Monday, October 22, 2012

The Jose Movie Review
Rock of Ages


Overview

Tayangan musikal selalu menarik perhatian saya, bahkan film-film musikal dari era Sound of Music, West Side Story, dan Singin' in the Rain. Sayang sekali pertunjukan musikal tidak populer di Indonesia, jadi adaptasi ke film layar lebar menjadi satu-satunya pemuas kenikmatan buat saya. Itu pun tak banyak film musikal yang diimpor ke bioskop Indonesia karena, lagi-lagi, genre ini peminatnya sangat sedikit. Tak jarang pula saya mendengar cibiran, “Film koq isinya nyanyi-nyanyi. Nggak masuk akal.” Iya deh, saya (lagi-lagi) mengalah kepada kaum mayoritas yang berpikiran sempit kalau film harus dibuat serealistis mungkin, meski orang yang sama ternyata doyan film-film sci-fi dan fantasi.
Adam Shankman tidak menyajikan sesuatu yang baru lewat Rock of Ages (RoA). Premise cerita tentang kenekadan pemuda-pemudi ke Hollywood untuk menggapai mimpi menjadi artis sudah beratus-ratus kali diangkat, lengkap dengan dunia hiburan malam yang seolah-olah harus dilalui oleh siapa saja yang hendak memulai karir di Hollywood, dan alurnya yang sangat cliché. Pun di antara film-film dengan premise serupa, RoA bukan juga yang terbaik dari segi naskah. Dengan durasi dua jam lebih, tentu awalnya membuat kening saya sedikit berkerut. Ngapain aja tuh cerita begitu saja panjangnya dua jam lebih?
Nyatanya RoA bisa mengisi dua jam lebih tersebut dengan lagu-lagu yang sangat fun dan beberapa humor yang menggelitik sehingga sepanjang film terasa sangat menghibur dan saya melupakan segala alur cliche-nya. Jajaran cast-cast terkenal yang turut menyumbang peran (dan juga suara) semakin  menambah semarak RoA. Lagu-lagu rock yang mendukung bukanlah jenis rock metal melainkan rock populer dan glam-rock yang sempat naik daun di era 80'an, sesuai dengan setting film, seperti Foreigner, Def Leppard, Pat Benatar, Bon Jovi, Twisted Sister, Starship, Scorpions, dan Journey. Hal menarik lain yang turut diselipkan dalam skrip adalah transisi trend musik rock ke boyband yang cukup berhasil menjadi bahan tertawaan. Sebuah issue yang tampaknya sedang relevan pada dunia musik saat ini.
Finally, RoA memang tidak menawarkan hal yang baru atau kedalaman cerita maupun karakter. Saya juga tidak akan memasukkan judul ini jika saya harus menyebut lima judul film musikal terbaik sepanjang masa. Tetapi saya harus mengakui, I had a lot of fun watching this. Malahan saya tidak bisa berhenti re-watch RoA selama semingguan ini untuk sekedar mendengarkan performance-performance asyik maupun menikmati medley-medley serunya. So for entertainment's sake, it's a must-see for musical lovers. ROCK ON!!! \m/

The Casts

What I find amazing from musical movies adalah aktor-aktris kesayangan kita yang belum pernah memamerkan suara sebelumnya ternyata punya suara yang bagus juga dalam berdendang. Siapa yang sangka Nicole Kidman atau Catherine Zeta Jones ternyata bisa nyanyi? Di Rock of Ages (RoA) ini giliran Tom Cruise yang membuktikan diri bisa nge-rock dengan suaranya sendiri. Well, Tom Cruise bisa jadi hanya dijadikan materi “jualan” utama RoA karena karakternya sendiri bukanlah karakter utama. Tapi ia benar-benar serius nge-rock di sini dan suaranya ternyata (sekilas) tidak kalah dengan Axl Guns N’ Roses. Bertambah satu lagi daftar peran “berbeda” yang dilakoni dalam filmografi Tom Cruise.
Sementara dua sejoli pemeran utamanya, Diego Boneta (serial 90210 dan Pretty Little Liars) dan Julianne Hough, cukup baik memainkan peran masing-masing dan dengan chemistry yang cukup meyakinkan meski ketika baru berkenalan terasa seperti sudah lama nge-date. Diego punya karakter vokal yang sangat cocok dengan peran rocker, sementara Hough angin-anginan. Di beberapa nomor terdengar bagus, namun agak mengganggu ketika membawakan beberapa nomor lainnya. Selain dari itu, kemampuan menarinya ketika adegan Rock You Like A Hurricane patut diapresiasi lebih. Tak heran, ia sebelumnya pernah mengisi peran serupa di remake Footloose dan Burlesque.
Catherine Zeta Jones tak perlu dikomentari lagi penampilannya karena sudah pernah bermain gemilang di film musikal Chicago. Penampilannya membawakan Hit Me with Your Best Shot cukup mengejutkan dan sangat menghibur.
Pasangan unik Alec Baldwin dan Russel Brand memberikan warna tersendiri dalam film. Siapa yang sangka Alec ternyata bisa menyanyi?
Kejutan lainnya tentu saja Malin Akerman yang (juga) ternyata bersuara bagus dan mampu membawakan I Wanna Know What Love Is bersama Tom Cruise dengan begitu merdunya.
Terakhir, Mary J. Blige yang memang seorang biduan, tampil tak begitu menonjol karena porsi perannya yang memang tak banyak. Begitu pula aktor berkelas Oscar, Paul Giamatti yang tampil biasa saja.

Technical

Sebagai sebuah film musikal, RoA memiliki tata artistik, kamera, serta suara yang menarik sehingga mampu menangkap semangat rock n roll dengan kuat. Lihat saja set The Bourbon Room yang hidup dan meriah atau panggung stripper Justice yang energik.

The Essence

RoA menyorot beberapa hal tentang dunia gemerlap rocker pada khususnya dan artis pada umumnya. Ada satu quote menarik yang saya angkat dan patut di-highlight bagi siapa saja yang berniat masuk atau memiliki hubungan dengan pelaku dunia entertainment. Namun secara garis besar, RoA menyorot ironi dari kehidupan rockstar (atau juga selebriti lainnya) yang harus membayar popularitasnya dengan brokenheart dan hidup kesepian tanpa makna, seperti yang dialami karakter Stacee Jaxx. So are you ready to (be a) rock (star)?

They who will enjoy this the most

  • Rock music fan (especially from the 80’s, the glory years of rock music)
  • Musical fan
  • General audiences who can accept musical film concept
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates