Thursday, October 4, 2012

The Jose Movie Review
Rumah Kentang


Overview
Jose Poernomo boleh saja mendadak terkenal gegara film horor fenomenal yang sekaligus menjadi salah satu tonggak sejarah perfilman Indonesia era 2000-an lewat Jelangkung. Di proyek-proyek berikutnya, sineas yang juga kerap merangkap penulis skrip dan penata gambar ini masih dipercaya secara komersial hingga menelurkan franchise Pulau Hantu. Di tahun 2012, ia mencoba untuk kembali menghadirkan horor atmosferik yang telah lama hilang tertutup tren horor komedi erotik. Dengan trailer kedua yang begitu menjanjikan, penonton penikmat Jelangkung tentu berharap mengalami hal serupa ketika menyaksikan Rumah Kentang (RK).

Di sini Jose memasukkan beberapa referensi dari karya sebelumnya, misalnya boneka Jelangkung yang sama dengan di Jelangkung, alunan piano seperti di Tusuk Jelangkung, dan sosok hantu anak yang mengingatkan saya akan Turah. Legenda rumah kentang sendiri sebenernya juga sempat disinggung di film karya pertamanya itu. Oke, menarik nih. Jose seperti mengindikasikan bahwa RK berada pada universe yang sama dengan Jelangkung. Sayang, kali ini Jose berpijak pada skrip yang ditulis dengan sangat-sangat buruk dalam mewujudkan kerinduan penonton akan horor atmosferik khas-nya. Tak hanya plot haunted house yang sangat klise, mulai dari cerita yang sama sekali tidak berkembang, logika cerita yang seringkali menggelikan, dialog yang hanya berputar-putar, bertele-tele dan penjelasan yang tidak penting seolah penonton belum pernah menonton film horor sejenis sebelumnya (lebih parah lagi dilafalkan oleh Shandy Aulia seperti tugas drama sekolah), hingga kontinuiti adegan yang seringkali kacau, merusak segala production value yang sudah tertata dengan rapi. Saking parah kualitas skripnya, semua elemen horor yang biasanya berhasil di tangan Jose menjadi tidak menarik lagi bagi saya. Semuanya terasa melelahkan dan “menyiksa”.

At some point, saya menahan diri untuk tidak walk-out sebelum semuanya berakhir. Ada dalam diri saya yang masih menaruh kepercayaan kepada seorang Jose Poernomo bahwa mungkin saja ada twist cerita atau tampilan kejutan yang signatural disimpan di akhir film. Fantasi saya sempat berkembang liar akan kemungkinan kejutan-kejutan yang mungkin telah disiapkan Jose. Namun saya harus terima kenyataan bahwa tidak ada kejutan apa-apa hingga tulisan “Sebuah film karya Jose Poernomo” muncul.

Tentu ekspektasi yang terbangun dari reputasi Jose Poernomo dan trailer kedua sangat menjatuhkan efek hasil akhirnya ke penonton. Sekedar usul, mungkin lebih menarik jika mengangkat kisah the beginning dari legenda rumah kentang itu sendiri. Seperti The Ring Zero begitulah. Setidaknya saya sudah punya fantasi sadis untuk adegan penggorengan. Hmmmm...

The Casts

Mungkin karena sudah lama tidak bermain film layar lebar dan lebih sering bermain di sinetron Soraya yang ditayangkan Indosiar, akting Shandy Aulia sama sekali tidak berkembang. Jika Anda tidak menyukai aktingnya di Eiffel I’m in Love atau Apa Artinya Cinta, maka Anda juga tidak akan menemukan perbedaan kualitas akting pada peran Farah di sini. Dengan dialog yang bertele-tele dan tidak penting, semakin memperparah kualitas aktingnya. Kejutannya malah ada pada mantan penyanyi cilik Tasya Kamila yang ternyata berakting dengan sangat baik di sini. Tanpa banyak dialog, ia mampu mengekspresikan karakter Rika, adik Farah yang sedang tersiksa secara psikologis. Sayang porsi perannya tidak banyak dan tidak begitu signifikan dalam cerita.

Di deretan cameo seperti Daus OB, Ki Kusumo, dan Dokter Sonia Wibisono tidak begitu menarik maupun memberikan warna tersendiri dalam film. Malah Ki Kusumo bisa saja menyalahkan film ini jika kelak usaha jasa paranormalnya mengalami penurunan pelanggan secara drastis. Gilang Dargahari yang diberi peran lebih banyak pun sama-sama tidak berkesannya. Mungkin hanya Rina Rose yang berhasil meniupkan sedikit “hiburan segar” di tengah alur yang melelahkan.

Technical

Sama seperti sebelum-sebelumnya, Jose selalu unggul dalam hal teknis, terutama fotografi (apalagi dibekali kamera digital Red yang banyak dipakai film-film Hollywood di era digital ini) dan desain produksi. Ditambah sound effect yang begitu mantap terdengar dan penggunaan efek surround yang cukup efektif, setidaknya production value RK masih sangat patut diapresiasi.

Kekurangan lain yang turut memperburuk kualitas RK selain skrip adalah editingnya, baik gambar maupun suara dialog. Jangankan variasi editing yang kreatif, kontinuitas antar adegan yang kacau dan pergantian angle yang kasar masih sering terjadi sepanjang film. Perubahan volume dialog yang drastis pun beberapa kali terjadi. Terakhir, thrillng score-nya oke tetapi score dramanya terlalu berlebihan.

The Essence

Hmmmm... jika hanya mendapat warisan rumah yang terkenal angker, mending tinggal bersama tante, sanak-saudara, teman, atau mungkin pacar (yang kelihatannya kaya) daripada memaksakan diri tinggal di dalamnya. Mau nunggu terjual juga sampai kapan? Oh iya, kalau Farah memilih untuk tidak tinggal di Rumah Kentang, film ini juga tidak mungkin ada dong ya?! Terus nanti Jose Poernomo dan krunya makan apa? Kasihan tim artistiknya yang sudah capek-capek menata kentang-kentang di lantai terus membereskannya lagi... #mulaingelantur

They who will enjoy this the most  

  • Orang yang belum pernah menonton film horor sebelumnya
  • Penonton yang masih saja super penakut meski pernah menonton film sejenis
Lihat situs resmi film ini. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates