Sweet 20

Tatjana Saphira to perform young Niniek L. Karim in South Korea's hit remake.
Read more.

Jailangkung

Rizal Mantovani and Jose Poernomo to pass-on the Jailangkung mythology.
Read more.

Surat Kecil untuk Tuhan

Bunga Citra Lestari starred in a child-abuse awareness tearjerker based on Agnes Davonar's best seller novel series.
Read more.

Spider-Man Homecoming

Make ways for the brand new Peter Parker to return to MCU.
Opens July 5.

Transformers: The Last Knight

Michael Bay to put the dino-bots back to the world for another mission.
Read more.

Friday, November 30, 2012

The Jose Movie Review
Hello Goodbye


Overview

Korea. Jujur, mendengar nama negara itu saja sudah cukup membuat saya eneg. Bukannya membenci, tetapi kultur pop negeri Korea Selatan bisa begitu booming (baca : overrated) meski sebenarnya di mata saya sama sekali tidak ada keren-kerennya. Tak hanya fenomena K-Pop, saya juga cenderung menjauhi drama-drama Korea yang notabene menye-menye dan klise. Tetapi begitu membaca nama Titien Wattimena yang menulis sekaligus untuk pertama kalinya menyutradarai film layar lebar, tentu minat saya untuk menyaksikan Hello Goodbye (HG) menjadi sedikit muncul, meski tetap bukan prioritas di list tontonan saya.

First of all, HG adalah drama romansa yang gaya penceritaannya lambat, dibangun melalui detail-detail adegan dimana mungkin bagi penonton yang sudah terbiasa dengan pace film-film Hollywood, terasa tidak begitu penting dan membosankan. Bahasa gambar dan dialog menjadi kunci sekaligus kekuatan cerita. Intinya, khas film independen (festival) atau Eropa sekali. Belakangan saya baru mengetahui dari seorang teman bahwa gaya penceritaan yang lambat seperti ini memang juga khas drama dewasa Korea Selatan banget. Oh jadi memang sengaja dibuat dengan gaya Korea… Ok, not a big deal. Toh nyatanya walau kisahnya tergolong biasa untuk sebuah drama romansa, saya masih bisa menikmatinya hingga akhir film.

Meski bergaya Korea, tetapi Titien yang sudah menulis naskah untuk berbagai judul film Indonesia hits seperti Tanda Tanya, Mengejar Matahari, Love, In the Name of Love, From Bandung with Love, Minggu Pagi di Victoria Park, dan Kebun Binatang, tetap mempertahankan ke-khas-an tulisannya : dialog-dialog cerdas, tajam dan kadang menggelitik serta tentu saja esensi yang jauh lebih menarik ketimbang plotnya sendiri. Di situlah letak kekuatan utama HG sehingga terasa lebih berbobot ketimbang drama romansa biasa.

Speaking of romance, maaf saja saya tidak begitu menyukai HG sebagai sebuah drama romantis. Entah bagaimana, saya tidak merasakan aura-aura romantis yang terjalin wajar. Kejanggalan yang paling saya rasakan adalah begitu jauh gap perubahan sikap antara karakter lovebirds kita yang awalnya saling membenci, Abi dan Indah. Seandainya proses perubahan ini ditata dengan lebih wajar, masuk akal, dan tidak langsung drastis, HG akan menjadi film drama Indonesia paling romantis tahun ini. But I don’t know, karena ada banyak juga teman yang dapat merasakan aura-aura romantis di HG. So, I guess it’s only about subjective preference differential and you better experience it yourself since the results may vary.

But in other way, saya menangkap HG bukan sebagai film percintaan tetapi sebuah film yang mengangkat isu pandangan hidup yang untungnya jauh lebih menarik di mata saya. Plot percintaan hanyalah bumbu yang menjadi “buah” dari bertemunya dua pandangan hidup yang berbeda tersebut. Beberapa detail adegan menguatkan konsep pandangan hidup tersebut dengan sangat kuat, misalnya betapa bosannya karakter Indah yang tinggal di kota sekecil Busan hingga membuat boneka dari tiap orang yang ditemuinya untuk mengisi waktu. Juga karakter teman Indah (diperankan Kennes Andari) di hampir penghujung film yang dihadapkan pada pandangan hidupnya soal masa depan. Begitu pula buku yang dibaca Indah dan hampir keseluruhan dialog. Memang lantas perkembangan isu pandangan hidup ini tidak terangkai dengan jelas hingga tiba-tiba sampai pada sebuah keputusan bagi Abi dan Indah, but at least it stays on my mind and keep me thinking about it.

Akhirnya sebagai sebuah film utuh, HG di mata saya mungkin bukan film yang begitu mengesankan. Namun saya tidak memungkiri kalau ada banyak hal yang memorable di benak saya, terutama quote dan beberapa detail-detail teknis. You know that kind of movie: personally you don’t really like the movie but you always remember some aspects of it, absolutely in a positive way.

The Casts

Atiqah Hasiholan sangat menonjol sepanjang film dan dia membawa beban tersebut dengan sangat baik, terutama di awal-awal cerita. Sementara Rio Dewanto masih kalah pesona ketimbang sang kekasih dan masih memainkan peran tipikal tetapi masih tergolong baik. Status sebagai sepasang kekasih di dunia nyata tentu membuat keduanya tidak sulit membangun chemistry. Tetapi patut diingat bahwa di awal cerita, chemistry antara keduanya seharusnya bertolak belakang dengan kehidupan nyata, tetapi mereka berdua mengemban tugas tersebut dengan sangat baik. Sejenak saya lupa bahwa mereka berdua memang sepasang kekasih. Kekurangan yang ada bukan soal chemistry keduanya yang kurang, tetapi lebih ke skrip.

Selain dari mereka berdua, tidak ada pemeran lain yang tampil menonjol apalagi menjadi screen stealer. Mungkin satu-dua kali penampilan sahabat-sahabat Indah seperti yang diperankan Kennes Andari dan Verdi Solaiman menarik perhatian berkat porsi skrip (terutama adegan makan malam dengan dialog campur-campurnya itu), namun secara keseluruhan masih terasa seperti pelengkap semata. Apalagi penampilan Eru, bintang Korea yang baru saya dengar namanya ketika menonton HG. Ia hanya tampil sebagai cameo yang mungkin dipasang untuk menambah nilai jual film ini. But that’s okay asal tidak mengganggu jalan cerita secara keseluruhan.

Technical

Ini dia bagian yang paling menarik karena di mata saya HG memang memiliki banyak kekuatan di segi teknis. Yang paling saya ingat adalah sinematografinya yang berhasil menampilkan gambar-gambar indah. Tidak hanya berkat setting lokasi panorama yang memang sudah indah, tetapi juga gambar-gambar adegan medium shot dan close up yang tidak mengandalkan setting. My favorite one was when Indah playing two dolls in the left and right side, while her face was right in the middle. Mata ketiganya seakan berada dalam satu garis. Menarik, unik, dan sangat sinematik. Apalagi didukung penggunaan aspect ratio yang terasa lebih lebar ketimbang film Indonesia kebanyakan.

Dari segi tata suara juga diperhatikan dengan sangat baik. Meski bergenre drama yang tidak membutuhkan banyak detail tata suara, nyatanya sound HG terasa hidup. Belum lagi efek surroundnya juga ternyata dimanfaatkan maksimal. Sayang ada  beberapa dialog tidak terdengar dengan jelas tetapi jumlahnya tak banyak.

Pakar score film Indonesia, Raymondo Gascaro kali ini tidak banyak mengumbar aneka bunyi-bunyian unik seperti biasanya. Cukup dentingan piano sederhana yang mengiringi kesunyian dari mayoritas adegan. Hasilnya cukup menyatu dengan gambar dan berhasil menghidupkan emosi. Penampilan paduan suara anak yang membawakan lagu Natal dalam bahasa Korea menjadi bonus manis tersendiri. Sementara lagu soundtrack Blackglasses yang dibawakan Eru dan Atiqah Hasiholan sedianya bukan tipikal lagu kesukaan saya, tetapi harus diakui alunannya terus teresonansi dalam benak.

The Essence

Ada dua pandangan hidup yang bertolak belakang terepresentasi dalam film : yang satu terfokus pada tujuan hingga lupa untuk menikmati dan memperhatikan tiap prosesnya, yang lainnya terlalu nyaman menikmati tiap menit kehidupan hingga mengabaikan tujuan. Ketika keduanya bertemu, wajar jika konfrontasi terjadi hingga keduanya berada pada satu titik temu dan akhirnya saling melengkapi. Konsep perjumpaan-perpisahan dan cinta yang terjalin di sini dilandaskan pada pertemuan dua pandangan hidup tersebut.

They who will enjoy this the most

  • Penonton yang sudah terbiasa dengan film drama ala festival, Eropa, maupun drama romansa Korea dewasa
  • Penonton yang suka menganalisis film lewat bahasa gambar dan dialog
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, November 29, 2012

The Jose Movie Review
Hotel Transylvania

Overview

Belum lama ini kita disuguhi Walt Disney animasi stop motion garapan master gothic Tim Burton, Frankenweenie yang bisa dibilang tribute atas monster-monster klasik Hollywood. Entah kebetulan atau disengaja, Sony Pictures juga merilis animasi 3D dengan formula yang serupa, tentu saja dengan plot yang jauh berbeda. Dengan mengusung karakter utama Dracula lengkap dengan embel-embel kota asalnya, Transylvania dan nama besar Adam Sandler yang sudah menjadi langganan Sony, Hotel Transylvania (HT) mencoba peruntungan di bursa animasi 2012 ini.

Konsep yang ditawarkan HT sebenarnya sangat menarik. Penampilan monster-monster yang jauh lebih karikatur ketimbang karya Tim Burton yang gothic terasa lebih “aman” untuk disaksikan oleh anak-anak, khususnya di bawah usia 10 tahun. Apalagi image para monster ini di sini benar-benar dibanting seratus delapan puluh derajat menjadi jauh dari kesan seram. Yang ada malah mereka yang takut dengan manusia. I think this was still acceptable, toh ini memang lebih untuk tujuan komedi ketimbang seram. And for that purpose, HT cukup berhasil tampil menghibur.

Namun dalam eksekusinya, HT ikut-ikutan trend film hiburan Hollywood beberapa tahun belakangan yang lebih menonjolkan adegan-adegan chaos secara cepat yang menurut saya sangat memusingkan untuk diikuti. Mungkin bagi penonton yang jarang dimanjakan oleh special effect dalam film akan terpukau tetapi bagi penonton lain di mana special effect sudah menjadi makanan sehari-hari akan terasa tidak nyaman, membosankan, and in the end, tidak banyak yang tersisa dalam memori penonton. Semoga saja Hollywood sadar bahwa adegan-adegan yang cuma buat pamer visual effect ini sudah tidak mampu lagi efektif.

Plot utama yang diusung yakni tentang hubungan ayah yang protektif dan sang putri yang menginjak usia remaja (dalam konteks Dracula tentu saja) sudah sangat sering diangkat dan tidak ada pembaruan di sini. Sementara sub-plot tentang monsters vs human yang bisa dijadikan metafora manusia biasa sebenarnya jauh lebih menarik dan untungnya dieksekusi dengan cukup baik sehingga setidaknya mampu menyegarkan durasi film. Keduanya diangkat dengan porsi yang seimbang sehingga tidak terasa saling tumpang-tindih. Pun, guyonan-guyonan yang dilontarkan juga cukup mampu mengocok perut di beberapa bagian.

So, after all HT was just another mediocre animation movie yang bolehlah dijadikan instant entertainment numpang lewat yang tidak akan membekas terlalu lama dalam ingatan, kecuali tentu saja celetukan "bleh... bleh... bleh..." atau kata "zink" untuk menggantikan "love".

The Casts

Suara Adam Sandler tentu saja berhasil mendominasi layar and he’s really good at it. Aksen ganjil yang berusaha seram dan berwibawa namun jatuhnya (disengaja) lucu, siapa lagi aktor komedian yang cocok mengisi suara Count Dracula?

Selena Gomez was just fine sebagai Mavis. Begitu pula dengan Andy Samberg yang physically karakternya memang mirip voice talent-nya. Sementara voice talent lainnya yang mengisi suara para monster cukup cocok menunaikan tugasnya masing-masing, termasuk CeeLo Green.

Technical

Tak ada kendala berarti dari segi animasinya meski versi 3D-nya tidak begitu terasa. Ada sih satu-dua yang sangat terasa tetapi tidak begitu memorable juga. But the picture overall was just fine. Komplain saya mungkin hanya gravity error yang terjadi terutama pada karakter Malvis yang rambutnya tidak jatuh ke bawah ketika sedang posisi upside-down.

Tata suara terdengar renyah namun jernih di setiap kanal surroundnya. Musik menjadi elemen penting yang menjadikan HT terasa fun untuk dinikmati dan beruntung ia punya Selena Gomez dan Adam Sandler pun bersedia nge-rap di sini.

The Essence

Kebanyakan dari kita takut akan suatu hal baru dan berbeda. Tetapi ketika kita menjalani dan mengenalnya sendiri, bisa jadi ketakutan tersebut menghilang dan saat itulah acceptance terjadi. Dalam hal apapun “skenario” tersebut selalu terjadi. So, daripada membuang-buang waktu dan energi untuk saling ketakutan, curiga, dan membenci, tidak ada salahnya membuka diri untuk mengenal sesuatu yang berbeda tersebut bukan?

They who will enjoy this the most

  • Kids, especially below 10 years old
  • General audiences who seek for instant entertainment
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, November 20, 2012

The Jose Movie Review
The Campaign


Overview

“I hate politics”. Sebuah ungkapan yang pasti tak jarang Anda dengarkan di sekitar, baik langsung secara verbal maupun di kolom "Political view" profile Facebook. Like it or not, politik selalu ada di dalam kehidupan manusia. Tak selalu harus berkaitan dengan pemerintahan atau organisasi, kehidupan sehari-hari pun sebenarnya penuh dengan politik. Apapun cara seseorang dalam mencapai ambisinya bisa dikatakan sebagai politik.

Kembali ke terminologi pemerintahan, berkali-kali tema politik diangkat dalam bentuk film dan kebanyakan berupa drama atau drama thriller. Terakhir yang cukup membekas dalam ingatan saya adalah The Ides of March. Namun seberapa banyak yang membungkusnya dalam bentuk komedi? I have nothing in mind. Agak susah memang membuat tema politik dengan kemasan komedi. Seringkali terjerumus ke dalam komedi satir yang berhasil menyentil namun masih jauh dari membuat penonton terpingkal-pingkal. That’s why The Campaign yang disutradarai oleh sang spesialis komedi Jay Roach, menjadi suguhan yang sangat menarik. Reputasi Jay Roach yang pernah sukses membesarkan franchise Austin Powers dan Meet The Parents sudah menjadi jaminan tersendiri. Ditambah dua aktor komedi yang juga papan atas, Will Ferrell dan Zach Galifianakis, it’s definitely a must-see for comedy fans!

Benar saja, formula dirty comedy, satir, dan penuh sindiran sosial di mana-mana berhasil menghidupkan dunia politik yang tergambar dalam film sepanjang durasinya yang 95 menit. Tak hanya berhasil mengocok perut penonton dengan aneka trik saling sikut antara dua kandidat, Cam Brady dan Marty Huggins, mulai dari isu fisik, masa kecil, agama, hingga moralitas, naskahnya ternyata disusun dengan sangat baik dan rapi. Alur cerita yang enak dinikmati, masuk akal, seru, melalui proses yang menarik, dengan pace yang pas, dan humor-humor yang tepat pada tempatnya, tidak mengada-ada, serta tidak membosankan, jadilah The Campaign tontonan hiburan yang berbobot namun terasa sangat ringan dan menghibur. Tampak bodoh namun sebenarnya cerdas. Pengembangan yang diberikan untuk dua karakter utamanya pun digarap dengan sangat rapi. Yang paling kentara adalah Marty Huggins yang signifikansi transformasi karakternya nyaris tak terasa jumping.

Jadi jika Anda selama ini alergi dengan kata ‘politik’, maka The Campaign akan membuat Anda mentertawai dunia yang selama ini dianggap serius dan tidak menarik, dan tentu saja mentertawai diri sendiri yang mungkin selama ini sering “memakan” umpan-umpan yang diberikan oleh para kandidat pemerintah. This was one of the best comedy of the year.

Memang, ending yang terlalu naif khas film Hollywood sejenis masih dihadirkan. Namun bukankah selama ini hampir semua film Hollywood memang menjual mimpi? At least it gives hope that things can still be better. I don’t think it’s a big deal, since it amused the audiences dan yang paling penting, menjadi voters lebih cerdas di Pemilu mendatang.

The Casts

Will Ferrell memang sering hit and miss dalam mengocok perut penonton di genre komedi. Terkadang ia sukses seperti di Anchorman dan Talladega Nights, namun tak jarang juga tampil buruk seperti di The Other Guys dan Step Brothers. Sekali ini ia cukup layak menyandang salah satu aktor komedi terbaik yang dimiliki Hollywood saat ini. Tak hanya tampil slapstick, di sini ia juga menunjukkan akting seriusnya di salah satu adegan yang berhasil membuat saya lupa sejenak bahwa ini adalah film komedi. Saya terdiam oleh kharisma aktingnya saat itu.

Sementara Galifianakis tak perlu diragukan lagi kharisma komediknya. Berbeda dengan perannya di franchise Hangover dan Due Date yang cenderung mirip, kali ini ia memainkan karakter yang berbeda. Membuatnya berhasil keluar dari tipikal peran yang itu-itu saja. Sebagai family man yang tradisional, culun, namun mengalami transformasi yang cukup signifikan seiring dengan alur. He’s doing his job very well di balik aksen Southern-nya yang unik.

Duo John Cleese-Dan Aykroyd mungkin tak seikonik Sitterson-Hadley di Cabin in the Woods, tetapi siapa saja yang mengenal dua wajah ini tentu menjadi nilai plus.
Pemeran-pemeran pendukung lainnya mampu mendukung suasana humor di sana-sini dengan sangat baik, bahkan Jack McBrayer yang memerankan ayah religius yang selalu tak sengaja diganggu oleh Cam Brady.

Technical

Tak ada yang terlalu istimewa namun semuanya pas sesuai kebutuhan, termasuk pemilihan lagu-lagu pendukung. Mungkin yang patut diapresiasi lebih adalah kostum dan properti yang dikenakan keluarga Huggins yang sangat melekat pada karakternya.

The Essence

Begitulah politik, di negara mana saja. Penuh tipu muslihat dan persaingan tak sehat. Seseorang yang awalnya kita kenal baik bisa saja berubah seratus delapan puluh derajat ketika memasuki panggung politik. Tunggangan politis dari kapitalis bukan barang baru yang hanya terjadi di negara tertentu saja. It’s a universal case, including in our country. So voters, now you know how it works, please be more wise and careful in using your rights later!

They who will enjoy this the most

  • Dirty jokes enthusiast
  • Audiences who work in political field or have interest on it
  • Penonton umum yang punya hak pilih ketika pemilu
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, November 16, 2012

The Jose Movie Review
Breaking Dawn Part II

Overview

Kebanyakan dari Anda mungkin sudah tahu betapa saya membenci franchise ini sejak awal. Pertanyaan ini mungkin juga terbersit dalam pikiran Anda : terus kenapa saya masih tetap menontonnya? Jawabannya sederhana : saya selalu beruntung ada orang-orang yang rela membayar tiket untuk saya sebagai kompensasi dari menemani mereka nonton. Lagipula, kebodohan dan kekonyolan sepanjang film nyatanya selalu menjadi hiburan tersendiri bagi saya. Maaf yah buat para twihards kalau saya sering tertawa mengejek atau nyinyir seiring dengan durasi film.
So, here we are now... the finale dari 'katanya sih' saga yang seharusnya menjadi bagian terbaik dari semuanya. Well, dalam terminologi franchise Twilight, yes... this was the best part of them all. Setidaknya ini yang paling menghibur bagi saya. Jika pada Breaking Dawn part 1 (BD1) Anda hanya disuguhkan adegan-adegan bulan madu Edward-Bella, kehamilan, melahirkan, dan ujung-ujungnya perubahan Bella menjadi vampire (yang kesemuanya seharusnya bisa disajikan hanya dalam durasi setengah jam saja jika tidak dibuat bertele-tele), maka Breaking Dawn part 2 (BD2) memberikan sedikit lebih banyak perkembangan cerita meski Bella setelah menjadi vampir masih saja kegatelan ketika mengendus pria... dari ketiaknya! Setidaknya ada hal yang membuat penasaran saya, seperti apa tujuan Alice Cullen menghilang yang juga melalui proses jawaban yang menarik disimak. Sedikit lebih menarik ketimbang BD1 maupun installment pertama hinga ketiga. Namun tetap saja entah mengapa, perkembangan cerita ini disajikan dengan dialog-dialog yang cheesy, terkesan basa-basi,  penuh kecanggungan di sana-sini,  dan terkadang lucu (bagi beberapa orang, tetapi tidak bagi saya) sama seperti installment-installment sebelumnya. Penyakit lama yang nampaknya sudah menjadi comfort zone bagi pembuatnya dan ditolerir oleh penontonnya (terutama para twihards). Sorry, but for me (and I believe most of the non-twihard audiences too) those are just flat and boring. I mean, buat apa saya perlu mendengar seorang vampir yang pernah terlibat dalam setiap perang Amerika Serikat ketika bonfire? Ok, kalau dia hanya menceritakan satu kalimat sombong itu sekali saja tidak masalah. Jika lantas ditimpali oleh vampir-vampir lainnya dengan menyebutkan nama-nama perangnya, itu namanya basa-basi dan sangat cheesy! Toh pada akhirnya karakter tersebut sama sekali tidak menonjol dalam cerita.
Oh yes, penambahan karakter-karakter baru yang didapuk sebagai saksi keluarga Cullen agar kaum Volturi batal membunuh Renesmee. Ada (sekali lagi, maaf yah twihards :)) kelompok four-some dimana ketiga wanitanya berdandan seperti bintang bokep Eropa, pasangan lesbian seksi dari Amazon, pasangan gay Rusia dimana salah satunya albino, dan vampir-vampir lainnya yang berasal dari berbagai belahan dada... ehm.. maksud saya belahan dunia, mulai dari Irlandia hingga yang beretnis Timur Tengah (tidak jelas letak geografis persisnya). Faktor menarik lainnya dari BD2, meski mereka hanya bertugas “pamer kekuatan” layaknya mutan-mutan X-Men. (Untungnya) sama sekali tidak ada pengembangan karakter dari tokoh-tokoh baru ini (yang berpotensi menambah durasi sekaligus rasa kebosanan penonton).
Baiklah, demikianlah isi dari tiga perempat pertama film. Sementara bagian yang paling menarik dan menghibur, tidak hanya sepanjang installment ini, tetapi juga keseluruhan franchise, ada di seperempat terakhir film. Berdurasi tak sampai 15 menit, bagian “final battle” ini saya akui sebagai pertarungan yang digarap dengan sangat baik. Brutal sekaligus memancing emosi penonton. Brutal? Yes, saya sendiri juga heran bagaimana MPAA bisa meloloskan rating PG-13 untuk adegan-adegan gore yang terekam jelas dengan angle medium close-up. Apa karena tidak terlihat darah sama sekali ya? Lah memangnya vampir tidak punya darah? Well, I don't know and I don't wanna know. Toh ternyata battle yang terasa epic dan saga (ketika dishot medium close up) tersebut secara jumlah pihak yang terlibat jika dilihat dari angle long-shot ternyata tak lebih dari perkelahian antar warga kampung. Let's just play dumb due to enjoy the entertainment fully.
Nah, ini dia bagian paling tricky selepas adegan-adegan brutal tersebut. Mungkin sebagian dari Anda akan kecewa, terutama yang belum pernah membaca novelnya, but I don't mind at all. Mungkin saja di situlah inti dari keseluruhan Twilight Saga selama ini. Who knows.

The Casts

Semuanya masih bermain sesuai perannya dengan kualitas sama persis dengan installment-installment sebelumnya, baik Kristen Stewart, Robert Pattinson, Taylor Lautner maupun karakter-karakter anggota keluarga Cullen dan Swan. Sementara karakter-karakter baru seperti yang sudah saya sampaikan di segmen sebelumnya, tidak terlalu banyak diberikan porsi maupun perkembangan yang berarti namun cukup baik.

Technical

Dari installment ke installment, visual effect-nya mengalami perkembangan berarti. Yang dengan mudah terlihat adalah transformasi manusia ke serigala dan hilangnya efek shimmering pada wajah para vampire. Tak lagi konyol dan tampak lebih natural. Dengan tambahan adegan-adegan gore, tentu semakin banyak visual efek yang dibutuhkan namun diatasi dengan sangat baik pula. Ada yang beranggapan efek CGI untuk Renesmee masih kasar, tapi di mata saya masih tidak ada masalah.
Desain produksi yang selalu mumpuni (terutama sejak installment kedua) baik dari segi sinematografi maupun setting sekali lagi berhasil tampak memanjakan mata sepanjang film. Namun departemen kostum yah masih sama lah dengan installment-installment sebelumnya yang kurang saya sukai karena terlihat konyol, seperti serial TV Charmed. Sound effect terdengar crisp namun tetap jernih serta mampu memanfaatkan efek surround dengan maksimal.
Score yang masih template dari installment sebelumnya tidak menjadi masalah bagi saya. Dengan dukungan soundtrack-soundtrack yang masih menarik meski tidak semenonjol BD1, semuanya masih mampu mengisi adegan demi adegan dengan cukup hidup.

The Essence

Apapun yang terjadi, perang bukanlah jalan yang bisa menyelesaikan masalah. Perang justru membawa dendam dari pihak-pihak terlibat yang tidak akan pernah ada habisnya. Rekonsiliasi melalui dialog adalah jalan yang lebih baik dan beradab. (Meh..!)

They who will enjoy this the most

  • Twihards, for sure
  • General audiences who seek for an instant entertainment
  • Teenage girls who enjoy living in a fairy tale life and can't wait to marry their teenage boyfriends
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Magic Mike

Overview

The only thing that caught my attention to watch this was the name of Steven Soderbergh in director's position. Soderbergh di mata saya adalah sutradara yang unik. Kadang dia menangani film-film berkelas Oscar seperti Erin Brockovich dan Traffic, kadang juga membuat film-film ringan menghibur seperti franchise Ocean's Eleven, Out of Sight, dan Haywire. Namun ada pula karya-karyanya yang aneh seperti Full Frontal. One thing for sure, setiap karyanya selalu membuat saya penasaran.
Melihat poster dan trailernya, saya membayangkan sebuah film komedi tentang dunia male stripper seperti halnya Full Monty, komedi Inggris yang akhirnya menjadi cult saat ini. Background gelap dengan warna-warna gemerlap di sana-sini menjanjikan nuansa ceria tersebut. Bagi penonton pria (straight) mungkin akan geli-geli sendiri karena menyangka filmnya bakal gay-ish. Sementara penonton wanita akan antusias karena ada nama Channing Tatum, Alex Pettyfer, dan Matthew McConaughey yang jelas-jelas bakal tampil lebih dari sekedar topless. Well, jika hanya berharap hal yang saya sebutkan terakhir, Anda mungkin akan cukup terpuaskan. Namun jika Anda seperti saya yang mengharapkan setidaknya cerita drama yang solid atau komedi yang menghibur, bersiaplah untuk kecewa.
Di luar adegan-adegan menari strip para pria yang saya akui bagus dan ternyata jauh dari kesan gay-ish, saya bingung ke mana arah Soderbergh hendak membawa penontonnya lewat Magic Mike (MM). Sebagai sebuah drama, tidak ada hal yang menyentuh atau menarik untuk dikembangkan. Mungkin ada unsur bromance dan spark asmara antara karakter Mike dan Brooke tapi ditampilkan dengan sangat tanggung, flat, dan tidak jelas arahnya ke mana. Begitu juga dengan sub-plot yang berkaitan dengan narkoba. Seolah hanya sebagai tempelan klise untuk mewarnai film dan tanpa konklusi apa-apa. Sebagai komedi pun tidak ada adegan-adegan yang sengaja dibuat lucu sebagai penyegar. Semuanya terasa canggung, kecuali tentu saja penampilan para pria ini di atas panggung. Sekilas, gaya penyampaian filmnya tak beda dengan film video. Nothing more to offer.

The Casts

Channing Tatum sebagai pemeran utama di luar dugaan tampil dengan baik dibandingkan peran-peran yang pernah dia bawakan sebelumnya. Sebelumya di mata saya, di antara aktor-aktor muda yang lebih banyak mengandalkan postur tubuh, nama Channing berada di urutan bawah. I don't know how or why, but I always think that his performance was always flat and have no-soul. Mungkin juga karena cerita MM tak jauh beda dengan profesinya sebelum menjadi aktor seperti saat ini, so sekali ini Channing harus saya akui perform dengan sangat baik. Tidak hanya dalam hal stripping, tetapi juga membawakan karakter Mike secara keseluruhan. Cerdas, well-plan, and mature.
Di lini pemeran pendukung hanya Matthew McConaughey yang benar-benar berhasil menghidupkan perannya. Alex Pettyfer dan Cody Horn biasa saja, sementara yang lainnya seperti Matt Bomer, Joe Manganiello, dan Olivia Munn hanya seperti pemanis yang sekedar menambah semarak cerita saja.

Technical

Tidak ada yang istimewa selain koreografi dan set panggung untuk performance stripping. Sinematografinya biasa saja. Color tone yang dominan (terlalu) kuning untuk adegan outdoor mungkin akan sedikit mengganggu bagi beberapa penonton.
Tidak ada score yang mengiringi adegan-adegan dialog, namun pilihan-pilihan track untuk mengiri performance termasuk menarik dan pas. Yang saya rasa paling mengganggu, entah hanya terjadi pada copy yang saya miliki atau memang aslinya seperti itu, adalah audio track yang sering out of sync dengan gambar. A several frames ahead from the picture. 

The Essence

Dunia hiburan, apalagi tarian strip yang hanya mengandalkan fisik tidak bisa bertahan lama. Ada kalanya ketika usia sudah mulai lanjut, mereka akan kalah pesona dan digantikan dengan yang lebih muda serta memiliki energi yang masih penuh. So, seperti Mike, you better have a good plan (and also a good talent) for your future life.

They who will enjoy this the most

  • Ladies who are hungry for hot-body jocks and their shakes
  • Men who want to learn how to treat their ladies sexily
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, November 14, 2012

The Jose Movie Review
Jakarta Hati

Overview

Tahun 2010 lalu (namun baru ditayangkan terbatas di salah satu jaringan bioskop ibukota pada pertengahan 2011), Salman Aristo yang selama ini dikenal sebagai salah satu penulis skenario handal negeri ini memulai debutnya sebagai sutradara lewat omnibus yang diberi titel utama Jakarta Maghrib (JM). Dengan semangat indie dan dukungan teknis yang serba terbatas, terbukti JM berhasil mencuri hati saya (dan saya yakin juga banyak penonton lainnya) berkat skripnya yang kuat di setiap segmen. Sindiran-sindiran terhadap berbagai fenomena yang terjadi di ibukota Jakarta berhasil dirangkum dengan cerdas dan menggelitik. Dua hal yang penting untuk menjadi film yang berbobot sekaligus menghibur. Dialog memang menjadi kekuatan utama Salman di tiap karyanya. He’s really good at making quotes and punch-lines. Jadi jika ada yang mengatakan kekurangan dari karya-karyanya adalah lebih mengandalkan dialog ketimbang bercerita lewat gambar, itulah ciri khas seorang Salman dan tidak ada yang salah dengan hal tersebut.
Ketika mendengar kabar Salman punya project serupa dengan dukungan teknis yang jauh lebih memadai, tentu saja saya langsung menyambutnya dengan antusias tanpa pikir panjang atau sekedar menyaksikan trailernya. JM memang berhasil membuat saya wanting for more from him.
Setelah selesai menyaksikan keseluruhan segmen dari Jakarta Hati (JH), saya tidak langsung merasa puas. Ada cukup banyak beban dalam pikiran saya untuk mencerna JH. Okay, at first glance, of course I would say that JM was much more enjoyable than JH. Semalaman saya mencoba mencari-cari benang merah dari tiap segmen yang ditampilkan, lengkap dengan dialog-dialog “terselubung” yang, tidak selugas JM.
Finally, saya berhasil menangkap apa yang ingin disampaikan oleh Salman lewat karya keduanya sebagai sutradara ini. Baiklah, saya memang tidak dengan instan bisa menikmati JH. Namun berkat pemikiran dan penelaahan yang lebih banyak, saya menilai bahwa JH adalah peningkatan yang tidak hanya bersifat teknis dari JM, namun juga penyusunan segmen, ragam segmen baik dari segi esensi, gaya, dan genre.  
Orang Lain membuka JH dengan muram. Pertemuan dua orang yang ternyata memiliki kaitan dengan pasangan masing-masing, memutuskan untuk me-reminisce tempat-tempat yang mempunyai kenangan bagi mereka sambil bercerita tentang pasangannya. Penonton diajak berjalan-jalan di gelap malam ibukota yang masih berdenyut kencang. Jakarta masih digambarkan dengan indah, tanpa intrik maupun carut-marut di sana-sini. Malam yang damai bagi mereka berdua untuk akhirnya saling mengenal, lebih dari pasangan masing-masing. Sebuah pembuka yang berakhir manis dan dengan bombardir quote-quote metafora dari keduanya.
Cerita berpindah ke seorang dewan yang “bertualang” merasakan kehidupan rakyat jelata sebelum melakukan deal penting yang mempertaruhkan nama baiknya. Gambaran Jakarta yang keras dan kasar pun mulai terasa. Segmen Masih Ada mungkin memiliki premise yang paling kuat dan menarik, namun sayang bagi saya justru segmen ini yang paling lemah berkat penuturannya yang terlalu blak-blakan dan terkesan dibuat-buat. Meski saya mengerti begitulah realitas di Jakarta yang penuh kejadian serba tak terduga, bahkan ketika kita berjalan kaki di pinggir jalan sekalipun.
Segmen ketiga, Kabar Baik menjadi salah satu favorit saya karena berhasil memberikan fluktuasi emosi yang sangat baik dan pas antara ayah-anak melalui dialog. Karakter Bana yang dilematis antara profesionalisme dan urusan pribadi menjadi menarik. Segmen inilah yang paling berhasil menyentuh hati saya sepanjang film.
Hadiah lagi-lagi memberikan terlalu banyak “gangguan” terhadap plot utamanya, bahkan lebih mengganggu ketimbang Masih Ada. Sekali lagi argumen saya, yah begitulah hidup di Jakarta. Contohnya ketika karakter bertampang preman yang mengira Fajar, seorang penulis naskah adalah petugas pemda, saya tahu itu hanyalah modus kejahatan yang kebetulan pernah saya alami di ibukota beberapa tahun silam. Sub-plot yang cukup berhasil membuat saya tersenyum di ending tentang sudut pandang miskin-kaya justru menutupi ending plot utama yang seolah kurang “nendang” meski intinya cukup memuaskan dan bijak.
Segmen yang paling banyak menjadi pembicaraan orang-orang adalah segmen berikutnya yang bertajuk Dalam Gelap. Teknik pengambilan gambar yang sekali take meski bukan barang baru namun menarik. Peletakan kamera yang stagnan sepanjang segmen seolah menjadi saksi dialog antara sepasang suami istri dalam kegelapan akibat pemadaman listrik bergilir. Proses dialog yang tertata baik hingga klimaks membuahkan sebuah keputusan, turut menambah menariknya segmen ini.
Akhirnya, Salman meletakkan Darling Fatimah pada segmen penutup. Keputusan yang sangat tepat karena segmen inilah menurut saya yang paling menghibur berkat arahnya yang lebih ke komedi ketimbang segmen-segmen sebelumnya yang tergolong serius. Terbaik? Saya rasa tidak, tetapi berkat tampilan yang memikat, menghibur, cerdas, feel-good, dan dibawakan oleh aktor-aktris yang sangat menghidupkan, this was practically almost every audiences’ favorite.
So, dengan ragam isu yang dihadirkan JH, tentu menjadikannya lebih berwarna dan terarah ketimbang JM. Tiap penonton berhak untuk memilih mana yang paling disukai, yang isunya lebih dekat dengan kehidupan sehari-harinya. Namun saya harus mengakui bahwa JH tidak semudah JM untuk dinikmati. Perlu porsi perenungan yang lebih untuk memaknainya. Bukankah itu baik? Bukankah itu yang diinginkan oleh penulis (sekaligus sutradara) untuk penontonnya? Memang lantas isu-isu yang dihadirkan di JH bisa terjadi tidak hanya di Jakarta saja, tetapi sudah merambah kota-kota besar lain di Indonesia. Mungkin justru itulah yang diinginkan Salman, perenungan universal bagi siapa saja. Jakarta hanya menjadi representasi dan percontohan.

The Casts

Sama seperti JM, JH pun bertabur bintang dan penampilan masing-masing tergolong baik. Namun tentu ada nama-nama yang saya anggap paling menonjol sepanjang film. Yang terutama tentu saja Shannaz Haque berkat karakter nyablak-nya, Fatimah. Roy Marten juga menjadi favorit saya berkat peran seorang ayah yang... undescribable. You have to watch it yourself.

Technical

Secara kualitas gambar, angle-angle kamera, tata suara, dan score, jelas terasa JH lebih siap dan mapan ketimbang JM. Kesemuanya berhasil tampil merata di semua segmen. Gambar terbaik menurut saya adalah pasar subuh di segmen Darling Fatimah yang menangkap warna-warni cerah di cahaya subuh. Warna Dalam Gelap yang memang sesuai judulnya juga terasa pas dengan konsepnya. Tidak terlalu gelap tapi penonton tetap tidak bisa melihat wajah pemerannya dengan jelas. Penonton hanya dibatasi untuk melihat jelas apa saja yang mereka lakukan dan melalui audio.
JH mengandalkan dialog dan keseluruhannya terdengar dengan jelas dan crisp. Sound ambience juga memanfaatkan tata suara surround seperti suara lesatan mobil atau motor dengan jelas. Score nya pun juga mengiringi petualangan di ibu kota dengan baik sesuai dengan fungsinya.

The Essence

Ini dia benang merah yang berhasil saya simpulkan melalui sebuah perenungan : seburuk apapun peristiwa yang terjadi menimpa kita, jika menggunakan hati untuk menghadapi/menyelesaikannya, it wasn’t so bad anyway. Selalu ada hal positif yang dapat dipetik dan menjadikannya lebih mudah dalam mengambil keputusan yang bijak.

They who will enjoy this the most


  • Audiences who love attractive and smart dialogues
  • Audiences who like to think and make a reflection after watching a movie
  • People who needs inspiration to solve their problems with an open-heart
Lihat data film ini di Film Indonesia. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, November 12, 2012

Satu Jaringan
Beda Kualitas Layanan



Saya yakin Anda semua yang notabene sering nonton film di bioskop pasti pernah punya pengalaman penting saat menunaikan “ritual”, baik itu positif maupun negatif, baik yang berkaitan dengan pelayanan bioskop maupun penonton yang lain. Kali ini saya akan membagi pengalaman saya soal pelayanan jaringan bioskop romawi (dan juga angka berbintang) yang kebetulan menjadi satu-satunya pemain usaha bioskop di kota saya. Meski berada pada satu jaringan yang sama, ternyata berdasarkan pengalaman saya setiap bioskop memiliki mutu pelayanan yang berbeda-beda, terlepas dari standard (yang seharusnya) sudah ada.

Numbers

Sebenarnya wajar jika pihak bioskop membatalkan penayangan sebuah film jika penonton yang hadir ketika show tidak mencapai kuota tertentu yang sudah ditentukan. Tentu bioskop tidak mau rugi terutama listrik untuk projector dan AC jika penontonnya hanya satu orang. Namun jika penonton sudah membeli tiket beberapa jam sebelumnya dan ternyata tiba-tiba dibatalkan begitu saja karena kuota penontonnya kurang, tentu ini menjadi nilai minus besar bagi pelayanan bioskop. Perusahaan apapun seharusnya sebisa mungkin meminimalisir kekecewaan konsumen bukan? Setahu saya bioskop-bioskop di beberapa negara tetap menayangkan film bahkan ketika tidak ada penontonnya sekalipun karena proyektornya sudah diprogram. Bagaimana dengan di Indonesia?
Kala itu The Artist masih menjadi bahan pembicaraan hangat di antara moviegoers menjelang perhelatan Academy Awards 2012. Saya tahu jaringan bioskop tersebut paling lamban kalau menayangkan film-film yang tergolong non-mainstream jika tidak benar-benar ada momen yang pas. Untuk kasus The Artist, apalagi filmnya hitam-putih dan bisu pula. Oleh sebab itu ketika akhirnya film terbaik Oscar 2012 tersebut tayang midnite, tanpa pikir panjang saya langsung memutuskan untuk menontonnya. Kebetulan di bioskop terdekat dari tempat saya tinggal (yang tergolong mewah tapi harga tiketnya paling murah se-Surabaya karena mal-nya yang sepi dedhet) ikut memutar. Saya khawatir tayang regulernya masih bakal lama dan itupun hanya tayang beberapa hari saja karena penontonnya tidak banyak.
Ketika sampai bioskop yang berarti hanya 5 menit sebelum jam tayang, saya langsung membeli satu tiket. Ternyata benar, hanya saya penontonnya.
Si mbak penjual tiket memperingatkan, “Cuma Anda saja yang nonton tidak apa-apa?” Mungkin si Mbak berpikir saya takut yah kalau nonton sendirian.
Saya tersenyum, “Tidak masalah, tetapi pasti tetap diputar kan?”
Si mbak mengiyakan. Oke, saya masuk studio dengan senyum lebar. Akhirnya, saya punya pengalaman nonton film di bioskop SENDIRIAN! Iya, hanya saya seorang sestudio. Kurang enak apa coba?
Seriously, saya benar-benar kagum dengan profesionalisme jaringan romawi saat itu.
Selama menonton pun semua petugasnya memperlakukan saya dengan ramah. Bahkan seorang security berujar ke saya, “Mas, nanti kalau sudah selesai langsung keluar lewat pintu itu saja yah.”
Nikmatnya nonton film sendirian. Tidak perlu terganggu oleh penonton lain yang seenaknya sendiri teriak-teriak norak atau protes hanya karena tidak bisa menikmati filmnya.
Sayangnya, kenikmatan menonton sendirian hanya terjadi sekali itu saja. Di lain kesempatan, di bioskop yang berbeda, pengalaman yang saya dapatkan berbanding terbalik.
Saya sudah lama menanti-natikan film panjang pertama Eugene Panji, Cita-Citaku Setinggi Tanah. Mungkin karena kurang promosi, dalam kurun kurang dari seminggu hanya ada satu bioskop yang menayangkan film tersebut dengan jam tayang penuh. Di bioskop langganan saya untuk film Indonesia hanya tinggal show pertama saja yang tidak mungkin menjadi pilihan karena saya kerja kantoran. So, my only choice was  bioskop yang sudah lama tidak pernah saya jamah semenjak kuliah... bioskop yang kelasnya “angka berbintang” tetapi harganya paling mahal. Mungkin karena letaknya di mall yang sangat ramai itu yah.
Mengincar jam tayang 18.45, saya baru sampai di lokasi 18.50 (DAMN MACET!!!). Ternyata yang show jam tersebut tidak tayang karena sama sekali tidak ada yang nonton. Mereka tidak mungkin menayangkan terlambat (padahal kalau dihitung-hitung durasinya, jika ditayangkan saat itu juga tidak akan overleap dengan show berikutnya. Itu pun kalau ada yang nonton jam segitu. Hello... film anak-anak jam 20.55???).
Pilihan saya tinggal show berikutnya, yaitu 20.55. Tetapi si mbaknya menolak saya membeli tiket saat itu juga dan menyuruh saya untuk kembali lagi nanti ketika mendekati jam tayang karena jika kuota penontonnya tidak mencukupi, yaitu 6 orang, ya batal tayang juga. Grrrrrrr.... udah dibela-belain nonton di mall alay (ups.. keceplosan!), gagal pula. Lebih gondok lagi setelah tahu studio sebelah yang menayangkan Kutukan Santet Kuntilanak sudah penuh lebih dari setengah studio. Where the hell is these people’s brains??? Alhasil saya pulang dengan kecewa. Untung saja keesokan harinya jumlah penonton lebih banyak dan saya akhirnya berhasil menonton film sederhana tetapi punya makna dan hati yang besar itu. Bless you, Eugene Panji and the crews!

Until the credit ends

Berbeda dengan penonton awam yang menganggap credit title tidak penting, bagi saya (dan saya yakin banyak juga moviegoers lainnya) menonton film sampai credit title benar-benar habis adalah kepuasan tersendiri. Selain bentuk penghargaan terhadap kru yang telah berjasa melahirkan film tersebut, dari credit title saya belajar banyak apa saja yang diperlukan untuk membuat sebuah film. Tentu saja yang terutama bagi saya mengetahui para pemain pendukung dan pengisi soundtracknya. Apalagi jaman sekarang cukup banyak film yang menyisipkan sedikit adegan tambahan setelah credit title selesai. Sebut saja tiap installment X-Men dan sekarang hampir semua film keluaran Marvel ikut-ikutan trend ini.
Pihak jaringan bioskop, baik romawi maupun kilatan seringkali malah mengingatkan penonton jika memang ada after-credit scene melalui akun twitter-nya. Jaringan kilatan justru terang-terangan menegaskan dalam satu twit-nya bahwa pihaknya tidak akan mematikan proyektor jika masih ada penonton yang duduk di studio. Tentu saja hal ini menjadi kabar baik bagi saya.
Masih menyambung kasus The Artist tadi, saat itu saya tak mau menyia-nyiakan kesempatan langka tersebut. Saya benar-benar menunggu credit title habis baru keluar dari studio. Sekalian ngetes sejauh mana pelayanan mereka berhasil memenangkan hati saya. Aaaaandd.... yes, mereka tidak mematikan proyektor hingga akhir credit title. Bahkan ketika saya melangkah keluar dari pintu studio, security dan petugas kebersihannya dengan ramah menyapa saya dan mengucapkan terima kasih. Simpati saya untuk mereka dan jaringan romawi (saat itu)!
Dalam berbagai kasus di bioskop yang berbeda-beda, saya tidak pernah mengalami kekecewaan dalam hal credit title, baik itu di bioskop di dalam mall baru yang sampai sekarang masih belum melayani mobile ticketing maupun di bioskop termahal pertama se-Surabaya sebelum harganya terakhir diikuti oleh bioskop-bioskop sekelas. Memuaskan sekali!
Tetapi kepuasan tidak pernah bertahan selamanya. Ada kalanya kekecewaan datang menghampiri. Bagi saya adalah saat saya menyaksikan Wreck-It Ralph 3D di bioskop paling dekat dengan kantor sekaligus bioskop termahal pertama di Surabaya sebelum diikuti bioskop-bioskop papan atas lainnya.
Ketika credit berjalan (masih belum credit yang rolling lho ya), nyaris semua penonton sudah meninggalkan studio. Yang tersisa hanya saya dan sepasang cowok-cewek (sepertinya sepasang kekasih) di depan saya yang kebetulan juga menikmati film hingga credit benar-benar usai. Tiba-tiba proyektornya dimatikan. Si cewek di depan spontan teriak, “Yah.. koq dimatiin? Padahal mau lihat videonya sampai habis...”
Saya membalas dengan suara yang sengaja saya keraskan, “Iya nih, koq dimatiin? Belum habis lho padahal...”
“Mas, ini belum habis koq sudah dimatikan?” protes saya ke seorang security yang sedang membantu bersih-bersih.
“Oh, masa?” jawabnya dengan nada cuek dan terus melanjutkan pekerjaan bersih-bersihnya.
“Ini bagaimana sih? Woi, koq dimatiin?” saya protes ke arah lubang proyektor di atas.
Masih tidak ada yang menanggapi.
Cewek di depan saya menyerah. “Sudah Mas, nggak apa-apa. Biarin!”
“Nggak bisa, Mbak. Ini namanya nggak menghormati penonton. Sudah bayar mahal-mahal koq, kita berhak nonton sampai benar-benar habis,” kompor saya.
Si cewek dan pacarnya akhirnya keluar dari studio sementara saya melayangkan protes ke petugas pengumpul kacamata 3D di dekat pintu keluar.
“Oh, masih belum habis sudah dimatikan ya?” Si petugas lantas berkomunikasi melalui HT ke bagian proyeksionis.
“Saya tidak mau tahu, pokoknya harus dilanjutkan sampai benar-benar habis!” seru saya.
“Iya iya, Mas. Silahkan. Ini filmnya dilanjutkan,” jawab petugas dengan ramah.
Saya kembali ke seat saya dan menunggu mereka menyalakan kembali proyektornya. Saya melihat filmnya dimulai dari awal dan mem-fast forward hingga credit title. Saya tidak mau tahu jika jadwal jam berikutnya terganggu. Lah, yang salah siapa  mematikan proyektornya duluan?
Saya akhirnya memang mendapatkan kembali hak saya, tetapi mood buruk yang disebabkan kejadian tadi tidak bisa hilang begitu saja dan tentu mempengarahui mood dalam menikmati credit yang fun tersebut. Damn you ignorant employees!!!
Setelah hendak keluar, kekecewaan saya ternyata masih ditambah dengan tatapan sinis dari petugas security yang tadi tak acuh terhadap komplain saya.
“Kenapa Mas? Koq liatnya nggak enak gitu?” tanya saya.
“Kenapa memangnya?” tantang dia balik.
Saya malas berdebat dan sambil keluar dari studio saya meninggikan suara saya, “Salah petugasnya koq saya yang disalahkan? Pelayanan apa itu?”
Saya tahu mungkin mereka (atau juga Anda) berpikir saya orang yang paling tidak penting sedunia karena menunggui credit title hingga benar-benar habis dan memperjuangkannya mati-matian ketika hak tersebut dirampas dari saya. Tetapi itu adalah hak tiap penonton yang sudah membayar penuh harga tiketnya. Itu artinya saya berhak untuk mengklaim apa yang tidak diberikan penuh kepada saya sesuai dengan yang saya bayarkan. Hak penonton untuk meninggalkan apa yang sebenarnya sudah menjadi haknya, tetapi penonton yang menggunakan haknya secara penuh tetap harus dihormati bukan?
What I tried to say here is... if you’re not satisfied about any services, you should fight for it. Bukan persoalan “tidak mau rugi”, tetapi soal kebiasaan. Pegawai harus menghormati penonton, apa pun yang terjadi. Apabila mereka sudah dibiasakan untuk semena-mena, ya mereka akan terus semena-mena. Either claim it straight forward or complain to the management staff, or the last way, embarass them on the mass media! Not only in movie theatre terms, but in any form of services.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates