakter yang sedang disorot. Tenang, sama sekali tidak ada gambar goyang yang mengganggu yang sering terjadi pada film-film berteknik handheld. Kadang ada gambar fokus utama yang tertutup oleh dinding atau orang lain, untuk menghadirkan kesan nyata ala “dokumenter”. Saya mengerti alasan kesan realis ini dan untungnya sama sekali tidak mengganggu kenyamanan menonton.
The Essence
Perceraian. Satu momok dalam pernikahan, tapi ketika sepasang suami-istri mulai merasakan ketidak cocokan, bahkan suatu hal yang sangat bertolak belakang antara keduanya, perceraian adalah jalan yang paling bijak ketimbang memaksakan diri. Mau menyalahkan sebuah perceraian? Saya lebih cenderung menyalahkan pernikahan yang terburu-buru, yang hanya memandang sisi “senang”-nya saja, tanpa mengenal dengan dalam kepribadian pasangannya.
A Separation menunjukkan sepasang suami-istri yang ternyata jelas sekali bertolak belakang. Jika Simin lebih berpikiran masa depan, Nader sebaliknya lebih suka dengan masa lalu. Jika Simin lebih suka berkompromi dalam menyelesaikan suatu hal, Nader justru lebih suka bersikukuh memperjuangkan apa yang menurutnya benar. Banyak sekali perbedaan-perbedaan yang ditunjukkan sepanjang film, yang semakin membuat penonton mengerti apa yang sebenarnya terjadi antara Nader dan Simin.
Selain masalah perceraian, A Separation juga memperlihatkan berbagai problematika yang katanya nyata-nyata terjadi di Iran, seperti suasana ruang pengadilan yang terkesan main-main, isu religius antara pria dan wanita, dan tentu saja masalah kemiskinan dimana emosional bisa menyetir manusia untuk melakukan hal-hal paling nekad sekalipun. Well, people with poverty has nothing to lose, don’t they? Semuanya terangkum dalam satu skrip yang solid dan saling mempengaruhi antar plot.
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, March 13, 2012

The Jose Movie Review - Hugo (in 3D)


Overview
First of all, ketika melihat posternya pasti banyak yang terkecoh mengira bahwa Hugo adalah sebuah film animasi motion-capture seperti halnya Polar Express atau A Christmas Carol versi Zemeckis. Well, ini adalah murni film live-action. Ini juga bukan film petualangan fantasi yang menjual impian penuh keajaiban. Ini adalah film drama dimana segala yang ada di film ini sangat realistis dan menyimpan filosofi hidup yang menarik.
Bagi saya, Hugo adalah sebuah cerita indah tentang pencarian tujuan hidup yang dianalogikan dalam dunia machinery, khususnya mesin jam. Tidak hanya sampai di sana, saya cukup terkejut dan terbelalak ketika Hugo menunjukkan sisi “Cinema Paradiso”-nya. Jika sebelumnya saya menganggap The Artist adalah the ultimate tribute to a true movie magic, ternyata Hugo berhasil memberikan lebih banyak dan lebih besar. Tak heran jika lantas Hugo menjadi kandidat terberat bagi The Artist. Kalau saja saya menjadi anggota Academy, saya akan vote Hugo ketimbang The Artist. Bukan karena The Artist lebih jelek lho, cuma preferensi pribadi saja.
Keajaiban sinema” yang saya maksud di sini bukanlah tentang bagaimana pencapaian teknologi visual efek yang membuat penonton terkagum-kagum, karena kecanggihan visual efek bukanlah jualan utama di sini seperti halnya Avatar. Keajaiban yang ditawarkan di sini lebih sederhana dan jauh lebih realistis ketimbang “keajaiban” yang ditawarkan Hollywood beberapa tahun belakangan ini. Keajaiban yang saya maksud adalah “keajaiban” gambar bergerak yang mampu membuat penontonnya tergerak, bisa tertawa, merasakan ketegangan, atau sedih. “Keajaiban” seperti itulah yang ditawarkan oleh generasi-generasi awal sinema seperti yang ditampilkan di beberapa bagian film ini. Tak pelak, “keajaiban sinema” tersebut yang seringkali mengubah dan menginspirasi banyak individu di dunia. The real cinematic magic.
Ada yang merasa film ini terasa begitu lambat dalam bertutur, tapi saya pribadi tidak begitu merasakannya. Mungkin saja mereka yang merasakan kebosanan karena salah ekspektasi. Saya sendiri merasa memang ada beberapa bagian yang terkesan diulur-ulur atau bertele-tele. Misalnya ketika adegan Papa Georges melihat kembali karyanya yang hilang, sebenarnya mungkin film sudah cukup untuk menyampaikan gagasannya, tapi ternyata masih ada adegan-adegan lain di belakangnya, seperti Hugo yang berusaha membawa automaton yang dimilikinya kepada Papa Georges, Station Inspector yang akhirnya, diputarnya lagi film-film Papa Georges yang sempat hilang untuk umum, dan epilog dari Isabelle tentang konklusi film. Terasa terlalu bertele-tele? Awalnya saya berpikir “iya”, tapi lantas saya menyadari semua itu bukan tanpa alasan. Misalnya adegan Station Inspector yang mulai berubah menunjukkan betapa Hugo tidak hanya berhasil “memperbaiki” Papa Georges, tapi juga si Station Inspector. Diputarnya lagi film-film Papa Georges juga menjadi bonus tersendiri bagi saya yang menggilai dunia sinema, lebih dari sekedar sebagai hiburan semata. Apalagi ditampilkan dalam format 3D yang memanjakan mata. Thanks Scorsese, it's been one of my best cinematic experiences!
Casts
Semua cast utamanya berhasil mengisi peran masing-masing dengan baik. Tentu saja yang menjadi perhatian penonton adalah Sacha Baron Cohen yang memerankan karakter Station Inspector. Di sini seolah-olah ia membuktikan diri mampu memerankan karakter serius tapi tetap sama menariknya dengan karakter Borat atau Brűno. Asa Butterfield dan Chloë Grace Moretz tampil memukau sebagai anak-anak yang tidak lugu tapi juga belum begitu dewasa.
Sementara Sir Ben Kingsley dan Helen McCrory (sebelumnya pernah memerankan Narcissus Malfoy, ibunda Draco, di franchise Harry Potter) menunjukkan performa yang tak kalah luar biasanya. Walau usia karakternya tak lagi muda dan porsinya juga tak banyak, kharisma karakternya menjadi memorable bagi penonton (setidaknya bagi saya).
Technical
3D yang ditawarkan Hugo menurut saya adalah yang terbaik untuk tahun 2011 (dan mungkin juga untuk tahun 2012). Saya sangat terkesan dengan adegan pembuka yang membuat penonton seolah-olah terbang menyusuri stasiun kereta api, moncong Maximillian, wajah Station Inspector, dan detail mesin-mesin jam yang begitu nyata dan mengagumkan. Bahkan James Cameron pun mengakui karya 3D pertama Scorsese ini adalah sebuah masterpiece yang sayang untuk dilewatkan.
Faktor teknis yang lainnya seperti score, sound effect, visual effect, dan cinematography, tidak perlu diragukan lagi. Semuanya menunjang “kesempurnaan” sinematik Hugo. Score khas ala Parisien begitu menyatu dengan adegan. Perubahan mood score sama sekali tidak terasa kasar atau terlalu signifikan. Sound effect memanfaatkan fasilitas surround secara maksimal. Suara tick-tock jam pun terdengar sangat nyata, jernih, dan kuat. Sementara dari sisi cinematography, masih perlukah saya memuji tone-warna yang genuine dan sangat kuat tersebut? Everything's perfect in technical.
Sayang Hugo tidak begitu memperhatikan detail continuity. Setidaknya ada dua kesalahan continuity yang terlihat dengan sangat jelas, yakni ketika Maximillian hendak menangkap seorang anak terlantar tak dikenal di stasiun (bukan Hugo) dan posisi kunci yang tergeletak di rel kereta api di dalam mimpi Hugo. Untung saja tidak begitu mempengaruhi mood menonton saya.
The Essence
Seperti kata Hugo kepada Isabelle, “Semua spare part yang ada di dalam mesin jam memiliki fungsi, tidak ada yang berfungsi sebagai pengganti.” Itulah tujuan kenapa kita hidup. Hanya tergantung dari kita saja apakah mau terus mencari tahu atau hanya hidup puas dengan apa yang dimiliki sekarang.
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, March 10, 2012

The Jose Movie Review - Negeri 5 Menara


Overview
Beberapa tahun belakangan ini Indonesia sedang demam motivasi, baik berupa seminar, buku, maupun film. Lihat saja popularitas motivator-motivator seperti Tung Desem Waringin, Mario Teguh, Bong Chandra, dan Merry Riana. Dari analisis saya, masyarakat Indonesia sedang sangat membutuhkan motivasi-motivasi yang kuat untuk menjadi (setidaknya) sesukses dan sekaya motivator-motivator tersebut, di tengah keadaan perekonomian Indonesia yang masih tidak begitu menggembirakan. Dunia perfilman Indonesia pun sering sekali mengangkat tema motivasi.
Membaca sinopsis Negeri 5 Menara (N5M), saya langsung teringat Laskar Pelangi (LP). Keduanya memiliki banyak kemiripan; sama-sama menceritakan tentang anak-anak yang menuntut ilmu di tempat yang sama, mereka bersahabat, mereka belajar dan bertumbuh bersama dalam segala aspek kehidupan, dan pada akhirnya mereka sama-sama berhasil meraih cita-citanya sampai luar negeri. Namun, tentu N5M memiliki semangat yang berbeda dengan LP. Man Jadda Wajada yang menjadi slogan film ini menjadi tema yang menjiwai sepanjang film.
Sebelumnya, saya sama sekali belum pernah membaca versi novelnya. Sinopsisnya di backcover-nya saja yang pernah saya baca dan sempat tertarik karena judul dan gambar covernya yang saya akui, unik. Jadi di sini saya akan mereview film ini secara objektif, murni dari filmnya. Saya tidak akan membanding-bandingkan dengan versi novelnya.
Di tangan penulis skenario Salman Aristo yang juga menulis skenario untuk Laskar Pelangi, cerita cliche ala motivator atau dreams come true menjadi sebuah cerita filosofis yang indah. Salman Aristo berhasil menerjemahkan sebuah tema motivasi yang terkesan membosankan dan cenderung menggurui dengan sangat halus dan yang pasti, indah.
Tapi bukan berarti tanpa celah. Jalinan cerita yang disuguhkan seolah-olah “main aman” dengan tak banyak kelokan-kelokan maupun klimaks yang berarti. Ada memang adegan-adegan yang drama banget hingga membuat penonton sedih dan berempati. Humor-humor yang diselipkan pun cukup berhasil membuat saya tertawa. Namun secara keseluruhan, bahkan di akhir film sekalipun saya tidak merasakan katarsis sama sekali. Mungkin akan lebih berhasil jika adegan akhir dimana para karakternya sudah berhasil di “menara” masing-masing, dieksekusi dengan lebih menonjolkan ciri masing-masing karakter dan menara-nya. Menurut saya, pemeran-pemeran karakter dewasanya banyak yang kurang pas, sehingga penonton masih harus menebak-nebak ini versi dewasa dari karakter yang mana. Bagaimana pun, adegan akhir ini seharusnya bisa digarap dengan lebih kreatif sehingga mampu meninggalkan kesan yang cukup dalam bagi penonton. Setidaknya lompatan waktu antara remaja menjadi dewasa menjadi tidak begitu terasa gap-nya.
Di adegan lain, misalnya ketika karakter Alif membatalkan untuk meninggalkan pesantren. Seandainya ia jadi keluar dan mengikuti keinginannya, cerita bisa menghindari klise sekaligus tetap memberikan gagasan yang tak kalah penting; semangat Man Jadda Wajada tetap bisa dipraktekkan dan menjadi “mantra” yang manjur, terlepas oleh dimensi ruang dan waktu. Toh, skenario adaptasi bebas untuk memodifikasi materi aslinya asal nafasnya sama, bukan? Tapi ya sudahlah, bagi penonton awam mungkin bukan menjadi masalah yang begitu besar.
Kredit tersendiri juga patut disematkan untuk sutradara Affandi Abdul Rachman yang bisa dibilang cukup berhasil mengarahkan aktor-aktor muda yang belum terlalu berpengalaman di bidang akting sebelumnya. Walau karirnya belum secemerlang Riri Riza, Rudi Soedjarwo, Joko Anwar, Hanung Bramantyo, maupun Ifa Isfansyah, setidaknya semakin lama ia semakin menunjukkan kualitas penyutradaraannya. Sekedar catatan, sebelumnya Affandi pernah menyutradarai sekaligus menulis skrip untuk Heartbreak.com, Aku atau Dia, dan The Perfect House. Deretan karya yang tak bisa diremehkan.
Casts
Keenam karakter utama ketika kecil diperankan oleh aktor-aktor yang belum pernah berakting sebelumnya. Sebuah catatan yang menarik karena keenamnya cukup berhasil memerankan karakter masing-masing sesuai dengan porsinya. Alif (Gazza Zubizareta) adalah karakter utama yang tak begitu menonjol dari segi kemampuan dan kecakapan. Justru ia menjadi karakter utama karena ini adalah film tentang dia, sepanjang film ia mendapatkan pengaruh dari karakter-karakter lain di sekitarnya, yang pada akhirnya menjadikan “seseorang”. Dari keenam sahabat Menara ini, yang paling menonjol tentu saja Baso (Billy Sandy) yang berasal dari Goa. Sepanjang film jelas ia memiliki jiwa kepemimpinan dan kemauan yang paling keras. Di tangan Billy Sandy, Baso berhasil mengundang simpatik penonton, bahkan mungkin menjadi karakter favorit, mengalahkan Alif sekalipun. Tak kalah menariknya adalah karakter Atang (Rizki Ramdani) dari Bandung yang walaupun pembawaannya agak ngondek tapi ternyata cakap dalam hal teknis.
Dari deretan pemain senior tidak ada yang perlu diragukan lagi. Ikang Fawzi sebagai Ustadz pemimpin pesantren memiliki kharisma yang kuat namun jiwa “rock” nya masih terasa. Donny Alamsyah yang biasanya terkesan kalem dan misterius berhasil menunjukkan sisi inspiratif dan bijaksana dari dirinya. David Chalik dan Lulu Tobing juga cukup berhasil memerankan karakter orang tua Alif dengan wataknya masing-masing dan dengan aksen Padang yang cukup meyakinkan. Kredit khusus saya berikan kepada Andhika Pratama yang berhasil tampil beda dengan mimik wajahnya yang komikal. Lihat saja mimik wajahnya sepanjang film yang dimainkan dengan sinikal namun menggelitik. Sekilas Andhika jadi mirip Cillian Murphy di sini.
Technical
Karena ditangani oleh ahli-ahlinya, secara teknis bisa dibilang tidak memiliki kendala yang berarti. Sinematografi yang indah, score yang tak begitu menonjol tapi cukup berhasil mengiringi adegan, detail setting yang mengagumkan (lihat saja detail bangunan, uang kertas, dan desain eksterior toko ala 1989-an), editing yang rapi. Mungkin hanya dialog saja yang kadang masih terdengar kurang jelas, apalagi ada selipan bahasa maupun aksen daerah yang berbeda-beda. Namun balance antara dialog, score, dan sound effect cukup baik, tidak ada yang saling tumpang tindih.
The Essence
Man Jadda Wajada. Ingin tahu apa maksudnya? Lebih baik nonton sendiri saja agar lebih meresap. Tak hanya itu, Salman Aristo juga berhasil menyelipkan berbagai gagasan dan sindiran. Misalnya gagasan tentang pilihan hidup (terutama pilihan pendidikan) dan sindiran tentang anggota militer yang berusaha menggunakan power-nya untuk bisa masuk pesantren. Ada banyak lah filosofis-filosofis yang menarik diangkat di sini, baik dari kacamata ajaran Islam maupun umum. Sekali lagi saya melihat persamaan-persamaan ajaran agama yang ada, yang selama ini selalu saja orang sibuk mencari-cari perbedaannya. Melalui dan cara yang berbeda, agama-agama yang ada sebenarnya memiliki ajaran yang benang merahnya sama, termasuk dalam hal kerja keras. So, why would you bother? Dengan pemahaman yang berbeda-beda, sebenarnya kita bisa kok bahu-membahu saling membantu membangun negeri ini menjadi lebih baik.
Lihat data film ini di IMDB dan filmindonesia.or.id
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, March 1, 2012

The Jose Movie Review - Dilema


Overview
Omnibus akhir-akhir ini menjadi trend di perfilman Indonesia. Setelah tahun lalu ada Jakarta Maghrib karya Salman Aristo yang berhasil merangkum ragam kejadian sehari-hari di Jakarta yang bisa jadi cermin sekaligus perenungan, kali ini Wulan Guritno yang selama ini kita kenal sebagai aktris, mencoba untuk memproduksi film layar lebar pertamanya melalui PH WGE bersama sang suami, Adilla Dimitri. Tak tanggung-tanggung, proyek pertamanya ini melibatkan 4 sutradara : Robby Ertanto, Rinaldy Puspoyo, Robert Ronny, dan Adilla Dimitri sendiri, yang masing-masing menangani sebuah fragmen. Walau sebuah omnibus, namun setiap fragmen tidak hadir satu demi satu secara bergantian seperti layaknya Jakarta Maghrib atau Cinta Setaman. Semua fragmen yang ada berjalan secara paralel, jadi secara keseluruhan tetap tampak seperti satu film yang utuh.
Di atas kertas secara premis, Dilema punya materi yang sangat menarik untuk diangkat, yakni kehidupan dunia underground Jakarta yang diwakili oleh karakter seorang penguasa dunia hitam Jakarta, raja judi underground, gadis broken, polisi yang baru saja ditransfer dari luar kota, dan anggota ormas ekstrimis salah satu agama. Kesemuanya ini nantinya dipertemukan dalam sehelai benang merah yang sama.
Tidak mudah memang menyatukan berbagai cerita menjadi satu kesatuan. Salah satu yang menjadi kendala adalah sulitnya menyeimbangkan tiap fragmen sehingga tidak ada yang di-anak-tirikan dan hanya sekedar tempelan. Nah, ternyata kendala inilah yang menjadi permasalahan utama dari Dilema. Di mata saya, fragmen The Gambler, The Hardline, dan The Big Boss terasa sekali lebih dominan ketimbang The Officer dan Rendezvous. Misalnya pada fragmen The Gambler, terasa sekali karakter Sigit (Slamet Rahardjo) begitu menarik dari segi perkembangan karakter dan pergulatannya. Sementara di fragmen The Officer, hubungan antara Ario (Ario Bayu) dan Bowo (Tio Pakusadewo) terasa hambar dan konflik yang ada seperti mentah sekali. Padahal jika mau digarap dengan porsi yang lebih, keduanya bisa semenarik Denzel Washington dan Ethan Hawke di Training Day.
Begitu juga dengan fragmen Rendezvous dan The Hardline yang awalnya menarik dan berjalan baik namun tidak begitu jelas dan kurang mendalam di akhir. Semua ke-tanggung-an fragmen di sini pada akhirnya kurang memberikan kesan bagi penonton ketika film berakhir. Ada fragmen yang diakhiri dengan baik, namun di fragmen lain terasa janggal dan tidak jelas. Cukup disayangkan karena sebenarnya semua unsur lainnya digarap dengan baik dan serius.
Casts
Melihat daftar cast-nya saja kita tidak perlu meragukan lagi bagaimana kualitas akting yang ada di sini. Mulai yang senior seperti Ray Sahetapy, Slamet Rahardjo, Roy Marten, Jajang C. Noer, hingga aktor-aktor muda yang sudah banyak mendapatkan pujian dari segi akting, seperti Reza Rahadian, Ario Bayu, Lukman Sardi, Winky Wiryawan, Baim Wong, Abimana Aryasatya, dan Pevita Pearce. Tapi kalau saya harus menyebutkan satu peran yang paling menarik, saya akan menjawab Wulan Guritno yang benar-benar tampil beda dengan dandanan ala butchy (lesbian yang memiliki role sebagai pria-nya). Tak hanya dandanan, dari gesture dan cara bicaranya sama sekali tidak menunjukkan indikasi bahwa itu adalah seorang Wulan Guritno. Winky Wiryawan dan Baim Wong juga menampilkan performa yang berbeda ketimbang peran-peran mereka biasanya.
Sementara Slamet Rahardjo beruntung diberikan perkembangan karakter yang paling baik dan porsinya cukup banyak sehingga ia bisa tampak menonjol bersama fragmen-nya ketimbang yang lain.
Technical
Dilema adalah proyek yang digarap dengan serius dan sangat baik dari segi teknik. Sinematografi dan score menjadi kekuatan yang berhasil menggiring cerita menjadi terasa lebih menarik. Tak heran, sinematografernya saja Yudi Datau dan komposernya Tya Subyakto yang sudah memiliki reputasi yang baik di perfilman nasional. Walau score-nya tidak seunik Bemby Gascaro dkk., tapi setidaknya cukup bisa membangun suasana tegang, haru, dan menyentuh.
Dari segi editing, walau ada beberapa pergantian scene yang terasa sekali lompatan-lompatan fragmen-nya sehingga menjadikan agak kurang nyaman diikuti, tapi setidaknya secara keseluruhan penonton masih bisa menangkap benang merah yang terjalin antara kesemua fragmen yang ada tanpa terasa bingung.
The Essence
Life will find its way. Tagline ini sudah cukup menjelaskan esensi yang ingin diangkat. Hidup penuh dengan pilihan dimana tiap pilihan itu memiliki konsekuensi yang berbeda dan ke sanalah hidup akan membawamu. Apakah akan menemukan kembali kedamaian dengan anggota keluarga yang sempat hancur akibat kesalahan masa lalu, atau justru malah kehilangan orang-orang terdekat yang disayangi? The choice is in each of us.
Lihat data film ini di IMDB.
Lihat situs resmi dan halaman wiki film ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review - Crazy Stupid Love


Overview
Cinta itu bikin gila, bikin kita bisa melakukan hal-hal bodoh. Hayo ngaku siapa yang pernah mengalaminya? Harus saya akui, saya pun pernah melakukan hal-hal bodoh atas nama cinta. Jadi wajar saja bila saya menikmati dan memaklumi tingkah laku para karakter yang ada di Crazy Stupid Love. Ada suami yang berusaha merebut kembali cinta istrinya, seorang anak yang berusaha membuat babysitter adiknya menerima cintanya, seorang babysitter yang berjuang merebut hati majikannya yang sudah beristri. Di sisi lain ada pula seorang player yang harus tunduk ketika jatuh cinta pada gadis yang bermain hard-to-get. Semuanya terangkai dalam sebuah film komedi romantis besutan duet sutradara Glenn Ficarra dan John Requa.
Sebuah omnibus? Oh bukan. Walaupun ada banyak “cerita cinta” di dalamnya, Crazy Stupid Love tidak mengusung format omnibus. Berbagai “cerita cinta” yang ditampilkan tersebut terangkai dalam satu lingkaran yang bermuara pada dua pria yang memiliki dua kepribadian yang saling bertolak belakang dalam urusan cinta : Cal Weaver (Steve Carrell) dan Jacob Palmer (Ryan Gosling). Cal adalah pria baik-baik yang seumur hidupnya hanya pernah mencintai satu orang wanita, sedangkan Jacob adalah seorang player. Dengan modal ketampanan wajah, tubuh atletis, gaya parlente, dan kekayaan yang diwariskan kepadanya, wanita mana yang tidak tertarik untuk mengencaninya? Namun bukan berarti keduanya bisa hidup bahagia selamanya dengan keadaan masing-masing. Justru di keadaan yang berbeda, keduanya menjadi saling belajar tentang cinta.
Sebuah premis yang menarik untuk diusung. Film pun berjalan dengan sangat mulus sepanjang durasi. Namun ada beberapa kecanggungan yang saya rasakan. Bukan karena adegan-adegannya kurang efektif atau terkesan diulur-ulur, tapi entah kenapa alurnya terasa datar dan agak canggung. Ada pula beberapa adegan yang terasa overleap, misalnya adegan perkenalan antara Hannah dan Jacob. Editingnya terasa seperti dipotong-potong (dalam arti disensor) dan jadinya kasar dan tidak nyaman. Alhasil film ini terasa biasa saja, kurang memorable. Adegan yang paling saya ingat saja malah hanya ada satu, yakni ketika semua karakter beserta dengan kepentingan-kepentingannya masing-masing bertemu di satu titik dan terjadilah kehebohan. Bikin saya gregetan, tertawa terbahak-bahak, dan sekaligus kasihan. Untung saja kelemahan di alur diperbaiki oleh dialog-dialog yang menggelitik dan yah... bolehlah dibilang cukup cerdas.
Casts
Steve Carrell adalah salah satu faktor keberhasilan film yang juga ia produseri sendiri ini. Ia memang tak sejago Jim Carrey dalam mengolah wajahnya dalam hal melawak, tapi ekspresi wajah dan tingkahnya adalah sebuah komedi yang tidak dimiliki komedian lain. Di sini bisa dilihat jelas the real Steve Carrell we've known di awal hingga pertengahan, lantas berubah menjadi true gentleman yang memikat hati wanita namun tetap menunjukkan ciri khas guyonannya. He's one of a kind!
Sementara Gosling yang menjadi opposite dari karakter Carrell adalah pemeran yang paling pas. I can't imagine karakter Jacob diperankan aktor muda lain. Julianne Moore seperti biasa menampilkan performa akting yang sesuai dengan porsinya. Sedikit mengingatkan akan perannya di The Kids are All Right. Di lini pemeran mudanya, saya tertarik dengan Emma Stone yang semakin hari semakin menunjukkan pesona smart and beautiful-nya di panggung hiburan. Sebagai bonus, ada Josh Groban yang ternyata suaranya tidak se-tenor seperti saat ia bernyanyi. By the way, bingung juga sih dia ini termasuk suara tenor atau bariton, in between sih.
Technical
Dari segi teknik, saya paling tertarik dengan angle kameranya yang cukup variatif. Contoh yang paling mudah adalah adegan pembuka yang menunjukkan kaki orang-orang yang sedang kencan di restoran dengan iringan Save Room-nya John Legend. Sisanya, tidak ada yang terlalu mengganggu maupun menonjol. Everything is in its place and just fine.
The Essence
Cinta bikin gila. Hal-hal bodoh dan gila wajar dilakukan atas nama cinta, terutama apabila cinta tersebut memang layak untuk diperjuangkan. Jadi malu-malu sendiri kan melihat tingkah karakter-karakter di sini yang besar kemungkinan pernah kita lakukan sendiri? Bagi pria, asyik juga belajar menjadi seorang pria yang merupakan perpaduan Cal dan Jacob. Buat wanita, tuh kan pria tampan dan berkelas lebih tertarik dengan wanita yang smart dan play hard-to-get untuk dijadikan pasangan hidup. Kalau yang tampak seksi dan sikapnya kegatelan, yah hanya bakal jadi “Miss Right Now” saja. Hehehe…
Lihat data film ini di IMDB.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates