Thursday, December 20, 2012

The Jose Movie Review
5cm.

Overview

2012 boleh jadi tahun yang cukup penting bagi perfilman Indonesia. Meski tren angka penontonnya menurun, namun jumlah judul dan varian genrenya bolehlah dianggap sebagai kemajuan. Setelah tak ada judul lain yang berhasil meraih 1 juta penonton selain The Raid, bisa jadi inilah film Indonesia yang setidaknya bisa duduk di posisi kedua terlaris tahun ini. Bagaimana tidak, di 5 hari pertama penayangannya saja sudah berhasil mengumpulkan 500.000 penonton. Rasanya tidak mustahil untuk meraih 1 juta penonton, meski harus bersaing dengan Habibie & Ainun yang juga berpotensi mendulang banyak penonton.
Akan tetapi saya tetap berpijak pada teori, “angka penonton yang tinggi bukan jaminan kualitas sebuah film”. Berkali-kali teori ini terbukti bagi saya. Apalagi penonton Indonesia rata-rata nonton film di bioskop karena faktor tulisan “based on best seller book”, atau bagian dari franchise, atau asal ada gambar orang membawa pistol di posternya. Tak terkecuali kasus 5cm. dimana sebelum nonton filmnya saja saya sudah diwarning oleh seorang teman yang membaca versi novel grafisnya (film 5cm. diangkat dari novel dan pernah juga diangkat dalam format novel grafis) bahwa ini bukanlah karya yang bagus secara rangkaian plot meski memiliki esensi yang menarik. Oke baiklah, saya menurunkan ekspektasi saya yang sempat tinggi berkat trailernya.
Ternyata apa yang saya saksikan di layar masih jauh di bawah ekspektasi yang sudah saya turunkan tersebut. Keganjilan paling mengganggu yang saya rasakan adalah logisme runtutan alur yang seolah dipaksakan dan tidak tahu arah hendak ke mana. Kita mulai saja dari titik tolak petualangan lima sahabat ini yang memutuskan untuk tidak bertemu sementara waktu. Tiba-tiba saja karakter Genta mencuatkan uneg-unegnya yang merasa bosan dengan persahabatan mereka. Akan terasa lebih wajar jika ada satu masalah yang spesifik mengarah ke isu kebosanan tersebut. Misalnya ada salah satu karakter yang kesusahan mendapatkan koneksi karena tidak pernah bergaul dengan orang lain selain mereka berlima. Tak hanya sampai di situ, menjelang akhir cerita ketika mereka berlima tiba di puncak Mahameru, tiba-tiba saja isu menggapai cita-cita dan cinta tanah air menyelinap begitu saja tanpa ada indikasi apa-apa sebelumnya. Sampai titik ini saya merasa 5cm. terlalu ambisius menyampaikan pesan ini-itu tanpa tahu bagaimana caranya yang efektif. Bahkan Cita-Citaku Setinggi Tanah atau Tanah Surga... Katanya yang secara nilai produksi jauh lebih simpel memiliki cara yang jauh lebih baik dan halus dalam menyampaikan esensinya. Alhasil, pesan-pesan tersebut hanya seperti ucapan verbal saja tanpa dapat dirasakan secara emosional oleh penonton.
Konflik yang terasa sangat dipaksakan untuk ada tersebut diperparah oleh perkembangan cerita yang kalau mau dipikir-pikir lagi, sama sekali tidak berkembang. Kalaupun ketika adegan kelima sahabat ini sampai di puncak Mahameru dianggap sebagai klimaksnya, maka 5cm. masih mengalami kendala post-climax yang terlalu bertele-tele dan menjadikan keseluruhan alur tidak enak untuk dinikmati. I mean, perlukah isu persahabatan, penggapaian cita-cita, dan “nasionalisme” masih ditambah isu perjodohan yang semakin jauh menyesatkan alur cerita? Baiklah, cukup. Sebagai film yang memiliki alur cerita, 5cm. sangat buruk. Ada yang berpendapat bahwa dari novelnya memang sudah seperti itu ceritanya. Well jika sudah menyadari buruk, kenapa tidak ada usaha untuk memperbaikinya di film? Yah rupanya faktor kepuasan fans novel yang sudah terlanjur fanatik lagi-lagi (masih) harus lebih diutamakan.
Tak hanya sampai di situ, masih ada banyak sekali awkward moment di beberapa perpindahan adegan. Yang paling terasa adalah akhir adegan pertemuan terakhir lima sahabat sebelum berjanji untuk lost contact. Beruntung beberapa komedi yang sangat khas Hilman (salah satu penulis naskahnya) berhasil menyegarkan suasana, kecuali guyonan-guyonan yang melecehkan fisik Saykoji.
Maka dengan kesuksesan secara angka box office dan kualitas naskah 5cm., saya senang sekaligus sedih. Senang karena ada film nasional yang mampu menjadi tuan di rumah sendiri. Begitu pula dengan antusiasme penonton yang nyatanya maish punya kepercayaan pada film nasional. Tetapi sekaligus sedih dengan selera dan pola pikir penonton kita yang masih sedalam mata memandang. Semoga saja kesuksesan 5cm. hanya sekedar menjadi batu loncatan akan kepercayaan penonton, tidak dijadikan patokan para produser untuk membuat film dengan kualitas skrip serupa.

The Casts

Sebagai lima orang yang sudah bersahabat lama, chemistry antara Herjunot Ali, Fedi Nuril, Igor Saykoji, Denny Sumargo, dan Raline Shah terbangun dengan sangat baik. Semuanya mengalir dengan natural. Sayangnya, akting sebagai personal masing-masing karakter masih tidak merata. Fedi Nuril dan Igor Saykoji bisa dibilang tampil yang paling wajar dan sesuai dengan karakternya (mungkin karena memang tak jauh-jauh dengan kepribadian aslinya). Denny Sumargo pun masih tergolong baik sebagai pendatang baru meski dalam berbagai kesempatan tatapan matanya masih “bingung” dalam berakting. Raline Shah pun tampil memikat lengkap dengan persona kecantikan fisiknya.
Yang paling saya sayangkan adalah Herjunot Ali yang biasanya mampu tampil baik dalam berperan. Meski pernah memerankan karakter yang sama-sama poetic di Di Bawah Lingkungan Ka'bah yang saya rasa jauh lebih natural, di sini tingkahnya terasa terlalu dibuat-buat dan slapstick. Aktor mengganggu berikutnya adalah karakter Pevita Pearce yang biasanya juga tampil menarik (termasuk terakhir di Dilema). Bukan sepenuhnya kesalahan ia karena karakter yang cantik, hot, namun agak bodoh dan manja memang sudah ada di skrip. Tetapi cara ia membawakan karakter tersebut membuat saya semakin sebal dengan karakternya. Semenyebalkan karakter-karakter yang diperankan Sandy Aulia di film-film produksi Soraya Intercine Films seperti Eiffel I'm in Love.

Technical

Production value menjadi satu-satunya penyelamat yang mampu membutakan mata penonton. Excuse my language, tetapi siapapun bahkan yang menyadari cacat besar dari 5cm. akan setuju luar biasanya keindahan panoramik (khususnya alam Gunung Semeru) yang berhasil terekam oleh sang director of photography (DOP) Yudi Datau. Begitu pula score megah yang memberi sentuhan epic di beberapa adegan. Art directing yang merangkai indah “markas” berkumpulnya gank 5cm di rumah Arial, kamar Zafran (papan tulisnya itu juara!), dan kantor Genta di akhir film juga patut mendapat apresiasi.

The Essence

Any friendship has its ups and downs. Jika selalu diisi hanya senang-senang saja, di satu titik pasti sampai pada titik kebosanan. Justru dengan hadirnya permasalahan dan kebersamaan dalam menyelesaikannya akan semakin memperkokoh dinding persahabatan.

Those who will enjoy this the most

  • Audiences who love magnificent panoramic scenery
  • A bunch of friendship members 
Lihat situs resmi film ini. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates