Sunday, November 4, 2012

The Jose Movie Review
Loe Gue End

Overview

Sudah bosankah Anda melihat atau mendengar kampanye anti-narkoba dan berbagai bentuk “penyuluhan”-nya? Saya sudah... sejak SMA. “Penyuluhan” lewat media film (atau sinetron/ILM atau media cerita naratif apapun) sudah tak terhitung lagi frekuensinya didaur-ulang. Namun nyatanya narkoba masih menjadi masalah sosial yang tak kunjung menemui titik terang hingga kini. Well, maybe the way they introduce the drugs and its world-nya yang salah (baca : tidak menarik) sehingga ya cuma jadi sekedar preach numpang lewat bagi audience-nya.
Apa yang disajikan sutradara Awi Suryadi (I Know What You Did on Facebook, Simfoni Luar Biasa, dan Claudia/Jasmine) sedikit lebih menarik ketimbang film-film preachy sejenis yang terjebak dalam pola tragis serta klise : terlibat narkoba karena brokenhome lalu berakhir either dipenjara, kena HIV, atau mati. Yes, judulnya memang alay, klise demi klise masih ada di sana-sini. Namun ia cukup berhasil membungkusnya dalam sebuah cerita thriller menegangkan. Teror kematian demi kematian dengan “warning” sebelum kejadian menjadikan LGE terasa lebih menarik dan seru untuk diikuti. Sedikit mengingatkan teror ala Final Destination dengan kadar tensi yang kurang lebih sama. Sayang, masing-masing kejadian tidak diberi waktu untuk “menahan” ketegangan hingga klimaks. It is good but if they can hold the tension a little bit longer, that will be much better.

Tak hanya itu, Awi dan timnya juga bisa dibilang sangat berhasil membangun dunia gemerlap kaum socialita muda yang serba glamour, keren, dan energik. Alana's world, our heroine berkat gambar, setting lokasi, pace, music, costume, dan juga editing. Perkenalan jenis-jenis narkoba yang dipakai oleh karakter-karakternya dijelaskan dengan visualisasi sangat menarik dan keren. Love that part!

Tetapi sampai di situ saja pujian saya untuk LGE. Kelemahan yang paling jelas terasa (dan paling fatal) adalah skripnya yang gagal untuk mengeksplor lebih dalam cerita yang sudah dibuka dengan menarik. Oke, ia punya teror kematian yang sangat menegangkan serta penjelasan supranatural yang jarang diangkat sekaligus rasional, tetapi usaha menyelimuti ceramah anti-narkoba-nya masih terasa terlalu obvious. Seandainya saja unsur teror pembunuhan bisa dikembangkan lebih dalam sebelum terungkap, penjelasan supranaturalnya tidak dijelaskan terlalu blak-blakan, dan tanpa bagian terklise : drama internal keluarga, LGE bisa jadi tontonan hiburan yang berkelas di scene perfilman Indonesia tahun ini dan syukur-syukur semangat anti-narkoba bisa mempengaruhi generasi muda. Dengan durasi yang hanya sekitar 75 menit (60 menit jika tanpa credit title), jelas LGE terasa terburu-buru dalam bertutur sehingga mengorbankan banyak detail cerita yang sebenarnya bisa dikembangkan lebih dalam lagi ketimbang memberikan percabangan ke sub-plot-sub-plot lain yang cukup mengganggu.

Kemubaziran cerita terjadi pula pada sub-plot Zara Zettira ZR. Seandainya jika naskah (yang sebenarnya juga ditulis oleh Zara Zettira ZR sendiri) memberikan benang merah yang lebih kuat sedikit saja dengan cerita Alana dan gank glamournya, misalnya mungkin di bagian ending, tentu sub-plot ini tidak akan serasa mubazir dan menjadikan keseluruhan cerita film terasa lebih solid.

So, I guess just enjoy the cool world and of course, the beautiful faces they've introduced to us and let's parry.

The Casts

Nadine Alexandra, Putri Indonesia 2010 ini mampu tampil menarik sepanjang film. Porsinya yang mendominasi bisa dibilang berhasil ditanganinya dengan baik. Sementara karakter-karakter anggota gank lainnya, meliputi Dimas Beck, Dion Wiyoko, Manohara Odelia, serta wajah-wajah baru nan rupawan; Kelly Tan, Martina Tesela, Kelly Tandiono, dan Moudy Zanya tampil just fine. Bukan buruk, tetapi memang porsi masing-masing saja yang hanya terkesan pemanis/pelengkap saja.

Di luar gank, ada nama Ray Sahetapy, aktor senior yang justru di menjelang akhir berakting seolah-olah hanya main-main atau justru mengejek. Claudia Hidayat sebenarnya menarik dan cukup baik namun penampilannya yang sedikit membuat ilfill. She reminded me of Stifler's Mom, Jennifer Collidge. 

Terakhir, Tracy Shuckleford memerankan karakter yang butuh kemampuan akting lebih namun berhasil dibawakan dengan baik olehnya tanpa dialog. Ketika ia berdialog... hmmmm I think she needs more experience and a lot of learning. Anyway, siapa sangka ternyata ia adalah seorang model yang bahkan bentuk badannya berbeda jauh dari yang saya lihat di layar.

Technical

Selain teknis LGE yang saya puji di segmen sebelumnya, visual effect-nya patut mendapatkan apresiasi lebih. Meski di beberapa bagian tampak kasar, namun cukup beralasan karena memang tampilannya sengaja dibuat stylish ala Robert Rodriguez, bukan realis. Quite cool.

Musik-musik dari band dalam negeri macam Agrikulture dan favorit saya, Aku Lupa Aku Luka dari Koil terasa sangat cocok sekali mengiringi dunia Alana yang hits.

Sayang tata suaranya di beberapa bagian, seperti misalnya yang paling terasa adalah di adegan awal ketika pertama kali gank masuk ke club, musiknya terasa kurang mantap seolah-olah hanya memanfaatkan dua kanal depan saja. Padahal suasana club yang happening seperti itu bisa terasa lebih hits dengan dukungan suara surround. Namun di berbagai adegan lain, termasuk adegan-adegan “kematian”, tata suara tidak begitu mengalami kendala yang dapat mengurangi kenikmatan menonton.

The Essence

Drugs don't bring us happiness and peace. Family does. Begitu “ceramah” Alana. Tetapi karena terlalu klise untuk saya angkat, maka saya memilihkan yang saya pasang di quote banner di bawah ini sebagai The Essence dari Loe Gue End...

They who will enjoy this the most

  • Partygoers and socialites
  • Simple thriller lovers
  • Pretty-faces hunters












Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates