Saturday, November 10, 2012

The Jose Movie Review
Atambua 39°Celsius


Overview

Riri Riza adalah salah satu sineas tanah air yang konsisten membuat karya-karya bermutu, baik di jalur pop maupun idealis. Diawali dengan  Petualangan Sherina yang membuktikan bahwa film Indoensia juga bisa tampil pop ala Hollywood. Dilanjutkan Gie, Laskar Pelangi, dan sekuelnya Sang Pemimpi. Di sela-sela itu ada pula project-project pribadi yang terasa semangat idealisnya seperti Eliana Eliana, 3 Hari untuk Selamanya, dan Untuk Rena. Di tahun 2012 ini, Riri bersama partner setianya, Mira Lesmana, mengeluarkan karya terbaru yang menambah daftar panjang karya idealisnya, Atambua 39°Celsius (A39C).

Sejak awal, jelas terlihat semangat indie dari A39C. Riri membidik cerita melalui karakter Joao, pemuda yang tinggal di Atambua, sebuah kota di propinsi Nusa Tenggara Timur yang menjadi perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste. Di awal, kita diperkenalkan dengan keseharian penduduk di Atambua yang ter-reprensentasi melalui Joao dan ayahnya, Ronaldo. Kehidupan yang tak jelas arahnya membuat Joao berpikir untuk kembali ke Timor Leste, bergabung bersama ibu dan saudara-saudaranya. Konon kabarnya di sisi sebelah Timor Leste keadaannya jauh lebih baik.

Gaya alur khas indie digunakan oleh Riri untuk membidik kehidupan sehari-hari Joao, Ronaldo, dan seorang gadis muda yang juga memiliki problematika kurang lebih sama, Nikia. Bagi penonton umum yang sudah terbiasa naratif berdasarkan dialog mungkin merasa bosan dan dengan mudahnya men-judge tidak jelas. Tetapi jika sudah terbiasa menonton film yang lebih banyak berbicara dengan bahasa gambar tentu akan bisa dengan mudah menikmatinya. Jangan bayangkan bakal sepoetic karya-karya Garin Nugroho , A39C justru tampil natural seperti layaknya sebuah film dokumenter. Penonton memang dibiarkan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu sehingga mengakibatkan ketiga karakter utama ini seperti yang terdeskripsi sejak awal film. Menjelang klimaks barulah masing-masing menceritakan rahasianya secara detail. Klimaks yang mencerahkan sekaligus membuat saya tercengang dalam hening, mencoba berempati kepada mereka.

Kunci dalam menikmatinya; bersabar, perhatikan tiap detail adegan yang tersaji dalam keheningan, dan renungkan ending yang begitu revealing. It’s very strong, even after a long quietness.

The Casts

Riri menggunakan penduduk lokal untuk berperan, termasuk karakter-karakter utamanya; Gudino Soares (Joao), Petrus Beyleto (Ronaldo), dan Putri Moruk (Nikia). Ketiganya bermain dengan sangat natural dan sangat meyakinkan. Gudino dengan kebimbangannya, Nikia yang kesepian dan menyimpan duka, serta Ronaldo yang tampak keras namun sebenarnya rapuh, terasa dengan jelas melalui tatapan mata dan ekspresi wajah daripada melalui dialog verbal dalam bahasa Tetum, bahasa setempat. Satu hal yang saya suka dari A39C, membuatnya lebih berkelas dan tidak cheesy. Bagi penonton awam, hitung-hitung belajar membaca ekspresi wajah manusia lah.

Technical

Semangat  dan gaya indie bukan lantas mengabaikan kualitas teknis. Sinematografi Gunnar Nimpuno berhasil mendokumentasikan keindahan alam Atambua yang meski kering, keras, dan tandus, sejalan dengan yang dirasakan para karakternya (that’s why they put 39°C in the title). Cahaya matahari dimainkan sedemikian rupa dan variatif sehinggga memperkuat keindahan tiap ruang yang ditampilkan. Ditambah permainan fokus kamera yang sering ditonjolkan di berbagai adegan, it’s one cinematic pleasure.

Sementara di lini tata suara meski tidak menggunakan surround, namun sudah berhasil membangun emosi cerita. Memang sepanjang film lebih banyak adegan dalam keheningan, hanya terdengar efek-efek suara saja ditambah score dari Basri B. Sila yang membangun lirih melalui alat-alat musik tradisional. So I guess tata suara surround sebenarnya tidak begitu diperlukan.

The Essence

Berbeda dengan film-film Indonesia bertema nasionalisme yang sedang sering dibuat, A39C justru mempertanyakan sampai sejauh mana perlu mempertahankan nasionalisme.
Tokoh Ronaldo yang awalnya memilih ikut Timor Indonesia meski hidupnya tak jelas arah, pada akhirnya harus mempertimbangkan kembali pilihannya itu. Sementara Joao yang awalnya hanya ikut keputusan sang ayah, punya pilihan untuk menentukan tinggal di mana. Kebimbangannya semakin bertambah ketika ia tertarik dengan Nikia yang merasa bebas, tidak berasal dari mana-mana. After all, Anda yang memutuskan mana yang lebih penting, nasionalisme semu atau berpikir realistis.

They who will enjoy this the most

  • Audiences who have already got used to the festival movies type
  • Penonton yang lebih suka film bercerita dengan bahasa gambar ketimbang dialog
  • Documentary style enthusiasts
Lihat situs resmi film ini. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates